← Daftar isi Markus (1) · bab 15/22

PERSIAPAN HAMBA-PENYELAMAT UNTUK PELAYANAN PENEBUSAN-NYA (5)

Pembacaan Alkitab: Mrk. 11:27—12:44

EMPAT JENIS PERTANYAAN

Dalam 11:27—12:34 Tuhan Yesus ditanyai empat mcam pertanyaan. Pertanyaan-pertanyaan ini mewakili ber-bagai aspek dari kebudayaan manusia. Pertanyaan pertama (11:27-33) berkaitan dengan agama. Imam-imam kepala, ahli-ahli Taurat, dan tua-tua menanyai Hamba-Penyelamat suatu pertanyaan yang berkaitan dengan agama yang khas, agama yang bonafid (dapat dipercaya). Khususnya, mereka menanyai Tuhan Yesus mengenai kuasa-Nya. Imam-imam kepala, ahli-ahli Taurat, dan tua-tua mengira mereka me-layani Allah dan mereka mengetahui hukum-hukum Musa. Kita dapat mengatakan bahwa mereka memiliki agama yang khas. Sekarang mereka ingin mengetahui asal usul hal-hal yang dilakukan Tuhan Yesus. Karena itu, pertanyaan pertama yang ditanyakan tentang Tuhan dalam 11:27-33 berkaitan dengan agama yang bonafid.

Pertanyaan yang kedua diajukan oleh orang Farisi dan orang Herodian (12:13-17). Mereka datang kepada Dia dan berkata, “Guru, kami tahu, Engkau seorang yang jujur, dan Engkau tidak takut kepada siapa pun juga, sebab Engkau tidak mencari muka, melainkan dengan jujur mengajar tentang jalan Allah. Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak? Haruskah kami bayar atau tidak?” (ayat 14). Pertanyaan ini berkaitan dengan politik.

Pertanyaan ketiga, yang ditanyakan oleh orang Saduki (12:18-27), berkaitan dengan kepercayaan. Secara khusus, orang Saduki ingin tahu apa yang Tuhan percayai mengenai kebangkitan. Seperti telah kita tunjukkan, orang Saduki, yang disebut orang modernis zaman kuno, tidak percaya ke-bangkitan. Karena itu, pertanyaan ketiga berkaitan dengan kepercayaan.

Pertanyaan keempat (12:28-34) ditanyakan oleh ahli Taurat, Markus 12:28 mengatakan, “Lalu salah seorang ahli Taurat, yang mendengar Yesus dan orang-orang Saduki ber-soal jawab dan tahu bahwa Yesus memberi jawab yang tepat kepada orang-orang itu, datang kepada-Nya dan berta-nya, ‘Perintah manakah yang paling utama?’” Pertanyaan ini berkaitan dengan penafsiran Alkitab. Ahli Taurat mena-nyai Hamba-Penyelamat bagaimana Dia menafsirkan Alkitab mengenai perintah yang utama.

KRISTUS SEBAGAI ANAK DARI DAUD DAN TUAN DARI DAUD

Perkara yang dibahas oleh keempat pertanyaan ini meliputi unsur-unsur kebudayaan manusia yang paling tinggi. Namun, setiap jenis pertanyaan ini mengabaikan Kristus, Pengganti yang menyeluruh dan universal. Karena para penanya-Nya tidak memperhatikan Kristus, Tuhan sendiri menutupi kekurangan ketika Dia bertanya balik kepada mereka, mengatakan, “‘Bagaimana ahli-ahli Taurat dapat mengatakan bahwa Mesias adalah anak Daud? Daud sendiri dengan pimpinan Roh Kudus berkata: Tuhan telah berfir-man kepada Tuanku: Duduklah di sebelah kanan-Ku, sam-pai musuh-musuh-Mu Kutaruh di bawah kaki-Mu. Daud sendiri menyebut Dia ‘Tuan’, bagaimana mungkin Ia anak-nya pula?’ Orang banyak yang besar jumlahnya mende-ngarkan Dia dengan senang hati” (12:35-37). Di sini Tuhan bertanya bagaimana ahli Taurat dapat mengatakan bahwa Kristus adalah anak dari Daud sementara Daud sendiri menyebut Dia Tuan. Di sini Tuhan menunjukkan bahwa ahli Taurat mengenal Kristus hanya sebagai manusia. Mereka tidak menyadari bahwa Kristus, Mesias, juga adalah Tuhan Allah sendiri dan karena itu, adalah Manusia-Allah.

