← Daftar isi Markus (1) · bab 13/22

PERSIAPAN HAMBA-PENYELAMAT UNTUK PELAYANAN PENEBUSAN-NYA (3)

Pembacaan Alkitab: Mrk. 11:27—12:44

BERADA DALAM KEMATIAN,

KEBANGKITAN, DAN KENAIKAN KRISTUS

Ketika Tuhan Yesus berangkat dari Galilea ke Yudea, tujuan-Nya adalah pergi ke Yerusalem untuk masuk ke dalam kematian dan kebangkitan dan juga membawa pengikut-Nya yang akrab bersama Dia ke dalam kematian dan kebangkitan-Nya. Petrus, Yohanes, dan Yakobus mewakili semua pengikut akrab Tuhan. Sejak awal, ketiga orang ini mengikuti Tuhan dari dekat. Ketika kita membaca Injil Markus, kita nampak bahwa Petrus, Yohanes, dan Yakobus mengikuti Tuhan Yesus langkah demi langkah. Akhirnya, Tuhan membawa mereka ke dalam kematian-Nya yang almuhit. Tentunya, mereka tidak sungguh-sungguh men-derita kematian bersama Tuhan; namun, mereka melalui proses kematian-Nya. Mereka melihat bagaimana Tuhan mempersiapkan diri-Nya sendiri untuk mati. Mereka juga melihat bagaimana Dia mempersiapkan lingkungan bagi kematian-Nya dan bahkan mempersiapkan para penentang-Nya sehingga mereka membunuh Dia. Selain itu, mereka melihat bagaimana Tuhan ditangkap, dihakimi menurut hukum Yahudi, dan dihakimi oleh gubernur Romawi menu-rut hukum bangsa lain. Mereka melihat bagaimana Dia dicemooh, dianiaya, dan digiring seperti domba ke pemban-taian. Mereka melihat bagaimana Tuhan disalibkan di kayu salib dan bagaimana Dia tergantung di sana selama enam jam.

Tuhan melewati kematian, dan para murid melewati ke-matian bersama Dia. Perbedaannya hanyalah bahwa mereka tidak sungguh-sungguh menderita kematian. Tuhan sendiri secara pribadi menderita kematian, sedangkan murid-murid melewati proses kematian. Tentu, mereka tidak diletakkan di dalam kubur, tidak juga pergi ke alam maut. Namun, kita dapat mengatakan bahwa hari-hari di antara kematian dan kebangkitan Tuhan adalah “sebuah kubur” bagi murid-murid. Kita juga dapat mengatakan, di satu aspek, mereka melewati alam maut. Kemudian pada pagi ha-ri kebangkitan Tuhan, beberapa murid menemukan kubur kosong dan menyadari bahwa Yesus yang tersalib telah bangkit dari antara orang mati.

Kita tidak seharusnya membaca Injil Markus seperti sebuah buku cerita. Kita juga tidak seharusnya membaca Injil Markus hanya untuk mempelajari doktrin. Sebaliknya, ketika kita membaca kitab ini, kita perlu melihat visi demi visi. Ketika kita membaca Injil Markus, kita seharusnya memiliki pemikiran bahwa kita sedang melihat televisi surgawi.

Pada hari Pentakosta, Roh itu dicurahkan ke atas 120 orang. Hamba-Penyelamat yang diwahyukan dalam Injil Markus, melalui kematian dan kebangkitan, menjadi Roh pemberi-hayat, dicurahkan ke atas murid-murid. Ini berarti Tuhan mencurahkan diri-Nya sendiri ke atas mereka yang melihat visi yang dicatat dalam Injil Markus. Melalui pen-curahan Roh ini, ke-120 orang itu menerima realitas dari semua visi yang telah mereka lihat.

Saya harap berita-berita dalam Pelajaran-hayat Markus akan membantu Anda untuk melihat visi yang ada dalam Injil ini. Akhirnya, Kristus yang bangkit sebagai Roh yang hidup akan mencurahkan diri-Nya sendiri di atas Anda un-tuk membuat semua yang Anda lihat menjadi suatu reali-tas bagi Anda. Kemudian dalam realitas Anda akan berada dalam kematian, kebangkitan, dan kenaikan Kristus. Se-sungguhnya Anda akan menikmati Dia sebagai pengganti yang universal dan menyeluruh.

