← Daftar isi Lukas (3) · bab 15/29

YOBEL (2)

Pembacaan Alkitab: Im. 25:8-13, 23-24, 28, 39-41

Dalam berita sebelumnya kita sudah mulai membahas definisi yobel. Kita telah nampak bahwa kata ”yobel” adalah satu bentuk serapan dari kata Ibrani yobel, mengacu kepada bunyi terompet, khususnya tanda dari sebuah terompet perak; kata ini menyatakan alat tersebut dan festival yang ditandainya. Dalam berita ini kita akan membahas lebih lanjut definisi yobel.

BUNYI SANGKAKALA

PADA HARI RAYA PENDAMAIAN

Dalam memahami yobel, kita perlu dengan teliti membaca Imamat 25:8-10. Bunyi sangkakala itu mengumumkan yobel. Tetapi pada tahun apa dan pada hari apakah dari tahun itu sangkakala yobel itu diperdengarkan? Beberapa orang mungkin menjawab pertanyaan ini dengan berkata, ”Karena yobel adalah tahun kelima puluh, maka sangkakala yobel itu pasti diperdengarkan pada hari pertama dari tahun kelima puluh itu.” Jawaban ini mungkin beralas-an, tetapi jawaban ini menurut konsepsi alamiah. Kita tidak boleh membawa pemikiran alamiah kita ke dalam pembacaan Alkitab kita.

Jika kita membaca kitab Imamat dengan teliti, kita akan nampak bahwa setiap tahun ketujuh merupakan ta-hun sabat. Dalam satu tahun sabat tidak ada penaburan, tidak ada penuaian. Umat Israel tidak boleh bekerja, dan ta-nah pun tidak boleh digarap. Baik umat maupun tanah menikmati perhentian. Perhentian ini, sabat ini, adalah se-tiap tujuh tahun. Mengenai sabat, Imamat 25:8 mengatakan, ”Selanjutnya engkau harus menghitung tujuh tahun sabat, yakni tujuh kali tujuh tahun; sehingga masa tujuh tahun sabat itu sama dengan empat puluh sembilan tahun.” Imamat 25:9 mengatakan, ”Lalu engkau harus memperdengarkan bunyi sangkakala di mana-mana dalam bulan yang ketujuh pada tanggal sepuluh bulan itu; pada hari raya Pen-damaian kamu harus memperdengarkan bunyi sangkakala itu di mana-mana di seluruh negerimu.” Perhatikan ayat ini diawali dengan kata ”selanjutnya.” Kapankah ”selanjutnya” itu? Apakah pada tahun keempat puluh sembilan atau pada tahun kelima puluh?

Menurut Imamat 25:9, yobel diperdengarkan pada hari raya Pendamaian, yaitu pada hari kesepuluh dari bulan yang ketujuh. Sangkakala yobel perlu diperdengarkan pada hari raya Pendamaian karena yobel itu berdasar pada penebusan. Tanpa penebusan tidak mungkin ada yobel. Karena itu, pengumuman yobel harus dimulai dari waktu penebusan. Dalam perlambangan, hari atau waktu penebusan di-lambangkan oleh hari raya Pendamaian pada hari kesepuluh dari bulan yang ketujuh. Bulan ketujuh adalah bulan per-tama dari paruh kedua dari satu tahun. Mengenai bunyi sangkakala yobel ini, kita perlu bertanya apakah ini bulan ketujuh dari tahun keempat puluh sembilan atau dari tahun kelima puluh.

Imamat 25:10 berkata, ”Kamu harus menguduskan ta-hun yang kelima puluh, dan memaklumkan kebebasan di negeri itu bagi segenap penduduknya. Itu harus menjadi tahun Yobel bagimu, dan kamu harus masing-masing pulang ke tanah miliknya dan kepada kaumnya.” Menyucikan tahun yang kelima puluh adalah menguduskan tahun itu, dan memaklumkan kebebasan di seluruh negeri itu adalah mengumumkan kelepasan. Di sini kita nampak bahwa kebebasan ini, kelepasan ini, melibatkan pulangnya setiap orang kepada tanah miliknya dan kepada keluarganya. Ayat ini tidak membicarakan kembalinya harta seseorang, melainkan pulangnya seseorang kepada tanah miliknya.

