← Daftar isi Lukas (3) · bab 4/29

KEBANGKITAN DAN KENAIKAN MANUSIA-PENYELAMAT (1)

Pembacaan Alkitab: Luk. 24:1-53

Dalam berita ini kita akan mulai membahas 24:1-53. Bagian dari Injil Lukas ini membicarakan hal-hal penting tentang kebangkitan dan kenaikan Manusia-Penyelamat. Mengenai kebangkitan Tuhan Yesus, setiap kitab Injil memiliki sudut pandangnya masing-masing. Dari sudut pandangnya, Lukas khususnya membicarakan Manusia-Penyelamat berjalan dan berbincang-bincang dengan dua murid pada perjalanan ke Emaus (ay. 13-35).

BEBERAPA ASPEK KEBANGKITAN

MANUSIA-PENYELAMAT

Sebelum sampai kepada Lukas 24, saya ingin menyampaikan persekutuan mengenai kebangkitan Kristus. Setelah Tuhan hidup di bumi selama tiga puluh tiga setengah tahun, bekerja dalam ministri-Nya selama tiga setengah tahun, Dia disalibkan dan dikubur. Jika Dia tetap tinggal dalam kubur, itu berarti Allah tidak membenarkan Manusia-Penyelamat dan apa yang telah Dia lakukan. Namun, Manusia-Penyelamat bangkit.

Dua Pembicaraan tentang Kebangkitan Kristus

Menurut Perjanjian Baru, kebangkitan Tuhan ini disinggung dalam dua cara. Pertama, kita diberi tahu bahwa Tuhan Yesus bangkit sendiri, yaitu Dia membuat diri-Nya sendiri bangkit. Mengenai nyawa-Nya, Dia berkata, “Tidak seorang pun mengambilnya dari Aku, melainkan Aku mem-berikannya menurut kehendak-Ku sendiri. Aku berkuasa memberikannya dan berkuasa mengambilnya kembali” (Yoh. 10:18). Dalam Yohanes 2:19 Tuhan mengatakan bahwa Dia akan membangkitkan tubuh-Nya dalam tiga hari. Tuhan Yesus memiliki kuasa untuk mati dan bangkit dari antara orang mati. Karena itu, di satu pihak, Dia bangkit sendiri dari antara orang mati. Di pihak lain, Perjanjian Baru memberi tahu kita bahwa Dia dibangkitkan oleh Allah. Mengenai hal ini, Tuhan Yesus memberi tahu murid-murid bahwa Dia akan “dibangkitkan pada hari ketiga” (Mat. 16:21). Di tempat lainnya Tuhan berkata tentang diri-Nya sendiri, “Pada hari yang ketiga Ia akan dibangkitkan” (Mat. 17:23). Kisah Para Rasul 2:32 mengatakan, “Yesus inilah yang dibangkitkan Allah,” dan Kisah Para Rasul 3:15 membicarakan tentang Tuhan sebagai Pencipta hayat, “Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati.” Selain itu, dalam Roma 6:4 Paulus mengatakan, “Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa.” Di satu pihak, Tuhan sendiri bangkit; di pihak lain, Dia dibangkitkan oleh Allah dari antara orang mati.

Penegasan Kehidupan dan Pekerjaan Tuhan

Tuhan bangkit sendiri, memperlihatkan kuat kuasa hayat-Nya, kekuatan hayat kebangkitan-Nya. Tetapi Allah membangkitkan Dia dari antara orang mati adalah satu tanda bahwa Dia dibenarkan dan ditegaskan oleh Allah. Al-lah membangkitkan Kristus dari antara orang mati sebagai satu bukti bahwa Allah membenarkan hakiki Tuhan dan apa yang telah dilakukan Tuhan di bumi.

Manusia-Penyelamat hidup dengan cara yang menurut orang lain sangat aneh. Cara hidup-Nya mutlak berbeda dengan agama, kebudayaan, dan masyarakat. Dia hidup dan bekerja dengan cara yang sangat luar biasa. Jika Allah tidak membangkitkan Dia dari antara orang mati, ini akan berarti bahwa Allah tidak membenarkan Dia. Tetapi Allah mem-bangkitkan Kristus dari antara orang mati dan itu adalah tanda dari pembenaran dan penegasan Allah.

Roma 4:25 mengatakan bahwa Kristus “diserahkan karena pelanggaran kita dan dibangkitkan untuk pembenar-an kita.” Kematian Kristus menggenapkan dan memuaskan tuntutan-tuntutan kebenaran Allah supaya kita dibenarkan oleh Allah melalui kematian-Nya (Rm. 3:24). Kebangkitan Kristus adalah satu bukti bahwa Allah telah puas dengan kematian-Nya bagi kita.

