← Daftar isi Remuknya Insan dan Keluarnya Roh · bab 6/9

PEREMUKAN DAN PENGATURAN PERSEMBAHAN DIRI DAN PENGATURAN

Bila kita ingin insan lahiriah kita diremukkan, perlu ada persembahan diri di hadapan Tuhan. Tetapi ini tidak berarti bahwa persembahan diri kita itu telah menyelesaikan seluruh masalah. Persembahan diri itu hanya merupakan pernyataan di pihak kita yang menyatakan bahwa tanpa syarat, tanpa sisa, dan tanpa pilihan kita telah mempersembahkan diri kepada Allah. Boleh saja dalam waktu lima menit atau satu menit kita menyerahkan diri ke dalam tangan Allah, tetapi ini tidak berarti bahwa dalam lima menit atau satu menit itu Allah telah menanggulangi kita secara tuntas. Kerelaan kita mempersembahkan diri baru merupakan langkah pertama jalan kerohanian kita, bukan berarti Allah telah merampungkan pekerjaan-Nya atas diri kita. Karena itu, bisa tidaknya seseorang dipakai Allah, persembahan diri bukan merupakan syarat keseluruhan; setelah ada persembahan diri masih perlu adanya pengaturan Roh Kudus. Pengaturan Roh Kudus merupakan suatu masalah yang amat penting, ini sangat berkaitan dengan dapat tidaknya kita dipergunakan Allah. Persembahan diri kita perlu ditambahi dengan pengaturan Roh Kudus, barulah bejana itu bisa berguna. Tanpa persembahan diri, pengaturan Roh kudus sering menemui banyak kesulitan, tetapi persembahan diri juga tidak bisa mewakili pengaturan Roh Kudus. Karena itu, kita perlu memperhatikan pengaturan Roh Kudus.

Di dalam terang yang kita peroleh, kita menyerahkan diri kepada Allah, itulah persembahan diri. Roh Kudus di dalam terang Allah datang menanggulangi kita, itulah pengaturan Roh Kudus. Persembahan diri kita lakukan hanya seturut pengertian dan penampakan mata rohani kita. Berapa besar lingkupan persembahan diri kita, kita sendiri tidak tahu. Kita bukanlah orang-orang yang memiliki terang tanpa batas. Terang yang kita miliki sangat terbatas. Pada waktu kita merasa beroleh terang yang paling besar, dari pandangan Allah mungkin itu masih merupakan kegelapan. Bersandarkan terang diri sendiri melakukan persembahan, mempersembahkan diri kepada Allah, selamanya takkan bisa memuaskan tuntutan Allah. Dengan kata lain, tuntutan Allah jauh melampaui apa yang dapat kita persembahkan. Persembahan diri kita tidak mampu memuaskan hati Allah, karena yang kita ketahui sangat terbatas dan terang kita pun sangat terbatas. Tetapi ini berbeda sama sekali dengan pengaturan Roh Kudus. Di dalam terang-Nya sendiri Allah melihat apa keperluan kita, itulah pengaturan Roh Kudus. Bukan kita yang melihat, melainkan Allah yang melihat. Allah mengerti apa yang kita perlukan, lalu melalui suasana sekeliling kita, Allah dengan Roh-Nya mengatur suatu peristiwa menimpa kita untuk meremukkan dan membongkar insan lahiriah kita. Karena itu, pengaturan Roh Kudus jauh melampaui persembahan diri kita, entah sampai berapa kali lipat. Di antara keduanya ada perbedaan yang sangat besar.