Tuhan seolah-olah berkata kepada semua orang yang menguji dan memeriksa Dia, “Kamu mengenal Aku hanya sebagai orang Nazaret. Kamu tidak mengenal Aku sebagai Allah. Meskipun Aku jujur dan berterus terang terhadap kamu, aku juga penuh dengan belas kasihan. Bahkan meskipun Aku Allah Yang Mahakuasa, Pencipta, Aku memiliki kesabaran untuk diuji dan diperiksa olehmu. Jika Aku ti-dak berbelaskasihan terhadap kamu dan jika Aku menyatakan diri-Ku dalam esens ilahi-Ku, kamu semua akan mati. Tetapi Aku penuh dengan kesabaran. Namun, Aku adalah Allah sejati yang disebut Daud sebagai Tuan.”

Kita perlu menyadari bahwa Petrus, Yohanes, Yakobus, dan semua pengikut-Nya yang akrab dengan Tuhan Yesus berdiri mengamati apa yang Tuhan lakukan dan mende-ngar apa yang Dia katakan. Tidak diragukan lagi, mereka terkesan sangat dalam dengan Hamba-Penyelamat. Mereka pasti berbicara satu sama lain. Mungkin Petrus berkata kepada Yohanes dan Yakobus, “Di satu pihak, Guru kita ada-lah anak dari Daud. Tetapi di pihak lain, Dia adalah Tuhan. Pernahkah kamu menyadari hal ini? Tahukah kamu bahwa Guru kita bukan hanya seorang manusia, tetapi juga Tuhan Allah?” Saya percaya bahwa murid-murid pasti berbicara satu sama lain seperti ini.

Jika Anda adalah salah seorang murid Tuhan yang mengamati bagaimana Dia menangani para penentang, ti-dakkah Anda membicarakan hal itu dengan orang lain? Tidakkah Anda terkesan dengan fakta bahwa Guru Anda mewahyukan kepada para penentang bahwa Dia bukan hanya anak dari Daud, tetapi juga Tuan dari Daud? Tidak diragukan lagi, para pengikut Tuhan yang akrab menerima kesan yang dalam mengenai Dia.

Kita telah melihat bahwa Tuhan Yesus membawa pengikut-pengikut-Nya masuk ke Yerusalem bersama Dia untuk satu tujuan. Dia tidak bermaksud melewati kematian se-orang diri. Sebaliknya, Dia membawa sekelompok pengikut-Nya ke dalam kematian bersama Dia. Para pengikut ini adalah wakil kita. Ketika mereka bersama Tuhan di Yerusalem, kita semua ada di sana. Haleluya, kita hari ini adalah para pengikut Tuhan yang akrab! Sebagai para pengikut-Nya, dari Injil Markus kita nampak serangkaian visi surgawi, visi yang disiarkan ke dalam batin kita.

Sampai Markus 12:37 Hamba-Penyelamat telah meraih kemenangan yang penuh. Dia tidak hanya menerima pene-gasan (pengakuan) dari orang; Dia juga menaklukkan para penentang-Nya. Imam-imam kepala, ahli-ahli Taurat, tua-tua, orang-orang Farisi, orang-orang Herodian, dan orang-orang Saduki, semuanya ditaklukkan. Yesus dari Nazaret dinyata-kan sebagai persona yang luar biasa. Jelas, para murid-Nya sangat gembira dengan situasi ini.

