KENAIKAN MANUSIA-PENYELAMAT (1)
Pembacaan Alkitab: Ibr. 2:9; 12:2; Kis. 2:36
Berita ini mengawali rangkaian berita tentang kenaikan Manusia-Penyelamat. Mula-mula kita akan memberikan satu gambaran tentang kenaikan Tuhan. Kemudian kita akan membahas aspek obyektif dan aspek subyektif kenaikan-Nya
PELANTIKAN MANUSIA-PENYELAMAT
KE DALAM TUGAS SURGAWI-NYA
Kenaikan Manusia-Penyelamat adalah pelantikan-Nya ke dalam tugas surgawi-Nya melalui proses penciptaan, inkarnasi, kehidupan insani, ketersaliban, dan kebangkitan sebagai Allah dan manusia, sebagai Pencipta dan ciptaan, dan sebagai Penebus, Penyelamat, dan Roh pemberi-hayat, untuk melaksanakan administrasi Allah dan untuk melaksanakan ekonomi Perjanjian Baru Allah.
Jika kita ingin memahami kenaikan Manusia-Penyelamat, kita perlu nampak bahwa ini adalah pelantikan-Nya ke dalam tugas surgawi-Nya. Pelantikan ini memerlukan satu proses panjang yang dimulai dengan penciptaan dan dilanjutkan dengan inkarnasi, kehidupan insani, ketersaliban, dan kebangkitan. Proses ini melibatkan Manusia-Penyelamat sebagai Allah, manusia, Pencipta, ciptaan, Penebus, Penyelamat, dan Roh pemberi-hayat. Tuhan Yesus dilantik untuk melaksanakan administrasi Allah dan untuk melak-sanakan ekonomi Perjanjian Baru Allah. Dalam aspek obyektif, kenaikan Tuhan membuat Dia dimakhkotai dengan ke-muliaan dan hormat (Ibr. 2:9), dan didudukkan di atas takhta bagi administrasi Allah (Ibr. 12:2), agar Dia dilatih menjadi Tuhan untuk mendapatkan segala sesuatu dan di-lantik menjadi Kristus untuk melaksanakan amanat Allah.
Pernahkah Anda mendengar bahwa Kristus mengalami satu pelantikan dan pelantikan-Nya ini adalah kenaikan-Nya? Beberapa orang mungkin menjawab pertanyaan ini de-ngan mengatakan bahwa kata ”pelantikan” ini tidak ditemukan dalam Alkitab. Memang benar bila mengatakan bahwa kata ini tidak ada dalam Kitab Suci, tetapi fakta pelantikan Manusia-Penyelamat ada di sana. Sama halnya dengan ung-kapan ”Allah Tritunggal” tidak ada dalam Alkitab, tetapi ini adalah satu fakta bahwa Alkitab mewahyukan Allah Tritunggal. Misalnya, Matius 28:19 membicarakan tentang membaptis kaum beriman ”dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus.” Demikian juga, Perjanjian Baru mewahyukan fakta pelantikan Kristus. Lihatlah Kisah Para Rasul 2:36: ”Jadi, seluruh kaum Israel harus tahu dengan pasti bahwa Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus.” Dalam ayat ini kata ”membuat” dapat pula berarti ”melantik.” Jadi, pelantikan Kristus ada dalam Kisah Para Rasul 2:36. Jika kita baca ayat-ayat sebelumnya, kita akan nampak bahwa di sana kenaikan Tuhan disinggung. Dalam kenaikan-Nya Allah melantik Yesus Kristus ke dalam ministri surgawi-Nya. Ini berarti dalam kenaikan-Nya, Allah menjadikan Dia Tuhan dan Kristus.
