← Daftar isi Markus (1) · bab 7/22

PERGERAKAN PELAYANAN INJIL HAMBA-PENYELAMAT (14)

Pembacaan Alkitab: Mrk. 10:1-31

Dalam berita ini kita membahas Markus 10. Dalam ayat 1 mengatakan tentang kedatangan Tuhan ke Yudea. Kemudian dalam 10:2-31 terdapat ajaran tentang tidak bo-leh bercerai (ayat 2-12), memberkati anak-anak kecil (ayat 13-16), dan ajaran tentang orang kaya dan hal masuk ke dalam Kerajaan Allah (ayat 17-31).

PASAL BAGI ORANG YANG MENDAPATKAN WAHYU ILAHI YANG PALING TINGGI

Banyak pembaca Perjanjian Baru tidak menganggap Injil Markus sedalam Injil Matius, Injil Yohanes, atau bahkan Injil Lukas. Bahkan ada orang yang menganggap Injil Markus sebagai cerita bagi anak-anak. Kita mengucap syukur kepada Tuhan karena menerangi kita mengenai berbagai bagian dari Injil ini. Sebagaimana telah kita tunjukkan, dalam 8:27—9:13 kita dibawa ke dalam inti, visi yang paling puncak mengenai hal-hal dalam ruang lingkup ilahi yang misterius. Visi ini mengenai Kristus dengan kematian-Nya yang almuhit dan kebangkitan-Nya yang ajaib menjadi pengganti kita yang menyeluruh dan universal.

Dalam 9:14-50 kita nampak pelatihan oleh Tuhan ter-hadap murid-murid dalam terang dari apa yang diwahyukan dalam pasal-pasal sebelumnya. Secara khusus, murid-murid dilatih hidup damai satu sama lain untuk mempertahankan kesatuan. Damai dan kesatuan di antara kaum beriman ada-lah bagi kehidupan Tubuh. Setelah pelatihan yang diberikan dalam 9:14-50, dalam pasal 10 Tuhan memberikan kepada kita pelatihan yang lebih lanjut.

Markus 10 bukan pasal bagi pelajaran teologi. Ini ada-lah pasal tentang pengajaran bagi mereka yang berada da-lam puncak wahyu ilahi dalam Injil ini; ini juga bagi me-reka yang telah nampak persona hidup Kristus dengan kematian dan kebangkitan-Nya untuk menjadi pengganti mereka. Jika kita telah nampak visi ini, kita akan me-miliki kedudukan yang tepat dan berada di dalam ruang lingkup yang benar untuk menerima apa yang diwahyukan dalam pasal ini.

Kita tidak seharusnya memisahkan bagian mana pun dari pasal 10 dari visi mengenai Kristus serta kematian dan kebangkitan-Nya menjadi pengganti kita. Sebagai contoh, dalam 10:14 Tuhan Yesus berkata, “Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan halang-halangi mereka, sebab orang-orang seperti inilah yang memiliki Kerajaan Allah.” Kita tidak boleh menganggap hal ini hanya sebagai suatu cerita untuk dibacakan kepada anak-anak kecil menjelang tidur. Sebaliknya, kita perlu melihat hal ini berkaitan dengan visi surgawi mengenai Kristus serta kematian dan kebangkitan-Nya.

DENGAN KRISTUS SEBAGAI PENGGANTI KITA

SEHINGGA KITA DAPAT MASUK KE DALAM KERAJAAN YANG AKAN DATANG

Dalam 10:2-31 ada tiga hal yang dibahas: pernikahan, anak-anak muda, dan kekayaan. Hal-hal ini berkaitan dengan Kerajaan Allah. Secara khusus, hal-hal ini berkaitan dengan masuknya kita ke dalam kerajaan.

Jika kita mau masuk ke dalam Kerajaan Allah, kita perlu Kristus menjadi pengganti kita, kita juga perlu menerapkan kematian-Nya dan menikmati kebangkitan-Nya. Menurut apa yang diwahyukan mengenai hati manusia da-lam pasal 7, kita secara batiniah tidak bersih, tidak bersih di dalam hati kita. Hati kita adalah komposisi dari hal-hal yang najis. Karena hati kita berada dalam kondisi yang se-demikian, kita perlu digantikan oleh Kristus. Kita perlu di-akhiri melalui kematian-Nya, dan kita perlu kebangkitan-Nya untuk membawa Tuhan sendiri sebagai suplai hayat kita, sebagai roti hayat kita yang sejati.

