KESAN DAN KEADAAN ROH PEREMUKAN DAN KESAN
Mampu tidaknya kita bekerja bagi Tuhan bukan tergantung pada apa yang kita bicarakan, juga bukan tergantung pada apa yang kita kerjakan, melainkan tergantung pada apa yang kita keluarkan dari diri kita. Jika yang kita bicarakan itu satu hal tetapi yang keluar dari diri kita satu hal yang lain, atau yang kita kerjakan itu suatu urusan tetapi yang keluar dari diri kita urusan lain, maka orang lain tidak akan beroleh bantuan dari kita. Karena itu, apa yang keluar dari diri kita merupakan masalah yang sangat penting.
Sering kita berkata, “Terhadapku, orang itu memiliki kesan yang baik; atau kesan orang itu terhadapku baik.” Dari mana munculnya kesan itu? Kesan itu bukan seturut bicaranya. Kalau seturut bicaranya, maka sewaktu ia mengatakan baik, tentu kesannya baik, sewaktu ia mengatakan tidak baik, tentu kesannya tidak baik; di luar ini tidak ada kesan lain yang bisa diketengahkan. Tetapi pada faktanya ada suatu benda lain, suatu benda yang aneh yang memberikan kesan kepada kita. Selain dari pembicaraannya, selain dari tingkah lakunya, ada suatu benda lain yang keluar dari dirinya sehingga kita beroleh kesan.
Yang menimbulkan kesan kepada orang lain ialah bagian dari diri kita yang paling kuat. Bila pikiran kita belum pernah dipukul remuk, pikiran kita tidak tertib, pikiran kita liar, dengan sendirinya ketika kita berjumpa dengan saudara saudari, kita akan menggunakan pikiran kita untuk bersentuhan dengan mereka, sehingga apa yang mereka rasakan, tidak lain ialah pikiran kita itu. Atau kita memiliki emosi yang tidak normal, mungkin sangat peka atau sangat dingin. Kalau emosi yang demikian tidak Tuhan pukul remuk, dengan sendirinya setiap kali kita berhubungan dengan orang lain, emosi kitalah yang keluar, sehingga kesan yang mereka peroleh dari kita ialah emosi kita. Apa yang terkuat dari diri kita, itulah yang keluar dari diri kita, dan itu pula kesan yang orang lain peroleh. Bisa saja kita mengendalikan tutur kata kita, bisa saja kita mengendalikan tingkah laku kita, tetapi kita tidak akan mampu mengendalikan sesuatu yang keluar dari diri kita. Apa yang kita miliki, itu pula yang keluar dari diri kita.
Dalam 2 Raja-raja 4, dikisahkan seorang perempuan Sunem yang menyambut Elisa. Alkitab menuliskan, “Pada suatu hari Elisa pergi ke Sunem. Di sana tinggal seorang perempuan kaya yang mengundang dia makan. Dan seberapa kali ia dalam perjalanan, singgahlah ia ke sana untuk makan. Berkatalah perempuan itu kepada suaminya: ‘Sesungguhnya aku sudah tahu bahwa orang yang selalu datang kepada kita itu adalah abdi Allah yang kudus’” (2 Raj. 4:8-9). Ketika melewati Sunem, Elisa tidak pernah berkhotbah, tidak pernah melakukan tanda mujizat, setiap kali lewat hanya singgah sebentar untuk makan. Dari lewat dan singgahnya Elisa untuk makan, tahulah perempuan itu bahwa Elisa adalah seorang abdi Allah. Inilah kesan yang Elisa berikan kepada orang lain.
