← Daftar isi Markus (1) · bab 5/22

PERGERAKAN PELAYANAN INJIL HAMBA-PENYELAMAT (12)

Pembacaan Alkitab: Mrk. 9:38-50

Dalam berita ini kita akan membahas Markus 9:38-50.

TOLERANSI HAMBA-PENYELAMAT

Sebagaimana kita tunjukkan dalam berita-berita sebe-lumnya, dalam ayat 38 Yohanes berkata kepada Tuhan Yesus, “Guru, kami melihat seseorang yang bukan pengikut kita mengusir setan demi nama-Mu, lalu kami cegah dia, karena dia bukan pengikut kita.” Inilah tindakan Yohanes, anak gu-ruh, yang tidak sabaran. Ini berlawanan dengan kebajikan Hamba-Penyelamat yang diikutinya. Hal ini dibuktikan oleh tanggapan Tuhan dalam ayat 39: “Jangan kamu cegah dia! Sebab tidak seorang pun yang telah mengadakan mukjizat demi nama-Ku dapat seketika itu juga mengumpat Aku.” Di sini kita melihat toleransi Hamba-Penyelamat, dalam pelaksanaan pelayanan Injil, terhadap kaum beriman-Nya yang berbeda dengan mereka yang lebih dekat kepada-Nya.

Dalam ayat 40 sampai 50 ada beberapa hal yang sulit dipahami. Dalam ayat 40 Tuhan Yesus berkata, “Siapa saja yang tidak melawan kita, ia ada di pihak kita.” Selama ber-tahun-tahun saya diganggu oleh ayat ini dan sulit mema-hami hal ini, karena saya pikir ayat ini berlawanan dengan perkataan Tuhan dalam Matius 12:30. Sesungguhnya tidak ada pertentangan di antara ayat-ayat ini. Keduanya keluar dari mulut Hamba-Penyelamat dan dapat diangggap seba-gai peribahasa. Peribahasa dalam 9:40 membicarakan kese-larasan lahiriah dalam pelaksanaan dan berkaitan dengan orang-orang yang tidak menentang-Nya (ayat 39); peri-bahasa dalam Injil Matius berbicara tentang kesatuan bati-niah mengenai mereka yang menentang-Nya (Mat. 12:24). Untuk mempertahankan kesatuan batiniah, kita perlu melaksanakan perkataan dalam Injil Matius, sedangkan untuk keserasian lahiriahnya, kita harus melaksanakan perka-taan dalam Markus ini, yaitu bertoleransi terhadap kaum beriman yang berbeda dengan kita.

Dalam Markus 9:41 Tuhan selanjutnya berkata, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Siapa saja yang mem-beri kamu minum secangkir air oleh karena kamu adalah pengikut (milik) Kristus, ia tidak akan kehilangan upahnya.” Dalam ayat 38 kita nampak bagaimana Yohanes ber-laku sebagai orang yang menanggulangi orang lain. Perkataan Hamba-Penyelamat yang penuh hikmat dalam ayat 40 membalikkan dia beserta murid-murid lain menjadi orang-orang yang ditanggulangi oleh orang lain. Ini menyatakan tidak peduli mereka atau kaum beriman lainnya, semuanya berada di bawah rawatan Tuhan karena semua adalah milik-Nya. Tak peduli perlakuan mereka terhadap kaum beriman lain, atau perlakuan kaum beriman lain terhadap mereka, segala sesuatu yang dilakukan dalam nama Tuhan, bahkan memberi secangkir air minum saja pun, akan diberi upah oleh Dia.

Dalam ayat 41 Tuhan membicarakan tentang seseorang yang memberikan murid secangkir air dalam nama-Nya kaena dia adalah milik Kristus. Ini menunjukkan Hamba Penyelamat mengakui bahwa orang yang dilarang oleh Yohanes adalah orang beriman sejati milik-Nya. Ini seharusnya menjadi pelajaran bagi Yohanes.