Pekerjaan Roh Kudus didasarkan pada terang Allah. Pekerjaan Roh Kudus terlaksana seturut apa yang dilihat Allah, karena hanya pengaturan Roh Kuduslah yang tuntas dan sempurna. Kita semua tidak tahu, peristiwa apa yang akan menghadang kita. Bahkan ketika kita memilih yang terbaik, masih saja banyak kesalahan. Apa yang kita anggap sebagai keperluan kita, sering kali bukan yang dianggap Allah perlu bagi kita. Apa yang kita lihat, mungkin hanya satu per selaksanya; tetapi apa yang Roh Kudus sediakan, diatur seturut terang Allah. Pengaturan yang disediakan Roh Kudus, jauh melampaui apa yang kita pikirkan. Sering kali, karena kita tidak siap menerima suatu pengaturan, dan kita mengira tidak memerlukannya, maka pada saat pengaturan Roh Kudus menimpa diri kita, kita merasa terkejut. Apa yang diatur Roh Kudus bagi kita dalam suasana sekeliling kita tak dapat kita duga sebelumnya. Sering kali pengaturan Roh Kudus datangnya mendadak, seolah-olah Allah tidak memberi tahu kita terlebih dulu, tahu-tahu memberikan suatu pukulan yang lumayan beratnya. Kita sendiri mengira sudah hidup di dalam terang, tetapi Allah memandang itu sangat kecil dan lemah, bahkan bukan terang. Sebaliknya, Roh Kudus menanggulangi kita dengan terang Allah. Kita mengira sudah mengenal keadaan diri sendiri, tetapi nyatanya kita belum mengenal. Hanya Allahlah yang mampu mengenal keadaan kita. Sejak kita menerima Dia, Dia sudah menyediakan peristiwa-peristiwa yang perlu kita temui. Segala peristiwa yang disediakan-Nya merupakan faedah besar bagi kita. Karena Dia mengenal kita, Dia tahu keperluan kita.

Pekerjaan Roh Kudus atas diri kita mempunyai aspek positif dan aspek negatif, mempunyai aspek yang membangun juga aspek yang membongkar. Sejak kita dilahirkan kembali, Roh Kudus sudah tinggal di dalam kita, tetapi insan lahiriah kita yang menyebabkan-Nya tidak bebas, seperti orang yang mengenakan sepatu yang keras dan sesak, sehingga tidak bisa melangkah. Insan lahiriah mempersulit insan batiniah, sehingga insan batiniah tidak bisa mengendalikan insan lahiriah. Karena itu, sejak kita beroleh selamat, Allah akan menanggulangi insan lahiriah kita, meremukkan insan lahiriah kita. Allah menanggulangi insan lahiriah kita tidak dengan cara yang kita anggap perlu, melainkan menurut pandangan Allah. Bagian mana pada diri kita yang sangat kuat menonjol, dan bagian mana yang menyebabkan insan batiniah kita tidak bisa mengendalikan insan lahiriah kita, bagian itulah yang akan ditanggulangi-Nya.

Cara Roh Kudus meremukkan insan lahiriah kita bukan dengan menguatkan insan batiniah kita, juga tidak dengan memberikan lebih banyak karunia kepada insan batiniah kita. Ini bukan berarti bahwa insan batiniah kita tidak perlu diperkuat, melainkan berarti dalam menanggulangi insan lahiriah Allah mempunyai cara lain. Melalui perkara-perkara di luar, Roh Kudus membuat insan lahiriah kita menjadi lemah. Bila insan batiniah yang disuruh menanggulangi insan lahiriah, sungguh amat sulit, karena sifat hakiki keduanya tidak sama. Insan batiniah tidak mudah melukai insan lahiriah; insan batiniah tidak mudah memukul insan lahiriah. Tetapi insan lahiriah justru mempunyai sifat hakiki yang sama dengan perkara-perkara di luar, sehingga insan lahiriah mudah sekali dipengaruhi oleh perkara-perkara di luar.

Dalam Alkitab dikatakan, “Bukankah burung pipit dijual dua ekor seharga satu receh terkecil?” (Mat. 10:29). Dikatakan lagi, “Bukankah lima ekor burung pipit dijual seharga dua receh terkecil?” (Luk. 12:6). Satu receh dapat dua ekor, dua receh dapat lima ekor, betapa murahnya. Lagi pula beli empat ekor ditambahi satu ekor, yang satu ekor ini tak usah bayar. “Namun, seekor pun tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapa” (Mat. 10:29). Dalam Alkitab dikatakan, “Rambut kepalamu pun terhitung semuanya” (Mat. 10:30). Kata “terhitung” menurut terjemahan yang tepat seharusnya “telah diberi tanda”. Tidak saja setiap batang rambut kita telah Dia hitung, bahkan setiap helai telah Dia tandai. Maka tahulah kita bahwa segala peristiwa yang menimpa orang Kristen, diatur oleh Allah, tidak ada satu pun yang menimpa kita secara kebetulan. Allah ingin kita nampak bahwa segala sesuatu itu berada di bawah pengaturan-Nya.

