← Daftar isi Markus (1) · bab 6/22

PERGERAKAN PELAYANAN INJIL HAMBA-PENYELAMAT (13)

Pembacaan Alkitab: Mrk. 9:38-50

Dalam berita ini kita akan memiliki perkataan lebih lanjut tentang Markus 9:38-50. Kita telah menunjukkan bahwa dalam bagian ini terdapat ajaran Tuhan tentang bertoleransi bagi kesatuan.

BAHAYA MENGANGGAP DIRI SENDIRI LEBIH BAIK DARIPADA ORANG LAIN

Dalam 8:27—9:13 kita nampak visi Kristus sebagai pengganti kita yang almuhit melalui kematian dan kebangkitan-Nya. Dalam pasal 9 Tuhan mengajar murid-murid nampak bahwa mereka harus diakhiri dan tidak menjadi apa-apa. Namun, dalam 9:33-37 kita nampak bahwa me-reka bertengkar satu sama lain tentang siapa yang lebih besar. Tuhan mengajar murid-murid dan mencoba menolong mereka nampak bahwa mereka seharusnya bukan apa-apa, tetapi mereka bertengkar dalam usaha mereka menjadi orang besar, bahkan lebih besar daripada orang lain. Karena itu, dalam 9:33-37 kita memiliki ajaran Tuhan tentang kerendahan hati.

Dalam 9:38, Yohanes berkata kepada Tuhan Yesus, “Guru, kami melihat seseorang yang bukan pengikut kita mengusir setan demi nama-Mu, lalu kami cegah dia, karena dia bukan pengikut kita.” Ayat-ayat selanjutnya dari pasal ini membicarakan ajaran Tuhan tentang bertoleransi bagi kesatuan, ajaran yang diberikan untuk merespon pernyataan Yohanes dalam ayat 38.

Kita perlu melihat bahwa jika kita melarang orang lain seperti yang dilakukan Yohanes dalam ayat 38, ini menunjukkan bahwa kita menganggap diri kita sendiri lebih besar daripada orang lain. Tidak hanya demikian, ketika kita melarang orang lain, menganggap diri sendiri lebih besar, kita juga membuat orang lain tersandung. Ketika kita menyebabkan yang lain tersandung, kita juga menyebabkan diri kita sendiri tersandung. Si jahat bisa meng-gunakan anggota-anggota tubuh kita tangan, kaki, atau mata untuk mengekspresikan hawa nafsu dan menye-babkan kita tersandung. Kita perlu sangat hati-hati menge-nai hal ini.

Kita tidak seharusnya menganggap diri kita hebat. Sebaliknya, kita perlu nampak bahwa kita bukanlah siapasiapa dan bukanlah apa-apa. Jika kita memiliki pengenalan ini, kita akan berdoa. Bagi kita, berdoa menunjukkan kita nampak bahwa kita bukan apa-apa dan kita tidak dapat mengerjakan apa-apa. Kita memerlukan persona yang lain Kristus sendiri untuk menggantikan kita.

Jika kita tidak menganggap diri kita sendiri orang yang hebat, orang yang lebih besar daripada yang lain, kita tidak akan menyebabkan orang lain tersandung. Tetapi jika kita mengira kita hebat, kita akan membuat orang lain ter-sandung. Pada saat yang sama, kita akan membuka pintu bagi musuh untuk memakai hawa nafsu dalam anggota-anggota tubuh kita untuk menyandung kita.

Anggota-anggota tubuh kita, terutama mata, sangat penuh hawa nafsu. Jika kita membuat orang lain tersandung dengan menganggap diri kita sendiri lebih besar daripada mereka, kita memiliki mata yang jahat. Kemudian jalan akan terbuka bagi musuh untuk memanfaatkan hawa nafsu di dalam anggota-anggota tubuh kita untuk membuat kita tersandung.

Kita semua perlu belajar mengambil salib, memikul salib, dan menerapkan kematian Tuhan yang mengakhiri pada situasi kita. Jika kita meletakkan diri kita sendiri da-lam kematian secara demikian, kita tidak akan mengang-gap diri kita besar. Sebaliknya, kita akan menganggap diri kita bukan apa-apa. Hasilnya, tidak akan ada tumpuan bagi musuh untuk memanfaatkan anggota-anggota tubuh kita untuk membuat kita tersandung.