UPAH YANG AKAN DATANG

Dalam 9:41 Tuhan mengatakan bahwa orang yang mem-beri salah satu murid secangkir air “tidak akan kehilangan upahnya”. Upah ini akan diberikan dalam zaman kerajaan yang akan datang (Luk. 14:14). Pahala yang disebutkan di sini adalah suatu tambahan pada keselamatan kekal. Ke-selamatan kekal didapatkan melalui percaya, tidak berhu-bungan dengan perbuatan kita (Ef. 2:8-9), sedangkan pahala diberikan atas perbuatan atau pekerjaan kita setelah kita diselamatkan (1 Kor. 3:8, 14). Sekalipun kita telah disela-matkan, kita mungkin tidak menerima pahala, sebaliknya menderita kerugian, karena kita tidak melakukan peker-jaan yang Tuhan perkenan (1 Kor. 3:15). Pahala ini akan di-berikan kepada kita pada saat kedatangan Tuhan kembali, berdasarkan pekerjaan-pekerjaan kita (Mat. 16:27; Why. 22:12; 1 Kor. 4:5). Ini akan diputuskan di takhta peng-hakiman Kristus (2 Kor. 5:10) dan akan menjadi kenik-matan kita dalam kerajaan yang akan datang (Mat. 25:21, 23).

Dalam Markus 9:42 Tuhan melanjutkan, “Siapa saja yang menyebabkan salah satu dari anak-anak kecil yang percaya kepada-Ku ini berbuat dosa, lebih baik baginya jika sebuah batu giling diikatkan pada lehernya lalu ia dibuang ke dalam laut.” Di sini Hamba-Penyelamat mengalihkan subyek dari Yohanes dan murid-murid lain kepada kaum beriman umumnya, semua yang Dia anggap kecil (tidak ber-kenaan dengan anak-anak kecil dalam ayat 37), termasuk Yohanes, murid-murid lain, dan orang yang dilarang oleh mereka. Ini boleh diartikan sebagai suatu peringatan bagi Yohanes dan murid-murid lain agar jangan sampai menyan-dung siapa pun di antara kaum beriman-Nya yang berbeda dengan mereka di dalam mengikuti Dia.

MENYANDUNG ORANG LAIN DAN DIRI SENDIRI

Ayat 43 mengatakan, “Jika tanganmu menyebabkan engkau berbuat dosa, penggallah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam hidup dengan tangan buntung daripada dengan utuh kedua tanganmu dibuang ke dalam neraka, ke dalam api yang tak terpadamkan.” Di sini penyandung ber-alih dari seseorang kepada salah satu anggota tubuh da-ging kaum beriman. Kaum beriman tidak seharusnya saling menyandung, juga tidak seharusnya tersandung oleh anggota tubuh dagingnya sendiri. Ini menunjukkan betapa berhar-ganya kaum beriman itu dalam pandangan Hamba-Penyela-mat. Mereka akan dilindungi sepenuhnya bagi Dia. Semua faktor penyandung kaum beriman harus ditanggulangi dengan serius.

Dalam ayat 43 “hidup” ditujukan kepada hayat kekal, yang akan dinikmati oleh para pemenang di dalam kerajaan yang akan datang. Mewarisi hidup kekal (Mat. 19:29) adalah menerima pahala dalam zaman yang akan datang (Luk. 18:29-30), dalam manifestasi Kerajaan dengan kenikmatan atas hayat ilahi.

Kata “neraka” dalam Markus 9:43 dalam bahasa Yuna-ninya adalah “gehena”, sebanding dengan bahasa Ibrani Ge Hinnom, lembah Hinnom. Juga disebut Tofet (2 Raj. 23:10; Yes. 30:33, Yer. 19:13), suatu lembah yang dalam dekat Yerusalem, dan menjadi tempat pembuangan (sampah) bagi kota itu. Segala jenis kotoran dan mayat orang-orang jahat dibuang ke sana, lalu dibakar. Karena apinya yang terus-menerus menyala, tempat ini menjadi lambang tempat peng-hukuman kekal, telaga api (Why. 20:15).

