KEBANGKITAN MANUSIA-PENYELAMAT (3)
Pembacaan Alkitab:
1 Kor. 15:45b; Yoh. 14:16-20; 12:24b; 1 Ptr. 1:3; Ef. 1:20-23
Dalam dua berita sebelumnya kita telah melihat aspek obyektif kebangkitan Manusia-Penyelamat. Dengan berita ini kita sampai kepada aspek subyektif dari kebangkitan Manusia-Penyelamat.
TRANSFIGURASI MANUSIA-PENYELAMAT
MENJADI ROH PEMBERI-HAYAT UNTUK MASUK
KE DALAM ORANG YANG PERCAYA KEPADA-NYA
Butir pertama yang berhubungan dengan aspek subyektif dari kebangkitan Manusia-Penyelamat ini adalah bahwa kebangkitan Kristus adalah transfigurasi-Nya menjadi Roh pemberi-hayat untuk masuk ke dalam orang yang percaya kepada-Nya (1 Kor. 15:45b; Yoh. 14:16-20). Kebangkitan Kristus sebagai transfigurasi-Nya adalah satu hal yang sulit dijelaskan karena hal ini melibatkan Trinitas ilahi.
Pengajaran yang Salah mengenai Allah Tritunggal
Allah itu tritunggal. Pengajaran-pengajaran tradisional mengenai Trinitas ini telah memberikan kesan bahwa Bapa, Putra, dan Roh — tiga dari Ke-Allahan ilahi ini — terpisah. Menurut pemahaman ini, ketika Putra datang ke bumi, Bapa ada di atas takhta di surga. Kita tahu dari Injil Yohanes bahwa ketika Putra akan mati, Dia memberi tahu murid-murid-Nya bahwa Dia akan meminta kepada Bapa agar mengutus Roh itu, yang datang pada hari Pentakosta. Tetapi, hal ini diartikan oleh beberapa orang bahwa ketika Roh itu datang pada hari Pentakosta, Putra tetap ada ber-sama Bapa di atas takhta. Karena itu, menurut pengajaran ini, yang sangat dangkal dan jauh dari akurat, ketika Putra datang sebagai seorang manusia Dia meninggalkan Bapa di atas takhta. Putra kemudian hidup di bumi selama tiga puluh tiga setengah tahun, mati, bangkit, dan naik ke surga. Setelah itu, Bapa mengutus Roh Kudus pada hari Penta-kosta. Ketika Roh Kudus datang, Dia meninggalkan Bapa dan Putra di surga. Pengajaran semacam ini memberikan kesan yang sangat salah mengenai Allah Tritunggal.
Putra Datang bersama Bapa
Perjanjian Baru mewahyukan bahwa ketika Putra datang, Dia datang bersama Bapa. Mengenai hal ini, Yohanes 8:29 mengatakan, ”Ia, yang telah mengutus Aku, menyertai Aku. Ia tidak membiarkan Aku sendiri.” Ketika Putra ada di bumi, Dia tidak sendirian karena Bapa selalu beserta dengan-Nya: ”Aku tidak seorang diri, sebab Bapa menyertai Aku” (Yoh. 16:32). Tuhan Yesus bahkan memberi tahu murid-murid-Nya bahwa Dia ada di dalam Bapa dan bahwa Bapa ada di dalam Dia, ”Percayalah kepada-Ku bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku” (Yoh. 14:11a). Putra ada di dalam Bapa dan Bapa ada di dalam Putra merupakan hal saling huni, satu kata yang perlu kita ketahui untuk mengungkapkan kebenaran yang dalam mengenai Allah Tritunggal yang diwahyukan dalam Kitab Suci.