ENAM HARI BAGI PENCIPTAAN BARU

Dalam berita ini kita akan melanjutkan membahas bagian yang terakhir dari pasal 11. Markus 11 menggambarkan peristiwa-peristiwa yang terjadi selama enam hari terakhir dari hidup Tuhan di bumi. Keenam hari ini adalah untuk ciptaan baru. Menurut Kitab Kejadian, dalam enam hari Allah menyelesaikan ciptaan lama. Kemudian pada hari ketujuh, pada hari Sabat, Allah beristirahat. Demikian pula, Tuhan memerlukan enam hari untuk menghasilkan ciptaan baru. Setelah enam hari ini, ada Sabat yang lain. Tuhan disalibkan pada hari Jumat, dan hari berikutnya adalah Sabat. Dari hal ini kita nampak bahwa Tuhan perlu waktu enam hari untuk melengkapi persiapan dan menghasilkan ciptaan baru. Dalam waktu enam hari yang diakhiri dengan kematian-Nya, Tuhan melakukan segala sesuatu yang diperlukan untuk mendatangkan ciptaan baru bagi Allah. Setelah enam hari ini, Dia beristirahat pada hari ketujuh, hari Sabat. Dalam berita-berita ini kita mencoba memahami apa yang terjadi selama enam hari itu.

Pada hari pertama dari keenam hari ini Tuhan Yesus dengan penuh kemenangan masuk ke kota Yerusalem de-ngan menunggang keledai. Orang-orang berteriak, “Hosana! Terpujilah Dia yang datang dalam nama Tuhan!” (ayat 9). Di sini kita nampak bahwa Tuhan menerima penegasan (pengakuan) orang-orang. Setelah membuat jalan masuk yang sedemikian ke Yerusalem, Dia masuk ke dalam Bait “Di sana Ia meninjau semuanya, tetapi karena hari hampir malam, Ia keluar ke Betania bersama dengan kedua belas murid-Nya” (ayat 11).

Ketika kembali ke kota itu pada hari berikutnya, Dia mengutuk pohon ara dan menyucikan Bait. Agar terkesan dengan keseriusan perkara-perkara ini, kita dapat memban-dingkan perkara-perkara ini dengan seseorang yang pergi ke ibukota negara, membakar bendera, dan kemudian me-masuki salah satu gedung pemerintah yang penting dan menimbulkan kekacauan yang besar. Tentunya perbuatan yang demikian akan ditulis di surat kabar.

Setelah mengutuk pohon ara, lambang bangsa Yahudi, Tuhan masuk ke dalam Bait dan membalikkan meja-meja penukar uang. Karena Dia telah menerima penegasan orang, tidak ada seorang pun yang berani menghentikan Dia. Pada saat itu, semua pemimpin terbungkam. Namun, diam-diam mereka merencanakan untuk membinasakan Tuhan Yesus.

Menurut 11:19, “Menjelang malam mereka keluar lagi dari kota.” Hal ini terjadi pada sore hari pada hari kedua. Tidak diragukan lagi, sore itu murid-murid pasti berbicara satu sama lain tentang apa yang telah Tuhan kerjakan di Yerusalem. Mungkin di seluruh kota Yerusalem banyak yang membicarakan apa yang Tuhan lakukan dalam menyucikan Bait.

Pada pagi hari di hari ketiga, murid-murid melihat po-hon ara itu kering sampai ke akarnya (ayat 20). Kemudian mereka kembali ke Yerusalem. Ayat 27 mengatakan, “Lalu Yesus dan murid-murid-Nya datang lagi ke Yerusalem. Ke-tika Yesus berjalan di halaman Bait Allah, datanglah kepada-Nya imam-imam kepala, ahli-ahli Taurat dan tua-tua.” Jika Tuhan tidak menerima penegasan orang, Dia tidak dapat berjalan di dalam Bait secara demikian. Sebaliknya, Dia akan segera ditangkap dan dibunuh. Tetapi karena Dia telah diterima oleh orang-orang, Dia bebas berjalan di da-lam Bait.

DIPERIKSA OLEH IMAM-IMAM KEPALA, AHLI TAURAT, DAN TUA-TUA

Imam-imam kepala, ahli Taurat, dan tua-tua — tiga kategori dari orang-orang yang membentuk Sanhedrin — datang kepada Tuhan dan bertanya kepada-Nya, “Dengan kuasa manakah Engkau melakukan hal-hal itu? Siapakah yang memberikan kuasa itu kepada-Mu, sehingga Engkau melakukan hal-hal itu?” (ayat 28). Di sini imam-imam ke-pala, ahli Taurat, dan tua-tua seolah-olah berkata, “Engkau mengutuk pohon ara, dan kemudian Engkau membalikkan meja-meja di bait. Dengan kuasa apa Engkau melakukan hal-hal ini? Siapa yang memberi-Mu kuasa untuk melakukan hal-hal ini? Apa yang Engkau kerjakan sangat serius. Karena itu, kami ingin tahu asal usul-Mu dan kuasa-Mu.”

