← Daftar isi Lukas (3) · bab 16/29

YOBEL (3)

Pembacaan Alkitab:

Im. 25:9-13, 39-41, 54; Mzm. 16:5; 90:1; Ef. 2:12;

Kis. 26:18; Ef. 1:14; Kol. 1:12; Luk. 15:12-23;

Rm. 7:14b; Yoh. 8:34, 36; Rm. 6:6-7; 8:2; Gal. 5:1

Dalam berita ini kita akan melanjutkan membahas defi-nisi tentang yobel yang telah dibahas dalam dua berita sebelumnya sampai kepada berkat yobel. Bagi pemahaman kita, adalah baik bila kita memiliki definisi tentang yobel. Namun, berkat yobel itu bukan untuk kita pahami; berkat itu adalah untuk kita nikmati. Sebagai tambahan untuk memahami yobel, kita perlu menikmatinya. Kita benar-benar memerlukan berkat yobel ini.

Sebenarnya, pemberitaan Injil adalah suara, sangkakala yobel. Dalam pemberitaan Injil kita mengumumkan kabar suka, kabar baik. Kabar baik ini adalah kita dapat dikembalikan kepada harta milik kita yang hilang dan kita dibebaskan dari perbudakan, dari belenggu. Dalam pemberitaan Injil kita, kita perlu memperdengarkan yobel; kita perlu mengumumkan kembalinya kita kepada harta milik yang hilang dan kebebasan dari belenggu.

Menurut lambang dalam Imamat 25, yobel memiliki dua berkat utama. Berkat-berkat ini adalah kembalinya kepada tanah milik yang hilang dan kebebasan dari perbudakan.

YOBEL YANG DIGAMBARKAN OLEH PERUMPAMAAN ANAK YANG HILANG

Dalam berita-berita sebelumnya kita telah menunjukkan bahwa meskipun kita adalah manusia yang diciptakan oleh Allah, tetapi kita telah kehilangan Allah sebagai harta milik kita yang sesungguhnya. Untuk lebih pastinya, sebenarnya kita tidak kehilangan harta milik kita — melainkan mening-galkannya. Perumpamaan anak yang hilang menggambar-kan hal ini. Ketika anak yang hilang itu meninggalkan rumah bapanya, ia juga meninggalkan warisannya. Demi-kian juga, ketika kita meninggalkan Allah, kita meninggal-kan harta milik kita yang sesungguhnya. Karena itu, di da-lam yobel bukanlah harta kita dikembalikan kepada kita; melainkan kita kembali kepada harta milik yang telah kita tinggalkan. Berkat pertama dari yobel adalah kembalinya kita kepada harta milik kita.

Selain kehilangan harta milik kita, kita juga kehilangan diri kita sendiri dengan menjual diri kita ke dalam perbudakan. Karena itu, kita perlu dibebaskan. Ini adalah berkat yobel yang kedua. Jika Anda dengan teliti membaca Imamat 25, Anda akan nampak bahwa di satu pihak ada kembalinya seseorang kepada tanah miliknya, dan di pihak lain, ada kembalinya seseorang kepada keluarganya.

Kita semua pernah menjadi anak-anak hilang yang pergi jauh dari Bapa dan keluarga-Nya. Sebagai orang-orang yang pergi jauh dari Bapa dan dari rumah-Nya, kita sebenarnya pergi jauh dari warisan kita. Karena itu, kita perlu kembali kepada Bapa dan kepada keluarga-Nya. Inilah yobel yang digambarkan oleh perumpamaan anak yang hilang dalam Lukas 15.

Yobel Perjanjian Baru diumumkan oleh Tuhan Yesus dalam Lukas 4:18-19. Dia memperdengarkan yobel Perjanjian Baru, ketika Dia menyatakan, ”Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.” Setelah yobel ini diumumkan, yobel ini dialami oleh banyak orang yang kasusnya tercatat dalam Injil Lukas. Karena itu, semua kasus itu adalah ilustrasi-ilustrasi dari yobel Perjan-jian Baru.

