← Daftar isi Kristus yang Almuhit · bab 10/16

Bab 10

Cara Memperoleh Tanah Itu

(2) MELALUI KORBAN-KORBAN DAN IMAM

Pembacaan Alkitab :

Imamat 1:1-3; 2:1; 3:1; 4:2,3; 5:5,6; 8:1-13; Keluaran 40:17,21.

Kita meneruskan melihat cara memasuki tanah itu dan memperoleh Kristus Sang Almuhit. Telah kita tunjukkan, jika kita ingin memperoleh persona yang sedemikian, kita harus memulai dari menikmati Dia sedikit demi sedikit. Lambang orang Israel menikmati Kristus dimulai dari anak domba Paskah, --- titik tolak kita masing-masing. Kemudian mereka maju selangkah menikmati Dia sebagai manna sorgawi, dan menikmati Dia sebagai batu karang yang memancarkan air. Semua ini adalah lambang Kristus. Hanya saja itu merupakan lambang tahap pertama, tidak begitu dalam dan kaya. Mungkin menurut pengertian kita itu sudah memadai, padahal baru permulaannya saja.

Kita pun telah nampak Tabut Perjanjian dan kesaksian Allah di dalamnya. Tabut Perjanjian adalah satu lambang Kristus yang lain, yang lebih teguh dan lebih sempurna. Bila Tabut Perjanjian dibandingkan dengan anak domba, manna, atau. batu karang yang memancarkan air hidup, jelaslah terlihat bahwa di sini jauh lebih maju. Tabut Perjanjian lebih banyak menyatakan Kristus. Pada anak domba Paskah Anda hanya dapat memahami Kristus sebagai Penebus, yang tersalib dan mengalirkan darah bagi dosa kita. Pada manna memang sudah maju, benar-benar suatu pengalaman yang bagus, olehnya Anda bisa mengecap kehidupan nabati dan kehidupan hewani, lagi pula dapat menjamah sedikit mutiara sebagai bahan pembangunan Allah. Pengalaman-pengalaman ini sungguh baik, tetapi semua itu tak dapat dibandingkan dengan Tabut Perjanjian. Pengalaman atas Tabut Perjanjian lebih kokoh, isinya pun kaya tak terkata. Dari dalamnya Anda dapat menemukan sesuatu, dan di dalamnya tertulis tentang diri Allah sendiri. Melalui isi Tabut Pedanjian, Anda dapat mengenal sifat Allah.

Benda yang berkaitan dengan Tabut Perjanjian ialah penampilannya yang konkrit, pertambahan dan perluasannya, yaitu Kemah Pertemuan. Kemah Pertemuan adalah perluasan dan ekspresi Kristus. Karena sifat dari bagian-bagian utama Kemah Pertemuan mutlak serupa dengan Tabut Perjanjian. Tabut terbuat dari kayu yang berlapis emas, begitu pula bahan dan cara pembuatan Kemah Pertemuan. Bagaimana kita mengetahui bahwa Kemah Pertemuan adalah perluasan dan manifestasi Kristus, yaitu TubuhNya, gereja? Karena ia tersusun dari 48 papan, dan papan-papan yang banyak itu melambangkan anggota-anggota Tubuh. Karena banyak anggota terbalut dan terikat oleh emas ilahi dalam gereja, maka mereka dapat terbangun bersama.

Mereka esa di dalam emas. Mereka terbalut oleh emas, dan saling mengikat melalui gelang emas dan pasak emas. Bila mereka terlepas dari emas, niscayalah akan tercerai berai dan saling terisolir. Dalam sifat insani mereka memang terpisah satu dengan yang lain, tetapi dalam sifat ilahi, dalam Allah Tritunggal, mereka menjadi esa. Tidak hanya demikian, mereka semua tertutup oleh Kristus yang berlapis empat, seperti hainya dengan Kemah Pertemuan yang tertutup oleh empat lapis tenda. Sebagai perluasan dan manifestasi Kristus, gereja berada di bawah naungan yang sedemikian. Keempat puluh delapan papan itu berdiri di atas tumpuan alas perak, yang menandakan bahwa mereka berdasar pada penebusan Kristus. Mereka berdiri di atas dasar penebusan Kristus, terbalut dan terikat oleh emas ilahi, bernaung di bawah Kristus yang berlapis empat. Itulah gereja --pertambahan dan manifestasi Kristus.

Kita bisa memahami bahwa ini jauh lebih banyak daripada anak domba Paskah, manna, dan batu karang yang memancarkan air. Di sini ada sesuatu yang kokoh. Di sini ada Kristus, dengan kesaksian Allah di dalamnya, dan perluasanNya sebagai manifestasi sejati dari diriNya sendiri. Kristus ini adalah inti dari mereka yang ingin masuk dan memperoleh tanah itu. Jika kita ingin beroleh Kristus yang almuhit, haruslah kita memiliki Kristus yang sedemikian sebagai inti kita. Kristus ini adalah persona yang di dalamNya mengemban kesaksian, dan yang menjadi ekspresi dan penjelasan Allah. Kita harus menjadi perluasan Kristus ini, sebagai Kemah Pertemuan dan manifestasi Kristus. Kita harus memiliki satu inti yang demikian, pun harus sebagai satu perluasan yang demikian. Inilah cara kita masuk dan memperoleh tanah itu. Tetapi ini tak berarti kita telah memiliki sangat banyak pengalaman atas Kristus, melainkan kenikmatan kita atas Dia senantiasa bertambah dan meluas.