Jika Kristus mati di atas salib, dihakimi di sana oleh Allah, tetapi tidak dibangkitkan dari antara orang mati, maka tidak ada pembenaran atau penegasan Allah terhadap diri-Nya. Hal itu akan mempengaruhi keselamatan kita, karena jika begitu, kematian-Nya tidak diikuti dengan penegasan Allah. Tetapi Allah telah menghakimi Kristus dalam kematian-Nya dan kemudian membangkitkan-Nya dari antara orang mati. Allah membangkitkan Kristus dari antara orang mati adalah pembenaran-Nya dan penegasan-Nya terhadap hakiki Kristus dan apa yang telah dilakukan oleh Kristus. Dari hal ini kita memiliki jaminan bahwa Allah telah menerima apa yang telah Kristus lakukan bagi kita di atas salib. Kita dibenarkan oleh Allah karena kematian Kristus, dan di dalam Kristus, Dia yang bangkit ini, kita diperkenan di hadapan Allah.

Tanda Keberhasilan-Nya

Kebangkitan Kristus juga adalah satu tanda dari keberhasilan pencapaian-Nya. Seandainya, Kristus tetap tinggal di dalam kubur setelah Dia mati, maka apa yang telah dilakukan Kristus tidak akan menjadi satu keberhasilan. Tetapi kebangkitan Manusia-Penyelamat dari antara orang mati adalah satu tanda yang kuat dari keberhasilan-Nya yang besar dalam pencapaian universal-Nya.

Kemenangan-Nya

Kebangkitan Kristus juga adalah kemenangan-Nya atas dunia, Iblis, kematian, alam maut, dan kubur. Kelima hal ini membuat Tuhan Yesus dimasukkan ke dalam kubur. Tetapi ketika Dia keluar dari kubur dalam kebangkitan, ini adalah kemenangan-Nya atas dunia, Iblis, kematian, alam maut, dan kubur. Seperti yang Petrus katakan dalam Kisah Para Rasul 2:24, “Tetapi Allah membangkitkan Dia setelah melepaskan Dia dari sengsara maut, karena tidak mungkin Ia tetap berada dalam kuasa maut itu.” Karena Kristus adalah kebangkitan (Yoh. 11:25), maka kematian tidak dapat menahan-Nya. Tidak mungkin kematian menahan kebangkitan; kebangkitan justru mengalahkan kematian.

Pemuliaan-Nya

Kebangkitan Kristus juga adalah pemuliaan-Nya. Kebangkitan Kristus membawa Dia ke dalam kemuliaan (Luk. 24:26; 1 Kor. 15:43a; Kis. 3:13a, 15a).

Sifat ilahi Tuhan, hakiki ilahi Tuhan, tersembunyi dan terbatasi di dalam daging-Nya. Melalui kematian, keinsanian-Nya, pembatasan daging-Nya dipecahkan; kemudian dalam kebangkitan, Dia sebagai Allah beserta sifat dan kekayaan-Nya terbebaskan. Karena Dia telah dibebaskan dari pembatasan daging-Nya dalam kebangkitan, maka Dia dimuliakan. Inilah sebabnya Tuhan berkata kepada murid-murid pada perjalanan ke Emaus bahwa Kristus perlu menderita dan masuk ke dalam kemuliaan-Nya (Luk. 24:26). Melalui kebangkitan-Nyalah Dia masuk ke dalam kemuliaan.

Transfigurasi-Nya

Selain itu, kebangkitan Kristus adalah transfigurasi-Nya menjadi Roh pemberi-hayat (1 Kor. 15:45). Dia adalah Kristus dalam daging, tetapi Dia telah ditransfigurasi menjadi Kristus yang pneumatik, Kristus yang secara esensial adalah Roh pemberi-hayat. Kebangkitan adalah transfigurasi-Nya yang sebenarnya. Sebelum kematian dan kebangkitan-Nya, Dia ditransfigurasi di atas Gunung Peng-ubahan. Namun, transfigurasi itu hanyalah sementara. Transfigurasi-Nya yang sebenarnya adalah kebangkitan-Nya, karena dalam kebangkitan Dia menjadi Roh pemberi-hayat, Roh yang menyalurkan hayat ke dalam kita.