Sekarang setelah kita membaca ayat-ayat penting ini, marilah kita mempelajari hubungan antara bunyi sang-kakala yobel pada hari kesepuluh dari bulan yang ketujuh dengan pengudusan tahun yang kelima puluh sebagai tahun Yobel. Imamat 25:9 menunjukkan bahwa tahun keempat puluh sembilan itu dibagi menjadi dua bagian masing-masing enam bulan. Di tengah-tengah tahun keempat puluh sembilan itu sangkakala yobel diperdengarkan pada hari raya Pendamaian. Tahun yang kelima puluh dimulai pada enam bulan kemudian. Jika sangkakala yobel diperdengarkan pada tahun kelima puluh dan bukan pada tahun keempat puluh sembilan, maka yobel dimulai enam bulan setelah tahun kelima puluh. Namun, situasinya bukanlah demikian. Berkebalikan dengan konsepsi alamiah kita, sangkakala yobel bukan diperdengarkan pada hari pertama dari bulan yang pertama dari tahun kelima puluh itu, melainkan diperdengarkan pada hari kesepuluh dari bulan yang ketujuh dari tahun keempat puluh sembilan. Ayat 8 membicarakan tentang empat puluh sembilan tahun; ayat 9 membicarakan tentang bunyi sangkakala pada hari kesepuluh dari bulan yang ketujuh; dan ayat 10 membicarakan tentang penyucian tahun yang kelima puluh. Dari hal ini kita nampak bahwa bunyi sangkakala diperdengarkan pada tahun keempat puluh sembilan, dan pengudusan, penyucian, bukanlah dari bulan yang ketujuh dari tahun keempat puluh sembilan itu, melainkan dari permulaan tahun kelima puluh. Ini berarti bunyi sangkakala itu merupakan satu persiapan, satu langkah pendahuluan bagi yobel.

Kita telah menunjukkan bahwa hari raya Pendamaian melambangkan waktu penebusan. Fakta bahwa sangkakala yobel diperdengarkan pada hari raya Pendamaian dan bahwa tahun kelima puluh dikuduskan dan kebebasan diumumkan di seluruh negeri itu menunjukkan bahwa Kristus pertama-tama perlu mati dan kemudian ada pengumuman kebebasan umat itu. Dengan kata lain, Kristus mati dahulu, kemudian baru ada pemberitaan Injil yang sejati. Injil tidak dapat diberitakan jika Kristus belum mati. Karena itu, pengu-muman, pemberitaan Injil berdasar pada kematian Kristus. Suara Injil tergantung pada penebusan Kristus. Tanpa pene-busan Kristus, tidak akan ada dasar bagi pengumuman yobel.

Menurut Imamat 25, bunyi sangkakala yobel terjadi pada enam bulan sebelum permulaan tahun yobel yang se-sungguhnya. Yobel dimulai pada bulan pertama dari tahun kelima puluh, tetapi bunyi sangkakala yobel berada di tengah-tengah tahun keempat puluh sembilan, enam bulan sebe-lumnya. Bila diterapkan pada pengalaman rohani kita, ini menunjukkan bahwa pemberitaan Injil datang terlebih dahulu baru yobel mengikutinya. Banyak dari antara kita dapat bersaksi bahwa dalam pengalaman kita terhadap ke-selamatan, kita lama telah mendengar pemberitaan Injil sebe-lum kita diselamatkan. Pemberitaan Injil datang kepada kita berkali-kali sebelum kita masuk ke dalam yobel itu.

Jika kita membaca Imamat 25:8-10 dengan teliti, kita akan nampak bahwa bunyi sangkakala selalu terjadi sebelum tahun Yobel. Ini berarti bunyi yobel diperdengarkan pada bulan ketujuh dari tahun keempat puluh sembilan sebagai satu persiapan bagi yobel, yang akan dimulai pada permulaan tahun berikutnya. Dimulai dengan bulan pertama dari tahun itu, maka tahun kelima puluh disucikan, dikuduskan, sebagai tahun Yobel.

Saya dapat bersaksi bahwa atas diri saya, suara Injil datang kepada saya sedikitnya delapan tahun sebelum saya masuk ke dalam yobel. Ketika saya masih kecil, saya telah mendengar pemberitaan Injil. Tetapi saya baru mengalami yobel ketika saya berumur sembilan belas tahun.

Banyak dari antara kita telah melalui satu periode persiapan untuk keselamatan sebelum kita menerima ke-selamatan itu dengan sesungguhnya. Apakah Anda melalui periode persiapan yang demikian sebelum Anda masuk ke dalam kenikmatan keselamatan, yaitu sebelum Anda masuk ke dalam yobel? Namun, ada beberapa kasus yang luar biasa. Ini adalah kasus orang-orang kudus yang masuk ke dalam yobel pada waktu pertama mereka mendengar Injil dan belajar tentang Tuhan Yesus. Tetapi tidak banyak kasus seperti ini. Orang-orang Kristen kebanyakan memiliki satu waktu persiapan terlebih dahulu dan mengalami yobel setelah mereka mendengar Injil terlebih dahulu.

Kebanyakan dari antara kita mendengar suara yobel Injil terlebih dahulu. Kemudian beberapa waktu setelah itu, kita menerima keselamatan Allah pada saat yang dikudus-kan, dan kita masuk ke dalam yobel. Ketika kita masuk ke dalam yobel, kita kembali kepada harta milik kita dan kepada keluarga kita; kita kembali kepada Allah sebagai harta milik kita dan kepada keluarga, rumah Allah.

