PEMISAHAN DAN WAHYU
Allah tidak saja akan meremukkan insan lahiriah kita, juga akan memisahkannya, agar insan lahiriah kita tidak lagi menghalang-halangi insan batiniah. Allah ingin memisahkan roh dengan jiwa kita — insan batiniah dengan insan lahiriah.
ROH YANG CAMPUR ADUK
Satu kesulitan yang ada pada anak-anak Allah ialah tercampuraduknya roh dengan jiwa. Bila roh keluar, jiwa ikut keluar. Sulit Anda temukan roh yang murni bersih. Banyak orang justru kurang murni. Karena adanya campur aduk inilah maka Allah tidak bisa memakai mereka. Syarat utama di dalam pekerjaan ialah murni tidaknya roh, bukan besar kecilnya kekuatan. Banyak orang berharap ingin memperoleh kekuatan, namun meremehkan kemurnian roh. Walaupun seseorang memiliki kekuatan untuk membangun, tetapi karena dia kurang kemurnian roh, maka pekerjaannya tak dapat tidak akan dibongkar. Di satu pihak ia membangun dengan kekuatan, namun di pihak lain dia pun membongkarnya dengan ketidakmurniannya itu. Memang dia mempunyai kekuatan Allah, tetapi bersamaan dengan itu dia pun memiliki roh yang campur aduk.
Mungkin ada orang yang mengira, asalkan dia sudah menerima kekuatan dari Allah, maka segala kecakapan diri sendiri akan berubah sehingga bisa Allah pergunakan. Sebenarnya hal itu sama sekali tidak mungkin. Segala sesuatu milik insan lahiriah tetap milik insan lahiriah. Semakin kita mengenal Allah, kita akan semakin memustikakan kemurnian lebih daripada kekuatan. Kita memustikakan kemurnian. Kemurnian berada di luar kekuatan rohani, dan tidak ada campuran dari insan lahiriah. Orang yang insan lahiriahnya tidak ditanggulangi, jangan berharap mampu mengeluarkan kekuatan yang murni. Karena dia sudah memiliki kekuatan rohani dan mempunyai hasil pekerjaan, lalu mengira boleh mencampuradukkan diri sendiri ke dalamnya. Kalau demikian halnya, itu adalah suatu kesulitan, adalah satu dosa.
Banyak orang, di satu pihak, memang mengerti bahwa Injil adalah kekuatan Allah, namun di pihak lain dalam pemberitaan Injil, mereka masih saja mencampurkan kepandaian mereka, lelucon mereka, perasaan pribadi mereka ke dalamnya, sehingga para pendengar pada saat yang sama menjamah kekuatan Allah juga menjamah diri mereka. Mungkin mereka sendiri belum merasakan, tetapi orang yang murni rohnya, segera akan merasakan adanya campur aduk di dalamnya. Ketika kita bekerja, dari luar kelihatan bergairah, faktanya ada kesenangan kita yang tercampur di dalamnya. Sering kali kalau ditilik dari luar, kita ini mengikuti kehendak Allah, padahal sebenarnya karena kehendak Allah kali ini justru cocok dengan maksud kita sendiri. Entah berapa banyak kehendak Allah yang tercampur dengan perasaan manusia. Entah berapa banyak keteguhan berdiri bagi Allah yang telah tercampur dengan ketegaran karakter manusia.
Campur aduk merupakan kesulitan kita yang terbesar. Karena itu ketika Allah bekerja pada diri kita, di samping Dia ingin meremukkan insan lahiriah kita, Dia pun ingin melenyapkan campur aduk di dalam kita. Sedikit demi sedikit Allah meremukkan kita, sehingga insan lahiriah kita tidak dapat diutuhkan lagi. Setelah insan lahiriah kita sekali diremukkan, sepuluh kali diremukkan, dua puluh kali diremukkan, sampai suatu waktu insan lahiriah kita remuk sama sekali, maka kita di hadapan Allah tidak lagi mengenakan tempurung yang demikian kerasnya itu. Tetapi bagaimanakah dengan roh kita? Untuk ini Allah perlu melakukan pekerjaan-Nya di atas diri kita pada aspek lain, yaitu pekerjaan menyingkirkan. Pekerjaan menyingkirkan ini tidak saja melalui pengaturan Roh Kudus, sering juga melalui wahyu Roh Kudus. Jalan untuk menyingkirkan campur aduk berbeda dengan jalan untuk meremukkan insan lahiriah. Campur aduk lebih banyak disingkirkan demi wahyu. Dengan demikian kita nampak bahwa kepada kita Allah memberikan dua macam penanggulangan yang berbeda; yang pertama ialah peremukan insan lahiriah, yang kedua ialah pemisahan insan lahiriah dengan roh; yang pertama demi pengaturan Roh Kudus dan yang kedua demi wahyu Roh Kudus.
