INKARNASI MANUSIA-PENYELAMAT YANG MENGGENAPKAN TUJUAN ALLAH MENCIPTAKAN MANUSIA (2)
Pembacaan Alkitab:
2 Kor. 4:4b; Kej. 1:26a,27a; Flp. 2:7b; Kej. 2:8-9;
Yoh. 1:1, 14; Ibr. 2:16-17; 1 Tim. 3:16
Dalam berita ini kita akan melanjutkan membahas inkarnasi Manusia-Penyelamat yang menggenapkan tujuan Allah menciptakan manusia
MAKSUD ALLAH DALAM PENCIPTAAN MANUSIA
Dalam berita sebelumnya kita telah menunjukkan bahwa Allah merancang manusia untuk menjadi satu dengan Dia. Karena Allah merancang manusia dengan cara ini, maka Dia menciptakan manusia menurut gambar-Nya dan sesuai dengan rupa-Nya. Gambar mengacu kepada yang di dalam, dan rupa mengacu kepada penampilan yang di luar. Sebenarnya, Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya sendiri agar manusia menjadi duplikat-Nya. Selain itu, agar manusia menjadi duplikat Allah, ia harus memiliki kapasitas untuk menampung hakiki Allah. Karena itu, manusia dijadikan menurut gambar Allah untuk menjadi duplikat-Nya dan sesuai dengan rupa Allah untuk menjadi ekspresi-Nya.
Tujuan Allah menciptakan manusia adalah agar manusia menjadi duplikat-Nya untuk mengekspresikan Dia. Agar tujuan ini dapat terlaksana, manusia perlu menerima Allah dan menampung Dia sebagai pohon hayat. Namun, Adam, manusia yang diciptakan oleh Allah, gagal dalam tujuan Allah dan merusak rancangan Allah. Beribu-ribu tahun kemudian, Manusia-Penyelamat datang untuk menggenapkan tujuan Allah menciptakan manusia.
MANUSIA KEDUA
Melalui inkarnasi Kristus, Allah dalam Putra menjadi manusia. Betapa besarnya hal ini! Menurut rancangan-Nya, Allah menciptakan manusia dengan suatu tujuan, tetapi manusia gagal dalam tujuan-Nya dan malah merusak rancangan-Nya. Allah tidak menciptakan manusia lainnya, sebaliknya Dia sendiri datang menjadi Manusia kedua (1 Kor. 15:47). Allah datang menjadi Manusia kedua bukan dalam Bapa atau dalam Roh, melainkan dalam Putra.
Cara Perjanjian Baru menyinggung tentang inkarnasi adalah mengatakan bahwa Firman, yang adalah Allah, menjadi daging (Yoh. 1:1, 14) dan bahwa Allah ternyata da-lam daging (1 Tim. 3:16). Karena manusia pertama gagal dalam tujuan Allah dan merusak rancangan-Nya, maka Allah sendiri datang menjadi Manusia kedua. Haleluya untuk Manusia kedua!
Dikandung dari Roh Kudus,
Lahir dari Seorang Dara
Manusia-Penyelamat sebagai Manusia kedua bukan diciptakan, melainkan Dia dikandung dari Roh Kudus dan lahir dari seorang dara. Dia dikandung dari Roh Kudus agar memiliki esens Allah, dan Dia lahir dari seorang dara agar memiliki esens manusia. Karena itu, Manusia ini adalah satu susunan yang terdiri atas dua esens, susunan dari esens ilahi dengan esens insani. Maka, Dia adalah perbauran antara Allah dengan manusia. Karena Dia yang ajaib ini adalah satu susunan dari dua esens, pembauran Allah dengan manusia, maka Dia adalah manusia-Allah.
