← Daftar isi Lukas (3) · bab 18/29

YOBEL (5)

Pembacaan Alkitab:

Im. 25:10-12, 19-22; Mat. 11:28; Flp. 4:5-7, 9;

Luk. 15:23; 1 Kor. 5:8; Ef. 3:8; Flp. 1:19; 2 Kor. 12:9; 13:13

Dalam berita-berita sebelumnya kita telah melihat definisi yobel dan berkat-berkat yobel. Sekarang kita akan mulai membahas kehidupan yobel. Kehidupan yobel yang kita maksud adalah jenis kehidupan yang hidup dalam yobel. Seperti yang akan kita lihat, ini adalah kehidupan perhentian di tanah permai (Im. 25:10-12; Mat. 11:28; Flp. 4:5-7, 9) dan kehidupan yang menikmati tanah permai (Im. 25:19-22; Luk. 15:23; 1 Kor. 5:8; Ef. 3:8; Flp. 1:19; 2 Kor. 12:9; 13:13).

AKIBAT KEJATUHAN MANUSIA

Sebelum kita membahas dua aspek kehidupan yobel ini, saya ingin memberikan satu persekutuan lebih lanjut mengenai kejatuhan manusia. Alkitab mewahyukan dengan jelas bahwa manusia telah jatuh. Menurut ketetapan kehendak Allah, manusia diciptakan untuk menampung Allah dan mengekspresikan Dia. Agar manusia dapat mencapai ketetapan kehendak ini, manusia perlu menerima Allah sebagai hayatnya dan kemudian terus-menerus menikmati Allah sebagai suplai hayatnya. Hanya dengan menerima Allah sebagai hayat dan menikmati Allah sebagai suplai hayatnya, manusia dapat menempuh satu kehidupan yang mengekspresikan Allah. Seperti yang sering kita tunjukkan dalam berita-berita lainnya, ini adalah wahyu yang jelas dalam Alkitab secara menyeluruh.

Manusia ciptaan Allah bukan mencapai ketetapan kehendak Allah, malahan terbujuk oleh musuh Allah dan dijauhkan dari ketetapan kehendak Allah. Manusia berdosa terhadap Allah dan menjadi jatuh.

Orang-orang yang tidak percaya, tentunya tidak me-miliki pemahaman yang jelas tentang kejatuhan manusia dan akibatnya. Bahkan banyak orang Kristen yang jelas tentang kejatuhan manusia tidak memiliki pemahaman yang memadai tentang akibat atau hasil dari kejatuhan manusia. Karena itu, kita perlu terkesan dengan fakta bahwa akibat dari kejatuhan manusia itu mencakup dua hal: pertama, manusia kehilangan Allah; kedua, manusia jatuh ke dalam belenggu, perbudakan, penawanan. Sepanjang sejarah ma-nusia, manusia selalu tanpa Allah dan berada dalam belenggu. Selama beribu-ribu tahun manusia telah berada da-lam perbudakan, kehilangan Allah sebagai harta miliknya. Ini berlaku bagi setiap orang, suku, bangsa, dan negara.

Penderitaan dalam Hidup Manusia

Orang muda khususnya, yang sedang bergumul untuk menikmati hidup ini mungkin bermimpi bahwa suatu hari ”surga” itu akan ada di bumi, bahwa waktunya akan datang di mana terjadi satu ”utopia” (hal yang sulit atau tidak mungkin terjadi). Saya pernah memiliki mimpi yang demi-kian, tetapi kemudian saya bangun dan sadar bahwa hidup manusia itu penuh dengan segala jenis penderitaan. Orang yang menikah memiliki masalah, orang yang tidak menikah juga memiliki masalah, bisa jadi masalahnya lebih banyak atau mungkin sama. Bila membicarakan masalah dan pen-deritaan, sulit untuk mengatakan lebih baik menikah atau tidak. Karena kaum beriman ingin mempelajari cara untuk mendapatkan satu kehidupan pernikahan yang bahagia, maka buku-buku tentang pernikahan cukup banyak di toko-toko buku Kristen. Orang-orang yang telah menikah, yang tahu masalah-masalah dalam hidup pernikahan, ingin tahu cara meraih satu pernikahan yang bahagia. Namun, orang-orang muda tidak tahu berapa banyak masalah yang akan terjadi dalam hidup pernikahan. Saya menyinggung hal ini untuk memberikan contoh tentang penderitaan-penderitaan dalam hidup manusia.

