KEBANGKITAN MANUSIA-PENYELAMAT (2)
Pembacaan Alkitab:
Kis. 2:24; 3:15; Rm. 4:25; Kis. 10:41; Yoh. 10:15, 17-18;
Ibr. 2:14; 1 Kor. 15:52-54; Yoh. 13:31-32; 17:1;
Luk. 24:26; Yoh. 12:24
Dalam berita ini kita akan melanjutkan membahas aspek obyektif kebangkitan Manusia-Penyelamat. Kita telah nampak bahwa kebangkitan Tuhan adalah penegasan dan pengakuan Allah terhadap Manusia-Penyelamat dan pekerja-an penebusan-Nya yang almuhit. Sekarang kita perlu nampak bahwa kebangkitan Kristus juga adalah keberhasilan Manusia-Penyelamat di dalam semua pencapaian-Nya.
KEBERHASILAN MANUSIA-PENYELAMAT
DI DALAM SEMUA PENCAPAIAN-NYA
Orang-orang sering bermegah atas keberhasilan mereka. Tetapi tidak peduli betapa suksesnya seseorang di dalam hidupnya, ia akan kehilangan segalanya pada saat dia mati. Ini berarti kematian adalah akhir dari kesuksesan seseorang.
Inilah situasi yang sesungguhnya dari orang kaya dalam perumpamaan di Lukas 12:16-21. Orang kaya ini berkata kepada dirinya sendiri, ”Aku akan merombak lum-bung-lumbungku dan aku akan mendirikan yang lebih besar dan aku akan menyimpan di dalamnya semua gandum dan dan barang-barangku. Sesudah itu aku akan berkata kepada jiwaku: Jiwaku, engkau memiliki banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah!” (ay. 18-19). Namun, Allah berkata kepadanya, ”Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil darimu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti?” (ay. 20). Orang kaya ini berhasil, tetapi ketika dia mati, keberhasilannya pun sirna.
Tuhan Bangkit dari antara Orang Mati
Keberhasilan Manusia-Penyelamat di dalam semua pencapaian-Nya dibuktikan oleh fakta bahwa Dia bangkit dari antara orang mati. Di satu pihak, Perjanjian Baru mengatakan bahwa Allah membangkitkan Tuhan Yesus dari antara orang mati (Kis. 3:15). Di pihak lain, Perjanjian Baru juga memberi tahu kita bahwa Kristus sendiri bangkit dari antara orang mati (Kis. 10:41). Mengenai Tuhan sebagai manusia, Perjanjian Baru memberi tahu kita bahwa Allah membangkitkan Dia dari antara orang mati (Rm. 8:11). Tetapi mengenai Dia sebagai Allah, Perjanjian Baru meng-umumkan bahwa Dia sendiri bangkit dari antara orang mati (Rm. 14:9). Allah membangkitkan Kristus sebagai bukti dari penegasan-Nya dan pengakuan-Nya terhadap Tuhan dan pekerjaan-Nya. Tetapi sebagai bukti dari keberhasilan-Nya dalam semua pencapaian-Nya, Tuhan Yesus sendiri bangkit dari antara orang mati.
Dalam Kisah Para Rasul 10:41 Petrus mengatakan bah-wa murid-murid makan dan minum bersama Kristus ”sete-lah Ia bangkit dari antara orang mati.” Setelah ketersaliban Tuhan dan penguburan-Nya, Petrus dan murid-murid lainnya sangat putus asa. Mereka mungkin berkata seorang kepada yang lainnya, ”Apa yang dapat kita lakukan? Sekarang Tuhan telah disalib dan dikubur, kita tidak dapat melakukan apa-apa. Semuanya telah berlalu.” Alasan murid-murid merasa demikian adalah tidak ada sesuatu pun yang dapat menghapuskan keberhasilan seseorang melebihi penguburannya. Namun, Tuhan Yesus tidak tetap tinggal di dalam kubur. Pada hari yang ketiga Dia bangkit dan menampak-kan diri kepada murid-murid.
