← Daftar isi Lukas (3) · bab 3/29

KEMATIAN MANUSIA-PENYELAMAT (3)

Pembacaan Alkitab: Luk. 23:26-56

KEMATIAN MANUSIA-PENYELAMAT YANG ALMUHIT

Dalam berita sebelumnya kita telah nampak bahwa Manusia-Penyelamat diserahkan oleh Allah kepada kematian sebagai Pengganti kita, sebagai Penebus kita. Sekarang kita perlu nampak bahwa kematian Tuhan Yesus adalah kemati-an yang almuhit. Kematian-Nya di atas salib bukan hanya kematian yang menggantikan, juga adalah kematian yang almuhit. Karena Manusia-Penyelamat adalah satu Persona yang almuhit, maka kematian-Nya di atas salib adalah kematian yang almuhit. Sekarang marilah kita melanjutkan membahas berbagai aspek dari kematian Tuhan yang al-muhit.

Anak Domba Allah

Menurut catatan seluruh Perjanjian Baru, ketika Manusia-Penyelamat mati di atas salib, Dia mati dengan tujuh status. Pertama, Dia mati sebagai Anak Domba Allah untuk membereskan sifat dosa dan perbuatan dosa. Yohanes 1:29 mengatakan, “Lihatlah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia!” Di sini dunia menunjukkan umat manusia. Dari 1 Korintus 15:3, 1 Petrus 2:24, dan Ibrani 9:28 kita nampak bahwa Tuhan Yesus mati bagi perbuatan dosa kita sebagai Anak Domba Allah. Selanjutnya, menurut 2 Korintus 5:21 dan Ibrani 9:26, kematian-Nya membereskan sifat dosa. Karena itu, baik sifat dosa maupun perbuatan dosa dibereskan oleh Anak Domba Allah, yang berada di bawah penghakiman Allah di atas salib.

Manusia dalam Daging

Ketika Manusia-Penyelamat mati di atas salib, Dia juga mati sebagai seorang manusia dalam daging. Sebagai Firman yang bersama-sama dengan Allah dan yang adalah Allah, Dia menjadi daging (Yoh. 1:1, 14). 1 Petrus 3:18 memberi tahu kita bahwa Dia “dibunuh dalam keadaan-Nya sebagai manusia.” Sebagai seorang manusia dalam daging, Dia hanya memiliki rupa, bentuk, dari manusia yang telah jatuh; tetapi Dia tidak memiliki sifat manusia yang telah jatuh. Ini berarti Dia berada dalam rupa daging dosa (Rm. 8:3), tetapi Dia tidak memiliki sifat dosa yang sesungguhnya. Karena Manusia-Penyelamat mati sebagai seorang manusia dalam daging, maka kematian-Nya membereskan daging yang telah jatuh. Puji Tuhan bahwa sifat dosa, perbuatan dosa, dan daging yang telah jatuh sudah dibereskan oleh kematian Manusia-Penyelamat!

Manusia dalam Ciptaan Lama

Tuhan Yesus juga mati sebagai seorang manusia dalam ciptaan lama. Inilah sebabnya Roma 6:6 mengatakan bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan bersama denganNya. Karena Tuhan Yesus mati di atas salib sebagai seorang manusia dalam ciptaan lama, maka manusia lama kita telah dibereskan melalui kematian-Nya.

Ular

Mungkin satu kejutan yang besar bila mendengar bahwa Manusia-Penyelamat mati di atas salib sebagai ular. “Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal” (Yoh. 3:14-15). Di sini Tuhan Yesus menerapkan lambang ular tembaga yang ditinggikan oleh Musa di padang gurun kepada diri-Nya sendiri (Bil. 21:4-9).

Tidak diragukan lagi, Tuhan Yesus disalibkan dalam bentuk seekor ular untuk membereskan Satan, Iblis, si ular tua. Sebagai manusia yang telah jatuh, kita semua telah digigit oleh ular itu. Tahukah Anda kapan kita digigit? Kita digigit di Taman Eden ketika Adam digigit oleh ular dan diracuni olehnya. Karena itu, Penyelamat kita perlu disalibkan dalam bentuk ular untuk membereskan si ular tua.

Melalui disalibkan sebagai ularlah Tuhan Yesus meremukkan kepala ular tua, Iblis (Kej. 3:15). Demikianlah Dia menghakimi penguasa dunia ini. Mengenai hal ini Yohanes 12:31 mengatakan, “Sekarang berlangsung penghakiman atas dunia ini: Sekarang juga penguasa dunia ini akan dilemparkan keluar.” Oleh kematian-Nya di kayu salib, Manusia-Penyelamat menghancurkan Iblis, yang berkuasa atas maut (Ibr. 2:14). Karena itu, kematian Manusia-Penyelamat dengan status sebagai seekor ular di bawah penghakiman Allah, telah membereskan Iblis dan dunianya, sistem setan.

