Bab 14
Memasuki Tanah Permai
Pembacaan Alkitab :
Yosua 1:1-6; 4:1-3, 8-9; 5:2, 7-15; 6:1-11, 15-16, 20;
Kolose 2:12; 3:13; Efesus 6:12, 13; II Korintus 103-5.
Sekarang kita telah siap untuk memasuki tanah permai. Kita telah menikmati anak domba Paskah di Mesir, kita telah meninggalkan Mesir dan menyeberangi Laut Merah, kita pun telah menikmati Kristus sebagai manna harian dan batu karang yang mengalirkan air hidup, serta telah mengalami Kristus sebagai Tabut Perjanjian, yaitu kesaksian Allah. Hingga tahap ini kita lalu dibangun bersama menjadi perluasan dan manifestasiNya, yaitu menjadi Kemah Pertemuan. Kita tidak saja ada Kemah Pertemuan, kita sendiri bahkan adalah Kemah Pertemuan itu. Kita adalah perluasan dan pertambahan Kristus. Kita terbangun bersama-sama, berdiri di atas dasar yang kokoh dari penebusanNya, dan dinaungi oleh kepenuhan Kristus. Kita menjadi sangat perkasa lagi teguh. Kita di dalam Kristus adalah satu, Dia adalah ekspresi Allah. Selain itu, kita pun mengetahui bagaimana menikmati Kristus sebagai berbagai korban. Karenanya, kita mempunyai sistem imamat, bahkan kita pun menjadi imam. Lagi pula, kita tersusun menjadi pasukan tentara di bawah sistem imamat, yaitu sepasukan tentara milik Allah, yang berperang demi tanah permai. Kita sudah siap sedia untuk berperang dan mengalahkan musuh-musuh. Melalui menikmati Kristus sebagai segala sesuatu, maka pasukan tentara TUHAN sudah siap berperang.
Saudara saudari, setelah kita mengalami semuanya itu, masih ada sesuatu yang ajaib di hadapan kita, yaitu tanah permai, Kristus yang almuhit. Kita mulai dari seekor anak domba kecil, dan terakhir tiba pada tanah Kanaan, yakni Kristus yang almuhit. Tanah itu masih berada di hadapan kita! Kita telah menikmati Kristus, kita telah memperoleh Kristus, dan kita pun telah memiliki Kristus, itu tidak usah diragukan, bahkan kita tetap menikmati Kristus. Tetapi masih ada Kristus lebih banyak di hadapan kita. Satu Kristus yang lebih besar sedang menantikan kita untuk diperoleh, sebab sasaran yang Allah bentangkan di hadapan kita adalah Kristus yang almuhit. Kita harus mencapai sasaran itu.
MELALUI MENERIMA FIRMAN ALLAH
Misalkan kita telah siap untuk memasuki tanah itu, dan telah tersusun menjadi sepasukan tentara, maka kita sekarang adalah tentara TUHAN yang mulia, ilahi, dain sorgawi. Apakah yang harus kita lakukan? Pertama, kita harus menerima firman Allah. Allah berkata kepada Yosua, "Sebab itu bersiaplah sekarang, seberangilah sungai Yordan ini, engkau dan seluruh bangsa ini, menuju negeri yang akan Kuberikan kepada mereka, kepada orang Israel itu. Setiap tempat yang akan diinjak oleh telapak kakimu Kuberikan kepada kamu... " Allah telah memberi janji, tapi kita harus pergi untuk memperolehnya. Dia telah mengaruniakannya kepada kita, sekarang kita harus pergi untuk mengalaminya. Ini memang bagian kita, namun kita harus pergi menerimanya. Kita harus beriman; kita wajib memiliki keyakinan pasti, dan bukti yang sepenuhnya. Walaupun sekarang kita belum beroleh, tetapi Ia menghendaki kita pergi untuk memperolehnya, Ia menghendaki kita mendudukinya. Kita harus percaya dan bekerja sama dengan Dia. Maukah kita berbuat demikian? Marilah kita bersiap hari ini untuk pergi mendapatkan tanah itu.