PERLUNYA PEREMUKAN DAN PEMISAHAN
Terhadap masing-masing orang perlunya peremukan dan pemisahan tidak sama. Walaupun tidak sama, namun ada hubungan yang erat sekali antara keduanya, sampai-sampai tidak mungkin kita pisahkan. Insan lahiriah perlu diremukkan, agar roh mampu keluar. Ketika roh keluar, masih perlu tidak sampai membawa serta keadaan insan lahiriah, tidak membawa corak insan lahiriah, tidak membawa segala sesuatu yang berasal dari insan lahiriah; ini tidak lagi hanya merupakan problem bisa tidaknya roh keluar, bahkan merupakan problem bersih tidaknya roh kita, murni tidaknya roh kita. Sering kali ketika kita mendengarkan seorang saudara berdiri berbicara, kita rasakan adanya roh yang keluar sehingga kita mampu menjamah Allah, tetapi bersamaan dengan itu, dari pembicaraannya kita pun menjamah dirinya, dan terbentur pada bagiannya yang paling keras. Rohnya tidak murni. Ia dapat memberikan beberapa kesan sehingga kita merasa gembira, memuji; namun juga dapat membuat kita prihatian. Jadi soalnya tidak hanya terletak pada bisa tidaknya roh keluar, juga terletak pada bersih tidaknya roh.
Orang yang tidak diterangi oleh Allah, yang tidak mengerti apa itu insan lahiriah, dan yang di hadapan Allah tidak dihakimi dengan keras, dengan sendirinya begitu rohnya keluar, terbawalah serta insan lahiriahnya. Banyak orang ketika berbicara, kita dapat menjamah keluarnya insan lahiriahnya. Dia bisa membawa keluar Allah, tetapi karena pada dirinya terdapat banyak benda yang tidak dihakimi, maka ketika rohnya keluar, ia pun membawa serta dirinya yang belum dihakimi itu. Setiap kali kita berhubungan dengan orang lain, yang paling nyata menyentuh orang lain ialah bagian-bagian kita yang menonjol dan yang paling kuat. Bila insan lahiriah kita belum ditanggulangi, begitu kita berhubungan dengan orang lain, maka bagian insan lahiriah kita yang terkuat akan segera keluar. Tak mungkin berpura-pura.
Ada orang yang ketika di dalam kamar tidak rohani, berharap di atas mimbar nanti segera bisa rohani. Mustahil! Ada orang tidak rohani ketika ingatannya tidak baik, dan ingin rohani bersandar ingatan, ini juga mustahil. Janganlah Anda berpikir, “Hari ini aku berbicara di sini, hari ini aku yang bekerja di sini, maka bersandar ingatanku aku mau mengendalikan diri.” Ingatan bukan jalan keselamatan kita; manusia tidak bisa beroleh selamat bersandar ingatannya. Anda orang macam apa, begitu Anda berbicara, macam orang Anda segera keluar. Tidak peduli bagaimana pandainya Anda berpura-pura, bagaimana pandainya Anda pasang aksi, dan bagaimana pandainya Anda berhias diri, begitu berbicara, rohnya akan keluar. Roh Anda macam apa, akan keluarlah ketika Anda berbicara. Karena itu dalam masalah rohani, tidak mungkin kita berpura-pura.
Bila Anda memperoleh penyelamatan di hadapan Allah, itu pasti yang asasi, bukan yang sampingan. Pada diri Anda Allah tak dapat tidak akan berbuat sesuatu untuk menanggulangi bagian Anda yang kuat. Allah harus meremukkan bagian yang kuat itu. Dengan demikian, ketika roh Anda keluar, barulah roh Anda tidak memberikan benda-benda yang campur aduk kepada orang lain. Kalau atas hal yang asasi Anda tidak Allah tanggulangi, maka ketika Anda ingat, Anda mungkin bisa sedikit rohani, tetapi ketika Anda lupa, diri Anda sendirilah yang keluar. Sebenarnya baik Anda ingat atau lupa, roh Anda sama; tidak ada bedanya.
Masalah campur aduk ini merupakan masalah terbesar pada diri pekerja-pekerja Tuhan. Kadang-kadang pada diri seorang saudara kita dapat menjamah hayat, tetapi juga menjamah kematian; kita dapat menjamah Allah, juga menjamah dirinya; kita dapat menjamah roh yang lemah lembut, juga menjamah dirinya yang keras. Pada dirinya tertampil Roh Kudus, juga tubuh nafsaninya. Begitu dia berdiri berbicara, yang terjamah oleh orang lain ialah rohnya yang campur aduk, bukan roh yang murni bersih. Karena itu, bila Allah menyuruh Anda melayani Dia dalam pemberitaan firman, dan Anda merasa harus berbicara bagi Allah, tak dapat tidak Anda harus mohon Allah mencurahkan kasih karunia-Nya dengan berkata, “Ya Allah, bekerjalah pada diriku, remukkanlah insan lahiriahku, bongkarlah insan lahiriahku, pisahkan insan lahiriahku.” Jika Anda tidak memperoleh penyelamatan ini, maka setiap kali Anda berbicara, tanpa Anda sadari, Anda telah mengetengahkan insan lahiriah Anda di hadapan orang, Anda tidak berdaya menyembunyikannya. Begitu kata-kata keluar, roh pun keluar. Anda orang macam apa, macam apa yang keluar, tidak mungkin pura-pura. Bila ingin menjadi orang yang berguna dalam tangan Allah, Anda harus dapat mengeluarkan roh, yaitu roh yang murni dan bersih. Bila ingin dibersihkan, maka insan lahiriah harus dibongkar. Bila insan lahiriah kita tidak dibongkar, maka ketika kita bertindak sebagai pejabat firman, maka benda-benda milik kita sendiri akan bersama-sama keluar, tersalur kepada orang lain. Dengan demikian nama Tuhan dirugikan dan gereja dirugikan, karena kita campur aduk.
