← Daftar isi Lukas (3) · bab 17/29

YOBEL (4)

Pembacaan Alkitab:

Im. 25:9-13, 39-41, 54; Mzm. 16:5; 90:1; Ef. 2:12; Kis. 26:18;

Ef. 1:14; Kol. 1:12; Luk. 15:12-23; Rm. 7:14b;

Yoh. 8:34, 36; Rm. 6:6-7; 8:2; Gal. 5:1

Dalam berita ini kita akan melanjutkan pembahasan tentang berkat dari yobel. Kita telah menunjukkan dalam berita sebelumnya bahwa berkat pertama dari dua berkat utama yobel adalah orang-orang yang telah kehilangan waris-an mereka dapat dikembalikan kepada tanah milik mereka (Im. 25:9-13). Allah bermaksud menjadi harta milik manusia (Mzm. 16:5; 90:1), tetapi manusia kehilangan Allah karena manusia jatuh (Ef. 2:12). Namun, yobel Allah membawa ma-nusia kembali kepada Allah sebagai warisannya (Kis. 26:18; Ef. 1:14; Kol. 1:12; Luk. 15:12-23). Sekarang mari kita lan-jutkan pembahasan berkat utama yang kedua dari yobel ini.

DIBEBASKAN DARI PERBUDAKAN

Berkat yang kedua dari yobel adalah orang-orang yang telah menjual diri mereka sebagai budak-budak dibebaskan dari perbudakan mereka (Im. 25:39-41, 54). Menurut lambang dalam Imamat 25, seorang Israel mungkin menjadi miskin sedemikian rupa sehingga ia harus menjual tanah miliknya. Kemudian mungkin ia makin jatuh ke dalam kemelaratan bahkan menjual dirinya sendiri. Setelah kehilangan dirinya sendiri, ia menjadi seorang budak.

Orang yang telah menjual dirinya sendiri ke dalam perbudakan boleh berusaha menebus dirinya. Namun, jika ia tidak dapat menebus dirinya sebelum tahun Yobel, maka ia akan dibebaskan pada tahun itu. ”Tetapi jikalau ia tidak ditebus dengan cara demikian, maka ia harus diizinkan keluar dalam tahun Yobel, ia bersama-sama anak-anaknya” (Im. 25:54). Ini berarti pada tahun kelima puluh, yaitu pada tahun Yobel, orang yang telah menjual dirinya sendiri sebagai seorang budak dibebaskan dari perbudakannya.

Gambaran dalam Imamat 25 ini sangat bermakna. Gambaran ini menunjukkan bahwa sejak waktu kejatuhan, manusia telah menjual dirinya sendiri sebagai budak, khu-susnya sebagai budak dosa. Meskipun manusia berusaha menebus dirinya, tetapi ia tidak mampu melakukannya. Dalam zaman hati nurani, zaman pemerintahan manusia, zaman janji, dan zaman hukum Taurat, manusia tidak dapat menebus dirinya. Tetapi kemudian zaman kasih karunia datang, zaman yang dilambangkan oleh tahun kelima puluh. Dalam zaman ini manusia yang telah jatuh dapat dibebaskan dari belenggu.

Perjanjian Baru mewahyukan bahwa manusia telah terjual kepada dosa sebagai budaknya. Dalam Roma 7:14 Paulus mengumumkan, ”Aku bersifat daging, terjual di bawah kuasa dosa.” Dalam Yohanes 8:34 Tuhan Yesus berkata, ”Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, setiap orang yang berbuat

dosa, adalah hamba dosa.” Yobel Allah membebaskan ma-nusia yang telah jatuh dari dosa. Karena alasan ini, Tuhan berkata, ”Jadi, apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamu pun benar-benar merdeka.” Selain itu dalam Roma 6:6-7 Paulus berkata, ”Karena kita tahu bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan, supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya, agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa. Sebab siapa yang telah mati, ia telah bebas dari dosa.”

Kemudian dalam Roma 8:2 Paulus selanjutnya berkata, ”Hukum Roh hayat telah memerdekakan kamu dalam Kris-tus dari hukum dosa dan hukum maut” (Tl.). Selain itu, me-nurut Galatia 5:1, yobel Allah juga membebaskan kita dari belenggu hukum Taurat.

