← Daftar isi Lukas (3) · bab 24/29

KEBANGKITAN MANUSIA-PENYELAMAT (5)

Pembacaan Alkitab:

1 Kor. 15:45b; Yoh. 14:16-20; 12:24b; 1 Ptr. 1:3; Ef. 1:20-23

Dalam berita ini kita akan membahas lebih lanjut aspek subyektif dari kebangkitan Manusia-Penyelamat. Kita telah nampak bahwa kebangkitan Manusia-Penyelamat adalah transfigurasi-Nya menjadi Roh pemberi-hayat untuk masuk ke dalam orang yang percaya kepada-Nya (1 Kor. 15:45b; Yoh. 14:16-20). Sekarang kita akan melanjutkan melihat bahwa kebangkitan-Nya juga melibatkan pertunasan dan pengembangbiakan.

MANUSIA-PENYELAMAT MENUNASKAN

CIPTAAN BARU UNTUK MENYALURKAN

HAYAT ILAHI KE DALAM ORANG

YANG PERCAYA KEPADA-NYA

BAGI KELAHIRAN KEMBALI MEREKA

Dalam Yohanes 12:24 Tuhan Yesus mengatakan bahwa jika biji gandum jatuh ke dalam tanah dan mati, ia akan menghasilkan banyak buah. Ini adalah perihal pertunasan melalui kebangkitan. Mengenai hal ini, Petrus berkata, ”Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar telah membuat kita lahir kembali melalui kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada hidup yang penuh pengharapan” (1 Ptr. 1:3). Ketika Kristus bangkit, kita kaum beriman-Nya, semuanya tercakup di dalam-Nya. Maka, kita dibangkitkan bersama Dia (Ef. 2:6). Dalam kebangkitan-Nya, Dia menyalurkan ha-yat ilahi ke dalam kita dan membuat kita menjadi sama de-ngan Dia dalam hayat dan sifat.

Orang Mati Mendengar Injil dan Ditunaskan

Dalam berita sebelumnya kita telah menunjukkan bahwa semua orang yang telah jatuh itu mati. Seseorang mulai mati sejak saat kelahirannya. Meskipun kita dapat mengatakan bahwa orang-orang sedang mati, tetapi Alkitab mewahyukan bahwa orang-orang dosa itu sudah mati. Efesus 2:1 dan 5 mengatakan bahwa kita telah mati dalam pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosa. Kolose 2:13 juga mengatakan bahwa kita telah mati dalam pelanggaran-pelanggaran. Dalam ayat-ayat ini Allah seolah-olah berkata, ”Kamu mungkin mengira bahwa manusia hidup. Kamu sa-lah. Orang-orang yang telah jatuh itu tidak hidup, melainkan sudah mati.”

Dalam Yohanes 5:25 kita nampak bahwa ketika kita memberitakan Injil, kita sebenarnya sedang memberitakan kepada orang-orang yang mati secara rohani: ”Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Saatnya akan tiba dan sudah tiba bahwa orang-orang mati akan mendengar suara Anak Allah, dan mereka yang mendengarnya, akan hidup.” Di sini kita nampak satu butir yang positif: orang-orang yang mati secara rohani masih memiliki telinga untuk mendengar suara Anak Allah. Ini berarti orang yang mati dalam roh masih dapat mendengar Injil. Di satu pihak, Alkitab memberi tahu kita bahwa orang-orang yang telah jatuh itu sudah mati. Di pihak lain, Alkitab mengatakan bahwa orang-orang yang mati secara rohani itu dapat mendengar Injil. Ini adalah belas kasihan dan kedaulatan Allah bahwa orang yang mati memiliki telinga untuk mendengar Injil.

Ketika orang yang mati secara rohani ini mendengar Injil, ia mungkin berkata, ”Aku percaya kepada Yesus; aku mengasihi-Nya.” Kemudian sewaktu ia berseru kepada nama Tuhan Yesus, hayat ilahi disalurkan ke dalamnya, dan ia ditunaskan untuk menjadi ciptaan baru.

