Daftar isi Markus (2) · Berita Keempat Puluh Lima · bab 22/22

Berita Keempat Puluh Lima

PERSIAPAN HAMBA-PENYELAMAT UNTUK PELAYANAN PENEBUSAN-NYA (12)

Pembacaan Alkitab: Mrk. 14:27-42

MEMPERINGATKAN MURID-MURID

Dalam 14:27-42 Tuhan Yesus memperingatkan murid-murid bahwa mereka akan tersandung, juga menyuruh mereka berjaga-jaga dan berdoa. Dalam ayat 27 Dia berkata kepada mereka, “Kamu semua akan terguncang imanmu. Sebab ada tertulis: Aku akan memukul gembala dan domba-domba itu akan tercerai-berai.” Tuhan pun memberi tahu mereka bahwa setelah Dia dibangkitkan, Dia akan mendahului mereka ke Galilea (ayat 28).

Ketika Petrus mendengar perkataan Tuhan mengenai murid-murid akan tersandung, dia berkata kepada-Nya, “Biarpun mereka semua terguncang imannya, aku tidak!” (ayat 29). Untuk mempersiapkan murid-murid-Nya bagi kematian-Nya, Tuhan berkata kepada Petrus, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, pada hari ini, malam ini juga, sebelum ayam berkokok dua kali, engkau telah menyangkal Aku tiga kali.” Kata “menyangkal” di sini, dalam bahasa aslinya adalah kata kerja majemuk, yang berarti sepenuhnya menyangkal. Demikian juga dalam ayat 31 dan 72. Tetapi Petrus, dengan kasar, percaya diri, dan berani berkata dengan sekuatnya, “Sekalipun aku harus mati bersama-sama Engkau, aku tidak akan menyangkal Engkau.” Semua yang lain pun berkata demikian (ayat 31).

BERDOA DI GETSEMANI

Setelah memperingatkan murid-murid bahwa mereka akan tersandung, Tuhan Yesus pergi bersama mereka ke suatu tempat bernama Getsemani (ayat 32). Getsemani berarti tempat pemerasan minyak. Tuhan diperas di sana untuk mengalirkan minyak, Roh itu.

Bersama Petrus, Yakobus, dan Yohanes, Dia “mulai merasa sangat susah dan gelisah” (ayat 33). Mengenai “susah”, C.E.B. Cranfield mengatakan bahwa Tuhan “berada dalam cengkeraman ketakutan yang menggentarkan saat menghadapi masa depan yang menakutkan”.

Tuhan berkata kepada Petrus, Yakobus, dan Yohanes, “‘Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah.’ Ia maju sedikit, merebahkan diri ke tanah dan berdoa supaya, sekiranya mungkin, saat itu lalu dari hadapan-Nya.” Kedukaan dan doa Hamba-Penyelamat dalam ayat 35 sama seperti dalam Yohanes 12:27. Di sana Ia berkata bahwa Ia datang untuk saat ini, yaitu Ia tahu bahwa kehendak Bapa adalah mengharuskan-Nya mati di atas salib demi penggenapan rencana kekal Allah.

Menurut ayat 36, Tuhan Yesus berkata, “Ya Abba, ya Bapa, segala sesuatu mungkin bagi-Mu, ambillah cawan ini dari hadapan-Ku, tetapi janganlah apa yang Aku kehendaki, melainkan apa yang Engkau kehendaki.” Allah Tritunggal telah menetapkan dalam rencana ilahi-Nya pada kekekalan lampau bahwa yang kedua dari Trinitas ilahi harus berinkarnasi dan mati di atas salib untuk menggenapkan penebusan kekal-Nya bagi perampungan tujuan kekal-Nya (Ef. 1:7-9). Karena itu, yang kedua dari Trinitas ilahi ini telah ditetapkan menjadi Anak Domba Allah (Yoh. 1:29) sebelum dunia dijadikan, yaitu pada kekekalan lampau (1 Ptr. 1:19-20); dan dalam pandangan Allah, sebagai Anak Domba Allah, Ia telah disembelih sejak dunia dijadikan, yaitu sejak adanya ciptaan Allah yang telah jatuh (Why. 13:8). Sejak kejatuhan manusia, maka anak domba, kambing, anak lembu, dan lembu jantan digunakan untuk umat pilihan Allah sebagai lambang-lambang (Kej. 3:21; 4:4; 8:20; 22:13; Kel. 12:3-8; Im. 1:2), mengacu kepada Dia yang akan datang sebagai Anak Domba sejati yang telah ditetapkan sebelumnya oleh Allah. Ketika genap waktunya, Allah Tritunggal mengutus yang kedua dari Trinitas ilahi, Putra Allah, datang berinkarnasi mengenakan tubuh manusia (Ibr. 10:5), agar Ia dapat dipersembahkan kepada Allah di atas salib (Ibr. 9:14; 10:12) untuk melakukan kehendak Allah Tritunggal (Ibr. 10:17), yaitu menggantikan kurban-kurban dan persembahan-persembahan yang merupakan lambang-lambang, dengan diri-Nya sendiri dalam keinsanian-Nya sebagai kurban dan persembahan yang unik bagi pengudusan umat pilihan Allah (Ibr. 10:9-10). Dalam doa-Nya di sini, sesaat sebelum penyaliban-Nya, Ia mempersiapkan diri-Nya menerima cawan salib (Mat. 26:39, 42). Ia bersedia melakukan keinginan Bapa yang unik ini demi perampungan rencana kekal Allah Tritunggal.

