KEBANGKITAN MANUSIA-PENYELAMAT (6)
Pembacaan Alkitab:
1 Kor. 15:45b; Yoh. 14:16-20, 26; 12:24b; 1 Ptr. 1:3; 2 Kor. 5:17
Dalam berita sebelumnya kita telah melihat aspek obyektif dan aspek subyektif dari kebangkitan Manusia-Penyelamat. Mengenai aspek subyektif, kita telah nampak bahwa kebangkitan Kristus adalah transfigurasi-Nya menjadi Roh pemberi-hayat untuk masuk ke dalam orang yang percaya kepada-Nya, pertunasan-Nya atas ciptaan baru untuk menyalurkan hayat ilahi ke dalam kaum beriman bagi kelahiran kembali mereka, dan perkembangbiakan-Nya untuk menghasilkan gereja sebagai reproduksi-Nya. Berita ini adalah kesimpulan dari rangkaian berita-berita tentang aspek subyektif kebangkitan Kristus. Butir kesimpulannya adalah kebangkitan Manusia-Penyelamat menghasilkan kehidupan-Nya di dalam kita. Hasil dari transfigurasi, per-tunasan, dan perkembangbiakan Manusia-Penyelamat ini adalah Dia hidup di dalam kaum beriman-Nya.
KEHIDUPAN MANUSIA-PENYELAMAT
DI DALAM KAUM BERIMAN-NYA
Menunaskan Kaum Beriman
Melalui kebangkitan, Manusia-Penyelamat ditransfi-gurasi menjadi Roh pemberi—hayat. Kemudian Dia masuk ke dalam kita untuk menunaskan kita, ciptaan lama ini, se-hingga kita dapat menjadi ciptaan baru. Istilah ”ciptaan baru” ini dipakai oleh Paulus dalam 2 Korintus 5:17: ”Jadi, siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” Ciptaan lama ini meliputi langit, bumi, jutaan makhluk, dan manusia. Tetapi ciptaan baru hanya meliputi umat Allah yang telah dipilih dan ditebus. Dulu umat Allah ini adalah ciptaan lama. Tetapi ketika Kristus sebagai Roh pemberi-hayat masuk ke dalam mereka, mereka ditunaskan dengan Allah Tritunggal menjadi ciptaan baru.
Pertunasan ini tergantung kepada ”benih”, dan benih yang dengannya Kristus yang bangkit menunaskan kita ada-lah Allah Tritunggal. Meskipun benih ini kedengarannya tidak menyenangkan, tetapi ini adalah kebenaran bahwa Allah Tritunggal adalah benih yang dengannya Kristus yang pneu-matik telah menunaskan kita. Haleluya, kita semua telah ditunaskan dengan ”benih ilahi!” Ini adalah satu fakta bahwa sebagai orang-orang yang telah ditunaskan dengan Allah Tritunggal, kita memiliki benih ilahi di dalam kita. Karena kita telah ditunaskan melalui kebangkitan Manusia-Penyelamat, maka kita telah dilahirkan kembali (1 Ptr. 1:3).
Reproduksi Kristus yang Pneumatik
Pertunasan atas ciptaan baru oleh Manusia-Penyelamat ini adalah perkembangbiakan-Nya, perbanyakan-Nya. Dalam kitab-kitab Injil kita memiliki satu Kristus, Kristus yang unik. Tetapi dalam Yohanes 20, setelah menghembuskan Roh pemberi-hayat sebagai hembusan ke dalam murid-murid, sedikitnya ada 121 ”Kristus”. Menurut Kisah Para Rasul 1, 121 orang ini — seratus dua puluh murid ditambah Tuhan Yesus — mengadakan satu sidang doa yang panjang yang berlangsung selama sepuluh hari. Dalam Kisah Para Rasul 1, 121 Kristus ini berkumpul bersama untuk berdoa. Kemudian pada hari Pentakosta, 3.000 orang lainnya ditunaskan. Pertama, satu Kristus menjadi 121 Kristus, dan kemudian menjadi 3.121 Kristus. Pertunasan ini sebenarnya adalah reproduksi Kristus yang pneumatik di dalam kebangkitan-Nya.
Pada hari Pentakosta Kristus hidup di dalam 3.120 anggota-Nya. Kristus yang hidup di dalam mereka adalah Kristus yang pneumatik, Kristus yang adalah Roh pemberi-hayat. Kristus yang pneumatik ini sesungguhnya adalah Kristus dalam kebangkitan.
Di sini kita tidak seharusnya mengatakan Kristus yang bangkit, melainkan Kristus dalam kebangkitan. Kristus sen-diri adalah kebangkitan, dan realitas kebangkitan ini adalah Roh pemberi-hayat. Sebenarnya, Roh pemberi-hayat ini adalah kebangkitan. Kristus dalam kebangkitan adalah kebangkit-an itu sendiri, dan kebangkitan ini adalah Roh pemberi-hayat.
