← Daftar isi Markus (1) · bab 21/22

PERSIAPAN HAMBA-PENYELAMAT UNTUK PELAYANAN PENEBUSAN-NYA (11)

Pembacaan Alkitab: Mrk. 14:1-26

Dalam berita ini saya akan memberikan perkataan lebih lanjut mengenai 14:1-26. Secara khusus, kita memer-lukan perkataan lebih lanjut mengenai Tuhan mendirikan perjamuan malam-Nya sebagai bagian dari mempersiapkan murid-murid-Nya untuk masuk ke dalam kematian dan kebangkitan-Nya.

MENGAPRESIASI KEMUSTIKAAN TUHAN

Markus 14:1-42 berkaitan dengan mempersiapkan mu-rid-murid-Nya untuk kematian-Nya. Dalam Injil Markus yang berkaitan dengan persiapan Tuhan ini ada dua pesta selain perayaan Paskah. Pesta pertama dipersiapkan untuk Tuhan oleh mereka yang mengasihi Dia. Pesta kedua ada-lah perjamuan malam Tuhan yang didirikan oleh Tuhan se-gera setelah perayaan Paskah. Perjamuan malam Tuhan dipersiapkan oleh Tuhan bagi murid-murid-Nya.

Sepanjang abad, banyak yang telah membicarakan pesta yang diadakan oleh Simon untuk menunjukkan kasihnya kepada Tuhan Yesus. Selama pesta ini, seorang perempuan mengurapi Tuhan sebagai suatu pernyataan kasihnya. Banyak berita telah disampaikan tentang Tuhan diurapi oleh perempuan dalam Markus 14. Namun, jauh lebih sulit memasuki kedalaman makna meja Tuhan. Masalah ini sangat dalam, jauh melebihi kemampuan pengertian otak manusia.

Makna perjamuan yang dipersiapkan bagi Tuhan oleh murid-murid-Nya jauh lebih dangkal jika dibandingkan de-ngan makna meja Tuhan. Dalam perjamuan yang diper-siapkan oleh murid-murid Tuhan, kita memiliki masalah apresiasi terhadap kemustikaan Tuhan, keberhargaan Tuhan, dan keelokan Tuhan. Simon, si kusta, telah ditahirkan oleh Tuhan, mempersiapkan pesta sebagai ungkapan dari apre-siasinya atas belas kasihan, anugerah, dan kemustikaan Tuhan. Pengurapan terhadap Tuhan Yesus juga adalah suatu ekspresi dari apresiasi kemustikaan dan keelokan Tuhan. Namun, dalam hal-hal ini hanya sedikit yang dapat dikategorikan sebagai sesuatu yang dalam dan misterius. Sepertinya tidak ada apa pun yang dimulai oleh kita yang bersifat dalam dan misterius.

TANDA DARI EKONOMI PERJANJIAN BARU ALLAH

Perjamuan malam yang didirikan oleh Tuhan Yesus, sebaliknya, sangat dalam dan misterius. Perjamuan ini adalah tanda, simbol dari keseluruhan ekonomi Perjanjian Baru Allah. Ekonomi Allah dalam zaman Perjanjian Baru berkaitan dengan meja Tuhan.

Saya tidak percaya bahwa setiap murid Tuhan mengerti makna dari meja-Nya ketika didirikan. Petrus, misalnya, berbagian dalam meja itu, tetapi dia jelas tidak nampak maknanya.

Roti dan Cawan

Tuhan Yesus mendirikan perjamuan malam-Nya, “Ke-tika Yesus dan murid-murid-Nya sedang makan, Yesus meng-ambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya lalu memberikannya kepada mereka dan berkata, ‘Ambillah, ini-lah tubuh-Ku’” (14:22). Sesudah itu Dia mengambil cawan, mengucap syukur lalu memberikannya kepada mereka, dan berkata, “Inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditum-pahkan bagi banyak orang” (ayat 24). Jadi, meja Tuhan mencakup satu roti dan satu cawan.

