GEREJA DAN PEKERJAAN ALLAH
Bila kita benar-benar telah mengenal pekerjaan Allah, kita akan mengakui bahwa insan lahiriah kita ini memang merupakan penghalang terbesar. Benarlah jika kita berkata, hari ini Allah sangat dibatasi oleh manusia. Anak-anak Allah harus memahami dengan jelas apa sebenarnya manfaat gereja, juga harus mengerti hubungan yang ada antara gereja dengan kuat kuasa Allah dan pekerjaan Allah.
EKSPRESI ALLAH DAN PEMBATASAN ATAS ALLAH
Pernah sekali Allah menaruh diri-Nya ke dalam diri seorang manusia, Yesus, orang Nazaret. Tubuh jasmani ini mungkin menjadi pembatasan bagi Allah, mungkin juga menjadi kelimpahan Allah. Sebelum berinkarnasi, kelimpahan Allah tidak terbatas. Setelah berinkarnasi pekerjaan Allah berada di dalam tubuh jasmani ini, dan kuat kuasa Allah juga di dalam tubuh jasmani ini. Allah tidak berbuat sesuatu apa pun di luar tubuh jasmani ini. Ini berarti, Allah akan dibatasi oleh tubuh jasmani ini. Namun apa yang kita nampak dalam Alkitab, tubuh jasmani ini sama sekali tidak membatasi Allah, mungkin Dia membatasi Allah, namun pada realitasnya sama sekali tidak. Tubuh jasmani ini dengan seutuhnya telah mengekspresikan kelimpahan Allah. Kelimpahan Allah menjadilah kelimpahan tubuh jasmani ini.
Pada waktu itu Allah telah menaruh diri-Nya di dalam tubuh jasmani ini, sekarang Allah telah menaruh diri-Nya di dalam gereja. Hari ini kuat kuasa Allah ada di dalam gereja, pekerjaan Allah pun ada di dalam gereja. Dalam keempat kitab Injil, Allah bekerja sama sekali tidak di luar tubuh jasmani ini, semua pekerjaan-Nya telah Allah berikan kepada Putra. Demikian juga, hari ini Allah melimpahkan seluruh pekerjaan-Nya kepada gereja. Di luar gereja Allah sama sekali tidak bekerja. Allah tidak bekerja sendirian, tetapi Allah juga tidak bekerja melalui yang lain, Allah bekerja hanya melalui dan demi gereja. Sejak hari Pentakosta hingga kini, pekerjaan Allah terlaksana melalui gereja. Sebagaimana pada sebermulanya, dengan sepenuhnya, dengan mutlak, dan dengan tanpa tersisa sedikit pun, Allah telah menaruh diri-Nya di dalam seorang manusia yaitu Kristus, demikian juga hari ini dengan sepenuhnya, mutlak, dan tanpa tersisa sedikit pun, Allah menaruh diri-Nya di dalam gereja. Karena itu, betapa besar dan beratnya tanggung jawab dan kewajiban gereja terhadap Allah. Gereja mungkin membatasi pekerjaan Allah, gereja juga mungkin membatasi tertampil keluarnya Allah.
Yesus orang Nazaret ialah Allah. Allah terekspresi di dalam-Nya, Dia tidak membatasi Allah, karena batiniah-Nya dan lahiriah-Nya seluruhnya mutlak bagi Allah. Emosi-Nya emosi Allah, pikiran-Nya pikiran Allah. Ketika Dia hidup di bumi, Dia sendiri berkata, “Aku bukan melakukan kehendak-Ku, melainkan kehendak Dia yang telah mengutus Aku” (Yoh. 6:38). “Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau Ia tidak melihat Bapa mengerjakannya” (Yoh. 5:19). “Apa yang Kudengar dari Dia (Bapa), itulah yang Kukatakan kepada dunia” (Yoh. 8:26). Di sini kita nampak Seorang yang kepada-Nya Allah telah menaruh diri-Nya, sehingga Dia bisa berkata bahwa Dia adalah Firman yang menjadi manusia, Dia adalah Allah yang menjadi manusia dan yang sempurna. Sampai suatu hari, ketika Allah membagikan hayat-Nya yang ada di dalam Anak-Nya kepada manusia, Dia berkata bahwa biji gandum yang jatuh ke dalam tanah dan mati, akan menghasilkan banyak buah (Yoh. 12:24). Dia telah membebaskan hayat, Dia tidak menghalangi, Dia tidak membatasi.
