← Daftar isi Kristus yang Almuhit · bab 11/16

Bab 11

Cara Memperoleh Tanah Itu

(3) MELALUI PRINSIP PENGATURAN

Pembacaan Alkitab :

Keluaran 40:36-38; Imamat 8:7, 8, 10-12, 30; 20:26; 26:46.

Sebelum melihat kitab Bilangan, kita perlu merenungkan beberapa butir sebagai tambahan dalam kitab Keluaran dan Imamat. Telah kita lihat, bahwa cara untuk memasuki tanah permai itu dimulai dari menikmati anak domba Paskah, dan setahap demi setahap menikmati Kristus, serta kadarnya bertambah dan maju terus ke depan. Namun, dalam pengalaman, masih ada yang lebih penting daripada itu, yakni prinsip pengaturan, faktor pengaturan.

Kita sudah mengetahui, untuk memperoleh tanah permai, memasuki Kristus yang almuhit, tak mungkin mengandalkan cara individu, melainkan harus mengandalkan cara korporat. Ini sangat jelas. Akan tetapi, kita harus nampak, cara korporat ini memerlukan beherapa prinsip pengaturan. Perlu adanya urutan atau tata tertib. Dalam suatu lembaga atau kelompok, setiap perkara perlu ada urutan. Jika tidak ada prinsip pengaturan, akibatnya ialah kekacauan, dan kekacauan selalu berhubungan dengan musuh. Andaikata kita kehilangan urutan atau tata tertib, kita sudah rusak, dan sudah bersatu dengan Iblis. Kalau demikian halnya, kita sama sekali tak mungkin masuk ke tanah permai. Untuk memelihara tata tertib di antara anak-anak Allah, perlu ada prinsip pengaturan, faktor pengaturan tertentu.

Dalam kitab Keluaran dan Imamat kita tidak saja nampak banyak butir tentang kenikmatan atas Kristus, juga nampak prinsip pengaturan yang Allah tetapkan di antara anak-anakNya. Sedikitnya ada tiga faktor atau prinsip pengaturan yang penting.

PENYERTAAN ALLAH

Prinsip pengaturan yang pertama ialah penyertaan Allah dalam tiang awan dan tiang api. Faktor ini bertalian dengan perhimpunan, pergerakan atau tindakan umat Allah. Kapan, bagaimana, dan ke mana umat Allah harus bergerak dan bertindak semua tergantung pada penyertaan Allah yang diwahyukan kepada mereka dalam tiang awan dan tiang api. Dengan kata lain, jika kita ingin maju ke depan untuk memperoleh tanah itu, kita harus pergi dengan penyertaan Allah; kalau kita pergi bersama penyertaan Allah, niscayalah kita dapat memasuki dan menikmati tanah itu.

Ingatlah bagaimana janji Allah kepada Musa, "Aku sendiri hendak menjertai engkau dan memberikan ketentraman kepadamu" (Kel. 33:14, Tl). Ini berarti Allah ingin dengan penyertaanNya sendiri memimpin bani Israel memperoleh tanah itu. Karenanya Musa berkata kepada Allah, "Jika PenyertaaMu tidak pergi bersamaku janganlah Engkau membawa kami ke situ". Musa memohon kepada Allah agar penyertaanNya sendiri pergi bersamanya, jika tidak ia tidak mau pergi.

"PenyertaanKu akan pergi bersama denganmu," ini adalah satu kalimat yang sangat istimewa. Bukan "Aku akan pergi ". Dia akan pergi itu satu perkara, tapi penyertaanNya akan pergi itu perkara lain. Dapatkah Anda membedakan kedua ungkapan ini?

Saya akan menerangkan hal ini dengan sebuah kisah. Pada suatu hari, kami, lima orang yang melayani Tuhan, bersama-sama pergi ke suatu kota. Ada seorang saudara di antaranya tidak begitu senang terhadap kami, tetapi karena ia tak mempunyai pilihan lain, ia harus pergi juga bersama kami. Ketika itu kami setnua naik kereta api. Kami semua duduk di satu gerbong, kecuali saudara itu. Walau ia pergi bersama kami, tapi penyertaannya tidak pergi bersama kami. Ia berangkat bersama kami, berpiknik bersama kami, dan tiba di tempat tujuan bersama kami, namun penyertaannya tidak bersama kami. Tatkala saudara-saudara datang menyambut kami, ia ada di situ; setiap kunjungan kami ia pun hadir; ia bersama kami, tetapi penyertaannya tidak bersama dengan kami. Ini sungguh aneh.

Saudara saudari, sering kali mungkin Allah pergi bersama Anda, tetapi penyertaanNya tidak pergi bersarna Anda. Acapkali Allah sesungguhnya menolong Anda, tetapi Anda tahu dengan jelas bahwa Dia tidak berkenan kepada Anda. Anda mungkin beroleh bantuanNya, namun Anda akan kehilangan penyertaanNya. Ia membawa Anda mencapai tujuan Anda, Ia pun memberkati Anda, tetapi dalam perjalanan Anda, dari mula hingga akhir, Anda tidak merasakan penyertaanNya. Dia pergi bersama Anda, tetapi penyertaanNya tidak pergi bersama Anda..