Pengaturan Roh Kudus telah kita bahas bersama. Sekarang kita akan membicarakan perihal wahyu Roh Kudus. Pengaturan Roh Kudus mungkin datang sebelum wahyu Roh Kudus, tetapi mungkin juga wahyu Roh Kudus yang datang sebelum pengaturan Roh Kudus. Ketika kita mengatakan dua masalah ini, boleh saja kita bagi: mana yang terdahulu dan mana yang terkemudian. Tetapi pada waktu Roh Kudus bekerja, tidak pasti mana yang terdahulu dan mana yang terkemudian. Dalam pengalaman pun tidak tentu. Ada orang yang terlebih dulu beroleh pengaturan Roh Kudus, lalu beroleh wahyu Roh Kudus, kemudian beroleh lagi pengaturan Roh Kudus. Ada juga orang yang terlebih dulu beroleh wahyu Roh Kudus, lalu beroleh pengaturan Roh Kudus, kemudian beroleh lagi wahyu Roh Kudus. Hanya saja, dalam kehidupan anak-anak Allah, pengaturan Roh Kudus lebih banyak datangnya daripada wahyu Roh Kudus.
Kita di sini membicarakan pengalaman bukan doktrin. Umumnya orang lebih banyak beroleh pengaturan daripada wahyu. Betapapun halnya, roh dengan jiwa harus dipisahkan, insan lahiriah dengan insan batiniah harus dipisahkan, insan lahiriah harus diremukkan berkeping-keping dan terpisah mutlak. Dengan demikian, barulah roh Anda mampu keluar dengan bebas, lagi pula keluar dengan murni dan bersih.
BAGAIMANA MEMISAHKAN
Dalam Ibrani 4:12-13, dikatakan, “Sebab firman Allah hidup dan kuat (berkhasiat) dan lebih tajam daripada pedang bermata dua mana pun; ia menusuk sangat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup menilai pikiran dan niat hati kita. Tidak ada suatu makhluk pun yang tersembunyi di hadapan-Nya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungjawaban.”
Hal pertama yang perlu kita perhatikan dalam ayat ini ialah, “Sebab firman Allah itu hidup”. Bila kita benar-benar nampak firman Allah, maka kita akan merasakan bahwa firman Allah itu hidup. Sebaliknya juga berlaku, jika kita tidak merasakan bahwa firman Allah itu hidup, maka kita tidak akan nampak firman Allah. Ada orang yang walaupun sudah membaca huruf-huruf dalam Alkitab, tetapi ia belum nampak firman Allah. Begitu kita menjamah sesuatu yang hidup, berarti kita menjamah firman Allah.
Dalam Yohanes 3:16, dikatakan, “Karena Allah begitu mengasihi dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Bila ada orang yang begitu mendengarkan kata-kata ini, segera berlutut seraya berkata, “Ya Tuhan! Syukur kepada-Mu, puji kepada-Mu, Tuhan mengasihi aku, Tuhan menyelamatkan aku!”, maka tahulah kita bahwa orang ini telah menjamah firman Allah, karena pada diri orang ini firman Allah itu hidup. Di samping orang ini ada orang lain lagi yang juga telah mendengar kata-kata ayat ini, bunyi ayatnya sama, tetapi ia hanya mendengar bunyinya dan tidak mendengar firman Allah, karena ketika ia mendengarkan kata-kata ini, ia tidak memiliki reaksi yang hidup. Firman Allah itu hidup, orang yang mendengarnya tetapi tidak hidup, berarti ia belum mendengar firman Allah. Kita tahu bahwa sarana Allah ialah firman-Nya dan firman ini hidup.
Firman Allah itu tidak saja hidup bahkan kuat (berkhasiat). “Hidup” itu ditujukan kepada sifat hakikinya. “Berkhasiat” ditujukan kepada firman itu mampu menggenapkan pada diri kita apa yang hendak Allah genapkan. Firman Allah sekali-kali tidak pernah ceroboh. Firman Allah melaksanakan apa yang dikehendaki untuk menghasilkan buah. Firman Allah bukannya setelah diucapkan lalu dilewatkan begitu saja, melainkan mendatangkan khasiat penggenapan bagi yang menerimanya.