Karena Putra datang bersama Bapa dan Bapa bahkan ada di dalam Putra, maka tidaklah benar bila kita mengatakan bahwa Putra meninggalkan Bapa di atas takhta di surga ketika Dia datang ke bumi. Sebenarnya, mengajarkan bahwa Putra datang tanpa Bapa adalah bidah. Dalam Injil Yohanes kita nampak bahwa Putra diutus ”dari dan bersama” Bapa, yaitu, bukan hanya dari Bapa, tetapi juga bersama Bapa. Dalam Yohanes 6:46 Tuhan Yesus berkata, ”Hal itu tidak berarti bahwa ada orang yang telah melihat Bapa. Hanya Dia yang datang dari Allah, Dialah yang telah melihat Bapa.” Kata depan Yunani yang diterjemahkan ”dari” dalam ayat ini adalah para. Artinya di sini adalah dari dan ber-sama. Tuhan Yesus bukan hanya dari Bapa, melainkan juga bersama Bapa. Pemikiran yang sama terdapat dalam Yohanes 7:29; 16:27; dan 17:8. Karena Putra diutus dari dan bersama Bapa, maka Bapa datang ketika Putra datang. Selain itu, ketika Putra datang ke bumi, Bapa bukan hanya bersama dengan-Nya, tetapi juga ada di dalam Dia, sebagaimana Putra ada di dalam Bapa.
Putra dan Roh Itu
Selanjutnya, Roh Kudus terlibat dalam keterkandungan Tuhan Yesus. Kelahiran Kristus adalah langsung dari Roh Kudus, karena ibu-Nya, Maria, ”mengandung dari Roh Kudus,” karena anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus (Mat. 1:18, 20). Kemudian pada umur tiga puluh tahun, ketika Manusia-Penyelamat keluar untuk menunaikan ministri-Nya, Roh itu turun ke atas-Nya (Luk. 3:22). Di dalam ministri-Nya Tuhan memberitakan Injil oleh Roh itu. Dalam Lukas 4:18 kita diberi tahu bahwa Dia membaca perkataan-perkataan ini dari Yesaya: ”Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin . . .” Pemberitaan Putra adalah pekerjaan Roh itu. Putra tidak pernah berbuat apa-apa oleh diri-Nya sendiri. Dia bahkan mengusir roh-roh jahat oleh Roh Allah (Mat. 12:28).
Tidak Terpisah Melainkan Saling Huni
Jika kita menjajarkan semua ayat mengenai Putra, Bapa, dan Roh itu, kita akan nampak bahwa ketika Yesus Kristus ada di bumi Dia adalah Allah Tritunggal. Bukan Putra saja yang ada di sana, melainkan Bapa dan Roh itu juga ada di sana. Maka, Dia adalah perwujudan dari Ke-Allahan (Kol. 2:9). Karena itu, kita harus menolak pemikiran bahwa hanya Putra yang datang ke bumi meninggalkan Bapa dan Roh itu di surga. Apa yang kita ajarkan mengenai Bapa, Putra, dan Roh berdasar pada firman yang murni dari Alkitab, dan Alkitab tidak dapat dikalahkan.
Dalam Yohanes 14:8, Filipus, wakil kita, berkata, ”Tuhan, tunjukkanlah Bapa itu kepada kami, itu sudah cukup bagi kami.” Heran dengan pertanyaan ini, Tuhan menjawab, ”Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Siapa saja yang telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami. Tidak percayakah engkau bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku? Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang tinggal di dalam Aku, Dialah yang melakukan pekerjaan-pekerjaan-Nya” (ay. 9-10). Di sini Tuhan seolah-olah berkata, ”Mengapa engkau meminta Aku untuk menunjukkan Bapa kepadamu? Tidakkah engkau tahu bahwa jika engkau melihat Aku, engkau melihat Bapa? Engkau melihat Bapa ketika engkau melihat Aku, karena Aku ada di dalam Bapa dan Bapa ada di dalam Aku. Jangan mengira Aku terpisah dari Bapa, atau bahwa Bapa jauh dari Aku. Itu adalah konsepsi yang salah. Karena Aku ada di dalam Bapa dan Bapa juga ada di dalam Aku. Di mana saja Aku berada, di sana juga Bapa berada.”
Filipus diam karena jawaban Tuhan ini. Ini memberi-kan kesempatan kepada Tuhan untuk berbicara lebih jauh. Dalam Yohanes 14:16-17 Dia selanjutnya berkata, ”Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu se-orang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran (realitas). Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu.” Ketika Tuhan mengucapkan perkataan-perkataan ini, Dia ada di antara murid-murid, tetapi belum ada di dalam mereka. Dia seolah-olah memberi tahu mereka, ”Sekarang Aku ada di antara kamu dan menyertai kamu. Tetapi maksud Allah Tritunggal adalah bahwa Dia ingin masuk ke dalam kamu. Tidaklah cukup jika Aku beserta dengan kamu — Aku perlu ada di dalam kamu.” Karena itu, Dia mengatakan bahwa Dia akan meminta kepada Bapa supaya memberikan Penolong yang lain kepada mereka, yaitu Roh realitas yang akan ada di dalam mereka.
