← Daftar isi Markus (1) · bab 8/22

PERGERAKAN PELAYANAN INJIL HAMBA-PENYELAMAT (15)

Pembacaan Alkitab: Mrk. 10:1-31

Dalam berita ini kita akan melanjutkan membahas 10:1-31. Dalam bagian Injil Markus ini kita memiliki empat hal: kedatangan Tuhan ke Yudea (ayat 1), ajaran tentang tidak boleh bercerai (ayat 2-12), memberkati anak-anak kecil (ayat 13-16), dan ajaran tentang orang kaya dan hal masuk ke dalam Kerajaan Allah (ayat 17-31). Dalam berita sebe-lumnya kita menunjukkan bahwa tiga hal yang menghalangi masuknya kita ke dalam Kerajaan Allah adalah pernikahan, keusangan, dan harta. Kita telah nampak bahwa jika kita digantikan oleh Kristus, kita tentunya akan me-miliki jalan untuk menangani hal-hal ini dengan tepat. Sekarang marilah kita membahas dengan lebih rinci apa yang Tuhan katakan dalam 10:2-31 mengenai pernikahan, keusangan, dan harta.

AJARAN TENTANG TIDAK BOLEH BERCERAI

Ketika Allah menciptakan manusia, Dia tidak pada waktu yang sama menciptakan semua orang yang Dia per-lukan bagi perampungan tujuan-Nya. Jika Allah ingin menciptakan banyak orang pada waktu yang sama, Dia tentu dapat melakukannya. Dia bisa menciptakan satu milyar orang. Namun ini bukan cara Allah. Sebaliknya, Allah men-ciptakan satu pasang manusia dan menyuruh mereka ber-kembang biak dan memenuhi bumi. Menurut pengaturan Allah, perkembangbiakan umat manusia terjadi melalui pernikahan. Maka, pernikahan merupakan perkara penting kedua setelah penciptaan Allah.

Kita tidak seharusnya meremehkan pernikahan. Ibrani 13:4 mengatakan, “Hendaklah kamu semua penuh hormat terhadap perkawinan.” Pernikahan adalah kudus, dan kita harus menghormatinya.

Umat manusia ada karena penciptaan Allah, dan Allah mengatur bahwa umat manusia berkembang biak melalui pernikahan.

Kita perlu melihat bahwa pernikahan itu terhormat dan kudus, karena ditentukan untuk perkembangbiakan umat manusia bagi perampungan tujuan Allah. Terpisah dari penciptaan manusia dan perkembangbiakan umat manusia me-lalui pernikahan, tidak akan ada perampungan tujuan Allah. Kita perlu melihat pernikahan dari sudut pandang ini. Jika kita melihat pernikahan dari sudut pandang ini, kita akan menghormati pernikahan. Kita akan nampak bahwa perni-kahan adalah untuk perkembangbiakan umat manusia, sehingga tujuan kekal Allah dapat terampungkan.

Dalam kehidupan pernikahan kita perlu jujur, setia, dan murni. Jika kita tidak jujur, setia, dan murni, kita akan bersalah kepada Allah dengan sangat serius. Menurut Alkitab, Allah menghukum persundalan dan perzinaan. Ibrani 13:4b mengatakan, “Allah akan menghakimi orang-orang sundal dan pezina.” Dari antara dosa-dosa yang paling me-nyalahi Allah, persundalan dan perzinaan adalah dosa nomor dua setelah penyembahan berhala. Karena itu, kita perlu menjaga pernikahan dengan cara yang tepat di hadapan Allah. Kita perlu nampak bahwa persundalan dan perzinaan merusak perkembangbiakan yang tepat dari umat manusia. Inilah alasan Allah tidak mengizinkan perceraian.

Karena pernikahan adalah masalah yang serius, saya ingin memperingatkan orang-orang muda agar jangan ma-suk ke dalamnya dengan tergesa-gesa. Orang muda, sebelum Anda menikah, Anda perlu banyak berdoa dan mempertim-bangkan. Jangan memandang pernikahan hanya dari sudut pandang Anda. Anda perlu memandang pernikahan terutama dari sudut pandang Allah. Jangan terburu-buru menikah, karena begitu Anda menikah, Anda tidak punya pilihan lain. Perceraian sangat dibenci Allah.