Dalam Markus 9:43 “api yang tidak terpadamkan” ada-lah keterangan tambahan untuk Gehena. Menurut konteks-nya, hal itu mengacu kepada penghukuman sezaman bagi kaum beriman yang gagal (seperti, menderita oleh kemati-an kedua yang disebut dalam Wahyu 2:11), bukan mengacu kepada binasa yang kekal.

Dalam 9:45 Tuhan berkata, “Jika kakimu menyebab-kan engkau berbuat dosa, penggallah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam hidup dengan timpang, daripada dengan utuh kedua kakimu dicampakkan ke dalam neraka.” Hal ini sangat mirip dengan perkataan dalam ayat 43. (Sebagaimana ayat 44 dan 46, beberapa naskah menyisipkan, “Di tempat itu ulatnya tidak mati, dan apinya tidak terpadamkan.”)

Dalam ayat 47 Tuhan melanjutkan, “Jika matamu me-nyebabkan engkau berdosa, cungkillah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam Kerajaan Allah dengan bermata satu daripada dengan bermata dua dicampakkan ke dalam neraka.” Masuk ke dalam Kerajaan Allah adalah masuk ke dalam kenikmatan hayat kekal pada zaman yang akan datang.

Ayat 48 mengatakan mengenai Gehena, “Di mana ulat-ulatnya tidak mati dan api tidak terpadamkan.” Perkataan ini adalah kutipan dari Yesaya 66:24.

DIGARAMI DENGAN API

Ayat 49 mengatakan, “Karena setiap orang akan diga-rami dengan api.” Tujuan dari penggaraman ini adalah un-tuk membunuh dan menyingkirkan kuman perusak yang masuk melalui dosa, untuk melindungi orang beriman ter-sebut (lihat Im. 2:13; Yeh. 43:24).

Api dalam Markus 9:49 adalah api pemurni (Mal. 3:2), api pembersih, api penyingkir, seperti dalam 1 Korintus 3:13, 15 (lihat Yes. 33:14). Sebagai penghukuman sezaman pada zaman kerajaan, api ini akan memurnikan kaum beriman yang pada zaman ini melakukan dosa dan tidak mau berto-bat. Bahkan dalam zaman ini, Allah membersihkan (me-murnikan) kaum beriman melalui penderitaan dalam ujian-ujian seperti dengan api (1 Ptr. 1:7; 4:12, 17). Penghukuman sezaman dengan api pada zaman kerajaan yang akan da-tang, sama prinsipnya dengan penghukuman Allah pada zaman ini melalui penderitaan seperti dengan api.

Dalam ayat 50 Tuhan Yesus menyimpulkan, “Garam memang baik, tetapi jika garam menjadi hambar, dengan apakah kamu mengasinkannya? Hendaklah kamu senan-tiasa mempunyai garam dalam dirimu dan hidup berdamai

seorang dengan yang lain.” Garam menurut sifatnya adalah unsur yang membunuh dan menyingkirkan kuman peru-sakan. Bagi kaum beriman dalam Kristus, kehilangan ke-asinan mereka berarti mereka kehilangan fungsi pengasinan mereka. Jadi, mereka telah berubah menjadi sama dengan orang duniawi dan tidak lagi dapat dibedakan dari orang yang tidak percaya.