0, ini bukan suatu teori, melainkan pengalaman kita yang riil. Pada tahun-tahun yang lalu, ketika saya melayani Tuhan, saya sering merasakan pertolonganNya. Tuhan tak dapat tidak menolong saya, Dia harus menolong saya demi namaNya sendiri. Namun, saya dapat menerangkan kepada Anda, sering kali saya kehilangan penyertaanNya, sebab Dia tidak begitu senang terhadap saya. Dia tak dapat tidak pergi bersama saya, tetapi hatiNya tidak berkenan. Saya duduk di gerbong pertama, Dia berada di gerbong kedua. Dia ikut pergi, tetapi Dia menarik kembali penyertaanNya, supaya saya tahu bahwa Dia tidak berkenan.

Beberapa tahun yang lalu ada seorang saudari muda mempersekutukan masalah perkawinannya kepada saya. Ia berkata, "Saudara, saya merasa saya bertunangan dengan tuan anu sesuai dengan kehendak Allah, Tuhan sungguh telah menolong saya dalam hal itu, maka kami akan melangsungkan pertunangan kami pada tanggal anu dan hari anu." Saya agak memahami keadaannya, maka saya berkata kepadanya, "Memang, tak usah diragukan bahwa Allah sudah menolong Anda, saya sungguh percaya perkataan Anda. Tetapi apakah dalam hal ini Allah berkenan terhadap Anda? Tatkala Anda merencanakan masalah pertunangan Anda, apakah ada penyertaan Allah" Ia menjawab, "Saudara, saya terus terang saja, saya tahu Tuhan tidak berkenan. Saya tahu! Memang pada satu pihak Dia telah menolong saya, tetapi pada pihak lainnya Dia tidak berkenan terhadap saya." Saya lalu bertanya, "Bagaimana Anda mengetahuinya?" Jawabannya sangat bermakna sekali, katanya, "Setiap kali saya memikirkan masalah ini, saya merasa bahwa saya telah kehilangan penyertaanNya." Ini adalah satu ilustrasi yang sangat baik. Memang Tuhan telah menolong dia, tetapi Tuhan telah menarik kembali penyertaanNya.

Saudara saudari, kalian harus jelas. Jangan sekali-kali mengira asalkan ada pertolongan Tuhan sudahlah cukup. Tidak, tidak! Itu masih sangat kurang. Kita harus memiliki penyertaan Tuhan. Kita wajib belajar berdoa begini, "Tuhan, jika Kau tidak mengaruniakan penyertaanMu kepada saya, saya akan tetap tinggal di sini bersamaMu. Jika penyertaanMu tidak pergi bersama-sama saya, saya tidak mau pergi. Saya tidak mau diatur oleh pertolonganMu. Saya mau diatur oleh penyertaanMu." Kita pun harus berdoa lebih lanjut, "Oh, Tuhan, saya tidak mau pertolonganMu, saya mau penyertaanMu. Tuhan, saya harus memiliki penyertaanMu. Tanpa pertolonganMu, saya dapat hidup, tapi tanpa penyertaanMu, saya tak dapat hidup." Dapatkah Anda berdoa kepada Tuhan demikian?

Banyak saudara saudari berkata kepada saya, "0, saudara, Tuhan sungguh telah menolong saya!" Saya sering ingin bertanya kepada mereka, "Apakah Anda merasakan penyertaan Tuhan? Memang Anda telah beroleh pertolonganNya, tetapi apakah Anda merasakan penyertaanNya?" Memang banyak orang yang telah memperoleh pertolongan Tuhan, tetapi jarang yang memperoleh penyertaan Tuhan. PertolonganNya bukan faktor pengaturan, penyertaanNya barulah faktor pengaturan.

Ada beberapa pekerja Tuhan berkata kepada saya, "Saudara apakah Anda melihat bahwa Tuhan telah menolong kami? Percayakah Anda bahwa Tuhan telah memberkati kami?" Jawab saya ialah 'Tak usah disangsikan, memang Tuhan telah menolong Anda, dan telah memberkati Anda, tetapi marilah kita tenang sejenak di hadapan Tuhan." Sebentar lagi saya bertanya kepadanya demikian, "Saudara, dalam lubuk batin Anda apakah Anda merasa ada penyertaan Tuhan? Saya tahu Anda pernah bekerja bagi Tuhan, saya juga tahu Tuhan telah menolong Anda dan memberkati Anda; tetapi saya ingin bertanya kepada Anda : dalam lubuk batin Anda yang terdalam, adakah Anda merasakan penyertaan Tuhan yang mesra dengan Anda? Adakah Anda senantiasa merasa Dia menyatakan wajahNya yang berseri- seri kepada Anda dan senyumanNya masuk ke dalam batin Anda? Adakah perasaa-perasaan yang demikian pada Anda?" Itu adalah perkataan yang sangat lembut dan mendalam. Sebagai seorang hamba Tuhan, banyak orang tidak dapat berbohong, mereka harus bekata dengan jujur. Pada akhirnya, saudara-saudara yang demikian berkata, "Saya harus mengatakan kepada Anda, sudah sejangka waktu lamanya saya telah kehilangan persekutuan dengan Tuhan." Lalu saya bertanya, "Saudara, ini apa? Apakah Anda diatur oleh pertolongan Tuhan atau oleh penyertaan Tuhan? Apakah Anda diatur oleh berkatNya, atau oleh senyumanNya!"