Karena kita berada di jalan masuk menuju Kerajaan Allah, kita terutama perlu teguh dalam pendirian kita me-ngenai pernikahan. Kita perlu nampak bahwa begitu kita menikah, tidak seharusnya ada perceraian.

Semua orang yang sudah menikah harus “buta” terhadap kelemahan pasangannya, tidak boleh mencari kesalahan-kesalahan pasangannya. Semua penyelidikan terhadap pihak lain harus dilakukan sebelum pertunangan. Setelah Anda bertunangan, dan khususnya setelah Anda menikah, Anda harus menutup mata Anda terhadap kekurangan pasangan Anda, sepertilah orang buta. Jika Anda tidak bersedia menjadi buta sedemikian, Anda tidak akan memiliki kehidupan pernikahan yang tepat.

Dalam Markus 10:2, orang Farisi bertanya kepada Tuhan Yesus, “Apakah seorang suami diperbolehkan menceraikan istrinya.” Ketika Tuhan bertanya apa yang Musa perintahkan kapada mereka, mereka menjawab, “Musa mem-beri izin untuk menceraikannya dengan membuat surat cerai” (ayat 4). Perintah ini bukanlah bagian dasar dari hukum Taurat, tetapi adalah pelengkap hukum Taurat. Pe-rintah ini diberikan oleh Musa, bukan menurut ketetapan Allah yang semula, tetapi bersifat sementara karena ke-kerasan hati manusia.

Dalam 10:5-8 Tuhan melanjutkan perkataan-Nya, “Justru karena kekerasan hatimulah maka Musa menuliskan perintah ini untuk kamu. Padahal pada awal dunia, Allah menjadikan mereka laki-laki dan perempuan, sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan dua lagi, melainkan satu.” Di sini perkataan Tuhan tidak hanya mengakui penciptaan Allah atas manusia, tetapi juga menegaskan ketetapan Allah atas pernikahan manusia yaitu, satu laki-laki dan satu perempuan bersatu dan memikul kuk bersama sebagai satu daging, tidak dapat dipisahkan oleh manusia. Perintah mengenai perceraian yang diberikan oleh Musa adalah penyimpangan dari ketetapan semula Allah. Tetapi Kristus membawa kita kembali kepada ketetapan Allah yang se-mula.

Dalam 10:9 Tuhan berkata, “Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.” Di sini kita nampak bahwa perceraian tidak hanya bertentangan dengan hukum Allah; perceraian bertentangan dengan diri Allah sendiri. Apa yang Allah persatukan dalam satu kuk, tidak boleh dipisahkan oleh manusia.

Di satu pihak, pernikahan adalah suatu kebutuhan. Di pihak lain, kehidupan pernikahan itu sulit. Walaupun demi-kian, kita harus belajar mengasihi kesulitan ini dan bah-kan memperhatikannya dengan kasih sayang. Ini berarti kita harus mengasihi pernikahan kita dan memperhatikan-nya baik-baik. Jika tidak, kita akan terhalang untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah.

Kita percaya bahwa Allah itu benar, dan kita juga percaya bahwa perkataan-Nya, Alkitab, juga benar. Karena itu, kita harus menghormati apa yang Tuhan katakan dalam firman-Nya mengenai pernikahan. Adalah suatu hal yang serius jika kita tidak menangani kehidupan pernikahan kita dengan tepat. Gagal memperhatikan kehidupan perni-kahan kita menurut Allah akan menghalangi kita masuk ke dalam kerajaan. Ya, kita sekarang berada di jalan me-nuju kerajaan. Tetapi apakah kita akan sungguh-sungguh masuk ke dalam kerajaan dalam zaman yang akan datang atau tidak masih belum pasti. Menurut Markus 10, apakah kita akan masuk ke dalam kerajaan di zaman yang akan datang atau tidak, pertama-tama tergantung pada bagai-mana kita menangani kehidupan pernikahan kita.