Roh pemberi-hayat adalah realitas kebangkitan. Jika Anda tidak berada di dalam Roh pemberi-hayat, Anda tidak berada di dalam kebangkitan. Tetapi jika Anda berada di dalam Roh pemberi-hayat, berarti Anda berada di dalam kebangkitan.
Kristus dalam Kebangkitan Hidup di dalam Kita
Yohanes 14:16-20 mewahyukan bahwa Kristus dalam kebangkitan sekarang hidup di dalam kita. Dalam ayat 16-17 Tuhan Yesus berkata, ”Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran. Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu.” Menurut ayat 16, Tuhan Yesus akan minta kepada Bapa supaya memberikan Penolong yang lain kepada murid-murid. Putra adalah Penolong yang pertama. Karena itu, Penolong yang pertama minta kepada Bapa untuk mengutus Penolong yang lain, yaitu Roh Kebenaran (realitas) yang akan tinggal di dalam kita. Kemudian dalam ayat 18 Tuhan selanjutnya berkata, ”Aku tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu. Aku datang kembali kepadamu.” Bila digabungkan dengan ayat 17, maka ternyatalah bahwa ”Dia” yang adalah Roh realitas dalam ayat 17 menjadi ”Aku” yang adalah Tuhan sendiri dalam ayat 18. Ini menunjukkan bahwa setelah kebangkitan-Nya, Tuhan menjadi Roh realitas. Kemudian mengenai hari kebangkitan, Tuhan mengatakan dalam Yohanes 14:20, ”Pada waktu itulah kamu akan tahu bahwa Aku di dalam Bapa-Ku, dan kamu di dalam Aku dan Aku di dalam kamu.” Di sini Tuhan dengan jelas berkata, ”Aku di dalam kamu,” yang mewahyukan bahwa Dia sendiri akan tinggal di dalam kita.
Sewaktu Tuhan hidup di dalam kita, Dia bukannya tidak lagi tinggal di dalam Bapa. Di satu pihak, dalam Yohanes 14:20 Dia berkata, ”Aku di dalam Bapa-Ku,” di pihak lain, Dia berkata, ”Aku di dalam kamu.” Tuhan pasti tidak berkata, ”Bila Aku masuk ke dalam kamu, Aku tidak lagi tinggal di dalam Bapa-Ku.” Sebaliknya, di sini Tuhan seolaholah berkata, ”Bila Aku masuk ke dalam kamu, Aku akan masuk ke dalam kamu bersama Bapa. Bukan hanya Aku di dalam Bapa-Ku, tetapi Bapa juga ada di dalam Aku. Karena itu, ketika Aku di dalam kamu, Bapa yang ada di dalam Aku juga ada di dalam kamu.”
Pemahaman terhadap ayat 20 ini dibuktikan oleh firman Tuhan dalam ayat 23: ”Jika seseorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan tinggal bersama-sama dengan dia.” Di sini Bapa dan Putra yang membuat satu tempat tinggal bersama kita itu sama dengan frasa ”Aku di dalam kamu” dalam ayat 20. Siapakah yang ada di dalam kita? ”Aku” yang ada di dalam kita ini bukan hanya Putra, melainkan Putra bersama Bapa. Tetapi bagaimana dengan Roh itu? Dalam Yohanes 14:26 Tuhan Yesus membicarakan tentang ”Penolong, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku.” Putra datang dalam nama Bapa (Yoh. 5:43) karena Putra dan Bapa adalah satu (Yoh. 10:30). Sekarang kita nampak bahwa Roh itu diutus di dalam nama Putra karena Roh itu dan Putra juga adalah satu (2 Kor. 3:17). Inilah Allah Tritunggal — Bapa, Putra, dan Roh — yang mencapai kita sebagai Roh itu. Jadi, ketika Roh itu datang. Putra dan Bapa juga datang.
Bila kita menjajarkan ayat-ayat ini, kita nampak bahwa Dia yang ada di dalam kita itu tidak sederhana. Tidak di-ragukan lagi, Dia ini adalah Putra, tetapi Putra yang di dalam-Nya ada Bapa dan juga Putra yang datang bersama Roh itu. Karena itu, akhirnya kita nampak bahwa ”Aku” dalam Yohanes 14:20 adalah Allah Tritunggal.