Saudara saudari, meskipun dengan mengucurkan air mata, haruslah kita berkata demikian setiap hari, "Tuhan, selain penyertaanMu yang penuh senyuman tiadalah lain hal yang dapat memuaskan saya. Selain senyuman pada wajahMu yang mulia, tiada apa pun yang saya sukai. Asal saya mempunyai ini, saya akan tak mempedulikan segala-galanya, biar dunia kiamat sekalipun. Seluruh dunia boleh bangkit menentang saya, asalkan senyumanMu ada pada diri saya, saya tetap dapat memujiMu, dan segala sesuatu dapat mernuaskan hati saya."

Tuhan berkata, "PenyertaanKu akan pergi bersamamu," betapa mustika perkara ini! Penyertaan Tuhan, senyuman Tuhan adalah prinsip pengaturan. Kita harus takut menerima berkat atau karunia-karunia dari Tuhan tetapi kehilangan penyertaanNya. Hal ini sungguh suatu perkara yang mengerikan. Besar kemungkinan Tuhan mengaruniakan sesuatu kepada Anda, tetapi benda itu akan melenyapkan penyertaanNya. Dia mau menolong dan memberkati Anda, tapi pertolongan dan berkat itu akan membuat Anda kehilangan penyertaanNya. Kita harus belajar hanya menerima perlindungan, penguasaart, pengaturan, dan pimpinan dari penyertaan Tuhan semata. Kita harus berkata kepada Tuhan bahwa selain penyertaanNya yang langsung, tiadalah apa pun yang kita sukai. Kita tidak mau penyertaanNya yang tidak langsung. Scring kali kita hanya memiliki penyertaan Tuhan yang tidak langsung; bukan yang langsung, bukan yang tangan pertama. Anda harus belajar hanya menerima penyertaan Tuhan yang langsung, pengaturan tangan pertama.

Ini tidak sekadar suatu syarat, atau suatu kwalifikasi, tetapi juga suatu kekuatan yang memungkinkan Anda memperoleh tanah itu. Penyertaan tangan pertama dari Tuhan akan memperkuat Anda untuk memperoleh kekayaan dan segala sesuatu Kristus. 0, alangkah perkasanya kekuatan penyertaan Allah tangan pertama ini! Ini sesungguhnya bukan suatu teori, melainkan pengalaman kita yang paling dalam.

"PenyertaanKu pasti akan pergi bersama denganmu". Betapa ajaib, mulia, dan misteri Tuhan kita! Bagaimanakah Ia menyatakan penyertaan-Nya kepada kita? Bagaimanakah kita mengalami penyertaanNya? Dulu, penyertaanNya di siang hari selalu berada dalam awan, di malam hari selalu berada dalam api, yakni dalam tiang awan dan tiang api. Pada siang hari, tatkala matahari bersinar, awan berada di situ; sedang pada malam hari yang gelap, api berada di situ. Jadi penyertaan Tuhan diwahyukan kepada anak- anakNya di dalam awan pada siang hari, dan di dalam api pada malam, hari.

Apakah makna awan dan api? Dalam berbagai bagian dalam Alkitab kita nampak bahwa awan adalah tanda Roh Kudus. Dalam pengalaman kita, Roh Kudus adakalanya bagaikan segumpal awan. Penyertaan Tuhan berada dalam Roh Kudus. Acapkali kita mengetahui bahwa penyertaan Tuhan bersama dengan kita. Bagaimana kita mengetahuinya? Karena kita merasakannya di dalam Roh Kudus. Saya yakin sebagian besar di antara kita mempunyai sedikit pengalaman yang demikian. Kita telah mengalami penyertaan Tuhan di dalam Roh Kudus. Hal ini sungguh ajaib sekali. Kalau Anda bertanya, bagaimana saya dapat mengalami penyertaan Tuhan di dalam Roh Kudus? Saya hanya dapat menjawab, bahwa saya mengalamiNya, saya menyadariNya. Tuhan memang berada di dalam Roh Kudus, agar saya dapat mengalami penyertaanNya. Realitasnya berada di dalam Roh Kudus. Adakalanya boleh jadi karena kelemahan kita, atau karena Tuhan merasa kita memerlukan dorongan dan penguatan, Ia lalu memberikan sedikit pengertian kepada kita, bahkan sedikit perasaan. Roh Kudus sungguh ibarat segumpal awan.