MENGUMUMKAN KEBEBASAN

Kebebasan Tanah yang Dijual kepada Pemiliknya Sendiri

Jika kita ingin memahami definisi tentang yobel, kita perlu nampak bahwa yobel berarti pengumuman kebebasan atau kemerdekaan. Pertama, yobel adalah pengumuman ke-bebasan tanah yang telah dijual kepada pemiliknya yang semula. Mengenai hal ini, Imamat 25:13 mengatakan, ”Dalam tahun Yobel itu kamu harus masing-masing pulang ke tanah miliknya.” Dalam ayat ini kita nampak bahwa kebebasan ini sebenarnya bukanlah kebebasan dari tanah itu kepada pemiliknya; melainkan dari pemilik kepada tanahnya sendiri. Menurut ketentuan Tuhan, tanah tidak untuk dijual selamanya tetapi dapat ditebus: ”Tanah jangan dijual mutlak, karena Akulah pemilik tanah itu, sedang kamu adalah orang asing dan pendatang bagi-Ku. Di seluruh tanah milikmu haruslah kamu memberi hak menebus tanah” (Im. 25:23-24). Mengenai kelepasan tanah yang telah dijual, Imamat 25:28 selanjutnya berkata, ”Tetapi jikalau ia tidak mampu untuk

mengembalikannya kepadanya, maka yang telah dijualnya itu tetap di tangan orang yang membelinya sampai kepada tahun Yobel; dalam tahun Yobel tanah itu akan bebas, dan orang itu boleh pulang ke tanah miliknya.”

Kebebasan Budak yang Dijual dari Perbudakannya

Tahun Yobel bukan hanya merupakan satu pengu-muman kebebasan tanah yang dijual, melainkan juga ke-bebasan orang yang menjual dirinya sendiri ke dalam per-budakan. Imamat 25:39-41 membicarakan tentang hal ini, ”Apabila saudaramu jatuh miskin di antaramu, sehingga menyerahkan dirinya kepadamu, maka janganlah memper-budak dia. Sebagai orang upahan dan sebagai pendatang ia harus tinggal di antaramu; sampai kepada tahun Yobel ia harus bekerja padamu. Kemudian ia harus diizinkan keluar dari padamu, ia bersama-sama anak-anaknya, lalu pulang kembali kepada kaumnya dan ia boleh pulang ke tanah milik nenek moyangnya.”

PADA TAHUN KELIMA PULUH

Setelah Tujuh Tahun Sabat

Yobel, tentunya, terjadi pada tahun kelima puluh. ”Tahun yang kelima puluh itu harus menjadi tahun Yobel bagimu” (Im. 25:11a). Tahun kelima puluh adalah setelah tujuh tahun sabat, yaitu setelah tujuh kali tujuh tahun. Dalam perlambangan sabat mengacu kepada perhentian. Maka tujuh tahun sabat menandakan tujuh kali tujuh perhentian.

Tahun Yobel terjadi pada permulaan dari satu periode yang baru dari tujuh tahun, atau pada tahun yang kedelapan. Sama seperti hari Pentakosta adalah pada hari kelima puluh, hari pertama setelah tujuh minggu, demikian juga tahun Yobel terjadi pada tahun kelima puluh, tahun pertama setelah tujuh minggu, tujuh tahun sabat. Dalam Kitab Suci, hari kedelapan melambangkan kebangkitan. Tuhan Yesus bangkit pada hari kedelapan, yang adalah hari pertama dari minggu itu. Fakta bahwa tahun Yobel terjadi pada tahun kelima puluh menunjukkan bahwa perhentian demi perhentian itu berakhir dalam kebangkitan. Sekarang dalam yobel Perjanjian Baru kita telah masuk ke dalam perhentian demi perhentian yang berakhir dalam kebangkitan.

Beberapa orang mungkin menyatakan telah berada di dalam yobel, tetapi mereka tidak memiliki banyak per-hentian, dan mereka tidak berada dalam kebangkitan. Sebaliknya, mereka berada dalam hayat alamiah. Selama kita masih hidup dalam hayat alamiah, kita tidak berada dalam yobel. Yobel datang setelah tujuh tahun sabat dan pada tahun kelima puluh. Ini berarti yobel datang setelah perhentian dan berada dalam kebangkitan.

Jika kita ingin menikmati yobel, kita perlu berada pada tahun kelima puluh. Ini menuntut semua hal dari hayat insani kita, seperti pendidikan kita, perlu dianggap sebagai butir dari tujuh tahun sabat yang lalu. Kemudian ketika kita berada dalam tahun kelima puluh, kita akan berada dalam yobel.

