← Daftar isi Lukas (3) · bab 19/29

YOBEL (6)

Pembacaan Alkitab:

Im. 25:10-12, 19-22; Mat. 11:28; Flp. 4:6-7, 9;

Luk. 15:23; 1 Kor. 5:8; Ef. 3:8; Flp. 1:19; 2 Kor. 12:9; 13:13

Marilah kita melanjutkan membahas kehidupan yobel, yaitu kehidupan yang ditempuh dalam yobel. Kita telah menunjukkan dalam berita sebelumnya bahwa ini adalah suatu kehidupan perhentian di tanah permai dan kehidupan menikmati kekayaan tanah permai. Kehidupan kristiani seharusnya merupakan satu kehidupan yang penuh dengan kemerdekaan, kebebasan, dan kelepasan, satu kehidupan yang penuh dengan perhentian, kepuasan, dan kenikmatan.

SATU KEHIDUPAN KENIKMATAN

Lukas 15:23 menunjukkan bahwa kehidupan kristiani seharusnya merupakan kehidupan kenikmatan: ”Ambillah anak lembu yang gemuk itu, sembelihlah dan marilah kita makan dan bersukacita.” Hasil dari kembalinya anak yang hilang ke rumah bapanya adalah: ia dan semua orang yang ada di rumah itu dapat makan, minum, dan bersukacita. Ini menunjukkan bahwa kita harus makan Kristus sebagai lembu yang gemuk, minum Roh pemberi-hayat, dan bersukacita dalam kenikmatan terhadap Allah Tritunggal dan dalam kekayaan rumah Bapa.

Bila kita melanjutkannya ke 1 Korintus 5:8, kita akan nampak bahwa kehidupan kristiani merupakan suatu pesta: ”Karena itu marilah kita berpesta, bukan dengan ragi yang lama, bukan pula dengan ragi keburukan dan kejahatan, tetapi dengan roti yang tidak beragi, yaitu kemurnian dan ke-benaran.” Pesta di sini mengacu kepada hari raya Roti Tidak Beragi sebagai kelanjutan dari Paskah (Kel. 12:15-20). Hari raya ini berlangsung selama tujuh hari, satu periode yang lengkap, yang melambangkan seluruh periode kehidupan kristiani kita, sejak hari pertobatan kita sampai hari keterangkatan. Ini adalah satu hari raya yang panjang yang harus kita rayakan dengan Roti Tidak Beragi, yang adalah Kristus sebagai perawatan dan kenikmatan kita. Hanya Dia-lah suplai hayat ketulusan dan kebenaran, benar-benar murni, tanpa campuran, dan penuh dengan realitas. Hari raya yang demikian adalah waktu kenikmatan. Seluruh kehidup-an kristiani seharusnya merupakan suatu hari raya dan suatu kenikmatan terhadap Kristus sebagai suplai hayat yang kaya. Karena itu, dalam 1 Korintus 5:8 Paulus memerintahkan kita untuk berpesta dengan Kristus sebagai roti yang tidak beragi.

Hari raya bukanlah waktu untuk bekerja; sebaliknya, adalah waktu untuk makan, kenikmatan, kepuasan, dan perhentian. Dalam kehidupan kristiani, Kristus harus menjadi makanan, kenikmatan, kepuasan, dan perhentian kita.

Dalam Efesus 3:8 Paulus berkata, ”Kepadaku, yang paling hina di antara segala orang kudus, telah diberikan anugerah ini, untuk memberitakan kepada orang-orang bukan Yahudi kekayaan Kristus, yang tidak terduga itu.” Paulus bukan memberitakan doktrin, melainkan kekayaan Kristus. Kekayaan Kristus adalah hakiki Dia bagi kita, seperti terang, hayat, benar, dan kudus, bagi pengalaman dan kenikmatan kita. Kekayaan ini tidak terduga dan tidak terselidiki. Ke-hidupan kristiani adalah kehidupan yang menikmati ke-kayaan Kristus yang tidak terduga.