Menempuh Kehidupan Insani yang Penuh dengan Hayat Ilahi
Satu perkara yang penting mengenai manusia-Allah adalah Dia menempuh kehidupan insani yang dipenuhi dengan hayat ilahi sebagai isinya. Bertentangan dengan apa yang dipikirkan oleh beberapa orang, Injil Lukas bukan hanya satu buku cerita. Injil ini adalah satu wahyu tentang manusia-Allah yang menempuh satu kehidupan insani yang dipenuhi dengan hayat ilahi sebagai isinya. Sebagai Dia yang menempuh kehidupan sedemikian, Manusia-Penyelamat ini memiliki sifat ilahi dengan atribut ilahi, yaitu dengan kasih, terang, benar, dan kudus ilahi. Sifat ilahi dengan atribut-Nya diekspresikan di dalam sifat insani Manusia-Penyelamat dengan semua kebajikan insani-Nya.
Kasih Manusia-Allah
Karena sifat ilahi Manusia-Penyelamat dengan atribut ilahi-Nya diekspresikan dalam sifat insani dengan kebajikan insani-Nya, maka sulit dikatakan, ketika Dia hidup di bumi, apakah Allah yang mengasihi manusia atau manusia yang mengasihi manusia. Dalam kehidupan Manusia-Penyelamat kita nampak satu kasih yang adalah kasih manusia-Allah, kasih dari Dia yang menempuh kehidupan insani yang dipenuhi dengan hayat ilahi. Karena Tuhan hidup secara demikian, maka kasih-Nya adalah kebajikan insani dari kasih yang dipenuhi dengan atribut kasih ilahi.
Kasus-kasus tertentu dalam Injil Lukas menggambar-kan fakta bahwa kasih Manusia-Penyelamat adalah kasih yang di dalamnya atribut kasih ilahi diekspresikan dalam kebajikan kasih insani. Kita nampak kasih ini dalam kasus orang Samaria yang murah hati (Luk. 10:25-37), dalam kasus perempuan berdosa di rumah Simon orang Farisi (7:36-50), dan dalam kasus penyamun di atas salib yang meminta Tuhan Yesus untuk mengingat dia (23:39-43). Dalam setiap kasus itu Tuhan Yesus menggunakan kasih insani yang sejati. Namun, kasih-Nya ini bukan hanya insani, tetapi juga kasih insani yang dipenuhi dengan kasih ilahi dan juga diperkuat, ditinggikan, dan diperkaya oleh kasih ilahi.
Dalam membaca Injil Lukas, kita mungkin tidak melihat bahwa di atas diri Manusia-Penyelamat ini kita me-nemukan kasih insani yang dipenuhi, diperkuat, ditinggikan, dan diperkaya oleh kasih ilahi. Para pembaca Perjanjian Baru dapat dengan mudah menyadari bahwa Tuhan Yesus mengasihi orang lain. Anak-anak bahkan diajarkan lagu, ”Yesus cinta padaku, tercatat di Alkitab.” Tetapi kasih macam apa yang dimiliki oleh Tuhan Yesus? Kasih-Nya itu insani atau ilahi? Kasih-Nya bukan hanya kasih insani atau kasih ilahi saja; kasih-Nya adalah kasih insani yang di-penuhi, diperkuat, ditinggikan, dan diperkaya oleh dan dengan kasih ilahi. Kasih yang ajaib ini adalah satu susunan, satu pembauran dari kasih ilahi dengan kasih insani. Kasih ini adalah kehidupan Manusia-Penyelamat, kehidupan manusia-Allah. Kehidupan Tuhan adalah perihal kebajikankebajikan insani yang dipenuhi, diperkuat, ditinggikan, dan diperkaya dengan atribut-atribut ilahi.
Layak Menjadi Manusia-Penyelamat
Kehidupan semacam inilah yang melayakkan Tuhan Yesus untuk menjadi Manusia-Penyelamat kita. Dia menyelamatkan orang-orang dosa dengan kehidupan insani-ilahi yang demikian, yaitu kehidupan ilahi yang insani dan insani yang ilahi. Kehidupan Tuhan Yesus bukan hanya insani atau ilahi saja; melainkan secara insani ilahi dan secara ilahi insani. Kehidupan-Nya adalah kekuatan dinamik yang olehnya Dia menyelamatkan orang-orang dosa yang kasihan.