Kita memulai dengan menikmati seekor anak domba. Kita harus mengatakan bahwa itulah seekor anak domba yang kecil. Walau ia sempurna dan utuh, tapi ia kecil. Kemudian kita belajar menikmati Kristus sebagai manna dan suplai makanan kita, serta sebagai batu karang yang memancarkan air dari hari ke hari. Di sini Kristus lebih kaya bagi kita. Dan selanjutnya mulailah kita mengalami Kristus sebagai kesaksian Allah, ekspresi dan penjelasan Allah. Kristus terwujud di dalam kita, kadarNya lebih kaya dan limpah, keadaanNya pun lebih kokoh. Bila orang datang kepada kita, mereka nampak inilah inti kita; mereka akan membaca sifat Allah sendiri. Dengan demikian, kita sudah menjadi perluasan, kelimpahan dan Tubuh Kristus.

KEMULIAAN MEMENUHI KEMAH PERTEMUAN

Setelah kita memiliki Tabut Perjanjian sebagai inti, terbangun bersama menjadi Kemah Pertemuan dan dihuni oleh Tabut Perjanjian, maka turunlah kemuliaan Allah serta memenuhi Kemah Pertemuan. Kita akan dipenuhi oleh kemuliaan Allah setelah kita memiliki kesaksian ini, dan setelah kita mengalami Kristus sebagai Tabut Perjanjian, yakni ekspresi Allah, serta setelah kita menjadi manifestasi Tabut, yakni perluasan Kristus. Kita harus mengalami Kristus sedemikian. Dialah manifestasi Allah, dan kita harus menjadi manifestasiNya, setelah itu kemuliaan Allah akan memenuhi kita. Kita harus percaya, asalkan kita sudah mencapai taraf demikian, setiap kali kita bersidang, formal maupun informal, pasti kemuliaan Allah menyertai kita. Apakah kemuliaan itu? Kemuliaan adalah kehadiran Allah yang dirasakan oleh manusia. Bila Anda merasakan kehadiran Allah, saat itulah berarti mulia. Di manakah kemuliaan itu berada? Di mana ada Tabut sebagai inti, di mana ada Kemah Pertemuan terpancang sebagai perluasan dan manifestasi konkrit dari Tabut Perjanjian, di situlah ada kemuliaan Allah.

Kemuliaan Allah dapat kita ilustrasikan dengan bola lampu listrik. Bola lampu adalah satu wadah untuk menampilkan kemuliaan listrik. Ketika ia terputus dengan listrik, tiadalah kemuliaan padanya, lagi pula ia menjadi tak bermakna. Tetapi ketika segalanya beres, asalkan tombol ditekan, kemuliaan listrik segera memenuhi bola lampu itu. Setiap orang dapat melihatnya dan setiap orang mengenalnya dengan pasti, serta merasakan kemuliaannya.

Bila kita mencapai suatu keadaan, yakni memiliki Kristus yang demikian sebagai ekspresi Allah, dan kita pun menjadi ekspresi Kristus yang demikian, maka setiap kali kita berhimpun bersama, kemuliaan Allah memenuhi kita. Orang lain dapat merasakan hal ini. Mereka dapat merasakan ekspresi Allah itu, sebab Allah telah beroleh kemuliaan di tengah-tengah kita. Kita harus mencapai tahap yang demikian barulah kita memiliki realitas tersebut. Ketika kita menikmati Kristus sebagai anak domba Paskah, atau sekalipun kita menikmati Dia sebagai manna dan batu karang yang memancarkan air hidup, kemuliaan itu masih belum tertampil. Tapi pada suatu hari, ketika Tabut Perjanjian terletak di dalam Kemah Pertemuan dan Kemah Pertemuan terpancang dan berdiri di atas alas perak, serta tertutup oleh empat lapis tenda, saat ini barulah turun kemuliaan Allah.

Inilah sebuah lukisan jelas dari manifestasi Kristus yang sejati. Manifestasi Kristus yang sejati adalah perluasan Kristus itu sendiri. Itulah Kristus menjadi ekspresi Allah, dan berbaur dengan kita. Bukan seekor anak domba yang kecil, bukan pula sebagai manna dan batu karang, melainkan Kristus yang sebagai ekspresi Allah, yang menjadi inti di tengah- tengah kita, berbaur dengan kita, meluas dalam kita, serta bertambah di antara kita. Setiap kita dijenuhi oleh sifat Kristus, dan dibangun bersama di dalamNya. Kristus memiliki dua sifat --- insani dan ilahi; demikian pula kita, sifat insani kita tertutup oleh sifat ilahi. Dia adalah Allah manusia, kita pun demikian. Dia adalah Tabut Perjanjian yang terbuat dari kayu dan berlapis emas, kita adalah papan-papan terbuat dari kayu berlapis emas. Dari segi bilangannya kita tidak sama, tetapi dari segi sifatnya kita mutlak serupa. Kristus adalah ekspresi Allah. Papan-papan itu menjadi esa di dalam emas yang merupakan manifestasi Kristus. Ketika kita mencapai tingkat demikian, niscaya kemuliaan Allah turun dan memenuhi kita. Itulah artinya kesaksian. Kesaksian kita bukan yang lain, melainkan Kristus ini. Dialah ekspresi Allah, Dia pun diperluas melalui kita dan memenuhi kita dengan kemuliaan Allah.