Puji Allah, tanah itu milik kita! Marilah kita memperolehnya, tidak usah menunggu esok, melainkan hari ini juga! Sekali-kali jangan berkata "besok saja". Hati yang tidak beriman setalu menunggu besok, besok, dan besok. "Besok" adalah milik Iblis! Hati yang beriman tidak ada besok; melainkan selalu hari ini. "Hari ini milik kita! Saudara saudari, kita mengambilnya hari ini juga. Inilah hal pertama yang harus kita lakukan. Kita harus berdiri di atas firman Allah, kita harus memanfaatkan firman Allah, untuk pergi memperoleh tanah itu.
MELALUI MENGENAL BAHWA
KITA TELAH DIKUBUR
Kedua, kita orang-orang yang telah diselamatkan dan sedang menikmati Kristus, harus nampak bahwa kita sendiri telah disalibkan. Kita telah mati, bahkan telah dikubur! Dalam sebuah kidung kita terdapat satu kalimat yang sangat baik untuk menyatakan fakta ini :
Dikubur dan bangkit bersama,
Bagiku tiadalah tersisa .........
Kita telah dikubur bersama dengan Kristus, kita telah habis dan tamat! Apakah Anda nampak betapa besarnya kata "telah dikubur" ini? Paling baik Anda dapat menulis kata-kata ini dengan huruf besar dan kemudian menggantungnya di atas dinding kamar Anda --- "SUDAH DIKUBUR". Dan gantungkan pula pada dinding ruang makan, serta ruang tamu, bahkan di dapur. Di mana pun ada kalitnat "SUDAH DIKUBUR" Sudah dikubur! Ya, sudah dikubur! Saya sungguh senang melihat ada satu keluarga yang menghias rumahnya demikian. Setelah dikubur, maka akan ada perhentian yang sepenuhnya. Apakah Anda memiliki perhentian yang lebih baik daripadanya? Itulah sebabnya Allah membawa bani Israel menyeberangi sungai Yordan. Sungai Yordan merupakan tempat mereka dikubur.
Ketika bani Israel keluar dari Mesir, mereka menyeberangi Laut Merah, yang melambangkan pembaptisan. Kini di sungai Yordan mereka melalui sebuah sungai lagi. Itu merupakan satu ingatan kembali dari Laut Merah. Ketika kita menerima Kristus sebagai Juruselamat kita, gereja membaptiskan kita, dan kita telah dikubur. Akan tetapi sayang sekali, tak lama kemudian kita melupakannya; kita keluar lagi dari dalam kubur. Saya tidak mengatakan kita bangkit dari kematian, melainkan keluar dari kubur. Bahkan ada yang dengan meronta-ronta kembali ke Mesir. Kini, karena kita telah mengalami Kristus sebanyak itu dan karena kita telah memiliki Kristus sebagai inti kesaksian Allah, dan dibangun bersama-sama menjadi Kemah Pertemuan sebagai manifestasi Kristus, dan memiliki sistem imamat serta pasuka.n Allah, bahkan telah siap sedia untuk memperoleh tanah itu, maka Allah menghendaki kita membuat satu peringatan yakni mengingatkan bahwa kita telah dikubur. Sejak saat ini kita selamanya tidak boleh melupakan bahwa kita telah dikubur.
Laut Merah dan sungai Yordan melambangkan satu perkara yang sama; kematian Kristus. Di laut Merah tentara-tentara Mesir terkubur di dalamnya, dunia dan segala kekuasaannya telah terkubur di situ. Pernahkah Anda sadari, ketika Anda dibaptis dan dikubur, banyak perkara dan manusia turut terkubur bersama Anda? Di tempat kelahiran saya ke luar, bila seseorang telah mati dan akan dikubur, maka orang-orang menguburnya bersama segala yang dimilikinya. Demikian pula, dalam pandangan Allah, ketika kita dikubur, segala yang kita sayangi, dan segala yang menjadi dunia kita, telah dikubur bersama kita. Segala yang dahulu mengikat kita, semua tentara Mesir, kekuasaan dunia, telah dikubur. Itulah realitas dari laut Merah. Kini, pada sungai Yordan, Allah ingin mengingatkan kita sekali lagi, tidak saja kekuasaan dunia telah dikubur, bahkan diri kita pun telah dikubur. Kita sendiri telah dikubur!