Jika kita memahami hal ini, kita akan sadar bahwa kasih yang ilahi saja tidak dapat menyelamatkan kita. Tentu, kasih insani saja juga tidak dapat menyelamatkan kita. Kasih yang menyelamatkan kita haruslah satu susunan dari kasih insani dan kasih ilahi. Pembauran dua kasih ini adalah kasih yang menyelamatkan.
Hayat insani yang dipenuhi dengan hayat ilahi dan kebajikan-kebajikan insani yang diperkuat dan diperkaya oleh atribut-atribut ilahi adalah apa yang kita sebut dengan standar moralitas yang tertinggi. Dalam Injil Lukas kita nampak satu kehidupan yang penuh dengan kebajikan-kebajikan insani yang diperkuat, ditinggikan, dan diperkaya oleh atribut-atribut ilahi. Dalam kehidupan yang demikian kita nampak susunan, pembauran antara Allah dengan ma-nusia. Kehidupan ini adalah kekuatan dan persyaratan yang menyelamatkan dari Tuhan Yesus untuk menjadi Penyela-mat kita. Dalam status-Nya sebagai manusia-Allah, Manusia-Penyelamat ini bersyarat untuk menyelamatkan kita.
Sebagai orang-orang Kristen yang mengikuti Tuhan Yesus dengan tulus, kita perlu mengenal Dia sedemikian rupa sehingga kita mengenal Dia sebagai Dia yang menempuh satu kehidupan yang di dalamnya kebajikan-kebajikan insani mengekspresikan atribut-atribut ilahi. Manusia-Penyelamat kita adalah seorang manusia yang demikian. Karena Dia hidup secara demikian, maka Dia dapat dan layak menyelamatkan kita.
Dia ini, Manusia-Penyelamat kita, menggenapkan satu kematian yang almuhit di atas salib untuk penebusan kita. Kemudian Allah membangkitkan Dia dari antara orang mati sebagai pembuktian Allah dan perkenan Allah terhadap kehidupan dan pekerjaan-Nya. Manusia-Allah yang bangkit ini telah naik ke surga, telah duduk di takhta dan telah dimahkotai dengan kemuliaan dan hormat, dan telah dijadikan Kepala dari segala sesuatu. Oh, kita semua perlu mengenal Persona yang ajaib ini!
PEMULIHAN TERHADAP KEINSANIAN
YANG TELAH JATUH MELALUI
INKARNASI KRISTUS
Inkarnasi Manusia-Penyelamat terutama adalah membawa Allah ke dalam manusia. Inkarnasi-Nya juga adalah untuk memperbarui, memulihkan keinsanian yang telah rusak. Allah menjadikan Adam menurut gambar-Nya dan sesuai dengan rupa-Nya, tetapi Adam jatuh. Sekarang dalam keinsanian yang telah jatuh ini ada dosa — sifat jahat Iblis (Rm. 7:17; 1 Yoh. 3:8). Meskipun demikian, keinsanian yang diciptakan oleh Allah ini masih tetap ada. Ketika Kristus yang adalah Allah, berinkarnasi, Dia memulihkan keinsanian yang telah hilang dan rusak ini. Allah mengutus Putra-Nya sendiri dalam rupa daging dosa (Rm. 8:3), yaitu dalam keserupaan keinsanian yang telah jatuh.
Kristus menjadi daging bukan hanya untuk menyelamatkan kita tetapi juga untuk memulihkan keinsanian yang telah jatuh. Memang, Dia datang untuk menyelamatkan manusia. Tetapi Dia tidak akan menyelamatkan ma-nusia dan membiarkannya dalam keadaan yang tidak ter-pulihkan. Dia tidak akan menyelamatkan manusia yang telah jatuh tanpa memulihkannya.
Orang-orang Kristen berharap naik ke surga. Tetapi siapa pun yang ingin naik ke surga harus menjadi orang yang telah dipulihkan, orang yang telah ditransformasi. Ditransformasi adalah diperbarui, dipulihkan.