Untuk menerangkan butir ini saya dapat mengisahkan banyak fakta. Sering kali saya mengalami kemuliaan semacam ini, yaitu kemuliaan yang ajaib tatkala saya berhimpun bersama sekelompok orang imani yang mencapai tingkat demikian. Saat itu kami menyadari perkara ini. Pada saat kita mengalami Kristus sebagai anak domba dan manna, serta bersama- sama mengalamiNya lebih sempurna dan lebih kokoh, maka kemuliaanNya senantiasa hadir di tengah-tengah kita.

KORBAN-KORBAN

Namun itu bukan segalanya. Itu bukan kesudahannya. Karena kita tahu, setelah kita memiliki semua itu kita masih belum layak memasuki tanah itu. Kita masih membutuhkan lebih banyak lagi. Kita memulai dari kitab Keluaran 12, menikmati Kristus sebagai anak domba penebus dosa, lalu maju lagi menikmati Kristus sebagai manna setiap hari dan batu karang yang memancarkan air hidup, kemudian menikmati Kristus sebagai Tabut Perjanjian, ekspresi Allah yang hidup, dan menjadi manifestasi dan perluasan Kristus, agar kemuliaan Allah memenuhi kita. Sampai di sini kita telah membaca habis kitab Keluaran. Sekarang kita menuju kitab berikutnya, yakni kitab Imamat.

Setelah Kemah Pertemuan berdiri tegak, kita harus membahas korban-korban. Dalam semua korban ini betapa kayanya Kristus bagi kita. Boleh jadi Anda berkata, "Kita sudah mengetahui begitu banyak tentang Kristus, itu sudah cukup!" Namun tidak demikian, kita masih perlu maju terus ke depan. Masih ada lebih banyak. Memang Kemah Pertemuan telah berdiri, tetapi bagaimana kita dapat menyentuhnya? Ada kesaksian Allah, ekspresi Allah, dan manifestasi Kristus, tetapi bagaimanakah kita menyentuh semua itu? Kita tak dapat, selamanya tak dapat, manyentuh kesaksian ini di dalam diri kita sendiri. Di sana ada sebuah pintu masuk, jika seorang ingin memasuki pintu ini untuk menyentuh Kemah Pertemuan, satu-satunya jalan yang wajar ialah melalui korban-korban. Bila kita menyentuh Kemah Pertemuan tanpa korban, kita akan segera mati. Bila kita datang menyentuh Kemah Pertemuan, kita harus mempersembahkan korban. 0, alangkah kayanya Kristus! Pada satu pihak Dialah ekspresi Allah, pada pihak lain Dialah jalan, yakni korban-korban yang kita andaikan untuk menyentuh Allah. Dialah perantara satu-satunya yang memungkinkan kita menyentuh ekspresi Allah. Dialah segala-galanya.

Ada berapa macam korban-korban itu? Lima : korban bakaran, korban sajian, korban keselamatan, korban penghapus dosa, dan korban penebus salah. Kesemuanya itu adalah Kristus. Tiap kali kita ingin datang menyentuh kesaksian ini, yakni menyentuh manifestasi Kristus, kita wajib sekali lagi mempersembahkan Kristus, sekali lagi memanfaatkan Kristus. Adakalanya kita memanfaatkanNya sebagai korban penghapus dosa, adakalanya sebagai korban penebus salah; adakalanya sebagai korban sajian; adakalanya sebagai korban keselamatan, dan adakalanya maju selangkah sebagai korban bakaran.

Kapan kita memanfaatkan Kristus sebagai korban penebus salah? Ini sangat jelas, baiklah saya jelaskan dengan sebuah contoh. Misalnya kita mengadakan suatu sidang, dan Anda mengikuti sidang ini. Saat ini Anda datang menyentuh Kemah Pertemuan di mana ada Kristus sebagai intinya. Tetapi dalam hati Anda, Anda merasa pernah berbuat suatu kesalahan. Boleh jadi Anda bersalah terhadap seorang saudara. Memang, Anda hari ini melihat dia, dan Anda tersenyum kepadanya, tetapi senyuman Anda itu sebenarnya suatu ekspresi benci. Ketika Anda datang menyentuh Kemah Pertemuan dan kesaksian, Roh Kudus menyadarkan Anda akan kesalahan Anda. Anda telah berdosa; Anda telah bersalah. Tuhan menyuruh Anda mengasihi saudara, tapi Anda mengasihinya dengan pura-pura; Anda tersenyum terhadapnya dengan kebencian. Karenanya Anda harus memanfaatkan Kristus sebagai korban penebus salah Anda.