Dalam menghadapi imam-imam kepala, ahli Taurat, dan tua-tua, Tuhan Yesus sangat berwibawa. Dia tidak takut ketika Dia menghadapi situasi ini, tetapi menjawab pertanyaan mereka dengan berani.

Pertanyaan Tuhan

Tuhan Yesus berkata kepada mereka, “Aku akan meng-ajukan satu pertanyaan kepadamu. Berikanlah Aku jawab-nya, maka Aku akan mengatakan kepadamu dengan kuasa manakah Aku melakukan hal-hal itu. Baptisan Yohanes itu, dari surga atau dari manusia? Berikanlah Aku jawabnya!” (11:29-30). Di satu pihak, Tuhan Yesus tidak takut ditanyai oleh imam-imam kepala, ahli Taurat, dan tua-tua. Di pihak lain, Dia bertanya balik kepada mereka dengan kewiba-waan.

Sebelum menjawab pertanyaan Tuhan, imam-imam ke-pala, ahli Taurat, dan tua-tua mengadakan rapat di antara mereka sendiri, “Mereka memperbincangkannya di antara mereka, dan berkata, ‘Jikalau kita katakan: Dari surga, Ia akan berkata: Kalau begitu, mengapa kamu tidak percaya kepadanya? Tetapi, masakan kita katakan: Dari manusia!’ Mereka takut kepada orang banyak, karena semua orang menganggap bahwa Yohanes betul-betul seorang nabi” (ayat 31-32). Menyadari bahwa mereka tidak berdaya menjawab pertanyaan Tuhan tanpa dikalahkan, mereka memutuskan untuk berbohong. Karena itu, mereka berkata kepada Tuhan Yesus, “Kami tidak tahu” (ayat 33). Tuhan tahu apa yang ada dalam hati mereka. Dia tahu bahwa mereka sedang membohongi Dia.

Jawaban Tuhan

Tuhan Yesus meneruskan perkataan-Nya terhadap imam-imam kepala, ahli Taurat, dan tua-tua, “Jika demkian, Aku juga tidak mengatakan kepadamu dengan kuasa manakah Aku melakukan hal-hal itu” (ayat 33). Ini menunjukkan bahwa Tuhan tahu para pemimpin Yahudi tidak mau mengatakan kepada-Nya apa yang mereka ketahui. Karena itu, Dia juga tidak mau mengatakan kepada me-reka apa yang mereka tanyakan. Mereka berdusta kepada Tuhan dengan mengatakan, “Kami tidak tahu.” Tetapi Tuhan mengatakan yang sesungguhnya dengan hikmat kepada mereka, menyingkapkan dusta mereka dan menghindar dari pertanyaan mereka.

Dalam jawaban Tuhan kita perlu memperhatikan perkataan “juga tidak”. Perkataan ini menunjukkan bahwa para pemimpin Yahudi berdusta kepada Tuhan. Karena mereka tidak mau mengatakan kepada Tuhan apa yang mereka ketahui mengenai Yohanes Pembaptis, Dia juga tidak mau menjawab pertanyaan mereka.

Jawaban Tuhan yang penuh hikmat mempermalukan para pemimpin bangsa Yahudi. Mereka tersingkap sebagai sekelompok pendusta. Dalam menanggulangi mereka Tuhan menyatakan kewibawaan maupun hikmat-Nya. Kita dapat mengatakan bahwa kewibawaan-Nya bersifat insani dan hikmat-Nya bersifat ilahi. Gabungan dari kewibawaan insani dan hikmat ilahi menundukkan imam-imam kepala, ahli Taurat, dan tua-tua.

Saya percaya bahwa murid-murid Tuhan sangat senang dengan cara Dia menanggulangi para pemimpin Yahudi. Mereka mungkin saling berpandangan, menganggukkan kepala, dan tersenyum. Mereka melihat kewibawaan dan hikmat Hamba-Penyelamat di tengah-tengah situasi di dalam Bait. Pasti mereka sangat gembira melihat imam-imam kepala, ahli Taurat, dan tua-tua ditundukkan oleh Tuhan Yesus.

