← Daftar isi Markus (1) · bab 12/22

PERSIAPAN HAMBA-PENYELAMAT UNTUK PELAYANAN PENEBUSAN-NYA (2)

Pembacaan Alkitab: Mrk. 11:1-26

Dalam berita ini kita akan melanjutkan membahas persiapan Hamba-Penyelamat untuk pelayanan penebusan-Nya. Dalam berita sebelumnya kita nampak bahwa langkah pertama dari persiapan-Nya adalah masuk ke Yerusalem se-cara mulia dan menerima pengakuan dan penegasan orang.

MENGUTUK POHON ARA DAN MENYUCIKAN BAIT

Dalam Markus 11:12-26 terdapat catatan tentang me-ngutuk pohon ara dan menyucikan Bait. Tuhan melihat po-hon ara tanpa apa pun kecuali daun-daun, dan dalam ayat 14 Dia berkata kepada pohon ara itu, “Jangan lagi seorang pun makan buahmu selama-lamanya!” Setelah mengutuk pohon ara, Dia masuk ke dalam Bait dan “mulailah Ia meng-usir orang-orang yang berjual beli di halaman Bait Allah. Ia membalikkan meja-meja penukar uang dan bangku-bangku pedagang merpati” (ayat 15). Kemudian Dia berkata, “Bu-kankah ada tertulis: Rumah-Ku akan disebut rumah doa bagi segala bangsa? Tetapi kamu ini telah menjadikannya sarang penyamun!” (ayat 17).

Dua tindakan ini mengutuk pohon ara dan menyu-cikan Bait menunjukkan bahwa seluruh bangsa Israel, yang telah dipilih oleh Allah bagi tujuan-Nya, telah menjadi mandul dan rusak. Pohon ara yang dikutuk oleh Tuhan me-miliki daun, tetapi tidak memiliki buah. Pohon itu memili-ki kemuliaan yang di luar, tetapi tidak memiliki buah, tidak memiliki realitas. Tidak memiliki sesuatu yang dapat memu-askan hasrat hati Allah.

Bait, yang seharusnya adalah rumah doa bagi segala bangsa (orang bukan Yahudi dan orang Yahudi), telah menjadi sarang penyamun. Dalam pandangan Allah, mereka yang menyembah di dalam Bait adalah penyamun-penya-mun. Rumah Allah di bumi sesungguhnya telah menjadi sarang penyamun. Karena itu, setelah mengutuk pohon ara untuk mengakhiri hayatnya, Tuhan menyucikan Bait untuk menyingkirkan perusakan.

Ketika Tuhan melakukan hal-hal ini, tidak ada seorang pun yang berani menentang Dia secara luaran, karena Dia telah menerima penegasan orang-orang. Mengenai hal ini, ayat 18 mengatakan, “Imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat mendengar tentang peristiwa itu, dan mereka men-cari jalan untuk membinasakan Dia, sebab mereka takut kepada-Nya, karena seluruh orang banyak takjub kepada pengajaran-Nya.”

Pengutukan pohon ara melambangkan pengakhiran hayat bangsa Israel. Sejak saat itu, bangsa Israel telah habis dalam ekonomi Perjanjian Baru Allah. Selain mengutuk pohon ara, Tuhan juga menyucikan kebobrokan rumah Allah.

Dalam kesepuluh pasal pertama dari Injil Markus Tuhan itu penuh kasih, penuh belas kasihan, dan penuh pengampunan. Tetapi di sini dalam 11:12-26 seolah-olah Dia sangat berbeda, pertama mengutuk pohon ara dan ke-mudian menyucikan Bait, bahkan menunggangbalikkan meja-meja penukar uang. Menurut ayat 16, “Dan Ia tidak memperbolehkan orang membawa barang-barang melintasi halaman Bait Allah.” Tuhan sangat berani, kuat, dan bah-kan tegas. Dia seolah-olah tidak menunjukkan belas kasihan sama sekali.