Sering kali Anda berdusta dengan perkataan benar. Adakalanya saya bertanya kepada seorang saudara tentang keadaan saudara lainnya, ia menjawab, "Saudara itu baik-baik saja!" Tetapi dari nada ucapannya dan perasaan dalam rohnya, saya merasa dia mengatakan perkataan sebenarnya di satu pihak, dan berdusta di pihak lainnya. Mungkin saya bertanya kepada Anda, "Apakah Anda mengasihi saudara anu?" Boleh jadi Anda menjawab, "Ya, saya mengasihi dia demi kasih karunia Tuhan." Jika demikian, saya tahu bahwa Anda tidak mengasihi dia. Atau saya bertanya kepada Anda, apakah Anda saudara yang baik, dan Anda menjawab bahwa Anda tidak terlalu baik. Nampaknya Anda sangat rendah hati, sangat jujur. Tetapi dalam hati Anda, Anda sedang mengatakan, Anda adalah seorang saudara yang terbaik. 0, saudara saudari, kita sering melakukan kesalahan!

Kita ini sungguh egoistis! Setiap datang bersidang, kita berhati egoistis demikian rupa sehingga memilih tempat duduk yang terbaik. Di sini (Amerika) tempat duduk kalian terpisah, kalian tak dapat merugikan hak orang lain. Tapi di Taiwan mereka duduk di bangku panjang, yang cukup memuat empat orang. Jika ada sidang istimewa, hadirin diminta duduk agak merapat, sehingga sebuah bangku dapat diduduki lima orang. Namun, ada beberapa orang yang walaupun mengetahui hal itu, tetap duduk sampai menempati seperempatnya, dan memaksa orang lain duduk di tempat yang sempit. Kita benar-benar berdosa! Betapa kita perlu memanfaatkan Tuhan sebagai korban penebus salah!

Saudara saudari, saya percaya, jika kita setia dan jujur di hadapan Tuhan, ketika kita datang menyentuh Kemah Pertemuan, kesaksian ini, RohNya pasti menyadarkan kita akan segala dosa dan kesalahan kita. Kita harus menyadari apa yang telah kita lakukan, dan berkata kepada Tuhan, "0, Tuhan, ampunilah saya. Bersihkanlah saya. Engkau telah mati di atas salib sebagai Tuhan Penebus saya, karenanya saya sekali lagi memanfaatkanMu sebagai korban penebus salah." Sungguh ajaib sekali! Setiap kali kita memanfaatkan Kristus sedemikian rupa, kita segera merasa diri kita telah menerima pengarnpunan dan pembersihan. Hati nurani kita merasa damai sejahtera. Dan kita dapat mengadakan persekutuan yang baik dengan Tuhan dan Tubuh --- gereja. Inilah arti memanfaatkan Kristus sebagai korban penebus salah kita. Adakah Anda pengalaman demikian?

Setiap kali, tidak ada sekali yang terkecuali, pada saat saya bersiap- siap untuk berkhotbah, saya harus mohon Tuhan sekali lagi membersihkan saya. Kalau tidak, karena tuduhantuduhan dalam hati nurani, saya akan kehilangan urapan minyak, dan tak dapat berkhobah dengan lincah dan hidup. Karenanya saya harus memanfaatkan Kristus sebagai korban penebus salah, agar hati nurani saya mumi, damai sejahtera, dan setelah itu baru saya berani mohon urapan minyak kepada Allah. Di mana ada pembasuhan darah, di situ baru ada urapan minyak. Urapan minyak selalu mengikuti pembasuhan darah. Kita mempunyai dasar darah untuk memanfaatkan urapan minyak, yaitu pekerjaan Roh Kudus, agar kita bisa berkhotbah dengan lincah. Pada saat saya memanfaatkan Kristus sebagai korban penebus salah, puji Tuhan, tak peduli saya telah berbuat berapa kesalahan, saya diampuni dan dibersihkan. Setiap kali saya berkhobah, setiap kali saya melakukan pelayanan, bahkan setiap kali saya berkontak dengan saudara-saudara, saya selalu harus berdoa, "Tuhan, sekali lagi mohon Engkau mengampuni dan membasuh hainba. Hamba memanfaatkan Engkau sebagai korban penebus salah."

Adakalanya kita seolah-olah tak bersalah apa-apa. Karena naungan Tuhan, kita terpelihara dalam hadiratNya sehari suntuk, sedikit kesalahan pun tidak ada. Ini mungkin terjadi. Kita tak merasa telah melakukan kesalahan apapun, tetapi kita mempunyai satu perasaan yang lebih dalam, ini sangat aneh sekali. Ketika kita sedang berkata, "0, Tuhan, terpujilah Engkau, hamba telah Kau pelihara dan jaga melewati sehari ini; demi naunganMu, hamba tidak berbuat kesalahan apapun", pada saat itu kita mempunyai satu perasaan yang lebih dalam, yakni merasa dalam batin kita ada dosa. Kita merasa dalam lubuk kita ada sesuatu yang lebih buruk daripada kesalahan, itulah Dosa, yakni sifat dosa. Walau kita telah beroleh selamat, dan damai dengan manusia maupun Allah, tetapi di batin kita tetap terdapat sifat dosa. Inilah Dosa yang ditanggulangi dengan keras sekali dalam Roma pasal 5, 6, 7 dan 8. Dosa tinggal di batin saya. Saya bukan membicarakan dosa-dosa, melainkan Dosa --- Dosa tunggal. Saya benci apa yang saya perbuat, itu bukan saya yang berbuat, melainkan Dosa yang tinggal di batin saya. Dalam batin saya ada satu oknum jahat, yang berkuasa dan yang hidup, namanya ialah Dosa. Dia dapat menaklukkan dan mengalahkan saya; dia dapat menyuruh saya melakukan perkara-perkara yang saya benci. Itulah satu sifat yang hidup; itulah sifat si jahat itu. Untuk ini ada satu korban --- korban penghapus dosa.