Dalam ayat 38 Tuhan Yesus memperingatkan tiga orang murid-Nya, “Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan; roh memang penurut, tetapi daging lemah” (Tl.). Kata Yunani yang diterjemahkan “penurut” dapat juga diterjemahkan “bersedia”. Dalam hal-hal rohani roh kita sering menuruti, bersedia, tetapi daging kita lemah.

MENYINGKAPKAN SITUASI KITA

Mengapa setelah Tuhan Yesus mendirikan perjamuan malam-Nya, Dia memperingatkan murid-murid akan keter-sandungan mereka dan menyuruh mereka berdoa dan berjaga-jaga? Alasannya adalah kapan kala Tuhan mewahyukan sesuatu mengenai diri-Nya dalam ekonomi-Nya, Dia menyingkapkan situasi kita yang sesungguhnya. Perhatikan kasus Petrus dalam pasal 8. Petrus menerima wahyu bahwa Yesus itu Kristus. Setelah Petrus menerima wahyu itu, Tuhan menyingkapkan dia sebagai Iblis. Selain itu, Tuhan selanjutnya menyingkapkan diri Petrus, hayat jiwanya.

Pendirian meja Tuhan mewahyukan kematian Tuhan, kebangkitan-Nya, Tuhan sendiri, dan perluasan-Nya, Tubuh mistikal-Nya. Segera setelah wahyu ini, Petrus dan murid-murid yang lain disingkapkan. Manusia alamiah, diri, kehendak diri, pikiran, dan angan-angan mereka semuanya disingkapkan. Meskipun mereka menyaksikan Tuhan mendirikan meja-Nya, mereka tidak menyadari betapa banyak mereka berada dalam diri sendiri dan betapa banyak mereka mengikuti konsepsi alamiah mereka. Karena itu, Tuhan Yesus menyingkapkan mereka. Penyingkapan ini adalah secara pelaksanaan dibawa masuk ke dalam kematian Tuhan.

DIBAWA MASUK KE DALAM KEMATIAN

DAN KEBANGKITAN TUHAN

Ketika kita membaca pasal 14 dan 15 dari Injil Markus, kita tampak bahwa Petrus dibawa masuk ke dalam penyaliban Tuhan. Ketika Petrus menyombongkan diri bahwa dia tidak akan pernah menyangkal Tuhan Yesus, dia belum disalibkan. Dia menyatakan bahwa meskipun semua orang tersandung, dia tidak akan tersandung. Dia meneruskan perkataannya, “Sekalipun aku harus mati bersama-sama Engkau, aku tidak akan menyangkal Engkau” (14:31). Namun, tidak lama setelah menyombongkan diri, dia sepenuhnya menyangkal Tuhan Yesus. Setelah menyangkal Dia, “Petrus pun teringat bahwa Yesus telah berkata kepadanya, ‘Sebelum ayam berkokok dua kali, engkau telah menyangkal Aku tiga kali!’ Lalu menangislah ia tersedu-sedu” (14:72). Sesungguhnya, inilah penyaliban Petrus. Dia menangis karena dia telah disalibkan.

Meskipun Petrus menyangkal Tuhan, dia tidak menyerah. Malahan, dia maju terus untuk masuk ke dalam kebangkitan Tuhan.