Contoh lainnya adalah masalah yang disebabkan oleh kekayaan. Orang-orang yang ingin kaya mungkin tidak sa-dar bahwa kekayaan itu dapat menyebabkan kesulitan. Saya kenal seorang saudara yang menjadi cukup kaya dua puluh tahun yang lalu, tetapi kekayaannya itu justru membuatnya mengalami penderitaan yang berat. Karena kesulitan dan penderitaan yang diakibatkan oleh kekayaan, banyak orang kaya yang tidak memiliki umur panjang. Mereka diperas dan dilemahkan oleh kekayaan mereka.

Belakangan ini saya membaca sebuah artikel di surat kabar tentang seseorang yang pernah menjadi seorang rektor dari satu perguruan tinggi. Orang ini sekarang berumur seratus tahun. Ketika ia mencapai usia seratus tahun, banyak mantan murid-muridnya mengadakan suatu pesta untuk merayakan hari ulang tahunnya. Dalam pesta itu ia mengatakan bahwa ia bersyukur kepada Allah bahwa ia bukan seorang kaya, karena jika ia kaya, ia tidak akan mencapai usia seratus tahun. Menurut pengertiannya, kurangnya kekayaan adalah satu faktor yang penting dalam hidupnya untuk mencapai usia seratus tahun.

Yang hendak kita tekankan di sini ialah kehidupan manusia merupakan kehidupan yang menderita. Baik ke-kayaan maupun kemiskinan adalah penyebab penderitaan. Orang-orang yang miskin memiliki kekhawatiran, orang-orang yang kaya mungkin lebih lagi. Contoh lainnya dari pen-deritaan manusia adalah yang dialami oleh orang-orang yang menjadi pemimpin-pemimpin negara. Presiden atau kepala negara harus memikul beban yang sangat berat, beban yang jauh lebih berat daripada yang dipikul oleh orang biasa. Orang yang tidak memiliki kesehatan yang baik tidak seharusnya menuntut jabatan politik yang tinggi karena te-kanan hidup yang akan menimpanya benar-benar berat. Ini adalah ilustrasi lain tentang fakta bahwa kehidupan ma-nusia merupakan kehidupan yang menderita.

Mencari Perhentian dan Kenikmatan

Tahukah Anda apakah arti menderita? Tahukah Anda makna menderita? Makna menderita yang sesungguhnya ada dua: tidak memiliki perhentian dan tidak memiliki kenikmatan.

Allah menciptakan manusia dengan selera, kedambaan terhadap perhentian dan kenikmatan. Allah menciptakan manusia dengan kedambaan demikian sebab Allah ingin agar manusia mau secara berkesinambungan mencari Dia. Karena itu, setiap manusia mencari perhentian dan kenikmatan.

Perhentian memerlukan kepuasan. Jika seseorang tidak memiliki kepuasan, ia tidak dapat memiliki perhentian. Dari pengalaman kita tahu bahwa kita dapat memiliki perhentian hanya bila kita puas. Selain itu, kepuasan itu berasal dari kenikmatan. Maka, jika kita tidak memiliki kenikmatan, kita tidak akan memiliki kepuasan; dan jika kita tidak me-miliki kepuasan, kita tidak akan memiliki perhentian. Setiap orang lapar dan haus terhadap perhentian dan kenikmatan. Tidak memiliki perhentian dan kenikmatan adalah men-derita.