Penerapan perkataan Tuhan di sini mengenai garam berbeda dengan apa yang ada dalam Matius 5:13 dan Lukas 14:34. Dalam Injil Matius dan Injil Lukas, garam menggambarkan pengaruh kaum beriman terhadap dunia, yaitu untuk menggarami dunia yang bobrok; garam di sini adalah kata tambahan kepada api pemurni, yaitu untuk penggaraman kaum beriman yang berbuat dosa, sebagai-mana pemurnian Allah yang Ia kerjakan terhadap kaum beriman yang berdosa pada zaman ini. Karena itu, kaum beriman harus memiliki garam dalam diri mereka, agar mereka dimurnikan tidak hanya dari dosa-dosa, tetapi juga dari segala unsur pemecah belah (seperti Yohanes yang tidak sabaran yang telah melarang saudara-saudara yang berlainan, dan berbantahan mengenai siapa yang le-bih besar) agar mereka mampu hidup “berdamai satu de-ngan yang lain”. Garam pemurni seperti ini memurnikan tutur kata kaum beriman agar mereka dapat berdamai satu dengan yang lain (Kol. 4:6). Perkataan Tuhan di sini menunjukkan bahwa ucapan Yohanes kepada saudara yang berlainan dengannya belum dimurnikan. Jadi, seluruh ba-gian perkataan ini (9:38-50) menyajikan pengajaran Hamba Penyelamat mengenai toleransi kaum beriman demi kesatuan.

KUNCI UNTUK MEMBUKA BAGIAN

INJIL MARKUS INI

Kita perlu mengerti 9:38-50 dalam terang visi yang diberikan dalam 8:27—9:13 mengenai Kristus, kematian-Nya, dan kebangkitan-Nya. Tanpa visi ini, kita tidak memiliki jalan untuk mengerti bagian dari Injil Markus ini. Kunci yang membuka ayat ini adalah Kristus dengan kematian dan kebangkitan-Nya.

Kita telah menunjukkan bahwa dalam 9:38 Yohanes memberi tahu Tuhan Yesus bahwa mereka melihat seseorang yang bukan pengikut mereka mengusir setan dalam nama-Nya, dan mereka melarang dia, karena dia tidak mengikuti mereka. Seolah-olah Yohanes berkata, “Orang ini mengusir setan dalam nama-Mu, Tuhan. Tetapi, dia bukan pengikut kita. Dia itu pemecah, orang yang bergolongan. Karena dia mendatangkan kesulitan, kami melarang dia mengusir setan dalam nama-Mu. Aku memberi tahu dia bahwa dia seharusnya mengikuti kita, atau berhenti mengusir setan dalam nama-Mu.”

Dalam situasi ini dapatkah Yohanes mengatakan bahwa dia memperhidupkan Kristus, bahwa sekarang bukan lagi dia, tetapi Kristus? Tentunya tidak. Sudahkah Yohanes diakhiri oleh kematian Kristus, dan sudahkah kebangkitan-Nya digarapkan ke dalam dia? Tidak sama sekali! Dalam 9:38 Yohanes masih anak guruh yang alamiah. Dia masih berada dalam dirinya sendiri, bahkan dalam dirinya yang di-perbesar. Ketika Tuhan berbicara kepada murid-murid-Nya mengenai kerendahan hati, Yohanes malah berusaha meng-ubah subyek dalam ayat 38.

Jawaban Tuhan dalam ayat 39 pasti merupakan suatu kejutan besar bagi Yohanes, “Jangan kamu cegah dia! Se-bab tidak seorang pun yang telah mengadakan mukjizat demi nama-Ku dapat seketika itu juga mengumpat Aku.” Di sini Tuhan Yesus berkata kepada Yohanes, “Kamu tidak seharusnya melarang dia. Dia tidak melawan Aku; sebalik-nya, dia adalah bagi-Ku. Semua orang beriman adalah milik-Ku.”

Dalam ayat 41 Tuhan melanjutkan perkataan-Nya, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Siapa saja yang memberi kamu minum secangkir air oleh karena kamu adalah pengikut (milik) Kristus, ia tidak akan kehilangan upahnya.” Di sini Tuhan seperti berkata, “Jangan melarang orang ini mengusir setan dalam nama-Ku, sebaliknya beri-lah dia secangkir air untuk minum. Jika dia memberi salah seorang dari antara kamu dengan secangkir air, hal ini akan Kuingat. Siapa pun yang memberi kamu secangkir air untuk minum dalam nama-Ku, akan menerima pahala da-lam zaman yang akan datang.”