Pada butir ini beberapa orang mungkin berkata, ”Bukankah Anda memberi tahu kami bahwa karena Putra ada di dalam Bapa dan Bapa ada di dalam Putra, maka Putra dan Bapa tidak dapat dianggap terpisah? Tetapi dalam Yohanes 14:16 Putra mengatakan bahwa Dia akan meminta kepada Bapa supaya memberikan Penolong yang lain kepada mereka. Bukankah ini menunjukkan bahwa Putra dan Bapa itu terpisah?” Tidak, ini tidak menunjukkan bahwa Putra dan Bapa itu terpisah. Kita telah nampak sebelumnya bahwa Tuhan sendiri mengatakan bahwa Dia ada di dalam Bapa dan Bapa ada di dalam Dia. Ini adalah perihal saling huni. Karena itu, apa yang terdapat dalam permintaan Putra kepada Bapa itu bukan pemisahan melainkan saling huni.
Penolong yang Lain, yaitu Roh Realitas
Sungguh bermakna bahwa dalam Yohanes 14:16 Tuhan membicarakan tentang Penolong yang lain. Kata ”yang lain” menunjukkan bahwa Tuhan, Dia yang sedang berbicara itu, adalah Penolong. Jika Dia bukan seorang Penolong, maka Dia tidak mungkin mengatakan bahwa Dia akan meminta kepada Bapa untuk mengutus Penolong yang lain. Jika kita membaca ayat 16-20 dengan teliti, kita akan nampak bahwa ternyata Penolong yang kedua ini adalah Penolong yang pertama sebagai Roh itu. Dalam ayat 17 Tuhan mengatakan bahwa Roh realitas akan ada di dalam murid-murid. Tetapi dalam ayat 18 Dia melanjutkan, ”Aku tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu. Aku datang kembali kepada-mu.” ”Dia” yang adalah Roh realitas dalam ayat 17 sekarang menjadi ”Aku”, Tuhan sendiri dalam ayat 18. Ini menunjukkan bahwa setelah kebangkitan-Nya, Tuhan menjadi Roh realitas, seperti yang diteguhkan dalam 1 Korintus 15:45b. Lagi pula, Tuhan membicarakan tentang Penolong yang lain dalam ayat 16, dan kemudian berkata dalam ayat 20, ”Pada waktu itulah kamu akan tahu bahwa Aku di dalam Bapa-Ku dan kamu di dalam Aku dan Aku di dalam kamu.” Di sini Tuhan kembali mewahyukan bahwa Dia sendiri akan tinggal di dalam murid-murid sebagai Roh itu.
Seandainya ada beberapa orang dari antara kita hadir ketika Tuhan mengatakan kata-kata ini, kita mungkin berdebat dengan Tuhan Yesus dan berkata, ”Tuhan, kami tidak tahu apa yang sedang Kaukatakan. Engkau menga-takan bahwa Engkau akan meminta kepada Bapa supaya mengutus Pengolong yang lain, yaitu Roh realitas, yang akan tinggal di dalam kami. Mengapa Engkau sekarang mengatakan bahwa Engkau akan tinggal di dalam kami?” Jika orang yang hadir di sana berusaha berdebat dengan Dia dengan cara seperti ini, Dia mungkin akan berkata, ”Kamu harus sadar bahwa Penolong yang Kusebut Penolong yang lain sebenarnya adalah Aku sendiri di dalam kebangkitan. Aku telah memberi tahu kamu bahwa Aku ada di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku. Demikian pula halnya dengan Aku dan Roh itu. Roh itu ada di dalam Aku, dan Aku ada di dalam Roh itu. Ketika Aku datang, Bapa juga datang; dan ketika Roh itu datang, Aku juga datang.”
Allah Tiga-Satu
Bapa, Putra, dan Roh itu adalah satu Allah, Allah Tritunggal. Kata ”tritunggal” berarti tiga-satu. Maka, Allah adalah Allah tiga-satu. Karena Dia itu tritunggal, tiga-satu, kita tidak seharusnya mengira bahwa Bapa, Putra, dan Roh itu dapat dipisahkan. Kita perlu selalu ingat bahwa ke-tiganya — Bapa, Putra, dan Roh itu — adalah satu. Namun, sewaktu Mereka adalah satu, Mereka juga tiga pada saat yang sama.