Hari ini Allah telah memilih gereja menjadi bejana-Nya, menaruh diri-Nya, kuat kuasa dan pekerjaan-Nya di dalam gereja. Melalui gereja Allah mempunyai jalan untuk keluar; gereja merupakan bejana Allah untuk berbicara, gereja merupakan bejana pengekspresi kuat kuasa-Nya, gereja pun merupakan bejana pekerjaan Allah. Bila hari ini gereja mampu membiarkan Allah mendapatkan jalan untuk keluar, maka dapatlah Allah mengekspresikan kuat kuasa dan pekerjaan-Nya. Tetapi bila gereja hari ini tidak normal, gereja akan membatasi Allah.
Ajaran asasi keempat kitab Injil ialah Allah berada di dalam seorang manusia, sedang ajaran asasi Surat-surat Kiriman ialah Allah berada di dalam gereja. Keempat kitab Injil mengatakan bahwa Allah hanya berada di dalam seorang manusia, tidak berada di dalam manusia lain; Allah hanya berada di dalam manusia Yesus Kristus. Surat-surat Kiriman menampakkan kepada kita bahwa Allah hanya berada di dalam gereja, Allah tidak berada dalam organisasi mana pun, Allah juga tidak berada dalam perkumpulan apa pun, Allah hanya berada dalam gereja-Nya. Semoga mata kita semua tercelik, agar kita nampak fakta yang mulia ini.
Jika kita nampak fakta yang mulia ini, kita akan mengangkat kepala kita dan menengadah kepada Allah sambil berkata, “Ya, Allah! Betapa besar halangan yang kami timbulkan atas diri-Mu!” Ketika Allah yang Mahakuasa tinggal di dalam Kristus, Allah yang Mahakuasa itu tetap Mahakuasa, tidak dibatasi sedikit pun, tidak dikurangi sedikit pun. Hari ini Allah juga berharap dan bertujuan agar Dia tetap Mahakuasa dan tanpa ada yang membatasi ketika Dia berada di dalam gereja. Allah berkehendak agar ketika Dia berada di dalam gereja, Dia dapat mengekspresikan diri-Nya tanpa pembatasan, sama seperti pada waktu Dia tinggal di dalam Kristus. Karena itu, kalau gereja mempunyai pembatasan itu berarti Allah juga terkena pembatasan. Ketidakmahakuasaan gereja berubah menjadi ketidakmahakuasaan Allah. Ini suatu perkara yang sangat serius. Hanya dengan khidmat kita boleh mengucapkan kata-kata ini. Singkatnya boleh kita katakan, pembatasan-pembatasan dari setiap orang akan menjadi pembatasan bagi Allah; dan rintangan-rintangan dari diri setiap orang akan menjadi rintangan bagi Allah. Bila Allah tidak mampu keluar dari gereja, berarti Allah tidak mendapat jalan keluar. Jalan Allah hari ini berada di dalam gereja.
Mengapa pengaturan Roh Kudus demikian penting? Mengapa pemisahan roh dengan jiwa demikian penting? Mengapa insan lahiriah kita ini perlu diremukkan melalui pengaturan Roh Kudus? Tidak ada alasan lain, ialah agar Allah menemukan jalan keluar dari diri kita. Jangan sekalikali Anda salah paham dengan mengira bahwa apa yang kita bahas bersama ini merupakan masalah pengalaman rohani perorangan. Apa yang kita bahas ini tidak saja merupakan masalah pengalaman rohani perorangan, bahkan mempunyai sangkut-paut dengan jalan Allah, bersangkut-paut dengan pekerjaan Allah. Ini satu masalah yang sangat besar: patutkah manusia membatasi Allah? Di dalam kita, Allah bebas atau tidak? Hanya setelah kita ditanggulangi dan diremukkan di hadapan Allah, barulah pada diri kita Allah tidak terkena pembatasan.