Kita perlu melihat bahwa pengutukan pohon ara dan penyucian Bait adalah bagian dari persiapan Hamba Penyelamat bagi kematian penebusan-Nya. Dia mempersiapkan jalan bagi orang Farisi dan ahli-ahli Taurat untuk membunuh Dia.

Hari sudah malam ketika Tuhan menyucikan Bait. Ayat 19 mengatakan, “Menjelang malam mereka keluar lagi dari kota.” Kemungkinan pada malam hari Dia berma-lam di Betania.

PERKATAAN MENGENAI IMAN DAN DOA

Markus 11:20 mengatakan, “Pagi-pagi ketika Yesus dan murid-murid-Nya lewat, mereka melihat pohon ara tadi su-dah kering sampai ke akar-akarnya.” Mengingat apa yang Tuhan Yesus telah katakan pada hari sebelumnya, Petrus berkata kepada-Nya, “Rabi, lihatlah, pohon ara yang Kau kutuk itu sudah kering” (ayat 21) Yesus menjawab mereka, “Percayalah kepada Allah! Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Siapa pun berkata kepada gunung ini: Terang-katlah dan terbuanglah ke dalam laut! Asal tidak bimbang hatinya, tetapi percaya bahwa apa yang dikatakannya itu akan terjadi, maka hal itu akan terjadi baginya” (ayat 22-23). Kemudian Tuhan berbicara mengenai doa. Secara khu-sus Dia memperlihatkan keperluan kita untuk mengampuni orang lain, “Jika kamu berdiri untuk berdoa, ampunilah dahulu sekiranya seseorang bersalah terhadap kamu, supaya juga Bapamu yang di surga mengampuni kamu dari ke-salahan-kesalahanmu” (ayat 25). Di sini kita nampak bah-wa mengampuni kesalahan orang lain adalah dasar bagi Allah Bapa kita yang di surga untuk mengampuni kita, lebih-lebih dalam doa kita. Sesungguhnya, kita tidak akan bisa berdoa dengan hati yang menyimpan sesuatu terhadap orang lain, yaitu, merasa disalahkan oleh orang lain atau tidak melupakan kesalahan orang lain.

TUHAN MENANGGULANGI ORANG ISRAEL

Hal yang kita tekankan yang berkaitan dengan pengu-tukan terhadap pohon ara ini menunjukkan bahwa Allah telah menentukan untuk meninggalkan bangsa Israel dan beralih ke sekelompok umat lain, yaitu gereja. Gereja tersusun dari orang-orang yang dibawa ke dalam kematian dan kebangkitan Kristus untuk berbagian dalam kenikmatan pe-nuh akan Kristus. Orang-orang ini mencakup orang Yahudi maupun orang bukan Yahudi.

Markus 11:12 mengatakan bahwa Tuhan lapar. Hal ini menunjukkan bahwa Dia lapar akan buah dari bani Israel agar Allah dapat dipuaskan. Namun, pohon ara itu tidak berbuah. Kita telah nampak bahwa pohon ara ini adalah lambang bangsa Israel (Yer. 24:2, 5, 8). Fakta bahwa pohon ini penuh dengan daun, tetapi tidak berbuah melambang-kan bahwa pada waktu itu bangsa Israel penuh dengan pe-nampilan luaran, tetapi tidak memiliki sesuatu yang dapat memuaskan Allah.

Dalam 11:12-26 digabungkan tindakan Hamba-Penyela-mat mengutuk pohon ara dan menyucikan Bait menunjuk-kan penanggulangan-Nya terhadap bangsa Israel yang bobrok dan memberontak dalam aspek-aspek yang berbeda pada saat yang bersamaan. Pohon ara adalah lambang bangsa Israel, sedangkan Bait adalah pusat hubungan antara orang Israel dengan Allah. Israel sebagai pohon ara yang ditanam Allah tidak berbuah bagi-Nya; Bait sebagai pusat hubungan-nya dengan Allah, justru penuh dengan kebobrokan. Karena itu, Hamba-Penyelamat mengutuk pohon ara yang tidak berbuah dan menyucikan Bait yang tercemar. Penanggulangan sedemikian ini boleh dianggap sebagai suatu tanda penghancuran yang telah dinubuatkan dalam 12:9 dan 13:2.