Menyeberangai sungai Yordan merupakan sebuah lukisan yang indah dan mulia. Tabut Perjanjian dan para imam terlebih dahulu menginjakkan kaki mereka ke dalam sungai itu, bahkan berhenti di dalam atau di tengah-tengah sungai. Hal ini sangat bertnakna. Kita telah nampak, Tabut Perjanjian adalah Kristus Tuhan, kesaksian Allah. Kristus dan para imam masuk ke tempat inti dari sungai kematian itu, kemudian baru diikuti oleh seluruh umat. Sdurub. umat turun ke dasar sungai, dan semua melalui tempat inti ini. Allah lalu menyuruh mereka memilih dua belas orang, yaitu dari kedua belas suku Israel masingmasing dipilih seorang, dan setiap orang itu mengambil sebuah batu dari dalam dasar sungai, dan membawanya ke seberang sungai Yordan, yaitu ke tanah permai. Itu melambangkan kebangkitan.
Semua orang yang masuk ke tanah Kanaart adalah orang- orang yang telah dibangkitican. Mereka adalah manusia baru, bukan manusia usang. Mereka adalah orang yang telah bangkit, bukan yang alamiah. Hanya orang yang telah bangkit yang dapat masuk dan memperoleh Kristus yang almuhit. Kristus tidak disediakan bagi manusia alamiah. Kita hanya dapat menikmati Kristus sebagai Sang Almuhit jika kita berada di atas posisi kebangkitan. Saudara saudari, kita telah dibangkitan! Kita telah dikubur, kini telah dibangkitkan! Sekarang kita berada di dalam Kristus!
Setelah itu, Yosua melakukan satu perkara lagi untuk mengingatkan mereka akan fakta ini. Ia mengambil batu lebih banyak; tiap suku satu batu, diletakkan di tengah-tengah sungai Yordan, yaitu tempat di mana Tabut Perjanjian bertumpu. Ia mengubur batu-batu itu di sana menjadi satu peringatan bagi penguburan bani Israel. Dalam pandangan Allah, seluruh bani Israel telah dikubur di dalam sungai Yordan. Ini berarti dalam pandangan Allah kita telah dikubur dalam kematian Kristus.
Setelah ini selesai, Tabut Perjanjian dan para imam keluar dari sungai Yordan. Setelah kita diletakkan ke dalam maut, Kristus lalu keluar dari dalam maut. Kristus terlebih dulu masuk ke dalam maut, dan paling akhir keluar dari maut. Dia yang pertama masuk, dan yang terakhir keluar. Sedangkan kita yang terakhir masuk, tapi yang pertama keluar. Kristus telah merampungkan kematian, dan kematian itu menaungi kita. Kita semua telah mati! Kita semua dikubur bersama Kristus! Kita dapat berkata, Maleluya, kita telah dikubur! Sekarang kita berada di atas posisi kebangkitan! Sekarang kita berada di Kanaan! Sekarang kita berada di dalam Kristus, yaitu tanah permai itu!"
MELALUI MENERAPKAN KEMATIAN KRISTUS
Ketiga, karena kita percaya telah disalib bersama Kristus, dan telah dikubur, maka kita harus menerapkan kematian ini ke atas diri kita. Karenanya, kita harus disunat. Ini berarti menerapkan kematian Kristus ke atas daging kita. Jika kita nampak kita telah dikubur dan dibangkitkan bersama Kristus, haruslah kita meletakkan daging kita ke dalam kematian. Kita wajib menerapkan kematian Kristus ke atas anggota tubuh daging kita. Itulah sunat. Inilah yang harus kita praktikkan setiap hari. Kita wajib setiap hari berdiri di atas posisi ini : kita telah mati, dikubur, serta menerapkan kematian Kristus ke atas anggota tubuh kita. Kita tidak saja harus menerapkan kematianNya ke atas segala lingkungan kita, bahkan menerapkan kematianNya setiap saat ke atas anggota tubuh kita. Meletakkan anggota-anggota tubuh ke dalam kematian.
Dalam Kolose 2, kita nampak bahwa kita telah dikubur dan dibangkitkan bersarna Kristus. Kemudian, pada pasal 3, hidup kita tersembunyi bersama Kristus di dalam Allah. Berdasarkan inilah maka Kolose 3:5 mengatakan, "Karena itu matikanlah anggota tubuhmu yang di bumi" (Tl). kka kita nampak kita telah dikubur dan dibangkitkan bersama Kristus, maka pada aspek pelaksanaannya, kita harus dengan iman menerapkan kematianNya ke atas anggota tubuh kita yang karnal itu.