Jika gereja ingin memberikan jalan kepada Allah, kita masing-masing harus Allah tanggulangi hingga insan lahiriah kita dibongkar. Insan lahiriah kita merupakan penghalang paling besar. Bila problem insan lahiriah kita tidak dibereskan, maka gereja sebagai jalan bagi Allah juga tidak terbereskan. Bila Allah merahmati kita, sehingga insan lahiriah kita terbongkar, maka Allah akan menggunakan diri kita sebagai jalan bagi Dia di dalam pekerjaan-Nya.
PEMBONGKARAN DAN JALAN PEKERJAAN ALLAH
Sekarang marilah kita lihat, bagaimana pengaruh pembongkaran insan lahiriah kita terhadap sikap kita dalam membaca firman Allah dan kemungkinan kita bisa menjadi pejabat firman, memberitakan Injil.
Membaca Alkitab
Ada satu fakta atas orang-orang yang membaca Alkitab, yaitu: orang yang bagaimana akan menghasilkan pembacaan Alkitab yang bagaimana. Sering kali, orang membaca Alkitab dengan menggunakan pikiran yang tidak taat, pikiran yang kalut, atau pikiran yang sok pintar; hasilnya tidak lain ialah pikirannya sendiri dan sama sekali tidak dapat menjamah roh Alkitab. Kalau dari pembacaan Alkitab kita ingin berjumpa dengan Tuhan, maka pikiran kita yang tidak taat atau pikiran kita yang tidak harmonis, harus Allah hancurkan terlebih dulu. Bila pikiran kita tetap tidak taat dan tidak harmonis, bagaimanapun pandainya kita, itu sama sekali tidak berguna. Kita boleh saja memegahkan kepandaian kita, tetapi dalam pandangan Allah, itu merupakan satu penghalang yang sangat besar. Tak peduli bagaimana pandainya kita, tak mungkin kita berdasarkan diri sendiri menyelami pikiran Allah.
Membaca Alkitab sedikit-dikitnya ada dua syarat. Pertama, perlu pikiran yang menyelami (masuk ke dalam) pikiran Alkitab. Kedua, perlu roh kita masuk ke dalam roh Alkitab. Pikiran Anda harus dapat menyelami pikiran penulis Alkitab, Paulus atau Yohanes; bagaimana pikiran mereka ketika menulis potongan kalimat yang sedang Anda baca, bagaimana mulainya pikiran mereka, demikian juga seharusnya pikiran Anda; bagaimana perkembangan pikiran mereka, demikian juga seharusnya perkembangan pikiran Anda; alasan apa yang mereka pikirkan, sedemikian juga alasan yang Anda pikirkan; mereka berpikir akan adanya suatu nasihat, demikian juga seharusnya Anda berpikir akan adanya nasihat itu. Dengan kata lain, pikiran Anda seperti sebentuk roda gigi, demikian juga pikirannya, alhasil, roda giginya dengan roda gigi Anda berpadanan. Pikiran Anda menyelami pikiran Paulus, pikiran Anda menyelami pikiran Yohanes, pikiran Anda menyelami pikiran Alkitab, pikiran Anda telah menyelami pikiran yang telah Allah ilhamkan, demikianlah baru Anda mengerti apa yang difirmankan di dalam Alkitab.