PERINGATAN TENTANG

MENGHADAPI AHLI-AHLI TAURAT

Segera setelah Tuhan menaklukkan semua penentang dan telah berbicara kepada mereka tentang Kristus, Dia memberi tahu mereka suatu peringatan tentang mengha-dapi ahli-ahli Taurat. Markus 12:38-40 mengatakan, “Da-lam pengajaran-Nya Yesus berkata, ‘Hati-hatilah terhadap ahli-ahli Taurat yang suka berjalan-jalan memakai jubah panjang dan suka menerima penghormatan di pasar, yang suka duduk di tempat terbaik di rumah ibadat dan di tem-pat terhormat dalam perjamuan, yang menelan rumah janda-janda dan mereka mengelabui mata orang dengan meng-ucapkan doa yang panjang-panjang. Mereka ini pasti akan menerima hukuman yang lebih berat.’” Di mana-mana Tuhan telah memberi tahu para murid-Nya untuk waspada ter-hadap ragi orang Farisi dan ragi Herodes (8:15). Ragi orang Farisi adalah kemunafikan mereka (Luk. 12:1), dan ragi Herodes adalah kebobrokan dan ketidakadilannya dalam politik. Pada ahli Taurat ada perkara pengetahuan yang sia-sia akan Alkitab. Ahli Taurat mengajarkan teologi atau doktrin dengan cara yang sia-sia.

Dalam Markus 11-12 ahli Taurat disebutkan beberapa kali. Ahli Taurat termasuk orang yang menanyai Tuhan ten-tang kuasa-Nya (11:27-28). Ahli Tauratlah yang menanyai Tuhan tentang penafsiran Alkitab (12:28). Selain itu, dalam

12:35 Tuhan bertanya, “Bagaimana ahli-ahli Taurat dapat mengatakan bahwa Mesias adalah anak Daud?” Sekarang dalam 12:38 Tuhan secara khusus menyampaikan peringat-an terhadap ahli Taurat. Ahli Taurat berpikir bahwa me-reka mengenal Alkitab dan juga doktrin dan teologi. Meskipun mereka mungkin mengenal Kitab Suci secara harfiah, mereka jelas tidak mengenal Kristus. Karena itu, dalam pengajaran-Nya Tuhan bertanya bagaimana ahli Taurat mengatakan bahwa Kristus adalah Anak Daud. Ahli Taurat mengajarkan teologi yang kosong, teologi yang tanpa Kristus sebagai realitas.

Mungkin saja kita menjadi ahli Taurat hari ini. Peng-ajaran kita mungkin benar, tetapi mungkin kosong, yaitu tanpa Kristus. Ahli Taurat kuno mengajar orang menurut Perjanjian Lama, tetapi mereka tidak memiliki terang me-ngenai Kristus. Mereka tidak memiliki pengenalan apa pun mengenai Dia sebagai Manusia-Allah.

Kita perlu membedakan apakah suatu berita atau peng-ajaran memiliki Kristus sebagai pusat, realitas, dan esens hayatnya. Beberapa pengkhotbah dan guru secara alamiah fasih berbicara dan dapat menyajikan doktrin kepada orang lain dengan memuaskan telinga yang gatal. Pengajaran, khotbah, atau uraian Alkitab yang sedemikian adalah menurut pengetahuan manusia dengan kefasihan manusia. Kita perlu dapat membedakan apakah Kristus adalah pusat, realitas, dan esens dari suatu berita. Jika Kristus bukan pusatnya, maka berita itu akan kosong. Dalam prinsipnya, berita itu adalah pengajaran ahli Taurat, dan kita seharusnya waspada akan hal ini.

Kita seharusnya tidak berpikir bahwa asalkan suatu pengajaran itu alkitabiah, tidak akan ada masalah. Kita perlu membedakan segala jenis pengajaran, dan itu adalah membedakan apakah Kristus menjadi pusat, realitas, dan esens dari setiap pengajaran atau tidak. Dalam pemulihan Tuhan, Kristus harus menjadi pusat, realitas, dan esens da-ri setiap berita. Setiap berita atau pengajaran mungkin penuh pengetahuan, ilmiah, alkitabiah, dan disampaikan dengan fasih, memberikan banyak pengetahuan Alkitab. Namun, mungkin saja pengajaran semacam itu merupakan pengajaran ahli Taurat hari ini. Kita perlu mengikuti hal ini sebagai prinsip dasar dalam membedakan pengajaran dalam pemulihan Tuhan.