Dalam Filipi 1:19 Paulus membicarakan suplai yang limpah lengkap dari Roh Yesus Kristus. Kehidupan kristiani adalah kehidupan yang menikmati suplai yang limpah lengkap.

Dalam 2 Korintus 12:9 kita nampak bahwa Paulus mengalami dan menikmati kasih karunia Kristus: ”Tetapi ja-wab Tuhan kepadaku, Cukuplah anugerah-Ku (kasih karunia-Ku) bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Kemudian dalam 2 Korintus 13:13 Paulus selanjutnya berkata, ”Anugerah Tuhan Yesus Kristus, dan kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian.” Ya, kasih karunia (anugerah) Kristus, kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus adalah bagi kenikmatan kita. Kasih karunia Tuhan adalah Tuhan sendiri sebagai hayat kita untuk kenikmatan kita; kasih Allah adalah Allah sendiri sebagai sumber kasih karunia Tuhan; dan persekutuan Roh Kudus adalah Roh itu sendiri sebagai transmisi kasih karunia Tuhan beserta kasih Allah bagi partisipasi kita. Hasil dari menikmati kasih karunia Tuhan, kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus adalah kepuasan, dan hasil dari kenikmatan dan kepuasan adalah perhentian. Semua orang Kristen harus memiliki kenikmatan, kepuasan, dan perhentian ini.

Namun, hanya sebagian kecil orang Kristen yang setiap hari menikmati kasih karunia Kristus, kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus. Di manakah kedudukan kita dalam kenikmatan ini? Banyak dari antara kita yang berjerih lelah dan penuh dengan kekhawatiran dan keresahan. Tidak hanya demikian, kita masih memiliki banyak harapan atau mimpi-mimpi. Akhirnya, karena mimpi-mimpi itu tidak terpenuhi, kita kecewa dan mengalami penderitaan. Banyak dari antara kita yang berjerih lelah, khawatir, bermimpi, dan menderita. Beberapa orang mungkin bermimpi menjadi kaya, tetapi mimpi itu membawa mereka kepada kekecewaan dan penderitaan. Kehidupan manusia adalah satu kehidupan yang berjerih lelah, khawatir, bermimpi, dan menderita.

Beberapa orang beriman yang masih berjerih lelah, khawatir, bermimpi, dan menderita mungkin berkata, ”Aku mengira bahwa hidupku akan menjadi lebih baik setelah aku menjadi seorang Kristen, tetapi ternyata tidak demikian. Lalu, apa gunanya menjadi orang Kristen?” Karena pertanyaan yang demikian, sejumlah orang Kristen telah tertarik kepada pengajaran tentang kemakmuran, pengajaran yang menyatakan bahwa orang-orang Kristen dapat menjadi kaya dan sukses. Meskipun demikian, adalah satu fakta bahwa banyak orang Kristen berjerih lelah, khawatir, ber-mimpi, dan menderita. Tidak hanya demikian, banyak orang Kristen, entah mereka sukses atau gagal, jalan mereka semakin merosot.

TIGA MACAM JERIH LELAH

DALAM HIDUP MANUSIA

Jika kita dengan teliti membaca Alkitab, kita akan nampak bahwa ada tiga macam jerih lelah dalam hidup manusia (tidak termasuk bekerja untuk mencari nafkah). Jerih lelah yang pertama adalah jerih lelah untuk menjadi orang baik, untuk memiliki tingkah laku yang baik, dan untuk meningkatkan karakter seseorang. Dalam jerih lelah ini, orang-orang bergumul untuk menjadi rendah hati, sabar, dan mengasihi. Dalam Alkitab, khususnya dalam Perjanjian Baru, arti perbuatan (usaha) adalah melakukan hal-hal demikian. Tetapi tidak ada seorang pun yang diselamatkan oleh perbuatan-perbuatannya (Ef. 2:8-9). Ini berarti tidak ada seorang pun yang dapat diselamatkan oleh usaha untuk memperbaiki tingkah laku dan karakter seseorang, memelihara hukum Taurat, menjadi baik, sabar, ramah, dan jujur. Usaha semacam ini adalah jerih lelah yang sesungguhnya, dan dalam Perjanjian Baru ini disebut perbuatan.