Pada tahun 1935, saya pernah menyampaikan sebuah berita tentang pencurahan Roh Kudus. Pada saat saya memberitakan, tiba-tiba saya merasa ada segumpal awan meliputi saya, dan saya seolah-olah berada di dalam awan. Sidang kali itu segera mengalami suatu perubahan yang nyata, dan firman yang ke luar dari mulut saya laksana air hayat yang tertuang ke luar; sehingga seluruh pendengar terkejut sejenak. Bila Anda mengalami hal ini, Anda tak perlu mengucapkan apa-apa menurut pikiran Anda, sebab firman akan mengalir dengan deras dari dalam roh Anda.

Itulah penyertaan Tuhan dalam tiang awan. Anda dapat merasakan-Nya, dan kedatanganNya akan menjadi suatu pimpinan dan dorongan. Jika Anda menanggung beban bagi Tuhan, Tuhan a kan memberikan suatu dorongan yang demikian, agar Anda merasakan penyertaanNya di dalam Roh Kudus. Tetapi ini merupakan satu pengalaman yang istimewa yang Tuhan berikan. Kita seharusnya dapat mengalami penyertaan Tuhan setiap hari dalam Roh Kudus secara normal dan biasa.

Apakah artinya tiang api? Pada malam yang gelap kita perlu api. Makna api mirip dengan awan. Awan adalah api, api adalah awan. Ketika matahari bersinar, penyertaan Tuhan muncul serupa awan; ketika malam tiba, ia akan muncul dengan bentuk api. Wujud kedua benda itu sama, tetapi muncul dengan bentuk yang berbeda. Kalau begitu api itu mewakili apa? Api mewakili firman. Awan adalah Roh Kudus, api adalah firman. Tatkala matahari bercahaya, di dalam Roh Kudus Anda menjadi sangat jelas; dan Anda dengan mudah sekali mengikuti awan. Tetapi, sering kali situasi Anda seperti pada malam hari yang gelap gulita. Anda tak dapat mengandalkan roh Anda, roh Anda sangat kabur. Dalam situasi demikian, Anda harus mengandalkan firman Tuhan. Firman Tuhan ibarat api yang membakar, bercahaya dan menerangi.

Mazmur 119:105 mengatakan, "FirmanMu itu pelita bagi kakiku dan terang bagijalanKu. " Tatkala cuaca cerah, segalanya nyata dan jelas, ada awan sudah cukup. Tetapi ketika langit diselubungi kegelapan, Anda tak dapat membedakan awan, waktu itu Anda harus mengikuti api. Adakalanya langit dan hari-hari Anda sangat cerah, sinar matahari memancar kemilau dan terik, Anda dapat nampak arah Roh Kudus, tanpa salah sedikit pun, dan Anda dapat mengikutinya. Namun, mungkin lebih sering saatnya Anda berjalan dalam kegelapan, ibarat berada di malam hari. Kemarin Anda begitu jelas, tetapi hari ini Anda bagini gelap, Anda sangat kabur dan risau. Namun Anda tak usah kuatir, Anda masih mempunyai finnan. Anda boleh mengikuti firman. Firman ialah api itu, api yang menyala-nyala, yang memancarkan terang. Sewaktu Anda berada dalam kegelapan, Anda dapat mengikuti terang ini, sebab penyertaan Tuhan berada dalam api.

Banyak saudara yang berkata kepada saya, "Saudara, saya sekarang sedang berada dalam kegetapan." Saya mengatakan, Tuji Tuhan, sekarang justru saatnya Anda perlu memanfaatkan firman Tuhan. Jika Anda tidak berada dalam kegelapan, Anda tidak ada kesempatan mengalami Tuhan dalam finnan. Manfaatkan saja firman Tuhan." Ketika kita berada dalam kegelapan, alangkah indahnya kalau kita mengalami Kristus di dalam firmanNya!

Penyertaan Tuhan selalu berada dalam kedua hal tersebut, yakni dalam Roh Kudus dan dalam firman. Ketika Anda jelas, Anda dapat merasa bahwa Anda berada di dalam Roh Kudus. Ketika Anda berada dalam kegelapan, Anda pun dapat nampak Dia di dalam firman. Dia selalu berada di dalam keduanya ini : Roh Kudus dan finnan. kka hari ini Anda sangat jelas, puji Tuhan, Anda dapat merasakan Tuhan di dalam Roh Kudus. kka Anda berada dalam kegelapan, Anda pun dapat memuji Tuhan, sebab Anda dapat nampak Dia di dalam FirmanNya. Adakalanya kita berada pada siang hari, ada sinar matahari; adakalanya kita berada pada malam hari, dalam kegelapan. Tetapi kita tak usah kuatir. Pada siang hari, cuaca cerah, kita ada Roh Kudus seperti awan; pada malam hari yang gelap, kita ada firman seperti api. Kita dapat mengikuti Tuhan melalui penyertaanNya di dalam Roh Kudus dan di dalam firman.