Ketika Tuhan Yesus menampakkan diri kepada murid-murid seperti yang tercatat dalam Lukas 24, Dia berkata kepada mereka, ”Ketika mereka belum percaya karena girangnya dan masih heran, berkatalah Ia kepada mereka, Apakah kamu punya makanan di sini? Lalu mereka memberikan kepada-Nya sepotong ikan goreng. Ia mengambilnya dan me-makannya di depan mata mereka” (ay. 41-43). Di sini Tuhan solah-olah berkata, ”Aku ingin makan bersama kalian. Apa-kah kalian memiliki sesuatu untuk dimakan? Aku juga ingin memuaskan rasa lapar kalian.”
Menurut Perjanjian Baru, Tuhan Yesus menampakkan diri kepada murid-murid-Nya pada hari kebangkitan-Nya untuk melakukan dua hal utama: pertama, menghembuskan Roh itu ke dalam murid-murid (Yoh. 20:22); kedua, makan bersama mereka (Luk. 24:41-43). Karena tidak dapat melupakan apa yang terjadi pada hari kebangkitan. Petrus memberi tahu orang-orang di rumah Kornelius bahwa Tuhan bangkit dan bahwa murid-murid makan dan minum bersama-Nya. Mereka berpesta bersama Manusia-Penyelamat yang telah bangkit ini. Kebangkitan Tuhan adalah satu bukti yang kuat dari keberhasilan-Nya. Karena itu, murid-murid tidak perlu lagi putus asa.
Tuhan Menyerahkan Nyawa-Nya
Dari Yohanes 10 kita nampak bahwa sebenarnya Tuhan tidak dibunuh; sebaliknya, Dia menyerahkan nyawa-Nya. Dalam Yohanes 10:15 Dia berkata, ”Aku memberikan nyawa-Ku bagi domba-domba-Ku.” Kemudian dalam Yohanes 10:17-18 Dia melanjutkan, ”Bapa mengasihi Aku, oleh karena Aku memberikan nyawa-Ku agar Aku menerimanya kembali. Tidak seorang pun mengambilnya dari Aku, melainkan Aku memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri. Aku berkuasa memberikannya dan berkuasa mengambilnya kembali. Inilah perintah yang Kuterima dari Bapa-Ku.” Ketika Tuhan menampakkan diri kepada murid-murid setelah kebangkitan-Nya, Dia mungkin mengatakan sesuatu seperti ini, ”Kebangkitan-Ku adalah bukti dari keberhasilan-Ku. Aku tidak dibunuh — Aku menyerahkan nyawa-Ku. Jika Aku tidak rela menyerahkan nyawa-Ku, maka tidak ada seorang pun yang dapat melakukan sesuatu terhadap-Ku. Aku menyerahkan nyawa-Ku menurut perintah Bapa-Ku, dan se-telah tiga hari Aku akan mengambilnya kembali. Bapa memerintahkan Aku untuk menyerahkan nyawa-Ku bagi kalian, dan Aku melakukan hal ini. Kemudian Dia me-merintahkan Aku untuk bangkit, dan Aku pun bangkit. Se-karang sebagai bukti dari keberhasilan-Ku, maka Aku ada di sini bersama kalian.”
Satu Tanda Keberhasilan-Nya yang Besar
Memang, Tuhan Yesus tidak dibunuh, melainkan menyerahkan nyawa-Nya. Kemudian Dia bangkit dan mengambil nyawa-Nya kembali. Maka, kebangkitan-Nya adalah keberhasilan Manusia-Penyelamat di dalam semua pencapaian-Nya. Dia tidak melakukan sesuatu dengan sia-sia. Segala sesuatu yang Dia lakukan dimeteraikan dan diteguhkan oleh kebangkitan-Nya. Jika Tuhan telah melakukan begitu banyak hal selama masa hidup-Nya, tetapi tidak bangkit dari antara orang mati, maka tinggal-Nya di dalam kubur akan menjadi satu tanda kegagalan. Tetapi bangkit-nya Dia adalah bukti keberhasilan-Nya yang besar dalam apa saja yang telah Dia lakukan. Allah membangkitkan Kristus untuk menegaskan dan mengakuinya. Tetapi Tuhan sendiri bangkit sebagai satu tanda dari keberhasilan-Nya.
