← Daftar isi Markus (1) · bab 14/22

PERSIAPAN HAMBA-PENYELAMAT UNTUK PELAYANAN PENEBUSAN-NYA (4)

Pembacaan Alkitab: Mrk. 12:18-44

Pengujian dan pemeriksaan Hamba-Penyelamat (11:27— 12:44) terjadi selama hari-hari sebelum hari raya Paskah. Orang Yahudi dari berbagai tempat telah datang ke Yerusa-lem untuk hari raya ini. Penyucian Tuhan atas Bait ini membangkitkan perhatian orang-orang. Pertama, imam-iman kepala, ahli-ahli Taurat, dan tua-tua datang kepada Tuhan Yesus dengan suatu pertanyaan mengenai kuasa-Nya (11:27-33). Setelah imam-imam kepala, ahli-ahli Taurat, dan tua-tua dikalahkan oleh Dia, orang-orang Farisi dan orang-orang Herodian mencoba untuk menjebak Dia dalam pembicaraan-Nya (12:13-17). Namun, mereka juga dikalah-kan oleh Hamba-Penyelamat.

ORANG-ORANG SADUKI DAN KEBANGKITAN

Dalam 12:18-27 orang-orang Saduki datang kepada Tuhan Yesus. Orang-orang Saduki adalah suatu sekte di antara orang Yahudi (Kis. 5:17). Mereka tidak percaya ke-pada kebangkitan, malaikat, atau roh-roh (Kis. 23:8). Orang-orang Farisi dan orang-orang Saduki disebut sebagai ketu-runan ular beludak oleh Yohanes Pembaptis dan Tuhan Yesus (Mat. 3:7; 12:34; 23:33). Tuhan Yesus mengingatkan murid-murid-Nya untuk berhati-hati terhadap ajaran mereka (Mat. 16:6, 12). Orang-orang Farisi dianggap kaum ortodoks, se-dangkan orang-orang Saduki adalah kaum modernis zaman dulu.

Dalam Markus 12:18-27 orang Saduki berpikir bahwa mereka dapat mengalahkan Tuhan Yesus mengenai masa-lah kebangkitan. Mereka menanyai Dia, “‘Guru, Musa me-nuliskan hal ini untuk kita: Jika seorang, yang mempunyai saudara laki-laki, mati dengan meninggalkan seorang istri tetapi tidak meninggalkan anak, saudaranya harus kawin dengan istrinya itu dan memberi keturunan bagi saudara-nya itu. Adalah tujuh orang bersaudara. Yang pertama kawin dengan seorang perempuan dan mati dengan tidak meninggalkan keturunan. Lalu yang kedua juga mengawini dia dan mati tanpa meninggalkan keturunan. Demikian juga dengan yang ketiga. Begitulah seterusnya, ketujuhnya tidak meninggalkan keturunan. Akhirnya, sesudah mereka semua, perempuan itu pun mati. Pada hari kebangkitan, ketika mereka bangkit, siapakah yang menjadi suami perempuan itu? Sebab ketujuhnya telah beristrikan dia.’ (ayat 19-23). Orang-orang Saduki berpikir bahwa mereka sangat cerdas karena mengajukan pertanyaan yang sedemikian kepada Tuhan.

Tuhan Yesus berkata kepada mereka, “Kamu sesat, justru karena kamu tidak mengerti Kitab Suci maupun kuasa Allah” (ayat 24). Mengerti Kitab Suci adalah satu hal, mengetahui kuasa Allah adalah hal yang lain. Kita perlu keduanya. Di sini “Kitab Suci” mengacu kepada ayat-ayat dari Perjanjian Lama mengenai kebangkitan, dan “kuasa Allah” mengacu kepada kuasa kebangkitan.

Tuhan meneruskan perkataan-Nya bahwa dalam ke-bangkitan tidak ada lagi pernikahan: “Sebab bilamana mereka bangkit dari antara orang mati, mereka tidak kawin dan tidak dikawinkan melainkan hidup seperti malaikat di surga” (ayat 25).