Menurut Alkitab, roti menandakan hayat. Tuhan Yesus berkata, “Akulah roti hayat” (Yoh. 6:35 Tl.). Ini menun-jukkan bahwa dalam Alkitab roti adalah perkara hayat.

Selain itu, dalam Alkitab, cawan menandakan berkat. Karena itu, cawan itu disebut cawan berkat. Roti berkaitan dengan hayat dan cawan berkaitan dengan berkat.

Jelaslah, hayat ini adalah hayat ilahi, dan berkat ini adalah berkat ilahi. Sesungguhnya, hayat atau berkat ini adalah Allah Tritunggal, Allah sendiri dalam Kristus dan melalui Roh. Tahukah Anda apakah hayat kekal itu? Hayat kekal adalah Allah Tritunggal. Tahukah Anda apakah ber-kat ilahi itu? Berkat ilahi juga adalah Allah Tritunggal. Jadi, hayat ilahi dan berkat ilahi adalah Allah Tritunggal itu sendiri.

Allah Tritunggal Menjadi Hayat dan Berkat Kita

Bagaimana mungkin Allah Tritunggal menjadi hayat dan berkat kita? Agar sesuatu menjadi hayat kita bukanlah masalah sederhana. Sebagai contoh, makanan yang kita makan dan cerna menjadi suplai hayat kita. Untuk menjadi hayat kita atau suplai hayat kita, sesuatu haruslah orga-nik. Jika Anda menelan batu, batu itu tidak dapat menjadi suplai hayat Anda, karena batu itu tidak hidup dan orga-nik. Hanya sesuatu yang organik yang dapat dicerna oleh kita dan kemudian diasimilasikan ke dalam kita menjadi suplai hayat kita. Demikian pula, agar dapat menjadi suplai hayat dan bahkan

hayat kita, Allah Tritunggal harus masuk ke dalam kita untuk dicerna dan diasimilasikan oleh kita. Yang jelas, Allah Tritunggal itu hidup dan organik.

Menurut Yohanes 6, Kristus adalah roti, roti hayat untuk kita makan. Tuhan Yesus berkata, “Akulah roti ke-hidupan (hayat) yang telah turun dari surga. Jikalau sese-orang makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya” (ayat 51). Kemudian Dia berkata, “Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga siapa saja yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku” (ayat 57). Setiap orang beriman yang memakan Tuhan Yesus sebagai roti hayat akan hidup oleh Dia. Ketika kita makan roti hayat ini, Dia masuk ke dalam kita untuk dicerna oleh kita dan diasimilasikan ke dalam kita secara organik. Ini-lah satu-satunya cara Allah Tritunggal dapat menjadi hayat kita. Allah Tritunggal menjadi hayat dan suplai hayat kita dengan masuk ke dalam kita secara organik untuk diasi-milasikan ke dalam setiap susunan manusia rohani kita.

Mengingat Tuhan Melalui Memakan Dia

Makan Tuhan untuk mencerna dan mengasimilasi Dia agar Dia menjadi hayat bagi kita ditandakan oleh makan roti di meja. Bila kita datang ke meja Tuhan, kita melihat roti. Roti ini bukan sekadar untuk dipamerkan, melainkan untuk kita makan. Ketika Tuhan Yesus mendirikan perja-muan malam-Nya, “Yesus mengambil roti, mengucap syu-kur, memecah-mecahkannya lalu memberikannya kepada mereka dan berkata, ‘Ambillah, inilah tubuh-Ku’” (Mrk. 14:22).

Menurut Lukas 22:19, Tuhan Yesus berkata, “Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini men-jadi peringatan akan Aku.” Ayat ini membicarakan perihal mengingat Tuhan. Selama bertahun-tahun, saya mengingat Tuhan pada meja-Nya hanya dengan berkonsentrasi pada inkarnasi-Nya, kehidupan insani-Nya yang menderita, ke-matian-Nya, dan kebangkitan-Nya. Saya tidak pernah di-beri tahu bahwa jalan yang tepat untuk mengingat Tuhan Yesus adalah memakan Dia. Peringatan yang sejati akan Tuhan adalah makan roti dan minum cawan (1 Kor. 11:24, 26), yaitu berbagian dan menikmati Tuhan yang telah memberikan diri-Nya sendiri kepada kita melalui kematian penebusan-Nya. Makan roti dan minum cawan adalah ma-kan Tuhan penebus sebagai bagian kita, sebagai hayat dan berkat kita. Inilah mengingat Dia yang sesungguhnya.