MAKNA DARI TAHUN YOBEL

SEBAGAI TAHUN KELIMA PULUH

Mari kita bahas kembali makna tahun Yobel sebagai tahun kelima puluh. Imamat 25:8 mengatakan, ”Selanjutnya engkau harus menghitung tujuh tahun sabat, yakni tujuh kali tujuh tahun; sehingga masa tujuh tahun sabat itu sama dengan empat puluh sembilan tahun.” Menurut ayat 10, orang-orang ”harus menguduskan tahun yang kelima puluh, dan memaklumkan kebebasan di negeri itu bagi segenap pen-duduknya. Itu harus menjadi tahun Yobel bagimu, dan ka-mu harus masing-masing pulang ke tanah miliknya dan kepada kaumnya.” Kita dapat mengatakan bahwa tujuh tahun sabat dalam ayat 8, yaitu tujuh kali tujuh tahun, juga ada-lah tujuh ”minggu” (lihat Dan. 9:24-26). Dalam Alkitab, satu minggu, satu periode yang terdiri dari tujuh hari, melambangkan satu rangkaian yang lengkap. Misalnya, dalam rangkaian waktu tujuh hari Allah menciptakan alam semesta dan segala sesuatu di dalamnya, dan kemudian beristirahat. Karena itu, tujuh hari dari satu minggu menunjukkan satu rangkaian waktu yang lengkap.

Dalam hal satu minggu itu melambangkan satu rangkaian yang lengkap, maka kehidupan kristiani kita juga da-pat dianggap seperti satu minggu. Satu mingggu dari kehidupan kristiani kita itu dilambangkan oleh hari raya Roti Tidak Beragi. Dalam Keluaran 12 kita nampak bahwa hari raya Roti Tidak Beragi berlangsung selama tujuh hari. Dalam Pelajaran-Hayat Keluaran kita telah menunjukkan bah-wa tujuh hari dari hari raya Roti Tidak Beragi itu melam-bangkan seluruh rangkaian kehidupan kristiani kita sejak waktu kita diselamatkan sampai waktu tubuh kita ditebus.

Yobel bukan datang pada akhir satu minggu yang terakhir dari tahun itu, melainkan setelah satu rangkaian waktu tujuh minggu dari tujuh tahun. Tahun setelah tujuh minggu dari tujuh tahun itu, tentunya adalah tahun kelima puluh, yaitu tahun yang pertama dari minggu kedelapan dari tujuh tahun itu.

Dalam Alkitab angka delapan melambangkan kebang-kitan. Tuhan Yesus bangkit pada hari yang kedelapan, hari yang pertama dari minggu itu. Menurut prinsip ini, maka tahun pertama dari setiap minggu atau periode tujuh tahun adalah tahun kedelapan, dan tahun kedelapan ini dapat di-anggap sebagai tahun kebangkitan. Tahun yobel adalah ”tahun kedelapan” dari yang ketujuh. Ini berarti tahun yang kedelapan ini, yang adalah tahun kelima puluh, menunjukkan tujuh kali kebangkitan.

Prinsip yobel sebagai tahun kelima puluh itu sama dengan hari Pentakosta sebagai hari kelima puluh. Hari Pentakosta terjadi pada hari kedelapan dari yang ketujuh, seperti tahun Yobel pada tahun kedelapan dari yang ketujuh. Setelah tujuh rangkaian hari datanglah hari Pentakosta, dan setelah tujuh rangkaian tahun datanglah tahun Yobel.

MENGAPRESIASI YOBEL

Sekarang mari kita terapkan hal ini pada pengalaman kita terhadap keselamatan. Sebagaimana tahun Yobel datang setelah genap tujuh tahun rangkaian waktu, demikian juga banyak dari antara kita yang mengalami keselamatan setelah kita melewati beberapa rangkaian waktu dalam kehidupan manusia kita. Di satu pihak diselamatkan lebih dini atau pada waktu muda itu baik sekali. Tetapi di pihak lain, ada pula kebaikan diselamatkan setelah melewati sejumlah rangkaian waktu yang panjang dalam kehidupan manusia. Contohnya, misalnya ada orang yang diselamatkan pada umur lima puluhan. Dia telah melewati sejumlah rangkaian waktu: masa remaja, mahasiswa, pernikahan, dan masa kemajuan dalam profesinya. Setelah melewati semua rangkaian ini, ia mengalami yobel yang riil ketika ia diselamatkan. Selama bertahun-tahun, seperti yang ditunjukkan oleh tujuh minggu dari tahun itu sebelum tahun Yobel, ia mungkin telah berusaha menebus dirinya, tetapi tidak berhasil. Kemudian pada suatu hari, ia mendengar sangkakala yobel melalui pemberitaan Injil, dan kemudian ia diselamatkan. Ia mulai membenci, meremehkan semua pengalaman dalam hidupnya. Sekarang ia menikmati kebebasan dari yobel ini.