PERKATAAN YANG SERIUS TENTANG MENYANDUNG ORANG

Dalam ayat 42 Tuhan melanjutkan mengucapkan per-kataan yang serius tentang menyandung orang yang per-caya kepada-Nya: “Siapa saja yang menyebabkan salah satu dari anak-anak kecil yang percaya kepada-Ku ini berbuat dosa, lebih baik baginya jika sebuah batu giling diikatkan pada lehernya lalu ia dibuang ke dalam laut.” Betapa se-riusnya menyandung orang yang percaya kepada Tuhan! Yohanes mungkin terkejut mendengar perkataan mengenai keseriusan menyandung kaum beriman yang lain. Dia mung-kin berkata kepada diri sendiri, “Jika aku menyebabkan ka-um beriman lainnya tersandung, masa depanku mungkin lebih buruk daripada seorang yang pada lehernya diikatkan batu giling dan dibuang ke dalam laut.”

Dalam ayat 43-48 Tuhan beralih dari perihal menye-babkan orang lain tersandung kepada perihal menyebabkan diri kita tersandung. Dia menunjukkan bahwa kita mung-kin tersandung karena tangan, kaki, atau mata kita. Beta-pa seriusnya menyebabkan kaum beriman lain tersandung, dan hal yang serius pula bila kita tersandung karena ba-gian tertentu dari tubuh daging kita. Keseriusan hal ini ditunjukkan oleh fakta bahwa jika kita tersandung karena anggota tubuh kita, kita dapat dibuang ke dalam neraka, ke dalam api yang tidak dapat dipadamkan.

PAHALA DAN PENGHUKUMAN DALAM ZAMAN YANG AKAN DATANG

Beberapa orang Kristen mungkin sangat terkejut men-dengar bahwa seorang beriman mungkin saja dicampakkan ke dalam api yang tidak terpadamkan. Mereka mungkin heran bagaimana mungkin orang yang beroleh selamat di-hukum dengan api. Mengenai hal ini, kita perlu memper-hatikan perkataan Tuhan Yesus. Dia mengatakan bahwa ji-ka kita tersandung karena anggota tubuh kita, kita mung-kin dibuang ke dalam api yang tidak terpadamkan.

Dalam 9:41 Tuhan berbicara tentang pahala, dan dalam 9:42-48 Dia berbicara mengenai penghukuman. Baik pahala maupun penghukuman akan terjadi pada zaman yang akan datang, pada zaman kerajaan. Orang yang memberi seorang murid Tuhan minum secangkir air karena murid ini milik Kristus, orang itu akan diberi upah pada zaman yang akan datang. Begitu juga, penghukuman yang dibicarakan dalam ayat-ayat ini akan berlangsung pada zaman yang akan datang.

Dalam 9:43 Tuhan berbicara tentang masuk ke dalam hidup (hayat). Salah satu aspek penghukuman dalam zaman yang akan datang adalah kehilangan kenikmatan atas hayat yang kekal. Seperti kita lihat, di sini bukan masalah menerima hayat kekal, melainkan masalah masuk ke dalam hayat kekal. Kita menerima hayat kekal ketika kita dilahirkan kembali. Tetapi memasuki hayat kekal adalah perkara zaman yang akan datang, zaman di mana Kerajaan Allah akan dinyatakan. Apakah kita akan masuk ke dalam kenikmatan hayat yang kekal dalam zaman yang akan datang, masih belum diketahui. Kita mungkin terhalang oleh nafsu tangan kita, nafsu kaki kita, atau nafsu mata kita. Nafsu dalam anggota-anggota tubuh kita bisa menye-babkan kita kehilangan kenikmatan akan hayat kekal pada zaman kerajaan yang akan datang, sehingga kita bukannya masuk ke dalam kenikmatan ini, sebaliknya malah dihukum oleh api.