MAKNA YANG DALAM DARI MAKAN ROTI

DAN MINUM CAWAN MEJA TUHAN

Suatu hari, lebih dari 30 tahun yang lalu, saya sedang berusaha mendefinisikan makna meja Tuhan. Ketika saya memikirkan roti dan membaca ayat-ayat dalam Perjanjian Baru tentang roti, saya diterangi mengenai apa yang di-maksud dengan mengingat Tuhan pada meja-Nya. Saya nampak, mengingat Tuhan bukan hanya berpikir tentang Dia, bukan hanya mengenang apa yang telah Dia alami. Sebaliknya, mengingat Tuhan adalah memakan Dia. Tuhan dengan jelas berkata, “Inilah tubuh-Ku yang diberikan bagi-mu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku.” Melalui ini kita nampak bahwa peringatan yang tepat akan Tuhan adalah melalui memakan Dia, mengambil Dia sebagai suplai hayat kita.

Roti di meja bukan untuk kita analisis atau pikirkan; roti adalah untuk kita makan sebagai suplai hayat kita. Roti ini harus dicerna dan diasimilasi oleh kita untuk menjadi apa adanya kita. Makna ini sangat dalam.

Makan roti dari meja Tuhan menunjukkan bahwa Tuhan masuk ke dalam kita sebagai suplai hayat kita dan kemudian benar-benar menjadi kita. Jika kita memperhati-kan perkara makan, kita akan menyadari bahwa makanan yang kita makan akhirnya akan menjadi kita. Kita mung-kin akan berkata, bukan hanya makanan menjadi kita, tetapi kita akan menjadi makanan. Tidak hanya ada kesa-tuan organik antara kita dengan makanan yang kita ma-kan, cerna, dan asimilasi; kita akan dibaurkan dengan makanan yang kita asimilasi.

Mengatakan bahwa perbauran tidak alkitabiah adalah satu kesalahan yang serius. Bagaimana seseorang bisa me-nyangkal fakta bahwa kita telah dibaurkan dengan ma-kanan yang kita makan, cerna, dan asimilasi? Faktanya, mengasimilasi makanan ke dalam apa adanya kita jauh melampaui perbauran. Kita tidak memiliki perkataan un-tuk menggambarkan hal ini. Namun, kita tidak tahu bahwa kita berbaur dengan cara yang dalam dengan makanan yang kita makan. Dengan cara yang sama, ketika kita me-makan Allah Tritunggal sebagai makanan kita, kita benar-benar berbaur dengan Dia. Supaya makanan yang kita makan menjadi hayat kita, makanan itu harus berbaur dengan kita. Prinsip ini sama dengan mengambil Allah Tritunggal sebagai makanan kita.

Kita telah menunjukkan bahwa memakan makanan mencakup lebih banyak daripada kesatuan organik antara kita dengan makanan. Sesungguhnya, makan, mencerna, dan mengasimilasi makanan mencakup perbauran batiniah antara makanan dengan apa adanya kita. Apa yang kita makan sesungguhnya menjadi bagian dari diri kita. Karena itu, ini bukan hanya perkara perbauran; tetapi juga perkara menjadi. Makanan yang kita cerna dan asimilasi men-jadi bagian dari apa adanya kita. Karena alasan ini, setelah kita secara langsung mencerna dan mengasimilasi makan-an kita, tidak mungkin makanan itu ditempatkan di dalam kita, karena makanan itu telah menjadi bagian dari diri kita. Kita menggunakan perkara mengasimilasi makanan itu untuk menggambarkan makna yang dalam dari makan roti dalam meja Tuhan.