Seseorang yang diselamatkan lebih dini dalam kehidupannya, misalnya pada umur dua belas tahun, mungkin tidak memiliki banyak pengenalan terhadap makna yobel. Bagi-nya, ada yobel atau tidak, tidak banyak bedanya, karena ia belum melewati banyak rangkaian pengalaman dalam ke-hidupannya. Tetapi orang yang telah melewati banyak rangkaian pengalaman tentu akan mengapresiasi yobel ini.

Di satu pihak, lebih cepat seseorang diselamatkan, itu lebih baik. Kita tidak boleh menunda pemberitaan Injil ke-pada orang lain. Yang hendak saya tekankan di sini adalah bila seseorang diselamatkan lebih lambat, maka ia memiliki kenikmatan yang lebih besar terhadap yobel daripada orang yang diselamatkan sejak kecil. Misalnya, seorang anak laki-laki diselamatkan pada umur enam tahun. Karena ia belum melewati meskipun satu atau dua rangkaian pengalaman da-lam hidup manusia, ia tidak memiliki banyak apresiasi ter-hadap yobel ini. Tetapi orang yang telah melewati banyak rangkaian pengalaman akan lebih banyak mengapresiasi makna diselamatkan itu.

Jangan salah paham terhadap saya dan mengira saya mendorong agar seseorang menunggu-nunggu dulu untuk di-selamatkan. Orang-orang yang diselamatkan pada usia muda memiliki kesempatan untuk belajar lebih banyak tentang Alkitab dan lebih banyak menikmati dan mengalami Tuhan. Dari sudut pandang ini, lebih baik seseorang diselamatkan pada usia muda. Meskipun demikian, orang-orang yang diselamatkan lebih lambat dalam hidupnya memiliki kesempat-an untuk mendapatkan kenikmatan yang lebih besar ter-hadap yobel.

Misalnya ada seseorang yang belum pernah menjual harta miliknya atau menjual dirinya ke dalam perbudakan. Ketika orang itu mendengar suara yobel, ia tidak akan memiliki sukacita karena yobel itu tidak berarti apa-apa baginya. Namun, seseorang yang telah kehilangan harta miliknya dan kehilangan dirinya sendiri akan bersukaria pada tahun Yobel. Semakin banyak barang orang itu yang hilang, semakin banyak ia akan menikmati suara yobel ini.

Bertahun-tahun yang lalu, saya bertemu dengan seorang saudara yang pengalamannya menggambarkan perihal yang sedang saya bahas ini mengenai kenikmatan terhadap yobel. Saudara ini adalah seorang pemadat selama lebih dari empat puluh tahun sebelum ia beroleh selamat. Satu hari ia diselamatkan dan dilepaskan dari madat. Itu adalah yobel yang riil baginya.

Saudara ini selalu membawa dua gambar tentang dirinya: satu gambar tentang dirinya sebagai seorang pemadat dan satunya lagi tentang dirinya sebagai seorang Kristen. Gambar pemadat itu menggambarkan orang yang penyakitan dan kurang terawat, gambar orang Kristen memperlihatkan orang Kristen yang sehat dan kuat.

Dalam kesaksiannya ia memamerkan dua gambar ini dan bertanya kepada orang-orang manakah yang lebih baik. Tentunya, mereka lebih suka dengan gambar dirinya sebagai orang Kristen. Kemudian saudara ini menjelaskan arti kedua gambar ini, bahwa yang satu adalah gambar dirinya sebelum ia diselamatkan dan yang satunya lagi adalah gambarnya setelah ia menjadi seorang Kristen. Ia gembira dalam memberikan kesaksian yang riil tentang yobel ini.

Seseorang yang diselamatkan sewaktu ia masih sangat muda tidak dapat bersaksi tentang yobel ini seperti yang dilakukan saudara yang pernah menjadi seorang pemadat. Karena seorang anak muda belum melewati rangkaian pengalaman yang lengkap dalam hidupnya yang selama itu berusaha menebus dirinya, maka ia tidak memiliki banyak pengalaman untuk dikatakan tentang kenikmatan terhadap yobel ini. Karena itu, diselamatkan lebih lambat memiliki satu kebaikan, dan kebaikan ini adalah kenikmatan terhadap yobel.