Melihat Tuhan karena Dia Hidup di dalam Kita
Dalam Yohanes 14:19 Tuhan Yesus berkata, ”Sesaat lagi dunia tidak akan melihat Aku lagi, tetapi kamu akan melihat Aku, sebab Aku hidup dan kamu pun akan hidup.” Jika Tuhan tetap tinggal di dalam kubur, maka Tuhan tidak hidup dan murid-murid pun tidak akan melihat Dia lagi. Tetapi ayat ini menunjukkan bahwa karena Dia hidup maka kita akan melihat Dia. Dia mengatakan bahwa Dia akan bangkit dan hidup, dan kita juga akan hidup. Apakah arti-nya? Untuk memahami ayat ini, kita perlu mempelajari seluruh Perjanjian Baru. Firman Tuhan, ”Kamu akan melihat Aku, sebab Aku hidup dan kamu pun akan hidup,” berarti, ”Aku akan hidup di dalam kamu dan membuat kamu hidup.” Di sini Tuhan Yesus memberi tahu kita bahwa setelah kebangkitan-Nya, Dia akan hidup di dalam kita.
Sampai pada butir ini, izinkan saya mengajukan satu pertanyaan kepada kalian: Sudahkah kalian melihat Tuhan Yesus? Beberapa orang mungkin menjawab pertanyaan ini dengan mengatakan bahwa mereka telah melihat Tuhan Yesus di dalam orang-orang kudus, kaum beriman. Orang yang menjawab pertanyaan ini dengan cara demikian tidak memiliki pemahaman yang tepat tentang Yohanes 14:19. Dalam ayat itu Tuhan tidak mengatakan: ”Kamu melihat Aku sebab kamu melihat Aku di dalam kaum beriman lainnya.” Tetapi, firman Tuhan menunjukkan bahwa kita melihat Dia karena Dia hidup di dalam kita. Kita hidup karena Dia hidup. Ini berarti kita hidup karena Dia hidup di dalam kita untuk membuat kita hidup.
Dalam menjawab pertanyaan mengenai apakah kita telah melihat Tuhan, kita harus berkata, ”Aku telah melihat Tuhan karena Dia hidup di dalamku.” Misalnya, seorang saudara melihat istrinya karena ia hidup bersamanya. Tetapi Dia yang sekarang kita lihat ini bukan hanya hidup bersama kita — Dia bahkan hidup di dalam kita. Setiap saat Dia hidup di dalam kita. Karena Dia hidup di dalam kita, maka kita dapat melihat Dia.
Koor dari sebuah kidung terkenal yang berjudul ”Dia hidup,” mengatakan demikian:
Kristus hidup! Kristus Yesus hidup!
Dia berjalan dan bicara di dalam hidupku.
Bersama menempuh jalan hayat yang sempit.
Kristus hidup! Beri kes’lamatan.
Bagaimana aku tahu? Dia hidup dalamku.
Ini adalah sebuah kidung yang baik, dan saya meng-apresiasinya. Koornya mengatakan bahwa kita tahu Kristus hidup karena Dia berjalan bersama kita dan berbicara dengan kita. Namun, ini tidak sebaik mengatakan bahwa kita tahu Kristus hidup karena Dia hidup di dalam hati kita. Dalam menjawab pertanyaan, ”Bagaimana Anda tahu Kristus hidup?” koor kidung ini menjawab, ”Dia hidup dalamku!” Kita tahu bahwa Tuhan hidup bukan hanya karena Dia ber-jalan bersama kita dan berbicara dengan kita, melainkan karena Dia hidup di dalam kita.
Bagaimana Anda tahu bahwa Kristus hidup? Anda harus menjawab pertanyaan ini dengan berkata, ”Aku tahu Dia hidup. karena Dia hidup di dalamku.” Demikian juga, jika kita ditanya apakah kita telah melihat Tuhan Yesus, maka kita harus berkata, ”Ya, aku telah melihat Tuhan, karena Dia hidup di dalamku. Bahkan sewaktu Anda mengajukan pertanyaan ini kepada saya, Dia sedang hidup di dalam saya. Karena Dia hidup di dalam saya, maka saya melihat Dia. Bahkan sekarang sewaktu saya sedang berbicara, saya dapat melihat Dia. Sewaktu saya sedang berbicara kepada Anda, Dia berbicara kepada saya. Saya hanyalah sebuah alat pengi-rim yang membicarakan apa saja yang Dia katakan kepada saya.”
Firman Tuhan, ”Sebab Aku hidup dan kamu pun akan hidup,” benar-benar digenapkan sepenuhnya pada hari Pentakosta. Ketika Petrus berdiri dengan kesebelas murid, itu adalah Kristus dalam kebangkitan. Pembicaraan Petrus juga adalah Kristus dalam kebangkitan. Seandainya seseorang bertanya kepada Petrus di mana Kristus, ia akan berkata, ”Kristus ada di sini. Tidakkah kamu melihat aku? Jika kamu melihat aku maka kamu melihat Kristus karena Dia hidup di dalamku.