JABATAN IMAM, URIM DAN TUMIM

Prinsip pengaturan yang kedua ialah jabatan imam, urim dan turnim di bawah pengurapan. Apakah jabatan imam? Ini adalah satu perkara yang ajaib dan mulia. Jabatan atau tugas imam merangkum persekutuan kita dengan Allah, penghidupan dan pelayanan kita di hadapanNya. Sistem imamat adalah sekelompok manusia yang bersekutu terus-menerus dengan Allah. Mereka tak henti-hentinya bersekutu dengan Allah dan melayani di hadapanNya. Penghidupan, gerak-gerik dan setiap pekerjaan yang dilakukan mereka adalah demikian. Ketika kita bersekutu dengan Tuhan dari hari ke hari dan dari saat ke saat, ketika kita hidup, melayani dan bertindak dalam persekutuan yang demikian, itulah sistem imamat.

Jika kita kehilangan sistem imamat, kita akan kehilangan prinsip pengaturan ini. Prinsip pengaturan ini bukan untuk bimbingan, melainkan untuk pengambilan keputusan. Kalau penyertaan Tuhan dalam tiang awan dan api untuk bimbingan, maka sistem imamat, urim dan tumim di bawah pengurapan adalah untuk pengambilan keputusan.

Baiklah kita jelaskan dengan sebuah perumpamaan. Misalkan ada dua orang saudara berselisih. Bagaimanakah cara kita mengatasinya? Kita adalah anak-anak Allah, umat Allah, tetapi jika di antara kita terjadi masalah, bagaimanakah cara kita menanggulangi masalah itu? Dengan cara bagaimana baru kita dapat menemukan suatu keputusan yang wajar? Kita tidak seharusnya mengadakan suatu rapat dan memutuskannya dengan cara pemungutan suara. Semua masalah seperti itu hanya dapat diselesaikan lewat sistem imamat. Harus ada sekelompok anak-anak Allah yang terus- menerus bersekutu dengan Tuhan, melayani Tuhan di hadapanNya, dan di mana pun mereka berada, apa pun yang mereka lakukan, mereka senantiasa hidup di hadapan Tuhan. Sekelompok manusia yang demikian berada di bawah pengurapan Roh Kudus, dan mempunyai urim dan tumim. Karenanya mereka dapat menemukan keputusan, yakni keputusan Tuhan. Melalui urim, turnim dan sistem imamat, mereka dapat menyatakan keputusan terhadap setiap perkara yang terjadi.

Ada tiga hal ikhwal yang tercakup dalatn tugas jabatan imam : persekutuan atau pergaulan dengan Tuhan, pengurapan Roh Kudus, serta urim dan turnim. Di sini kita hanya dapat secara singkat saja menyinggung tentang urim dan turnim. Dalam bahasa Ibrani "urim" berarti "terang", sedang "tumim" berarti "sempurna" atau "genap".Kira-kira tiga puluh tahun yang lampau saya pernah membaca sebuah artikel yang ditulis oleh seorang pengarang Ibrani, yang mengatakan bahwa tumim adalah sebutir permata yang di atasnya terukir empat huruf Ibrani. Pada batu permata yang terdapat pada tutup dada imam terukir nama-nama kedua belas suku Israel; dan nama-nama kedua belas suku Israel itu hanya mencakup 18 huruf dari abjad-abjad Ibrani yang berjumlah 22 huruf. Karenanya pada tutup dada imam itu kekurangan 4 huruf, sedang keempat huruf tersebut terukir di atas tumim. Jadi, setelah permata itu diletakkan pada tutup dada, barulah seluruh abjad itu sempurna dan genap. Alkitab pun mengatakan kepada kita bahwa urim adalah sebuah permata yang ditempatkan di dalam tutup dada untuk penerangan. Dengan ini kita telah mengetahui makna urim dan turnim, yakni terang dan sempurna.

Bagaimanakah cara menggunakan urim dan tumim? Ketika di antara umat Israel terjadi suatu problema dan kesulitan, imam besar harus membawa permasalahannya ke hadapan Allah dan memperoleh jawaban melalui tutup daria itu. Penulis bangsa Ibrani tadi mengatakan dalam artikelnya, ketika imam besar datang menghadap Allah, ada permata tertentu di atas tutup daria yang bersinar dengan huruf-hurufnya, dan pada saat lain ada pertnata lain lagi yang bersinar dengan huruf-hurufnya. Pada waktu permata-perinata itu bersinar, imam besar segera mencatat huruf- huruf itu yang kemudian dirangkai menjadi sebuah kalimat. Terakhir, ia akan memperoleh jawaban atau keputusan yang sempurna dari Allah. Artikel tersebut mengatakan lebih lanjut, ketika Akhan berdosa, dengan cara inilah mereka menemukannya dari antara seluruh umat (Yosua 7).

Kalau demikian, untuk pemecahan problema di antara umat Allah harus berdasarkan prinsip pengaturan apa? Perlu ada suatu sistem imamat di antara mereka, yang merangkul anak-anak Allah dalam ribaan dan membawa mereka ke hadapan Tuhan. Sistem imamat harus membawa mereka ke hadapan Allah dalam kasih, dan membaca mereka seperti membaca huruf-huruf. Dengan demikian, melalui terang Alkitab, sistem imamat akan dapat mengenal kehendak Tuhan, dan dariNya akan diperoleh firman-firman yang bersangkutan dengan keadaan anak-anak Allah itu.

