INKARNASI MANUSIA-PENYELAMAT YANG MENGGENAPKAN TUJUAN ALLAH MENCIPTAKAN MANUSIA (1)
Pembacaan Alkitab:
2 Kor. 4:4b; Kej. 1:26a, 27a; Flp. 2:7b; Kej. 2:89;
Yoh. 1:1, 14; Ibr. 2:16-17; 1 Tim. 3:16
Membahas Pelajaran-Hayat Lukas sampai di sini, kita perlu beberapa berita yang akan memberikan pengembangan lebih lanjut tentang empat subyek berikut ini: Pertama, Kristus menjadi seorang manusia-Allah, seorang manusia dengan Allah yang hidup di dalam-Nya; kedua, yobel; ketiga, kebangkitan Kristus; dan keempat, kenaikan Kristus. Kita telah membahas perkara-perkara ini secara singkat dalam berita-berita sebelumnya, tetapi kita belum membahasnya secara memadai. Terlebih dulu kita akan membahas keinsanian Kristus, kehidupan-Nya sebagai manusia-Allah. Karena itu, judul berita ini adalah ”Inkarnasi Manusia-Penyelamat yang Menggenapkan Tujuan Allah Menciptakan Manusia”.
Nampak inkarnasi Kristus berkaitan dengan tujuan Allah menciptakan manusia adalah satu hal yang besar. Ini adalah satu butir yang belum kita bahas sepenuhnya, meskipun kita telah membahasnya secara singkat. Kita perlu terkesan dengan fakta bahwa inkarnasi Kristus erat hubung-annya dengan tujuan Allah menciptakan manusia. Seperti yang akan kita lihat, tujuan Allah menciptakan manusia me-nurut gambar dan rupa-Nya adalah agar manusia menerima Dia sebagai hayat dan mengekspresikan Dia dalam segala atribut-Nya. Kita juga akan melihat bahwa inkarnasi Manusia-Penyelamat membawa Allah ke dalam manusia untuk mengembalikan dan memulihkan keinsanian yang telah rusak dan telah hilang serta untuk mengekspresikan Allah dalam segala atribut-Nya melalui kebajikan-kebajikan insani. Hal-hal ini dalam, tinggi, ilahi, serta misterius, dan perkataan kita sangat terbatas untuk membicarakannya.
MANUSIA DIRANCANG UNTUK MENJADI
SATU DENGAN ALLAH
Jika kita memiliki pandangan yang almuhit terhadap seluruh wahyu dalam Kitab Suci, baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, kita akan nampak bahwa Allah merancang manusia untuk menjadi satu dengan Dia. Allah membuat rancangan ini dalam kekekalan yang lampau. Adalah satu hal besar bahwa Allah merancang manusia untuk menjadi satu dengan Dia. Memang, dalam Alkitab kita tidak menemukan kata ”rancangan” dalam hubungannya dengan manusia akan menjadi satu dengan Allah. Meskipun demikian, jika kita memiliki pandangan yang almuhit ter-hadap wahyu dalam firman kudus ini, kita akan nampak bahwa dalam kekekalan yang lampau Allah merancang ma-nusia untuk menjadi satu dengan Dia.
Kita dapat memakai rancangan dan pembangunan sebuah rumah sebagai satu ilustrasi dari rancangan Allah mengenai manusia. Sebelum kita membangun sebuah ru-mah, pertama-tama kita memerlukan satu rancangan. De-mikian pula, dalam Alkitab kita memiliki rancangan Allah dan pembangunan-Nya. Di dalam seluruh Kitab Suci kita memiliki satu wahyu yang lengkap tentang pembangunan Allah. Bagi pembangunan-Nya Allah memiliki sebuah ran-cangan. Dia merancang untuk mendapatkan manusia dan bahwa manusia harus menjadi satu dengan Dia.