Penunasan Ciptaan Baru

Kebangkitan Kristus juga adalah penunasan ciptaan baru. Sebagaimana kematian-Nya adalah pengakhiran ciptaan lama, demikian pula kebangkitan-Nya adalah penunasan ciptaan baru. Apa yang diakhiri dalam kematian-Nya, Dia tunaskan dalam kebangkitan-Nya. Penunasan ini mencakup kita; kita dilahirkan kembali melalui kebangkitan-Nya (1 Ptr. 1:3). Maka, kebangkitan-Nya adalah penunasan dan kelahiran kembali kita. Dengan cara ini kita menjadi ciptaan baru (2 Kor. 5:17). Kita adalah orang-orang yang telah dilahirkan kembali dalam ciptaan baru-Nya.

Menghasilkan Gereja

Lagi pula, kebangkitan Kristus menghasilkan gereja sebagai Tubuh-Nya, bahkan sebagai reproduksi-Nya (Yoh. 12:24; 1 Kor. 10:17). Karena itu, gereja adalah reproduksi Kristus dalam kebangkitan. Ketika Tuhan Yesus berinkar-nasi, Dia itu seorang diri. Tetapi ketika Dia dibangkitkan, Dia menjadi korporat, Kristus yang korporat (1 Kor. 12:12); Kristus ini adalah Kepala dan juga Tubuh.

Kita perlu memahami ketujuh aspek dari kebangkitan Kristus ini. Kebangkitan adalah penegasan Allah atas kehidupan dan pekerjaan Tuhan, kebangkitan adalah keber-hasilan Tuhan yang besar dalam pencapaian universal-Nya, kebangkitan adalah kemenangan-Nya atas semua musuh, kebangkitan adalah pemuliaan-Nya, kebangkitan adalah transfigurasi-Nya menjadi Roh pemberi hayat secara esensial, kebangkitan adalah penunasan ciptaan baru, dan ke-bangkitan menghasilkan gereja, Tubuh, sebagai reproduksi Kristus. Hal-hal ini dengan jelas diwahyukan dalam Kisah Para Rasul dan surat-surat Rasul. Kita semua perlu mengenal kebangkitan Kristus sampai sedemikian rupa.

MENEMUKAN MANUSIA-PENYELAMAT BANGKIT

Dalam Injilnya pada pasal 24, Lukas memberikan satu catatan tentang kebangkitan Kristus kepada kita, khusus-nya, tentang tindakan-Nya dalam kebangkitan. Ayat 1 mengatakan, “Tetapi pagi-pagi benar pada hari pertama minggu itu mereka pergi ke kubur membawa rempah-rempah yang telah mereka sediakan.” Kristus bangkit pada hari pertama dari satu minggu. Ini melambangkan bahwa kebangkitan-Nya membawakan suatu permulaan baru dengan zaman baru untuk Kerajaan Allah. Dalam ayat ini “mereka” mengacu kepada perempuan-perempuan yang disebut dalam ayat 10 dan dalam 23:55. Kebangkitan Tuhan telah digenapkan, tetapi penemuannya memerlukan pencarian murid-murid dalam kasih terhadap Tuhan. Kita tahu dari 24:10 bahwa perempuan-perempuan yang datang ke kubur itu pada pagi hari meliputi Maria Magdalena, Yohana, dan Maria ibu Yakobus, yang adalah ibu dari Manusia-Penyelamat.

Menurut ayat 4-7, “Tiba-tiba ada dua orang berdiri dekat mereka memakai pakaian yang berkilau-kilauan. Mereka sangat ketakutan dan menundukkan kepala, tetapi kedua orang itu berkata kepada mereka: Mengapa kamu mencari Dia yang hidup, di antara orang mati? Ia tidak ada di sini, Ia telah bangkit. Ingatlah apa yang dikatakan-Nya kepada kamu, ketika Ia masih di Galilea, yaitu bahwa Anak Manusia harus diserahkan ke tangan orang-orang berdosa dan disalibkan, tetapi akan bangkit pada hari yang ketiga.” Kebangkitan Manusia-Penyelamat adalah bukti bahwa Allah puas dengan apa yang telah digenapkan oleh Kristus melalui kematian dan adalah satu penegasan terhadap khasiat dari kematian-Nya yang menebus dan menyalurkan hayat (Kis. 2:24; 3:15).