Allah mengatur segalanya berdasarkan keperluan kita menurut apa yang diketahui-Nya. Dia tahu apa yang mendatangkan faedah bagi insan batiniah kita dan yang mampu membongkar bersih insan lahiriah kita. Karena Allah tahu perkara luaran apa yang mampu membongkar insan lahiriah kita, maka Dia mengizinkan perkara itu sekali, dua kali, bahkan tiga kali menimpa kita. Patutlah Anda nampak bahwa peristiwa-peristiwa atau perkara-perkara yang menimpa Anda lima atau sepuluh tahun yang silam, semuanya diatur Allah untuk mendidik Anda. Bila Anda menggerutu dan mengatakan bahwa si Anu yang mencelakai Anda, itu berarti Anda sama sekali tidak mengenal tangan Allah; bila Anda merasa nasib Anda yang tidak baik, itu berarti Anda sama sekali tidak mengenal pengaturan Roh Kudus. Ketahuilah, setiap perkara yang menimpa diri kita adalah pemberian Allah, setelah Dia takar baik-baik dengan tangan-Nya, dan sangat berguna bagi kita. Kita sendiri mungkin tidak mau memilihnya, tetapi Allah tahu bahwa yang ini sangat bermanfaat bagi kita. Kalau bukan Allah yang menyediakan pengaturan-pengaturan itu, entah kita sudah jatuh ke dalam keadaan yang bagaimana. Semua pengaturan-Nya menjaga kita selalu bersih, menaruh kita pada jalan-Nya. Pengaturan-pengaturan itu adalah yang paling baik, Allah tidak dapat memberikan yang lebih baik daripada yang itu. Ketika menerima pengaturan-pengaturan itu banyak orang yang tidak bisa taat, malah menggerutu, hati melawan, ini merupakan suatu sikap yang bodoh. Ingatlah, itu semua ditakar Roh Kudus untuk diberikan kepada kita. Semuanya pasti yang terbaik.

Begitu seseorang beroleh selamat, mulailah Roh Kudus mengerjakan perkara-perkara itu. Namun Roh Kudus masih perlu menunggu sampai waktu tertentu, baru bisa dengan leluasa melaksanakan perkara-perkara itu. Kapan Roh Kudus bisa bekerja dengan leluasa? Bila orang mempersembahkan diri. Sejak hari pertama orang beroleh selamat, mulailah Roh Kudus memberikan pengaturan. Sejak hari pertama kita mempersembahkan diri, mulailah Roh Kudus dengan leluasa memberikan pengaturan kepada kita. Setelah seseorang beroleh selamat, walaupun belum mempersembahkan diri, masih mencintai diri sendiri, hati kasih terhadap Tuhan masih sangat tipis, namun kita tidak dapat mengatakan bahwa pengaturan Roh Kudus tidak ada pada dirinya. Roh Kudus sudah mengaturnya, dengan bermacam-macam peristiwa, Roh Kudus berusaha membawa dia ke hadapan Allah dan berusaha menghancurkan insan lahiriahnya. Hanya saja, pada orang yang belum mempersembahkan diri, Roh Kudus tidak dapat bekerja dengan leluasa. Ketika seseorang mendapat sorotan Allah sehingga rela mempersembahkan diri kepada Allah, barulah Roh Kudus bisa bekerja dengan leluasa. Setelah Anda mencapai suatu situasi dan merasa bahwa Anda tidak bisa lagi hidup bersandar diri sendiri, tidak bisa lagi hidup untuk diri sendiri, maka di dalam terang Anda yang sangat lembut itu, Anda datang ke hadapan Allah serta berkata, “Ya Allah, baik hidup atau mati, aku persembahkan diriku kepada-Mu”. Demikian, pekerjaan Roh Kudus atas diri Anda akan diperkuat. Mempersembahkan diri itu sangat penting. Mempersembahkan diri menyebabkan Roh Kudus bisa bekerja dengan leluasa tanpa hambatan. Karena itu, janganlah Anda heran mengapa setelah Anda mempersembahkan diri, banyak peristiwa yang Anda alami justru di luar rencana Anda. Sebabnya tidak lain, karena tanpa syarat Anda telah mempersembahkan diri kepada Tuhan, dengan mengatakan, “Tuhan! seturut pandangan-Mu, genapkanlah perkara yang paling bermanfaat atas diriku.” Setelah demikian Anda mempersembahkan diri, dengan leluasa Roh Kudus bekerja di atas diri Anda. Kalau kita tidak ingin berjalan pada jalan Tuhan, kita boleh semau kita, tetapi kalau kita ingin berjalan pada jalan Tuhan, kita mutlak perlu memperhatikan pekerjaan pengaturan Roh Kudus.