KEMENANGAN MANUSIA-PENYELAMAT
ATAS KEMATIAN, TERMASUK IBLIS,
ALAM MAUT, DAN KUBUR
Kebangkitan Manusia-Penyelamat juga adalah kemenangan-Nya atas kematian, Iblis, alam maut, dan kubur (Kis. 2:24). Iblis, kematian, alam maut, dan kubur membentuk satu kelompok. Manusia-Penyelamat bukan hanya ditegaskan oleh Allah dan diakui berhasil dalam semua pencapaian-Nya, tetapi juga menang atas kematian, Iblis, alam maut, dan kubur, yaitu semua hal yang merupakan penghalang dan kesulitan besar bagi kita. Manusia-Penyelamat mengatasi kematian dan menghancurkan Iblis (Ibr. 2:14). Kunci kematian dan kunci alam maut sekarang telah berada di tangan-Nya (Why. 1:18), dan Dia telah menang atas kubur.
2 Timotius 1:10 mengatakan bahwa Kristus ”melalui Injil telah mematahkan kuasa maut dan mendatangkan hidup yang tidak dapat binasa.” Kristus mematahkan kuasa maut dan membuatnya tidak berpengaruh melalui kematian-Nya yang menghancurkan Iblis (Ibr. 2:14) dan kebangkitan-Nya yang menelan kematian (1 Kor. 15:52-54). Wahyu yang dinyatakan kepada kita di dalam Injil ini adalah Kristus telah mematahkan kuasa maut dan telah membawa hayat yang kekal, yang tidak dapat binasa kepada kita.
Kristus ditampilkan untuk menghapuskan kematian dan membawa masuk hayat yang kekal, yang tidak dapat binasa. Dia bukan hanya mengalahkan kematian — Dia juga menghapuskannya. Melalui kebangkitan-Nya, kematian itu telah menjadi tidak berpengaruh; kematian itu kehilangan kuasanya, bahkan kehilangan rasanya. Kristus dapat menghapuskan kematian karena Dia telah menghancurkan Iblis, yang berkuasa atas maut. Tentunya, dengan mengalahkan Iblis dan menghapuskan kematian, Tuhan Yesus ju-ga mengalahkan alam maut dan kubur. Karena itu, ke-bangkitan Kristus mengumumkan bahwa Dia telah menang atas kematian, Iblis, alam maut, dan kubur. Hal-hal ini tidak menjadi masalah lagi. Karena itu, kebangkitan Kristus bukan hanya merupakan penegasan Allah dan keberhasilan Tuhan, tetapi juga kemenangan-Nya atas kematian, Iblis, alam maut, dan kubur. Kristus melalui kebangkitan-Nya telah membuat kelompok pembuat kesulitan itu menjadi ti-dak berpengaruh.
PEMULIAAN MANUSIA-PENYELAMAT
Selain itu, kebangkitan Manusia-Penyelamat adalah pemuliaan-Nya (Yoh. 13:31-32; 17:1; Luk. 24:26). Karena hal ini sulit dipahami dan didefinisikan, maka akan sangat membantu bila kita memakai ilustrasi biji gandum (Yoh. 12:24). Ada hayat di dalam sebutir biji gandum. Ketika biji ini ditaburkan ke dalam tanah, biji ini ”mati”. Tetapi pada waktu yang sama biji ini bertumbuh. Jika sebutir biji gandum tidak ditaburkan ke dalam tanah, maka biji ini tidak akan mati ataupun bertumbuh. Tetapi benih yang dimasuk-kan ke dalam tanah ini akhirnya dimuliakan melalui per-tumbuhannya.
Prinsipnya sama dengan benih lainnya, misalnya benih anyelir. Seperti halnya biji gandum, benih anyelir ini juga mati di dalam tanah. Tetapi akhirnya benih ini bertumbuh, bangkit keluar dari tanah itu, dan mekar. Mekarnya bunga anyelir adalah pemuliaannya. Karena itu, benih anyelir ini dimuliakan sepenuhnya pada saat mekarnya bunga anyelir itu.
Menurut firman-Nya sendiri dalam Yohanes 12:24, Tuhan Yesus adalah sebutir biji gandum yang jatuh ke da-lam tanah dan mati. Tetapi sewaktu Dia mati di dalam tanah itu, Dia juga bertumbuh. Akhirnya, di dalam kebangkitan Dia ”mekar” dan membawa banyak butir gandum. Butir-butir gandum ini adalah pemuliaan-Nya.