Menurut Alkitab, jerih lelah macam yang kedua adalah resah, khawatir. Sungguh berat berjerih lelah di bawah kekhawatiran! Jika Anda dapat melakukan pekerjaan Anda hari demi hari tanpa adanya kekhawatiran, Anda akan menjadi orang yang sehat. Namun, Anda mungkin mengeluarkan lebih banyak waktu untuk khawatir daripada Anda melakukan pekerjaan. Dapatkah Anda mengatakan bahwa Anda tidak memiliki kekhawatiran, keresahan, sampai pada hari ini? Hari demi hari, setiap orang diliputi kekhawatiran. Anda mungkin mengkhawatirkan kesehatan Anda, pekerjaan Anda, atau banyak hal lainnya. Saya, tentunya, tidak terkecuali. Saya telah belajar dari pengalaman bahwa satu-satunya jalan untuk melepaskan diri dari kekhawatiran adalah menikmati Tuhan. Kapan saja saya tidak menikmati Kristus, saya memiliki kekhawatiran. Kristus berlawanan dengan kekhawatiran. Dalam Pelajaran-Hayat Filipi kita telah menyampaikan sejumlah berita yang berjudul ”Satu Kehidupan yang Penuh dengan Kesabaran tetapi Tanpa Kekhawatiran.”

Jerih lelah macam ketiga yang diwahyukan dalam Alkitab adalah penderitaan. Penderitaan adalah satu jerih lelah yang sangat berat. Bila kita menikmati Allah dalam yobel, kita tidak akan memiliki penderitaan apa pun. Paulus, misalnya, menderita karena ada ”duri dalam daging” (2 Kor. 12:7). Mengenai duri ini, ia telah meminta tiga kali kepada Tuhan supaya duri itu dilepaskan darinya (ay. 8). Namun, bukannya mengambil duri itu, Tuhan malah berkata kepada-nya, ”Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu.” Tuhan seolah-olah memberi tahu Paulus, ”Tidak, Aku tidak akan meng-ambil duri itu, karena kasih karunia-Ku cukup. Jika kamu menikmati Aku, kamu tidak akan menderita.”

Mengatakan bahwa kita tidak akan menderita bila kita menikmati Tuhan itu bukan berarti lingkungan kita akan menjadi baik. Sebaliknya, dalam berbagai kasus, lingkungan itu malah semakin buruk. Lihatlah keadaan Paulus dan Silas dalam Kisah Para Rasul 16. Paulus dan Silas dijebloskan ke dalam penjara di Filipi. Kita menyangka pemenjaraan itu akan menjadi satu penderitaan berat bagi mereka. Namun, Paulus dan Silas tidak menderita di dalam penjara itu — sebaliknya mereka menikmati yobel. Mereka menyanyi dan memuji Tuhan. Meskipun mereka di dalam penjara, tetapi mereka memiliki kenikmatan, kepuasan, dan perhentian.

SATU KONSEPSI YANG SALAH

Sebagai kaum beriman, kita tidak boleh memiliki konsepsi bahwa karena kita telah beroleh selamat, mengasihi Tuhan Yesus, menyerahkan segalanya kepada-Nya, dan ingin melakukan segala sesuatu bagi-Nya, maka lingkungan kita akan menjadi makmur. Orang Kristen tidak seharusnya memiliki pemikiran demikian. Jika ini adalah filsafat kehidupan kristiani kita, kita perlu meninggalkannya. Pandangan yang demikian ini mutlak salah.