Hari ini baiklah kita bertanya kepada diri sendiri, kesan apa yang kita berikan kepada orang lain, atau apa yang keluar dari diri kita. Sekali lagi saya ingatkan, insan lahiriah kita harus kita remukkan. Kalau tidak, kesan yang kita berikan kepada orang-orang tidak lain ialah insan lahiriah kita. Setiap kali Anda menghadapi orang, mungkin orang itu menjadi tidak enak, merasakan bahwa Anda ini egois, Anda ini orang yang keras kepala, Anda ini orang yang sombong. Atau mungkin juga Anda memberikan kesan lain, sehingga orang merasa: Anda ini orang pandai, Anda ini orang fasih, Anda ini orang yang sangat baik. Mungkin kesan yang Anda berikan kepada orang tergolong kesan yang baik. Tetapi apakah kesan ini mampu memuaskan hati Allah? Apakah kesan ini mampu memenuhi kebutuhan gereja. Allah tidak puas akan ini. Gereja pun tidak memerlukan ini.
Saudara saudari, permintaan Allah ialah agar roh kita keluar, dan gereja pun memerlukan keluarnya roh kita. Karena itu, kita memiliki satu kebutuhan yang sangat besar, juga satu kebutuhan yang sangat penting, yaitu remuknya insan lahiriah kita. Kalau insan lahiriah kita tidak diremukkan, roh kita tidak akan bisa keluar, dan kita pun tidak akan dapat memberikan kesan roh kepada orang lain.
Ada seorang saudara berbicara mengenai Roh Kudus. Judul pembicaraannya Roh Kudus, tetapi tutur katanya, sikapnya, bahkan cerita-cerita yang digunakannya, sarat akan dirinya sendiri. Orang yang duduk mendengarkan merasa tidak nyaman. Mulutnya penuh Roh Kudus, namun seluruh tubuhnya sarat akan diri sendiri. Tutur katanya Roh Kudus, tetapi kesan yang dia berikan adalah dirinya sendiri. Kalau demikian, apakah gunanya? Karena itu, janganlah kita khusus memperhatikan doktrin, tetapi yang terpenting ialah apa yang keluar dari diri kita. Kalau yang keluar dari Anda itu diri Anda sendiri, maka yang orang rasakan ialah manusia Anda. Tidak peduli betapa bagusnya judul Anda, betapa bagusnya pengajaran Anda, apa gunanya? Allah tidak menghendaki kita terus-menerus memperhatikan kemajuan doktrin, Allah ingin menanggulangi manusia kita. Kalau manusia kita tidak ditangulangi, maka di dalam pekerjaan Allah, kita tidak akan berfaedah banyak. Paling banyak kita hanya bisa memberikan doktrin rohani kepada orang lain, tidak dapat memberikan kesan rohani. Kalau doktrin yang kita bicarakan itu rohani, tetapi kesan yang kita berikan kepada orang lain adalah diri kita sendiri, sungguh kasihan. Karena itu, berulang-ulang saya katakan, biarkanlah Allah membongkar insan lahiriah kita.
Sekali demi sekali Allah mengatur peristiwa-peristiwa menimpa kita dengan tujuan memukul remuk bagian-bagian kita yang kuat. Anda kuat, sekali dipukul belum beres, dua kali dipukul. Kalau masih saja kuat, dipukul lagi untuk ketiga kalinya. Allah tidak memberi kelonggaran kepada Anda. Bagaimanapun, Dia tetap akan memukul remuk bagian Anda yang kuat. Dia tidak akan berhenti bekerja sebelum berhasil.