JALAN TERUNGGUL MENERIMA KARUNIA

Sejak hari pertama orang Kristen beroleh selamat, tidak putus-putusnya Allah memberi karunia kepadanya, untuk membina dia. Banyak cara untuk memperoleh karunia dari Allah. Cara-cara itu saya sebut “jalan menerima karunia”. Berdoa merupakan salah satu cara untuk menerima karunia. Melalui berdoa kita boleh datang ke hadapan Allah untuk menerima karunia. Melalui mendengarkan khotbah kita terbawa ke hadapan Allah untuk menerima karunia.

“Jalan menerima karunia” merupakan satu ungkapan yang bagus, ratusan tahun sudah gereja menggunakan ungkapan ini. Kita perlu memiliki “jalan menerima karunia” untuk menerima karunia. Sejak kita menjadi orang Kristen, kehidupan sehari-hari kita selalu merupakan jalan menerima karunia. Ini berarti ketika kita bersidang, mendengarkan khotbah, berdoa, kita begini atau begitu, dari semua itu kita bisa mendapatkan karunia. Di sini kita perlu memperhatikan satu hal, yaitu ada satu jalan terunggul menerima karunia yang tidak boleh kita lalaikan, itulah pengaturan Roh Kudus. Boleh dikatakan bahwa di dalam kehidupan orang-orang Kristen, sebagian besar jalan menerima karunia yang mereka alami ialah pengaturan Roh Kudus. Doa Anda, pembacaan Alkitab Anda, sidang Anda, pendengaran khotbah Anda, penantian Anda, renungan Anda, puji-pujian Anda, segala macam jalan menerima karunia Anda, semuanya tidak dapat melampaui jalan menerima karunia pengaturan Roh Kudus. Di antara demikian banyak jalan menerima karunia yang Allah berikan kepada kita, tidak ada satu pun yang lebih penting daripada pengaturan Roh Kudus. Pengaturan Roh Kudus merupakan jalan terunggul menerima karunia.

Kalau kita melihat kembali jalan menerima karunia yang kita miliki, kita akan mengetahui berapa panjangnya jalan yang kita tempuh di hadapan Allah. Kalau kemajuan rohani kita hanya bersandar doa, atau hanya bersandar mendengar khotbah, atau hanya bersandar membaca Alkitab, kalau jalan menerima karunia kita hanya itu-itu saja, berarti kita telah kehilangan jalan menerima karunia yang paling penting. Segala peristiwa yang kita alami setiap hari, baik di dalam keluarga, di sekolah, di perusahaan, maupun ketika kita sedang berjalan di tengah jalan, semua adalah pengaturan Roh Kudus, agar kita beroleh bantuan yang paling baik dan beroleh faedah terunggul. Kalau kita tidak memperoleh faedah-faedah ini, tidak mengerti jalan terunggul menerima karunia ini, tidak menerima jalan terunggul menerima karunia ini, kita akan menderita kerugian yang amat besar.

Pengaturan Roh Kudus itu amat penting, merupakan jalan menerima karunia yang paling utama dalam kehidupan orang Kristen. Membaca Alkitab tidak dapat menggantikan pengaturan Roh Kudus. Berdoa tidak dapat menggantikan pengaturan Roh Kudus. Bersidang tidak dapat menggantikan pengaturan Roh Kudus. Aneka ragam jalan menerima karunia tidak dapat menggantikan pengaturan Roh Kudus. Memang kita perlu sekali berdoa, membaca Alkitab, mendengarkan khotbah. Kita perlu aneka ragam jalan menerima karunia, karena semuanya memang bagaikan mustika yang amat berharga. Tetapi di antara semuanya itu tidak ada satu pun yang mampu menggantikan pengaturan Roh Kudus. Kalau di dalam hal pengaturan Roh Kudus ini kita tidak belajar, kita pasti tidak akan bisa menjadi orang Kristen yang baik, juga tidak akan dapat melayani Allah.

Mendengarkan khotbah dapat menyebabkan di dalam kita beroleh perawatan, berdoa dapat menyebabkan kita beroleh kesegaran, membaca firman Allah dapat menyebabkan di dalam kita terdiris, membantu orang lain dapat menyebabkan roh kita beroleh kebebasan. Tetapi, bila insan lahiriah kita masih tetap demikian kuat, maka ketika orang menjamah kita, orang itu akan menjamah sesuatu yang campur aduk dan akan merasa bahwa kita tidak murni. Selain merasakan kegairahan kita, orang itu akan merasakan ketidakmurnian kita. Selain merasakan kita ini memang mengasihi Tuhan, ia pun merasa bahwa kita masih sangat mengasihi diri sendiri. Selain merasakan adanya seorang saudara yang bagaikan mustika, ia pun merasakan adanya seorang saudara yang keras kepala, yang insan lahiriahnya belum terbongkar. Kita beroleh pembinaan bukan hanya dari mendengarkan khotbah, bukan hanya dari berdoa, bukan hanya dari membaca Alkitab; pembinaan terbesar kita peroleh dari pengaturan Roh Kudus.