MELALUI MENIKMATI HASIL BUMI TANAH ITU
Keempat, kalau kita berdiri pada tumpuan dikubur dan dibangkitkan bersama Dia, menerapkan kematianNya ke atas anggota tubuh kita, maka kita akan segera menikmati sesuatu yang mengandung kehidupan. Kita akan menikmati hasil dari tanah itu, yaitu Kristus yang almuhit. Manna telah berakhir, dan hasil bumi tanah itu sebagai gantinya. Kristus yang besar menggantikan Kristus yang kecil. Sebelumnya kita selalu menikmati Kristus yang kecil saja -- manna. Tetapi saat ini Kristus yang kecil telah berhenti, dan kini kita mengecap Kristus yang lebih besar, lebih kaya, dan lebih sempurna. Sekarang kita sedang menikmati tanah ini, Kristus yang almuhit.
Saudara saudari, kalian sekarang menikmati apa, manna atau tanah permai? Sudah pasti kita semua menikmati Kristus, tapi Kristus yang bagaimana? Mungkin banyak yang hanya menikmati Kristus sebagai anak domba Paskah. Atau sebagian besar menikmati Dia sebagai manna harian. Tetapi hasil tanah itu jauh lebih indah daripada manna. Apakah pengalaman Anda? Boleh jadi ada yang berkata bahwa pertanyaah ini sulit dijawab. Adakalanya Anda menikmati Kristus sebagai manna, adakalanya Anda seolah-olah menikmati Dia sebagai hasil tanah itu. Benar tidaknya Anda menikmati Dia sebagai hasil tanah itu sangat bertalian dengan penguburan Anda. Berapa banyak pengenalan Anda terhadap penguburan Anda, dan apakah Anda telah berdiri di atas posisi kebangkitan?
Baiklah saya jelaskan dengan suatu contoh : Misalkan pagi tadi saya bertemu dengan seorang yang sangat aneh. Orang ini selalu membuat saya mengalami kehidupan kebangkitan. Allah telah menciptakan orang itu, dan dalam hikmat kekuasaanNya Ia membawanya kepada saya. Allah tahu mengapa saya memerlukannya. Untuk menghadapinya, setiap hari saya perlu kuat kuasa kebangkitan. Misalkan pagi ini orang tersebut sangat aneh dan sangat mengganggu saya. Saya sangat tidak senang terhadapnya, dan menjadi marah-marah karenanya. Lalu, ketika saya masuk ke dalam kamar, saya merasa tertegur dalam hati nurani, dan saya segera mohon Tuhan mengampuni saya. Saya berdoa, "Tuhan, ampunilah saya! Saya telah gagal, saya telah dikalahkan. Tapi saya mernuji kepadaMu, Tuhan, saya telah menerima pencucian darahMu yang adi!" Setelah mengaku dosa dan beroleh ampunan, saya pun beroleh suplai; saya telah menikmati Kristus. Kenikmatan macam apakah itu? Itu adalah kenikmatan atas Kristus sebagai manna yang sedikit. Saya telah menikmati manna.
Misalkan, hari lainnya orang tadi datang merepotkan saya lagi, saya diganggu lagi olehnya. Tetapi, kali ini saya telah berdiri di atas tumpuan kebangkitan, saya berkata, "Tuhan, saya sudah dibangkitkan! Di atas tumpuan kebangkitan ini saya menerapkan roh saya untuk mematikan anggota tubuh saya". Dengan demikian, saya tak marah-marah lagi terhadapnya, malahan saya sangat bersukacita di dalam Tuhan. Saya dapat berkata, "Haleluya! Tuhan, saya memujiMu karena kedatangan saudara yang aneh ini!" Saya menerapkan kematian Tuhan ke atas anggota tubuh yang marah-marah terhadap orang itu, maka saya beroleh satu pengalaman dan kenikmatan yang segar atas Kristus. Pengalaman macam apakah ini? Ini jauh berbeda dengan mengalami Kristus sebagai manna. Ini adalah mengalami Kristus sebagai hasil tanah itu. Lihatlah, keduanya itu sama-sama mengalami Kristus, tapi Kristus yang beraspek lain. Kalau yang pertama adalah kenikmatan atas Kristus yang kecil, maka yang kedua adalah kenikmatan atas Kristus sebagai hasil yang kaya dari tanah itu.