Ada orang membaca Alkitab dengan pikirannya sendiri sebagai pokoknya, ia hanya ingin mengambil beberapa pikiran Alkitab untuk dijadikan bahan. Di dalam benaknya sudah ada teori sendiri yang selalu berputar, dengan membaca Alkitab dia hanya berharap memperoleh bahan untuk membina teorinya yang sudah ada dalam benaknya itu. Ketika kita berkhotbah, bagi orang yang sudah berpengalaman, asal mendengar kita berkhotbah selama 5 menit, 10 menit saja, sudahlah ia tahu kita memetik ayat-ayat Alkitab itu dengan pikiran kita sendiri, ataukah pikiran kita telah menyelami pikiran Alkitab. Kedua keadaan ini jauh berbeda, bahkan berada pada dua dunia yang berlainan.
Ada orang yang walaupun dalam khotbahnya menggunakan kata-kata yang sesuai benar dengan Alkitab, dan pengulasannya pun sangat bagus dan enak didengar, tetapi pikirannya saling berselisih dengan pikiran Alkitab, tidak sepadan dengan pikiran Alkitab. Ada yang sebaliknya, yaitu ketika ia berbicara mengenai Alkitab, pikirannya telah memasuki pikiran Alkitab, pikirannya selaras dengan pikiran Alkitab, sepadan dengan pikiran Alkitab. Inilah keadaan yang normal. Namun tidak setiap orang mampu mencapainya. Bila kita ingin agar pikiran kita dapat menyelami pikiran Alkitab, perlulah insan lahiriah kita diremukkan. Bila insan lahiriah kita tidak diremukkan, pembacaan Alkitab kita takkan memadai. Jangan mengira karena tidak ada orang yang mengajar kita membaca Alkitab, maka pembacaan Alkitab kita tidak baik. Ketahuilah, itu disebabkan karena kita sendiri memang tidak baik, pikiran kita belum ditaklukkan oleh Allah. Begitu Anda diremukkan oleh Allah, sehingga tidak ada aktivitas Anda sendiri, tidak ada pandangan subyektif Anda, maka secara perlahan-lahan, dengan lemah dan dengan keadaan remuk berkeping-keping, Anda mulai menjamah apa yang Allah pikirkan, Anda mulai dapat menjamah pikiran orang yang menulis Alkitab serta mengikuti jalan pikirannya. Insan lahiriah Anda harus diremukkan lebih dahulu sehingga tidak bisa menghalang-halangi Anda, barulah Anda bisa menyelami pikiran firman Allah.
Membaca Alkitab, perlu menyelami pikiran orang yang menulis Alkitab, perlu pula menyelami pikiran Roh Kudus. Ini sangat penting, namun ini baru langkah permulaan. Tanpa ini, kita takkan mampu membaca Alkitab. Tetapi sesudah ini, belum tentu kita telah mahir membaca Alkitab, karena Alkitab bukan hanya berupa pemikiran. Alkitab memiliki suatu keistimewaan yang sangat penting, yaitu keluarnya Roh Allah dari dalam Alkitab. Tak peduli Petrus, Yohanes, Matius atau Markus, orang-orang yang menulis Alkitab, ketika Roh Kudus memberi ilham kepada mereka, di samping mereka menulis seturut pikiran, roh mereka pun keluar mengikuti keluarnya Roh Kudus. Ada suatu hal yang sama sekali tidak dapat dipahami oleh orang dunia, yaitu di dalam firman Alkitab ada Roh, dan begitu Roh bebas keluar, itu persis seperti nabi berkhotbah. Bila hari ini Anda mendapatkan sebuah khotbah nabi, Anda akan nampak selain ada pembicaraan, ada pemikiran, masih ada satu lagi yang sangat misterius, tetapi di dalam Anda sangat jelas, itulah yang kita sebut Roh. Dalam Alkitab tidak saja ada pemikiran, bahkan Roh sudah keluar. Karena itu, dalam membaca Alkitab masih dituntut satu syarat pokok, juga syarat yang paling penting, yaitu roh Anda harus mampu keluar dan menjamah roh Alkitab. Bila roh Anda dapat menjamah roh Alkitab, barulah Anda mampu mengerti apa yang dikatakan dalam Alkitab.