Empat puluh sembilan tahun sebelum yobel, orang-orang Israel menjual tanah mereka dan menjual diri mereka sendiri. Demikian juga, dalam pengalaman kita selama tujuh tahun sabat yang lalu, kita menjual harta milik kita dan bahkan menjual diri kita sendiri. Tetapi ketika tahun kelima puluh tiba, tidak ada lagi penjualan yang demikian; tetapi segala sesuatu berada di dalam kebangkitan. Hal-hal yang usang telah berlalu, dan sekarang segala sesuatu menjadi baru. Dalam perkataan Paulus, ”Jadi, siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: Yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang” (2 Kor. 5:17).

Pada Hari Kesepuluh dari Bulan yang Ketujuh

Kita telah nampak bahwa menurut Imamat 25:9, pengumuman yobel terjadi pada hari kesepuluh dari bulan yang ketujuh, pada hari raya Pendamaian. Ini menunjukkan bahwa yobel berdasar pada penebusan penuh Allah di dalam Kristus.

Tidak Menabur, Menuai, atau Memetik,

Tetapi Makan Hasil Tanah

Mengenai tahun yobel, Imamat 25:11b-12 mengatakan, ”Jangan kamu menabur, dan apa yang tumbuh sendiri da-lam tahun itu jangan kamu tuai, dan pokok anggur yang tidak dirantingi jangan kamu petik buahnya. Karena tahun itu adalah tahun Yobel, haruslah itu kudus bagimu; hasil tahun itu yang hendak kamu makan harus diambil dari ladang.” Di sini terdapat permintaan yang tidak lazim bahwa pada tahun Yobel umat itu tidak boleh menabur, menuai, atau memetik, tetapi makan hasil tanah itu. Ini bukan berarti kita harus menikmati kekayaan Kristus tanpa melakukan suatu pekerjaan. Pemahaman yang demikian sesuai dengan pemikiran alamiah. Di sini perkataan tidak menabur, tidak menuai, atau memetik menandakan bahwa kita tidak boleh berjerih lelah di atas diri Kristus dengan cara alamiah atau dengan kekuatan alamiah kita.

Dalam agama mana pun orang-orang didorong untuk berusaha bertingkah laku, memperbaiki dan melakukan kebaikan. Ini adalah ”menabur,” ”menuai,” dan ”memetik.” Tetapi menurut ketentuan Allah, di dalam yobel Perjanjian Baru, kita harus berhenti dari jerih lelah kita dan tidak bersandar kepadanya dalam hubungannya dengan kenikmat-an terhadap Kristus. Kita tidak berjerih lelah dengan cara alamiah melalui penaburan, penuaian, dan pemetikan kita, melainkan kita harus dengan sederhana menikmati kekaya-an Kristus.

TAHUN YOBEL

Imamat 25:10 membicarakan tentang penyucian tahun kelima puluh. Di sini kita nampak bahwa tahun Yobel adalah suatu tahun yang kudus, suatu tahun yang disucikan bagi Allah dan juga bagi kita. Di tempat lain, tahun Yobel disebut tahun rahmat Tuhan. Menurut Lukas 4:18-19, Tuhan Yesus di dalam rumah ibadat membaca dari Yesaya 61:1-2: ”Roh Tuhan ada padaku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku, untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.” Tahun rahmat adalah tahun di mana Tuhan menerima umat-Nya yang telah hilang dan yang kembali kepada-Nya. Karena itu, pada pihak Tuhan tahun rahmat adalah tahun perkenan.

Tahun Yobel adalah tahun yang kudus dan juga tahun rahmat. Ini adalah tahun pengumuman kemerdekaan bagi semua orang, dan tahun ini merupakan waktu kebebasan, perhentian, kenikmatan, dan kepuasan.

Kita telah menunjukkan dalam berita lainnya dalam Pelajaran-Hayat ini bahwa pengumuman yobel oleh Tuhan Yesus dalam Lukas 4 mengendalikan seluruh Injil Lukas ini. Sebenarnya seluruh zaman Perjanjian Baru adalah yobel. Zaman Perjanjian Baru adalah waktu pengumuman kebebas-an bagi semua orang yang telah kehilangan harta milik mereka dan yang telah menjual diri mereka sendiri kepada perbudakan. Hari ini pengumuman Injil adalah membawa orang-orang kembali kepada harta milik mereka dan kepada keluarga mereka — kembali kepada Allah dan kepada keluarga, rumah Allah.

Dalam berita ini dan dalam berita sebelumnya kita telah memberikan suatu definisi tentang yobel. Definisi ini ber-dasar pada gambaran yang diberikan dalam Imamat 25. Dalam berita selanjutnya kita akan membahas penerapan yobel dalam Perjanjian Baru.