Tuhan Yesus, bagaimanapun, tidak berhenti di sini. Dia kemudian melanjutkan perkataan-Nya, “Juga tentang bangkitnya orang-orang mati, tidakkah kamu baca dalam kitab Musa, dalam cerita tentang semak duri, bagaimana Allah berfirman kepadanya: Akulah Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub? Ia bukanlah Allah orang mati, me-lainkan Allah orang hidup. Kamu benar-benar sesat!” (ayat 26-27). Karena Allah adalah Allah orang hidup dan disebut Allah Abraham, Ishak, dan Yakub, maka ketiganya yang telah mati, Abraham, Ishak, dan Yakub akan dibangkitkan. Ini adalah cara Tuhan Yesus menjelaskan Kitab Suci — tidak hanya berdasarkan huruf, tetapi berdasarkan hayat dan kuasa yang tersirat di dalam huruf-huruf itu.

Dalam perkataan-Nya kepada orang-orang Saduki dalam ayat 26, Tuhan Yesus sesungguhnya menunjuk kepada diri-Nya sendiri, karena Dia, sebagai malaikat TUHAN, adalah Yang berbicara kepada Musa dalam Keluaran 3. Di sini Tuhan seolah-olah berkata, “Aku adalah Yang berbicara kepada Musa. Aku, Allahmu, adalah Malaikat yang berbicara kepadanya dari dalam semak duri. Selain itu, Tuhan adalah Allah Abraham, Ishak, dan Yakub. Jika mereka tidak dibangkitkan, bagaimana Allah dapat dipanggil Allah mereka? Dia tidak akan pernah dikenal sebagai Allah orang mati — Dia adalah Allah orang hidup. Karena itu, gelar ini menunjukkan kebangkitan.”

MENERIMA TERANG DARI TUHAN

Kita seharusnya tidak berpikir bahwa untuk mengerti Alkitab cukup dengan mengenal bahasa asli Alkitab, Ibrani, dan Yunani. Ahli Taurat yang kuno tahu Perjanjian Lama dalam bahasa Ibrani. Tetapi meskipun mereka memiliki pe-ngetahuan tentang bahasa itu, mereka tidak menerima su-atu terang pun. Tuhan Yesus, sebaliknya, memiliki terang ilahi. Karena alasan ini, Dia mampu menunjukkan bagai-mana masalah kebangkitan tersirat dalam gelar Allah se-bagai Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub. Tanpa terang ilahi, tidak ada seorang pun mampu nampak bahwa gelar ilahi ini mencakup kebangkitan.

Saya mendorong kaum beriman untuk mempelajari ba-hasa Ibrani dan bahasa Yunani. Tetapi mungkin saja Anda memiliki gelar doktor dalam bahasa Ibrani atau Yunani dan masih buta. Anda perlu terang dari Allah. Untuk menerima terang, Anda seharusnya tidak percaya kepada pengeta-huan bahasa alkitabiah atau kepada penjelasan atau uraian para guru besar, tetapi Anda perlu berlutut di hadapan Tuhan dan terbuka kepada-Nya. Anda perlu berkata, “Tuhan Yesus, meskipun aku tahu bahasa Yunani dan Ibrani, tanpa Engkau, aku tidak bisa melihat terang apa pun. Tuhan, aku perlu penerangan-Mu. Terang tidak datang dari hasil bel-ajar atau analisisku. Terang datang, Tuhan, melalui belas kasihan-Mu. O Tuhan, betapa aku perlu menerima terang dari-Mu.”

Jika kita tidak menerima terang dari Tuhan, kita mungkin membaca Kitab Markus berkali-kali tanpa melihat sesuatu pun. Kita perlu visi yang ada dalam kitab ini un-tuk “disiarkan” ke dalam apa adanya diri kita. Saya dapat bersaksi bahwa oleh belas kasihan Tuhan, saya dapat me-lihat visi dalam kitab ini. Kadang-kadang terang datang ketika saya sedang berbicara. Sebagai contoh, selama me-nyampaikan salah satu berita saya melihat perbandingan antara keenam hari dari ciptaan lama dengan keenam hari persiapan untuk ciptaan baru. Terang yang sedemikian da-tang bukan dari pengetahuan bahasa alkitabiah atau tulis-an dari para pengurai. Hal itu datang dari Tuhan melalui belas kasihan-Nya ketika kita membuka diri kita kepada-Nya.