Misalnya, seorang anak nakal sengaja memecahkan kaca jendela tetangga. Pemilik rumah menegur dan memarahi anak itu dengan keras. Ibu si anak itu, setelah tahu, juga menegur dan memarahinya. Di sini kita tahu bahwa teguran si pemilik rumah yang kaca jendelanya pecah itu berlainan dengan teguran si ibu. Di luarnya sama-sama menegur, tetapi “roh” yang di dalam mereka masing-masing tidak sama. Teguran si pemilik rumah adalah teguran penuh kemarahan, rohnya adalah roh amarah; sedangkan teguran si ibu kepada anaknya adalah teguran yang mengandung kasih, mengandung pendidikan, dan mengandung harapan. Dia menegur anaknya dengan roh yang mengasihi, mendidik, dan mengharap. Roh mereka sama sekali berbeda. Ini hanya merupakan sebuah contoh yang amat dangkal.
Roh penulisan Alkitab jauh lebih kuat daripada roh ini. Roh penulisan Alkitab adalah Roh kekal. Hari ini, Roh penulisan Alkitab ini masih ada di sini dan selalu memenuhi Alkitab. Bila insan lahiriah kita telah diremukkan dan roh kita mampu keluar, maka ketika kita membaca Alkitab, tidak saja kita mampu menyelami pikiran Alkitab, bahkan mampu menjamah Roh itu, mampu menjamah Roh penulisan Alkitab yang sebermula. Bila roh Anda tidak mampu keluar dan tidak mampu menjamah Roh penulisan Alkitab, maka bagaimanapun, Anda takkan dapat mengerti firman Allah, dan Alkitab dalam tangan Anda hanya merupakan sebuah kitab yang mati. Karena itu, sekali lagi kita tegaskan, masalah prinsip adalah: insan lahiriah kita ditanggulangi atau tidak. Hanya dengan diremukkannya insan lahiriah kita, pikiran kita baru bisa berguna, roh kita baru bisa keluar, dan di dalam hal ini barulah Allah tidak kita halangi. Kesulitannya ialah kita menghalangi Allah, sampai-sampai dalam pembacaan Alkitab pun kita menghalangi Allah, sehingga Allah tidak bisa mendapatkan jalan keluar dengan bebas.
Minister (Pelayan) Firman
Dalam pekerjaan-Nya, selain Allah menghendaki kita mengerti firman-Nya, yang merupakan titik tolak pekerjaan-Nya, Dia pun rela menaruh firman-Nya sekalimat atau beberapa kalimat di dalam roh kita, seperti sebuah beban, agar dengan sekalimat atau beberapa kalimat itu kita melayani gereja. Dalam Kisah Para Rasul 6:4 dikatakan, “Supaya kami sendiri dapat memusatkan pikiran dalam doa dan pelayanan Firman.” Pelayanan firman ialah melayani orang dengan firman Allah.
Apakah kesulitan kita? Tidak lain ialah, di dalam kita ada perkataan, namun tidak dapat mengutarakannya. Ada orang yang dalam rohnya sungguh-sungguh ada perkataan, di dalamnya ada beban yang cukup berat yang ingin disampaikan kepada saudara saudari. Tetapi ketika ia berdiri di atas mimbar dan mengucapkan satu kalimat, dua kalimat, di dalamnya masih tetap berat; setelah berbicara semenit, beratnya masih seperti semula; setelah berbicara satu jam, beratnya masih tetap seperti semula. Kata-katanya tidak kunjung keluar, insan lahiriahnya tidak bisa menyalurkan beban yang ada di dalamnya. Dia ingin mengutarakan bebannya yang di dalam, dia ingin membicarakan firman, tetapi tidak sepenggal kalimat yang diberikan oleh insan lahiriahnya yang sesuai dengan kebutuhan. Bagaimanapun dia mengatakannya, beban beratnya masih tetap seperti semula. Dia datang dengan pikulan sekian berat, pulangnya pun masih sekian berat. Sebabnya hanya satu, yaitu insan lahiriahnya belum diremukkan, insan lahiriah tidak bisa membantu insan batiniah, sebaliknya malah menjadi penghalang.