Agama hari ini penuh dengan ahli Taurat. Banyak pengajaran di antara orang Kristen alkitabiah dan penuh pengetahuan. Banyak pengajar yang menguasai bahasa Yunani atau Ibrani, dan mereka tahu berbagai versi uraian Kitab Suci. Tetapi Kristus mungkin bukanlah pusat, realitas, dan esens dari pembicaraan mereka.

MEMUJI JANDA MISKIN

Setelah Tuhan Yesus memberikan peringatan tentang menghadapi ahli-ahli Taurat, Dia memuji kesetiaan seorang janda miskin (12:41-44). “Pada suatu kali Yesus duduk meng-hadapi peti persembahan dan memperhatikan bagaimana orang banyak memasukkan uang ke dalam peti itu. Banyak orang kaya memberi jumlah yang besar.” Hamba-Penyelamat adalah Allah yang hidup dalam keinsanian-Nya. Dia menaruh perhatian terhadap bagaimana umat Allah menyatakan kesetiaan dan ketulusan mereka dalam hal memper-sembahan kurban kepada-Nya. Di bawah pengamatan seperti ini, Dia memuji kesetiaan dan ketulusan janda miskin terhadap Allah. Pengamatan Hamba-Penyelamat lebih mera-suk daripada pengamatan manusia.

Ketika Tuhan Yesus melihat “seorang janda yang mis-kin dan ia memasukkan dua uang tembaga, yaitu uang receh terkecil. Yesus memanggil murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka, ‘Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, janda miskin ini memberi lebih banyak daripada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan. Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya semua yang dimilikinya, yaitu seluruh nafkahnya.’” Mereka yang memberi dari ke-limpahan mereka tidak menjamah hati Tuhan. Namun, Tuhan terjamah oleh janda miskin yang memasukkan dua uang tembaga. Dia mengaguminya karena memberikan dengan cara yang sedemikian ini.

PERBANDINGAN KESIA-SIAAN DENGAN REALITAS

Sangatlah berarti bahwa setelah Tuhan menaklukkan semua penentang-Nya, Dia memberikan peringatan tentang menghadapi ahli-ahli Taurat dan memuji janda miskin yang setia. Pertama, Ia memperingatkan murid-murid-Nya agar waspada terhadap pengajaran yang sia-sia, yang kosong dari ahli-ahli Taurat. Kemudian Ia mendorong mereka untuk mengapresiasi realitas batiniah seorang janda. Dia ingin me-reka melihat ke dalam situasi di antara umat Allah, bukan hanya melihat yang luaran menurut cara manusia, tetapi yang batiniah menurut realitas batiniah manusia. Karena Dia memiliki pandangan yang demikian, Dia dapat mengapresiasi janda yang miskin.

Dalam 11:27—12:37 kita memiliki empat jenis perta-nyaan yang berkaitan dengan kebudayaan manusia, yang diikuti oleh pertanyaan dari segala pertanyaan, pertanyaan mengenai Kristus. Empat kategori dari empat pertanyaan pertama meliputi agama, politik, kepercayaan, dan cara me-nafsirkan Alkitab. Pertanyaan yang unik adalah mengenai Kristus. Catatan mengenai kelima macam pertanyaan ini diikuti oleh dua peristiwa: yang pertama kaitan dengan kesia-siaan pengajaran yang kosong dari ahli Taurat; yang kedua mengenai realitas dari manusia batiniah kaum ber-iman. Ahli Taurat adalah sekelompok orang dari umat Allah yang membicarakan kesia-siaan, tetapi janda ini melam-bangkan kaum beriman yang memiliki realitas batiniah. Ketika kita memperhatikan dua peristiwa ini, kita nampak bahwa daripada menjadi ahli Taurat, lebih baik kita men-jadi janda yang miskin. Kita semua harus berkata, “Aku tidak ingin menjadi ahli Taurat kosong yang membicarakan kesia-siaan. Aku ingin menjadi janda yang miskin. Aku ingin segala sesuatu yang aku kerjakan berasal dari realitas yang ada di dalamku.”