Jika kita tidak mengambil salib kita dan menerapkannya pada diri kita sendiri, kita bukan hanya akan menyebabkan orang lain tersandung, tetapi juga akan menyebabkan diri kita sendiri tersandung lagi dan lagi. Kita akan tersandung oleh hawa nafsu tangan kita, kaki kita, dan mata kita. Jika keadaan kita demikian, akhirnya, ketika zaman kerajaan datang, kita perlu digarami, karena kita masih penuh dengan “kuman”.

DIMURNIKAN DAN DIJAGA OLEH API

Penggaraman yang sedang saya bicarakan adalah peng-garaman dengan api. Mengenai hal ini, Tuhan Yesus berkata, “Karena setiap orang akan digarami dengan api” (ayat 49). Di sini kita memiliki “garam-api”, atau api sebagai garam. Pada zaman yang akan datang, ada orang yang akan dima-sukkan ke dalam api untuk digarami. Penggaraman dengan api ini akan memurnikan mereka. Di satu aspek, pemur-nian ini adalah suatu pendisiplinan, suatu ganjaran, suatu penghukuman. Tetapi di aspek lain, pemurnian ini menjaga kaum beriman. Karena itu, pemurnian ini tidak hanya me-rupakan suatu penghukuman, tetapi juga menjaga orang yang dimurnikan dari kebinasaan, dari hilang selama-lamanya.

Sebagaimana telah kita tunjukkan, api dalam 9:49 ada-lah api yang membersihkan (Mal. 3:2), api yang memur-nikan. Sebagaimana disebutkan dalam 1 Korintus 3:13 dan 15, api ini pada zaman kerajaan akan memurnikan kaum beriman yang melakukan dosa dan tidak bertobat pada zaman ini. Karena itu, pemurnian oleh api akan merupakan penghukuman sezaman. Kita telah nampak bahwa bahkan dalam zaman ini Allah memurnikan kaum beriman melalui pencobaan seperti melalui api (1 Ptr. 1:7; 1 Ptr. 4:12, 17). Penghukuman sezaman oleh api dalam zaman yang akan datang sama prinsipnya dengan ganjaran Allah melalui penderitaan seperti melalui api di zaman ini.

HIDUP BERDAMAI SEORANG DENGAN YANG LAIN

Dalam Markus 9:50, yang adalah perkataan kesimpulan Tuhan dalam bagian ini, kita nampak makna yang sesung-guhnya dari bagian Injil Markus ini. Dalam ayat ini Tuhan berkata, “Garam memang baik, tetapi jika garam menjadi hambar, dengan apakah kamu mengasinkannya? Hendak-lah kamu senantiasa mempunyai garam dalam dirimu dan hidup berdamai seorang dengan yang lain.” Di sini kita melihat arti yang utama dari bagian ini bahwa kita seha-rusnya hidup berdamai seorang dengan yang lain.

Kita telah menekankan fakta bahwa 9:38-40 dimulai de-ngan perkataan Yohanes tentang melarang seseorang mengusir setan dalam nama Tuhan, karena dia tidak mengikuti murid-murid. Dalam menanggapi perkataan Yohanes, Tuhan seolah-olah mengatakan dalam ayat-ayat ini, “Orang yang mengusir setan dalam nama-Ku tidak mengikuti kamu. Walaupun demikian, dia adalah salah satu dari kaum ber-iman-Ku, dan kamu harus hidup berdamai dengan dia. Tetapi kamu tidak hidup berdamai dengan dia karena kamu menganggap dirimu lebih besar daripada dia. Kamu juga menganggap bahwa kamu lebih dekat kepada-Ku daripada dia. Kamu pikir kamu lebih baik daripada dia. Pikiran yang demikian menyebabkan dia tersandung dan membuka pintu masuk bagi musuh untuk menyebabkan kamu tersan-dung dengan menggunakan anggota-anggota tubuhmu yang penuh nafsu.”

Sesungguhnya, bagian dari Injil Markus ini sangat tinggi. Di sini kita nampak penyebab yang riil dari perpcahan di antara orang Kristen hari ini. Orang Kristen me-mang tidak hidup berdamai seorang dengan yang lain. Dalam 9:50 Tuhan berkata, “Hendaklah kamu senantiasa mempunyai garam dalam dirimu dan hidup berdamai seorang dengan yang lain.” Tetapi seluruh situasi di antara kaum beriman hari ini berlawanan. Kita tidak dapat mengatakan bahwa kaum beriman hidup berdamai seorang dengan yang lain.