STATUS MANUSIA-PENYELAMAT
SEBAGAI DIA YANG NAIK
Sebagai Dia yang telah dilantik ke dalam tugas surgawi-Nya melalui kenaikan-Nya, Manusia-Penyelamat memiliki satu status yang ajaib. Dia adalah Allah dan manusia, Pencipta dan ciptaan. Beberapa ahli teologi setuju bahwa Kristus adalah Allah, manusia, dan Pencipta, tetapi mereka akan menyangkal fakta bahwa Dia juga adalah ciptaan. Namun, Kolose 1:15 mengatakan bahwa Kristus adalah Yang sulung dari semua ciptaan, yang menunjukkan bahwa, berkaitan dengan keinsanian-Nya, Dia adalah ciptaan. Tetapi karena bidah dari Arius, yang disalahkan pada Konsili Nicea pada tahun 325 M, banyak orang enggan mengatakan bahwa menurut Kolose 1:15, Kristus adalah ciptaan. Dalam ayat ini kita diberi tahu bahwa Kristus adalah gambar Allah, Yang sulung dari semua ciptaan. Jika ayat ini tidak ada dalam Alkitab, kita tidak akan berani mengatakan bahwa Kristus adalah Pencipta dan ciptaan. Namun, ayat ini adalah dasar untuk mengatakan bahwa Kristus adalah ciptaan juga Pencipta.
Jika kita mengatakan bahwa Kristus adalah Allah dan manusia, kita juga harus mengatakan bahwa Dia adalah Pencipta dan ciptaan, karena Allah adalah Pencipta dan manusia adalah ciptaan. Namun, beberapa ahli teologi mengatakan bahwa Kristus adalah Allah dan manusia, dan kemudian mengatakan bahwa Dia hanyalah Pencipta dan bukan ciptaan. Betapa lucunya! Apakah manusia bukan ciptaan? Ibrani 2:14 menunjukkan bahwa Tuhan Yesus memiliki darah dan daging. Apakah darah dan daging bukan hal yang tercipta? Jika Anda menyangkal Kristus adalah ciptaan, Anda sebenarnya menyangkal Dia datang dalam daging. Menyangkal Kristus telah datang dalam daging adalah satu bidah yang disalahkan dalam 1 Yohanes 4.
Beberapa tahun yang lalu, beberapa orang di Hong Kong mengumumkan, ”Kristus kita adalah Pencipta; Dia bukan ciptaan.” Ketika saya mendengar hal ini, saya memberi tahu kaum saleh, ”Salah sekali bila kita mengatakan bahwa Kristus adalah Pencipta dan bukan ciptaan. Jika Anda mengatakan Kristus bukan ciptaan, Anda juga mengatakan bahwa Dia tidak menjadi seorang manusia. Tetapi karena Kristus menjadi seorang manusia, Dia juga menjadi ciptaan karena manusia adalah satu ciptaan.” Kristus kita, yang telah dilantik oleh Allah ke dalam tugas surgawi, adalah Allah dan manusia. Dia adalah Pencipta juga ciptaan. Lagi pula, Dia adalah Penebus, Penyelamat, dan Roh pemberi-hayat. Betapa menakjubkannya status yang Dia miliki! Betapa unggul kelayakan yang dimiliki-Nya!
Banyak orang Kristen tidak menyadari apakah status dan kelayakan yang telah Kristus miliki sebagai Dia yang telah naik. Namun, saya dapat bersaksi bahwa kapan saja saya berkontak dengan Tuhan, saya sadar bahwa Dia adalah Allah, manusia, Pencipta, ciptaan, Penebus, Penyelamat, dan Roh pemberi-hayat. Karena saya memiliki realisasi ini mengenai Tuhan ini, maka kadang-kadang saya lupa diri karena sukacita saat saya berkontak dengan Dia. Saya bahkan dapat mengatakan bahwa saya kadang-kadang ”dialiri tenaga listrik” oleh Roh itu ketika saya memikirkan hakiki Kristus.
Pernahkah Anda memikirkan bahwa Kristus bukanlah suatu bagian dari Allah, melainkan Allah yang lengkap? Dia bukan hanya Allah Putra melainkan juga Allah Bapa dan Allah Roh. Jadi, Kristus adalah Allah yang lengkap, Allah Tritunggal. Lagi pula, Dia adalah manusia tripartit. Karena itu, sebagai Allah Tritunggal dan manusia tripartit, Dia adalah Allah yang lengkap dan manusia yang sempurna. Marilah kita semua belajar berkata, ”Penyelamat-Ku adalah Allah Tritunggal dan manusia tripartit. Dia adalah Pencipta dan juga ciptaan. Dia adalah Penebus dan Roh pemberi-ha-yat, dan Roh pemberi-hayat ini adalah perampungan dari Allah Tritunggal.” Semakin kita menyadari hal ini, semakin kita akan ”dialiri tenaga listrik” dan semakin lupa diri karena sukacita dalam Tuhan.