Sekarang kita telah ada jawaban mengenai dua orang saudara yang saling berselisih itu. Kita dapat berkata kepada mereka, "Saudara, kalian hendaknya tenang sebentar, kita harus datang kepada Tuhan." Ya, kita harus membawa masalah itu ke hadapan Tuhan. Dalam penyertaan Tuhan dan dengan terang Alkitab, kita akan membaca saudara-saudara itu. Itulah penerapan urim dan turnim tutup dada dalam sistem imamat. Dengan ini kita akan memperoleh huruf-huruf, kata-kata dan kalimat-kalimat, sehingga akhirnya memperoleh keputusan atas masalah tersebut.

Tatkala rasul menulis surat-suratnya, cara inilah yang mereka pakai. Satu contoh yang terbaik ialah surat pertama yang ditulis Paulus kepada kaum imani di Korintus. Paulus menjumpai berbagai masalah di gereja ini, antara lain masalah perpecahan, penghakiman, perkawinan, ajaran-ajaran kebangkitan dan lain sebagainya. Hampir semua problema ada di sana. Bagaimana dia mengatasinya? Dia meletakkan seluruh problema dan seluruh saudara saudari dalam gereja itu ke dalam hatinya, lalu semuanya dibaca di hadapan Tuhan dalam terang Alkitab. Bukankah demikian caranya? Tatkala ia berbuat demikian, keadaan mereka yang sebenarnya serta jawabannya sekaligus tertampaklah olehnya. Dia lalu beroleh suatu keputusan dari Tuhan. Berdasarkan itulah ia lalu menulis surat Korintus yang pertama. Coba Anda pikir, bukankah semua surat rasuli ditulis dengan cara demikian? Mereka bukan menulisnya dengan merenungkan suatu teori dalam kamar baca mereka. Tidak.

Di kalangan anak-anak Allah pasti ada suatu keadaan yang perlu mendapat satu jawaban atau satu kalimat dari Tuhan. Rasul-rasul menunaikan tugas mereka dengan status mereka sebagai imam, yaitu membawa seluruh problerna dan anak-anak Allah ke hadapan Allah, dan dalam penyertaanNya mereka membaca segala problema itu; dalam terang firman Tuhan, mereka pun membaca kaum imani. Dengan demikianlah mereka memperoleh terang, memperoleh huruf-huruf, kalimat-kalimat dan pikiran. Kemudian barulah mereka menulis surat-surat tersebut, untuk menerangkan kehendak Tuhan kepada semua orang saleh.

Itulah prinsip pengaturan. Prinsip pengaturan yang pertama ialah penyertaan Tuhan dalam tiang awan dan tiang api. Kedua ialah jabatan atau tugas imamat serta kedua benda yang ajaib --- urim dan turnim di bawah pengurapan.

Saudara saudari, jika Anda memberitahu kepada saya permasalahan antara Anda dengan orang lain, apa yang harus saya takukan? Saya harus menggunakan roh saya; membawa Anda dengan orang itu ke hadapan Tuhan. Dengan kasih saya harus meletakkan Anda dan orang itu ke dalam hati saya, yakni ke dalam ribaan saya. Saya harus membawa kalian seluruhnya ke hadapan Tuhan, dan berkata, "Tuhan, di sini ada beberapa orang saleh yang kekasih. Terangilah mereka. Berilah terangMu padaku." Saya harus membaca Anda; saya harus membaca pikiran hati dan emosi Anda; saya harus membaca angan-angan dan motivasi serta gerak-gerik Anda. Saya harus membaca problerna Anda dalam terang firman, serta membaca pelbagai urusan yang berkaitan dengan Anda. Setelah saya membaca sehuruf demi sehuruf saya akan memperoleh satu kata, dan kemudian memperoleh kata lain; akhimya saya akan memperoleh sebuah kalimat, dan sebuah berita. Saya lalu beroleh pengetahuan jelas dari Tuhan, dan akhimya saya dapat mengetahui pikiran atau angan-angan Tuhan terhadap Anda.

Kalian yang menjadi pernimpin dalam gereja sering menjumpai banyak problema dan itu merupakan kesempatan baik bagi kalian untuk dilatih dalam suatu pelayanan imamat yang demikian. Adakalanya seorang saudara datang bersekutu dengan Anda tentang persoalannya dengan ayahnya, yang juga seorang saudara di dalam Tuhan. Dia akan bertanya kepada Anda bahwa bagaimana Dia harus bertindak. Mungkin selang sehari datang lagi seorang saudari mencari Anda dan melaporkan problemanya dengan mertuanya, yang juga seorang saudari dalam gereja. Anda harus bagaimana? Dapatkah Anda menyuruh mereka mencari hakim di Pengadilan Negeri? Tentu Anda tidak dapat berbuat demikian. Satu-satunya cara Anda yaitu seperti yang kita katakan tadi. Anda harus memiliki sebuah hati, sebuah ribaan, yakni Anda harus mempunyai kasih.