Firman Allah itu hidup dan berkhasiat. Kalau begitu, apa yang dikerjakan firman atas diri kita? Firman Allah itu “menusuk amat dalam sampai memisahkan . . .” Firman Allah itu tajam, “lebih tajam daripada pedang bermata dua mana pun”. Tajamnya sampai bagaimana? Tajamnya sampai dapat menusuk amat dalam dan memisahkan jiwa dan roh, sendisendi dan sumsum. Dalam ayat ini ada suatu perbandingan, yaitu: tajamnya pedang bermata dua yang memisahkan sendi-sendi, sumsum, yang diperbandingkan dengan firman Allah yang memisahkan jiwa dengan roh. Sendi-sendi dan sumsum merupakan bagian terdalam pada tubuh manusia. Memisahkan sendi-sendi berarti memisahkan tulang-tulang bagian atas dengan tulang-tulang bagian bawahnya, sedang memisahkan sumsum berarti memisahkan isi tulang dengan tulangnya. Jadi pedang bermata dua yang tajam ini mampu memisahkan tulang atas dengan tulang bawahnya dan tulang bagian dalam dengan bagian luarnya. Pada tubuh kita secara fisik, pedang bermata dua yang tajam dapat memisahkan sendi-sendi dan sumsum, tetapi tidak mampu memisahkan roh dan jiwa; pedang itu tidak dapat mengatakan kepada kita, roh itu apa dan jiwa itu apa, juga tidak dapat menyebabkan kita mengenali mana yang berasal dari roh dan mana yang berasal dari jiwa. Alkitab menampakkan kepada kita akan adanya sesuatu yang mampu memisahkan roh dengan jiwa, yang jauh lebih tajam daripada pedang bermata dua mana pun, yaitu firman Allah. Firman Allah itu hidup, firman Allah itu berkhasiat, firman Allah mampu menusuk, firman Allah mampu memisahkan. Yang firman Allah tusuk bukan sendi-sendi, yang firman Allah pisahkan bukan sumsum. Yang firman Allah tusuk dan pisahkan ialah roh dan jiwa. Firman Allah mampu memisahkan roh dengan jiwa.
Mungkin ada orang bertanya, “Aku seperti tidak merasakan pekerjaan istimewa yang dilakukan oleh firman Allah. Entah berapa kali telah kudengar firman Allah, juga aku telah beroleh wahyu-Nya, tetapi aku juga tidak beroleh sesuatu yang istimewa. Aku tidak tahu apa yang dimaksud dengan menusuk, dan apa itu memisahkan. Firman Allah akan menusuk dan memisahkan roh dengan jiwa, ini aku tahu, tetapi dalam pengalamanku, aku tidak mengerti apa itu menusuk dan apa itu memisahkan.”
Dalam ayat tadi dikatakan, “ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dengan roh, sendi dan sumsum,” lalu apa yang dimaksud dengan “menusuk dan memisahkan jiwa dengan roh,” kata-kata berikutnya menerangkan “ia sanggup menilai pikiran dan niat hati kita.” Niat hati ialah apa-apa yang kita maksudkan dan yang hendak kita targetkan, sedang pikiran ialah apa-apa yang dipikir oleh hati kita. Jadi, firman Allah dapat menilai (membedakan) apa yang dipikir oleh hati kita dan dapat membedakan niat hati kita.
Sering kali kita bisa mengatakan, ini termasuk insan lahiriah, ini termasuk jiwa, ini termasuk tubuh daging, ini hanya hawa nafsu, ini berasal dari diri sendiri. Walaupun mudah kita mengatakannya, namun faktanya kita tidak nampak. Sampai pada suatu hari Allah membelaskasihani kita, menerangi kita, dengan serius dan tegas mengatakan, “Diri sendiri yang kamu ucapkan berkali-kali, justru itulah dia, itulah dirimu sendiri! Tubuh daging yang biasanya kamu bicarakan dengan sembarangan dan tanpa acuh, yang Allah benci, justru adalah yang tidak Allah biarkan begitu saja.” Ketika kita belum nampak, seolah-olah dengan bersenda gurau kita mengucapkan “tubuh daging”, tetapi ketika kita berada di bawah sorotan terang, kita akan rebah seraya berkata, “Inilah dia yang kukatakan tubuh daging.” Terpisahnya roh dengan jiwa bukan karena pengetahuan, melainkan karena adanya firman Allah yang menunjukkan kepada kita: “Pikiranmu demikian dan niat hatimu demikian”. Terpisahnya roh dengan jiwa terjadi karena penampakkan kita di dalam sorotan terang Allah, dan kita akan berkata, “Ah, sebenarnya pikiranku berasal dari tubuh daging. Sebenarnya aku berbuat demikian berasal dari tubuh daging, dan niat hatiku juga tubuh daging.”
