KEBANGKITAN MANUSIA-PENYELAMAT (4)
Pembacaan Alkitab:
1 Kor. 15:45b; Yoh. 14:16-20; 12:24b; 1 Ptr. 1:3; Ef. 1:20-23
Berita ini adalah kelanjutan dari berita sebelumnya yang di dalamnya kita mulai membahas aspek subyektif kebangkitan Manusia-Penyelamat. Hal pertama yang kita lihat yang berhubungan dengan aspek subyektif ini adalah kebangkitan Manusia-Penyelamat merupakan transfigurasi-Nya menjadi Roh pemberi-hayat untuk masuk ke dalam orang yang percaya kepada-Nya (1 Kor. 15:45b; Yoh. 14:16-20).
PROSES KEBANGKITAN
Kebangkitan Manusia-Penyelamat merupakan satu proses. Proses ini dimulai segera setelah kelahiran Tuhan. Karena itu, kita tidak seharusnya mengira bahwa kebangkitan-Nya dimulai setelah ketersaliban-Nya.
Jika kita mengamati Perjanjian Baru secara menyeluruh, kita akan menyadari bahwa kebangkitan itu dimulai dengan kematian. Selama tiga puluh tiga setengah tahun kehidupan Tuhan di bumi, Dia mengalami kematian — mati terhadap diri-Nya sendiri dan terhadap semua hal selain Allah. Maka, kehidupan yang Dia tempuh itu adalah suatu kehidupan yang berada di bawah kematian.
Dalam Lukas 12:50 Manusia-Penyelamat menunjukkan bahwa Dia sangat terbatas dan damba untuk dlepaskan: ”Aku harus dibaptis dengan suatu baptisan, dan betapa susah hati-Ku, sebelum hal itu terlaksana!” Kata Yunani yang diterjemahkan ”susah” di sini juga dapat diterjemahkan ”terbatasi”. Manusia-Penyelamat terbatasi dalam daging-Nya, yang dikenakan-Nya melalui inkarnasi. Karena itu, Dia perlu mati, perlu dibaptis dalam kematian secara jasmani, supaya diri ilahi-Nya dengan hayat ilahi-Nya yang tidak terbatas dan tidak terukur dapat dibebaskan dari dalam-Nya. Yang penting di sini adalah Tuhan menempuh suatu kehidupan yang berada di bawah kematian terhadap diri-Nya sendiri dan bahwa kehidupan semacam ini berhubungan dengan proses kebangkitan. Untuk menggambarkan fakta bahwa kebangkitan dimulai dengan kematian, mari kita perhatikan kembali firman Tuhan mengenai diri-Nya sebagai biji gandum, ”Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Jika biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah” (Yoh. 12:24). Ketika sebutir biji gandum ditabur ke tanah, biji itu mati. Tetapi sementara ia mati, biji itu juga bertumbuh. Yang menakjubkan ialah: Jika biji gandum itu tidak mati, ia tidak akan bertumbuh. Misalnya sebutir biji gandum ditaruh di atas meja dan dibiarkan saja. Biji gandum itu tidak akan mati, dan tidak pula bertumbuh. Agar biji gandum itu bertumbuh, ia harus diletakkan di ta-nah supaya mati. Ia bertumbuh dengan cara mati. Tanpa mati, biji gandum itu tidak mungkin bertumbuh.
Kini kita perlu nampak bahwa kebangkitan biji gandum tidak dimulai ketika gandum mulai berlembaga dari tanah. Saat itu, mungkin ada orang berkata, ”Lihat! kita nampak kebangkitan biji gandum.” Tidak salah kalau kita mengatakan keluarnya lembaga gandum itu adalah perihal kebangkitan. Tetapi butir yang hendak kita tekankan di sini adalah bahwa kebangkitan biji gandum itu bukan dimulai dengan keluarnya lembaga gandum itu, melainkan lebih awal lagi. Kebangkitan biji gandum itu dimulai dengan kematiannya.