Yang Sulung dari Semua Ciptaan

Ketika Tuhan Yesus mati di atas salib, Dia mati sebagai yang Sulung dari semua ciptaan (Kol. 1:15). Dalam hubungannya dengan keinsanian-Nya, Kristus adalah Yang pertama dari ciptaan Allah. Ketika Dia mati di kayu salib, Dia mati sebagai Yang pertama dari ciptaan lama. Maka, melalui ke-matian-Nya di atas salib seluruh ciptaan lama telah dibereskan.

Pembuat Damai Sejahtera

Dalam Efesus 2:14-15 kita nampak bahwa Kristus mati sebagai Pembuat damai sejahtera, sebagai Dia yang membuat damai sejahtera: “Karena Dialah damai sejahtera kita, yang telah mempersatukan kedua pihak dan merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan, sebab dengan kematian-Nya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera.” Di sini kita nampak bahwa Kristus mati di atas salib untuk membatalkan semua ketentuan di antara manusia. Khususnya, Dia mati untuk menghapuskan pemisah di antara orang Yahudi dengan orang bukan Yahudi. Pemisah ini bukan hanya ada di antara orang Yahudi dengan orang bukan Yahudi, tetapi juga ada di antara setiap bangsa dan ras. Tanpa penyingkiran pemisah-pemisah ini, kita tidak akan menjadi satu dalam Tuhan Yesus sebagai Tubuh-Nya. Puji Tuhan bahwa segala ketentuan telah dibatalkan oleh Manusia-Penyelamat di atas salib! Sekarang dalam kehidup-an gereja terdapat orang-orang dari segala ras, warna kulit, dan kebangsaan.

Sebutir Biji Gandum

Terakhir, Kristus mati di atas salib sebagai sebutir biji gandum: “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Jika biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah” (Yoh. 12:24). Tuhan mati di atas salib sebagai biji gandum untuk membebaskan hayat ilahi dari dalam-Nya.

Perjanjian Baru mewahyukan bahwa Tuhan Yesus mati di atas salib dengan tujuh status: Anak Domba Allah, manusia dalam daging, manusia dalam ciptaan lama, ular, yang Sulung dari semua ciptaan, Pembuat damai sejahtera, dan biji gandum. Ini bukanlah perkataan kita; ini adalah yang diwahyukan oleh Alkitab. Kita perlu mengumumkan fakta bahwa menurut firman Allah, Manusia-Penyelamat mati dengan tujuh status ini.

Kematian dari satu Persona yang Almuhit

Kematian Kristus adalah kematian yang almuhit karena Dia adalah satu Persona yang almuhit. Misalnya, seorang raja dari suatu kerajaan mati, berarti ada satu per-sona dengan status ganda — seorang manusia dan seorang raja — yang mati. Sebagai Pengganti kita, Tuhan Yesus memiliki status rangkap tujuh dan karena itu Dia mati sebagai Anak Domba Allah, manusia dalam daging, manusia dalam ciptaan lama, ular, yang Sulung dari semua ciptaan, Pembuat damai sejahtera, dan biji gandum. Kematian per-sona yang almuhit ini adalah kematian yang almuhit.

Karena kematian Tuhan itu almuhit, maka ketika Dia mati di atas salib, banyak hal yang telah dibereskan. Sifat dosa, perbuatan dosa, daging, manusia lama, Iblis, dunia, ciptaan lama, dan ketentuan-ketentuan, semuanya telah dibereskan. Selain itu, hayat ilahi dengan kekayaan ilahinya dibebaskan dari dalam Tuhan Yesus. Kematian-Nya yang almuhit telah menghapus semua hal negatif dan telah membebaskan semua hal positif.

Lukas 23:44-45 mengatakan, “Ketika itu hari sudah kira-kira jam dua belas dan kegelapan meliputi seluruh bumi sampai jam tiga, sebab matahari tidak bersinar. Tirai Bait Suci terkoyak menjadi dua.” Kegelapan di sini berhubungan dengan dosa, dan Tirai adalah lambang dari daging Tuhan Yesus. Ibrani 10:20 membicarakan tentang “Ia telah membuka jalan yang baru dan yang hidup bagi kita melalui tirai, yaitu diri-Nya sendiri.” Pada tirai yang terkoyak pada waktu Kristus mati terdapat kerub yang disulam. Kerub-kerub ini mewakili makhluk-makhluk hidup. Ini menunjukkan bahwa di dalam daging-Nya Kristus memikul semua ciptaan. Ketika tirai di Bait Suci ini terkoyak, kerub yang disulam padanya juga ikut terkoyak. Ini berarti ketika da-ging Kristus disalibkan, semua ciptaan yang dipikul oleh-Nya juga disalibkan. Melalui kematian Kristus, sifat dosa, perbuatan dosa, daging, dan semua ciptaan telah dibereskan.