Penyebab seorang saudara ingin menikah adalah karena ia sedang mencari perhentian dan kenikmatan. Ia mengira bahwa ia tidak dapat menemukan perhentian di dalam seorang pun kecuali dari seorang istri. Ia menganggap per-nikahan sebagai sesuatu yang akan memberikan perhentian dan kenikmatan. Demikian juga, seorang saudari mendamba-kan seorang suami karena ia mengira bahwa kehidupan pernikahan itu akan menjadi seperti sebuah ”pembaringan” di mana ia dapat beristirahat.

Mengapa kita perlu menikah? Kita perlu menikah karena kita menginginkan perhentian, kepuasan, dan kenik-matan. Namun, berapa banyak perhentian, kepuasan, dan kenikmatan sejati yang Anda alami dalam kehidupan per-nikahan Anda? Banyak orang dapat bersaksi bahwa dalam kehidupan pernikahan, penderitaannya mungkin lebih besar daripada perhentian dan kepuasannya, kesulitannya mungkin lebih besar daripada kenikmatannya. Penderitaan dalam kehidupan pernikahan mungkin disebabkan oleh perihal jendelanya harus dibuka atau harus ditutup. Sepasang suami istri mungkin berselisih atas hal seperti ini. Meskipun orang-orang menikah karena mereka memerlukan perhenti-an, kepuasan, dan kenikmatan, namun perhentian, kepuasan, dan kenikmatan sejati tidak ditemukan dalam kehidupan pernikahan.

Kita telah nampak bahwa baik yang kaya maupun yang miskin, semua memiliki penderitaan dalam hidupnya. Misalnya, seseorang yang memiliki sejumlah besar simpanan di bank mungkin khawatir terhadap inflasi. Sekalipun ia me-miliki sejumlah besar uang di bank, uangnya itu malah membuatnya khawatir terhadap hal-hal keuangan.

Dalam setiap aspek kehidupan manusia ”pengeluaran” mungkin lebih besar daripada ”pemasukan”nya. Ini berarti pilihan apa pun yang kita ambil terhadap satu hal tertentu, hasilnya mungkin lebih banyak keluarnya daripada masuknya. Entah kita menikah atau tidak, kaya atau miskin, keluarnya mungkin lebih besar daripada masuknya.

Nasib orang yang tidak beroleh selamat, entah ia me-nikah atau tidak, kaya atau miskin, adalah neraka. Itulah sebabnya manusia memerlukan keselamatan Allah, itulah sebabnya manusia perlu Injil. Tanpa keselamatan Allah, tidak peduli bagaimana keadaan seseorang, ia akan masuk ke neraka. Baik orang yang berpendidikan dan berbudaya maupun yang tidak berpendidikan dan tidak berbudaya, semuanya akan masuk ke neraka. Karena berada di atas jalan ini, mereka tidak dapat memiliki perhentian. Betapa perlunya mereka mendengar pemberitaan Injil, suara yobel!

Manusia yang jatuh telah kehilangan Allah dan berada dalam belenggu. Perhatikanlah keadaan bangsa Israel di Mesir. Semua orang Israel berada di bawah belenggu. Ke-lihatannya, Firaun, raja Mesir itu, lebih unggul, tetapi ia juga berada di bawah belenggu. Baik orang Israel maupun orang Mesir telah kehilangan Allah dan berada di bawah belenggu. Demikian juga, hari ini manusia yang telah jatuh berada di bawah belenggu. Yang kaya atau yang miskin, yang terpelajar atau yang tidak terpelajar, yang menikah atau yang tidak menikah — semuanya berada di bawah be-lenggu. Hanya bila kita memiliki Allah, kita tidak lagi berada di bawah belenggu karena Allah adalah kebebasan kita, kelepasan kita, bahkan kemerdekaan kita.

Karena manusia yang jatuh telah kehilangan Allah dan berada di bawah belenggu, manusia tidak memiliki perhen-tian atau kenikmatan yang sejati. Inilah akibat, hasil dari kejatuhan manusia.