MENYELENGGARAKAN ADMINISTRASI ALLAH
DAN MERAMPUNGKAN EKONOMI
PERJANJIAN BARU ALLAH
Sebagai Dia yang telah melalui proses penciptaan, inkarnasi, kehidupan insani, ketersaliban, dan kebangkitan, Manusia-Penyelamat dengan status-Nya yang ajaib ini telah dilantik ke dalam tugas surgawi-Nya untuk menyelenggarakan administrasi Allah dan merampungkan ekonomi Perjanjian Baru Allah. Kristus sekarang berada di atas takhta untuk mengatur alam semesta ini. Dia adalah Pelaksana pemerintahan yang unik, Raja di atas segala raja, dan Tuhan di atas segala tuan. Semua penguasa di bumi ini ada di bawah-Nya. Dia adalah Pelaksana pemerintahan untuk menyelenggarakan administrasi Allah dan merampungkan ekonomi Perjanjian Baru Allah. Administrasi-Nya berhubungan dengan alam semesta, sedangkan perampungan ekonomi Perjanjian Baru-Nya adalah mengembangbiakkan diri-Nya sendiri bagi reproduksi-Nya untuk membangun gereja, Tubuh-Nya, yang akan menghasilkan Yerusalem Baru. Betapa me-nakjubkan!
Apa yang telah kita bahas sejauh ini adalah satu kata pembukaan mengenai kenaikan Manusia-Penyelamat. Sekarang baiklah kita melanjutkan membahas aspek obyektif kenaikan Kristus.
ASPEK OBYEKTIF KENAIKAN
MANUSIA-PENYELAMAT
Dimahkotai dengan Kemuliaan dan Hormat
Dalam kenaikan-Nya, Manusia-Penyelamat dimahkotai dengan kemuliaan dan hormat. Ibrani 2:9 mengatakan, ”Tetapi yang kita lihat ialah bahwa Yesus untuk waktu yang singkat dibuat sedikit lebih rendah daripada malaikat-malaikat, dan karena penderitaan maut, dimahkotai dengan kemuliaan dan hormat.” Di sini kemuliaan dan hormat di-anggap sebagai satu mahkota. Kemuliaan adalah kemegahan dan keindahan yang berhubungan dengan persona Yesus; hormat adalah kemustikaan yang berhubungan dengan harga, nilai, dan martabat Yesus (1 Ptr. 2:7). Di sini kita juga dapat menunjukkan bahwa kehormatan Tuhan berhubungan dengan kedudukan-Nya (2 Ptr. 1:17). Sebagai Dia yang naik yang dimahkotai dengan kemuliaan dan hormat, Kristus berada dalam tingkatan kemuliaan dan memiliki kedudukan terhormat.
Adalah satu kehormatan bagi seseorang bila ia mendapatkan kedudukan yang tinggi. Misalnya, kepala sekolah memiliki kedudukan yang tinggi, dan kedudukan itu adalah kehormatannya. Tetapi seorang pembantu, sebaliknya, tidak memiliki kedudukan atau kehormatan apa-apa. Kristus itu mulia dalam tingkatan dan terhormat dalam kedudukan. Dia berada di atas semua raja dan pemerintah; inilah kehormaan-Nya. Dia telah menerima kemuliaan yang demikian dan telah masuk ke dalam satu kehormatan. Kemuliaan dan kehormatan ini adalah mahkota yang olehnya Kristus dimah-kotai.
Duduk di Takhta bagi Administrasi Allah
Hal lainnya yang berhubungan dengan aspek obyektif kenaikan Kristus adalah Dia telah duduk di takhta bagi administrasi Allah. Mengenai hal ini, Ibrani 12:2 mengatakan bahwa Kristus sekarang ”duduk di sebelah kanan takhta Allah.” Dari ayat ini kita memiliki kesan, di samping takhta Allah, yaitu di sebelah kanan-Nya, ada takhta lainnya. Namun dalam kitab Wahyu kita nampak bahwa hanya ada satu takhta bagi Allah dan Kristus. Dalam Wahyu 3:21 Tuhan mengatakan bahwa Dia duduk bersama Bapa di takhta-Nya. Lagi pula, Wahyu 22:1 membicarakan tentang ”sungai air kehidupan, yang jernih bagaikan kristal, dan mengalir keluar dari takhta Allah dan Anak Domba itu” (Tl.). Wahyu 22:3 selanjutnya mengatakan tentang kota kudus, Yerusalem Baru, bahwa ”takhta Allah dan Anak Domba akan ada di dalamnya” (Tl.). Wahyu 22:1 dan 3 tidak menyebutkan takhta-takhta (jamak) — satu bagi Allah dan yang lain bagi Anak Domba — melainkan takhta (tunggal) Allah dan Anak Domba. Jadi, satu takhta ini adalah bagi Allah dan Anak Domba.