Menjadi Ciptaan Baru

Sebelum kita ditunaskan melalui kebangkitan Manusia-Penyelamat, kita adalah ciptaan lama. Tetapi sejak saat pertunasan kita, kita mulai menjadi ciptaan baru. Ciptaan lama tidak memiliki hayat dan sifat ilahi, sedangkan ciptaan baru, yang terdiri dari kaum beriman yang lahir dari Allah (Yoh. 1:13; 3:15; 2 Ptr. 1:4), memiliki hayat dan sifat ilahi. Karena itu, kita adalah ciptaan baru (2 Kor. 5:17; Gal. 6:15) yang bukan menurut sifat daging yang usang, melainkan menurut sifat yang baru dari hayat ilahi.

Ketika ciptaan lama ini ditunaskan dengan hayat ilahi, ciptaan lama ini akan menjadi ciptaan baru. Kita, kaum beriman dalam Kristus, yang telah ditunaskan melalui kebangkitan-Nya, sekarang adalah ciptaan baru. Ciptaan lama tidak memiliki Allah di dalamnya. Tetapi ciptaan baru dimulai dengan Allah masuk ke dalamnya dengan cara pertunasan. Puji Tuhan bahwa kita telah ditunaskan! Pertunasan ini adalah penyaluran hayat ilahi ke dalam kaum beriman. Melalui penyaluran hayat ilahi ini, kita dilahirkan kembali. Karena itu, pertunasan adalah penyaluran hayat ilahi ke dalam kaum beriman untuk kelahiran kembali mereka. Butir kedua yang berhubungan dengan aspek subyektif kebangkitan Manusia-Penyelamat adalah pertunasan-Nya atas ciptaan baru untuk menyalurkan hayat ilahi ke dalam kaum beriman bagi kelahiran kembali mereka.

Kita mungkin tidak sadar apa yang telah terjadi pada diri kita pada waktu kita dilahirkan kembali. Sekarang kita nampak bahwa ketika kita dilahirkan kembali kita ditunas-kan. Kita dapat mengatakan bahwa pertunasan ini adalah satu injeksi ilahi. Hayat ilahi ini telah ”diinjeksikan” ke dalam kita pada waktu kita percaya kepada Kristus dan dilahirkan kembali, dan injeksi itu adalah pertunasan kita. Haleluya, hayat ilahi telah diinjeksikan, diinfuskan, ke dalam batin kita! Infus itulah adalah kelahiran kembali kita.

PERKEMBANGBIAKAN MANUSIA-PENYELAMAT

MENGHASILKAN GEREJA SEBAGAI

REPRODUKSI-NYA

Kebangkitan Manusia-Penyelamat juga merupakan perkembangbiakan-Nya untuk menghasilkan gereja sebagai reproduksi-Nya. Melalui kebangkitan-Nya, Manusia-Penyelamat dapat diperbanyak sehingga memiliki perkembangbiakan-Nya.

Sebagai satu ilustrasi dari perkembangbiakan Tuhan melalui kebangkitan-Nya, lihatlah satu biji gandum yang jatuh ke dalam tanah dan mati. Setelah biji gandum itu jatuh ke dalam tanah dan mati, ia bertumbuh dan menjadi banyak butir gandum. Banyak butir gandum ini adalah perbanyakan dari satu biji gandum, dan perbanyakan ini adalah perkembangbiakan dari biji gandum itu.

Menurut Yohanes 12:24, Tuhan Yesus adalah biji gandum yang jatuh ke dalam tanah dan mati agar menjadi banyak butir gandum. Melalui kematian dan kebangkitan-Nya, Tuhan Yesus benar-benar telah diperbanyak dan berkembang biak. Perkembangbiakan ini adalah untuk menghasilkan reproduksi-Nya, dan reproduksi Kristus adalah gereja. Karena itu, kebangkitan Tuhan adalah perkembangbiakan-Nya untuk menghasilkan gereja sebagai reproduksi-Nya.