Kita perlu memperhatikan apakah kita akan menjadi ahli Taurat atau janda. Anda mau menjadi ahli Taurat yang kosong atau janda yang penuh dengan realitas? Kita bersyukur kepada Tuhan bahwa dalam pemulihan-Nya banyak orang yang penuh dengan realitas seperti janda ini. Kalau tidak ada janda yang sedemikian ini, pemulihan-Nya tidak akan bisa maju. Syukur kepada Tuhan bahwa di antara kita ada cukup banyak janda yang sejati, cukup banyak orang yang memiliki realitas batiniah.

Kita perlu bertanya kepada diri kita sendiri mengapa setelah Tuhan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diaju-kan oleh para penentang dan setelah Dia mengajukan perta-nyaan mengenai diri-Nya sendiri, Dia melanjutkan pembicaraan-Nya mengenai ahli Taurat dan janda miskin. Tuhan mengadakan sidang kecil dengan murid-murid-Nya, sidang di mana Dia berbicara kepada mereka mengenai ahli Taurat dan janda. Pada ahli Taurat ada kehampaan, kesia-siaan; pada janda di sini ada realitas batiniah. Kita perlu belajar mengapresiasi realitas dan waspada terhadap kesia-siaan. Seseorang mungkin adalah pembicara yang sangat baik, fa-sih, dan berpengetahuan. Namun, pembicaraannya mungkin kosong. Sebaliknya, seseorang mungkin pembicara yang bu-ruk, tanpa kefasihan atau pengetahuan. Namun, pada orang ini ada realitas batiniah terhadap Allah. Inilah makna dari kedua peristiwa ini: peringatan tentang menghadapi ahli-ahli Taurat dan pujian untuk janda miskin — ditempatkan bersama pada akhir pasal 12.

Ketika kita membaca Markus 12 di bawah terang surgawi, kita dapat nampak makna dari apa yang tercatat dalam pasal ini. Secara khusus, kita nampak makna dari peringatan Tuhan tentang menghadapi ahli-ahli Taurat dan pujian terhadap janda miskin. Di satu pihak, kita nampak bahwa pengajaran seseorang mungkin berpengetahuan dan fasih, tetapi sia-sia dan kosong. Di pihak lain, seseorang mungkin miskin, tetapi penuh dengan realitas. Kita mung-kin miskin dalam segala hal, tetapi kita dapat memiliki di dalam kita realitas dari Tuhan yang kepada-Nya kita berseru, realitas terhadap Allah yang kita layani. Kita mung-kin tidak memiliki kefasihan atau pengetahuan yang cukup, dan kita tidak mengejar hal-hal itu. Tetapi kita memiliki satu hal — realitas batiniah.

Tidak ada yang menyingkapkan realitas batiniah kaum beriman lebih jelas daripada perkara uang. Uang menying-kapkan realitas batiniah kaum beriman karena dalam hidup manusia tidak ada yang lebih nyata daripada uang atau harta benda. Uang atau harta benda Anda menguji apakah Anda memiliki realitas terhadap Allah.

Semoga kita semua waspada terhadap kesia-siaan, terutama kesia-siaan dalam pembicaraan, kefasihan, pengetahuan, doktrin, dan pengajaran. Pada saat yang sama, kita semua seharusnya belajar mengapresiasi, memustikakan apa yang riil dalam pandangan Tuhan.

Kita tidak seharusnya melupakan bahwa Petrus, Yohanes, Yakobus, dan para pengikut Tuhan yang akrab hadir pada saat Tuhan memberikan peringatan-Nya tentang menghadapi ahli-ahli Taurat dan memberikan pujian-Nya terhadap janda miskin. Mereka melihat segala hal yang ter-jadi dalam pasal 11 dan 12. Saya percaya bahwa setelah hari Pentakosta, segala hal ini kembali kepada mereka dalam hidup mereka sebagai visi surgawi. Hari ini kita perlu visi demi visi dari Injil Markus tertempa ke dalam diri kita. Kemudian ketika kita membuka diri kita kepada Roh pemberi-hayat untuk mengatur kita, semua visi ini akan datang kembali kepada kita secara hidup dan nyata.