Misalnya, ada dua orang dosa. Dua-duanya berdosa, tetapi keadaan mereka tidak sama. Yang satu seorang dosa yang berpengetahuan. Ia datang ke sidang. Di dalam sidang itu ia telah mendengar banyak pengajaran. Ia tahu bahwa semua orang berdosa. Orang begini berdosa, orang begitu berdosa. Kata-kata pengkhotbah amat jelas. Ia telah mendapatkan banyak pengetahuan. Ia pun mengaku dirinya sebagai orang dosa. Tetapi ketika ia mengaku dirinya sebagai orang dosa, nadanya sangat acuh tak acuh dan sama sekali tidak ada reaksi. Orang yang lain lagi, orang ini mendengarkan kata-kata yang sama, bersamaan dengan itu terang Allah menyorotinya, sehingga orang ini segera berlutut seraya berkata, “Ah! Aku ini justru yang dimaksud! Aku orang dosa!” Orang ini mendengar firman Allah yang mengatakan bahwa ia orang dosa, dan dia juga nampak bahwa dirinya memang orang dosa, sehingga ia memvonis dirinya adalah orang dosa, lalu berlutut dan rebah ke tanah. Orang yang disoroti terang Allah ini mampu bertelut mengaku dosa sehingga beroleh penyelamatan Allah. Orang yang mengaku dengan acuh tak acuh tadi, ia sendiri belum benar-benar nampak sehingga ia tidak beroleh selamat.
Hari ini Anda mendengar bahwa insan lahiriah kita merupakan suatu masalah serius, dan orang milik tubuh nafsani ini harus diremukkan. Kalau dengan sembarangan Anda mempergunakan kata-kata ini sebagai judul pembicaraan Anda, maka hal ini tidak berguna sedikit pun bagi Anda. Bila seseorang telah beroleh belas kasihan Allah, sehingga nampak terang Allah, maka ia akan berkata, “Ya Tuhan! Baru hari ini aku tahu diriku sendiri. Hari ini aku baru tahu inilah insan lahiriahku”. Begitu terang Allah menyoroti Anda dan menampakkan kepada Anda insan lahiriah Anda, Anda akan rebah ke tanah dan tidak dapat bangun, Anda pun segera nampak, sedemikianlah macam Anda ini. Semula Anda mengatakan Anda mengasihi Tuhan, tetapi begitu diterangi oleh terang Allah, Anda akan nampak bahwa keadaan sebenarnya tidaklah demikian; Anda hanya mengasihi diri sendiri. Begitu Anda diterangi oleh terang ini, terang ini akan memisahkan Anda. Bukan otak Anda yang memisahkan Anda, bukan doktrin yang memisahkan Anda. Terang Allahlah yang memisahkan Anda. Mulanya Anda mengatakan Anda bergairah, kini terang Allah menampakkan kepada Anda bahwa kegairahan Anda hanya merupakan tindakan di dalam tubuh nafsani. Mulanya Anda memberitakan Injil dengan mengira bahwa Anda mengasihi orang dosa, kemudian setelah terang Allah datang, nampaklah Anda bahwa pemberitaan Injil yang Anda lakukan berasal dari kegemaran Anda karena Anda memang suka berbicara dan merupakan kecenderungan Anda. Begitu terang Allah menerangi Anda, maka pikiran dan niat hati Anda akan disoroti dengan jelas. Pada mulanya Anda mengira bahwa pikiran dan niat hati Anda semuanya berasal dari Tuhan; setelah terang datang, jelaslah bahwa semuanya berasal dari diri Anda sendiri, bukan berasal dari Tuhan. Begitu terang datang menampakkan kepada Anda, Anda akan rebah bertelut di hadapan Allah.
Ada banyak hal yang kita sangka berasal dari Tuhan, faktanya berasal dari diri kita sendiri. Mulanya dengan sembarangan kita berkata, “ini bagi Tuhan, itu bagi Tuhan”, sampai suatu waktu, ketika terang datang, barulah kita sadar bahwa yang bagi Tuhan sangat sedikit, sebagian besar adalah bagi diri kita sendiri. Ada banyak pekerjaan yang kita katakan Tuhanlah yang mengerjakannya, tetapi faktanya kita sendirilah yang mengerjakannya. Banyak pengajaran yang kita katakan Tuhanlah yang memberikan kepada kita, tetapi ketika terang Allah menyoroti, hanya sebagian yang teramat kecil yang Tuhan katakan kepada kita, bahkan mungkin Tuhan sama sekali tidak mengatakannya. Banyak pekerjaan yang kita sangka Tuhan yang menyuruh kita melakukan, sewaktu terang surga datang, barulah kita nampak bahwa begitu banyak pekerjaan semuanya inisiatif tubuh nafsani kita belaka. Ketika keadaan sebenarnya ini kelihatan dan faktanya tertampil, jelaslah sudah berapa banyak yang berasal dari Tuhan, berapa banyak yang berasal dari jiwa, dan berapa banyaknya yang berasal dari roh. Begitu terang menyorot, roh dengan jiwa akan terpisah dan pikiran dan niat hati pun dapat dibedakan.