Dari ilustrasi mati dan bertumbuhnya biji gandum, kita dapat nampak bahwa sementara Kristus mati, Dia pun bangkit. Kapankah kebangkitan Kristus dimulai? Kita tidak seharusnya mengatakan bahwa kebangkitan Kristus dimulai setelah ketersaliban-Nya. Menurut gambaran biji gandum yang mati dan bertumbuh, kebangkitan Kristus dimulai ketika Ia mati. Dia menyerupakan diri-Nya dengan sebutir biji gandum yang jatuh ke tanah agar mati supaya banyak biji gandum dihasilkan. Tuhan Yesus, seperti biji gandum, bertumbuh, berlembaga, bangkit, bahkan saat Dia mati.
MATI UNTUK HIDUP
Sekarang setelah kita memiliki prinsip bahwa proses kebangkitan Manusia-Penyelamat ini dimulai sewaktu Dia mati, kita perlu bertanya kapan Tuhan Yesus mati. Apakah Dia mati hanya pada hari Paskah? Perjanjian Baru menunjukkan bahwa Dia mulai mati segera setelah Dia lahir. Dalam seumur hidup-Nya di bumi, Dia mati untuk hidup. Setiap hari setiap saat, Dia sedang mati. Ini berarti sewaktu Dia hidup di rumah seorang tukang kayu yang miskin, Dia sedang mati. Proses kebangkitan-Nya dimulai sewaktu Dia mati.
Sungguh bermakna, Tuhan Yesus berkata, ”Akulah kebangkitan dan hayat” (Tl.) (Yoh. 11:25). Tuhan tidak mengatakan bahwa Dia adalah hayat dan kebangkitan; Dia pertama-tama mengatakan bahwa Dia adalah kebangkitan dan kemudian Dia adalah hayat. Mengapa kebangkitan disebut lebih dahulu dalam Yohanes 11:25? Kebangkitan disebut l-bih dahulu dalam ayat ini karena Tuhan Yesus mati dan bangkit dalam seluruh kehidupan-Nya.
Ketika Tuhan Yesus memberi tahu Marta bahwa sau-daranya akan bangkit, Marta menjawab: ”Aku tahu bahwa ia akan bangkit pada waktu orang-orang bangkit pada akhir zaman” (Yoh. 11:24). Di sini Marta menunda kebangkitan itu sampai masa yang akan datang, yaitu masa sebelum seribu tahun. Karena itu, Tuhan Yesus berkata kepadanya, ”Akulah kebangkitan dan hidup.” Tuhan menunjukkan bahwa sekarang Dia adalah kebangkitan, kebangkitan pada zaman ini. Dia tidak berkata, ”Aku akan menjadi kebangkitan.” Dia berkata, ”Akulah kebangkitan.” Tuhan dapat mengatakan ini karena sewaktu Dia hidup dalam kehidupan insani, Dia bangkit melalui mati.
Kapankah kematian Tuhan itu dimulai? Kematian-Nya dimulai segera setelah Ia lahir. Kapankah kebangkitan-Nya itu dimulai? Kebangkitan-Nya dimulai dengan kematian-Nya. Manusia-Penyelamat ini mati untuk hidup; Dia hidup melalui mati.
Kehidupan Tuhan di bumi selama tiga puluh tiga setengah tahun adalah suatu kehidupan yang mati untuk hidup, kehidupan yang hidup melalui mati. Akhirnya, kematian-Nya tergenap di atas salib, dan kebangkitan-Nya tergenap pada hari ketiga setelah ketersaliban-Nya. Ada permulaan kematian-Nya dan juga ada penggenapan kematian-Nya. Demikian juga, ada permulaan kebangkitan-Nya dan ada juga penggenapan kebangkitan-Nya. Saya men-dorong kalian untuk membawa hal ini dalam doa kepada Tuhan.
Puji Tuhan bahwa Dia adalah Manusia-Penyelamat yang mati untuk hidup dan juga Manusia-Penyelamat yang hidup melalui mati! Sewaktu Dia hidup, Dia mati, dan sewaktu Dia mati, Dia juga hidup. Kita bahkan dapat mengatakan bahwa sewaktu Dia mati, Dia juga bangkit. Kehidup-an-Nya di bumi selama tiga puluh tiga setengah tahun ini merupakan satu proses yang panjang dari kematian dan kebangkitan. Bagi-Nya kebangkitan dan kematian itu ber-jalan seiring.