Perampungan Akhir Allah Tritunggal
Dalam kebangkitan Kristus, Roh itu datang sebagai perampungan akhir Allah Tritunggal. Ketika Putra datang dalam inkarnasi, Dia datang bersama Bapa dan oleh Roh itu. Setelah datang dalam inkarnasi, Putra mengambil satu tahap lebih lanjut melalui kematian dan masuk ke dalam kebangkitan. Ini adalah proses yang kita sebut transfigurasi Manusia-Penyelamat. Melalui proses transfigurasi ini, Putra, yang datang dalam inkarnasi bersama Bapa dan oleh Roh itu, menjadi Roh itu sebagai perampungan akhir dari Allah Tritunggal. Kita tidak seharusnya mengira bahwa ketika Roh itu datang, Dia datang sendirian, meninggalkan Putra dan Bapa di atas takhta di surga. Tidak, ketika Roh itu datang, Dia datang sebagai perampungan akhir dari Allah Tri-tunggal. Ini berarti ketika Roh itu datang, Putra dan Bapa datang juga bersama-Nya. Ketiganya — Bapa, Putra, dan Roh — datang bersama-sama sebagai Roh itu.
Unsur yang Dibawa Masuk ke dalam
Roh Pemberi-hayat melalui Transfigurasi
Manusia-Penyelamat
Selain itu, ketika Allah datang melalui inkarnasi, sesuatu telah ditambahkan kepada-Nya — yaitu unsur keinsanian. Sebelum inkarnasi, Putra Allah itu hanya ilahi saja; Dia tidak memiliki sifat insani. Tetapi ketika Dia datang melalui inkarnasi, keinsanian itu ditambahkan ke-pada-Nya. Dengan cara ini Dia menjadi seorang manusia-Allah, satu Persona ilahi dan insani.
Manusia-Allah ini mengalami kehidupan insani di bumi selama tiga puluh tiga setengah tahun. Kemudian Dia pergi ke atas salib dan menggenapkan kematian yang almuhit. Kita telah nampak bahwa Manusia-Penyelamat mati dengan status tujuh ganda. Kematian-Nya adalah kematian Anak Domba Allah, seekor ular dalam bentuknya, satu butir gan-dum, Adam yang akhir, Yang sulung dari semua ciptaan, seorang manusia dalam rupa daging dosa, dan Pembuat damai sejahtera. Karena status tujuh ganda Tuhan di dalam kematian-Nya, maka ini adalah kematian yang almuhit.
Setelah manusia-Allah ini melalui kematian yang al-muhit, Dia masuk ke dalam kebangkitan. Kebangkitan-Nya adalah transfigurasi-Nya — transfigurasi menjadi Roh pemberi-hayat untuk masuk ke dalam orang yang percaya kepada-Nya. Transfigurasi ini mencakup sejumlah unsur: keinsanian, kehidupan insani, dan kematian Kristus yang almuhit. Semua unsur ini dibawa masuk ke dalam Roh pemberi-hayat yang almuhit ini yang menjadi perampungan akhir Allah Tritunggal. Sebagaimana inkarnasi menambah-kan keinsanian kepada Allah, maka kebangkitan Manusia-Penyelamat ini juga membawa semua unsur ini ke dalam Roh pemberi-hayat.
Beberapa orang mungkin menyanggah bahwa tidak ada sesuatu pun yang dapat ditambahkan kepada Allah. Tetapi saya meminta Anda untuk melihat apa yang digambarkan dalam Perjanjian Baru. Ketika Allah menjadi seorang manusia, bukankah keinsanian itu ditambahkan kepada-Nya? Inkarnasi adalah satu proses yang membawa Allah ke dalam keinsanian dan menambahkan keinsanian kepada Allah. Demikian juga, kebangkitan sebagai transfigurasi Manusia-Penyelamat merupakan satu proses yang membawa unsur-unsur keinsanian, kehidupan insani, dan kematian manusia-Allah yang almuhit dengan status tujuh ganda-Nya ke dalam Roh pemberi-hayat sebagai perampungan Allah Tritunggal.