Jika kita memiliki Kristus sebagai pengganti kita dan jika kita mengalami kematian-Nya yang mengakhiri dan kebangkitan-Nya yang menyuplai, kita akan mampu meng-atasi masalah pernikahan, umur atau keusangan, dan kekayaan. Setelah itu, barulah kita memenuhi syarat untuk masuk ke dalam kerajaan. Jika tidak, kita tidak patut untuk kerajaan; juga tidak dapat masuk ke dalam kerajaan. Jika kita tidak memiliki Kristus sebagai pengganti kita, tidak memiliki kematian-Nya untuk mengakhiri kita, dan tidak memiliki kebangkitan-Nya untuk menyuplai kita dengan diri-Nya sebagai roti pemberi-hayat, kita tidak akan memiliki pintu masuk ke dalam kerajaan.

Mempelajari Alkitab bukan hanya perkara menggunakan pikiran alamiah kita untuk membaca huruf hitam di atas kertas putih. Jika kita ingin melihat visi yang diwahyukan dan disampaikan oleh firman kudus, kita perlu terang ilahi. Kita juga perlu sejumlah pengalaman dalam Tuhan. Jika kita kekurangan terang ilahi dan jika kita ke-kurangan pengalaman, kita tidak akan mampu nampak ba-nyak dalam firman, bahkan mungkin tidak nampak apa-apa. Syukur kepada Tuhan karena menunjukkan kepada kita sesuatu yang ajaib mengenai Kristus serta kematian dan kebangkitan-Nya sebagai pengganti kita. Ini adalah hal yang tidak mampu dipahami pikiran alamiah kita. Untuk nampak hal ini, kita perlu terang surgawi dan pengalaman rohani.

Saya ingin menekankan fakta bahwa kita perlu membaca Markus 10 dalam terang yang diwahyukan dalam pasal 7, 8, dan 9. Terutama kita perlu membaca Markus 10 menurut visi Kristus serta kematian dan kebangkitan-Nya menjadi pengganti kita yang almuhit. Dalam 8:27—9:13 kita memiliki butir penting, dan pasal 10 disajikan menurut butir penting ini. Jika kita tidak memiliki pasal 8:27—9:13, kita tidak memiliki butir penting. Sekarang saat kita membahas pasal 10, kita tidak seharusnya menganggap apa yang dicatat di sini hanya sebagai cerita bagi anak-anak. Sebaliknya, segala sesuatu di dalam pa-sal ini berkaitan dengan visi Kristus serta kematian dan kebangkitan-Nya.

DATANG KE DAERAH YUDEA

Markus 10:1 mengatakan, “Dari situ Yesus berangkat ke daerah Yudea dan ke daerah seberang Sungai Yordan dan orang banyak datang lagi berkerumun di sekeliling Dia; dan seperti biasa Ia mengajar mereka lagi.” Dalam ayat ini “dari situ” mengacu kepada Kapernaum, yang berada di Galilea. Sampai saat ini ministri Hamba-Penyelamat selalu berada di Galilea. Tetapi sekarang, menurut ayat ini, Dia bangkit dari Kota Kapernaum di Galilea dan pergi ke dae-rah Yudea, daerah di sekeliling Yerusalem. Ayat ini juga ber-bicara tentang Sungai Yordan, tempat Hamba-Penyelamat memulai ministri-Nya. Karena itu, Sungai Yordan mengi-ngatkan kita kepada permulaan Injil dan perkenalan Hamba-Penyelamat. Ketika kita mempelajari Injil Markus, kita per-lu menemukan alasan penulis menyebutkan daerah Yudea dan Sungai Yordan.

Hamba-Penyelamat telah menunaikan ministri-Nya lebih dari tiga tahun dalam pelayanan Injil-Nya di daerah Galilea yang diremehkan, jauh dari Bait Suci dan Kota Suci, tempat Ia harus mati untuk perampungan rencana kekal Allah. Dia adalah Anak Domba Allah (Yoh. 1:29), harus di-persembahkan kepada Allah di Gunung Moria, tempat Abraham mempersembahkan Ishak dan menikmati perse-diaan Allah berupa seekor domba jantan sebagai pengganti anaknya (Kej. 22:2, 9-14) dan tempat dibangunnya Bait Allah di Yerusalem (2 Taw. 3:1). Menurut ketetapan Trinitas ke-Allahan (Kis. 2:23), di sanalah Ia harus diserahkan kepada pemimpin-pemimpin kaum Yahudi (Mrk. 9:31; 10:33), dan di sanalah Ia akan ditolak sebagai pembangun bangunan rumah Allah (8:31; Kis. 4:11). Juga di tempat itu pula Ia akan disalibkan berdasarkan corak penghukuman kelas be-rat pemerintahan Romawi (Yoh. 18:31-32; 19:6, 14-15) untuk memenuhi nubuat tentang bagaimana Ia mati (Bil. 21:8-9; Yoh. 3:14). Selain itu, menurut nubuat Daniel (Dan. 9:24-26) tahun itu justru adalah tahun Mesias (Kristus) dibunuh. Selanjutnya, sebagai Anak Domba Paskah (1 Kor. 5:7) Ia harus dibunuh dalam bulan Paskah (Kel. 12:1-11). Karena itu, Ia harus pergi ke Yerusalem (Mrk. 10:33; 11:1, 11, 15, 27; Yoh. 12:12) sebelum hari Paskah (Yoh. 12:1; Mrk. 14:1), agar Ia mati di tempat itu tepat pada hari Paskah (14:12-17; Yoh. 18:28), tepat pada saat dan tempat yang telah ditentukan sebelumnya oleh Allah.