Setelah kembali dari kubur, perempuan-perempuan itu

“menceritakan semuanya itu kepada kesebelas murid dan kepada semua saudara yang lain” (ay. 9). Tetapi “bagi mereka perkataan-perkataan itu seakan-akan omong kosong dan mereka tidak percaya kepada perempuan-perempuan itu.” Bahasa Yunani yang diterjemahkan “omong kosong” digunakan dalam bahasa medis, mengacu kepada mengigau sembarangan (M. R. Vincent). Meskipun demikian, kebang-kitan Kristus diselidiki dan dipastikan oleh Petrus: “Sungguh pun demikian Petrus bangun, lalu cepat-cepat pergi ke kubur itu. Ketika ia menjenguk ke dalam, ia melihat hanya kain kapan saja. Lalu ia pergi dan bertanya dalam hatinya apa yang kiranya telah terjadi” (ay. 12).

MANUSIA-PENYELAMAT YANG BANGKIT

MENAMPAKKAN DIRI KEPADA DUA MURID

Pada Perjalanan dari Yerusalem ke Emaus

Dalam 24:13-35 terdapat catatan tentang Manusia-Penyelamat menampakkan diri kepada dua murid. “Pada hari itu juga dua orang dari murid-murid Yesus pergi ke sebuah desa bernama Emaus, yang terletak kira-kira sebelas kilometer dari Yerusalem.” Dua murid ini sangat putus asa, sangat kecewa. Karena mereka putus asa, maka mereka tidak tinggal di Yerusalem. Sebaliknya, mereka meninggalkan Yerusalem dan pergi ke Emaus.

Lukas 24:15-16 mengatakan, “Ketika mereka sedang bercakap-cakap dan bertukar pikiran, datanglah Yesus sen-diri mendekati mereka, lalu berjalan bersama-sama dengan mereka. Tetapi ada sesuatu yang menghalangi mata mereka, sehingga mereka tidak dapat mengenal Dia.” Di sini Manusia-Penyelamat dalam kebangkitan berjalan bersama dengan

dua murid. Ini berbeda dengan perjalanan-Nya bersama dengan murid-murid-Nya sebelum kematian-Nya (19:28).

Ayat 15 dengan sederhana memberi tahu kita bahwa Yesus mendekati dan berjalan bersama kedua murid. Kita tidak diberi tahu dari mana Dia datang. Setelah Manusia-Penyelamat masuk ke dalam kebangkitan, Dia menjadi mahaada. Karena Dia itu mahaada, kita tidak dapat menjauh dari diri-Nya. Ketika murid-murid ada di Yerusalem, Dia ada bersama mereka. Ketika mereka meninggalkan Yerusalem dan pergi ke Emaus, Dia berjalan bersama mereka. Ini adalah satu fakta bahwa Kristus yang bangkit ini menyertai kita di mana saja kita berada. Jika kita berjalan ke arah yang menurun, kita membawa Dia bersama kita. Dalam Lukas 24 kedua murid itu membawa Tuhan bersama mereka pada perjalanan dari Yerusalem ke Emaus.

Murid-murid Tidak Mengenal Manusia-Penyelamat

Dalam 24:17 Manusia-Penyelamat berkata kepada kedua murid itu, “Apakah yang kamu percakapkan sementara ka-mu berjalan? Lalu berhentilah mereka dengan muka mu-ram.” Kemudian salah satu dari murid itu berkata kepada-Nya, “Apakah Engkau satu-satunya orang asing di Yerusalem, yang tidak tahu apa yang terjadi di situ pada hari-hari ini? Kata-Nya kepada mereka, Apakah itu? Jawab mereka, Apa yang terjadi dengan Yesus orang Nazaret. Dia adalah se-orang nabi, yang berkuasa dalam pekerjaan dan perkataan di hadapan Allah dan seluruh bangsa kami” (ay. 18-19). Di sini kita nampak bahwa dalam kebutaannya mereka mengira lebih tahu daripada Penyelamat yang bangkit. Kedua murid itu mengenal Penyelamat di dalam daging (2 Kor. 5:16), bukan di dalam kebangkitan-Nya. Mereka mengetahui kuasa-Nya dalam pekerjaan dan perkataan, bukan kuasa kebangkitan-Nya (Flp. 3:10).

Manusia-Penyelamat Membukakan Kitab Suci dan Mata Murid-murid

Dalam 24:13-35 Manusia-Penyelamat membukakan Kitab Suci dan juga mata murid-murid. Dia berkata kepada mereka, “Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu untuk mempercayai segala sesuatu, yang telah dikatakan para nabi! Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya” (ay. 25-26). Bahasa Yunani yang diterjemahkan “bodoh” menunjukkan kelam-banan dalam menanggap. Dalam ayat 26 “masuk ke dalam kemuliaan-Nya” mengacu kepada kebangkitan Tuhan (ay. 46), yang membawa Dia ke dalam kemuliaan.