MANUSIA DICIPTAKAN MENURUT GAMBAR
DAN RUPA ALLAH
Berdasarkan rancangan-Nya, Allah menciptakan ma-nusia menurut gambar dan rupa-Nya. ”Berfirmanlah Allah: Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita . . . maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia” (Kej. 1:26a, 27a). Dua frasa dalam ayat-ayat ini telah menyu-litkan para guru Alkitab: ”menurut gambar-Nya” dan “sesuai dengan rupa-Nya” (Tl.). Apakah gambar Allah itu? Apakah rupa Allah itu? Apakah perbedaan antara gambar dengan rupa? Mengapa kata depan yang berlainan dipakai dalam hubungannya dengan gambar dan rupa? Dengan kata lain, mengapa Alkitab mengatakan bahwa manusia dijadikan menurut gambar Allah dan sesuai dengan rupa-Nya? Menga-pa Alkitab tidak mengatakan bahwa manusia dijadikan sesuai dengan gambar Allah dan menurut rupa-Nya? Jika kita mempelajari Kitab Suci dengan teliti, kita akan menaruh perhatian terhadap perbedaan antara gambar dengan rupa dan juga sadar bahwa menjelaskan perbedaan ini tidaklah mudah.
Hakiki yang di Batin dan Bentuk yang di Lahir
Beberapa guru Alkitab mengatakan bahwa dalam Kejadian 1, gambar mengacu kepada sesuatu yang di batin, dan rupa mengacu kepada sesuatu yang di lahir. Ini adalah perbedaan yang dibuat oleh Mary E. McDonough dalam buku God‘s Plan of Redemption (Rencana Allah mengenai Pene-busan). Bila ditanyakan apakah arti gambar dan rupa, ia berkata, ”Dua kata ini bukanlah sinonim; kata yang pertama lebih mengacu khususnya kepada bagian manusia yang tidak kelihatan, manusia batiniah; sedangkan kata yang selanjut-nya menunjukkan bagian yang kelihatan, yaitu manusia jas-maniah atau tubuh. Manusia batin diciptakan sedikit ba-nyak seperti Allah; kita dapat dengan hormat berkata, diciptakan sesuai dengan Dia . . . ”
Dalam Pelajaran-Hayat Kejadian kita telah menunjuk-kan bahwa manusia diciptakan menurut gambar Allah se-cara batiniah dan sesuai dengan rupa Allah secara lahiriah (lihat Pelajaran-Hayat Kejadian, Berita 6). Dalam Pelajaran-Hayat itu kita berkata, ”Manusia diciptakan bukan hanya menurut gambar Allah secara batiniah, tetapi juga sesuai dengan rupa Allah secara lahiriah. Semua makhluk lainnya dalam penciptaan diciptakan menurut ’jenis mereka’. Na-mun, manusia diciptakan bukan menurut jenis manusia, melainkan sesuai dengan rupa Allah. Sebagaimana gambar menunjukkan hakiki batiniah Allah, maka rupa menunjuk-kan bentuk lahiriah Allah.” Kita dapat mengatakan bahwa dalam Kejadian 1:26-27, gambar mengacu kepada hakiki yang di dalam dan rupa mengacu kepada ekspresi yang di luar. Dalam berita ini, dengan tanpa meninggalkan apa yang telah kita katakan sebelumnya, kita akan melanjutkan membahas dengan lebih terperinci arti dari Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya sendiri.
Perwujudan Allah dalam Kristus
Dalam Kitab Suci kata ”gambar” dipakai untuk mengacu kepada hakiki Allah. Hal ini dapat dibuktikan dengan be-berapa ayat dalam Perjanjian Baru. Dua Korintus 4:4 menga-takan bahwa Kristus adalah gambar Allah, Kolose 1:15 mengatakan bahwa Kristus adalah ”gambar Allah yang tidak kelihatan,” dan Ibrani 1:3 mewahyukan bahwa Kristus adalah ”cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah.” Kristus adalah perwujudan Allah. Sebagai perwujudan Allah, Kristus adalah gambar Allah.
Menampung Allah dan Menjadi Duplikat-Nya
Selanjutnya, menurut Alkitab gambar Allah berhubungan dengan duplikat-Nya. Dalam Kejadian 1 ”gambar” adalah agar Allah diduplikatkan, ”digandakan” dalam manusia. Ini berarti manusia diciptakan dengan cara demikian agar ma-nusia dapat menjadi duplikat Allah, menjadi gandaan-Nya. Allah menciptakan manusia dalam gambar-Nya dengan tujuan agar manusia menjadi duplikat-Nya.
Karena Allah menciptakan manusia agar manusia menjadi duplikat-Nya, dan karena tujuan ini ditunjukkan dengan pemakaian kata gambar, maka kita selanjutnya da-pat mengatakan bahwa kata gambar menyiratkan kapasitas untuk menampung Allah. Jika manusia tidak memiliki kapasitas untuk menampung Allah, bagaimana ia dapat menjadi duplikat Allah, menjadi gandaan-Nya? Agar manusia menjadi gandaan Allah, manusia harus memiliki kapasitas atau kemampuan untuk menampung hakiki Allah.