Menurut opini kita, kita mungkin mengira bahwa Tuhan Yesus tentu berkata kepada Marta, ”Tidak tahukah kamu bahwa Aku adalah hayat? Satu hari Aku akan mati, dan kemudian Aku akan bangkit.” Namun, Tuhan mengatakan bahwa Dia adalah kebangkitan dan hayat. Fakta kebangkitan-Nya membuktikan bahwa Dia juga adalah hayat. Jika Dia tidak senantiasa bangkit, Dia juga tidak dapat senantiasa hidup.
Setelah seseorang lahir, ia mulai hidup, atau mulai mati? Sebenarnya, begitu seorang manusia lahir, ia mulai mati. Karena itu, kematian itu bukan datang secara kebetulan. Sebaliknya, kematian itu datang sebagai suatu proses. Terhadap beberapa orang, proses ini pendek; tetapi terhadap orang lain, proses ini panjang. Tetapi, apa pun masalahnya, semua orang yang tidak percaya berada dalam proses kematian.
Bagaimanakah keadaan kita sebagai kaum beriman? Kita sedang mati atau hidup? Hari ini kita kaum beriman sedang mati untuk hidup, dan kita hidup melalui mati. Orang-orang yang tidak percaya hanya memiliki proses kematian, sedangkan kita memiliki mati dan hidup, kematian dan kebangkitan. Sebenarnya, semakin kita mati, semakin kita dibangkitkan.
KEBANGKITAN
ADALAH PROSES TRANSFIGURASI
Dalam berita sebelumnya kita telah menunjukkan bahwa melalui inkarnasi, keinsanian ditambahkan ke dalam Allah. Dengan kata lain, melalui proses inkarnasi Allah mengenakan keinsanian. Demikian juga, dalam proses kebangkitan unsur unsur tertentu dimasukkan ke dalam Roh itu. Unsur-unsur ini khususnya meliputi kehidupan insani Tuhan dan kematian-Nya yang almuhit. Karena itu, kebangkitan adalah suatu proses transfigurasi yang di dalamnya unsur-unsur ini dimasukkan ke dalam Roh pemberi-hayat yang almuhit. Inilah Roh yang telah masuk ke dalam kaum beriman.
ALLAH TRITUNGGAL BERHUNI DI DALAM KITA
Untuk memahami kebangkitan Manusia-Penyelamat sebagai transfigurasi-Nya menjadi Roh pemberi-hayat, kita perlu membaca Yohanes 14:10-20 berkali-kali dengan teliti. Dalam Yohanes 14 kita nampak bahwa ketika Putra datang, Bapa ada di dalam-Nya. Selain itu, ketika Roh itu datang, Putra datang bersama-Nya. Jadi, Roh itu datang sebagai pe-rampungan dari Allah Tritunggal. Ini berarti Roh itu datang sebagai Allah Tritunggal. Ketika Roh itu datang, Allah Tritunggal juga datang.
Dalam Alkitab kata Ibrani untuk Roh adalah ruach; sedangkan kata Yunaninya adalah pneuma. Keduanya me-nyatakan roh, hembusan, udara. Kita dapat mengatakan bahwa Allah Tritunggal kita yang telah melalui proses ini seperti udara — selalu tersedia untuk kita hirup. Sekarang kita dapat memahami mengapa Roma 10:8 mengatakan bahwa firman itu tidak jauh dari kita, tetapi sangat dekat, bahkan di dalam mulut kita dan di dalam hati kita. Bila kita mengenal hal ini dan menanggapinya dengan berseru kepada Tuhan Yesus, maka Tuhan Yesus akan masuk ke dalam kita.
Ketika Tuhan ada di dalam kita, Roh itu, Putra, dan Bapa, semuanya ada di dalam kita. Udara rohani yang kita hirup ini sebenarnya adalah Allah Tritunggal. Kadang-kadang ketika saya memikirkan hal ini, saya lupa diri karena sukacita di dalam Tuhan.