MARTABAT DAN KESEJATIAN KEINSANIAN

TUHAN SERTA HIKMAT DAN OTORITAS ILAHI-NYA

Dalam ministri-Nya untuk penyebaran Injil di Galilea dalam 1:14—10:52, pekerjaan Hamba-Penyelamat adalah memberitakan Injil, mengajarkan kebenaran, mengusir se-tan-setan, dan menyembuhkan orang sakit. Dalam pekerjaan itu kebajikan-kebajikan insani-Nya dan atribur-atribut ilahi-Nya terekspresikan sebagai kualifikasi-Nya dan keelokan-Nya dalam pelayanan ilahi-Nya kepada orang-orang dosa ba-gi Allah. Dalam persiapan-Nya di Yerusalem (11:15—14:42) untuk karya penebusan-Nya, tugas utama-Nya adalah meng-hadapi penentangan pemimpin-pemimpin bangsa Yahudi, yang seharusnya sebagai pembangun bangunan Allah (12:9-10), tetapi sebenarnya telah ditunggangi oleh musuh Allah, Iblis, dan telah dihasutnya agar bersekongkol untuk mem-bunuh-Nya. Dalam konfrontasi ini, di bawah pertanyaan, pengujian, dan pemeriksaan licik dan jahat dari orang-orang itu, martabat insani-Nya terekspresi dalam kesejatian ke-insanian-Nya (11:15-18). Lagi pula, hikmat dan kuasa ilahi-Nya terekspresi dalam tingkah laku dan kesempurnaan keinsanian-Nya (11:27—12:37), sehingga akhirnya orang-orang yang mencaricari kesalahan-Nya justru menjadi orang-orang yang membuktikan kualitas-Nya. Ini meratakan jalan bagi-Nya untuk menunjukkan kepada para penentang yang buta itu bahwa Ia, Kristus, sebagai Anak Daud adalah Tuhan dari Daud, juga adalah Allah (12:35-37), agar mereka tahu keilahian-Nya di dalam keinsanian-Nya, dan tahu bahwa Dialah Allah yang hidup di dalam manusia.

Dalam menanggulangi para penentang, martabat ke-insanian Tuhan diungkapkan dalam kesejatian keinsanian-Nya. Ketika Dia diperiksa oleh mereka, Dia mengekspresikan martabat-Nya dalam kesejatian-Nya. Selain itu, pada saat yang sama, hikmat dan kuasa ilahi-Nya diekspresikan dalam kelakuan dan kesempurnaan insani-Nya. Hasilnya, mereka yang datang dengan maksud mencari-cari kesalahan-Nya terpaksa menjadi orang-orang yang membuktikan kualitas-Nya.

KEJUTAN BESAR BAGI PARA MURID-NYA

Dalam 11:1-26 ada tiga butir utama: masuk ke Yerusalem dan menginap di Betania; mengutuk pohon ara; dan me-nyucikan Bait. Ketiga hal ini harus terjadi sebagai kejutan yang besar, bahkan sebagai sesuatu yang mengagetkan bagi para pengikut Hamba-Penyelamat. Petrus, Yohanes, Yakobus, dan murid-murid lainnya telah mengikuti Tuhan Yesus se-lama tiga setengah tahun. Selama tahun-tahun itu, mereka telah mengamati bagaimana Tuhan berperilaku, bagaimana Dia melakukan perkara-perkara, dan bagaimana Dia meng-hadapi orang. Mereka telah datang bersama Dia dari Galilea, daerah yang diremehkan, ke Yudea, bahkan ke kota Yeru-salem, tempat yang paling penting di negara itu. Yerusalem adalah tempat di mana Bait Allah berdiri dan di mana San-hedrin, dewan besar orang Yahudi, bertemu. Banyak orang penting tinggal di Yerusalem. Sekarang ke dalam kota be-sar itu datang sekelompok orang Galilea yang diremehkan, dipimpin oleh seorang tukang kayu.