Karena itu, pada pihak kita, kita perlu melakukan persembahan diri yang mutlak, tetapi jangan mengira bahwa persembahan diri bisa menggantikan pengaturan Roh Kudus. Ketahuilah persembahan diri itu memberi kesempatan kepada Roh Kudus untuk bekerja dengan leluasa. Anda berkata, “Tuhan! Kuserahkan diriku ke dalam tangan-Mu, semoga Dikau bekerja dengan bebas. Apa yang Kau anggap keperluanku, berilah seturut kehendak-Mu.”

Jika kita bisa mematuhi pengaturan Roh Kudus, kita akan beroleh manfaat. Jadi, kepatuhan inilah yang mendatangkan faedah. Kalau kita tidak mau tunduk dan selalu berselisih pendapat dengan Allah, bekerja dengan mengandalkan diri sendiri, maka bagaimanapun kita berusaha, jalan kita tidak akan pernah lurus. Pada pihak kita, problem yang asasi ialah bisa tidaknya kita tanpa syarat, tanpa batas dan tanpa sisa menyerahkan diri kepada Allah, agar Allah bisa menanggulangi kita dengan leluasa. Jika kita mengerti bahwa segala pengaturan Allah itu berfaedah terunggul bagi kita, bahkan sesuatu yang sangat menyusahkan perasaan kita pun merupakan faedah bagi kita, maka kita akan rela menyerahkan diri kepada Allah. Kita akan nampak bahwa Roh Kudus akan memakai berbagai peristiwa untuk menanggulangi insan kita ini.

BERBAGAI MACAM PENANGGULANGAN

Ada orang yang atas hal-hal tertentu tidak beroleh kebebasan, dan Tuhan justru khusus menanggulangi dia pada hal-hal tersebut. Satu per satu Tuhan menanggulanginya, sampai dalam hal pakaian, makanan, dan minuman yang sepertinya merupakan hal sepele, Allah tidak melonggarkan penanggulangan-Nya. Roh Kudus itu sangat cermat, tidak akan melalaikan hal yang terkecil sekali pun. Anda dengan tidak sadar mencintai sesuatu, tetapi Dia tahu, Dia akan menanggulangi, menanggulanginya dengan cermat sekali. Hingga suatu hari, barang itu teruntukkan, barulah Anda terbebaskan, mutlak leluasa. Ada banyak orang yang telah ditanggulangi Roh Kudus atas berbagai hal. Hal-hal yang justru mereka mustikakan, satu per satu akan Tuhan tanggulangi tanpa kelonggaran. Dalam menanggulangi semuanya itu, kita nampak kecermatan Roh Kudus. Urusan-urusan yang tidak sampai kita pikirkan, bahkan yang telah kita lupakan, tidak akan dilupakan-Nya. Allah bekerja secara tuntas. Sebelum tuntas, Allah tidak akan berhenti bekerja. Sebelum tuntas, Allah tidak akan puas. Kadang-kadang Allah menanggulangi Anda dengan perantaraan orang lain. Allah menyuruh orang yang tidak Anda senangi, atau orang yang kepadanya Anda menaruh rasa benci, atau orang yang kepadanya Anda tidak mau memandang dengan sebelah mata, juga sering kali mengatur orang-orang yang Anda kasihi, untuk menanggulangi Anda. Sebelum Anda ditanggulangi, Anda masih tidak menyadari keadaan diri sendiri betapa najis dan betapa kompleks. Sebelumnya, Anda masih mengira bahwa Anda telah mutlak bagi Tuhan. Setelah menerima pengaturan Roh Kudus, barulah Anda tahu betapa besarnya pengaruh perkara-perkara luaran pada diri Anda.