DITANYAI OLEH SEORANG AHLI TAURAT

Dalam 12:28-34 Hamba-Penyelamat ditanyai oleh seorang ahli Taurat. Dalam Matius 22:35 menurut bahasa aslinya, orang ini disebut sebagai pengacara (ahli hukum). Ahli Taurat adalah istilah yang lebih luas yang mencakup pengacara. Pengacara sangat mahir dalam hukum-hukum Musa; mereka adalah penafsir profesional dari hukum Perjanjian Lama.

Ahli Taurat ini, yang mengenal hukum Taurat dengan tuntas, dengan berani datang kepada Tuhan Yesus. Menge-tahui bahwa Tuhan telah menaklukkan orang-orang yang telah berbantah-bantah dengan Dia, ahli Taurat itu menanyai Tuhan, “Perintah manakah yang paling utama?” (ayat 28). Tuhan menjawab, “Perintah yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhanlah Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu” (ayat 29-30). Mengasihi Tuhan dengan cara ini adalah mengasihi Dia dengan sege-nap hakiki dari apa adanya diri kita, dengan roh, jiwa, dan tubuh kita.

Dalam ayat 31 Tuhan melanjutkan jawaban-Nya: “Pe-rintah yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada perintah lain yang lebih utama daripada kedua perintah ini.”

Kedua perintah ini adalah masalah kasih, mengasihi Allah, atau mengasihi manusia. Kasih adalah roh dari pe-rintah Allah. Maka, perintah terbesar sepenuhnya adalah perkara kasih, kasih terhadap Allah dan kasih terhadap manusia.

KESAN YANG DIDAPAT PARA PENGIKUT TUHAN

Ayat 34 berakhir seperti ini, “Sesudah itu, seorang pun tidak berani lagi menanyakan sesuatu kepada Yesus.” Tuhan Yesus menjawab semua pertanyaan itu dan memper-oleh kemenangan yang penuh. Tidak diragukan lagi, Petrus, Yohanes, Yakobus, dan semua pengikut dekat Tuhan Yesus melihat pertentangan ini dan terkesan dengan cara Tuhan menangani mereka. Tidakkah Anda percaya bahwa mereka terkesan sangat dalam dengan cara Tuhan menjawab pertanyaan yang diajukan oleh para penentang, dengan cara Dia melewati pengujian dan pemeriksaan yang licik? Para pengikut Tuhan pasti terkesan dengan Dia.

MEMENUHI SYARAT SEBAGAI ANAK DOMBA PASKAH

Dalam perlambangan, anak domba Paskah harus diuji selama empat hari sebelum disembelih (Kel. 12:3-6). Hamba-Penyelamat, sebagai Anak Domba Paskah yang sejati (1 Kor. 5:7), juga diuji selama empat hari sebelum dibunuh. Dia da-tang ke Betania enam hari sebelum hari Paskah (Yoh. 12:1; Mrk. 11:1). Keesokan harinya Dia datang ke Yerusalem dan kembali ke Betania (Yoh. 12:12; Mrk. 11:11). Pada hari yang ketiga Dia kembali ke Yerusalem (11:12-15) dan mulai diuji oleh para pemimpin Yahudi berdasarkan hukum Yahudi (11:27—12:37; 14:53-65; Yoh. 18:13, 19-24), dan oleh Pilatus sebagai penguasa pemerintah Romawi, berdasarkan hukum Romawi (Yoh. 18:28—19:6). Dia diuji sampai Dia disalib-kan pada hari Paskah (Mrk. 14:12; Yoh. 18:28). Pengujian yang licik dan menjerat dari berbagai sudut ini memakan waktu tepat empat hari, dan Dia telah berhasil melewatinya. Hal ini membuktikan bahwa Dia sepenuhnya layak untuk menjadi Anak Domba yang dituntut oleh Allah bagi perampungan penebusan-Nya, sehingga Allah mampu mele-watkan orang-orang dosa, baik Yahudi maupun orang bukan Yahudi.