EMPAT HAL YANG BERHUBUNGAN DENGAN DIHASILKANNYA GEREJA

Jika kita mempelajari Efesus 1:20-23 dengan teliti, kita akan nampak bahwa ayat-ayat ini mewahyukan perkem-bangbiakan Kristus yang menghasilkan gereja sebagai reproduksi-Nya. Efesus 1:20-21 mengatakan, ”Yang dikerjakan-Nya di dalam Kristus dengan membangkitkan Dia dari antara orang mati dan mendudukkan Dia di sebelah kanan-Nya di surga, jauh lebih tinggi dari segala pemerintah dan penguasa dan kekuasaan dan kerajaan dan tiap-tiap nama yang dapat disebut, bukan hanya di dunia ini saja, melaikan juga di dunia yang akan datang.” Kata ganti ”yang” pada permulaan ayat 20 mengacu kepada ”kekuatan kuasa-Nya” yang dikatakan dalam ayat 19. Kuat kuasa Allah yang besar yang dikerjakan di dalam Kristus pertama-tama membangkitkan Dia dari antara orang mati. Kuat kuasa ini telah mengatasi kematian, kubur, dan alam maut, di mana orang-orang mati tertahan. Karena kuat kuasa kebangkitan Allah, maka kematian dan alam maut tidak dapat menahan Kristus (Kis. 2:24).

Kedua, kuat kuasa yang dikerjakan di dalam Kristus mendudukkan Dia di sebelah kanan Allah di surga jauh melebihi segalanya. Sebelah kanan Allah, di mana Kristus telah didudukkan oleh kuat kuasa Allah yang besar, adalah tempat yang paling terhormat, dengan kekuasaan yang tertinggi. ”Surga” dalam ayat 20 bukan hanya mengacu kepada langit tingkat ketiga, tempat tertinggi dalam alam semesta, tempat Allah berdiam, tetapi juga keadaan dan atmosfer sur-ga, tempat Kristus didudukkan oleh kuat kuasa Allah.

Menurut ayat 21, Kristus telah didudukkan jauh lebih tinggi daripada semua pemerintah, penguasa, kekuasaan, kerajaan, dan setiap nama. Pemerintah mengacu kepada jabatan yang tertinggi, penguasa mengacu kepada setiap macam kuasa resmi (Mat. 8:9), kekuasaan mengacu kepada kekuatan otoritas, dan kerajaan mengacu kepada tempat terutama yang didirikan oleh kekuasaan. Kristus yang naik ini telah didudukkan oleh kuat kuasa Allah yang besar jauh lebih tinggi daripada semua pemerintah, penguasa, kekuasaan, dan kerajaan di alam semesta ini.

Selain itu, Kristus jauh lebih tinggi daripada setiap na-ma yang dapat disebut, bukan hanya di dunia ini saja, me-lainkan juga di dunia yang akan datang. Di sini ”setiap nama” bukan hanya mengacu kepada sebutan kehormatan, tetapi juga kepada setiap nama. Kristus telah didudukkan jauh me-lampaui setiap nama yang dapat disebut, bukan hanya dalam zaman ini, tetapi juga dalam zaman yang akan datang.

Efesus 1:22 melanjutkan, ”Segala sesuatu telah diletakkan-Nya di bawah kaki Kristus dan Dia telah diberikan-Nya kepada jemaat sebagai Kepala dari segala yang ada.” Ketiga, kuat kuasa Allah yang dikerjakan di dalam Kristus telah menaklukkan segala sesuatu di bawah kaki-Nya. Jauh lebih tinggi dari segalanya adalah satu hal; segala sesuatu ditak-lukkan di bawah kaki Kristus adalah hal lain lagi. Yang pertama adalah perihal keunggulan Kristus; yang selanjutnya adalah perihal penaklukkan segala sesuatu kepada-Nya.

