KENAIKAN MANUSIA-PENYELAMAT (2)
Pembacaan Alkitab: Ibr. 2:9; 12:2; Kis. 2:36
Dalam berita sebelumnya kita telah nampak bahwa kenaikan Manusia-Penyelamat adalah pelantikan-Nya ke dalam tugas surgawi-Nya melalui proses penciptaan, inkarnasi, kehidupan insani, penyaliban, dan kebangkitan. Status Manusia-Penyelamat yang dilantik adalah sebagai Allah dan manusia, sebagai Pencipta dan ciptaan, dan sebagai Penebus, Penyelamat, dan Roh pemberi-hayat untuk menyelenggara-kan administrasi Allah dan merampungkan ekonomi Perjanjian Baru-Nya. Dengan mempertimbangkan aspek obyek-tif dari kenaikan Kristus ini, kita nampak bahwa di dalam kenaikan-Nya, Dia dimahkotai dengan kemuliaan dan hor-mat (Ibr. 2:9), duduk di takhta bagi administrasi Allah (Ibr. 12:2), dan menjadi Tuhan untuk mendapatkan segala se-suatu serta menjadi Kristus untuk merampungkan amanat Allah (Kis. 2:36).
HUBUNGAN KITA DENGAN KRISTUS
YANG NAIK KE SURGA
Beberapa orang setelah mendengar tentang aspek obyektif dari kenaikan Kristus, mungkin akan berkata, ”Memang, dalam kenaikan-Nya Manusia-Penyelamat telah dilantik ke dalam tugas surgawi-Nya. Ini sungguh ajaib, tetapi hal ini kelihatannya menjadi sesuatu yang terlalu tinggi bagi kami dan terlalu jauh dari kami. Apa hubungannya hal ini dengan kami?” Untuk menjawab pertanyaan ini kita perlu mengenal bahwa Kristus dalam kebangkitan, Kristus yang pneumatik ini, hidup di dalam kita. Menurut Yohanes 20:22, di dalam kebangkitan-Nya, Kristus datang kepada murid-murid untuk menghembuskan diri-Nya sendiri ke dalam mereka. Tetapi menurut Markus 16, Lukas 24, Kisah Para Rasul 1, Tuhan naik ke surga supaya sesuatu yang lebih lanjut dapat terjadi. Jika hubungan-Nya dengan kita berhenti sampai Dia menghembuskan diri-Nya ke dalam kita, maka akan sulit bagi-Nya untuk menggarapkan sesuatu bagi penggenapan ekonomi Perjanjian Baru Allah. Setelah menghembuskan diri-Nya ke dalam murid-murid, Dia masih perlu dilantik ke dalam tugas surgawi-Nya.
Kita dapat memakai pemilihan dan pelantikan Presiden Amerika Serikat sebagai satu ilustrasi. Presiden tidak segera menunaikan tugas kepresidenannya setelah terpilih. Tidak, melainkan ia harus menunggu hari pelantikan, hari ia dilantik ke dalam tugasnya. Kemudian, setelah pelantikannya, ia baru dapat memulai melaksanakan administrasinya se-bagai Presiden. Demikian juga, setelah kebangkitan Manusia-Penyelamat, Dia masih perlu dilantik dalam kenaikan-Nya. Selama lima puluh hari setelah Tuhan menghembuskan diri-Nya ke dalam murid-murid, mereka tenang. Tetapi setelah Tuhan naik ke surga dan dilantik ke dalam pos-Nya, sejumlah hal besar mulai terjadi, dimulai pada hari Pentakosta.
Kita perlu mengetahui makna kenaikan Manusia-Penyelamat ini. Sebagai tambahan bagi kebangkitan-Nya, juga ada kenaikan-Nya. Sekarang Kristus yang hidup di dalam kita dan bekerja melalui kita ini bukan hanya Dia yang bangkit, tetapi juga Dia yang naik. Dia yang bangkit penuh dengan hayat dan kuasa, tetapi Dia masih perlu kuasa dalam kenaikan. Setelah kenaikan-Nya Tuhan bukan hanya memi-liki hayat dan kuasa dalam kebangkitan, tetapi juga kuasa dalam kenaikan.