Anda harus menaruh mereka dalam hati Anda, membawa mereka ke hadapan Tuhan, dan dengan roh Anda membaca mereka di hadapan Tuhan. Baca ayah dahulu, kemudian baca anak. Baca kebiasaan, kebangsaan, kepribadian, pikiran dan tingkat pendidikan mereka. Bukan menurut cara pemikiran Anda sendiri, melainkan menurut terang firman. Semuanya itu harus Anda baca. Setelah itu Anda akan memperoleh kalimat dan perkataan. Anda harus memperoleh perkataan dari Tuhan dan wahyu dari kehendak-Nya. Kemudian Anda akan dapat berbicara kepada anak dan ayahnya. Demikian pula cara Anda menjawab saudari dan mertuanya itu. Anda dapat berkata kepada mereka, Inilah kehendak Allah, Anda harus berdoa." Anda telah beroleh keputusan dan jawaban. Inilah pengadilan umat Allah. Kita perlu pengadilan yang demikian. Kita perlu ada wakil Mahkamah Agung sorgawi di bumi. Dan Mahkamah ini berada dalam sistem imamat, urim dan turnim di bawah pengurapan Roh Kudus.

Sekelompok anak-anak Allah dapat berkoordinasi dalam melayani Tuhan secara korporatif itu bukanlah suatu perkara yang kecil, dan itu bukan perkara yang sederhana. Coba pikir keluarga Anda sendiri. Apakah Anda mempunyai sebuah pengadilan keluarga untuk membereskan seluruh problema kalian? Apakah yang menjadi pengadilan kita dalam gereja? Tak lain itulah sistem imamat yang berada di bawah pengurapan Roh Kudus dan bersekutu dengan Tuhan, melalui terang firman membaca semua saudara dan saudari. Dengan cara inilah kita akan memperoleh keputusan dan ketetapan atas segala permasalahan. Semua masalah dan kesulitan kita akan beres melalui cara yang demikian. Bukan melalui perdebatan, bukan pula melalui bermufakat, beralasan atau pengaturan seperti yang dilakukan seorang politikus atau hakim dunia. Melainkan hanya melalui persekutuan dan pengurapan, dan dalam kasih, serta dalam terang firman Tuhan membaca keadaan, sifat dan penghidupan kaum imani sehari-hari.

PERATURAN-PERATURAN

PENGHIDUPAN YANG KUDUS

Faktor pengaturan yang ketiga ialah peraturan-peraturan penghidupan yang kudus. Apakah peraturan-peraturan itu? Dalam kitab Imamat kita melihat pelbagai korban, sistem imamat, dan peraturan-peraturan. Kitab Immat dapat dibagi dalam tiga bagian : pertama, mengenai pelbagai korban (pasal 1-7); kedua, mengenai sistem imamat (pasal 8-10); dan ketiga mengenai banyak peraturan (pasal 11-27). Satu penghidupan yang kudus mempunyai banyak peraturan. Sekarang kita tak dapat meninjau semuanya secara terinci kalau dapat, kita akan nampak betapa menariknya dan betapa manisnya serta betapa berinaknanya semua peraturan-peraturan itu. Ada banyak peraturan yang berkenaan dengan apa yang tahir dan yang tidak tahir; bagaimana dikuduskan dari yang duniawi dan yang belum dikuduskan, serta harus berbuat apa, tidak seharusnya berbuat apa. Kesemuanya itu merupakan peraturan-peraturan penghidupan yang kudus.

Singkatnya, peraturan-peraturan itu boleh diringkas menjadi tiga prinsip yang lebih kecil. Pertama, kita adalah umat milik Allah. Ini adalah prinsip yang lebih kecil yang seharusnya menertibkan kita. Ingatlah, bahwa Anda adalah milik Allah, Anda adalah umatNya. Bila Anda ingat hal ini, Anda akan terpelihara dari banyak perkara. Coba pikir, ketika Anda ingat bahwa Anda adalah umat Allah, dapatkah Anda pergi menonton bioskop? Pikiran ini cukup membuat Anda undur dan tak jadi pergi. Coba pikir, dapatkah Anda bertengkar dengan orang sambil ingat bahwa Anda adalah milik Tuhan? Anda boleh coba, Anda akan nampak bahwa pertengkaran Anda akan menjadi apa.

Dulu, ketika saya berada di Timur Jauh, pada suatu hari saya naik sebuah becak ke suatu tempat. Tukang becak itu meminta ongkos 5 dollar, saya setuju. Tetapi setelah sampai di tempat tujuan, saya menyerahkan selembar uang bernilai 10 dollar, dan menantikan ia mengembalikan saya 5 dollar. Ia lalu mencari-cari dalam sakunya, tapi pada akhimya ia minta maaf sebab ia hanya dapat mengembalikan 4 dollar. Itu adalah tipu daya mereka. Saya lalu bertengkar dengannya, tetapi tiba-tiba teringat oleh saya bahwa saya adalah anak Allah, dan saya segera menghentikan pertengkaran saya. Berkatalah saya kepadanya, "Baiklah, sudahlah, kurang sedolar tidak mengapa." Bagaimana seorang anak Allah boleh bertengkar dengan tukang becak? Itu berarti memalukan nama Tuhan.