Ayat 27 mengatakan, “Lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi.” “Seluruh Kitab Suci” termasuk kitab Taurat Musa, kitab Nabi-nabi, dan Mazmur (ay. 44). Kitab Suci disinggung dua kali lagi di dalam pasal ini. Ayat 32 membicarakan tentang membukakan (menerangkan) Kitab Suci, dan ayat 45 tentang mengerti Kitab Suci. Dalam Kitab Suci ada satu catatan yang penuh, wahyu yang lengkap, mengenai Kristus dan kematian serta kebangkitan-Nya. Namun, karena hal-hal ini tidak terbuka kepada mereka, maka Dia datang untuk membukakan firman kudus ini kepada mereka.

Tuhan juga datang kepada mereka dengan tujuan membuka mata mereka. Ketika mereka dekat ke kampung yang mereka tuju, dan Dia bertindak seolah-olah Dia hendak meneruskan perjalanan, “mereka sangat mendesak-Nya, katanya, Tinggallah bersama-sama dengan kami, sebab hari telah menjelang malam dan matahari hampir terbenam. Lalu masuklah Ia untuk tinggal bersama-sama dengan mereka” (ay. 28-29). Bahasa Yunani yang diterjemahkan “matahari hampir terbenam” secara harfiah berarti “telah menjelang senja.” Waktu Ia duduk makan dengan mereka, Manusia-Penyelamat, “mengambil roti, mengucap syukur, lalu memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka. Ketika itu terbukalah mata mereka dan mereka pun mengenal Dia, tetapi Ia lenyap dari tengah-tengah mereka” (ay. 30-31). Penyelamat telah berjalan bersama mereka (ay. 15) dan tinggal bersama mereka (ay. 29), tetapi ketika mereka memberikan roti kepada-Nya dan Dia memecah-mecahkannya, barulah mata mereka terbuka dan mengenal Dia. Mereka memerlukan Dia berjalan dan tinggal bersama mereka, tetapi Dia memerlukan mereka memberikan roti untuk dipecah-pecahkan, agar Dia dapat membuka mata mereka sehingga melihat Dia. Begitu mata mereka dibukakan, mereka pun mengenal Dia.

Bukan hanya mata kedua murid ini perlu dibukakan; mata Petrus, Yohanes, dan Yakobus juga perlu dibukakan. Setelah kedua murid itu kembali ke Yerusalem, Tuhan menampakkan diri kepada sebelas murid dan orang-orang yang berkumpul dengan mereka (ay. 33, 36). Mereka terkejut karena penampakan-Nya. Dalam bagian firman ini, Manusia-Penyelamat membukakan Kitab Suci dan juga membuka mata murid-murid-Nya.

Lenyap dari Murid-murid

Segera setelah mata kedua murid itu terbuka dan mereka mengenal Dia, “Ia lenyap dari tengah-tengah mereka.” Secara harfiah bahasa Yunaninya di sini berarti, “Dia tidak terlihat oleh mereka.” Penyelamat masih bersama mereka. Dia tidak meninggalkan mereka; hanya tidak kelihatan.

Lukas tidak mengatakan bahwa Tuhan Yesus pergi. Sebaliknya, Dia mengatakan bahwa Dia lenyap. Lenyap tidak sama dengan pergi. Di sini lenyap adalah satu cara untuk bersembunyi. Tuhan tidak meninggalkan kedua mu-rid itu; Dia hanya membuat kehadiran-Nya tidak kelihatan. Pada mulanya, kehadiran-Nya dapat dilihat, kemudian menjadi tidak kelihatan. Ketika kehadiran Manusia-Penyelamat tidak terlihat, Dia lenyap. Tetapi ketika kehadiran-Nya terlihat, Dia menampakkan diri.

Kristus tidak lagi berada dalam daging. Dalam kebangkitan Dia telah menjadi Kristus yang pneumatik, Roh itu. Meskipun demikian, Dia masih memiliki satu tubuh. Kita tidak memahami bagaimana Roh itu dapat memiliki satu tubuh.

Kedua murid dalam 24:13-35 mempelajari banyak hal pada perjalanan mereka. Mereka tidak mau menunggu sampai pagi untuk kembali ke Yerusalem. “Lalu bangkitlah mereka dan terus kembali ke Yerusalem” dan “kedua orang itu pun menceritakan apa yang terjadi di tengah jalan dan bagaimana mereka mengenali Dia pada waktu Ia memecah-mecahkan roti (ay. 33, 35). Mereka telah meninggalkan Yerusalem dalam keputusasaan, tetapi mereka kembali dengan sangat berkobar-kobar.