Tahun yobel, tahun kelima puluh, hanya dapat datang setelah tujuh minggu dari tahun itu. Tahun ini hanya dapat datang setelah kelengkapan rangkaian pengalaman hidup manusia. Ini berarti bahwa yobel memiliki satu berkat yang tidak dapat dicapai seseorang dengan usahanya sendiri. Se-seorang mungkin berusaha dalam rangkaian pengalaman demi pengalaman untuk kembali kepada harta miliknya dan menebus dirinya dari perbudakan. Tetapi dengan bersandar dirinya sendiri ia tidak dapat kembali atau ditebus. Yobel ini hanya berasal dari Allah. Allahlah yang mengembalikan kita kepada harta milik kita, dan Allahlah yang membebas-kan kita dari belenggu.

Saya diselamatkan pada umur sembilan belas tahun. Sebelum saya menerima Tuhan Yesus, saya selalu berusaha menjadi orang yang baik. Saya dibesarkan dalam kekris-tenan, dan saya telah diajar tentang Alkitab. Saya tahu saya harus menjadi orang yang baik, tetapi tidak peduli betapa kerasnya saya berusaha, saya tidak dapat menjadi baik. Saya bahkan berusaha berpaling kepada Allah tetapi saya tidak dapat berpaling kepada-Nya. Tetapi suatu hari, saya mengalami yobel. Allah datang dan membawa saya masuk ke dalam kenikmatan terhadap yobel. Pada hari itu saya me-miliki satu kenikmatan yang kaya terhadap yobel. Saya dikembalikan oleh Allah kepada-Nya sebagai harta milik saya, dan saya dibebaskan dari belenggu saya.

DUA BERKAT BESAR DARI INJIL

Kita telah nampak bahwa dua berkat utama yobel ada-lah dikembalikan kepada harta milik kita dan dibebaskan dari perbudakan. Dalam Perjanjian Baru, ini adalah dua berkat besar dari Injil. Injil mengumumkan bahwa Allah telah mengembalikan kita kepada diri-Nya sendiri sebagai harta milik kita dan Dia telah membebaskan kita dari belenggu, dari perbudakan, khususnya dari perbudakan dosa. Belenggu dosa adalah belenggu yang paling buruk. Orang-orang yang hidup dalam dosa terbelenggu dalam berbagai hal. Tetapi ketika seseorang dibebaskan dari dosa, ia juga dibebaskan dari banyak hal. Ketika kita dibebaskan dari dosa, kita juga dibebaskan dari perbudakan hukum Taurat.

Oleh belas kasihan Tuhan, saya dapat bersaksi bahwa saya menikmati Allah sebagai harta milik saya, sebagai sandang, pangan, papan, dan transportasi saya. Saya juga dapat bersaksi bahwa saya telah dibebaskan dari belenggu. Saya dibebaskan dari pebudakan dosa, dan dari belenggu hukum Taurat dan agama. Puji Tuhan untuk berkat yobel ini!

Kita perlu menerapkan pemahaman ini dalam pem-bacaan kita terhadap Injil Lukas. Jika kita membaca Injil Lukas dengan pemahaman yang demikian, Injil ini akan menjadi satu kitab yang baru bagi kita. Dalam perumpamaan dan kasus yang tercatat dalam Injil Lukas kita akan nampak berkat yobel. Kita akan sadar bahwa yobel yang diumumkan oleh Manusia-Penyelamat di dalam Lukas 4 adalah satu prinsip yang mengendalikan semua pasal berikutnya.

Kita semua perlu belajar bagaimana menikmati yobel ini. Bila kita menikmati yobel ini, maka kita akan dapat pergi keluar untuk mengumumkan yobel ini. Kita akan memperdengarkan sangkakala yobel dan memberi tahu orang lain bahwa sekarang adalah waktunya Allah menerima mereka, bahwa sekarang adalah waktunya mereka dikembalikan kepada harta milik mereka dan dibebaskan dari setiap jenis perbudakan, belenggu, dan rintangan. Orang-orang yang telah dikembalikan kepada Allah dan yang telah dibebaskan dari belenggu bebas untuk menikmati Allah. Mengumumkan yobel adalah memperdengarkan sangkakala yobel, memberitakan yobel ekonomi Perjanjian Baru Allah. Kira-nya kita semua menikmati berkat-berkat yobel ini dan ke-mudian memperdengarkan yobel ini sebagai Injil.