SATU GAMBARAN TENTANG BAGAIMANA ALLAH

MENYELAMATKAN MANUSIA DARI AKIBAT

KEJATUHAN MANUSIA

Beberapa lambang dalam Perjanjian Lama memperlihatkan bagaimana Allah menyelamatkan manusia dari akibat kejatuhannya. Yang pertama dari lambang-lambang ini adalah hari raya Paskah.

Hari Raya Paskah

Ketika bangsa Israel berada di Mesir, mereka berada dalam belenggu. Mereka tidak memiliki perhentian, kepuas-an, dan kenikmatan. Tetapi Allah datang untuk menyela-matkan mereka, menyelamatkan mereka dari keadaan mereka yang jatuh. Allah menyelamatkan umat-Nya melalui Paskah.

Dalam Alkitab Paskah disebut hari raya. Hari raya Paskah adalah yang pertama dari ketujuh hari raya tahunan yang diadakan oleh bangsa Israel (Im. 23). Kata ”hari raya” menunjukkan suatu liburan, satu waktu perhentian, kepuasan, dan kenikmatan. Liburan adalah satu hari tanpa bekerja, satu hari kenikmatan. Di semua bangsa, bila liburan tiba, orang-orang berhenti dari pekerjaannya dan memiliki waktu perhentian, kepuasan, dan kenikmatan. Hari raya Paskah adalah waktu yang demikian bagi bangsa Israel. Ini adalah waktu umat Allah beristirahat dari pekerjaan mereka dan menikmati Allah sebagai kepuasan mereka.

Kehidupan di Padang Gurun

Allah membawa bangsa Israel keluar dari Mesir, melalui Laut Merah, dan masuk ke padang gurun. Selama tahun-tahun di padang gurun itu, umat itu tidak perlu giat bekerja. Lalu, apa yang mereka lakukan selama empat puluh tahun itu? Boleh dikatakan, bahwa mereka menempuh satu liburan yang sangat panjang. Selama empat puluh tahun mereka tidak bekerja; sebaliknya, mereka beristirahat bersama Allah. Mereka tidak membajak, menabur, atau menuai; mereka hanya mengumpulkan manna. Lagi pula, yang mereka kum-pulkan itu bukanlah hasil dari jerih lelah mereka, melainkan sesuatu yang berasal dari pemberian Allah. Karena itu, bangsa Israel beristirahat bersama Allah dan menikmati pemberian-Nya. Satu hal yang unik dalam sejarah bahwa suatu bangsa yang berjumlah lebih dari dua juta orang menggunakan waktunya selama empat puluh tahun tanpa berusaha atau bertani. Selama empat puluh tahun itu, hari demi hari bangsa Israel beristirahat bersama Allah.

Sewaktu kita merenungkan sejarah bangsa Israel di padang gurun, kita nampak bahwa sebenarnya mereka tidak tahu bagaimana beristirahat bersama Allah atau menikmati pemberian-Nya. Mereka masih berusaha berjerih lelah, yaitu melakukan sesuatu bagi diri mereka. Jerih lelah ini melukai hati Allah. Setelah masuk ke padang gurun, bangsa Israel seharusnya tidak melakukan apa-apa selain memuji Tuhan, menikmati Dia, dan beristirahat bersama-Nya. Namun, me-reka masih bergumul untuk melakukan sesuatu bagi diri mereka sendiri. Kapan saja mereka berjerih lelah dengan cara ini, mereka membuat masalah.

Tanah Permai

Setelah empat puluh tahun berlibur di padang gurun, bangsa Israel dibawa masuk ke tanah permai. Allah mem-berikan satu bagian dari tanah itu kepada setiap keluarga, dan umat itu beristirahat pada tanah bagian mereka. Mereka hidup di bagian itu, menikmatinya, dan menerima kepuasan darinya.