Hal ini tak dapat kita jelaskan dengan doktrin. Kalau kita hendak membedakan mana yang berasal dari diri sendiri, mana yang berasal dari Tuhan; mana yang berasal dari tubuh daging, mana yang berasal dari Roh Kudus; mana yang berasal dari tubuh nafsani, mana yang berasal dari kasih karunia Tuhan; apa itu yang diperbuat insan lahiriah, apa itu yang diperbuat insan batiniah; berdasarkan doktrin Anda menuliskannya dengan teliti dan terperinci pada selembar kertas, dan kemudian Anda menghafalkannya, Anda tetap takkan mengerti dengan jelas. Tindak-tanduk Anda masih tetap seperti semula, Anda tetap tidak bisa menyingkirkan insan lahiriah Anda, dan benda-benda itu senantiasa melekat pada diri Anda, Anda tidak berdaya menghindarinya. Anda bisa mengatakan bahwa tubuh daging tidak seharusnya ada, tubuh nafsani pun tidak seharusnya ada. Dengan fasih sekali Anda bisa berkata tubuh daging itu demikian, tubuh nafsani itu demikian, tetapi hal itu tidak akan menyebabkan Anda beroleh selamat. Keselamatan tidak datang dari hal itu. Keselamatan datang dari terang Allah. Begitu terang Allah menyoroti Anda, Anda segera nampak bahwa yang berkalikali menolak tubuh daging justru tubuh daging itu sendiri, dan yang berkali-kali mengkritik tubuh nafsani justru tubuh nafsani itu sendiri. Tuhan menyingkapkan pikiran hati Anda, Tuhan juga menyingkapkan niat hati Anda, demikian Anda nampak pikiran yang sesungguhnya dari hati Anda, dan nampak niat yang sesungguhnya dari hati Anda, sehingga Anda akan bertelut serta berkata, “Ya Tuhan, kini aku tahu inilah benda-benda milik insan lahiriah.” Saudara saudari, hanya terang inilah yang mampu memisahkan insan lahiriah kita. Terpisahnya insan lahiriah bukan karena penolakan kita, juga bukan karena dengan terpaksa kita tidak mau dia; semua ini tidak bisa diandalkan. Bahkan sering kali pengakuan dosa kita pun tidak murni. Cucuran air mata pengakuan dosa kita masih perlu diletakkan di dalam pembasuhan darah. Orang bisa sedemikian bodohnya sehingga berpikir, “Apa yang kurasa dalam benakku itulah semua yang kumiliki.” Tetapi dalam pandangan Allah tidaklah demikian.
Allah mengatakan bahwa firman-Nya hidup, firman-Nya berkhasiat, firman-Nya tajam. Ketika menusuk, firman-Nya dapat memisahkan roh dengan jiwa seperti pedang bermata dua yang tajam dapat memisahkan sendi-sendi dan sumsum. Bagaimana cara memisahkannya? Yaitu dengan cara menyingkapkan pikiran dan niat hati Anda. Tidak banyak orang yang mengenal hati mereka sendiri. Saudara saudari, hanya orang yang berada di bawah sorotan terang Allah yang bisa mengenal hatinya sendiri. Jika tidak berada di bawah sorotan terang Allah, tidak seorang pun bisa mengenal hatinya sendiri; seorang pun tidak ada! Kita sama sekali tidak mengenal hati kita sendiri. Hanya ketika firman Allah datang, barulah kita nampak, sebenarnya segala yang kita kerjakan adalah bagi diri kita sendiri, untuk kepuasan diri sendiri, untuk kemuliaan diri sendiri, untuk tuntutan diri sendiri, untuk mengagungkan diri sendiri, dan untuk membangun diri sendiri. Saudara saudari, begitu terang datang, diri kita akan tersingkap, diri sendiri akan mengerti dengan jelas, sehingga Anda akan bertelut di hadapan Allah.
BAGAIMANA BARU DISEBUT WAHYU
Ayat berikutnya dikatakan, “Tidak ada suatu makhluk pun yang tersembunyi di hadapan-Nya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia.” Di sini Tuhan menampakkan kepada kita standar yang Allah tentukan untuk menerangi kita, sehingga pikiran kita dapat dibedakan dengan niat hati kita. Lalu, bagaimana baru boleh disebut wahyu Roh Kudus? Kita harus nampak sampai ke tahap apa, baru dikatakan telah beroleh wahyu? Itulah yang dikatakan di dalam ayat 13 ini. Atau dengan kata lain, standar terang ialah standar Allah, dan wahyu ialah semua penglihatan kita di bawah standar Allah. Tidak ada suatu makhluk pun yang tersembunyi di hadapan-Nya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata-Nya. Wahyu berarti Allah membuka mata kita, sehingga kita bisa mengenali keadaan batin kita, bahkan mengenali pikiran lubuk hati kita, sebagaimana Allah mengenal kita. Sebagaimana diri kita terbuka telanjang di hadapan Allah, demikian pula diri kita terbuka telanjang di hadapan kita sendiri, setelah kita beroleh wahyu. Sebagaimana pada kita tidak ada yang tersembunyi di hadapan-Nya, begitu pula di depan kita sendiri tidak ada yang tersembunyi, setelah kita beroleh wahyu. Inilah yang dimaksud dengan wahyu. Beroleh wahyu berarti kita bisa melihat yang Tuhan lihat.