Tergenapnya pengaturan Roh Kudus atas diri kita, tidak seperti proses yang terjadi setelah kita mendengarkan khotbah. Setelah kita mendengarkan khotbah, kebenaran khotbah itu terlebih dulu masuk ke dalam pikiran kita sehingga kita mengerti. Beberapa bulan atau beberapa tahun kemudian, Allah baru membawa kita menyelami kebenaran khotbah yang telah kita dengar itu. Mendengar khotbah dulu, kemudian baru memasuki kebenaran. Pengaturan Roh Kudus tidak demikian. Pengaturan Roh Kudus mempunyai suatu keistimewaan, yaitu begitu Anda nampak kebenaran, pada saat itu pula Anda beroleh pengaturan Roh Kudus; duaduanya datang sekaligus, bukan melihat kebenaran lebih dulu baru beroleh pengaturan Roh Kudus. Kita ini orang bodoh, daya pengertian kita terhadap doktrin memang lebih cepat, tetapi terhadap pelajaran pengaturan Roh Kudus justru sangat lamban. Banyak doktrin yang begitu kita dengar, segera dapat kita ingat; tetapi terhadap pengaturan Roh Kudus, mungkin sampai sepuluh kali pun kita masih merasa “aneh bin ajaib”, tidak tahu sebenarnya apa yang diatur Roh Kudus. Sekali Tuhan memukul Anda, Anda belum remuk, sekali lagi Tuhan harus memukul Anda. Sekali Anda mendapat pengaturan Roh Kudus, dua kali, sepuluh kali, seratus kali, Roh Kudus terus-menerus mengatur Anda hingga pekerjaan Tuhan atas diri Anda rampung. Pada saat itu, barulah Anda nampak kebenaran itu. Ketika Anda nampak kebenaran itu, Anda pun langsung mendapatkannya. Jadi pengaturan Roh Kudus ialah peremukan dan pembangunan oleh roh Kudus — pekerjaan Roh Kudus. Seseorang yang beroleh pengaturan Roh Kudus, nampak kebenaran dan beroleh pembinaan, serentak diremukkan dan dibangun. Anda diatur oleh Roh Kudus sedemikian rupa sehingga di depan Tuhan Anda beroleh penglihatan dan penjamahan. Maka, Anda bisa berkata, “Syukur kepada-Mu, ya Tuhan, selama 5 tahun, selama 10 tahun Engkau mencurahkan waktu dan daya upaya untuk menanggulangi aku, tidak lain hendak menyingkirkan bagian yang terkuat pada diriku.” Syukur kepada Tuhan, setelah beberapa kali ditanggulangi, tersingkirlah halangan-halangan itu.
PENYOROTAN DAN PEMBUNUHAN
Penyorotan juga merupakan pekerjaan Roh Kudus. Dengan dua macam pekerjaan, pengaturan dan penyorotan, Roh Kudus menanggulangi insan lahiriah kita. Adakalanya bekerja berbarengan, adakalanya bergiliran. Adakalanya demi suasana sekeliling kita, Roh Kudus terus-menerus menanggulangi serentak menyingkirkan bagian-bagian kita yang terkuat. Adakalanya dengan anugerah-Nya yang khusus, Allah menyoroti kita. Ada satu hal yang perlu kita nampak dengan jelas, yaitu: tubuh daging hanya mampu bersembunyi di dalam kegelapan; bila tidak ada kegelapan, tubuh daging tidak akan beroleh tempat persembunyian. Banyak tingkah laku daging kita yang mampu bertahan, tidak lain karena kita sama sekali tidak tahu bahwa tingkah laku itu adalah tubuh daging. Sorotan terang membuat kita nampak apakah daging itu, dan ini membuat kita takut sehingga tidak berani berkutik.
Saat gereja sedang kaya limpah, saat ada firman Allah, saat kuatnya pelayanan firman, saat tidak kurangnya perkataan nabi, maka terang akan datang dengan amat dahsyat. Begitu terang ini menyoroti Anda, barulah Anda tahu bahwa ucapan-ucapan sombong yang keluar dari mulut Anda, tidak lain ialah bagian diri Anda yang terkuat yang menyuruh Anda sombong. Sebelumnya, ketika Anda berkata bahwa Anda ini sombong, Anda masih mengira bahwa kesombongan Anda itu merupakan suatu kemegahan. Tetapi setelah Anda nampak kesombongan ini dalam terang, barulah Anda rela berkata, “Ah, inilah kesombongan. Ternyata kesombongan itu begitu membencikan, ternyata kesombongan itu begitu najis.” Kesombongan yang kita nampak di dalam terang wahyu sama sekali berbeda dengan kesombongan yang biasa kita ucapkan. Kesombongan yang kita ucapkan dengan acuh tak acuh takkan menyebabkan rasa benci, dan Anda pun tidak dapat membayangkan betapa najisnya kesombongan itu. Meskipun Anda menyatakan diri sendiri sombong, tetapi Anda picik. Sampai pada suatu hari, ketika Anda disoroti di bawah terang-Nya, keadaan Anda akan sama sekali berlainan. Penyorotan menyebabkan Anda nampak rupa Anda sebenarnya. Diri sendiri yang Anda nampak hari ini entah berapa kali lipat membencikan daripada yang biasa Anda ucapkan sebelumnya, mungkin laksaan kali lipat membencikan dan laksaan kali lipat najisnya. Sampai saat ini, kesombongan Anda, diri Anda, dan tubuh daging Anda itu akan terbunuh dan tidak mungkin hidup kembali.