Di antara banyak ilustrasi yobel dalam Injil Lukas, yang terbaik adalah kasus anak hilang yang kembali kepada bapanya, kepada keluarga bapanya, dan kepada harta miliknya. Setelah anak hilang itu memboroskan semuanya, satu bencana kelaparan terjadi, dan ia mulai melarat (Luk. 15:14). Ia kemudian ”pergi dan bekerja pada seorang warga negeri itu. Orang itu menyuruhnya ke ladang untuk menjaga babinya. Lalu ia ingin mengisi perutnya dengan ampas yang menjadi makanan babi itu, tetapi tidak seorang pun yang memberikan sesuatu kepadanya” (ay. 15-16). Lalu ia menya-dari keadaannya, ia berkata, ”Betapa banyaknya orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi aku di sini mati kelaparan. Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap surga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebut anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa” (ay. 17-19). Di sini kita nampak bahwa anak yang hilang itu ingin menjadi seperti orang-orang yang me-nabur, menuai, dan memetik (hal-hal yang dilarang dalam tahun Yobel) dengan melakukan usahanya sendiri. Maksudnya adalah memberi tahu bapanya bahwa ia tidak layak lagi disebut anak bapa, ia ingin menjadi pekerja seperti orang-orang upahan. Tetapi menurut lambang dalam Imamat 25, selama tahun Yobel itu tidak boleh menabur, menuai, atau memetik. Selama tahun itu tidak boleh ada jerih lelah apa pun di tanah itu. Maka, anak yang hilang itu tidak seharusnya kembali kepada bapanya sebagai seorang pekerja. Ia harus kembali kepada bapanya sebagai seorang yang kembali untuk menikmati harta miliknya.

Ketika anak yang hilang itu kembali, ia berkata, ”Bapa, aku telah berdosa terhadap surga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebut anak bapa” (ay. 21). Bapa, yang tidak mau mendengar perkataan yang ngawur seperti itu, menyelanya dan berkata kepada hamba-hambanya, ”Lekaslah bawa kemari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya. Ambillah anak lembu yang gemuk itu, sembelihlah dan marilah kita makan dan bersuka cita” (ay. 22-23). Tahukah kalian, lembu yang gemuk itu melambangkan apa? Lembu yang gemuk itu melambangkan Kristus yang kaya sebagai warisan kita. Dalam Kolose 1:12, ini adalah Kristus sebagai bagian orang-orang kudus. Setelah anak yang hilang itu kembali, ia, bapanya, dan orang-orang di dalam rumah itu mulai menikmati warisan. Di sini dalam kasus anak hilang, kita nampak satu gambaran yang jelas dari yobel Perjanjian Baru. Pertobatan yang sejati harus seperti anak hilang yang digambarkan dalam perumpamaan ini.

Kita telah menunjukkan bahwa berkat pertama yobel adalah kembali kepada harta milik kita yang telah hilang. Dalam yobel orang-orang yang telah kehilangan harta milik kembali kepada harta milik mereka. Ini dilambangkan dalam Imamat 25:9-13.

Berkat penting pertama dari yobel Perjanjian Baru adalah kembali kepada harta milik yang telah kita tinggalkan. Harta milik ini bukanlah sesuatu yang materi — harta milik kita adalah Allah itu sendiri.

MAKSUD ALLAH IALAH INGIN MENJADI

HARTA MILIK MANUSIA

Harta milik manusia yang sesungguhnya adalah Allah, dan manusia diciptakan sebagai sebuah bejana untuk menampung Allah. Kejadian 1:26 mengatakan bahwa manusia diciptakan menurut gambar Allah, dan Roma 9 mewahyukan bahwa manusia diciptakan sebagai sebuah bejana untuk menampung Allah supaya Allah dapat memenuhi manusia dan mengekspresikan diri-Nya melalui manusia.

Lihatlah sebuah botol, yang adalah sebuah bejana. Di dalam dirinya, botol itu kosong. Apakah yang menjadi harta milik dari botol itu? Harta milik botol itu adalah isinya. Prinsipnya sama dengan bejana lainnya; harta milik sebuah bejana adalah isi bejana itu. Jika sebuah bejana tidak berisi, maka bejana itu tidak memiliki harta miliknya. Bila sebuah bejana tidak berisi, berarti tidak memiliki kekayaan, kosong; dan kosong berarti miskin.

Manusia diciptakan sebagai sebuah bejana untuk menampung Allah. Jika manusia tidak menampung Allah, berarti manusia itu tidak memiliki harta milik. Tanpa Allah sebagai isinya, manusia tetap adalah satu bejana yang miskin, kosong. Allah bermaksud menjadi isi manusia, harta milik manusia.