Ketika Tuhan dan murid-murid-Nya “mendekati Yeru-salem, dekat Betfage dan Betania yang terletak di Bukit Zaitun, Yesus menyuruh dua orang murid-Nya dengan pesan, ‘Pergilah ke desa yang di depanmu itu. Pada waktu kamu masuk di situ, kamu akan segera menemukan seekor keledai muda tertambat, yang belum pernah ditunggangi orang. Lepaskan keledai itu dan bawalah ke mari.’” Murid-murid mematuhi perkataan Tuhan tanpa mengatakan apa pun. Mereka telah dilatih untuk tidak mengekspresikan opininya. Jika Tuhan mengajukan permintaan sedemikian lebih awal, mereka akan bertanya mengapa Dia menyuruh mereka melakukan hal-hal yang sedemikian. Tetapi sekarang karena mereka telah melewati banyak hal, khususnya penyembuhan di Yerikho, mereka hanya patuh kepada Tuhan ketika Tuhan menyuruh mereka masuk ke desa dan melepaskan ikatan keledai itu dan membawanya. Ini menunjukkan bahwa pelatihan yang diberikan kepada murid-murid dalam pasal-pasal sebelumnya ada hasilnya. Tuhan memberikan perintah yang tidak lazim kepada kedua orang murid, perintah yang kebanyakan orang tidak akan per-caya atau terima. Namun, setelah dilatih oleh Tuhan, mu-rid-murid tidak mengungkapkan satu opini pun tentang apa yang Tuhan perintahkan kepada mereka untuk dilakukan.

Markus 11:7 mengatakan, “Lalu mereka membawa ke-ledai muda itu kepada Yesus dan mengalasinya dengan pakaian mereka, kemudian Yesus naik ke atasnya.” Dalam berita sebelumnya kita menunjukkan bahwa ketika Bartimeus yang buta mendengar bahwa Tuhan sedang memanggil dia, dia membuang pakaiannya. Di sini kita nampak bahwa murid-murid mengalaskan pakaian mereka di atas keledai. Ini menandakan bahwa mereka tidak lagi memperhatikan ke-dudukan. Mereka bersedia menyerahkan semua kedudukan bagi Tuhan. Murid-murid benar-benar mutlak bagi pening-gian Orang ini.

Ayat 8 mengatakan, “banyak orang yang menghampar-kan pakaiannya di jalan.” Kita dapat mengatakan bahwa orang banyak mengikuti murid-murid dalam menghamparkan pakaian mereka. Orang-orang kemudian berjalan untuk memberi Tuhan sambutan yang besar, berseru, “Hosana! Terpujilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, terpujilah Kerajaan yang datang, Kerajaan bapak kita Daud, hosana di tempat yang mahatinggi!” (ayat 9-10).

Murid-murid pasti terkejut oleh sambutan yang diberikan kepada Hamba-Penyelamat. Jelasnya, mereka tidak pernah membayangkan bahwa Tuhan Yesus, seorang tukang kayu dari Galilea, akan dengan hangat disambut oleh orang banyak di Yerusalem.

Murid-murid juga pasti dikejutkan oleh kutukan Tuhan atas pohon ara. Pengikut-pengikut Tuhan dari Galilea mung-kin berkata kepada diri mereka sendiri, “Kita telah meng-ikuti Tuhan selama tiga setengah tahun, dan kita tidak per-nah melihat Dia melakukan sedemikian ini. Mengapa Dia mengutuk pohon ara? Pohon ara adalah lambang bangsa kita, dan kita memandang tinggi lambang ini. Namun, Tuhan mengutuknya. Perilaku-Nya jelas telah berubah, ja-uh berbeda dari yang lampau.”