Gandum yang bertumbuh di dalam tanah adalah pemuliaan dari semua butir gandum yang ditaburkan ke dalam tanah itu. Gandum yang matang digambarkan seperti ”butir gandum emas”. Waktunya akan tiba, di alam semesta ini akan ada satu ”ladang” yang penuh dengan butir gandum emas. Kemudian Allah akan berkata, ”Iblis, lihatlah ladang ini. Ini adalah pemuliaan Putra-Ku, Yesus Kristus.” Bahkan hari ini di dalam kehidupan gereja yang tepat kita dapat memiliki miniatur pemuliaan ini.
Pemecahan Kulit Luar Manusia-Penyelamat melalui Kematian-Nya
Sebagai sebutir biji gandum Tuhan Yesus memiliki ”kulit luar” keinsanian. Agar Dia dimuliakan (Yoh. 12:23), hayat ilahi-Nya perlu dibebaskan dari dalam kulit luar keinsanian-Nya guna menghasilkan banyak orang beriman di dalam kebangkitan (1 Ptr. 1:3). Melalui kematian-Nya di atas salib kulit luar keinsanian-Nya dipecahkan.
Hayat Ilahi Manusia-Penyelamat Dibebaskan
Ketika kulit luar keinsanian Tuhan dipecahkan di atas salib, hayat ilahi di dalam-Nya dibebaskan di dalam kebangkitan. Pembebasan hayat dan sifat ilahi dari dalam Tuhan sebagai biji gandum ini adalah pemuliaan-Nya. Dia berdoa untuk pemuliaan ini dalam Yohanes 17:1: ”Bapa, telah tiba saatnya; muliakanlah Anak-Mu, supaya Anak-Mu memuliakan Engkau.”
Ketika Tuhan Yesus berinkarnasi, Dia mengenakan keinsanian. Ini berarti bahwa Dia bukan lagi hanya Allah saja, karena melalui inkarnasi itu Dia telah menjadi manusia-Allah, yang memiliki keilahian dan keinsanian. Selain itu, keinsanian-Nya ini perlu dibawa masuk ke dalam keilahian. Keinsanian Tuhan dibawa masuk ke dalam keilahian adalah pemuliaan-Nya. Menurut wahyu Perjanjian Baru, ketika Tuhan Yesus bangkit dari antara orang mati, Dia bangkit dengan keilahian-Nya dan keinsanian-Nya. Ini ber-arti Dia bangkit sebagai manusia-Allah. Kebangkitan keinsanian Tuhan ini adalah pemuliaan-Nya.
Manusia Yesus ini dimuliakan melalui kebangkitan-Nya. Bukan hanya Putra Allah saja yang dimuliakan melalui dibebaskan dari kulit luar keinsanian Tuhan, melainkan manusia Yesus ini juga dimuliakan. Dia dimuliakan ketika keinsanian-Nya dibawa masuk ke dalam keilahian. Haleluya, sekarang ada seorang manusia dalam kemuliaan!
Ada orang begitu mendengar bahwa manusia Yesus sekarang di dalam kemuliaan, mereka lalu mengira Dia ada di surga. Namun, Lukas 24:26 menunjukkan bahwa Dia bahkan masuk ke dalam kemuliaan sebelum kenaikan-Nya. Sewaktu dalam perjalanan ke Emaus, Dia berkata kepada murid-murid, ”Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya?” Ini mengacu kepada kebangkitan-Nya, yang membawa-Nya masuk ke dalam kemuliaan (1 Kor. 15:43; Kis. 3:13a, 15a). Kebangkitan Manusia-Penyelamat adalah masuknya Dia ke dalam kemuliaan. Karena itu, pemuliaan bukan hanya berarti Putra Allah dibebaskan dari kulit luar keinsanian-Nya, tetapi juga berarti keinsanian Tuhan telah dibawa masuk ke dalam keilahian. Pernahkah Anda mendengar satu berita yang memberi tahu Anda bahwa Juruselamat Anda dimuliakan ketika keinsanian-Nya dibawa masuk ke dalam keilahian? Sering kali orang-orang Kristen diberi tahu bahwa Kristus memiliki kemuliaan terutama karena Dia itu besar. Namun, Alkitab mewahyukan bahwa Tuhan menjadi seorang manu-sia yang rendah. Dalam kebangkitan-Nya, keinsanian-Nya yang rendah ini dibawa masuk ke dalam keilahian, dan ini adalah pemuliaan-Nya. Dia bukan hanya memiliki kehor-matan, keagungan, dan kemuliaan; kebangkitan-Nya juga adalah pemuliaan-Nya.