Dalam alam materi, jika kita ingin memiliki harta milik yang dibutuhkan, kita harus memiliki tanah untuk meng-hasilkan makanan, dan juga memiliki sebuah rumah untuk tempat tinggal kita. Setiap hari kita perlu makan makanan dan rumah untuk tempat kita tinggal. Singkatnya, kita me-merlukan tanah dan rumah. Ini adalah kebutuhan manusia yang paling mendasar.

Perjanjian Baru menunjukkan bahwa Allah adalah ta-nah kita yang sesungguhnya. Terhadap umat pilihan-Nya, bangsa Israel, Allah memberikan sebuah tanah yang baik, sebuah tanah yang mengalirkan susu dan madu. Untuk apa Dia memberikan tanah itu kepada mereka? Allah memberikan tanah itu kepada mereka supaya mereka mendapat-kan makanan untuk dimakan. Tanah yang baik ini adalah lambang Allah dalam Kristus menjadi suplai bagi makanan kita. Makan adalah satu kebutuhan rohani, dan Kristus ada-lah suplaian untuk memenuhi kebutuhan ini.

Dalam Mazmur 90:1 kita nampak bahwa Allah juga adalah tempat kediaman kita: ”Tuhan, Engkaulah tempat perteduhan kami turun-temurun.” Pernahkah Anda menyadari bahwa Allah adalah tempat kediaman kita? Bahkan dalam Perjanjian Lama kita diberi tahu bahwa Allah adalah tempat kediaman umat pilihan-Nya. Karena itu, Allah adalah tanah kita dan juga rumah kita, tempat kediaman kita.

Mazmur 16:5 mengatakan, ”Ya TUHAN, Engkaulah bagian warisanku dan pialaku.” Di sini kita nampak bahwa Tuhan adalah bagian warisan kita dan piala kita. Dia adalah bagian kita dalam dua cara — sebagai makanan untuk kita makan dan sebagai rumah untuk kita diami. Menurut Mazmur 90:1 dan Mazmur 16:5, Allah bermaksud menjadi harta milik manusia, menjadi tanah manusia, dan tempat tinggal manusia.

Kebutuhan kita setiap hari dalam kehidupan manusia meliputi empat butir utama: sandang, pangan, papan, dan transportasi. Dari empat butir ini, pangan dan papan adalah butir yang paling penting. Kita mungkin dapat hidup tanpa sandang dan transportasi yang memadai, tetapi kita tidak dapat hidup tanpa pangan dan papan. Bahkan seekor burung pun perlu makanan dan sarang. Alkitab mewahyukan bah-wa Kristus adalah pakaian kita yang sejati; Kristus adalah kebenaran yang menudungi kita. Selain itu, kita juga dapat mengatakan bahwa Kristus adalah transportasi kita yang sejati. Kita telah menunjukkan di berbagai tempat bahwa Kristus adalah ”jumbo jet” sesungguhnya yang membawa kita kepada Allah Bapa. Kristus adalah sandang, pangan, papan, dan transportasi kita.

Dalam tahun yobel, perhatiannya bukanlah pada pakaian dan transportasi, melainkan pada makanan dan rumah. Karena itu, manusia dapat kembali kepada harta miliknya, kepada tanahnya untuk makan, dan juga kepada keluarganya, yaitu kepada rumahnya. Dalam hal rohani, tanah kita adalah Allah sendiri, dan rumah kita juga adalah Allah. Allah bermaksud menjadi harta milik kita untuk makanan dan tempat tinggal kita.

KRISTUS ADALAH MAKANAN KITA

DAN TEMPAT KEDIAMAN KITA

Injil Yohanes mewahyukan bahwa Tuhan Yesus adalah makanan kita dan tempat kediaman kita. Dalam Yohanes 6 kita nampak bahwa Dia adalah roti yang sejati, roti hayat, roti hidup yang turun dari surga (ay. 32-33, 35, 48, 50-51). Jadi, Dia adalah roti surgawi kita. Fakta bahwa Tuhan Yesus adalah tempat kediaman kita ditunjukkan oleh firman-Nya, ”Tinggallah di dalam Aku” (Yoh. 15:4). Tinggal di dalam Tuhan berarti mengambil Dia sebagai tempat tinggal kita, tempat kediaman kita. Menurut Injil Yohanes, kita ha-rus makan Tuhan dan juga tinggal di dalam Tuhan, karena Tuhan adalah makanan kita dan tempat tinggal kita.