MEMBERKATI ANAK-ANAK KECIL

Saya telah memberikan banyak pemikiran seperti mengapa catatan mengenai pemberkatan anak-anak kecil oleh Hamba-Penyelamat (ayat 13-16) disisipkan ke dalam pasal 10. Saat saya merenungkan hal ini, Tuhan menerangi saya agar nampak bahwa hal ini menunjukkan bahwa mereka yang berada di jalan masuk ke dalam Kerajaan Allah tidak seharusnya menjadi usang, sebaliknya, mereka harus muda, bahkan seperti anak-anak kecil.

Mungkin hal yang paling sulit ditanggulangi orang Kristen dalam hal masuk ke dalam Kerajaan Allah adalah keusangan mereka. Banyak pengajaran, doktrin, dan teologi di antara orang Kristen hari ini sudah usang. Jika kita ingin masuk ke dalam Kerajaan Allah, kita perlu muda dan segar.

Saya sangat prihatin ketika saya melihat kaum beriman dalam pemulihan Tuhan menjadi usang dalam kehidupan rohani mereka. Tiga puluh tahun yang lalu, Anda mungkin segar dan muda, tetapi sekarang Anda mungkin usang. Hari ini orang Kristen tidak bisa maju mengikuti Tuhan karena keusangan diri mereka dan juga karena ajar-an-ajaran yang usang. Ajaran-ajaran ini mungkin mendasar dan bahkan benar dan alkitabiah, tetapi usang.

Dalam 10:14-15 Tuhan Yesus berkata, “Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan halang-halangi mereka, sebab orang-orang seperti inilah yang memiliki Kerajaan Allah. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Siapa saja yang tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya.”Setelah mengatakan hal ini, Tuhan memeluk anak-anak itu dan sambil meletakkan tangan-Nya di atas mereka Ia memberkati mereka (ayat 16). Dari hal ini kita nampak bahwa Tuhan Yesus memustikakan anak-anak dan memeluk mereka. Dengan memeluk anak-anak itu dan memberkati mereka, Tuhan menunjukkan kepada pengikut-pengikut-Nya bahwa mereka tidak seharusnya usang, mereka semua seharusnya seperti anak-anak untuk dapat masuk ke dalam kerajaan.

Dalam 9:38 Yohanes, salah satu dari anak guruh, berkata kepada Tuhan, “Guru, kami melihat seseorang yang bukan pengikut kita mengusir setan demi nama-Mu, lalu kami cegah dia, karena dia bukan pengikut kita.” Fakta bah-wa Yohanes mencegah seseorang mengusir setan dalam na-ma Tuhan adalah suatu petunjuk bahwa Yohanes telah menjadi usang secara rohani.

Murid-murid Yohanes Pembaptis juga menjadi usang. Mereka mengikuti Yohanes tidak lebih dari tiga tahun. Tetapi bahkan dalam waktu yang pendek itu mereka menjadi usang dan akhirnya membentuk agama. Hal yang sama mungkin terjadi di antara kita hari ini. Saya prihatin ke-usangan merayap ke dalam pemulihan Tuhan. Begitu ke-usangan masuk, kita tidak akan bisa segar dari hari ke hari.

Kita dapat menggunakan pemungutan manna dalam Perjanjian Lama sebagai suatu ilustrasi akan keperluan ki-ta untuk menjadi baru dan segar setiap hari. Prinsip pemu-ngutan manna adalah manna dipungut pada satu hari itu pada waktu tertentu. Kecuali pada hari Sabat, setiap manna yang ditinggal sampai esok hari akan busuk dan berulat. Hal ini menggambarkan keperluan kita untuk disegarkan dan diperbarui setiap hari. Hari demi hari kita menjadi lebih baru dan lebih segar.

Saya percaya bahwa kebenaran dalam Injil Markus masih dapat disajikan dengan cara yang lebih segar daripada berita-berita ini. Tentu saja, kita tidak mengubah kebenaran. Bagaimanapun, kita dapat memiliki cara yang lebih segar dalam menyajikan kebenaran. Sebagai contoh, meskipun bu-mi masih tetap sama, sarana transportasi telah diperbaiki. Demikian pula, kebenaran Allah tidaklah berubah, tetapi cara menyajikan kebenaran ini seharusnya lebih baru dan lebih segar dari waktu ke waktu.