Pelayanan Injil diawali oleh ministri Yohanes Pem-baptis, pelopor Hamba Penyelamat, di Yudea (Mrk. 1:1-11), daerah yang terhormat. Tetapi dilanjutkan oleh ministri Hamba Penyelamat di Galilea, daerah yang diremehkan, selama suatu jangka waktu kira-kira tiga tahun (1:14— 9:50). Tidak seperti Yohanes dalam Injil-Nya, Markus tidak menceritakan apa pun tentang ministri Hamba-Penyelamat di Yerusalem dan Yudea selama waktu ini, sampai Dia meninggalkan Galilea menuju Yerusalem untuk kali terakhir, untuk merampungkan pekerjaan penebusan-Nya. Kemudian pelayanan Injil diteruskan oleh ministri-Nya di jalan menuju Yerusalem dan di Yerusalem dengan daerah sekelilingnya (10:1—14:42). Pelayanan ini diakhiri dengan kematian-Nya yang menebus, kebangkit-an-Nya yang menyalurkan hayat, kenaikan-Nya bagi pe-ninggian-Nya, dan kelanjutan pelayanan Injil-Nya oleh pemberitaan murid-murid-Nya kepada segala makhluk (14:43—16:20).

TEMPAT DAN WAKTU

YANG DITETAPKAN OLEH ALLAH

Sebagai orang Kristen kita tahu bahwa Tuhan Yesus perlu mati bagi kita. Ketika membaca Alkitab, kita perlu bertanya, pada tempat dan waktu yang bagaimana Tuhan akan mati. Menurut Perjanjian Lama, baik tempat dan waktunya ditetapkan oleh Allah. Hamba-Penyelamat adalah hamba Allah, dan sebagai hamba, Dia tidak memiliki pilih-an mengenai tempat dan waktu kematian-Nya. Baik tempat maupun waktu ditentukan oleh Tuan-Nya. Selain itu, hal ini ditentukan oleh rapat Trinitas ke-Allahan bahwa Hamba-Penyelamat akan diserahkan kepada para pemimpin Yahudi dan ditolak oleh mereka (Kis. 2:23).

Kita perlu bertanya kepada diri kita sendiri mengapa, setelah Dia melakukan ministri di Galilea selama kurang lebih tiga tahun, Hamba-Penyelamat tiba-tiba bangkit dan pergi ke selatan, ke daerah Yudea dan jauh dari Sungai Yordan. Dia melakukan hal ini karena waktu kematian-Nya sudah dekat. Dia harus mati pada tahun yang dinubuatkan oleh Daniel. Selain itu, menurut lambang Domba Paskah, Dia harus mati pada hari raya Paskah, yaitu pada hari keempat belas pada bulan pertama dari kalender Yahudi. Karena itu, merupakan suatu hal yang sangat berarti bahwa menurut 10:1, Tuhan meninggalkan Galilea dan pergi ke Yudea.