Pada suatu hari, dalam surat kabar saya membaca sebuah berita tentang perampokan sebuah bank. Saya berkata, "Oh, Tuhan, hamba bersyukur kepadaMu, demi belaskasihan dan karuniaMu, hamba tak pernah melakukan perkara yang demikian; hamba tak pernah merampok barang orang lain." Akan tetapi, dalam batin saya timbul satu perasaan : saya tidak seharusnya berkata demikian, sebab unsur merampok itu pun ada di dalam saya. Memang saya tidak mempunyai perilaku merampok, tapi saya memiliki sifat merampok. Pada satu aspek saya dapat berkata, "Tuhan, hamba bersyukur, demi naunganMu, hamba tak melakukan perampokan." Tetapi pada aspek lainnya, saya harus berkata "Tuhan, hamba memiliki satu watak dosa, sifat perampok, namun Kau adalah korban penghapus dosa. Walau di luar hamba tidak bersalah, tetapi di dalam hamba ada sifat dosa. Dan meskipun sekarang hamba tak perlu memanfaatkan Dikau sebagai korban penebus salah, tapi hamba tetap perlu memanfaatkan Dikau sebagai korban penghapus dosa hamba."

Saudara saudari, pada saat kita, makhluk tercipta yang telah jatuh, datang menyentuh kesaksian Allah, sedikitnya kita harus memanfaatkan Kristus sebagai korban penghapus dosa. Dalam Alkitab kita liliat bani Israel harus mempersembahkan korban penghapus dosa baru dapat menyentuh Allah. Tidak peduli betapa baiknya diri Anda menurut perasaan Anda, Anda harus nampak, karena Anda tetap ada dalam sifat dosa, maka Anda wajib memanfaatkan Kristus sebagai korban penghapus dosa Anda.

Puji Tuhan, Dia juga korban keselamatan. Tiap hari bahkan tiap saat, ketika menikmatiNya sebagai korban penebus salah dan korban penghapus dosa, kita pun menikmatiNya sebagai korban keselamatan. Melalui Dia dan di dalam Dia, kita telah damai dengan Allah dan saudara saudari kita. Kristus sendiri adalah damai sejahtera kita. Kita menikmati Dia sebagai damai sejahtera kita dengan Allah dan dengan sesarna kita. Alangkah manisnya Dia, dan alangkah memuaskannya Dia. Kita masing-masing dapat menikmati Dia di hadapan Allah, bahkan menikmati Dia bersama Allah. Itulah artinya Kristus menjadi korban keselamatan kita.

Kita masih harus memanfaatkan Kristus sebagai korban sajian. Sering kali setelah kita memanfaatkan dan mengalami Dia sebagai korban penebus salah dan korban penghapus dosa, kita akan segera rnemanfaatkanNya sebagai korban sajian. Demikianlah kita menikmati Kristus. Kita menikmati penghidupanNya di bumi --- betapa Dia itu sempurna, lemah lembut, putih bersih dan rohani! Kita menikmati Dia yang sedemikian ini. Kita berkata, "Tuhan, kami sungguh menikmati Dikau sebagai korban sajian yang dipersembahkan kepada Allah." Itulah jalan mempersembahkan Kristus sebagai korban sajian.

Kita pun harus sering memanfaatkan Kristus sebagdi korban bakaran. Kita harus berkata demikian, "Tuhan, kami nampak betapa Engkau mempersembahkan diriMu sepenuhnya kepada Allah sebagai korban yang menaati kehendakNya dan memuaskanNya, serta menempuh satu penghidupan yang mutlak bagi Allah. Kami menikmati Dikau sebagai persona yang sedemikian." Sering kali kita memiliki pengalaman semacam ini di hadapan perjarnuan Tuhan. Kita memanfaatkan Kristus sebagai korban sajian dan korban bakaran. Kita nainpak penghidupan Tuhan yang ajaib di bumi. Kita nampak ketika Dia berusia dua belas tahun. Kita nampak Dia menjadi tukang kayu dalam sebuah keluarga yang miskin di Nazaret. Kita nampak betapa Dia menunaikan tugasNya bagi Allah, betapa Dia berperilaku di hadapan manusia, serta betapa Dia bermurah hati, lemah lembut, rendah dan suci terhadap manusia. Kita memanfaatkan Dia sebagai kenikmatan kita, sebagai korban sajian dan korban bakaran, agar Allah puas. Kita boleh berkata kepada Tuhan, "Tuhan, hidupMu di bumi sama sekali untuk Allah, Dikau adalah korban bakaran. Kami memanfaatkan Dikau sebagai kenikmatan kami dan kepuasan Allah, tidak hanya di meja perjamuan ini, melainkan sepanjang hari pun demikian. Baik pada pagi hari maupun malam, kami senantiasa menikmati Dikau sebagai korban sajian dan korban bakaran."