Jika tidak ada pelantikan yang tepat, maka seorang pegawai pemerintah tidak akan dapat memiliki kuasa. Kuasa timbul melalui pelantikan. Bila seseorang dilantik ke dalam satu pos tertentu, ia memiliki kuasa atas tugas itu. Kita perlu nampak bahwa sebagai kaum beriman, kita memiliki Dia yang hidup di dalam kita yang bukan hanya hayat dan kuasa dalam kebangkitan, tetapi juga kuasa dalam kenaikan. Kristus dalam kebangkitan dan kenaikan hidup di dalam kita dan tinggal di atas diri kita. Dia hidup di dalam kita sebagai hayat, dan Dia tinggal di atas kita sebagai kuasa. Karena itu, kita sekarang menjadi satu dengan Kristus dalam kebangkitan dan kenaikan-Nya. Hasilnya, kita memiliki hayat dan kuasa dalam kebangkitan dan juga kuasa dalam kenaikan.
MENGAPRESIASI KEBANGKITAN DAN KENAIKAN MANUSIA-PENYELAMAT
Kita mungkin tidak memiliki apresiasi terhadap apa yang telah diwahyukan dalam Kitab Suci mengenai kebangkitan dan kenaikan Manusia-Penyelamat. Belakangan ini, sewaktu saya menyendiri bersama Tuhan, saya sadar bahwa kita semua perlu belas kasihan Tuhan. Kita mungkin belum pernah nampak kedalaman kebenaran yang diwahyukan dalam Alkitab. Sebaliknya, kita mungkin sering membaca Alkitab dengan cara yang sangat dangkal. Kita tidak menelusuri ke bawah permukaan untuk melihat apa yang ada di dalam lubuknya. Misalnya, kita mungkin mengapresiasi firman Tuhan dalam Matius 11:28: ”Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” Ketika kita membaca ayat ini, kita mungkin berkata, ”Terima kasih Tuhan. Aku adalah orang yang letih lesu, orang yang berbeban berat. Tuhan, aku datang kepada-Mu dan meminta Engkau memberikan perhentian kepadaku.” Bahkan kita mungkin memahami satu ayat seperti Yohanes 3:16 dengan cara yang dangkal. Dalam ayat ini Tuhan berkata, ”Karena Allah begitu mengasihi du-nia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Dalam membaca ayat ini, kita mungkin hanya memperhatikan fakta bahwa Allah mengasihi dunia ini. Namun, kita mungkin ti-dak mempelajari apakah arti percaya itu. Kita mungkin tidak memikirkan apakah hidup yang kekal itu, atau apa artinya memperoleh hidup yang kekal. Kita mungkin tidak tahu bahwa hidup kekal ini sebenarnya adalah Allah Tritunggal. Karena itu, memiliki hidup yang kekal adalah menikmati, berbagian dalam, dan mengalami Allah Tritunggal. Namun, kita mungkin sedikit atau tidak memahami hal ini.
Membaca Alkitab dengan cara yang dangkal dapat di-bandingkan dengan bermain skate di atas es yang menutupi danau yang dalam; pemain itu tidak memecahkan es untuk melihat apa yang ada di bawah permukaan es itu. Ketika kita membaca Alkitab, kita mungkin ”berskate” di atas ”es”, di atas permukaan firman itu. Kita tidak memecahkan per-mukaannya, masuk ke dalam lubuknya, dan melihat apa yang diwahyukan di sana.
Karena kedangkalan dalam membaca Alkitab, sangat sedikit orang Kristen yang mengenal hal kebangkitan, ke-naikan, dan kedatangan Roh itu. Karena itu, kita berbeban supaya kita semua nampak bahwa Kristus yang sekarang hidup dan bekerja di dalam kita adalah Dia dalam kebang-kitan dengan hayat dan kuasa dan juga Dia dalam kenaikan dengan kuasa. Dia yang dalam kebangkitan dan kenaikan ini sekarang hidup, bekerja, dan beroperasi di dalam kita.
Kita perlu terkesan dengan fakta bahwa hubungan Tuhan dengan kita tidak berhenti sampai dengan kebangkitan-Nya, melainkan terus berlanjut sampai kenaikan-Nya. Banyak hal yang terjadi sebagai hasil dari kenaikan-Nya. Kita telah menekankan bahwa sebagai Allah, manusia, Pencipta, ciptaan, Penebus, Penyelamat, dan Roh pemberi-hayat, Dia telah dimahkotai dan duduk di takhta. Dia telah dilantik ke dalam tugas surgawi-Nya untuk mengatur alam semesta ini dan melaksanakan ekonomi Perjanjian Baru Allah. Administrasi dan pelaksanaan ini bukan hanya dengan hayat dan kekuatan, tetapi juga dengan kuasa. Dia sekarang ada di dalam kita baik dalam kebangkitan-Nya maupun dalam kenaikan-Nya. Kita semua perlu mengenal Dia sampai sedemikian rupa.