Di sini ada satu hal yang sangat ajaib, yaitu apa yang dilihat di dalam terang, itulah yang akan terbunuh di dalam terang. Bukannya melihat adalah satu langkah dan terbunuh adalah satu langkah lain lagi. Bukannya di dalam terang kita nampak diri kita tidak benar, lalu setelah lewat beberapa tahun, perlahan-lahan ketidakbenaran kita itu disingkirkan. Melainkan ketika di bawah sorotan wahyu kita nampak ketidakbenaran kita, saat itulah ketidakbenaran kita terbunuh, jatuh rebah. Terang bisa membunuh, inilah perkara yang sangat ajaib dalam pengalaman orang Kristen. Ketika Roh Kudus memberi wahyu kepada Anda, manusia Anda pun tertanggulangi. Jadi, wahyu adalah penampakan dan pembunuhan; melalui penampakan itu, daging pun terbunuh. Wahyu adalah cara Allah bekerja, wahyu adalah pekerjaan Allah. Begitu terang mewahyukan, itulah pembunuhan. Terang terwahyukan agar manusia nampak, dan penampakan itu membuat Anda terbunuh. Kenajisan itu, kedengkian itu, hal yang begitu dihakimi Allah, bisa tertampak oleh Anda, maka hal-hal pada Anda itu tidak akan dapat hidup lagi.
Pembunuhan oleh terang merupakan masalah paling besar dalam pengalaman orang Kristen. Setelah Paulus disoroti, bukannya segera berlutut di tepi jalan, melainkan segera rebah ke tanah. Tadinya, Paulus bisa memikirkan segala masalah, merasa bisa menangani, namun begitu Allah menyorotinya, reaksinya yang pertama ialah rebah ke tanah, ia menjadi dungu, tidak tahu apa-apa. Terang bisa membuatnya rebah ke tanah. Perhatikan, masalah ini terjadi bukan dalam dua tahap, melainkan satu tahap. Jangan berpikir menurut pikiran kita demikian, “Allah menyoroti aku agar aku mengerti, kemudian aku akan melaksanakannya. Allah menyoroti aku, agar aku tahu bahwa aku ini tidak benar, kemudian mengubahnya.” Tidak demikian, pekerjaan Allah tidak demikian. Allah menampakkan kepada Anda bahwa Anda begitu membencikan, begitu najis, dan sama sekali tidak benar. Begitu Anda nampak, serentak Anda berkata, “Ah! Betapa najisnya aku ini, betapa membencikan aku ini.” Begitu Allah memperlihatkan rupa asli Anda sekejap saja, Anda segera rebah dan tidak mampu bangun. Setelah seorang yang sombong disoroti oleh Tuhan, ia tidak dapat sombong lagi walaupun Anda memberinya kesempatan. Bila pada suatu kali, dalam terang Allah Anda nampak rupa asli Anda, dan nampak apa kesombongan itu, maka kesan pada diri Anda itu selamanya takkan berlalu. Seakan-akan ada suatu benda yang menyebabkan Anda merasa sakit, yang menyebabkan Anda merasa tidak berguna, sehingga Anda tidak mampu bersikap sombong.