Setiap kali Anda ingin melakukan apa saja, ingatlah bahwa Anda adalah anak Allah. Jangan katakan, ini terlalu menurut hukum Taurat. Anda dan saya seyogyanya menurut hukum Taurat sedemikian. Ada beberapa saudari, terutama di Timur Jauh, adakalanya mengenakan pakaian yang tidak begitu sesuai dengan citra anak-anak Allah. Asalkan mereka mau ingat bahwa mereka adalah milik Tuhan, maka pikiran ini pasti akan membuat mereka tidak berani berdandan demikian. Tetapi karena mereka sama sekali telah lupa bahwa mereka adalah anak-anak Allah, maka mereka berani berbusana seperti anak-anak Iblis. Ingat, kita adalah umat Allah, inilah satu prinsip kecil di antara peraturan-peratuan itu.

Kedua, kita telah dipisahkan dari dunia. Firman Allah, "Aku telah menguduskan kamu dari semua bangsa." Kita telah dikuduskan oleh Tuhan dari dalam dunia ini. Kita tak dapat melakukan apa yang dapat mereka lakukan, kita tak dapat mengucapkan apa yang dapat mereka ucapkan, dan kita tak dapat memiliki apa yang dapat mereka miliki. Seringkali, ketika saya pergi ke Toserba, saya tak dapat membeli satu barang pun, saya hanya menggeleng-gelengkan kepala dan berkata, "Tidak, tidak, tidak satu pun yang cocok untuk saya, sebab saya adalah anak Allah yang telah dikuduskan."

Dari Seattle sampai ke San Francisco, dan ke Los Angeles, saya terus ingin membeli sepasang sepatu kulit. Di setiap toko ada banyak sepatu yang bentuk dan modelnya serba aneh dan modern, sukar sekali saya menemukan sepasang sepatu yang cocok untuk anak-anak Allah. Andaikata saya membelinya, saya khawatir saya tak dapat berdiri berkhotbah kepada anak-anak Allah. 0, barang-barang yang dijual di Toserba semuanya adalah yang duniawi!

Andaikata semua orang di dunia beroleh selamat, dan ingat bahwa mereka adalah anak-anak Allah yang telah dipisahkan dari dunia, niscayalah semua Toserba akan gulung tikar. Tapi sayang sebagian besar orang belum beroleh selamat. Namun, yang paling disayangkan ialah sebagian orang-orang yang telah diselamatkan Tuhan belum lagi dikuduskan dari dalam dunia ini. Maka setidak-tidaknya, kita yang tertebus oleh Tuhan, harus ingat bahwa kita adalah manusia yang telah dikuduskan Tuhan dari dalam dunia. Hal ini pun merupakan satu prinsip pengaturan kita. Jangan mengatakan ini terlalu menurut hukum Taurat, kita sungguh perlu menurut hukum Taurat sedemikian.

Prinsip kecil yang ketiga, yakni Tuhan adalah kudus, karenanya kita pun harus kudus. Tuhan adalah yang kudus, yang terpisah, dan berbeda dengan segala perkara. Kita harus kudus dalam setiap perkara, sekudus Dia sendiri.

Ketiga prinsip kecil ini membentuk sebuah prinsip pengaturan besar, sedang prinsip-prinsip ini merupakan peraturan-peraturan penghidupan yang kudus. Pertama, ingatlah bahwa Anda adalah anak Allah. Kedua, ingatlah bahwa Anda telah dikuduskan dari dunia ini. Dan ketiga, ingatlah bahwa Allah Anda kudus adanya, dan Anda harus sekudus Dia. Ketiga prinsip ini seharusnya mengatur seluruh penghidupan Anda.

Sebagai kesimpulan, penyertaan Tuhan adalah suatu pimpinan yang korporatif. Kita harus pergi atau harus tetap tinggal, dapat kita ketahui melalui penyertaan Tuhan. Kita harus menerima pimpinanNya melalui penyertaanNya itu. Inilah prinsip pengaturan yang pertama. Bila di antara kita terjadi kesulitan, tidak perlu kita mencari pernecahannya dengan cara luar. Kita memiliki pengadilan sistem imamat, melalui persekutuan di antara kita dengan Tuhan di bawah pengurapan Roh Kudus, dan melalui terang firman dan dengan kasih membaca semua saudara saudari, kita dapat memperoleh keputusan tepat yang diperlukan. Itulah prinsip pengaturan yang kedua. Mengenai hidup dan tindak tanduk sehari-hari kita, kita harus ingat bahwa kita adalah anak-anak Allah, kita telah dikuduskan dari dalam dunia dan kita harus kudus, sekudus Allah kita. Itulah prinsip pengaturan yang ketiga. Jika kita teratur oleh prinsip-prinsip tersebut, kita akan siap sedia dan memenuhi syarat untuk maju memperoleh tanah permai itu. Kita akan dapat memasuki kekayaan Kristus yang almuhit itu.