MENGENAL STATUS DAN TUGAS
MANUSIA-PENYELAMAT SEWAKTU KITA
MENGONTAK DIA
Jika kita memiliki pengenalan yang riil terhadap Manusia-Penyelamat sewaktu kita mengontak Dia, maka kontak kita dengan-Nya akan berbeda. Pengenalan riil kita terhadap Tuhan akan mendatangkan perbedaan besar dalam kontak kita dengan Dia. Hal ini dapat diilustrasikan dengan kontak kita kepada orang. Jika Anda tidak mengenal status dan kualifikasi seseorang, hal ini akan mempengaruhi cara Anda mengontak dia. Misalnya, jika Anda tidak tahu bahwa seseorang adalah kepala sekolah, melainkan menganggapnya sebagai seorang pembantu, hal ini pasti akan mempengaruhi cara Anda mengontaki dia. Tetapi jika Anda tahu bahwa ia adalah kepala sekolah, cara Anda mengontaki dia akan berbeda. Cara kita mengontak orang lain akan berbeda bila kita mengenal status, kualifikasi, kedudukan, dan tugas sese-orang. Begitu pula jika kita mengenal status dan tugas Manusia-Penyelamat, hal ini akan mempengaruhi kontak kita dengan-Nya.
Hari ini banyak orang beriman berdoa kepada Tuhan dan mengontak Dia dengan cara yang jauh dari memadai. Mereka tidak memiliki banyak apresiasi terhadap status, kedudukan, dan kualifikasi Tuhan. Mereka tidak memiliki banyak pemahaman terhadap proses yang dilalui-Nya untuk dilantik ke dalam tugas surgawi-Nya.
Sebelum Manusia-Penyelamat dilantik dalam kenaikan-Nya, Dia telah melalui proses penciptaan, inkarnasi, kehidupan insani, penyaliban, dan kebangkitan. Penciptaan ini masuk melalui-Nya. Mengenai hal ini, Yohanes 1:3 mengatakan, ”Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan.” Selain itu, Kolose 1:16 mengatakan, ”Karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di surga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia.” Kristus juga telah melalui proses inkarnasi: Dia sebagai Firman, yang adalah Allah, menjadi daging (Yoh. 1:1, 14). Melalui inkarnasi, Dia membawa Allah Pencipta ke dalam ciptaan-Nya, ke dalam keinsanian. Dia hidup di bumi selama tiga puluh tiga setengah tahun, dan kita perlu mengenal Dia dalam kehidupan insani-Nya. Akhirnya, Dia pergi ke atas salib yang melaluinya Dia masuk ke dalam kematian dan mengadakan satu perjalanan ke wilayah kematian. Setelah itu, dalam kebangkitan-Nya Dia menakluk-kan kematian itu dan menghapuskannya (2 Tim. 1:10). Karena kematian tidak dapat menahan Dia (Kis. 2:24), maka Dia berjalan keluar dari kematian dan masuk ke dalam kebangkitan. Setelah kebangkitan-Nya yang ajaib dan dalam kebangkitan itu, Dia naik ke tempat yang paling tinggi di alam semesta ini; Dia naik ke surga.
Dalam kenaikan-Nya, Manusia-Penyelamat ini dimah-kotai dengan kemuliaan dan hormat. Dalam kenaikan-Nya, Dia juga duduk di atas takhta untuk menjadi pelaksana pemerintahan atas alam semesta ini. Lagi pula, dalam ke-naikan-Nya, Dia dijadikan Tuhan atas segala sesuatu dan Kristus untuk merampungkan rencana kekal Allah untuk mengembangbiakkan diri-Nya di bumi guna menghasilkan satu Tubuh yang sesuai dengan-Nya bagi ekspresi-Nya.
Sekarang ketika kita mengontak Dia, kita harus menghubungi-Nya sebagai Dia yang sedemikian. Ketika kita menghubungi-Nya, kita perlu memiliki pengenalan riil dari hakiki-Nya, mengenal status-Nya, kedudukan, dan tugas-Nya.
Kita bersyukur kepada Tuhan bahwa kita tidak lagi ”meluncur” di atas permukaan firman Tuhan. Dalam belas kasihan-Nya Dia telah memecahkan ”es” dan membuka kedalaman Kitab Suci untuk memperlihatkan semua harta ini kepada kita.