0, puji Tuhan, Dialah semua korban itu, demi kenikmatan kita! Semakin Anda dan saya menikmati Kristus sebagai korban penebus salah, korban penghapus dosa, korban keselamatan, korban sajian, dan korban bakaran, kita akan semakin merasa berada di dalam Kemah Pertemuan. Semakin kita menikmati Kristus sedemikian rupa, kita akan semakin merasa kita berada di dalam penyertaan Allah yang mulia. Ini tidak hanya satu doktrin, melainkan satu perkara yang sangat praktis dan riil. Hal ini dapat dibuktikan dan dapat dialami. Jika kita tiada pengalaman yang demikian, berarti kita tidak sehat.

Sekarang Anda menyadari, entah berapa banyaknya Kristus yang harus kita alarni. Kita harus mengalarni Dia sebagai anak domba Paskah, manna, batu karang, Tabut Perjanjian berikut Kemah Pertemuan, dan berbagai korban --- korban penebus salah, korban penghapus dosa, korban keselamatan, korban sajian, dan korban bakaran. Kita harus setiap saat mengatami dan memanfaatkan Kristus sedemikian ini. Setelah itu baru kita layak, dan kuat maju ke depan untuk memperoleh Kristus Sang Almuhit itu. Memperoleh dan menduduki tanah permai bukan satu perkara yang terjadi dalam waktu sekejap atau tiba-tiba, melainkan satu proses penerimaan yang bertahap. Pertama kita harus menikmati Dia sebagai anak domba, manna, batu karang, Tabut Perjanjian dan Tabernakel, kemudian dari hari ke hari menikmati Dia sebagai berbagai korban. Dengan demikian barulah kita layak bertumbuh dan masak untuk memperokh tanah yang almuhit itu.

IMAM

Sekarang kita dibawa kepada masalah sistem imamat yang berhubungan erat dengan berbagai korban pada bagian pertama kitab Imamat. Harun beserta anaknya mengenakan pakaian rapi, layak menjadi imam untuk melayani Allah. Kita perlu memiliki ini; kita harus memiliki Kristus sebagai Harun, Imam Besar kita, dan kita semua harus menjadi anak-anakNya, para imam yang melayani Allah. Ini adalah perkara yang lebih kaya untuk kita nikmati, alami, dan manfaatkan. Tatkala Anda datang ke dalam sidang menikmati Tuhan, apakah Anda ada pelayanan? Apakah Anda menunaikan fungsi? Apakah Anda berkhotbah? Boleh jadi Anda menjawab, "Saudara, saya bukan seorang pengkhotbah, maka saya tidak berkhotbah, Andalah seorang pengkhotbah." Jika Anda berkata begitu, saya pun akan berkata kepada Anda, bahwa saya pun bukan pengkhotbah; saya sama dengan Anda. Anda seorang saudara, saya pun seorang saudara. Akan tetapi, Anda harus nampak bahwa Anda seharusnya berkhotbah. Kita semua perlu berkhotbah. Apakah yang harus Anda khobahkan? Anda sendiri tahu. Jika Anda jujur dan setia terhadap Tuhan, Anda akan mengetahui apa yang harus Anda khotbahkan. Anda adalah seorang imam.

Kalau Anda tidak menjadi imam dan melayani, Anda selamanya tak mungkin beroleh dan menduduki Kristus yang almuhit. Bila Anda mau memasuki tanah permai itu, Anda harus menjadi seorang imam. Diantara anak-anak Allah seharusnya ada suatu sistem imamat, kemudian barulah dapat memasuki dan memperoleh tanah itu. Mungkin Anda akan berkata, bahwa di antara bani Israel banyak yang bukan imam. Namun Anda harus akui, bahwa mereka semua telah beroleh kebaikan dari sistem imamat. Bagaimanapun juga di antara mereka ada suatu sistem imamat, karenanya, di antara kita pun harus ada sistem imamat.

Apakah arti imam? Jangan sekali-kali mengira imam adalah yang disebut pengkhotbah, pastur, pendeta, penginjil dan sebagainya. Saya khawatir kalau orang-orang itu banyak yang bukan sebagai imam yang sejati. Siapakah imam pada hari ini? Imam hari ini tak lain adalah mereka yang hidup di dalam Kristus, hidup bersandar Kristus, dan mengekspresikan Kristus. Apa yang Anda kerjakan, atau apa usaha Anda tidak menjadi soal. Boleh jadi Anda seorang guru, seorang pedagang, seorang dokter, seorang perawat, seorang pelajar, atau seorang ibu rumah tangga. Yang utama ialah Anda hidup di dalam Kristus, bertindak di dalam Kristus, menikmati Kristus, mengalarni Kristus, dan memanfaatkan Kristus dalam penghidupan Anda. Itulah yang memungkinkan Anda menjadi seorang imam. Lihatlah, apa yang dilakukan Musa ketika anak Harun dibawa ke hadapannya? Musa menanggalkan pakaiannya dan menggantinya dengan jubah imam. Apakah jubah imam itu? Itulah ekspresi Kristus. Kristus terekspresi di atas diri Anda, itulah jubah imam. Makanan imam maupun pakaian imam, semuanya mewakili Kristus, segenap penghidupannya mewakili Kristus. Jika Anda ingin menjadi imam, Anda harus hidup di dalam Kristus, dan melayani bersandar Kristus. Pada waktu Anda mengajar di sekolah, Anda mengajar di dalam Kristus; pada waktu Anda berdagang, Anda berdagang di dalam Kristus; pada waktu Anda mengerjakan urusan rumah tangga, Anda pun mengerjakannya di dalam Kristus. Itulah artinya mengenakanjubah imam.