Bila Allah membelaskasihani kita, memberi kita sedikit saja wahyu, sehingga kita dapat melihat sedikit akan apa yang Dia kenali pada diri kita, dapat melihat keadaan kita sebenarnya di hadapan-Nya, maka kita akan segera rebah. Tidak perlu kita dengan sengaja merendah, dengan sendirinya kita akan rebah ke tanah. Orang yang berada di dalam terang, ingin sombong pun tidak dapat. Hanya orang yang berada di dalam kegelapan baru bisa sombong. Orang bisa sombong karena berada di luar terang. Semua orang yang berada di dalam terang, berada di dalam wahyu, pasti akan rebah.
Karena itu, berdasarkan doktrin membedakan mana yang rohani dan mana yang jiwani, apa yang diperbuat insan lahiriah dan apa yang diperbuat insan batiniah, sangatlah sulit; tetapi kalau kita memiliki wahyu, problem ini sangat sederhana. Asalkan Allah menyingkapkan pikiran dan niat hati Anda di depan Anda sehingga Anda melihatnya, maka terpisahlah segera roh dengan jiwa Anda. Kapankala Anda dapat membedakan pikiran dan niat hati Anda, pada waktu itu juga Anda mampu memisahkan roh dengan jiwa Anda.
Bila Anda ingin menjadi orang yang berguna di dalam tangan-Nya, lambat atau cepat Anda harus membiarkan terang ini menyoroti Anda. Juga, ketika terang ini menyoroti Anda, barulah Anda dihakimi Tuhan. Setelah Anda dihakimi, Anda baru dapat mengangkat kepala serta berkata, “Ya Tuhan, aku sama sekali tidak dapat diandalkan. Ketika aku menegur diri sendiri, juga masih tidak tepat. Bahkan ketika aku mengaku dosa pun, masih tidak tahu dosa apa yang kuakui. Ketika aku berada di dalam terang-Mu, barulah aku tahu!” Sebelum Anda beroleh terang, walaupun Anda mengaku sebagai orang dosa, tetapi Anda sedikit pun tidak memiliki perasaan sebagai orang dosa. Walaupun Anda mengatakan benci diri, tetapi Anda sedikit pun tidak memiliki perasaan benci diri. Walaupun Anda mengatakan menolak diri tetapi Anda sedikit pun tidak mempunyai perasaan menolak diri. Ini semua perlu Tuhan terangi. Begitu terang menyoroti Anda, tersorotlah keadaan Anda yang sebenarnya, sehingga Anda akan mengaku, “Ah! Sebenarnya seumurku hanya mengasihi diri sendiri, tidak mengasihi Tuhan. Sebenarnya aku seorang penipu diri, juga seorang penipu Tuhan. Aku bukan orang yang mengasihi Tuhan.” Terang ini menampakkan kepada Anda bagaimana keadaan Anda sebenarnya, dan menampakkan kepada Anda akan apa yang Anda lakukan pada waktu yang sudah-sudah. Mulai saat itulah Anda baru mengerti mana yang berasal dari roh dan mana yang berasal dari jiwa. Dan hanya sejak saat itulah baru Anda sadar dari dalam bahwa begitu banyak benda dan pekerjaan berasal dari diri Anda sendiri. Orang yang sudah melewati penghakimanlah yang baru mengerti hal ini. Kalau tidak dihakimi di dalam terang, belajar pun tidak akan bisa. Setelah Allah dengan terang yang hebat menyoroti Anda, barulah Anda nampak inilah jiwa Anda. Penghakiman terang menyebabkan Anda bisa membedakan dengan jelas insan batiniah dengan insan lahiriah. Ketika Anda membedakan insan batiniah dengan insan lahiriah, saat itu pula roh Anda terpisah dengan jiwa Anda.
Yang Tuhan kerjakan atas diri kita ialah dengan terang yang tidak ada bandingannya sekali menyoroti kita. Mungkin ketika kita sedang mendengarkan khotbah, mungkin ketika kita sedang berdoa, mungkin ketika kita sedang bersekutu dengan saudara lain, mungkin ketika kita sedang berjalan. Sekali terang yang tidak ada bandingannya itu menyoroti kita, kita akan nampak berapa banyak yang berasal dari diri kita sendiri. Ketika kita ditaruh di dalam terang yang maha dahsyat ini, barulah kita tahu bahwa dalam seumur hidup kita, apa-apa yang berasal dari Tuhan itu sangatlah sedikit. Ditinjau dari aspek mana saja, semuanya berasal dari diri sendiri, yang aktif diri kita sendiri, yang bekerja diri kita sendiri, yang berjerih payah diri kita sendiri, yang bergairah diri kita sendiri, yang berkhotbah diri kita sendiri, yang membantu saudara saudari diri kita sendiri, yang memberitakan Injil juga diri kita sendiri.