Banyak orang yang melayani Tuhan mati martir. Misalnya, Yohanes Pembaptis, pelopor Perjanjian Baru, dipenggal. Ketika Yohanes mengutus dua orang muridnya untuk meminta Tuhan melakukan sesuatu baginya, Tuhan menunjukkan bahwa Dia tidak akan melakukan apa-apa (Mat. 11:2-5). Tuhan selanjutnya berkata, ”Berbahagialah orang yang tidak menolak Aku” (Mat. 11:6). Di sini Tuhan menunjukkan kepada Yohanes bahwa Dia tidak akan melakukan apa-apa untuk menyelamatkan Yohanes dari mati martir; sebalik-nya, Tuhan membiarkannya di dalam penjara sampai mati. Demikian juga, Petrus dan Paulus mati martir.

Apakah Anda mengira bahwa mati martir adalah satu perkara yang menderita? Sebenarnya, orang yang merasa menderita tidak layak untuk mati martir. Mati martir ada-lah satu pengalaman terhadap yobel. Ada seorang martir, yaitu misionaris Inggris yang terbunuh pada tahun 1930-an di China, berkata sewaktu ia akan dihukum mati, ”Setiap wajah orang yang mati martir itu seperti wajah seorang ma-laikat, dan setiap hati orang yang mati martir itu seperti hati seekor singa.” Stefanus benar-benar tidak menderita pada waktu ia mati martir. Ketika ia akan dirajam, wajahnya bercahaya seperti wajah seorang malaikat (Kis. 6:15). Bukannya menderita, Stefanus malah menikmati Tuhan.

MENGASIHI HAL-HAL SELAIN ALLAH

Jika kita merasa menderita di dalam lingkungan tertentu, ini menunjukkan bahwa kita masih mengasihi hal-hal tertentu selain Allah. Jika kita mengasihi Allah dengan tulus dan menyeluruh, kita tidak akan terganggu oleh lingkungan apa pun. Inilah sebabnya Tuhan Yesus menunjukkan bahwa kita harus mengasihi Dia melebihi orang tua, saudara laki-laki, saudara perempuan, istri, atau anak-anak kita (Mat. 10:37; Luk. 14:26). Jika kita merasa menderita saat kita kehilangan orang tua, anak, istri, atau suami kita, itu ber-arti kita tidak hanya mengasihi Allah saja. Itu berarti kita menempatkan kasih kita pada sesuatu atau seseorang selain Allah. Jika kita mengasihi Allah semata, memberikan kasih kita kepada-Nya sepenuhnya, tidak memiliki sesuatu pun yang memecah kasih kita, kita tidak akan terganggu oleh apa pun yang terjadi pada kita

Misalnya Anda kehilangan rumah Anda. Apakah itu akan menjadi suatu penderitaan bagi Anda? Masihkah Anda dapat memuji Tuhan, memuji Dia bahkan bila Anda ke-hilangan rumah Anda? Jika kehilangan rumah Anda itu adalah suatu penderitaan bagi Anda dan jika Anda tidak mau memuji Tuhan karenanya, itu menunjukkan bahwa Anda mengasihi rumah Anda seperti mengasihi Allah, malah mungkin mengasihinya melebihi mengasihi Allah. Jika Anda tidak mengasihi rumah Anda, Anda tidak akan menderita akibat kehilangan rumah itu. Sebaliknya, Anda akan berkata, ”Haleluya! Rumahku telah hilang, tetapi Allahku tidak hilang. Bagiku Dia lebih berarti sekarang daripada sebelum-nya. Ketika aku memiliki sebuah rumah yang baik, Allah tidak begitu berarti bagiku. Tetapi sekarang setelah aku kehilangan rumahku, Allah menjadi lebih berarti bagiku.”