Alasan kaum beriman tidak hidup berdamai seorang dengan yang lain adalah banyak yang menganggap diri sendiri sebagai orang penting dan menganggap dirinya lebih besar daripada orang lain. Akibatnya ialah orang lain tersandung, dan pintu terbuka bagi musuh untuk memanfa-atkan anggota-anggota tubuh kaum beriman yang penuh nafsu untuk membuat mereka tersandung. Karena itu, akhirnya mayoritas kaum beriman hari ini telah tersandung.

Di manakah ada orang Kristen yang tidak tersandung baik oleh orang lain atau oleh tindakan mereka sendiri? Situasi hari ini ialah kaum beriman menyebabkan orang lain tersandung, dan kemudian Iblis datang untuk memanfaatkan tangan, kaki, dan mata mereka untuk menyan-dung mereka sendiri. Jadi, kaum beriman saling menyan-dung, dan setiap orang menyebabkan dirinya sendiri ter-sandung.

GARAM DAN ANUGERAH

Karena situasi di antara kaum beriman penuh dengan sandungan, kita sangat perlu visi Kristus yang dilihat oleh murid-murid di gunung pengubahan. Markus 9:7 mengatakan, “Lalu datanglah awan menaungi mereka dan dari da-lam awan itu terdengar suara, ‘Inilah Anak-Ku yang ter-kasih, dengarkanlah Dia.’” Kita juga perlu mendengarkan Kristus, yang dikasihi Allah. Kita tidak seharusnya mende-ngarkan diri kita sendiri atau orang lain.

Kita perlu visi di mana kita melihat bukan hanya Kristus, tetapi juga kematian-Nya yang almuhit dan kebangkitan-Nya. Kita perlu digantikan oleh Kristus melalui kematian dan kebangkitan-Nya. Ini berarti kita perlu me-nerapkan kematian-Nya kepada diri kita sendiri dan kemu-dian menerima suplai-Nya yang kaya dalam kebangkitan-Nya yang ajaib. Jika kita digantikan oleh Kristus dengan cara ini, kita akan disembuhkan dari “kuman” di dalam kita. Kita akan digarami bahkan di dalam zaman ini. Kita tidak akan perlu menunggu zaman yang akan datang untuk digarami.

Digarami dalam zaman ini adalah digarami dengan anugerah melalui kematian dan kebangkitan Kristus. Tetapi jika kita menunggu digarami dalam zaman yang akan datang, kita akan digarami dengan api. Jika kita menggarami diri sendiri hari ini melalui kematian dan kebangkit-an Kristus, kita akan menerima anugerah.

Dalam Kolose 4:6 Paulus menjajarkan anugerah dan garam bersama-sama: “Hendaklah kata-katamu senan-tiasa penuh kasih, jangan hambar, sehingga kamu tahu, bagaimana kamu harus memberi jawab kepada setiap orang.” Dalam Efesus 4:29 Paulus menyebutkan kata-kata yang memberikan anugerah kepada mereka yang mendengarnya: “Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh anugerah.” Anugerah adalah Kristus sebagai kenikmatan dan suplai kita. Pembicaraan kita seharusnya menyampaikan anugerah ini kepada orang lain. Perkataan yang membangun orang lain selalu melayankan anugerah yang sedemikian kepada pendengarnya. Bila pembicaraan kita penuh dengan anugerah berarti Kristus diekspresikan melalui perkataan kita. Ini berarti perkataan kita seharusnya merupakan ekspresi dan pengutaraan kita. Setiap kata seharusnya adalah ekspresi Kristus sebagai anugerah.

Menurut Kolose 4:6, pembicaraan kita seharusnya juga mengandung garam. Garam membuat segala sesuatu cocok dan enak untuk dikecap. Perkataan yang mengandung garam akan menjaga kita hidup damai seorang dengan yang lain. Ini adalah alasan Tuhan memberi tahu kita dalam Markus 9:50 untuk memiliki garam dalam diri kita dan kemudian hidup damai seorang dengan yang lain. Jika perkataan kita disertai dengan anugerah dan mengandung garam, perkataan itu akan menyebabkan segala sesuatu cocok.

Ketika kita menggarami diri kita dengan kematian Kristus dan kebangkitan-Nya, kita menerima anugerah. Tetapi jika kita tidak menggarami diri kita dengan kematian dan kebangkitan Kristus, kita akan kehilangan kesempatan untuk menerima anugerah. Sebagai akibatnya, kita akan digarami dengan api sebagai penghukuman dalam zaman yang akan datang.