Kelahiran Putra Sulung Allah
Pemuliaan Manusia-Penyelamat juga adalah kelahiran-Nya sebagai Putra sulung Allah. Kisah Para Rasul 13:33 mewahyukan bahwa bagi manusia Yesus, kebangkitan itu merupakan suatu kelahiran. Dia dilahirkan oleh Allah dalam kebangkitan-Nya untuk menjadi Putra sulung Allah di antara banyak saudara (Rm. 8:29). Dia adalah Putra tunggal Allah sejak kekekalan (Yoh. 1:18; 3:16). Setelah inkarnasi dan melalui kebangkitan, Dia dilahirkan oleh Allah dalam keinsanian-Nya untuk menjadi Putra sulung Allah.
Sejak kekekalan, Kristus adalah Putra tunggal Allah. Meskipun demikian, dalam Perjanjian Baru kita diberi tahu bahwa pada hari kebangkitan-Nya, Dia dilahirkan oleh Allah. Hal ini bahkan dinubuatkan dalam Mazmur 2:7. Di dalam kebangkitan Allah melahirkan Yesus untuk menjadi Putra sulung-Nya.
Kata ”sulung” menunjukkan bahwa akan ada putra-putra lainnya. Ibrani 2:10 membicarakan banyak putra, dan Roma 8:29, membicarakan banyak saudara. Di dalam kebangkitan Tuhan datang kepada saudara-saudara-Nya, yang menyusun gereja-Nya, dan mengumumkan nama Bapa kepada mereka (Ibr. 2:12).
Melalui inkarnasi Putra tunggal Allah mengenakan keinsanian dan menjadi manusia-Allah. Kemudian dalam ke-bangkitan manusia-Allah ini dilahirkan dari Allah untuk menjadi Putra sulung-Nya.
Kita sangat perlu menyadari bahwa sebelum inkarnasi, Putra tunggal Allah tidak memiliki sifat insani, hanya memiliki sifat ilahi. Namun dalam kebangkitan, Putra sulung Allah memiliki sifat insani juga sifat ilahi. Sebagai kaum beriman dalam Kristus, kita semua adalah putra-putra Allah dan saudara-saudara Putra sulung ini. Melalui kelahiran kembali kita memiliki sifat ilahi (2 Ptr. 1:4). Meskipun kita adalah manusia, tetapi kita sekarang memiliki sifat ilahi. Meskipun Tuhan Yesus itu ilahi, Dia juga memiliki sifat insani. Karena itu, Tuhan Yesus dan kita adalah sama dalam hal Dia dan kita memiliki sifat insani dan sifat ilahi. Kita memuji Tuhan bahwa di dalam kebangkitan-Nya Dia dilahirkan dari Allah untuk menjadi Putra sulung Allah. Kebang-kitan-Nya adalah pembebasan hayat ilahi dan sifat ilahi, dan melalui pembebasan ini Dia dilahirkan sebagai Putra sulung Allah.
Kita bersyukur kepada Tuhan karena Dia memperlihat-kan kepada kita semua butir penting yang berhubungan dengan aspek obyektif dari kebangkitan Manusia-Penyelamat. Kebangkitan Tuhan adalah penegasan dan pengakuan Allah, ini adalah bukti keberhasilan Manusia-Penyelamat, ini adalah kemenangan-Nya atas kematian, Iblis, alam maut, dan kubur, dan ini adalah pemuliaan-Nya. Melalui ke-bangkitan-Nya, kematian dihapuskan, Iblis dikalahkan, dan keinsanian dibawa masuk ke dalam keilahian. Puji Tuhan atas kebangkitan-Nya! Kiranya Tuhan memberikan kidung dan nyanyian baru kepada kita yang ditulis menurut terang yang Dia berikan kepada kita dari firman itu, supaya kita dapat memuji Dia dengan lebih kaya, lebih tinggi, dan lebih penuh.