MELALUI PEPERANGAN
Kelima, kita tidak saja harus ingat bahwa kita telah dikubur, telah berdiri di atas posisi kebangkitan, dan pada aspek pelaksanaannya telah menerapkan kematian Kristus ke atas anggota tubuh kita; kita masih perlu ingat, bahwa di angkasa terdapat kekuasaan jahat, dan kita harus berperang melawan musuh. Walaupun kita berada pada kenikmatan atas Kristus yang almuhit, tetapi musuh dan kekuasaannya yang jahat tetap menduduki tanah itu. Anda dan saya harus berperang untuk memperoleh seluruh tanah itu.
Saudara saudari, taticala kita menikmati Kristus sedemikian, kita akan menyadari dalam roh adanya kekuasaan jahat yang di angkasa itu. Kekuasaan jahat tersebut bahkan menutup mata anak-anak Allah dari hal kealmuhitan Kristus. Tidak banyak anak-anak Allah yang dapat mengalami kealmuhitan Kristus, itu dikarenakan dakwaan-dakwaan dari kekuasaan jahat yang di angkasa. Hingga hari ini, kekuasaan jahat masih terus menutup-nutupi sifat kealmuhitan Kristus itu. Karenanya kita harus berperang. Di sini terdapat satu peperangan rohani yang sesungguhnya yang harus kita ikuti. Melalui kenikmatan atas Kristus yang almuhit, baru kita berbeban untuk ambil bagian dalam peperangan ini, dan berperang deminya. Karena alasan itulah, kita telah disusun menjadi pasukan tentara. Peperangan justru ada di hadapan kita.
Sampai tahap ini, baru kita narnpak satu visi yakni Kristus adalah Raja dari pasukan tentara Yehovah, Panglima yang mulia. Dia memegang tampuk pimpinan dalam pasukan tentara. Dia akan berjalan di depan kita; dan Dia akan berperang bagi kita. Kita perlu satu visi yang demikian. Bagaimana Yosua dapat melihat visi ini? Tak lain karena ia berbeban sekali atas peperangan yang terbentang di hadapannya. Setelah ia bersama bani Israel menikmati hasil tanah permai, ia segera nampak musuh dan negeri Yerikho yang kukuh terbentang di hadapannya. Situasi itu terlihat jelas sekali oteh Yosua. Karena ia berbeban untuk berperang deminya. Saya percaya ia pasti berdoa di hadapan Allah untuk itu. Justru pada saat itulah Allah menyatakan diri kepadanya, memperlihatkan Sang Panglima dari pasukan tentara Yehovah. Setelah narnpak visi ini, Yosua beriman dan mempunyai bukti pasti, bahwa Allah akan menyertainya. Yosua mengetahui tanpa ragu sedikit pun, bahwa Allah sendiri telah menjadi Panglima pasukan tentaraNya, dan berjalan di departnya. Kita pun perlu memiliki bukti pasti yang serupa.
Ada sementara orang dapat bersaksi melalui pengalamannya sendiri. Setelah ia menikmati sedikit kealmuhitan Kristus, maka segera terasa perlunya menghadapi peperangan rohani. Mereka telah nampak betapa musuh-musuh di angkasa serta kekuasaannya masih menduduki tanah permai yang melambangkan Kristus yang almuhit, dan menutupinya dari anak-anak Allah. Siapa yang mau berperang agar tanah ini tertampakkan? Jika kita menikinati Kristus sedemikian, dengan sendirinya kita akan datang ke hadapan Allah dengan membawa beban peperangan itu. Saat itulah Ia akan memberi kita satu visi, bahwa Dia sendiri yang menjadi panglima kita. Dia akan menunjukkan kepada kita, bahwa Dialah yang memimpin dan berperang bagi kita. Dengan demikian kita dapat maju ke depan dengan penuh keyakinan.
BAGAIMANA BERPERANG
Sekarang kita tiba pada tahap yang terakhir. Bagaimana kita berperang? Peperangan ini sama sekali tidak menggunakan senjata-senjata daging. Senjata peperangan kita ialah tanduk kambing. Memang kita berperang, tapi kita membawa senjata perdamaian. Tanduk kambing adalah tanda kita berperang dengan senjata perdamaian; benda itu bukan pedang yang dibuat dari besi baja. Tanduk kambing tak dapat digunakan untuk membunuh orang, tapi itu adalah senjata untuk berperang. Itu dipakai untuk sangkakala yang memproklamirkan Injil. perdamaian. Itu adalah senjata peperangan rohani yang harus kita pakai. Peperangan kita adalah demi memproklamirkan Kristus!