Kadang-kadang Dia menanggulangi angan-angan kita, karena angan-angan kita kacau-balau, angan-angan kita sangat liar, angan-angan kita mengandalkan diri sendiri, anganangan kita tidak terkendali; sering sok pintar, merasa tahu segala, sering merasa lebih pandai daripada orang lain. Dengan alasan-alasan ini Tuhan membiarkan kita tersandung hingga jatuh, jatuh berkali-kali, agar kita tidak berani dengan ceroboh menggunakan angan-angan kita. Kalau kita benar-benar telah beroleh karunia-Nya, kita akan takut menghadapi angan-angan kita sendiri seperti menghadapi api. Begitu tangan kita tersentuh api, segera akan kita tarik, begitu kita terbentur pada angan-angan kita sendiri, juga segera kita tarik kembali sambil berkata, “Ini bukan yang seharusnya kupikirkan, aku takut terhadap angan-anganku.”

Atau sering juga Allah dengan berbagai pengaturan menanggulangi emosi kita. Ada orang yang emosinya sangat peka, ketika ia merasa senang, tidak ada orang yang dapat meredakannya; sebaliknya, ketika ia merasa gundah-gulana, tidak ada seorang pun yang dapat menghiburnya, seluruh dirinya hidup di dalam emosinya. Kalau ia sebal, Anda tak berdaya menyuruh dia bernyanyi; kalau ia merasa senang, Anda tak berdaya menyuruh dia bersikap serius. Sukacita membawa dia berlena-lena, kesebalan membawa dia bermalas-malasan. Orang ini sama sekali dikendalikan oleh emosinya. Ketika ia hidup di dalam emosinya, ia mengira bahwa emosinya itu benar. Karena itu, dengan bermacammacam suasana Allah menanggulangi emosinya, agar ketika duka tidak berani gundah, ketika senang juga tidak berani bersukacita, sehingga ia hanya dapat hidup bersandarkan karunia Allah dan belas kasihan Allah, tidak dapat hidup bersandar emosinya.

Ada orang yang kesulitannya teristimewa terletak pada angan-angannya, ada lagi yang terletak pada emosinya. Orang yang memiliki angan-angan atau emosi yang abnormal ini tidak sedikit, namun tidak setiap orang memilikinya. Kesulitan terbesar dan yang paling umum terletak pada tekad. Karena tekad kita tidak ditanggulangi, maka emosi kita menjadi suatu kesulitan; karena akarnya ada pada tekad kita. Demikian juga karena tekad kita tidak ditanggulangi, maka angan-angan kita menjadi suatu kesulitan, karena akarnya juga ada pada tekad kita.

Mulut kita bisa saja dengan mudah berkata, “Ya Tuhan, janganlah seturut mauku, tetapi seturut mau-Mu saja,” tetapi begitu kita menemui urusan, ada berapa kalikah kita mau membiarkan Tuhan berperan sebagai Tuan? Orang yang makin tidak mengenal diri sendiri, makin mudah mengatakan kata-kata ini. Orang yang makin tidak mendapat sorotan terang dari Allah, makin merasa betapa mudahnya patuh kepada Allah. Makin murah kita mengucapkan kata-kata, makin terlihat bahwa kita ini belum pernah mengeluarkan harga. Orang yang kata-katanya sangat mesra, mungkin sangat berjauhan dengan Allah. Tanpa terang, orang mudah mengucapkan kata-kata mesra, tetapi faktanya entah berapa jauhnya ia meninggalkan Allah. Perlu menerima penanggulangan Allah, barulah ia sungguh-sungguh nampak betapa degilnya dia, betapa mudahnya dia mengetengahkan opini-opini.