Di samping itu, Allah menyoroti kita pada waktu kita percaya seraya bertelut, bukan pada waktu kita memohon. Banyak saudara saudari yang pada saat Allah berbicara kepada mereka, mereka lalu berdoa. Akibatnya, mereka tidak nampak terang. Prinsip beroleh selamatnya kita tidak berbeda dengan prinsip pekerjaan Allah di kemudian hari. Ketika kita disoroti hingga beroleh selamat, asal kita mau bertelut serta berkata, “Tuhan, aku mau menerima-Mu menjadi Juruselamatku,” pasti akan terjadi peristiwa selanjutnya. Tetapi bila seseorang mendengarkan Injil lalu berdoa, “Tuhan, aku mohon Engkau mau menjadi Juruselamatku”, mungkin setelah berdoa berhari-hari, ia tetap tidak merasa bahwa Tuhan telah menyelamatkannya. Karena itu, begitu Tuhan menyoroti Anda, seharusnya Anda segera bertelut di bawah terang-Nya serta berkata, “Tuhan aku terima penetapan-Mu. Aku terima pandangan-Mu atas diriku.” Dengan demikian Allah segera memberikan kepada Anda terang yang makin besar sehingga Anda nampak betapa najisnya diri Anda itu.
Pada waktu Tuhan menyoroti kita, banyak urusan yang dulu kita anggap kita kerjakan demi nama Tuhan, yang kita kerjakan karena rasa kasih kita kepada Tuhan, kini gambar itu telah berubah warna; Anda menemukan bahwa hal-hal yang sebelumnya Anda anggap mempunyai tujuan yang luhur, ternyata semuanya mengandung pertimbangan hati yang hina dina. Apa yang Anda kira semuanya bagi Allah, kini ternyata bahwa di dalam Anda betapa banyak perkara yang sesungguhnya bagi diri sendiri. Begitu banyaknya sehingga menyebabkan Anda rebah ke tanah. Diri manusia ini akan memasuki setiap celah, bahkan kalau dapat kemuliaan Allah pun akan dibajaknya, adakah yang tidak dapat manusia perbuat? Namun pada waktu terang Allah menyoroti Anda, Anda akan menemukan keadaan Anda yang sebenarnya. Asalkan ada wahyu Allah, keadaan kita akan terbuka di hadapan-Nya. Allah menyingkapkan keadaan kita, sehingga kita dapat melihat diri kita sendiri. Sebenarnya, Allahlah yang mengenali kita. Di hadapan-Nya kita terbuka bulat-bulat. Namun, kita tidak mampu mengenali diri kita sendiri, terhadap diri sendiri kita sama sekali masih gelap. Ketika Allah membeberkan pikiran dan niat hati kita di depan kita sendiri, tidak saja kita terbuka bulat-bulat di hadapan-Nya, kita pun terbuka bulat-bulat di hadapan kita sendiri. Ketika kita terbuka bulat-bulat di depan kita sendiri, kita tidak berani mengangkat kepala lagi. Ketika keadaan kita belum dibeberkan, kita tidak mampu mengenali diri sendiri, dan dengan acuh tak acuh menganggapnya tidak ada problem apa-apa. Tetapi ketika kita nampak diri kita sendiri di bawah terang Allah, tidak tahu ke mana kita harus menyembunyikan wajah kita. Ah, sebenarnya aku serupa ini! Apa yang dulu aku banggakan, ternyata hanya begini saja. Semula kusangka diriku lebih baik daripada orang lain, hari ini aku baru tahu diriku orang macam apa! Di depan Allah aku tidak tahu harus menggunakan istilah apa untuk melukiskan diriku. Aku ini najis, aku ini membencikan. Anda seharusnya berkata, “Bertahun-tahun mataku begitu buta sehingga tidak melihat.” Semakin Anda menyadari betapa najisnya diri Anda, Anda akan makin merasa malu, seakan-akan aib dunia ini seluruhnya menindih Anda, sehingga Anda rebah tersungkur serta meratap dengan penuh penyesalan, “Aku menyesali diriku sendiri, aku benci diriku sendiri, aku mengaku diriku ini tidak dapat disembuhkan lagi.”