Sebagaimana kita akan lihat, di bawah pengaturan kedaulatan Allah, Hamba-Penyelamat tidak hanya dihakimi oleh pemimpin-pemimpin Yahudi sebagai domba di hadapan pencukur bulu domba (Yes. 53:7; Mrk. 14:53-65), tetapi juga oleh gubernur Romawi, sebagai seorang penjahat di hadapan para penuduh-Nya (14:64; 15:1-15), agar Dia bisa mati un-tuk melayani orang dosa dengan hayat-Nya sebagai suatu tebusan (10:45). Dia mati tidak hanya bagi orang Yahudi, yang diwakili oleh para pemimpin orang Yahudi, tetapi ju-ga bagi orang bukan Yahudi, yang diwakili oleh gubernur Romawi.

SEBUAH PERTANYAAN MENGENAI KRISTUS

Markus 12:35 mengatakan, “Ketika Yesus sedang meng-ajar di Bait Allah, Ia berkata, ‘Bagaimana ahli-ahli Taurat dapat mengatakan bahwa Mesias adalah anak Daud?’” Tuhan telah ditanyai berbagai hal. Tetapi di sini Dia mena-nyai orang yang menguji-Nya dan memeriksa-Nya mengenai Kristus.

Selama hari-hari itu di Yerusalem, pusat agama Yahudi, Hamba-Penyelamat telah dikepung oleh imam-imam kepala, tua-tua, ahli Taurat, orang-orang Farisi, orang-orang Hero-dian, dan orang-orang Saduki, yang berusaha keras untuk menjerat Dia dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang licik. Pertama, imam-imam kepala, ahli Taurat, dan tua-tua, mewakili kuasa agama Yahudi dan orang Yahudi, menanyai Dia mengenai kekuasaan-Nya (11:27-33). Ini ada-lah suatu pertanyaan mengenai konsepsi agamawi mereka. Kedua, orang-orang Farisi yang fundamental dan orang-orang Herodian yang politis menanyai Dia sesuatu yang berkaitan dengan politik (12:13-17). Ketiga, orang-orang Saduki yang modernis menanyai Dia mengenai kepercayaan yang funda-mental, khususnya mengenai kepercayaan terhadap kebang-kitan. Keempat, ahli Taurat, seorang pengacara, menanyai Dia tentang penafsiran Alkitab.

Setelah menjawab semua pertanyaan mereka dengan hikmat, Dia mengajukan pertanyaan kepada mereka tentang Kristus. Ini adalah pertanyaan dari segala pertanyaan. Per-tanyaan mereka berhubungan dengan agama, politik, keper-cayaan, dan penafsiran Kitab Suci. Pertanyaan-Nya adalah mengenai Kristus, pusat dari semua hal yang ilahi dan ro-hani. Mereka mengetahui agama, politik, kepercayaan, dan Kitab Suci secara harfiah, tetapi tidak memperhatikan Kristus. Karena itu, dalam 12:35-37 Dia menanyai mereka tentang Kristus.

Setelah bertanya mengapa ahli Taurat mengatakan bah-wa Kristus adalah Anak Daud, Tuhan Yesus melanjutkan, “‘Daud sendiri dengan pimpinan Roh Kudus berkata: Tuhan telah berfirman kepada Tuanku: Duduklah di sebelah ka-nan-Ku, sampai musuh-musuh-Mu Kutaruh di bawah kaki-Mu. Daud sendiri menyebut Dia ‘Tuan’, bagaimana mungkin Ia anaknya pula?’ Orang banyak yang besar jumlahnya men-dengarkan Dia dengan senang hati” (ayat 36-37). Jawaban terhadap pertanyaan Tuhan adalah bahwa sebagai Allah, dalam keilahian-Nya, Kristus adalah Tuan Daud, dan seba-gai seorang manusia, dalam keinsanian-Nya, Dia adalah anak Daud. Orang Farisi dan ahli Taurat hanya memiliki sebagian dari pengetahuan alkitabiah tentang persona Kristus, bahwa Dia adalah Anak Daud menurut keinsanian-Nya. Mereka tidak memiliki bagian lain tentang keilahian Kristus sebagai Anak Allah.

Setelah Tuhan menjawab keempat jenis pertanyaan yang diajukan oleh mereka yang memeriksa dan menguji Dia, dan setelah Dia mengajukan pertanyaan dari segala pertanyaan — pertanyaan tentang Kristus — Dia melanjutkan memberikan peringatan tentang menghadapi ahli-ahli Taurat dan pujian-Nya terhadap janda miskin. Kita akan membahas hal ini dalam berita berikutnya.