MENGESAMPINGKAN PENGAJARAN TRADISIONAL,

KEMBALI KEPADA FIRMAN MURNI ALLAH

Meskipun ahli-ahli Taurat bergairah untuk mempelajari Kitab Suci, mereka tidak nampak dari Daniel 9, tahun saat Mesias akan disingkirkan, dibunuh. Daniel 9 memberi tahu kita bahwa dari perintah untuk membangun Yerusalem “sampai pada kedatangan seorang yang diurapi, seorang raja, ada tujuh kali tujuh masa; dan enam puluh dua kali tujuh masa . . . Sesudah keenam puluh dua kali tujuh ma-sa itu akan disingkirkan seorang yang telah diurapi . . .” (ayat 25-26). Frase “tujuh masa” di sini mengacu kepada tahun-tahun, tujuh masa menjadi sama dengan tujuh tahun. Karena itu, jangka waktu dari “dikeluarkannya perintah untuk pemugaran dan pembangunan Yerusalem” sampai kepada terbunuhnya Mesias yaitu 483 tahun. Akan lebih mudah bagi ahli-ahli Taurat untuk menghitung tahun saat Mesias akan disingkirkan. Bagaimanapun, karena mereka memperhatikan tradisi, diduduki oleh tradisi dan bukan memelihara firman murni Allah, mereka tidak nampak masalah ini.

Sebagaimana ahli-ahli Taurat diduduki oleh tradisi dan bukan oleh firman murni, kebanyakan orang Kristen hari ini diduduki oleh pengajaran tradisional, bukan diduduki oleh firman murni Allah. Banyak yang tidak bersedia kem-bali kepada firman dan mempelajarinya secara langsung dengan cara yang murni. Jika ahli-ahli Taurat kuno bersedia melupakan pengajaran-pengajaran tradisional dan mem-pelajari Kitab Suci dengan murni, mereka akan mengetahui tahun yang tepat saat Mesias akan dibunuh. Selain itu, me-reka akan nampak bahwa justru dalam tahun itu mereka sedang berusaha menangkap Tuhan Yesus.

Meskipun ahli-ahli Taurat tidak mengetahui kapan Mesias akan dibunuh, Tuhan Yesus tahu kapan Dia akan dibunuh. Dia tahu tahun, bulan, dan harinya. Dia tahu bahwa Dia akan dibunuh pada hari raya Paskah, yaitu pada hari keempat belas bulan pertama dalam kalender Yahudi. Karena mengetahui hal ini, Dia pergi dengan berani ke Yudea, tidak ingin menunda. Dia tahu bahwa Dia perlu berada di Yerusalem empat hari sebelum hari Paskah. Saat itu adalah waktu ketika domba Paskah diperiksa.

Tuhan Yesus tentu tahu semua nubuat dan lambang mengenai kematian-Nya. Dia tahu, khususnya bahwa Dia akan disalibkan di Gunung Moria, nama lain dari Gunung Sion. Tuhan tahu bahwa Dia tidak seharusnya disalibkan di Galilea. Dia harus disalibkan di Gunung Moria, tempat Abraham mempersembahkan Ishak dan menerima persedia-an Allah. Tuhan juga tahu bahwa Dia akan dibunuh dengan cara disalib, dengan dinaikkan pada sebatang tiang, seba-gaimana dilambangkan oleh ular tembaga dalam Bilangan 21:8-9.

Meskipun hal-hal yang berkaitan dengan kematian Kristus dengan jelas dinubuatkan dan dilambangkan dalam Perjanjian Lama, ahli-ahli Taurat, mereka yang mengklaim diri mereka “doktor hukum Taurat”, tidak mengetahui hal-hal ini. Hal ini seharusnya menjadi peringatan bagi kita. Jika kita jatuh ke bawah pengaruh pengajaran-pengajaran tradisional, mata kita akan terselubungi, tidak bisa melihat wahyu dalam firman murni. Karena itu, kita perlu menge-sampingkan pengajaran-pengajaran tradisional dan kembali kepada firman murni Allah. Jika kita melakukan hal ini, kita akan menerima banyak terang dari Tuhan.

Markus 10:1 mengatakan bahwa ketika Tuhan pergi ke daerah Yudea, seperti biasa, Dia mengajar orang. Dalam 10:15 kita nampak Tuhan mengajar mengenai Kerajaan Allah: “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Siapa saja yang tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya.” Ayat ini menunjukkan dengan kuat bahwa pengajaran Tuhan dalam 10:13-16 me-ngenai anak-anak kecil secara langsung berkaitan dengan Kerajaan Allah.

MENERIMA KERAJAAN

DAN MASUK KE DALAM KERAJAAN

Dalam ayat 15 kita nampak dua aspek mengenai kera-jaan: menerima kerajaan dan masuk ke dalam kerajaan. Apakah Anda telah menerima Kerajaan Allah? Terhadap pertanyaan ini kita semua dapat menjawab, “Amin! Aku tentu telah menerima Kerajaan Allah.” Apakah Anda juga memiliki jaminan bahwa Anda akan masuk ke dalam Kera-jaan Allah? Kita mungkin ragu-ragu dalam menjawab per-tanyaan ini, karena meskipun kita berusaha untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah, kita tidak memiliki jaminan yang pasti bahwa kita akan masuk ke dalam kerajaan.