Justru penyorotan ini, penyesalan ini, kebencian dalam sekejap ini, dan ketidakberanian mengangkat kepala inilah yang menyingkirkan hal-hal pada diri Anda yang bertahuntahun tidak dapat Anda singkirkan. Jadi terselamatkannya kita tergantung pada penampakan yang sekejap itu. Penampakan dan penyingkiran merupakan tindakan serempak dan bertautan satu dengan yang lain. Di samping menyoroti, Tuhan pun menyelamatkan. Penyorotan itu juga penyelamatan, sedang penampakan itu juga penyingkiran. Di depan Tuhan kita perlu penampakan ini, perlu penyorotan ini, baru kesombongan kita bisa tersingkir, dan tingkah laku tubuh daging kita baru reda serta tempurung luar kita remuk.
PERBANDINGAN ANTARA PENGATURAN DAN WAHYU
Dua perkara penting ini sekarang dibentangkan di hadapan kita — pengaturan Roh Kudus dan penyorotan Allah atau disebut juga wahyu Roh Kudus. Mari kita bandingkan dua perkara ini. Pengaturan Roh Kudus biasanya lamban sekali, sekali demi sekali. Untuk menanggulangi satu masalah saja sering memakan waktu bertahun-tahun. Pula, pengaturan Roh Kudus belum tentu melalui penyuplaian ministri firman; sering kali walaupun tidak ada penyuplaian ministri firman, Roh Kudus bahkan mengatur. Ini berlainan dengan wahyu Roh Kudus, yang prosesnya sering kali berlangsung sangat cepat, mungkin hanya beberapa hari saja, mungkin juga hanya beberapa menit. Di bawah penyorotan Allah, mungkin beberapa menit, mungkin beberapa hari, dan Anda nampak “aku ini sedikit pun tidak berguna, kemegahanku dulu itu hanya aib bagiku.” Pula, wahyu Roh Kudus itu sering kali ada melalui penyuplaian firman. Karena itu, pada waktu gereja sedang kuat-kuatnya, pada waktu ministri firman banyak, maka wahyu Roh Kudus juga banyak. Tetapi kalaupun tidak ada ministri firman, ketika wahyu Roh Kudus berkurang, juga tidak ada seorang pun yang boleh hidup di hadapan Tuhan dengan menyisakan insan lahiriahnya. Sebab, meskipun pelayanan firman berkurang dan wahyu juga berkurang, namun pengaturan Roh Kudus tetap ada. Walaupun mungkin sudah bertahun-tahun Anda putus hubungan dengan kaum beriman lain, namun Roh Kudus tetap mengatur Anda, dan apa yang Anda pelajari di hadapan Tuhan masih bisa mencapai taraf yang tinggi. Ada orang yang karena lemahnya gereja sehingga kekurangan penyuplaian firman, namun ada juga orang yang karena kebodohannya sendiri bahkan kehilangan pengaturan Roh Kudus. Ini bukan berarti tidak ada pengaturan Roh Kudus, namun walaupun Roh Kudus bertahun-tahun mengatur dia, tetap tidak membuahkan sesuatu. Tuhan memukul sekali, dia tidak tahu makna pukulan itu; dua kali Tuhan memukul, masih tetap saja tidak sadar. Belasan kali Tuhan memukul, dia tetap masih seperti keledai bebal, tidak mengerti maksud Tuhan. Betapa kasihannya! Pengaturan Roh Kudus tidak susut, yang susut adalah penampakan kita terhadap tangan Tuhan.