Pemahaman tentang gambar Allah ini tidak berten-tangan dengan definisi yang diberikan dalam Pelajaran-Hayat Kejadian. Sesungguhnya, gambar Allah memang mengacu kepada hakiki batiniah Allah. Tidaklah berten-tangan dengan hal ini bila selanjutnya kita mengatakan bahwa Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya berarti Allah menciptakan manusia agar manusia menjadi duplikat Allah, dan kata gambar menunjukkan bahwa ma-nusia memiliki kapasitas dan kemampuan untuk menerima Allah masuk ke dalamnya dan menampung Dia. Manusia yang diciptakan menurut gambar Allah ini diciptakan untuk menjadi penampung Allah. Karena manusia dijadikan untuk menjadi penampung yang demikian, maka ia perlu memiliki kapasitas untuk menerima Allah sebagai isinya dan me-nampung-Nya.
Penampilan Allah bagi Ekspresi-Nya
Kita telah menekankan fakta bahwa manusia diciptakan bukan hanya menurut gambar Allah, tetapi juga sesuai dengan rupa Allah. Kata ”rupa” mengacu kepada bentuk yang di lahir, rupa yang di luar, penampilan yang di luar. Maka, ”rupa” di sini adalah hal ekspresi. Pertama, manusia dijadikan menurut gambar Allah untuk menjadi duplikat Allah, dan kemudian manusia dijadikan sesuai dengan rupa Allah untuk memiliki penampilan Allah bagi ekspresi-Nya.
Jika manusia hanya memiliki rupa Allah tetapi tidak memiliki gambar Allah, ini berarti manusia hanya memiliki penampilan yang di luar tetapi tidak memiliki realitas yang di dalam. Bila demikian, maka penampilan, ekspresinya, akan kosong. Gambar adalah realitas batin dari ekspresi lahir dan rupa adalah ekspresi atau penampilan lahir dari gambar ini.
Filipi 2:7 adalah satu ayat dalam Perjanjian Baru yang berhubungan dengan hal ini. Dalam ayat ini kita nampak bahwa dalam inkarnasi-Nya Kristus menjadi ”serupa dengan manusia”. Ayat ini tidak mengatakan bahwa Kristus memiliki rupa Allah melainkan bahwa Dia memiliki rupa manusia. Ketika Dia menjadi manusia, Dia memiliki penampilan, ekspresi manusia. Namun, ini benar-benar bukan ekspresi yang kosong, ekspresi yang tanpa realitas, ekspresi tanpa isi. Sebaliknya, Kristus memiliki realitas keinsanian dan ekspresi, penampilan dari keinsanian. Realitas keinsani-an adalah isi dari rupa manusia yang dimiliki oleh Kristus.
TUJUAN ALLAH MENCIPTAKAN MANUSIA
Kita bersyukur kepada Tuhan karena memimpin kita ke dalam satu pemahaman lebih jauh tentang gambar Allah dan rupa Allah. Manusia diciptakan menurut gambar Allah dan sesuai dengan rupa Allah agar manusia menjadi duplikat Allah dan supaya manusia dapat mengekspresikan Allah. Duplikat adalah menurut gambar Allah dan ekspresi adalah sesuai dengan rupa Allah.
Kita telah nampak bahwa menurut Alkitab, Allah merancang manusia untuk menjadi satu dengan Dia. Untuk menjadi satu dengan Allah, manusia harus memiliki gambar Allah secara batin dan rupa-Nya secara lahir. Inilah ran-cangan Allah dan di dalam rancangan ini kita nampak tujuan Allah. Apakah tujuan Allah menciptakan manusia? Tujuan Allah adalah membuat manusia menjadi duplikat-Nya bagi ekspresi-Nya sehingga manusia dapat dengan sebenarnya dan sepenuhnya menjadi satu dengan Allah.