Ketika terang menyoroti Anda. Anda baru tahu, bahwa diri Anda itu sudah merajarela. Anda baru tahu bahwa diri Anda itu sudah meluas dan Anda baru tahu berapa banyak yang tercakup di dalam diri Anda. Diri Anda yang dulu tersembunyi kini tersingkap dengan jelas; diri Anda yang dulu tidak Anda rasakan itu, kini terasa sekali. Sekarang Anda sadar betapa luasnya ruang lingkup diri Anda dan betapa banyaknya perkara yang diri Anda lakukan. Anda mengira apa yang Anda lakukan dulu Anda lakukan demi nama Tuhan, Kini Anda tahu bahwa semuanya itu berasal dari diri Anda sendiri. Begitu Anda nampak ini, dengan sendirinya Anda akan memvonis insan lahiriah itu dosa. Hanya dengan penampakan dalam terang baru Anda bisa menghakimi. Sekali Anda telah nampak dalam terang, bila ada masalah, perkataan atau pikiran hati yang prinsipnya sama dengan yang pertama, Anda tahu bahwa pada pertama kali Anda ditanggulangi ialah di dalam ini, sehingga Anda segera menolaknya. Bila Anda pernah sekali dihakimi di dalam terang, Anda segera akan menghakimi urusan yang sama walau baru terlihat tunas masalahnya. Setelah Anda melalui terang ini baru Anda bisa memisahkan roh dengan jiwa. Sebelum tersoroti terang ini, segala yang Anda miliki hanyalah doktrin. Seperti seorang berdosa yang dengan sambil lalu mengatakan bahwa ia berdosa. Tanpa terang, bahkan penanggulangan Anda pun sia-sia. Hanya penanggulangan dalam teranglah yang akan berfaedah. Ketika Anda hidup sedemikian di hadapan Allah, roh Anda mampu keluar dan murni sehingga Tuhan tidak menemui suatu kesulitan untuk memakai Anda.
Roh dapat terpisah dengan jiwa melalui sorotan terang. Apakah yang dimaksud dengan sorotan terang? Semoga Allah membelaskasihani kita agar kita nampak apa yang dimaksud dengan sorotan terang. Sorotan terang ialah sesuatu yang menyebabkan kita melihat apa yang Allah lihat. Apa yang Allah lihat? Yang Allah lihat ialah apa yang tidak kita lihat. Apakah yang tidak kita lihat? Yang tidak kita lihat ialah apa yang berasal dari diri kita sendiri, tetapi kita anggap berasal dari Allah. Sorotan terang menampakkan kepada kita, betapa banyaknya perkara dan benda dalam kehidupan kita yang kita anggap berasal dari Allah, tetapi pada faktanya berasal dari diri sendiri. Sorotan terang menyebabkan kita nampak berapa banyak hal atau benda yang dulu kita anggap lumayan, hari ini semuanya menjadi tidak lumayan; yang semula kita anggap benar, sekarang semuanya menjadi tidak benar; yang semula kita anggap rohani, sekarang semuanya menjadi jiwani; yang semula kita anggap berasal dari Allah, sekarang semuanya menjadi dari diri sendiri. Sampai saat inilah baru kita bisa berkata kepada Tuhan, “Tuhan, baru sekarang aku mengenali diriku sendiri. Aku ini orang buta. Buta selama dua puluh tahun, selama tiga puluh tahun, tanpa mengerti. Apa yang Engkau lihat, tidak aku lihat.”
Penglihatan itulah yang menyingkirkan barang-barang Anda itu. Penglihatan itulah penanggulangan. Jangan mengira penglihatan itu suatu masalah, sedang penanggulangan itu suatu masalah lain. Firman Allah berkhasiat. Begitu firman Allah menyoroti Anda, insan lahiriah Anda akan tersingkir. Bukannya setelah mendengar firman Allah, kemudian melaksanakannya perlahan-lahan. Bukannya terang Allah menyebabkan Anda melihat, kemudian membuat Anda menyingkirkan barang-barang yang Anda lihat itu; bukannya melihat adalah satu langkah dan menyingkirkan apa yang kita lihat juga adalah satu langkah. Sorotan terang itulah penyingkiran. Penyorotan dan penyingkiran itu terjadi serentak. Begitu terang menyoroti, matilah tubuh daging. Tubuh daging kita tidak mampu hidup begitu diletakkan di bawah terang. Begitu kita menjumpai terang ini, tidak perlu kita merendah, sudahlah rebah. Tubuh daging orang yang berada di bawah terang, menjadi layu. Saudara saudari, inilah khasiat. Firman Allah itu hidup, firman Allah itu berkhasiat. Bukannya setelah Allah berfirman, lalu Anda nantikan dan Anda sendiri yang menghasilkan khasiat, justru firman inilah yang berkhasiat atas diri Anda.
Semoga Tuhan mencelikkan mata kita, agar kita nampak akan dua aspek masalah ini, yaitu aspek pengaturan Roh Kudus dan aspek wahyu. Berpadunya dua aspek ini menanggulangi insan lahiriah kita. Semoga Allah merahmati kita, agar kita mau meletakkan diri kita di bawah terang Allah. Semoga terang ini sekali menyoroti kita, agar kita bisa rebah dan kita bisa berkata kepada Tuhan, “Tuhan betapa bodohnya aku ini. Aku buta. Buta sedemikian rupa sehingga bertahun-tahun selalu menganggap milik diriku ini milik-Mu. Ya Tuhan! Kasihanilah aku ini!”