Kerajaan Allah datang dengan cara yang baru. Orang Farisi dan ahli Taurat perlu dilahirkan kembali untuk ma-suk ke dalam Kerajaan Allah. Apakah arti dilahirkan kem-bali? Dilahirkan kembali adalah diperbarui. Karena ke-usangan tidak ada kaitannya dengan Kerajaan Allah, kita harus dilahirkan kembali, diperbarui, untuk masuk ke dalam kerajaan.

Masalah yang besar di antara orang Kristen hari ini adalah keusangan mereka. Banyak yang berbalik kepada perjalanan Alkitab yang usang atau melekat pada peng-ajaran usang di denominasi mereka. Misalnya, Lutheran, mungkin memeriksa perkara-perkara berdasarkan apa yang Martin Luther katakan. Tidak diragukan lagi, pembenaran oleh iman adalah butir mendasar dari kebenaran. Namun, berkaitan dengan kebenaran ini kita perlu diperbarui dan disegarkan.

Dalam salah satu berita terdahulu kita membicarakan Kristus sebagai pengganti kita yang menyeluruh dan uni-versal. Sebelum berita itu disampaikan, saya tidak pernah menggunakan ungkapan yang sedemikian. Ketika saya sedang berbicara, ungkapan yang sedemikian ini muncul. Sa-ya tidak tahu akan ungkapan lainnya yang begitu menolong dalam menyampaikan kebenaran Kristus menggantikan kita. Saya menggunakan hal ini sebagai suatu teladan tidak tinggal dalam pengetahuan kita yang usang.

Kita semua seharusnya baru, dan pengajaran di antara kita pun seharusnya sesuai dengan terang yang baru. Kita telah nampak dari pasal 7 bahwa Tuhan Yesus adalah ahli bedah yang mengoperasi hati kita dan menyingkapkan kon-disi kita. Bukankah ini suatu pengertian yang segar dan baru atas penanggulangan Tuhan terhadap hati kita?

Bagaimanapun saya tidak ingin usang. Saya juga tidak ingin dibatasi oleh cara-cara yang usang dalam mengungkapkan kebenaran firman Allah. Sebelum tahun 1949, kita tidak pernah berbicara tentang menjadi satu roh dengan Tuhan, dan kita tidak menggunakan istilah “Roh pemberi-hayat”. Selain itu, kita tidak pernah menyebutkan apa pun mengenai Roh yang diperkuat tujuh ganda. Semuanya ini adalah ungkapan yang baru di antara kita.

Bahkan perihal menyeru nama Tuhan adalah baru, bila dilihat dari praktek kita. Ketika kita berada di China, kita tidak menekankan menyeru nama Tuhan. Ada orang menyatakan bahwa sayalah yang menciptakan hal ini. Saya tidak menciptakan perihal menyeru nama Tuhan. Paling-paling saya menemukan hal ini dalam Alkitab. Pada Kejadian 4 manusia mulai menyeru nama Tuhan. Oleh belas kasihan Allah, Dia telah menggunakan kita untuk menemukan perkara ini, tetapi jelas bukan kita yang menciptakannya. Sejumlah besar orang beriman telah diberkati melalui me-nyeru nama Tuhan. Tetapi penyeruan kita pun haruslah baru dan segar.

Dalam berita terdahulu kita nampak bahwa doa sesungguhnya adalah “bukan lagi aku, melainkan Kristus”.

Pernahkah Anda mendengar bahwa doa adalah bukan lagi aku, melainkan Kristus? Saya dapat bersaksi bahwa pengertian akan doa semacam ini baru bagi saya. Ini adalah ilustrasi yang lebih lanjut dari keperluan kita untuk menjadi baru, muda, dan segar.