Sering kali Tuhanlah yang memukul kita, tetapi orang lain yang kita tuduh. Ini salah besar. Terhadap Tuhan kita harus bersikap demikian, “Aku kelu, tidak kubuka mulutku, sebab Engkau sendirilah yang bertindak” (Mzm. 39:10). Kita harus ingat, yang menanggulangi kita itu bukan saudarasaudara kita, bukan saudari-saudari kita, bukan sanak keluarga atau pun teman-teman kita, bukan pula orang lain. Yang menanggulangi kita justru Allah sendiri, semoga kita nampak ini. Kita harus nampak: bertahun-tahun lamanya Tuhan mengatur aku untuk menanggulangi si aku ini, tetapi karena aku tidak mengerti, aku hanya menyalahkan orang lain, menyalahkan nasib, aku tidak mengenal tangan Allah. Betapa besar salahku! Ingatlah, segala urusan yang diberikan kepada kita telah Allah takar. Berapa banyaknya, berapa panjangnya, berapa beratnya peristiwa yang kita hadapi, semuanya telah melewati pengukuran-Nya. Tuhan menentukan apa-apa yang menimpa diri kita, tidak ada tujuan lain kecuali hendak mengenyahkan bagian kita yang menonjol, untuk memukul remuk bagian kita yang keras, untuk merobohkan bagian kita yang sulit ditanggulangi. Semoga Tuhan merahmati kita, agar kita nampak makna pekerjaan Tuhan atas diri kita. Semoga Tuhan juga lebih banyak menerangi kita, membeberkan keadaan kita yang sebenarnya, sehingga kita rebah tersungkur dan tidak mampu bangun kembali. Kalau Tuhan telah membongkar insan lahiriah kita, maka ketika kita berhubungan dengan orang, kita tidak lagi menyentuh orang lain dengan insan kita yang keras. Setiap kali kita bertemu dengan orang, roh kita bisa keluar.
Semoga gereja bisa mengenal Allah lebih daripada yang dulu-dulu, dan anak-anak Allah bisa memperoleh berkat bahagia melebihi yang sudah-sudah. Tuhan telah membawa kita kepada yang benar. Tidak saja Injil yang benar, pemberita Injilnya pun benar; tidak saja doktrin yang benar, pengkhotbahnya pun benar. Persoalannya terletak pada bisa tidaknya Allah keluar melalui roh kita. Begitu roh keluar akan bertemu dengan banyak orang yang memerlukan roh. Tidak ada pekerjaan lain yang lebih penting daripada ini. Tidak ada pekerjaan yang lebih tuntas daripada ini. Pula, tidak ada pekerjaan lain yang bisa menggantikan ini. Tuhan tidak mementingkan doktrin yang Anda ajarkan, Tuhan tidak mementingkan nasihat dan anjuran Anda, Tuhan tidak mementingkan konsep khotbah Anda, Tuhan hanya bertanya, kesan apa yang bisa Anda berikan kepada orang? Apakah yang keluar dari diri Anda itu? Yang dirasakan orang keluar dari diri Anda itu diri Anda sendiri atau Tuhan? Yang dijamah orang dari diri Anda itu doktrin atau Tuhan? Ini merupakan persoalan yang sangat serius. Kalau persoalan ini tidak dibereskan, maka segala jerih payah, segala pekerjaan, tidak seberapa berharga.
Saudara-saudara, Tuhan jauh lebih memperhatikan apa yang keluar dari diri Anda daripada pembicaraan mulut Anda. Setiap kali Anda berhubungan dengan orang, tentu ada sesuatu yang keluar dari diri Anda; kalau bukan diri Anda sendiri yang keluar, tentu Allah yang keluar. Kalau bukan insan lahiriah Anda yang keluar, tentu roh yang keluar. Sekali lagi saya katakan, ketika Anda berdiri di hadapan orang, yang keluar dari diri Anda itu apa? Ini merupakan masalah yang asasi. Semoga Allah memberkati kita, agar kita bisa melihat terang.