Bila insan lahiriahnya telah diremukkan, dengan sendirinya dia bisa mengutarakan; di dalam ada beban, ada perkataan, maka pikiran insan lahiriahnya mempunyai sebentuk kalimat yang sesuai benar dengan maksud hatinya. Begitu kata-kata yang dari dalam itu terluap keluar maka ringanlah beban yang di dalamnya. Makin mengatakannya, makin merasa ringan. Dia merasa inilah pekerjaan yang dia lakukan dengan mempergunakan firman Allah untuk melayani gereja. Karena itu, beban di dalam perlu dilengkapi dengan perkataan yang cocok dari pikiran insan lahiriah. Bila insan lahiriah tidak diremukkan, insan lahiriah tidak mau tunduk pada maksud insan batiniah, tidak mau tunduk pada roh yang di dalam, maka tidak mungkin insan batiniah bisa menjamah perasaan yang di dalam, tidak mungkin juga menggunakan kata-kata yang cocok. Alhasil, Allah tidak ada jalan keluar, Allah terkendala; Allah tidak mendapatkan jalan, gereja tidak mendapatkan bantuan.
Kita harus ingat bahwa dalam tugas pelayanan firman, insan lahiriah merupakan penghalang yang paling besar. Banyak orang mengira bahwa orang yang pandai itu berguna. Inilah pikiran yang salah. Betapapun pandainya Anda, insan lahiriah Anda sekali-kali tidak mungkin mewakili insan batiniah Anda. Bila insan lahiriah dibongkar dan diremukkan, barulah insan batiniah bisa membuahkan pikiran, membuahkan perkataan yang terdorong keluar melalui insan lahiriah. Karena itulah tempurung insan lahiriah ini perlu dipecahkan. Makin remuk tempurung ini, makin dapatlah hayat di dalam roh itu bebas keluar. Kalau tempurung ini masih tetap utuh, maka beban di dalam roh tidak dapat tersalur keluar, hayat Allah dan kuat kuasa Allah tidak memiliki jalan untuk keluar mengalir ke gereja dari diri Anda. Dengan demikian Anda tidak bisa menjadi pelayan firman. Hayat Allah dan kuat kuasa Allah kebanyakan tersalur melalui pemberitaan. Bila insan lahiriah tidak dipukul, tidak ada luka, insan batiniah Anda tidak mungkin keluar. Orang yang mendengarkan Anda berkhotbah tidak menjamah hayat, walaupun telah mendengar suara Anda. Anda ingin memberi, tetapi orang lain tetap tidak beroleh apa-apa. Dalam Anda ada kata-kata tetapi yang di luar tidak mampu mengutarakan. Insan lahiriah Anda menghalangi Anda.
Hal yang menyangkut Tuhan Yesus sangatlah mustika, ada orang menjamah jumbai jubah Tuhan Yesus, ia mendapatkan kuat kuasa Tuhan. Jumbai jubah Tuhan terdapat pada bagian yang paling luar dari diri-Nya, namun di tempat yang paling luar ini pun orang dapat menjamah kuat kuasa-Nya. Kesulitan kita ialah walaupun di dalam kita ada hayat, tetapi yang di luar tidak dapat menyalurkannya; di dalam ada perkataan, tetapi yang di luar tidak bisa mengutarakannya; di dalam ada pekerjaan Allah, tetapi yang di luar ada penghalang sehingga tidak berdaya keluar. Pada diri kita Allah tidak mendapatkan jalan bebas, Allah pun tidak bisa keluar dengan leluasa dari diri kita.