Tanah permai adalah lambang Allah sebagai bagian kita. Mengenai Allah sebagai bagian kita, Mazmur 16:5 mengatakan, ”Ya TUHAN, Engkaulah bagian warisanku dan pialaku.” Karena itu, bagian tanah yang sesungguhnya tempat kita beristirahat, menikmati, dan dengannya kita dipuaskan adalah Allah sendiri. Allah adalah tanah sejati yang mengalirkan susu dan madu. Tentunya, Allah ini akhirnya adalah Yesus Kristus dan Roh pemberi-hayat. Allah yang adalah Yesus Kristus dan Roh pemberi-hayat ini adalah tanah permai kita yang mengalirkan susu dan madu. Saya dapat bersaksi bahwa Kristus saya mengalirkan susu dan madu. Kristus adalah bagian kita; Dia adalah perhentian, kepuasan, dan kenikmatan kita.

Perlunya Yobel sebagai Suatu Pengulangan dari Paskah

Namun, banyak dari orang Israel yang tidak hidup di tanah itu dengan cara beristirahat dan menikmati. Sebalik-nya, mereka hidup sedemikian rupa hingga mereka menjadi miskin. Mula-mula, mereka menjual tanah mereka; akhirnya menjual diri. Sekali lagi mereka mengalami dua akibat dari kejatuhan manusia: kehilangan kenikmatan dan terbelenggu. Ini membuat Allah perlu menurut lambang dalam Imamat 25 mendirikan tahun Yobel.

Sebenarnya yobel adalah suatu pengulangan dari Paskah. Melalui Paskah bangsa Israel dilepaskan dari be-lenggu dan masuk ke dalam perhentian dan kenikmatan. Tetapi beberapa orang, setelah masuk ke dalam kenikmatan terhadap Allah, menjadi miskin lagi dan kehilangan segal-nya. Maka, diperlukan yobel sebagai pengulangan Paskah.

Pada tahun yobel diumumkan kemerdekaan, ”Kamu harus menguduskan tahun yang kelima puluh, dan memaklumkan kebebasan di negeri itu bagi segenap penduduknya. Itu harus menjadi tahun Yobel bagimu, dan kamu harus masing-masing pulang ke tanah miliknya dan kepada kaumnya” (Im. 25:10). Kemerdekaan ini adalah suatu kebebasan; berarti kelepasan dari belenggu.

Menurut Imamat 25:10, pada tahun Yobel seseorang dapat kembali kepada tanah miliknya sendiri dan kepada keluarganya. Ini menandakan apa? Ini menandakan kembali kepada perhentian, kepuasan, dan kenikmatan, kembali kepada keadaan dan tingkatan yang ke dalamnya umat itu dibawa melalui Paskah. Paskah telah membawa mereka ke dalam suatu keadaan dan tingkatan di mana mereka dapat memiliki Allah sebagai tanah permai mereka bagi perhentian dan kenikmatan mereka. Tetapi mereka kehilangan harta milik mereka dan jatuh lagi ke dalam belenggu. Keadaan mereka sama seperti keadaan bangsa Israel di Mesir. Karena itu, perlu ada yobel sebagai pengulangan dari Paskah untuk mengumumkan kemerdekaan kepada semua orang yang telah kehilangan harta milik mereka dan kepada mereka yang berada dalam belenggu. Pada tahun Yobel umat itu dapat dikembalikan kepada harta milik mereka dan kepada keluarga mereka untuk mendapatkan perhentian, kepuasan, dan kenikmatan. Inilah gambaran yang dilukiskan oleh lambang dalam Imamat 25.

Seperti yang akan kita lihat dengan lebih penuh dalam berita selanjutnya, lambang ini adalah satu gambaran tentang bagaimana seharusnya kehidupan kristiani itu. Kehidupan kristiani adalah satu kehidupan kemerdekaan, kebebasan, dan kelepasan, satu kehidupan yang penuh dengan perhentian, kepuasan, dan kenikmatan.