Keempat, kuat kuasa Allah yang besar yang dikerjakan di dalam Kristus membuat Dia menjadi Kepala atas segala sesuatu bagi gereja. Kekepalaan Kristus atas segala sesuatu adalah satu karunia Allah kepada-Nya. Melalui kuat kuasa Allah yang besar inilah Kristus menerima jabatan sebagai Kepala di alam semesta ini. Sebagai seorang manusia, dalam keinsanian-Nya dengan keilahian-Nya, Kristus dibangkitkan dari antara orang mati, didudukkan di surga, menaklukkan segala sesuatu kepada-Nya, dan menjadi Kepala atas segala sesuatu.

Dalam ayat 22 terdapat frasa yang bermakna ”kepada jemaat”. Frasa ini menunjukkan suatu transmisi. Apa saja yang telah dicapai, diperoleh Kristus, Sang Kepala, ditrans-misikan kepada gereja, Tubuh-Nya. Di dalam transmisi ini gereja berbagian bersama Kristus dalam semua pencapaian-Nya: kebangkitan dari antara orang mati, didudukkan dalam keunggulan-Nya, penaklukan segala sesuatu di bawah kaki-Nya, dan jabatan Kepala atas segala sesuatu.

Dalam Efesus 1:20-22 kita nampak empat hal yang berhubungan dengan dihasilkannya gereja: bangkitnya Kristus dari antara orang mati, didudukkannya Dia dalam keunggulan-Nya, penaklukan segala sesuatu di bawah kaki-Nya, dan penobatan-Nya sebagai Kepala atas segala sesuatu. Hasil dari keempat hal ini adalah gereja, seperti yang ditunjukkan oleh frasa ”kepada jemaat” dalam ayat 22.

Orang-orang Kristen pada hari ini sering membicarakan gereja dengan cara yang sangat sederhana, bahkan secara kekanak-kanakan. Sedikit sekali kaum beriman yang telah nampak bahwa gereja dihasilkan dari apa yang telah di-lakukan kuat kuasa Allah yang besar di dalam dan bersama Kristus. Kuat kuasa Allah membangkitkan Kristus dari antara orang mati. Kemudian kuat kuasa ini mendudukkan Dia dalam keunggulan-Nya, menaklukkan segala sesuatu di bawah kaki-Nya, dan membuat Dia menjadi Kepala atas segala sesuatu. Hasil semua ini adalah gereja. Ini berarti gereja adalah hasil dari proses yang melibatkan bangkitnya Kristus, didudukkannya Dia, penaklukan segala sesuatu di bawah kaki-Nya, dan membuat Dia menjadi Kepala atas segala sesuatu.

Karena memiliki pemahaman yang dangkal terhadap gereja, beberapa orang Kristen bahkan membicarakan gereja sebagai satu bangunan materi dengan atap lancip dan sebuah menara. Namun, menurut Perjanjian Baru, gereja yang dikenal Allah adalah hasil dari empat hal yang telah dilakukan bersama Kristus. Seperti yang telah kita tekankan, empat hal ini adalah bangkitnya Kristus, didudukkan-nya Dia dalam keunggulan-Nya, penaklukan segala sesuatu di bawah kaki-Nya, dan membuat Dia menjadi Kepala atas segala sesuatu. Gereja adalah hasil dari proses yang me-libatkan empat hal ini, proses yang dimulai dengan ke-bangkitan Manusia-Penyelamat. Karena proses ini dimulai dengan kebangkitan Kristus, maka kebangkitan-Nya adalah untuk menghasilkan gereja sebagai reproduksi-Nya.