MAKSUD ALLAH ADALAH INGIN MENJADI HAYAT DAN ISI MANUSIA
Dalam Kejadian 1:26-27 kita memiliki wadahnya, bukan isinya. Isinya terdapat dalam Kejadian 2. Menurut catatan dalam Kejadian 2, setelah Allah menciptakan manusia, Dia mempersiapkan sebuah taman dan menempatkan manusia di dalamnya. Ada dua pohon yang disebutkan namanya: pohon hayat (kehidupan) dan pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat. Maksud Allah adalah agar ma-nusia yang diciptakan oleh-Nya itu makan buah pohon hayat dan hidup. Tetapi jika manusia makan buah pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat, manusia akan mati. Manusia justru makan buah pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat, dan akibatnya manusia mati.
Kita tidak dapat memahami arti pohon hayat hanya berdasarkan Kejadian 2. Dengan membaca seluruh Alkitab kita nampak bahwa pohon hayat adalah lambang Allah sebagai hayat. Misalnya Mazmur 36:10 mengatakan, ”Sebab pada-Mu ada sumber hayat.” Dalam Injil Yohanes kita nam-pak bahwa ketika Yesus, Putra Allah, datang, hayat ada di dalam-Nya (Yoh. 1:4). Tuhan Yesus mengatakan bahwa Dia adalah hayat (Yoh. 11:25) dan Dia datang supaya kita me-miliki hayat dan memilikinya dalam segala kelimpahan (Yoh. 10:10). Dalam Kolose 3:4 Paulus mengatakan bahwa Kristus adalah hayat kita. Selain itu, 1 Yohanes 5:11-12 mengatakan, ”Dan inilah kesaksian itu: Allah telah menga-runiakan hidup yang kekal kepada kita dan hidup itu ada di dalam Anak-Nya. Siapa yang memiliki Anak, ia memiliki hidup.” Akhirnya, kitab Wahyu membicarakan dengan jelas tentang pohon hayat, yang olehnya seluruh kota Yerusalem Baru akan dirawat dalam kekekalan (Why. 22:1-2, 14). Karena itu, dengan mengamati seluruh Alkitab kita nampak bahwa pohon hayat melambangkan Allah sebagai hayat ma-nusia. Maksud Allah adalah agar manusia yang diciptakan oleh-Nya sebagai wadah itu mau menerima Dia sebagai hayat dan isinya.
GAMBAR ALLAH DAN ATRIBUT ILAHI
Sekarang mari kita membahas lebih lanjut apakah gambar Allah itu. Perjanjian Baru memberi tahu kita bahwa gambar Allah adalah Kristus. Tetapi kita masih perlu me-nanyakan bagaimana kita harus melukiskan gambar Allah ini.
Alkitab mengatakan bahwa Allah itu kasih dan bahwa Dia adalah terang (1 Yoh. 4:8; 1:5). Kasih adalah sifat esens Allah, dan terang adalah sifat ekspresi Allah. Alkitab juga mewahyukan bahwa Allah itu benar dan kudus. Kata sifat ”benar” yang dipakai dalam hubungannya dengan Allah itu mengacu kepada cara Allah. Cara Allah melakukan sesuatu itu selalu benar; Dia tidak pernah melakukan sesuatu dengan tidak benar. Kata sifat ”kudus” mengacu kepada sifat batini Allah. Allah itu benar dalam perbuatan-perbuatan-Nya dan kudus dalam sifat-Nya. Karena itu, Allah adalah kasih dan terang, dan Allah adalah benar dan kudus. Inilah penja-baran dari gambar Allah.
Dalam melukiskan gambar seseorang, tidaklah akurat bila kita hanya mengatakan tentang tinggi, berat, dan warna rambutnya. Jika Anda ingin melukiskan gambar seseorang, Anda perlu mengatakan orang macam apakah dia. Ini berarti Anda perlu menggambarkan atribut-atributnya sebagai seorang manusia, juga ciri-ciri kepribadian dan sifatnya. Demikian juga, jika kita ingin melukiskan gambar Allah, kita perlu menggambarkan atribut-atribut-Nya.
Gambar Allah boleh dijelaskan dengan empat kata ini: kasih, terang, benar, dan kudus. Inilah atribut-atribut Allah. Jadi, saat kita memakai istilah ”atribut-atribut ilahi” kita mengacu kepada kasih, terang, benar, dan kudus. Allah kita adalah kasih dan terang, dan Allah kita benar dan kudus. Ini bukan gambaran dari rupa Allah; ini adalah gambaran dari hakiki Allah. Allah itu kasih; jadi, kasih adalah hakiki-Nya. Allah itu terang; jadi terang adalah hakiki-Nya. Selain itu, Allah itu benar dalam perbuatan-Nya dan kudus dalam sifat-Nya. Inilah gambar, lukisan dari Allah kita. Empat hal utama dari gambar ini adalah atribut-atribut Allah.