Sebagai seorang ayah dari banyak anak, dan seorang kakek dari banyak cucu, saya tahu bahwa setiap orang tua menginginkan anak-anaknya sukses. Mungkin Anda ingin agar anak-anak Anda menjadi rasul, penatua, diaken, atau diaken perempuan, atau Anda mungkin ingin agar mereka menjadi dokter, pengacara, atau ahli komputer. Tetapi bagaimanakah perasaan Anda jika tidak ada satu pun dari anak-anak Anda menjadi seorang rasul, penatua, diaken, atau diaken perempuan, atau jika tidak ada satu pun dari mereka yang memiliki profesi yang dihormati orang, Anda akan gem-bira atau kecewa? Belakangan ini saya mendengar seseorang memuji Tuhan bahwa anaknya menjadi seorang dokter. Tetapi saya belum pernah mendengar satu orang tua yang me-muji Tuhan karena nilai anaknya jatuh.

Yang penting dari ilustrasi-ilustrasi ini adalah orang-orang Kristen yang menuntut pun mungkin tidak menem-puh kehidupan yobel. Sebaliknya, karena mereka mengasihi hal-hal selain Allah, mereka bukannya memiliki kenikmat-an, kepuasan, dan perhentian, malah menderita.

Kita semua harus melakukan pekerjaan kita; namun, kita tidak boleh berjerih lelah dalam hal bergumul untuk menjadi baik, bergumul terhadap kekhawatiran, mimpi, dan penderitaan. Kita harus dapat berkata, ”Aku hanya mengasihi Allahku saja. Dialah bagianku. Tidak ada sesuatu pun atau seorang pun selain Dia yang menjadi bagianku. Mobil baru, rumah baik, pangkat tinggi, gaji besar — semua itu bukan bagianku yang sesungguhnya.”

TIDAK ADA KEKHAWATIRAN DALAM YOBEL

Jika kita hidup dalam yobel, kita tidak akan memiliki kekhawatiran. Mengenai kekhawatiran ini, Tuhan Yesus berkata, ”Janganlah khawatir tentang hidupmu, mengenai apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah khawatir pula tentang tubuhmu, mengenai apa yang hendak kamu pakai . . . Siapakah di antara kamu yang karena kekhawatirannya dapat menambah sehasta saja pada jalan hidupnya? . . . Karena itu, janganlah kamu khawatir tentang hari esok, karena hari esok mempunyai kekhawatirannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari” (Mat. 6:25, 27, 34). Kita tidak perlu meminjam kekhawatiran hari esok dan memikulnya hari ini. Setiap hari ada kesusahan-nya masing-masing. Meskipun demikian, beberapa orang kudus, yang muda juga yang tua, meminjam kekhawatiran bukan hanya dari hari esok, bahkan dari tahun-tahun yang akan datang. Ini berarti beberapa orang itu khawatir bukan hanya mengenai hari esok, tetapi juga mengenai apa yang akan terjadi di tahun-tahun yang akan datang. Beberapa kakek bahkan mungkin khawatir terhadap generasinya yang ketiga. Mereka sebenarnya meminjam kekhawatiran dari ge-nerasi yang akan datang dan berjerih lelah di bawahnya pada hari ini.

Tahukah Anda mengapa kita khawatir tentang hari ini dan hari esok? Kita khawatir karena Allah tidak memiliki kedudukan yang mutlak di dalam kita. Kita masih memberikan satu ”sudut” dari diri kita kepada hal-hal lainnya, dan sudut itu membuat kita kesulitan. Namun, jika kita memberikan semua ruang di dalam hati kita kepada Allah, kita tidak akan khawatir atau terganggu dengan apa pun yang terjadi pada kita. Jika di dalam hati kita tidak ada kedudukan untuk apa pun atau siapa pun selain Allah, Dia akan selalu menjadi kenikmatan, kepuasan, dan perhentian kita. Lingkungan dapat berubah, tetapi Dia tetap sama.

Sulit sekali kita memberikan semua kedudukan di da-lam diri kita kepada Allah karena kita telah jatuh dan memiliki sifat yang jatuh. Sel-sel dan jaringan-jaringan tubuh jasmani kita dan seluruh jiwa kita, termasuk pikiran, tekad, dan emosi kita, telah jatuh dari Allah, dari kenikmatan terhadap Allah, dan dari perhentian dalam Allah. Kita telah jatuh ke dalam banyak hal selain Allah. Segala sesuatu entah itu baik atau jahat, yang bukan diri Allah sendiri, dapat menjadi sumber kekhawatiran. Hanya Allahlah kenikmatan; hanya Allahlah kepuasan dan perhentian. Tidak peduli betapa baiknya suatu hal, hal itu tidak dapat menjadi kenikmatan, kepuasan, dan perhentian kita.