KEBENARAN YANG LEBIH DALAM

DI DALAM ALKITAB

Butir-butir yang telah kita bahas dalam berita ini mencakup kebenaran-kebenaran yang lebih dalam di dalam Alkitab. Saya harap semua orang kudus di antara kita, khususnya orang-orang muda, tidak tinggal dalam keadaan yang rendah dan dangkal seperti umumnya orang-orang Kristen pada hari ini. Semua orang kudus perlu masuk ke dalam kebenaran-kebenaran yang lebih dalam di dalam Alkitab.

KEPENUHAN KRISTUS BAGI EKSPRESI-NYA

Manusia-Penyelamat dalam kebangkitan-Nya hari ini adalah Roh pemberi-hayat untuk membuat kita, umat pilihan Allah, menjadi reproduksi-Nya. Reproduksi ini adalah gereja, Tubuh-Nya, untuk mengekspresikan Dia sebagai kepenuhan-Nya. Ini adalah hasil akhir dari kebangkitan Kristus. Efesus 1:22-23 membicarakan tentang ”jemaat, yang adalah tubuh-Nya, yaitu kepenuhan Dia yang memenuhi semua dan se-gala sesuatu.” Tubuh ini bukanlah suatu organisasi, melainkan suatu organisme yang tersusun dari semua orang ber-iman yang telah dilahirkan kembali bagi ekspresi dan aktivi-tas Kepala. Tubuh Kristus adalah kepenuhan-Nya, yang di-hasilkan dari kenikmatan terhadap kekayaan Kristus (Ef. 3:8). Melalui menikmati kekayaan Kristus ini, kita menjadi kepenuhan-Nya untuk mengekspresikan Dia. Kristus, yang adalah Allah yang tak terukur tanpa batas ini, begitu besar sehingga Dia memenuhi semua dan di dalam segala sesuatu. Kristus yang demikian besar ini memerlukan gereja menjadi kepenuhan-Nya bagi ekspresi-Nya yang sempurna.

BUTIR YANG PENTING

Kita telah nampak tiga butir yang berhubungan dengan aspek subyektif dari kebangkitan Manusia-Penyelamat. Kebangkitan-Nya adalah transfigurasi-Nya menjadi Roh pemberi-hayat untuk masuk ke dalam orang yang percaya kepada-Nya, dan pertunasan-Nya atas ciptaan baru untuk menyalurkan hayat ilahi ke dalam kaum beriman-Nya bagi kelahiran kembali mereka, dan perkembangbiakan-Nya un-tuk menghasilkan gereja sebagai reproduksi-Nya. Butir yang penting di sini adalah dalam kebangkitan ini Kristus telah menjadi Roh pemberi-hayat. Namun, beberapa guru Alkitab menentang kebenaran ini, menyatakan bahwa Roh pemberi-hayat dalam 1 Korintus 15:45 itu bukan Roh Kudus. Orang-orang yang menyangkal Roh pemberi-hayat dalam ayat ini adalah Roh Kudus, Roh yang memberi-hayat, memutar balikkan firman Allah. Paulus tidak hanya mengatakan, ”Adam yang akhir menjadi suatu Roh.” Sebaliknya ia berkata, ”Adam yang akhir telah menjadi Roh pemberi-hayat.” Roh yang memberi hayat, hayat ilahi ini, pasti adalah Roh Allah itu sendiri. Tetapi mengenai hal ini orang-orang yang ke-kurangan terang bahkan mengkritik apa yang diajarkan Alkitab. Betapa menyedihkan!

Kita harus bersaksi bahwa menurut Kitab Suci, Kristus dalam kebangkitan adalah Roh pemberi-hayat. Kita telah diberi beban oleh Tuhan untuk mengumumkan hal ini. Semakin orang lain menentangnya, semakin kita mengumumkan kebenaran bahwa Kristus sekarang adalah Roh pemberi-hayat. Puji Tuhan atas transfigurasi-Nya, pertunasan-Nya, dan perkembangbiakan-Nya untuk menghasilkan gereja sebagai reproduksi-Nya! Sekarang Dia adalah Roh pemberi-ha-yat, dan kita adalah reproduksi-Nya.