DIUJI OLEH ORANG FARISI DAN ORANG HERODIAN

Setelah Hamba-Penyelamat diperiksa oleh imam-imam kepala, ahli Taurat, dan tua-tua, Dia diuji oleh orang Farisi dan orang Herodian (12:13-17). Markus 12:13 mengatakan, “Kemudian beberapa orang Farisi dan pendukung Herodes disuruh kepada Yesus supaya mereka menjerat Dia dengan suatu pertanyaan.” Para pendukung Herodes adalah orang-orang yang memihak rezim Raja Herodes dan bekerja sama dengan dia dalam menyusupkan cara hidup orang Yunani dan Romawi ke dalam kebudayaan orang Yahudi. Mereka memihak orang Saduki, tetapi menentang orang Farisi. Tetapi di sini mereka bergabung dengan orang Farisi untuk menjerat Tuhan Yesus.

Orang Farisi sangat patriotik, seluruhnya bagi bangsa Yahudi. Orang Herodian (pendukung Herodes) adalah bagi penjajah Romawi. Karena itu di sini ada dua golongan yang tidak dapat bekerja sama. Tetapi dalam menghadapi persona yang ajaib ini, Hamba-Penyelamat, mereka yang bermusuhan bekerja sama mengajukan pertanyaan yang licik, pertanyaan yang berhubungan dengan patriotisme dan imperialisme, kepada Tuhan.

Orang-orang itu datang dan berkata kepada-Nya, “Guru, kami tahu, Engkau seorang yang jujur, dan Engkau tidak takut kepada siapa pun juga, sebab Engkau tidak mencari muka, melainkan dengan jujur mengajar tentang jalan Allah. Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak? Haruskah kami bayar atau tidak?” (ayat 14). Ini be-nar-benar pertanyaan yang menjerat. Membayar pajak ke-pada Kaisar ditentang oleh semua orang Yahudi. Jika Tuhan Yesus mengatakan membayar pajak itu diperbolehkan, sah, Dia akan diserang oleh semua orang Yahudi, yang pemim-pinnya adalah orang Farisi. Jika Dia mengatakan hal itu tidak sah, para pendukung Herodes yang memihak pemerin-tah Romawi akan mendapat dasar yang kuat untuk menu-duh-Nya. Seolah-olah tidak ada jalan bagi Tuhan untuk men-jawab pertanyaan ini. Seandainya Dia mengatakan, “Tidak, kita tidak seharusnya membayar pajak kepada Kaisar”, orang-orang Herodian akan berkata, “Kamu melawan orang Romawi. Kamu harus ditangkap dan dimasukkan ke dalam penjara.” Tetapi seandainya Tuhan berkata, “Ya, memang patut membayar pajak kepada Kaisar,” orang Farisi akan berkata, “Engkau mengkhianati negaramu, karena Engkau bekerja untuk penjajah Romawi.” Betapa licik dan jahatnya pertanyaan yang diajukan oleh orang Farisi dan orang-orang Herodian!

Meskipun Tuhan ditanyai dengan cara licik yang jahat, Dia tidak takut. Sebaliknya, dengan mempertahankan martabat-Nya, Dia berkata kepada mereka, “Mengapa kamu mencobai Aku? Bawalah kepada-Ku satu dinar supaya Ku-lihat!” (12:15). Tuhan Yesus tidak menunjukkan kepada me-reka mata uang Romawi, tetapi meminta mereka menun-jukkan satu mata uang kepada Dia. Karena mereka me-miliki mata uang Romawi, mereka tertangkap oleh Tuhan.

Setelah mereka membawa satu mata uang kepada-Nya, Dia berkata, “Gambar dan tulisan siapakah ini?” (ayat 16). Mereka menjawab, “Gambar dan tulisan Kaisar.” Tuhan me-neruskan perkataan-Nya, “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah” (ayat 17). Mem-bayar kepada Kaisar hal-hal yang milik kaisar adalah mem-bayar pajak kepada Kaisar, berdasarkan peraturan pemerin-tahannya. Membayar kepada Allah hal-hal yang milik Allah adalah membayar setengah syikal kepada Allah berdasarkan hukum Allah.

Bagian dalam Injil Markus mengenai Hamba-Penyelamat diuji oleh orang Farisi dan pendukung Herodes disimpulkan dengan perkataan ini: “Mereka sangat heran mendengar Dia.” Tuhan menjawab mereka dalam hikmat-Nya, dan mereka terbungkam dan tertaklukkan.