Digenapkan Satu Kali untuk Selamanya

Kematian Kristus yang almuhit ini digenapkan satu kali untuk selamanya. Dia tidak perlu mati lagi. Kematian Tuhan yang almuhit ini kekal. Jika kita nampak hal ini, kita akan memuji Tuhan bahwa sifat dosa, perbuatan dosa, daging, manusia lama, Iblis, dunia, ciptaan lama, dan semua ketentuan telah ditanggulangi, dan kekayaan ilahi telah dibebaskan dan disalurkan kepada kita. Melalui kematian Tuhan yang almuhit ini sekarang kita adalah umat yobel.

DIKUBURKAN

Dengan Cara yang Mulia

Lukas 23:50-56 membicarakan tentang penguburan Manusia-Penyelamat. Ayat 50-52 mengatakan, “Adalah seorang yang bernama Yusuf. Ia anggota Majelis Besar, dan seorang yang baik lagi benar. Ia tidak setuju dengan putusan dan tindakan Majelis itu. Ia berasal dari Arimatea, sebuah kota Yahudi dan ia menanti-nantikan Kerajaan Allah. Ia pergi menghadap Pilatus dan meminta mayat Yesus.” Setelah Tuhan menggenapkan kematian-Nya yang almuhit, suasana penderitaan-Nya segera berubah menjadi suasana yang terhormat. Dia dikubur oleh Yusuf dari Arimatea, seorang yang kaya dengan kedudukan yang tinggi (Mat. 27:57). Yusuf mengambil tubuh Yesus dan “mengapaninya dengan kain lenan, lalu membaringkannya di dalam kubur yang digali di dalam bukit batu, di mana belum pernah dibaringkan mayat” (Luk. 23:53). Ini adalah untuk peng-genapan Yesaya 53:9. Di tempat orang yang terhormat dengan standar yang tinggi Tuhan beristirahat pada hari Sabat, menunggu saat kebangkitan dari antara orang mati.

Manusia-Penyelamat dikubur dengan dibungkus kain lenan serta dibubuhi campuran minyak mur dan rempah-rempah (Yoh. 19:39-40). Dia dihina di kayu salib, tetapi Dia dihormati dalam penguburan-Nya. Tuhan Yesus dikuburkan dengan cara yang sangat mulia.

Dengan Status Yang Almuhit

Ketika Tuhan Yesus dikubur, Dia dikubur dengan status Yang almuhit. Jika kita mengenal kebenaran dalam Kitab Suci, kita akan mengenal bahwa kita dikuburkan bersama Dia. Kita disalib bersama Tuhan Yesus, kemudian kita juga dikuburkan bersama Dia.

Sebagai orang-orang yang telah disalib dan dikubur bersama Tuhan Yesus, kita telah diakhiri; kita telah sepenuhnya dibawa kepada suatu pengakhiran. Ketika seseorang dikubur, itu adalah akhir dari dirinya. Kuburan adalah pengakhiran yang terakhir. Sebagai orang-orang yang telah jatuh, dalam daging, dan milik ciptaan lama, kita telah disalib dan dikubur. Kita telah dikubur bersama Tuhan Yesus dan telah diakhiri di dalam kuburan-Nya. Di dalam kubur-Nya, semua masalah telah berlalu, karena sifat dosa, perbuatan dosa, daging, manusia lama, Iblis, dunia, ciptaan, dan semua ketentuan telah ditanggulangi. Setelah meng-alami kematian yang demikian almuhit, Tuhan dikuburkan dengan penuh damai sejahtera dan terhormat.

Kita perlu ingat bahwa kita telah disalibkan bersama Kristus. Terhadap hal ini, kita mungkin masih meronta-ronta. Tetapi begitu kita nampak bahwa kita juga telah dikuburkan bersama Kristus, maka tidak ada lagi perontaan. Penguburan menghasilkan keadaan yang penuh damai sejahtera. Orang-orang yang telah dikubur tidak meronta lagi. Karena kita telah dikuburkan bersama Kristus, maka kita harus hanya tinggal dalam perhentian.

Lukas 23:54-56 mengatakan, “Hari itu hari persiapan dan Sabat hampir mulai. Perempuan-perempuan yang da-tang bersama-sama dengan Yesus dari Galilea, ikut serta dan mereka melihat kubur itu dan bagaimana mayat-Nya dibaringkan. Setelah pulang, mereka menyediakan rempah-rempah dan minyak mur. Pada hari Sabat mereka beristirahat menurut hukum Taurat.” Ini merupakan istirahat yang sejati bagi seluruh umat pilihan Allah dan bahkan bagi seluruh alam semesta; Penyelamat telah menggenapkan penebusan bagi mereka semua.