Bagaimana kita berperang dengan meniup sangkakala itu? Sungguh aneh sekali. Sekelompok tentara berjalan di depan. Di belakangnya ada tujuh imam yang mengangkat Tabut Perjanjian, dan mereka diikuti oleh sekelompok tentara. Dengan kata lain, di depan dan di belakang ada tentara, dan di tengah-tengah ada Tabut perjanjian serta imam-imam yang meniup sangkakala tanduk kambing. Mereka berjalan mengelilingi kota Yerikho. Para imam berjalan sambil meniup sangkakala. Ini sungguh sebuah lukisan yang mulia. Semua penduduk kota itu sangat takut, sehingga gerbang kota ditutup rapat-rapat, tiada orang yang masuk maupun ke luar dari kota.
Tentara Allah sebanyak kurang lebih enarn ratus ribu orang, mereka mengitari kota dan membunyikan sangkakala setiap hari. Didahului dengan sebagian tentara, diikuti dengan para imam yang meniup sangkakala, kemudian baru Tabut Perjanjian, terakhir diikuti lagi dengan tentara. Itulah cara mereka berperang. Banyak orang di Yerikho yang menertawai mereka, sebab mereka tak pernah melihat cara berperang yang berbeda dengan cara duniawi itu. Mereka setiap hari mengelilingi kota itu satu kali, selama enam hari. Pada hari ketujuh mereka tetap mengitarinya sesuai dengan pesan Allah.
Di sini kita harus memperhatikan, Yosua berpesan kepada semua umat, "Janganlah bersorak dan janganlah perdengarkan suaramu, sepatah kata pun janganlah keluar dari mulutmu sampai pada hari aku mengatakan kepadamu : Bersoraklah! maka kamu harus bersorak". Mereka harus menunggu sampai putaran terakhir, dan mendengar bunyi panjang dari sangkakala, baru boleh bersorak; sebelum waktu itu mereka harus tenang. Apakah artinya? Itu berarti jika kita menyaksikan Kristus yang menang, sering kali kita harus tenang, dan harus membiarkan para imam meniup sangkakala. Kita perlu sistem imamat.
Kini Anda tahu apakah sistem imamat itu. Kita tak boleh sembarangan mengeluarkan suara, tak boleh berkata "0, kita berada di atas tumpuan gereja! 0, kita adalah gereja lokal! kita adalah ini, kita adalah itu!" Kalau Anda mengatakannya dengan ringan, maka sistem immat akan lenyap. Kita harus membiarkan sistem imamat meniup sangkakala, tidak boleh ada suarasuara yang lain. Setelah saatnya tiba, yaitu pada waktu yang ditentukan Tuhan, Anda dan saya harus bersorak. Kita dengan suara besar berdoa dan memuji, musuh-musuh akan tersungkur di hadapan kita. Itulah cara kita berperang.
Apakah peperangan semacwn ini suatu jerih payah atau suatu kenikmatan? Ini sesungguhnya bukanjerih payah, melainkan suatu kenikmatan. Bahkan inilah suatu perhentian dan kepuasan. Ini memang suatu peperangan, tapi ini pun suatu kenikmatan, perhentian dan kepuasan. Dengan cara demikianlah kita memperoleh Kristus yang almuhit.
Akan tetapi, harus kita ingat, jika Anda dan saya masing-masing sebagai manusia individu yang terpisah, tidak mungkin hal ini terjadi. Kita harus selalu berpegang pada tumpuan pasukan tentara. Dengan status individu, kita sekali-kali tidak mungkin memperoleh Kristus yang almuhit. Kita hanya dapat mengenal dan memperoleh kepanjangan, kelebaran, kedalaman, dan ketinggian Kristus yang almuhit bersama seluruh kaum saleh. Untuk memperoleh tanah itu kita harus tersusun dan bersatu dengan segenap kaum saleh menjadi pasukan Allah.