Alkitab itu konsisten. Meskipun Alkitab membicarakan banyak hal, tetapi bila kita masuk ke dalam lubuk Alkitab, kita akan nampak Alkitab mewahyukan, baik dalam Perjanjian Lama maupun dalam Perjanjian Baru, bahwa Allah Tritunggal adalah makanan kita dan tempat tinggal kita. Dia dapat dimakan, dan Dia pun tempat kediaman kita yang sejati.

Perhatikanlah keadaan para imam dalam Perjanjian Lama. Mengenai imamat ini, ada kemah untuk ditinggali dan ada kurban untuk dimakan. Orang-orang yang melayani Allah sebagai imam-imam dapat memakan kurban-kurban itu dan tinggal di dalam kemah. Kemah dan kurban adalah lambang Kristus. Sebagai imam-imam hari ini, kita harus makan Kristus dan tinggal di dalam-Nya.

Orang-orang Kristen yang tidak memiliki banyak pengetahuan dalam Kitab Suci mungkin terganggu bila mendengar tentang makan Kristus. Mereka mungkin berkata, ”Kalian ingin makan Kristus? Ini adalah penghujatan! Kristus adalah Penebus, Penyelamat, Tuan, Tuhan, dan Allah kita. Bagaimana mungkin kalian dapat makan Dia?” Ya, Tuhan Yesus memang Allah, Tuhan, Tuan, Penyelamat, dan Penebus kita. Namun, Dia memberi tahu kita bahwa Dia adalah makanan kita. Dia adalah makanan untuk kita makan, Dia juga tempat tinggal untuk kita tinggali.

Apakah Anda sungguh-sungguh mengalami yobel? Tahukah Anda apakah arti yang sesungguhnya berada di dalam yobel? Pertama, berada di dalam yobel adalah makan Tuhan Yesus. Jika Anda tidak makan Dia, Anda tidak ber-\ada di dalam yobel. Tidak ada seorang pun yang dapat ber-ada di dalam yobel dengan perut yang kosong. Yobel telah diumumkan, tetapi bila perut Anda kosong, Anda tidak akan memperhatikan pengumuman itu.

Saya dapat bersaksi bahwa saya benar-benar berada di dalam yobel, karena setiap hari saya makan Tuhan Yesus. Melalui makan Dia sebagai makanan rohani saya, saya menikmati yobel ini. Bagi saya, yobel adalah sebuah hari raya, adalah masa untuk makan Tuhan Yesus.

Jika Anda ingin berada di dalam yobel, Anda perlu ma-kan Tuhan. Anda perlu menikmati Dia. Bila kita membaca berita Pelajaran-Hayat tentang Imamat 25, kita akan nam-pak bahwa hal utama dalam pengalaman terhadap yobel adalah makan.

Selain itu, untuk berada di dalam yobel, kita perlu memiliki Kristus sebagai tempat tinggal kita, sebagai tempat kediaman kita. Ketika Kristus menjadi rumah kita, kita memiliki perhentian yang sejati. Kita menikmati sabat yang sejati bila kita tinggal di dalam Kristus. Haleluya, Kristus adalah makanan kita dan tempat kediaman kita!

Kita telah menunjukkan bahwa Allah menciptakan manusia dengan maksud agar manusia menerima Allah sebagai harta miliknya. Setelah menciptakan manusia, Allah menempatkannya di dalam sebuah taman dan di depan pohon hayat. Taman itu adalah untuk tempat tinggal, dan pohon hayat adalah untuk makanan. Di sini kita nampak bahwa manusia yang diciptakan oleh Allah memiliki dua kebutuhan yang penting: ia memerlukan Allah sebagai makanannya, dan ia juga memerlukan Allah sebagai tamannya, tempat ke-diamannya. Mungkin Anda belum mendengar sebelumnya bahwa Allah harus menjadi taman kita. Tetapi di manakah Adam hidup? Ia bukan hidup di dalam sebuah rumah atau kota; ia hidup di dalam sebuah taman. Taman dan pohon hayat ini adalah lambang Allah menjadi kenikmatan ma-nusia.