PENGALAMAN KITA TERHADAP KRISTUS
DALAM KEBANGKITAN
Kristus Adalah Kebangkitan
Mengenai pengalaman kita terhadap Kristus dalam ke-bangkitan, kita dapat memakai istilah ”Kristus yang pneumatik.” Meskipun kita tidak suka membicarakan istilah Kristus yang rohani, tetapi kita menyukai ekspresi ”Kristus yang pneumatik”. Ekspresi ini menunjukkan bahwa Kristus adalah Roh pemberi-hayat. Kristus yang pneumatik sebenarnya adalah Roh pemberi-hayat itu sendiri, bukan secara doktrinal melainkan secara pengalaman. Dari abad ke abad sejumlah guru Kristen mengatakan bahwa dalam pengalaman kita, Kristus identik dengan Roh itu. Secara doktrinal hal ini sulit dijelaskan; namun, secara pengalaman kita tahu bahwa Kristus adalah Roh itu yang hidup di dalam kita.
Menurut Perjanjian Baru, Kristus dan Roh itu hidup di dalam kita. Lalu, yang hidup di dalam kita dua atau satu? Jawaban yang paling baik untuk pertanyaan ini adalah mengatakan bahwa Dia yang hidup di dalam kita adalah Kristus yang pneumatik, Kristus yang adalah Roh pemberihayat.
Orang-orang Kristen sering berkata, ”Kristus kita itu hidup; kita memiliki Kristus yang hidup.” Tetapi banyak orang beriman tidak sadar bahwa Kristus yang hidup ini adalah Kristus dalam kebangkitan dan Kristus yang adalah kebangkitan. Dalam Yohanes 11:25 Tuhan Yesus berkata, ”Akulah kebangkitan.” Di sini kita nampak bahwa Kristus sendiri adalah kebangkitan. Kristus yang sekarang ada di dalam kebangkitan adalah kebangkitan itu sendiri.
Hidup (Berperilaku) dalam Kebangkitan
Perjanjian Baru menyuruh kita hidup (berperilaku) oleh Roh (Gal. 5:16, 25). Hidup oleh Roh secara sederhana berarti berperilaku dalam kebangkitan. Untuk mengalami hal ini, kita perlu menyangkal diri kita supaya Kristus dapat hidup di dalam kita. Jika kita mati, Kristus akan hidup. Kristus hidup di dalam kita melalui kita mati.
Mati agar Kristus Dapat Hidup di dalam Kita
Sekarang karena Kristus hidup di dalam kita, maka kita secara erat berkaitan dengan-Nya. Kita dapat mengatakan bahwa Dia dengan kaum beriman menjadi satu ”benih”. Anda adalah kulit luarnya dan Dia adalah hayat di dalam kulit luar itu. Kulit luar ini perlu mati agar hayat di dalamnya dapat hidup. Karena itu, bila kita mati, Kristus akan hidup. Kita mati untuk memperhidupkan Dia, dan Dia hidup melalui kita mati.
Perkataan tentang Kristus hidup di dalam kita sebagai hasil dari kita mati ini dapat disebut suatu ”logika surgawi” atau ”filsafat rohani”. Filsafat semacam ini jauh lebih baik daripada filsafat alamiah dan filsafat manusia apa pun. Filsafat kita adalah kita mati supaya Kristus hidup di dalam kita. Menurut logika surgawi ini, Kristus hidup melalui kita mati.
Kristus hidup di dalam kita melalui kita mati adalah satu hal kebangkitan. Paulus berkata, ”Mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya” (Flp. 3:10). Kita tidak dapat mengenal Kristus tanpa mengenal kuat kuasa kebangkitan-Nya, karena Kristus yang kita perhidupkan hari ini adalah kebangkitan. Kebangkitan adalah Kristus yang pneumatik, Dia adalah Roh pemberi-hayat.
Hidup (Berperilaku) menurut Roh Sebagai Realitas Kebangkitan
Lebih dari empat puluh tahun yang lalu, Saudara Watchman Nee memberi tahu kita bahwa realitas kebangkitan adalah Roh itu. Meskipun ia tidak banyak menjelaskan apa artinya mengatakan bahwa Roh itu adalah realitas kebangkitan, tetapi saya sangat terkesan oleh perkataannya. Saya juga bingung dan berkata kepada diri saya sendiri, ”Bagaimana kita dapat mengatakan bahwa Roh itu adalah realitas kebangkitan?” Setelah bertahun-tahun mempelajari dan mengalami, saya dapat bersaksi bahwa kebangkitan, Kristus yang pneumatik, dan Roh pemberi-hayat adalah satu. Kristus ini adalah kebangkitan, dan kebangkitan ini adalah Roh pemberi-hayat.
Karena Roh itu adalah realitas kebangkitan, maka kita perlu hidup menurut Roh. Bila kita hidup menurut Roh, maka kita hidup dalam kebangkitan. Bila kita hidup oleh Roh pemberi-hayat, maka kita hidup bersama dengan Kristus yang hidup, dan Kristus yang hidup ini adalah Kristus dalam kebangkitan.