KEHIDUPAN YANG MEMPERHIDUPKAN ALLAH

Kehidupan yobel, yaitu kehidupan yang hidup dalam yobel, adalah kehidupan yang memperhidupkan Allah. Ketika beberapa orang mendengar hal ini mungkin mereka berkata, ”Bukankah ini kehidupan yang menang? Bukankah ini kehidupan yang kudus, kehidupan yang menurut Roh itu?” Ya, kehidupan yobel adalah kehidupan yang menang, kehidupan yang kudus, juga kehidupan yang menurut Roh itu. Tetapi meskipun kita telah mendengar banyak berita tentang hidup dalam Roh, kita masih tidak hidup dalam yobel. Sebaliknya, kita berjerih lelah dalam pergumulan untuk memperbaiki diri kita sendiri, berjerih lelah mengatasi kekhawatiran, mimpi, dan penderitaan. Bergumul untuk menjadi baik ini sungguh suatu jerih lelah! Keresahan, kekhawatiran, lebih-lebih adalah suatu jerih lelah. Mimpi, harapan, juga adalah jerih lelah. Setiap macam pengharapan adalah mimpi. Akhirnya masih ada jerih lelah penderitaan. Ketika kita menderita, kita tidak dapat memiliki kenikmatan, kepuasan, dan perhentian.

Bagaimanakah kita dapat dilepaskan dari semua jerih lelah ini? Satu-satunya jalan untuk bebas adalah menerima Allah Tritunggal menjadi bagian kita. Jika kita berseru kepada nama Tuhan Yesus, maka Roh yang almuhit akan memberikan suplaian-Nya yang limpah lengkap kepada kita. Kemudian kita akan menikmati Allah dalam Kristus sebagai tanah permai yang mengalirkan susu dan madu, dan kita akan memiliki kenikmatan, kepuasan, dan perhentian. Kita semua perlu yobel ini.

Injil Lukas memimpin kita ke dalam kehidupan yobel. Manusia-Penyelamat menyelamatkan kita dari belenggu ke dalam yobel. Dia menyelamatkan kita ke dalam kebebasan, kenikmatan, kepuasan, dan perhentian dari yobel Allah.

Seluruh pengajaran Perjanjian Baru mengenai ke-hidupan kristiani melibatkan yobel. Ketika kerajaan datang, kita akan menikmati yobel yang lebih besar daripada yang kita nikmati pada hari ini. Kemudian dalam kekekalan, dalam Yerusalem Baru dengan langit baru dan bumi baru, kita akan memiliki yobel yang paling besar. Kita akan menikmati Allah sepenuhnya sebagai kepuasan dan perhentian kita. Hari ini kita memiliki pencicipan terhadap yobel ini.

Sepanjang hari kita harus menikmati Allah Tritunggal sebagai kenikmatan, kepuasan, dan perhentian kita. Kita tidak boleh bergumul, khawatir, bermimpi, atau menderita. Bahkan dalam situasi yang paling sulit pun kita masih dapat menikmati Tuhan. Jika kita memberikan semua kedudukan di dalam kita kepada Allah dan menikmati Dia, mati martir pun tidak akan menjadi suatu penderitaan bagi kita. Kita tidak bergumul, khawatir, bermimpi, dan men-derita, malahan akan memiliki Allah Tritunggal almuhit yang telah melalui proses sebagai kenikmatan, kepuasan, dan perhentian kita. Kasih karunia Kristus, kasih Allah, dan persekutuan Roh itu akan menjadi milik kita. Inilah ke-nikmatan terhadap yobel.