Yakinlah bahwa di masa yang akan datang banyak hal baru akan menyusul, dan banyak istilah dan ungkapan yang tegas akan digunakan. Melalui istilah-istilah dan ungkapan-ungkapan baru kita dapat menerima lebih banyak terang dan anugerah. Karena itu, janganlah kita mempertahankan keusangan kita, tetapi setiap hari diperbarui dan disegarkan.

AJARAN TENTANG ORANG KAYA DAN

HAL MASUK KE DALAM KERAJAAN ALLAH

Kita telah nampak bahwa dua perkara yang bisa menghalangi kita masuk ke dalam Kerajaan Allah adalah cara kita menangani pernikahan dan keusangan. Dalam Markus 10:17-31 kita nampak bahwa harta adalah hal lain yang bisa menghalangi kita.

Dalam ayat 21 Tuhan Yesus memandang kepada orang yang bertanya kepada-Nya, apa yang harus dia perbuat un-tuk memperoleh hidup yang kekal, Dia berkata kepadanya, “Hanya satu lagi kekuranganmu: Pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di surga, kemudian da-tanglah kemari dan ikutlah Aku.” Ketika saya membaca hal ini banyak tahun yang lalu, saya merasa terganggu. Sebagai seorang murid, saat itu saya mencemaskan bahwa saya tidak akan mampu memenuhi perintah Tuhan untuk menjual segala sesuatu. Lambat laun, melalui mempelajari Perjanjian Baru, saya nampak bahwa Rasul Paulus tidak memerintahkan orang-orang Korintus untuk menjual semua milik mereka dan memberikannya kepada orang-orang miskin. Paulus tidak berkata kepada mereka, “Orang-orang Korintus, jika kamu bersungguh-sungguh terhadap Tuhan, kamu harus menjual segala milikmu dan memberikannya kepada orang lain.” Dalam tulisan-tulisan Paulus tidak ada kata-kata yang demikian. Bagaimanapun, Paulus menekankan fakta bahwa orang beriman seharusnya tidak dibelenggu oleh harta. Kita tidak seharusnya dibelenggu oleh harta. Sebaliknya, perbudakan harta harus dienyahkan. Kita bu-kan bagi harta, harta adalah bagi kita. Kita harus bebas dari pemilikan materi dan menggunakan harta kita bagi perampungan tujuan Allah.

Sebagai manusia, kita memerlukan uang untuk hidup. Tetapi kita tidak boleh diperbudak oleh uang. Uang seha-rusnya tidak menjadi tuan kita. Sebaliknya, uang seharusnya di bawah pengelolaan dan seharusnya digunakan bagi tujuan Allah. Jika uang tidak berada di bawah pengenda-lian kita dan jika tidak digunakan bagi tujuan Allah, kita akan diperbudak olehnya. Akibatnya, kita tidak akan mam-pu masuk ke dalam Kerajaan Allah.

Jika kita dipenuhi dengan Kristus, kita akan mampu menangani perkara pernikahan, keusangan, dan harta. Kita akan menangani pernikahan bersama Kristus, kita akan me-nangani perkara keusangan bersama Kristus, dan kita akan mengelola harta bersama Kristus. Ini berarti dalam perkara pernikahan, keusangan, dan harta kita digantikan oleh Kristus sehingga kita dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah.

Semoga kita terkesan dengan kebenaran bahwa cara yang terbaik untuk menangani kehidupan pernikahan kita adalah mengambil Kristus sebagai pengganti kita dan mengalami kematian dan kebangkitan-Nya. Demikian pula, cara yang terbaik untuk menjaga diri kita selalu baru, segar, dan muda adalah mengambil Kristus melalui kematian dan kebangkitan-Nya. Selanjutnya, cara terbaik untuk menangani harta kita adalah Kristus serta kematian dan kebangkitan-Nya. Jika kita tidak mempunyai Kristus serta kematian dan kebangkitan-Nya, kita tidak akan memiliki cara untuk menangani perkara pernikahan, keusangan, dan harta. Satu-satunya jalan untuk menangani ketiga perkara ini secara tepat adalah digantikan oleh Kristus melalui ke-matian-Nya yang almuhit dan kebangkitan-Nya yang ajaib.