Baru-baru ini, ada seorang saudari dari tempat yang jauh datang ke sini. Sebelumnya, ia mengirim telegram memberitahukan kepada kami tentang waktu kedatangannya dan nomor penerbangan dari pesawat udara yang ia tumpangi. Tetapi di antara kami tak seorang pun yang mengenal dia atau pernah melihat dia. Yang paling merepotkan ialah hari itu bertepatan dengan hari libur, sehingga di pelabuhan udara banyak orang-orang yang bepergian. Saudara-saudara sangat mencemaskan hal tersebut. Mereka berkata kepada saya, "Saudara, bagaimana kita dapat mengenali saudari itu? Bagaimana pula dia dapat mengenali kita?" Saya berkata, "Jangan khawatir, pasti ada beberapa tanda yang memungkinkan kita mengenali dia." Ketika pesawat udara mendarat dan para penumpangnya mulai turun, kami menunggu di pintu keluar. Beberapa wanita keluar melalui pintu, kemudian ada beberapa wanita lagi keluar. Ketika kami meliliat mereka berlalu, saya berkata kepada seorang saudara, 1ni bukan dia, itu pun bukan,... bukan.... bukan..." Setelah itu ada lagi seorang ke luar, saya lalu berkata kepada seorang saudara, "Inilah dia, pasti dia. Pergilah kepadanya dan menanyakannya." Tidak salah, dia tersenyum. kepada kami, dialah yang ingin kami jemput. Dari "jubah imam"nya saya dapat mengenal dia.

Hampir 3 tahun yang lalu, ada seorang saudari lain dari Shanghai berlayar ke Tiongkok Utara mengunjungi karni. Karena kapalnya tak dapat merapat di dermaga, maka para penumpangnya harus mendarat dengan sekoci-sekoci. Ketika itu banyak handai taulan dan kerabat yang berteriak- teriak memanggil yang ini dan yang itu. Tetapi kami selamanya tak pernah melihat saudari ini; kami semua tidak kenal dengannya. Kami mengamati satu persatu dan dengan cermat meneliti setiap sekoci yang tiba, tapi tidak berdaya mengetahui yang mana dia itu. Akhirnya, ada sebuah sekoci lain yang membawa seorang penumpang wanita, ketika dia memasuki jangkauan pandangan kami, kami semua berkata bahwa itulah dia. Benarlah terkaan kami. Bagaimana karni mengetahui? Tak lain melalui semacam ekspresi tertentu. Saya tak dapat menginterpretasikan tanda-tanda itu, tetapi saya dapat mengenali dan dapat merasakannya.

Banyak cerita semacam itu. Jika Anda seorang imam, pada diri Anda terdapat semacam keadaan yang tidak lazim; Anda memiliki perbedaan dan ciri-ciri yang jelas. Anda mengenakan Kristus sebagai perlengkapan dan jubah; Kristus adalah jubah Anda. Anda wajib mengalami Kristus sedemikian rupa, maka Anda adalah seorang imam. Dalam menangani urusan apa pun Anda bersandar Kristus, apa pun yang Anda kerjakan, Anda kerjakan bersandar Kristus, dengan demikian Anda akan mengekspresikan Kristus. Jika Anda seorang saudari, dan sehari suntuk menangani urusan dengan bersandar Kristus sedemikian rupa, bayangkanlah betapa kuatnya Anda! Anda dapat membantu orang lain mengenal Kristus; Anda akan menyuplaikan Kristus kepada sanak keluarga Anda. Pada saat Anda datang bersidang, banyak orang yang dapat Anda suplai. Baik Anda melakukan pembersihan, mengatur kursi, atau berlutut berdoa bersama beberapa saudari untuk sidang, semua pelayanan itu Anda lakukan di dalam Kristus dan melalui Kristus. Boleh jadi Anda menyediakan makanan bagi peserta-peserta sidang istimewa, hal itu pun merupakan semacam pelayanan yang harus menerima kepenuhan Roh Kudus. Kisah Para Rasul menunjukkan kepada kita, bahwa orang-orang yang melayani makanan harus dipenuhi Roh Kudus. Mengatur konsumsi bukanlah suatu hal yang mudah. Itulah kesempatan terbaik memanfaatkan dan menyuplaikan Kristus.

Banyak perkara yang harus dikerjakan oleh imam. Dalam menghadiri sidang, walau Anda tidak harus bersaksi secara terbuka, tapi Anda dapat memberikan pelayanan yang kuat dan menang setiap saat selama sidang berlangsung. Di Shanghai dalam satu periode, dari 1946 hingga 1948, sebagian besar saya yang menyampaikan berita. Setiap kali ketika saya menyampaikan satu berita, pasti ada beberapa saudara saudari --- bukan sedikit, kira-kira seratus sampai dua ratus --- yang duduk sambil menunaikAn tugas. Mereka menunaikan tugas dengan roh, roh doa, dan roh yang menanggapi. Mereka duduk sambil menarik berita saya dengan roh. Itulah pelayanan mereka, dan itulah pelayanan yang paling efektif dan paling mustika. Ratusan orang yang menempati balai sidang itu semua menjadi penunjang/pendukung saya dan perisai saya, mereka begitu serasi dengan saya. Jika tiada mereka, tak mungkin saya menyampaikan khotbahkhotbah dengan begitu lincah dan leluasa.