Saya ingin mendorong kaum beriman mendoabacakan 9:38-50. Melalui mendoabacakan ayat-ayat ini Anda akan diterangi. Kemudian Anda akan menyadari bahwa Anda seharusnya tidak menyebabkan perpecahan. Anda seharusnya tidak melarang orang lain, dan Anda seharusnya tidak memaksa orang lain mengikuti Anda.

DUA PERIBAHASA

Mengenai Keselarasan Lahiriah

Dalam berita ini saya ingin mengesankan Anda dengan dua peribahasa yang diutarakan Tuhan Yesus. Yang pertama dalam Matius 12:30 dan yang kedua dalam Markus 9:40. Dalam 9:40 Tuhan berkata, “Siapa saja yang tidak melawan kita, ia ada di pihak kita.” Peribahasa ini ber-bicara tentang keselarasan lahiriah dalam pelaksanaan dan berkaitan dengan orang-orang yang tidak menentang Tuhan (ayat 39). Menurut ayat 38, seseorang mengusir setan dalam nama Tuhan Yesus, meskipun dia tidak mengikuti murid-murid yang dekat dengan Tuhan. Di sini kita memiliki masalah keselarasan lahiriah. Baik orang ini maupun murid-murid Tuhan sama-sama mengusir setan. Hanya saja, orang itu tidak mengikuti Tuhan seperti yang murid-murid lakukan. Di sini kita nampak suatu ketidaksela-rasan. Murid-murid mengikuti Tuhan Yesus, tetapi orang itu tidak mengikuti Tuhan bersama murid-murid-Nya. Murid-murid mengusir setan dengan mengikuti Tuhan, orang itu mengusir setan tidak dengan mengikuti Tuhan, tetapi de-ngan berada dalam nama Tuhan. Apa yang kita nampak di sini adalah suatu ketidakselarasan dalam praktek formal, suatu perbedaan dalam formalitas luaran.

Mengenai ketidakselarasan lahiriah, kita perlu bersikapterbuka. Orang yang disebutkan dalam ayat 38 mengusir setan dalam nama Tuhan Yesus. Ia tidak salah melakukan hal ini, karena dia melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan murid-murid. Sama halnya, kaum beriman hari ini mungkin memberitakan Injil dalam cara yang berbeda dengan pemberitaan Injil kita, tetapi baik mereka maupun kita masih memberitakan Injil. Ini adalah masalah formalitas luaran dalam praktek, dan kita perlu bersikap toleran mengenai hal itu.

Mengenai Kesatuan Batiniah

Peribahasa kedua ada dalam Matius 12:30: “Siapa yang tidak bersama Aku, ia melawan Aku dan siapa yang tidak mengumpulkan bersama Aku, ia menceraiberaikan.” Perkataan ini membicarakan kesatuan batiniah dalam sasaran dan berkaitan dengan orang-orang yang menentang Tuhan. Secara khusus, perkataan ini ditujukan kepada orang-orang Farisi yang mengatakan, “Dengan Beelzebul, pemimpin se-tan, Ia mengusir setan” (Mat. 12:24). Orang-orang Farisi tidak bersatu dengan Tuhan Yesus, sebaliknya, mereka me-nentang Dia. Bukannya mengumpulkan bersama Dia, me-reka terceraiberai dari Dia. Karena itu, mereka mutlak terpisah dari Dia dan bergabung dengan musuh-Nya, Iblis.

Kita perlu nampak bahwa peribahasa dalam Matius 12:30 berkaitan dengan kesatuan batiniah dalam sasaran. Peribahasa ini tentunya berlaku bagi kita hari ini dalam pemulihan Tuhan. Karena kita di sini bagi pemulihan, kita harus bersatu dengan yang lain. Tidak mungkin beberapa orang di antara kita berkata, “Meskipun kami tidak satu dengan Anda, kami masih bagi pemulihan Tuhan.” Kita tidak percaya bahwa seseorang bisa bagi pemulihan Tuhan tetapi tidak bersatu dengan mereka yang berada dalam pemulihan. Harus ada kesatuan batiniah dalam sasaran.

Berkenaan dengan kedua peribahasa ini, kita perlu nampak perbedaan antara pelaksanaan dengan sasaran. Atas pelaksanaan, kita perlu bersikap umum. Tetapi atas sasaran, kita perlu bersikap khusus. Mengenai pelaksanaan luaran, Tuhan berkata, “Siapa saja yang tidak melawan kita, ia ada di pihak kita.” Tetapi mengenai kesatuan bati-niah dalam sasaran, Dia berkata, “Siapa saja tidak bersama Aku, melawan Aku.”