MANUSIA DICIPTAKAN DENGAN KAPASITAS
UNTUK MENAMPUNG ATRIBUT-ATRIBUT ILAHI
Manusia dijadikan menurut gambar Allah. Karena itu, manusia yang diciptakan oleh Allah ini memiliki kasih, terang, dan kapasitas untuk menjadi benar dan kudus. Sekalipun manusia telah jatuh, tetapi manusia masih me-miliki kasih, terang, dan kapasitas untuk menjadi benar dan kudus seperti Allah. Karena Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya, berarti Allah menciptakan manusia dengan kapasitas untuk memiliki kasih, terang, benar, dan kudus-Nya. Kasih, terang, benar, dan kudus adalah apa yang kita sebut kebajikan-kebajikan insani. Kebajikan-kebajikan ini diciptakan oleh Allah.
Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya dengan cara demikian sehingga manusia memiliki kapasitas untuk menampung kasih, terang, benar, dan kudus Allah. Kebajikan-kebajikan insani diciptakan oleh Allah untuk menampung atribut-atribut-Nya. Kasih, terang, benar, dan ku-dus insani diciptakan sebagai kapasitas untuk menampung kasih, terang, benar, dan kudus ilahi.
Orang-orang di mana saja setuju bahwa membenci orang lain itu bertentangan dengan hati nurani manusia. Selain itu, berdusta, mencuri, dan melakukan hal-hal dalam kegelapan juga bertentangan dengan hati nurani manusia. Orang yang belum beroleh selamat pun mungkin memiliki perasaan bahwa menyimpan uang kembalian yang berlebih yang di-berikan kepadanya oleh sebuah rumah makan atau toko karena kekeliruan itu tidaklah benar.
Penekanannya di sini adalah manusia dijadikan oleh Allah untuk memiliki kasih dan terang dan untuk berjalan dengan benar dan menjadi kudus. Manusia memiliki kebajikan-kebajikan ini karena ia diciptakan menurut gambar Allah, yakni menurut gambar kasih, terang, kudus, dan benar Allah. Kebajikan-kebajikan insani yang diciptakan oleh Allah ini adalah kapasitas untuk menampung atribut-atribut Allah. Allah menciptakan manusia secara demikian agar manusia menerima Dia sebagai pohon hayat untuk menjadi hayat dan isinya.
KEGAGALAN ADAM UNTUK MENJADI SEORANG
MANUSIA-ALLAH
Jika Adam memakan buah pohon hayat dan dengan demikian menerima Allah ke dalamnya sebagai hayat, ia akan dipenuhi oleh Allah dan kebajikan-kebajikan insaninya akan dipenuhi dengan atribut-atribut Allah. Jika demikian, kebajikan-kebajikan insani akan mengekspresikan atribut-atribut Allah. Jika Adam melakukan hal ini, ia pasti telah menjadi seorang manusia-Allah, sehingga tidak perlu me-nunggu beribu-ribu tahun lagi bagi kelahiran seorang manusia-Allah di Betlehem. Jika Adam di dalam taman itu ber-bagian dalam pohon hayat, ia bukan hanya akan menjadi seorang manusia yang dijadikan oleh Allah menurut gambar-Nya dan sesuai dengan rupa-Nya, tetapi juga seorang manusia yang dipenuhi dengan Allah sebagai hayatnya dan dengan atribut-atribut ilahi memenuhi kebajikan-kebajikan insaninya. Jika Adam menjadi seorang manusia yang demi-kian, seorang manusia-Allah, ia akan menjadi seorang ma-nusia yang memperhidupkan Allah.
Seperti kita ketahui, Adam gagal mencapai tujuan Allah, ia malah merusak rancangan Allah. Allah menjadikan Adam menurut rancangan-Nya, tetapi karena Adam tidak makan buah pohon hayat melainkan buah pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat, ia merusak rancangan Allah. Keinsanian yang diciptakan oleh Allah itu rusak dan hilang. Namun, seperti yang akan kita lihat dalam berita selanjut-nya, inkarnasi Manusia-Penyelamat menggenapkan tujuan Allah menciptakan manusia.