Mungkin Anda heran, bagian mana dari Injil Markus yang menunjukkan bahwa Petrus masuk ke dalam kebangkitan Kristus. Perhatikanlah perkataan malaikat kepada para perempuan yang datang ke kubur di pagi hari pada hari kebangkitan Tuhan: “Tetapi orang muda itu berkata kepada mereka, ‘Jangan takut! Kamu mencari Yesus orang Nazaret, yang disalibkan itu. Ia telah bangkit. Ia tidak ada di sini. Lihat! Inilah tempat mereka membaringkan Dia. Tetapi sekarang pergilah, katakanlah kepada murid-murid-Nya dan kepada Petrus: Ia mendahului kamu ke Galilea; di sana kamu akan melihat Dia, seperti yang sudah dikatakan-Nya kepada kamu.’” Di sini kita tampak bahwa malaikat secara khusus menyebut nama Petrus. Ini menunjukkan bahwa Petrus dibawa ke dalam kebangkitan Kristus.

Kita tidak seharusnya membaca Injil Markus hanya sebagai buku cerita. Kita perlu tampak wahyu dalam kitab ini. Injil Markus mewahyukan bahwa Tuhan Yesus tidak bermaksud melewati kematian dan kebangkitan sendirian. Sebaliknya, Tuhan bermaksud membawa para pengikut-Nya bersama Dia ke dalam kematian dan kebangkitan. Jika kita tampak wahyu ini, kita akan diyakinkan bahwa sebagai orang yang mengasihi Tuhan Yesus, kita akan dibawa-Nya melewati kematian dan masuk ke dalam kebangkitan-Nya.

Ketika kita tiba pada akhir Injil Markus, kita tampak bahwa semua pengikut Tuhan tidak hanya dibawa masuk ke dalam kematian dan kebangkitan-Nya, tetapi juga ke dalam kenaikan-Nya. Dalam kenaikan-Nya mereka diutus untuk pergi memberitakan Injil sampai ke ujung bumi. Puji Tuhan bahwa murid-murid-Nya dibawa masuk ke dalam kematian, kebangkitan, dan kenaikan-Nya!

PENYINGKAPAN DAN PENYALIBAN

Meskipun Petrus hadir ketika Tuhan mendirikan perjamuan malam-Nya, dia tidak mengerti maknanya. Segera setelah makan perjamuan malam, Tuhan memperingatkan murid-murid-Nya tentang masalah tersandung. Peringatan ini merupakan suatu petunjuk bahwa murid-murid masih berada dalam daging. Meskipun Tuhan telah mendirikan perjamuan malam dan mereka semua telah berbagian di dalamnya, mereka masih berada dalam daging. Tidak lama kemudian Petrus berperilaku secara alamiah, membanggakan diri, menganggap dirinya tidak akan tersandung atau menyangkal Tuhan.

Setelah memperingatkan murid-murid-Nya mengenai ketersandungan mereka, Tuhan Yesus membawa tiga orang dari mereka — Petrus, Yakobus, dan Yohanes — bersama Dia ke Getsemani. Tuhan menyuruh mereka untuk “tinggal di sini dan berjaga-jaga” (ayat 34). Namun, ketika Dia datang kepada mereka, Dia menemukan mereka tertidur. Lalu Ia berkata kepada Petrus, “Simon, sedang tidurkah engkau? Tidakkah engkau sanggup berjaga-jaga walau satu jam saja?” (ayat 37). Petrus, pemimpin murid-murid, memelopori tidur. Dia tidak memiliki kekuatan untuk melakukan apa pun kecuali tidur.

Petrus juga bertindak secara alamiah ketika Tuhan Yesus ditangkap. Dia menghunus pedangnya dan “menetak-kannya kepada hamba Imam Besar sehingga putus telinga-nya” (ayat 47). Petrus kembali menimbulkan kesulitan. Saat Tuhan Yesus ditangkap, Dia perlu mengadakan mukjizat untuk menyembuhkan telinga hamba Imam Besar (Luk. 22:50-51).

Menurut Markus 14:66-72 Petrus dengan mutlak menyangkal Tuhan Yesus. Salah satu hamba perempuan imam besar berkata kepada Petrus, “Engkau juga selalu bersama-sama dengan Yesus, orang Nazaret itu” (ayat 67). Tetapi Petrus menyangkal hal ini dan berkata, “Aku tidak tahu dan tidak mengerti apa yang engkau maksudkan” (ayat 68). Tak lama setelah itu Petrus menyangkal Tuhan Yesus dua kali lagi. Melalui penyingkapan ini Petrus diletakkan di atas salib. Tuhan Yesus disalibkan, dan Petrus juga disalibkan. Penyingkapan Petrus adalah penyalibannya.