Tahukah Anda di mana Allah Tritunggal? Allah Tritunggal sekarang ada di dalam kita! Ini sesuai dengan fir-man Tuhan dalam Yohanes 14. Dia mengatakan bahwa Dia akan meminta kepada Bapa untuk memberikan kepada kita Penolong yang lain, yaitu Roh realitas, yang akan tinggal di dalam kita. Tetapi akhirnya Tuhan selanjutnya mengatakan bahwa Dia sendiri akan tinggal di dalam kita (ay. 20). Dari wahyu dalam Yohanes 14 ini kita nampak bahwa Allah Tritunggal sekarang berhuni di dalam kita.
ALLAH TRITUNGGAL DISALURKAN KE DALAM
MANUSIA TRIPARTIT
Dalam mempelajari Alkitab, kita perlu benar-benar memperhatikan bagian-bagian seperti Yohanes 14:10-20. Kita harus lebih memperhatikan ayat-ayat seperti ini daripada ayat-ayat yang membicarakan tentang suami harus menga-sihi istri dan istri harus tunduk kepada suami. Apa yang tercantum dalam Yohanes 14:10-20 ini jauh melampaui pemikiran alamiah kita, yang mudah diduduki dengan pengajaran tentang kasih, ketaatan, dan kerendahan hati. Namun, dalam Yohanes 14 Tuhan Yesus tidak mengatakan sesuatu tentang merendahkan diri, atau tentang istri harus tunduk kepada suami dan suami harus mengasihi istri. Di sini Dia mengatakan mengenai diri-Nya sendiri, Bapa, dan Penolong. Karena itu, kita perlu benar-benar memperhatikan wahyu ini.
Sebelum saya diselamatkan, saya mempelajari tulisan-tulisan Kong Hu Cu. Kong Hu Cu sering mengatakan tentang ketaatan seorang istri kepada suaminya. Alkitab mengajarkan bahwa seorang istri harus memiliki satu ketaatan sedangkan Kong Hu Cu mengajarkan tiga ganda ketaatan. Ketika saya membaca Alkitab setelah saya baru diselamat-kan, saya masih berada di bawah pengaruh pengajaran yang demikian. Tetapi akhirnya saya belajar memperhatikan apa yang Alkitab wahyukan mengenai Allah Tritunggal menyalurkan diri-Nya sendiri ke dalam manusia tripartit. Inilah subyek utama dari semua ministri saya. Inilah butir penting dari semua berita saya di dalam sidang-sidang istimewa dan pelatihan. Saya mendorong semua orang kudus untuk meperhatikan hal yang penting tentang Allah Tritunggal menyalurkan diri-Nya sendiri ke dalam manusia tripartit dan membicarakan hal ini kepada orang lain.
Tahukah Anda apa yang diwahyukan dalam Yohanes 14:10-20? Di sini terdapat wahyu tentang Allah Tritunggal disalurkan ke dalam manusia tripartit. Mengenai hal ini, Yohanes 14:20 mengatakan, ”Pada waktu itulah kamu akan tahu bahwa Aku di dalam Bapa-Ku dan kamu di dalam Aku dan Aku di dalam kamu.” Dalam ayat ini ”kamu” adalah manusia tripartit, dan ”Aku” adalah Allah Tritunggal. Karena itu, ”Aku di dalam kamu” menunjukkan bahwa Allah Tritunggal ada di dalam manusia tripartit. Tentunya, untuk melihat hal ini secara penuh, kita perlu mempelajari Perjanjian Baru secara tuntas.
Agar Allah Tritunggal tinggal di dalam manusia tripar-tit, Dia perlu melalui proses-proses tertentu: inkarnasi, kehidupan insani, kematian, dan kebangkitan. Setelah melalui semua proses ini, Allah Tritunggal sekarang bukan hanya berada di atas takhta, tetapi juga ada di dalam kita. Sungguh ajaib! Kebangkitan Manusia-Penyelamat adalah trans-figurasi-Nya menjadi Roh pemberi-hayat, dan sebagai Roh ini sekarang Dia berhuni di dalam kita.