Dua Jenis Keinsanian
Ketika Tuhan Yesus di bumi, Dia memiliki keinsanian yang telah diselamatkan dari kedudukan yang jatuh. Melalui inkarnasi, Dia mengenakan satu keinsanian yang telah dipulihkan, diperbarui. Sewaktu manusia-Allah ini hidup dalam keinsanian yang telah ditinggikan, semua orang yang mengelilingi-Nya, termasuk murid-murid-Nya, hidup dalam keinsanian yang telah jatuh dan telah rusak. Keinsanian mereka bukanlah keinsanian yang diciptakan oleh Allah sejak semula. Sebaliknya, keinsanian mereka adalah keinsanian yang telah rusak dan berubah bentuk. Misalnya, setelah Tuhan Yesus memberi tahu murid-murid bahwa Dia akan pergi ke Yerusalem dan akan diserahkan kepada kematian dan bangkit pada hari ketiga, mereka malah ber-debat sendiri mengenai siapakah yang terbesar di antara mereka. Di sini kita nampak dua jenis keinsanian — keinsanian Tuhan Yesus yang ditinggikan, diperbarui, dan di-pulihkan dan keinsanian murid-murid yang telah berubah bentuk, rusak, dan hilang.
Pemulihan terhadap Keinsanian Murid-murid
Melalui kematian dan kebangkitan Manusia-Penyelamat, keinsanian murid-murid yang telah jatuh itu dipulih-kan. Dalam Kisah Para Rasul 1 dan 2, kita nampak bahwa murid-murid memiliki jenis keinsanian lainnya, yaitu keinsanian yang telah ditinggikan dan dipulihkan. Dalam kitab-kitab Injil, mereka berdebat tentang siapakah yang terbesar. Tetapi dalam Kisah Para Rasul 1, mereka dapat bedoa dengan tekun dan terus-menerus dengan sehati selama sepuluh hari. Mereka dapat melakukan hal itu karena mereka memiliki keinsanian yang lain. Keinsanian mereka telah dipertinggi, diperbarui, dan dipulihkan. Mereka bukan hanya telah diselamatkan, keinsanian mereka juga telah di-perbarui, dipulihkan, melalui Roh yang melahirkan kembali dan yang mentransformasi.
Di Taman Eden, Adam tentu menempuh hidup yang ditempuh oleh Petrus dan Yohanes dalam Kisah Para Rasul 1. Tetapi karena Adam gagal mencapai tujuan Allah, maka Allah datang melalui inkarnasi untuk menjadi Manusia kedua. Manusia kedua ini mempertinggi, memperbarui, dan memulihkan keinsanian yang telah berubah bentuk, yang rusak, dan yang telah hilang. Melalui pemulihan Manusia-Penyelamat, Petrus, Yohanes, Yakobus, dan murid-murid lainnya berbagian dalam keinsanian-Nya ini. Sungguh ajaib!
Jangan berpikir bahwa Tuhan Yesus turun dari kemuliaan-Nya hanya untuk menyelamatkan kita dan membawa kita ke surga. Jika maksud-Nya hanya demikian, maka surga pada akhirnya akan dipenuhi dengan orang-orang yang keinsaniannya telah berubah bentuk. Namun, ini bu-kanlah maksud Tuhan. Apakah Anda mengira bahwa penya-mun yang meminta Tuhan mengingatnya dalam kerajaan-Nya akan dibawa ke surga dengan masih mengenakan sifat penyamun yang telah jatuh? Tidak ada seorang pun di surga yang memiliki sifat penyamun. Setiap orang yang dibawa ke surga akan menjadi orang yang telah dipulihkan. Pemulihan keinsanian kita dimungkinkan oleh Allah yang berinkarnasi menjadi Manusia-Penyelamat kita. Inkarnasi Manusia-Penye-lamat adalah bagi penggenapan tujuan Allah menciptakan manusia.