Suatu Gambaran Tuhan

Kita telah nampak bahwa cawan meja Tuhan menandakan darah-Nya. Dalam Perjanjian Lama ada larangan minum darah (Kej. 9:4; Im. 17:10). Dalam ekonomi Allah hanya ada satu jenis darah yang sesuai untuk kita minum, dan itu adalah darah Tuhan Yesus. Dalam prinsipnya, minum darah sama halnya dengan makan roti; apa pun yang kita minum menjenuhi kita dan menjadi apa adanya kita.

Gambaran Darah Tuhan Terpisah dari Tubuh-Nya

Tubuh Tuhan Yesus ditunjukkan oleh roti, dan da-rah-Nya ditunjukkan oleh cawan dengan isinya. Di sini ada gambaran darah Tuhan yang terpisah dari tubuh-Nya. Pemisahan ini menandakan kematian. Karena itu, dalam 1 Korintus 11:26 Paulus berkata, “Sebab setiap ka-li kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang.” Kata Yunani yang diterjemahkan “memberitakan” berarti mem-proklamirkan, memamerkan kematian Tuhan. Makan perjamuan malam Tuhan adalah memberitakan dan me-mamerkan kematian Tuhan.

Agar Tuhan Yesus menjadi makanan kita, masuk ke dalam kita sebagai suplai hayat kita, Dia perlu melewati kematian. Jika Dia tidak disalibkan, Dia tidak bisa menjadi makanan kita.

Kebanyakan makanan yang kita makan hari demi hari harus dipotong terlebih dulu. Sebagai contoh, sebe-lum Anda dapat makan ayam, ayam itu harus disembelih. Makan ayam memerlukan kematian ayam itu. De-mikian pula, untuk makan Tuhan Yesus, Tuhan Yesus harus mati. Setiap kali kita makan roti dan minum cawan meja Tuhan, kita mengumumkan kematian Tuhan.

MENGALAMI KEBANGKITAN YANG BATINIAH

Kita telah nampak bahwa meja Tuhan menandakan Tuhan sendiri, kematian-Nya, kebangkitan-Nya, dan Tubuh mistikal-Nya sebagai perluasan-Nya. Bagaimana meja Tuhan berkaitan dengan kebangkitan-Nya? Kita dapat mengatakan ketika kita makan Tuhan, mencerna, dan mengasimilasi Dia sebagai suplai hayat kita, kita mengalami kebangkitan yang batiniah. Kita dapat menggunakan makan makanan jasmani sebagai suatu ilustrasi. Sering kali sebelum makan malam saya lelah dan lemah. Tetapi setelah makan makan-an yang bergizi, saya dipulihkan. Saya bahkan berkata bah-wa saya “dibangkitkan”. Makanan yang saya makan berisi unsur hayat yang membuat saya bangkit. Dengan cara yang sama, ketika kita makan Tuhan Yesus, Dia menjadi hayat kebangkitan yang berada di dalam kita.

PERTUMBUHAN YANG PENUH DARI MANUSIA BARU

Roti dari meja Tuhan juga menandakan tubuh mistikal Kristus sebagai perluasan-Nya. Perluasan ini adalah untuk menghasilkan manusia baru. Selain itu, perluasan ini juga adalah masalah perkembangan benih, gen dari kerajaan.

Dalam Markus 4 kita telah memiliki benih kerajaan, tetapi akhirnya kita akan memiliki perkembangan, ma-nifestasi yang penuh dari kerajaan, dan perkembangannya yang penuh akan menjadi pertumbuhan yang penuh dari manusia baru. Ini berarti akhirnya manusia baru akan merupakan Kerajaan Allah.

Tidak hanya demikian, Kerajaan Allah tentunya bukan masalah organisasi. Tidak, secara keseluruhan, Kerajaan Allah adalah suatu organisme, manusia baru, yang diha-silkan oleh Kristus yang menggantikan kita melalui kema-tian dan kebangkitan-Nya. Betapa menakjubkan! Jika kita nampak hal ini, kita akan mengerti bahwa ketika Tuhan mendirikan perjamuan malam-Nya dalam Markus 14, Dia sedang mempersiapkan murid-murid-Nya untuk menerima kematian dan kebangkitan-Nya.