KEKAYAAN DAN KERAJAAN

YANG AKAN DATANG

Pengajaran mengenai kekayaan dalam 10:17-31 juga berkaitan dengan Kerajaan Allah. Sebagai contoh, dalam ayat 24 Tuhan berkata, “Anak-anak-Ku, alangkah sukarnya masuk ke dalam Kerajaan Allah.” Kemudian dalam ayat 25 Tuhan melanjutkan perkataan-Nya, “Lebih mudah seekor unta melewati lubang jarum daripada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.” Ayat ini menunjukkan bahwa apa yang kita miliki dalam 10:17-31 bukan hanya cerita untuk anak-anak; apa yang kita miliki di sini adalah suatu perkataan yang serius mengenai Kerajaan Allah.

Dalam ayat 26 kita nampak murid-murid menanggapi perkataan Tuhan mengenai masuk ke dalam Kerajaan Allah: “Mereka makin tercengang dan berkata seorang kepada yang lain, ‘Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?’” Di sini kita nampak bahwa meskipun Tuhan sedang meng-ajar tentang masuk ke dalam Kerajaan Allah, pikiran mu-rid-murid diduduki dengan perihal diselamatkan. Dalam ayat 27 Tuhan meneruskan penjelasan-Nya, “Bagi manusia hal itu tidak mungkin, tetapi bukan demikian bagi Allah. Sebab segala sesuatu mungkin bagi Allah.”

Dalam ayat 28, Petrus, dengan terus terang, mulai ber-kata kepada Tuhan, “Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau!” Saya mengapresiasi kete-rusterangan Petrus. Dia seolah-olah berkata, “Lihatlah, Tuhan, kami telah meninggalkan segala sesuatu untuk mengikut Engkau. Kami meninggalkan keluarga kami, perahu kami, dan bahkan Laut Galilea. Tidakkah hal ini patut mendapatkan upah?”

Dalam ayat 29-30 terdapat jawaban Tuhan: “Sesung-guhnya Aku berkata kepadamu, setiap orang yang karena Aku dan karena Injil meninggalkan rumahnya, atau saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, atau ibunya atau bapaknya, atau anak-anaknya atau ladangnya, orang itu pada zaman ini juga akan menerima kembali seratus kali lipat: rumah, saudara laki-laki, saudara perempuan, ibu, anak dan ladang, sekalipun disertai berbagai pengania-yaan, dan pada zaman yang akan datang ia akan menerima hidup (hayat) yang kekal.” Di sini hayat yang kekal tidak disebutkan berkaitan dengan keselamatan. Dalam ayat ini hayat yang kekal adalah upah, kenikmatan kita di zaman yang akan datang. Dalam kerajaan yang akan datang ka-um beriman yang menang akan menikmati hayat yang ke-kal. Masuk ke dalam kenikmatan ini pada zaman yang akan datang adalah masuk ke dalam kerajaan yang akan datang dan berpartisipasi dalam kenikmatan akan hayat yang kekal.

Sekarang kita dapat nampak bahwa apa yang terkandung dalam pasal 10 berkaitan dengan kerajaan. Perkataan Tuhan di sini berkaitan dengan menerima Kerajaan Allah dan secara khusus, berkaitan dengan masuk ke dalam kerajaan pada zaman yang akan datang.

TIGA HAL YANG BISA MENGHALANGI KITA MASUK KE DALAM KERAJAAN ALLAH

Dalam 10:2-31 kita nampak tiga hal yang bisa meng-halangi kita masuk ke dalam kerajaan yang akan datang: pernikahan, keusangan, dan kekayaan. Murid-murid telah dibawa ke jalan yang mengarah ke dalam kerajaan. Seka-rang dalam pasal 10 mereka perlu diajar mengenai tiga hal yang bisa menghalangi mereka masuk ke dalam Kerajaan Allah.

Jika kita ingin masuk ke dalam kerajaan yang akan datang, kita perlu dengan tepat menangani tiga hal: pernikahan, umur (atau keusangan), dan harta. Kita perlu memperhatikan masalah pernikahan sesuai dengan ketetapan Allah, kita perlu dijaga agar tidak menjadi usang secara rohani, dan kita perlu menangani harta kita dengan cara yang tepat. Semoga kita terkesan dengan fakta bahwa pengajaran Tuhan mengenai hal-hal ini dalam pasal 10 berkaitan dengan masuk ke dalam Kerajaan Allah.