Ketika beberapa orang mendengar bahwa kaum ber-iman ada kemungkinan menderita dalam zaman yang akan datang, mereka mungkin berkata, “Hal ini serius! Bagaima-na mungkin seorang yang tertebus menderita penghukuman yang sedemikian? Bukankah penebusan Kristus lengkap dan memadai?” Ya, penebusan Kristus memang lengkap dan memadai. Namun, adalah suatu fakta bahwa kaum yang tertebus sering menerima penghukuman dari Allah dalam zaman ini. Menurut 1 Petrus 1:7; 4:12 dan 17, kaum ber-iman dimurnikan melalui pencobaan sama seperti melalui api. Sebagai contoh, 1 Petrus 4:12 mengatakan, “Saudara-saudara yang terkasih, janganlah kamu heran akan nyala api siksaan yang datang kepadamu sebagai ujian, seolah-olah ada sesuatu yang luar biasa terjadi atas kamu.” Kata Yunani yang diterjemahkan menjadi “nyala api siksaan” di sini adalah purosei. Kata ini berarti menyala-nyala dan melambangkan tungku pemurni emas dan perak yang me-nyala-nyala (Ams. 27:21; Mzm. 66:10). Petrus menganggap penganiayaan kaum beriman yang diderita kaum beriman sebagai tungku yang menyala-nyala yang digunakan Allah untuk memurnikan hayat mereka. Inilah cara Allah me-nanggulangi kaum beriman dalam penghakiman adminis-trasi pemerintahan-Nya, yang dimulai dari rumah-Nya sendiri (1 Ptr. 4:17-19).

Banyak guru Alkitab menyadari bahwa orang-orang yang ditebus Allah mungkin saja menderita penghukuman Allah dalam zaman ini. Karena orang-orang yang tertebus masih mungkin menderita penghakiman Allah dalam za-man ini, mengapa kita berpikir bahwa mereka tidak mung-kin menderita penghakiman-Nya di zaman yang akan datang? Siapa yang memiliki dasar untuk mengatakan bahwa kaum beriman tidak dapat menderita penghukuman Allah pada zaman yang akan datang? Alkitab tidak memberi tahu kita hal yang sedemikian. Sebaliknya, Alkitab mewah-yukan bahwa Allah tahu bagaimana melaksanakan peng-hukuman-Nya baik di zaman ini maupun dalam zaman yang akan datang. Sebagai contoh, seorang ayah mungkin mem-pertimbangkan cara yang terbaik untuk mendisiplin anaknya. Dia mungkin melaksanakan disiplin ini segera, atau dia mungkin memilih menunggu sejangka waktu. Dia akan mem-pertimbangkan waktu yang terbaik untuk mendisiplinkan anaknya. Demikian pula, Allah tahu waktu yang terbaik untuk mendisiplinkan anak-anaknya, dan Dia juga tahu cara yang terbaik.

Perjanjian Baru menunjukkan bahwa kaum beriman yang sejati, mereka yang telah sepenuhnya ditebus oleh Kristus, mungkin masih menderita pendisiplinan Allah, penghukuman Allah. Fakta bahwa Allah mungkin mendisiplin kaum beriman tidak berarti bahwa penebusan Kristus tidak lengkap atau memadai. Bahkan meskipun penebusan Kristus seluruhnya lengkap atau memadai, kita masih perlu mengambil Kristus dan digantikan oleh-Nya. Kita masih perlu berdoa dan karena itu dapat berkata dengan riil, “Bukan lagi aku, melainkan Kristus.” Jika kita tidak meng-ambil Kristus dengan cara ini, kita bisa tersandung oleh nafsu tangan, kaki, atau mata kita. Kemudian bukannya menikmati hayat kekal dalam zaman kerajaan yang akan datang, kita malah menderita penghukuman Allah.