Setelah mengutuk pohon ara, Tuhan masuk ke dalam bait dan mulai mengusir mereka yang berjual beli di sana. Dia bahkan membalikkan meja-meja penukar uang dan kursi-kursi pedagang merpati (ayat 15). Bayangkan apa yang murid-murid pikirkan ketika mereka melihat hal ini. Mreka mungkin berkata kepada diri sendiri, “Apakah ini Guru kita? Dia selalu baik, lembut, dan penuh kasih sa-yang. Apa yang Dia kerjakan?” Tentu, murid-murid tidak berani mengatakan apa pun kepada Tuhan.

TUHAN MEMPERSIAPKAN

LINGKUNGAN, PARA PENENTANG,

DAN PARA PENGIKUT-NYA

Kita telah nampak bahwa dengan mengutuk pohon ara dan menyucikan Bait, Tuhan sedang membuat persiapan yang diperlukan bagi pelayanan penebusan-Nya. Khususnya, penyucian bait membangkitkan iman-iman kepala dan pa-ra ahli Taurat yang mencari jalan untuk membunuh-Nya (ayat 18). Sebenarnya, penyucian bait oleh Tuhan menyebabkan penentang-Nya mempercepat usaha mereka untuk membunuh Dia. Pekerjaan persiapan ini mempercepat aktivitas para penentang, memastikan Tuhan akan mati pada hari raya Paskah. Karena itu, penyucian Bait tentunya adalah persiapan bagi kematian penebusan Tuhan.

Andaikata Tuhan Yesus datang ke dalam Bait dan hanya melihat-lihat, berlaku dengan sangat sopan. Maka pengikut-pengikut-Nya mungkin akan berkata, “Tuhan, segala sesuatu menyenangkan. Mari kita pergi ke suatu tempat untuk beristirahat.” Jika situasinya demikian, saya tidak yakin para penentang akan serius dalam usaha mereka untuk membunuh Tuhan Yesus. Mereka mungkin malah membiarkan Dia pergi cukup lama. Dalam hal ini, Tuhan tidak akan disalibkan pada hari Paskah. Karena itu, Tuhan mempersiapkan situasinya dengan menyucikan Bait, dan dengan berbuat demikian Dia merangsang para penentang sehingga mereka membunuh Dia pada waktu yang ditetapkan oleh Allah.

Tuhan tidak hanya mempersiapkan para penentang-Nya, tetapi juga para pengikut-Nya. Tidak diragukan, pe-ngutukan pohon ara dan penyucian Bait menimbulkan ke-san yang dalam kepada para pengikut Tuhan. Memang, me-reka tidak mengerti makna hal-hal itu pada saat hal-hal itu terjadi. Tetapi kemudian, setelah penyaliban dan kebangkitan Tuhan, mereka pasti mengingat hal-hal itu. Kemudian mereka mulai mengerti mengapa Dia mengutuk pohon ara dan menyucikan Bait.

Dalam Markus 11 kita dapat melihat bahwa Petrus, Yohanes, Yakobus, dan murid-murid yang lain sangat dipengaruhi oleh tradisi. Bagi mereka, Yerusalem diberkati oleh Allah, dan pohon ara adalah lambang bangsa Israel, bangsa yang dipilih oleh Allah. Pikiran mereka dipenuhi dengan pemahaman tradisional. Mereka pasti terkejut keti-ka Tuhan mengutuk pohon ara dan menyucikan Bait. Sekarang kita perlu nampak bahwa dalam melakukan hal ini Tuhan tidak hanya merangsang penentang-Nya agar mereka membunuh Dia, tetapi juga mengesankan para pengikut-Nya bahwa Allah mutlak telah meninggalkan bangsa Israel. Bangsa Israel dikutuk, dihukum, dan akan segera diserak-kan.