MANUSIA KEHILANGAN ALLAH

KARENA KEJATUHAN MANUSIA

Adam hidup sejangka waktu di taman itu, tetapi ia tidak maju selangkah lagi untuk menikmati pohon hayat. Adam tidak makan pohon hayat, malah makan pohon pengetahuan tentang yang baik dan jahat sehingga manusia jatuh. Melalui kejatuhan itu Adam kehilangan Allah. Mungkin lebih baik bila kita mengatakan bahwa melalui kejatuhan itu Adam meninggalkan Allah. Adam tidak menerima Allah sebagai hayatnya, malah meninggalkan Allah. Ketika ia meninggalkan Allah, ia meninggalkan harta miliknya.

Dalam Perjanjian Baru kita diberi tahu dengan jelas bahwa manusia yang telah jatuh itu tanpa Allah. Efesus 2:12, satu ayat yang menggambarkan keadaan yang sesungguhnya dari manusia yang telah jatuh, mengatakan bahwa manusia sekarang ”tanpa Allah di dalam dunia.” Hari ini semua manusia yang telah jatuh itu tanpa Allah karena manusia telah meninggalkan Allah.

Ketika Adam berada di taman itu, ia dapat mengumumkan bahwa ia memiliki Allah. Memang, ia memiliki Allah, tetapi ia tidak menerima Allah sebagai hayatnya. Adam meninggalkan Allah dan kehilangan Allah. Karena itu, semua keturunannya hidup di bumi tanpa Allah. Inilah keadaan kita yang sesungguhnya sebelum kita diselamatkan; kita hidup di bumi tanpa Allah karena kita telah meninggalkan Dia.

YOBEL ALLAH MEMBAWA MANUSIA

KEMBALI KEPADA ALLAH SEBAGAI

HARTA MILIK MANUSIA

Yobel Allah membawa manusia kembali kepada Allah sebagai harta milik manusia. Di dalam yobel Perjanjian Baru ini kita semua telah kembali kepada Allah sebagai harta milik kita.

Tidaklah mudah menjelaskan kebenaran yang alkitabi-ah ini secara akurat. Sebenarnya, bukan kita yang kembali kepada Allah, melainkan Allah mengembalikan kita kepada diri-Nya sendiri sebagai harta milik kita. Inilah yang digam-barkan oleh lambang dalam Imamat 25. Ayat 10 mengatakan, ”Kamu harus menguduskan tahun yang kelima puluh, dan memaklumkan kebebasan di negeri itu bagi segenap penduduknya. Itu harus menjadi tahun Yobel bagimu, dan kamu harus masing-masing pulang ke tanah miliknya dan kepada kaumnya.” Di sini kita tidak nampak bahwa tanah milik seseorang dikembalikan kepadanya, tetapi ia dikembali-kan kepada tanah miliknya. Hal yang sama diumumkan dalam Imamat 25:13: ”Dalam tahun Yobel itu kamu harus masing-masing pulang ke tanah miliknya.” Dalam lambang yobel, semua orang yang telah menjual harta miliknya di-kembalikan kepada harta miliknya, demikian juga dengan yobel yang sesungguhnya dalam Perjanjian Baru. Kita tidak kembali kepada Allah, tetapi Allahlah yang mengembalikan kita kepada harta milik kita. Ini berarti ketika kita disela-matkan, Allah mengembalikan kita kepada harta milik kita.

Marilah kita perhatikan kembali contoh anak yang hilang. Kelihatannya anak hilang itu yang kembali kepada bapa. Sebenarnya, menurut Lukas 15 Bapalah yang meng-utus Putra sebagai Gembala untuk mencari anak yang hilang itu. Selain itu, Bapalah yang mengutus Roh itu untuk mencari anak yang hilang ini. Karena itu, anak yang hilang itu tidak kembali kepada Bapa berdasarkan kekuatannya sendiri. Bapa mengutus Putra-Nya dan Roh-Nya untuk membuat anak yang hilang itu kembali.

Apakah Anda mengira bahwa Anda yang kembali kepada Allah? Anda mungkin berpendapat demikian, tetapi kembali-nya Anda kepada Allah itu adalah pekerjaan Allah yang mengembalikan Anda kepada diri-Nya. Allah telah membuat kita kembali kepada-Nya sebagai harta milik kita. Puji Dia karena Dia telah membuat kita kembali!