Pernah sekali kami mengadakan sidang istimewa beberapa hari, yaitu memberitakan Injil kepada orang-orang yang belum percaya. Saudara saudari merasa paling baik seluruh kursi diberikan kepada teman-terman yang belum percaya, maka mereka pindah ke satu ruang lainnya. Dengan demikian seluruh balai sidang, teristimewa tempat bagian depan, seluruhnya diduduki oleh orang-orang yang menjadi sasaran Injil. Sewaktu saya berdiri berkhotbah, saya memandang di sekitar, sungguh saya terkejut sebentar, sebab tiada seorang pun yang menjadi pendukung dan perisai saya. Saya hanya dapat berperang sendiri. Orang-orang yang belum pereaya adalah anak-anak Iblis, maka terasa luar biasa beratnya. Mereka mengerumuni saya di sekeliling, dosa-dosa mereka seolah-olah bangkit melawan saya. Keesokan harinya saya berkata kepada saudara saudari, "Tidak, kalian tak boleh berbuat demikian! Sekurang- kurangnya harus ada dua ratus orang di antara kalian yang menjadi penopang saya. Saya tak dapat sendirian berperang melawan beberapa ratus orang itu. Kalian harus kembali, kalian harus duduk bersama orang-orang itu, sambil berdoa dan menerima."

Dengan roh penopang yang demikian, maka betapa besarnya keberanian dan wewenang yang akan terasa! Setiap orang akan ditaklukkan. Bukan ditaklukkan oleh saya, melainkan oleh tubuh, dan oleh sistem imamat. Pada hari Pentakosta, Petrus tidak berdiri sendirian, melainkan bersama sebelas rasul lainnya. Lihatlah, betapa ia berani dan berkuasa, dan lihatlah betapa keberhasilan kemenangan yang diperolehnya.

Dulu di Taiwan pernah sekali diadakan sidang istimewa yang besar, diikuti kira-kira dua ribu orang lebih. Ketika saya berhadapan dengan pendengar-pendengar itu, suatu beban yang hebat menekan saya, saya lalu berkata kepada para penatua, "Kalian harus berada di atas podium bersama-sama saya." Mereka lalu berbuat demikian. Sewaktu saya berdiri menyampaikan berita, ada suara "Amin! Amin!" yang menyambut. Mereka telah menyangga dan menopang saya, sehingga saya memiliki keberanian yang sangat besar, dan seluruh pendengar dapat saya taklukkan. Dalam suasana demikian rasa takwa dan kasih terhadap Tuhan dapat dikobarkan. Itulah artinya menunaikan tugas.

Saudara saudari, kita selamanya tak dapat menipu musuh, hati nurani kita, dan Tuhan. Kalau para penatua yang berada di atas podium bukan imam, tapi orang-orang yang duniawi, mereka sama sekali tak dapat berkata "Amin" sedemikian rupa. Hati nurani mereka tak mungkin ada damai sejahtera. Mungkin mereka berkata "Amin" dengan nada yang ringan dan lemah, tetapi itu tak berarti, tiada kekuatan untuk menyangga. Akan tetapi mereka melayani Allah di dalam Kristus, hidup di dalam, bersandar, dan demi Kristus, karenanya mereka mernpunyai keberanian yang besar. Bila kesempatannya tiba, memerlukan seorang saudara berkhotbah, mereka dapat berkata, "Biarlah kita naik ke podium bersama-samanya ibarat satu pasukan tentara." Bukan seorang saudara yang berkhotbah, melainkan sekelompok atau sepasukan tentara. Ketika ia berbicara, mereka semua dengan roh yang perkasa berkata "Amin" sehingga musuh-musuh terusir. Di situ tiada sedikit pun peluang bagi musuh. Segenap sidang, seluruh peserta telah ditaklukkan dan ditawan oleh Tuhan. Jika Anda pernah memiliki pengalaman demikian, atau Anda sedang melalui sidang yang demikian, Anda dapat menyaksikan kebenaran hal ini.

Inilah pelayanan yang sejati. Hal ini sama sekali tergantung pada berapa banyaknya Anda, hidup, dan bertindak di dalam Kristus, dan berapa banyaknya Anda memanfaatkan Kristus sebagai makanan, pakaian dan segala-gala Anda.

Sekarang kita sudah selesai melihat kitab Imamat. Betapa banyaknya butir-butir Kristus yang harus kita alami. Betapa kaya dan ajaibnya Dia! Kita harus lebih banyak mengalami Dia. Kini, kita tidak saja ada Tabut dan Kemah Pertemuan, bahkan ada berbagai korban dan sistem imamat. Kita sudah lebih layak memasuki tanah itu. Tetapi kita tidak boleh takabur. Kita harus setiap hari berlatih ates hal-hal tersebut, dan mengalami dalam realitasnya. Melalui menikmati Kristus sebagai anak domba, hari raya Paskah, manna setiap hari, batu karang yang memancarkan air hidup, Tabut Perjanjian berikut Kemah Pertemuan, berbagai korban, dan segenap perlengkapan serta suplai sistem imamat yang sejati, barulah kita memenuhi syarat untuk memasuki tanah permai itu.