Pada hari Tuhan Yesus mengutuk pohon ara dan menyucikan Bait, murid-murid tidak begitu paham tentang apa yang terjadi. Tetapi kemudian mereka tentu mulai mengingat hal-hal ini dan mampu mengerti bahwa Allah telah meninggalkan Israel. Karena itu, pengutukan pohon ara dan penyucian Bait adalah persiapan bagi mereka yang hendak membunuh Tuhan dan juga bagi para pengikut-Nya, sehingga mereka menerima kematian dan kebangkitan-Nya.

Pemandangan dalam pasal 11 sangat berbeda dari yang ada dalam pasal 1-10. Dalam sepuluh pasal pertama Injil Markus, Tuhan Yesus lemah lembut, penuh belas kasihan, dan penuh kasih sayang. Tetapi dalam pasal 11 Dia berpe-rilaku dengan cara yang sama sekali berbeda. Tujuan Tuhan dalam pasal ini adalah mempersiapkan lingkungan, situasi, para penentang, dan para pengikut-Nya untuk perkara be-sar kematian penebusan-Nya.

Pekerjaan persiapan ini berlangsung selama enam hari. Kita dapat membandingkan keenam hari ini dengan keenam hari di mana Allah menciptakan alam semesta. Selama enam hari menjelang kematian-Nya, Tuhan mempersiapkan lingkungan dan setiap orang yang terlibat bagi kematian-Nya. Dia melakukan pekerjaan persiapan ini bukan dengan pengajaran, pemberitaan, atau penjelasan. Sebaliknya, Dia mengerjakannya dengan tindakan-Nya.

REAKSI MURID-MURID

Ketika murid-murid bermalam di Betania, mereka pasti berbincang satu sama lain tentang apa yang telah Tuhan lakukan dengan mengutuk pohon ara dan menyucikan Ba-it. Petrus mungkin berkata kepada Yohanes dan Yakobus, “Mengapa Tuhan mengutuk pohon ara dan menyucikan Bait? Pohon ara adalah lambang bangsa kita, tetapi Dia mengutuknya. Kemudian Dia segera masuk ke dalam Bait, menghentikan segala lalu lalang, dan membalikkan meja-meja. Dia bahkan mengatakan bahwa mereka membuat Bait menjadi sarang penyamun. Apa arti semua ini? Lebih baik kita tidak bertanya kepada Tuhan. Biarlah kita tunggu sampai besok dan melihat apa yang akan terjadi. Kita tidak tahu apa lagi yang akan Dia kerjakan.” Saya percaya bahwa murid-murid memiliki percakapan pribadi semacam ini.

Jika Anda berada bersama para murid, tidakkah Anda berbincang-bincang dengan mereka mengenai apa yang te-lah terjadi? Jika saya berada di sana, saya ragu apakah saya akan makan enak atau tidur nyenyak. Saya akan pergi kepada yang lainnya dan menanyai kesan mereka tentang apa yang telah terjadi pada hari itu. Selain itu, saya tentu sangat antusias menunggu esok hari, penasaran, apa yang akan Tuhan kerjakan. Maksud saya di sini adalah Tuhan dengan cara yang tidak lazim mempersiapkan segala hal dan semua orang, terutama para pengikut-Nya, bagi kematian-Nya.

Ketika banyak orang Kristen membaca Alkitab, mereka menganggap semuanya memang seharusnya demikian. Mere-ka mungkin membaca tentang Tuhan masuk ke Yerusalem, mengutuk pohon ara, dan menyucikan Bait tanpa menyeli-diki makna dari hal-hal ini. Marilah kita belajar menyeli-diki Alkitab tanpa menganggapnya memang seharusnya demikian. Kita perlu memasuki kedalaman hal-hal ini, mem-pertimbangkannya, dan berusaha untuk memahaminya. Ke-tika kita membahas arti dari peristiwa-peristiwa yang dica-tat dalam 11:1-26, kita nampak bahwa Tuhan membuat persiapan untuk melaksanakan tindakan yang paling agung di alam semesta kematian penebusan-Nya.