Dengan cara bagaimanakah Allah dan Kristus duduk di atas satu takhta? Wahyu 21 sangat membantu dalam hal ini. Ayat 23 mengatakan, ”Kota itu tidak memerlukan matahari dan bulan untuk menyinarinya, sebab kemuliaan Allah meneranginya dan Anak Domba itu adalah lampunya.” Di sini kita nampak bahwa Anak Domba, Kristus, sebagai lampu bercahaya bersama Allah sebagai terangnya menerangi kota itu dengan kemuliaan Allah sebagai ekspresi terang ilahi. Kristus, Anak Domba adalah lampunya, dan Allah adalah terang di dalam lampu itu. Karena terang ada di dalam lampu itu, maka terang ini tidak dapat dipisahkan dari lampu itu. Dari hal ini kita dapat melihat bagaimana Allah dan Kristus duduk di atas satu takhta ini. Seperti te-rang itu ada di dalam lampu, demikian pula Allah ada di dalam Kristus. Karena Allah ada di dalam Kristus yang du-duk di takhta, maka Allah dan Kristus duduk di satu takhta di surga.
Fakta bahwa Allah dalam Kristus duduk di takhta itu berarti bahwa Allah mengatur alam semesta dari dalam Kristus dan melalui Kristus, sama seperti terang yang memancar dari dalam lampu dan melalui lampu itu. Dari hal ini kita dapat melihat bahwa Kristus duduk di takhta bersama Allah. Allah ada di takhta dan Allah ini ada di dalam Manusia-Penyelamat yang duduk di takhta. Sewaktu kita memikirkan hal ini kita nampak bahwa penobatan Manusia-Penyelamat ini melibatkan Trinitas ilahi.
Kristus telah duduk di takhta dalam kenaikan-Nya. Kenaikan-Nya adalah bagi penobatan-Nya. Manusia-Penyelamat sebagai Dia yang telah naik, telah dimahkotai dengan kemuliaan dan hormat dan telah duduk di takhta bagi administrasi Allah.
Tuhan yang Mendapatkan Segala Sesuatu
Manusia-Penyelamat ini, dalam kenaikan-Nya, telah dijadikan Tuhan untuk mendapatkan segala sesuatu (Kis. 2:36). Dia sekarang adalah Tuhan yang mendapatkan alam semesta ini, mendapatkan umat pilihan Allah, dan segala benda, perkara, dan manusia yang positif. Kristus adalah Tuhan bukan hanya atas umat pilihan Allah, tetapi juga atas para malaikat dan semua orang yang akan berada di dalam Kerajaan Seribu Tahun di dalam langit baru dan bumi baru. Karena itu, Dia adalah Tuhan atas langit, bumi, dan segala sesuatu dan atas setiap orang yang telah ditebus-Nya. Manusia-Penyelamat ini dijadikan Tuhan atas segala sesuatu untuk mendapatkan segala sesuatu.
Kristus Merampungkan Amanat Allah
Kisah Para Rasul 2:36 mewahyukan bahwa dalam kenaikan-Nya, Manusia-Penyelamat bukan hanya dijadikan Tuhan, tetapi juga dijadikan Kristus. Dia dijadikan Kristus sebagai yang diurapi Allah (Ibr. 1:9) untuk merampungkan amanat Allah.
Dalam berita ini kita telah memberikan satu kata pembukaan mengenai kenaikan Manusia-Penyelamat, dan telah menekankan aspek obyektif dari kenaikan-Nya. Dalam berita selanjutnya kita akan membahas bagaimana kita dapat mengalami kenaikan-Nya. Kemudian kita akan melanjutkan membahas aspek subyektif dari kenaikan-Nya.