Kolose 1:12 mengatakan bahwa Bapa telah melayakkan kita untuk mengambil bagian dalam apa yang ditentukan bagi orang-orang kudus di dalam terang, dan Efesus 1:14 membicarakan tentang janji warisan kita. Sekarang, karena kita telah kembali kepada Allah sebagai bagian kita, kita memiliki Allah dalam Kristus sebagai warisan kita. Dalam Kisah Para Rasul 26:18 Paulus membicarakan tentang orang-orang yang telah jatuh dibawa kembali kepada Allah sebagai warisan mereka: ”Untuk membuka mata mereka, supaya mereka berbalik dari kegelapan kepada terang dan dari kuasa Iblis kepada Allah, supaya mereka oleh iman mereka kepada-Ku memperoleh pengampunan dosa dan mendapat bagian dalam apa yang ditentukan untuk orang-orang yang dikuduskan.” Warisan ilahi di sini adalah Allah Tritunggal itu sendiri dengan segala sesuatu yang Dia miliki, segala sesuatu yang telah dilakukan-Nya, dan segala sesuatu yang akan dilakukan-Nya bagi umat tebusan-Nya. Allah Tritunggal ini terwujud di dalam Kristus yang almuhit (Kol. 2:9), yang adalah bagian yang diundikan kepada orang-orang ku-dus sebagai warisan mereka. Roh Kudus, yang telah diberi-kan kepada orang-orang kudus, adalah pencicipan, agunan, dan garansi dari warisan ilahi ini (Rm. 8:23; Ef. 1:14), yang sedang kita alami dan nikmati hari ini di dalam yobel Perjanjian Baru Allah sebagai suatu pencicipan, dan akan di-alami serta dinikmati sepenuhnya pada zaman yang akan datang dan untuk selama-lamanya. Dalam lambang yobel dalam Imamat 25:8-13 salah satu berkat utamanya adalah setiap orang kembali kepada warisannya. Dalam penggenap-an yobel dalam Kisah Para Rasul 26:18, mendapatkan waris-an ilahi juga adalah berkat yang utama.

Percaya kepada Tuhan Yesus adalah dikembalikan kepada Allah sebagai warisan kita. Ketika seseorang bertobat kepada Allah, ia akan dikembalikan kepada Dia sebagai harta miliknya. Untuk memberitakan Injil secara demikian kita perlu memiliki kenikmatan yang memadai terhadap yobel Perjanjian Baru. Saya harap kita semua mau menikmati yobel ini dengan memadai. Kemudian sewaktu kita pergi memberitakan Injil, kita akan memberitakannya dengan cara mengumumkan yobel. Kita akan memberi tahu orang-orang bahwa mereka telah meninggalkan Allah sebagai harta milik mereka dan bahwa Dia ingin agar mereka di-kembalikan kepada-Nya. Kita dapat berkata kepada seseorang, ”Allah adalah harta milik Anda yang sejati, tetapi Anda telah meninggalkan Dia dan kehilangan Dia. Sekarang Dia ingin agar Anda dikembalikan kepada-Nya. Maukah Anda membiarkan Dia mengembalikan Anda kepada-Nya? Cara Allah membawa Anda kembali adalah dengan me-masukkan Anda ke dalam Kristus. Kristus adalah ”jumbo jet” yang membawa kita kepada Allah, dan sekarang adalah ”waktu naik pesawat”. Apakah Anda mau berangkat? Maukah Anda percaya Kristus supaya Dia membawa Anda kembali kepada Allah? Kami dapat bersaksi kepada Anda bahwa begitu Anda percaya Tuhan Yesus dan masuk ke dalam-Nya, Anda akan dibawa kembali kepada Allah sebagai harta milik Anda.”

Kita memuji Tuhan bahwa kita telah dibawa kembali kepada Allah sebagai harta milik kita! Kita juga telah dikembalikan kepada keluarga kita. Kita semua seperti anak hilang itu, yang kembali kepada bapa dan kepada keluarga-nya dan kemudian dapat menikmati bagiannya, warisannya. Sekarang setelah kita kembali kepada Allah, kita dapat menikmati Dia sebagai harta milik kita, sebagai bagian dan warisan kita, dan kita juga dapat menikmati kehidupan ke-luarga yang sejati di dalam rumah Allah.