Kita pun perlu ingat, bahwa musuh kita bukanlah manusia yang bersifat daging, melainkan pasukan tentara rohani, penguasa-penguasa di angkasa. Banyak orang yang menentang kita, tetapi mereka bukan musuh kita, musuh kita adalah kekuatan-kekuatan jahat yang menguasai mereka, dan kuasa-kuasa yang berada di belakang mereka. Kita bukan berperang dengan manusia, melainkan dengan kekuasaan yang bersembunyi di belakang mereka. kka kita setia kepada Tuhan, berdiri di atas tumpuan kebangkitan, dan tersusun menjadi tentara yang berperang bagiNya, maka kita perlu bersiap menerima cemooh-cemooh terhadap kita yang tersiar di sekitar kita. Kita harus siap menghadapi banyak tantangan. Semua orang Yerikho akan mempergunjingkan masalah orang Israel. Tetapi terpujilah Tuhan, setelah kita mendengar laporan-laporan tersebut kita boleh bergembira, sebab itulah tanda-tanda dari kepastian kemenangan kita. Dan itulah isyarat bahwa musuh sedang gentar ketakutan, dan kekalahannya telah ditetapkan.
Yerikho pasti runtuh di hadapan kita. Haleluya! Jika saya pergi ke suatu tempat di mana tidak terdengar orang lain mempergunjingkan kita, dan tidak terdapat cemooh-cemooh apa pun, saya sangat kuatir. Tetapi jika ada omongan-omongan, kritik-kritik, dan isu-isu, saya malah sangat gembira. Semakin saya mendengar semua itu, saya semakin kembali ke hadapan Tuhan dan memuji Dia, "Tuhan semua itu adalah isyarat; ya, isyarat bahwa kami pasti menang!" Janganlah kita takut terhadap katakata yang tolol, isu-isu yang ngawur, dan fitnah-fitnah itu. Itu adalah suatu isyarat yang menunjukkan bahwa kemenangan adalah milik kita. Puji Tuhan!
Musuh kita bukan berada di bumi, tetapi di angkasa. Karenanya jangan kita menggunakan senjata daging. Kita tidak boleh berbantah-bantah dengan orang; jangan turun ke posisi mereka dan terkena siasat mereka. Senjata kita adalah yang rohani. Apakah itu? Itulah bunyi sangkakala tanduk karnbing. Marilah kita meniup sangkakala tanduk kambing. Marilah kita memproklamirkan kemenangan salib, mengurnurnkan kemenangan Sang Pemenang itu. Kita wajib memproklamirkan Kristus, yaitu Kristus yang kita nikmati, Sang Penakluk yang mengalahkan semua musuh. Itulah senjata kita. Kita tidak tahu yang lain. Itulah cara kita untuk memperoleh Kristus yang almuhit. Dan itulah artinya memperoleh tanah permai dalam kesetiaan, perhentian, dan kenikmatan.
Kita harus memperoleh Kristus yang almuhit, satu kota demi satu kota, satu tempat demi satu tempat. Tetapi tenangkanlah hati, jangan kuatir, Tuhan pasti melakukan peperangan itu, sebab peperangan itu bukan milik kita, melainkan milik Tuhan. Yang harus kita lakukan ialah meniup sangkakala. Jangan mudah berbicara. Pada saat yang tepat, kita harus memuji dan berseru, dinding kota Yerikho niscaya runtuh, Nasibnya yang naas telah ditetapkan. Kita pasti menang, kita pasti menaklukkan kota itu.
Saudara saudari, itulah caranya. Kemenangan adalah milik kita! Berdiri di atas tumpuan kebangkitan, ingat bahwa Anda telah dikubur. Terapkanlah kematian Kristus ke atas semua anggota tubuh Anda yang duniawi. Nikmatilah Kristus yang almuhit bersama seluruh kaum saleh, dan dalam iman proklamirkanlah, dan persaksikanlah hakiki Tuhan, niscaya musuh akan kalah total, kubu-kubunya akan runtuh. Kita pasti akan mengalahkan musuh, dan memperoleh tanah itu dalam perhentian, kepuasan dengan damai sejahtera. Musuh akan menjadi makanan kita. Mengambil bagian dalam peperangan semacam ini merupakan kepuasan kita yang sempurna. Peperangan ini adalah milik Tuhan. Tak perlu kita berbuat yang lain, cukup dengan memproklamirkan dan menikmati kemenangan itu saja.