REPRODUKSI KRISTUS

Menurut Injil Markus dan Kitab Kisah Para Rasul, Petrus tidak hanya melewati proses kematian, tetapi juga masuk ke dalam kebangkitan dan kenaikan Tuhan. Karena itu, ketika dia bangkit untuk memberitakan Injil pada hari Pentakosta, Petrus menjadi orang yang berbeda. Dia adalah orang yang disalibkan, dibangkitkan, dan naik ke surga, reproduksi dari Kristus yang tersalib, bangkit, dan naik ke surga. Petrus adalah duplikat dari Kristus. Setelah dibawa masuk ke dalam kematian, kebangkitan, dan kenaikan Kristus, Petrus juga dijenuhi dengan Kristus. Dia adalah satu dengan Kristus, dan Kristus bahkan telah menjadi dia. Karena alasan ini, kita dapat mengatakan bahwa Petrus adalah reproduksi Kristus pada hari Pentakosta.

Catatan dalam Injil Markus menunjukkan bahwa Petrus melewati proses yang panjang untuk menjadi reproduksi Kristus. Proses ini dimulai di pasal 1, ketika Petrus, seorang nelayan, dipanggil oleh Tuhan Yesus. Setelah memanggil dia, Tuhan membawa Petrus ke dalam proses yang penyelesaiannya memakan waktu lebih dari tiga tahun. Hasilnya, pada hari Pentakosta, Petrus adalah orang yang dibawa ke dalam kematian, kebangkitan, dan kenaikan Kristus.

Mungkin pada saat itu Petrus dapat mengerti makna dari meja Tuhan. Tuhan telah mendirikan meja-Nya sebagai suatu bagian dalam tindakan-Nya mempersiapkan murid-murid, sebagai bagian dari proses untuk membawa mereka ke dalam realisasi penuh dari kematian dan kebangkitan-Nya.

Kita perlu tampak bahwa Tuhan bermaksud membawa kita semua ke dalam kematian dan kebangkitan-Nya. Melalui kematian dan kebangkitan-Nya kita dapat menikmati Dia sebagai pengganti kita. Ketika kita menikmati Kristus sebagai pengganti kita, Dia menjadi kita dan kita menjadi satu dengan Dia. Hasilnya, kita menjadi reproduksi, duplikat-Nya. Inilah visi yang disampaikan kepada kita dalam Injil Markus.

EKONOMI ALLAH UNTUK

MENGHASILKAN MANUSIA BARU

Kita telah tampak bahwa ekonomi Allah adalah untuk menghasilkan manusia baru. Jalan untuk menghasilkan manusia baru adalah menggantikan kita dengan Kristus.

Dalam pemberitaan Injil, Kristus sebagai pengganti universal dilayankan kepada orang lain. Namun, ketika kita menyajikan Kristus sebagai pengganti yang almuhit, akan selalu ada penentangan dan penganiayaan. Karena Iblis telah merampas ciptaan lama dan menghasut mereka yang ada di dalam ciptaan lama untuk menentang hal-hal Tuhan, maka hal-hal dari ciptaan lama menghalangi kita membiarkan Kristus menjadi pengganti kita.

Mula-mula, Kristus menggantikan semua hal lama dari Yudaisme. Kita telah tampak dari pasal 9 dan 13 bahwa Kristus menggantikan Musa dan Elia dan juga Bait Suci.

Selain itu, Kristus menggantikan hal-hal dalam dunia bangsa-bangsa. Dia menggantikan kebudayaan, adat istiadat, kebiasaan, dan cara hidup yang lama.

Karena Kristus adalah pengganti yang sedemikian, penentangan tidak dapat dihindari. Namun, penentangan itu menghasilkan tujuan yang positif. Melalui penentangan itu kita dimatikan dan dibawa masuk ke dalam kebangkitan. Ini berarti, akhirnya semua yang dapat dilakukan oleh musuh melalui penganiayaan dan penentangan hanya membantu membebaskan aliran hayat kebangkitan. Haleluya untuk aliran yang menghasilkan manusia baru yang akan menjadi Kerajaan Allah! Manusia baru ini dihasilkan oleh kematian dan kebangkitan Kristus. Melalui kematian dan kebangkitan Tuhan, kita menikmati Dia sebagai pengganti yang universal dan almuhit untuk menghasilkan manusia baru.

?