UNGKAPAN-UNGKAPAN BARU
UNTUK MENYAMPAIKAN KEBENARAN
Belakangan ini, saya mendengar kata-kata apresiasi yang diucapkan oleh orang-orang Kristen tertentu terhadap penelaah Alkitab di antara kita. Namun, beberapa orang dari antara mereka tidak merasa nyaman karena kita memakai beberapa ungkapan baru, ungkapan-ungkapan yang tidak dipakai oleh orang lain dalam mengajarkan kebenaran Alkitab. Saya akui bahwa sejak 1950-an, kita telah mem-perkenalkan cukup banyak istilah dan ungkapan yang baru untuk menyampaikan kebenaran yang terkubur dalam firman Allah. Namun, kita tidak menciptakan ajaran lain, sebaliknya, kita hanya menemukan apa yang diwahyukan dalam Alkitab. Kita tidak dapat dan juga tidak sepatutnya memperbaiki atau mengubah kebenaran ilahi. Tetapi, oleh kasih karunia Tuhan, kita dapat dan harus memperbaiki atau menyesuaikan penemuan kebenaran yang dalam yang terkandung dalam firman kudus.
Kebenaran-kebenaran yang kita temukan dalam firman Alkitab ini sering kali memerlukan istilah-istilah yang baru untuk menjelaskannya. Namun, hal ini bukanlah sesuatu yang luar biasa, karena ini adalah keadaan dalam kebudayaan manusia. Istilah-istilah dan ungkapan-ungkapan yang baru ini selalu diperlukan untuk menjelaskan penemuan-penemuan yang baru. Misalnya, beberapa abad yang lalu apakah kita memiliki kata ”komputer”, ”vitamin”, dan ”sinar X”? Tidak, kita tidak memiliki istilah-istilah itu karena hal-hal tersebut belum ditemukan. Tetapi segera se-telah sesuatu yang baru ditemukan, perlu ada ungkapan atau istilah yang baru untuk menjelaskannya. Sama prinsipnya dengan pemakaian istilah-istilah dan ungkapan-ungkapan yang baru untuk menyampaikan kebenaran dalam Alkitab. ”Allah Tritunggal” dan ”Trinitas” adalah ungkapan-ungkapan yang baru yang dipakai oleh guru-guru kebenaran alkitabiah sebermula untuk menekankan ketritunggalan Allah. Beberapa aspek kebenaran yang dalam mengenai ekonomi Perjanjian Baru Allah, yang Tuhan perlihatkan kepada kita beberapa tahun belakangan ini, juga memerlukan ungkapan-ungkapan yang baru.
Marilah kita memakai kata ”ekonomi” sebagai satu ilustrasi. Kurang lebih tahun 1960-an, kata ini sering di-pakai dalam tulisan-tulisan orang Kristen. Sebagai pengganti kata ekonomi (economy), banyak guru yang memakai kata ”zaman” (dispensation), satu kata yang telah menimbulkan kebingungan. Apakah zaman itu? Ada orang mengira bahwa zaman itu hanyalah suatu periode waktu saja. Sebenarnya, menurut Alkitab, arti yang sesungguhnya, yang sejati, dan yang mendasar dari zaman ini adalah ekonomi — administrasi rumah tangga Allah untuk menggarapkan diri-Nya ke dalam anak-anak-Nya. Ekonomi Allah adalah satu hal tentang Allah Tritunggal menyalurkan diri-Nya ke dalam ma-nusia tripartit. Pemakaian kita terhadap ungkapan ”ekonomi Allah” hanyalah satu contoh dari fakta bahwa pemulihan Tuhan itu terus maju. Dalam kemajuan pemulihan Tuhan ini, kita perlu memakai istilah-istilah dan ungkapan-ungkapan tertentu untuk menyampaikan kebenaran.
Kita memuji Tuhan atas hal-hal yang telah diperlihatkan Tuhan kepada kita dari firman mengenai kenaikan Manusia-Penyelamat. Semakin kita memikirkan kenaikan-Nya, kita semakin berada di surga, karena kita berada dalam kenaikan-Nya. Kristus kita hari ini bukan hanya Dia yang oleh-Nya segala sesuatu telah diciptakan, Dia yang telah berinkarnasi, Dia yang hidup di bumi, Dia yang mati di atas salib bagi dosa-dosa kita, dan Dia yang bangkit dari antara orang mati. Hari ini Kristus kita adalah Dia yang setelah melalui proses yang panjang dari penciptaan, inkar-nasi, kehidupan insani, penyaliban, dan kebangkitan, telah naik ke tempat yang paling tinggi dan ada di surga. Dalam kenaikan-Nya, Dia dimahkotai dan duduk di takhta, dan Dia dijadikan Tuhan dan Kristus untuk mendapatkan segala sesuatu dan untuk melaksanakan amanat Allah supaya ekonomi-Nya, rencana kekal-Nya, dapat dirampungkan di bumi di antara kita dan melalui kita di zaman ini. Betapa ajaib bahwa kita memiliki Kristus yang demikian dalam kenaikan!