Allah mau menanggulangi tekad kita, agar manusia kita ini menjadi lemah lembut dan penurut. Ada orang yang tekadnya sangat keras, ia sangat percaya diri sendiri, ia merasa pandangannya selalu benar, perasaannya selalu benar, akalnya selalu jitu, dan pendapatnya tidak pernah meleset. Ada beberapa karunia yang Paulus peroleh di hadapan Allah, di antaranya ada satu yang paling penting, ialah yang tercatat dalam surat Filipi, “tidak bersandar pada tubuh daging”. Artinya, aku tidak lagi percaya pada tubuh dagingku. kita juga akan dibawa oleh Allah sampai ke suatu posisi, di mana kita tidak berani lagi mempercayai keputusan diri sendiri; Allah membiarkan kita terus-menerus salah, sampai sedemikian rupa sehingga tak dapat tidak kita mengaku, “yang sudah-sudah aku telah salah, yang akan datang pun masih akan selalu salah lagi, aku sungguh memerlukan karunia Tuhan.” Sering kali karena keputusan Anda sendiri, Allah membiarkan Anda memetik hasil yang sangat serius. Anda memutuskan suatu masalah, akibatnya gagal; memutuskan suatu masalah lagi, gagal juga; bahkan gagal secara mengerikan, sampai-sampai tidak tahu harus bagaimana membenahinya. Allah membiarkan Anda terpukul sekali demi sekali, sedemikian rupa sehingga ketika Anda ingin mengambil keputusan lagi, Anda akan berkata, “Ya Tuhan, aku takut akan keputusanku, bagaikan takut akan neraka dan tasik api. Aku takut keputusanku mengandung penyakit, pandanganku mengandung penyakit, dan akalku pun mengandung penyakit. Ya Tuhan, aku selalu bisa salah, aku orang yang salah! Ya Tuhan, jika Engkau tidak membelaskasihani aku, jika Engkau tidak memapah aku, jika tangan-Mu tidak menahan aku, aku pasti salah!” Demikianlah insan lahiriah Anda mulai dibongkar, sehingga Anda tidak berani percaya diri sendiri. Sering kali keputusan kita terlalu serampangan, pandangan kita terlalu sederhana; tetapi setelah sekali demi sekali kita ditanggulangi di hadapan Allah, dibongkar, diremukkan, dan setelah mengalami berbagai kegagalan, barulah kita mau tunduk serta berkata, “Ya Allah, aku tidak berani lagi berpikir, aku juga tidak berani mengambil keputusan.” Melalui bermacam-macam urusan, bermacam-macam orang, dari berbagai aspek, Allah menanggulangi kita. Inilah pengaturan Roh Kudus.

Pelajaran pengaturan Roh Kudus ini selamanya tidak akan berkurang. Kadang-kadang suplai pemberitaan firman bisa berkurang, jalan menerima karunia yang lain bisa berkurang; tetapi jalan menerima karunia pengaturan Roh Kudus ini selamanya tidak akan berkurang. Suplai pemberitaan firman, karena pembatasan suasana mungkin tidak bisa kita peroleh, tetapi pengaturan Roh Kudus tak dapat dibatasi oleh suasana. Pengaturan Roh Kudus bahkan lebih tertampil jelas melalui pembatasan suasana. Anda bisa berkata, “Tidak sempat mendengarkan khotbah”, tetapi Anda tidak bisa berkata, “Tidak sempat mematuhi pengaturan Roh Kudus.” Anda bisa berkata, “Tidak sempat memperoleh suplai pemberitaan firman”, tetapi Anda tidak bisa berkata, “Tidak sempat beroleh nasihat Roh Kudus”. Sebab Roh Kudus setiap hari mengatur, kapan dan di mana saja memberi kesempatan kepada Anda untuk belajar.

Jika Anda bisa takluk di hadapan Allah, maka pengaturan Roh Kudus akan sangat tepat dan berguna bagi Anda, bahkan jauh melebihi suplai pemberitaan firman. Kita harus mengenal jalan ini. Jangan sekali-kali salah dengan mengira bahwa suplai pemberitaan firman merupakan satu-satunya jalan menerima karunia; sebaliknya, ingatlah bahwa pengaturan Roh Kudus merupakan jalan menerima karunia yang paling besar. Di antara banyak jalan menerima karunia, pengaturan Roh Kudus merupakan jalan menerima karunia yang paling besar. Pengaturan Roh Kudus bukan bisa didapat oleh orang yang berpendidikan dan tidak bisa didapat oleh orang yang tidak berpendidikan; bukan bisa didapat oleh orang yang pandai dan tidak bisa didapat oleh orang yang bodoh; bukan bisa didapat oleh saudara yang memiliki karunia dan tidak bisa didapat oleh saudara yang tidak memiliki karunia. Pengaturan Roh Kudus tidak pandang bulu, tidak peduli siapa, asalkan anak Allah, semuanya boleh dengan tanpa syarat menyerahkan diri kepada Allah, sehingga nampak akan adanya pengaturan Roh Kudus di atas dirinya. Di dalam pengaturan Roh Kudus, bisa mendapatkan pelajaran yang sangat riil. Ada orang yang mungkin berpikir, jika aku sudah mempunyai suplai firman, mempunyai kasih karunia berdoa, mempunyai persekutuan dengan kaum beriman dan mempunyai banyak jalan menerima karunia, tidakkah sudah cukup baik? Ketahuilah bahwa jalan menerima karunia yang lain-lain tidak ada satu pun yang bisa menggantikan pengaturan Roh Kudus. Berdoa tidak dapat mengantikan pengaturan Roh Kudus, suplai firman tidak dapat menggantikan pengaturan Roh Kudus, pembacaan Alkitab tidak dapat menggantikan pengaturan Roh Kudus, dan perenungan juga tidak dapat menggantikan pengaturan Roh Kudus; karena Anda tidak saja perlu dibangun, tetapi juga perlu dibongkar. Banyak benda yang ada pada diri Anda tidak dapat Anda bawa masuk ke dalam kekekalan, dan itu harus dibongkar.