JALAN UNTUK MASUK KE DALAM

KERAJAAN YANG AKAN DATANG

Apakah di zaman yang akan datang kita menikmati hayat yang kekal atau menderita penghukuman tergantung pada bagaimana kita hidup pada hari ini. Kita perlu me-miliki kehidupan yang berdoa dan terus-menerus menyeru nama Tuhan, memberi tahu Dia, “Tuhan, bukan lagi aku, melainkan Engkau. Tuhan, dalam setiap hal dari hidupku, semoga bukan lagi aku, melainkan Engkau. Tuhan, aku mengambil Engkau sebagai penggantiku. Gantikan aku me-lalui kematian dan kebangkitan-Mu. Tuhan, aku tahu bahwa aku telah diakhiri di kayu salib, dan aku juga tahu bahwa dalam kebangkitan Engkau hidup di dalam aku. Sekarang aku dapat berkata dalam pengalaman bahwa bukan lagi aku yang hidup, melainkan Engkau, Tuhan, adalah persona yang hidup di dalamku.”

Jika ini adalah pengalaman Anda, maka Anda akan mengatasi nafsu tangan, kaki, dan mata Anda. Anda akan menjadi orang yang mengambil Kristus sebagai pengganti Anda, menikmati Dia sebagai segala sesuatu dalam kehidupan Anda sehari-hari, dan memperhidupkan Dia secara riil. Sebagai akibatnya, tidak akan ada yang membuat Anda tersandung, dan tidak akan ada yang tersandung karena Anda. Karena Anda dipenuhi dan diresapi dengan Kristus, tidak ada bagian mana pun dari diri Anda yang bisa me-nyebabkan Anda tersandung. Anda tidak akan tersandung, malah bisa memuji Tuhan dan berkata, “Haleluya, bukan lagi aku, melainkan Kristus! Haleluya, bagi Kristus! Hale-luya bagi kematian dan kebangkitan-Nya.” Kenikmatan hari ini akan membawa Anda ke dalam kenikmatan atas hayat kekal di dalam zaman kerajaan yang akan datang. Ini adalah masuk ke dalam kerajaan yang akan datang dan dijauhkan dari penghukuman sezaman Allah dalam zaman kerajaan, suatu penghukuman yang terjadi secara semen-tara selama sejangka waktu tertentu.

Dalam Markus 9:49 Tuhan berkata, “Karena setiap orang akan digarami dengan api.” Ini menunjukkan bahwa api akan berfungsi sebagai garam, dan kita akan digarami dengan api. Garam ini membunuh kuman-kuman hawa nafsu yang ada di dalam kita. Meskipun kita telah diselamatkan dan menjadi anak-anak Allah, di dalam kita masih ada banyak “kuman”. Karena itu, kita perlu garam dari api, “garam-api” untuk membunuh kuman-kuman dan memurnikan kita. Ini bukan hanya penghukuman; tetapi juga penjagaan. Garamapi ini akan menjaga kita dari rusak secara kekal.

Jika kita nampak apa yang diwahyukan dalam ayat-ayat ini, kita akan berdoa, “Tuhan Yesus, semoga ini bukan aku lagi, melainkan Engkau di dalam kehidupanku sehari-hari. Dalam segala hal dan dalam hubungan dengan orang lain, semoga bukan aku, melainkan Engkau. Tuhan, aku perlu menjadi orang yang berdoa. Melalui doa aku dapat mengatasi nafsu yang ada di dalamku. Tuhan, aku te-lah disalibkan bersama-Mu, dan sekarang Engkau hidup di dalamku.”

Melalui salib kita telah diakhiri; dalam kebangkitan, Kristus telah dibawa ke dalam kita. Sekarang kita seharusnya menikmati Kristus dan memperhidupkan Dia. Hari demi hari kita seharusnya menempuh suatu kehidupan dalam kematian dan kebangkitan-Nya, ini baru benar-benar menjadi “bukan lagi aku, melainkan Kristus”. Jika kita menempuh kehidupan yang sedemikian, kita tidak akan me-nyandung orang lain, dan kita tidak akan tersandung oleh nafsu apa pun yang ada di dalam kita. Demikian, dalam zaman ini kita akan menikmati Kristus dan dalam zaman yang akan datang kita akan masuk ke dalam kenikmatan yang penuh akan hayat ilahi, kenikmatan kerajaan yang akan datang.