MEMPRAKTEKKAN SALIB

Salib tidak hanya sebagai teori, lebih-lebih sebagai praktek. Salib harus dipraktekkan atas diri kita, yang membongkar segala sesuatu milik kita. Sekali kita dipukul, dua kali, tiga kali, sepuluh kali, dua puluh kali, sampai suatu saat, dengan sendirinya kita tidak akan terumbar dan tidak berani sombong. Bukannya ketika kita bersikap sombong lalu cepat-cepat mempergunakan daya ingat untuk tidak lupa jangan bersikap sombong. Bersikap tidak lupa bersandar daya ingat, paling banyak hanya bisa bertahan lima menit. Hanya setelah mengalami hajaran Allah, barulah kesombongan kita tidak berani muncul lagi. Asal saya ini memang sombong, setelah dipukul Allah sekali, dua kali, sepuluh kali, dua puluh kali, saya tunduk, tidak sombong lagi. Nasihat, anjuran, pengajaran, daya ingat, tidak dapat membongkar insan lahiriah kita. Hanya hajaran Allah, hanya pengaturan Roh Kudus yang mampu membongkar insan lahiriah kita. Ditanggulangi oleh Allah sedemikian rupa, dengan sendirinya tidak berani sombong. Bukannya dengan terpaksa mengingat-ingat. Bukan karena beberapa hari yang lalu ada seorang saudara mengatakan demikian, maka aku tidak berani lagi berbuat demikian. Aku berbuat bukan seturut nasihatnasihat itu, melainkan kesombonganku telah dirobohkan dan telah dipukul, sehingga ketika aku melihat akalku, pandanganku, aku seperti melihat api dan takut kalau-kalau aku terbakar olehnya. Kita hanya bersandar pada karunia Allah, tidak bersandar pada ingatan. Allah ingin memukul roboh kita begitu rupa sehingga kita ingat atau tidak ingat senantiasa demikian. Pekerjaan ini pekerjaan yang bisa diandalkan dan tahan lama. Sampai suatu hari, rampunglah pekerjaan Allah pada diri kita; tidak saja di dalam kita menerima karunia, tidak saja di dalam kita kuat, bahkan insan lahiriah yang dahulunya menghalang-halangi Tuhan, merusak pekerjaan Tuhan, merusak kehendak Tuhan, memutus penyertaan Tuhan sudah diremukkan. Dulu insan lahiriah dengan insan batiniah tidak bisa bertautan, kini insan lahiriah kita dengan sikap takut dan gentar, dengan merendah patuh di hadapan Allah, tidak berselisih lagi dengan insan batiniah, bahkan seia-sekata.

Kita masing-masing perlu ditanggulangi di hadapan Tuhan. Bila kita menoleh ke tahun-tahun yang telah lewat, kita mengerti bahwa Tuhan menanggulangi kita satu demi satu agar tempurung luar kita terpecah sama sekali, dan dengan demikian kemauan merdeka, kesombongan, dan keegoisan kita turut diremukkan secara tuntas. Ketika kita menoleh ke belakang, tak dapat tidak kita mengakui bahwa apa yang Tuhan perbuat atas diri kita semuanya bermakna.

Semoga anak-anak Allah nampak akan pengaturan Roh Kudus. Allah ingin agar kita mengenal, “Betapa kasihannya aku ini, berkali-kali menentang Tuhan, berkali-kali gagal, berkali-kali tidak nampak terang, berkali-kali terumbar; kini aku tahu bahwa tangan Tuhan ingin meremukkan si aku ini. Aku rela tanpa pilihan dan tanpa sisa menyerahkan diriku ke dalam tangan Tuhan, dengan harapan agar peremukan ini dapat terlaksana pada diriku.” Saudara saudari, insan lahiriah kita tak dapat tidak harus diremukkan. Jangan menyayangi insan lahiriah untuk tidak diremukkan, namun di samping itu juga ingin membangun insan batiniah. Bila kita mau menerima pekerjaan peremukan, dengan sendirinya kita akan nampak pekerjaan pembangunan.