Memberitakan Injil
Sering orang salah berpendapat dengan mengira bahwa bila telah menerima pengajaran yang benar dan masuk akal, barulah pendengar Injil bisa percaya. Ada juga yang berpendapat, setelah emosi pendengar Injil itu terharu, barulah ia mau percaya. Tetapi faktanya tidak demikian. Orang yang menyatakan percaya karena emosinya tersentuh, tidak tahan lama; orang yang pikirannya kita tundukkan, juga tidak tahan lama. Pikiran boleh kita pakai, emosi pun boleh kita pakai, tetapi hanya bersandarkan pikiran atau emosi tidaklah cukup, karena orang beroleh selamat bukan karena emosi, juga bukan karena pikiran. Seorang dosa mampu bertelut di hadapan Allah, dikarenakan roh Anda sebagai pemberita Injil bisa memancarkan terang, begitu roh Anda menerobos keluar, maka pendengar akan rebah. Karena itu, kita perlu sekali akan roh yang bisa keluar, agar Injil bisa disebarkan.
Ada seorang saudara yang bekerja sebagai buruh tambang, ia dipakai oleh Allah dengan mantap. Dalam buku tulisannya yang berjudul “Melihat dan Mendengar”, ia mengisahkan pengalaman pemberitaan Injilnya. Membaca bukunya, kita akan sangat tergerak. Saudara ini bukan seorang istimewa yang berpendidikan tinggi, juga bukannya seorang istimewa yang berkarunia, dia seorang saudara biasa. Tetapi karena ia seorang yang telah menyerahkan diri secara mutlak kepada Tuhan, maka Tuhan sangat memakai dia. Di mana keistimewaannya? Keistimewaannya ialah: insan lahiriahnya telah diremukkan. Pertama kali ia berkhotbah, ia berusia 23 tahun, saat itu ia baru beroleh selamat. Dalam suatu sidang, ia mendengarkan seorang pengkhotbah berkhotbah, hatinya sangat terdorong untuk menyelamatkan orang, lalu ia mohon kepada si pengkhotbah agar ia diperbolehkan berbicara. Tetapi begitu ia naik ke atas mimbar, satu patah kata pun tidak dapat ia katakan. Hatinya dipenuhi oleh nyala api yang berkobar-kobar untuk menyelamatkan jiwa, air matanya mengalir deras seperti air terjun, akhirnya ia meneriakkan tiga buah kalimat. Pada waktu itu Roh Allah memenuhi ruangan sidang, dan orang-orang sadar akan dosa dan kesesatan mereka. Di sini ada seorang, yang walaupun usianya masih muda, tetapi insan lahiriahnya telah diremukkan, dia tidak memiliki banyak perkataan, namun rohnya telah keluar sehingga orang-orang diselamatkan. Seumur hidupnya, ia telah menyelamatkan banyak orang. Dengan membaca sejarah hidupnya tahulah kita bahwa ia adalah seorang yang rohnya bisa keluar.
Inilah cara memberitakan Injil. Cara memberitakan Injil ialah rohnya keluar. Kekerasan insan lahiriah telah sirna, insan lahiriah telah diremukkan, karena itu roh bisa keluar. Setiap kali Anda melihat orang yang belum beroleh selamat, Anda merasa tak dapat tidak harus menyelamatkan dia, dengan demikian keluarlah roh Anda. Inilah persoalan asasi. Pemberitaan Injil yang murni tergantung pada remuknya insan lahiriah, sehingga insan batiniah bisa keluar menjamah orang. Roh Anda keluar menyentuh roh orang, Roh Allah keluar menyalakan roh yang gelap dari orang itu; ajaib sekali orang itu segera beroleh selamat. Sebaliknya kalau insan lahiriah Anda membelenggu roh, pada diri Anda Allah tidak ada jalan, Injil pun tidak ada jalan. Kita selalu memperhatikan penanggulangan insan lahiriah, karena semua kesulitan justru terletak pada insan lahiriah kita. Selama insan lahiriah kita belum ditanggulangi, kita tidak akan berguna walaupun hafal banyak teori. Menyelamatkan orang adalah menjamah roh orang. Begitu roh seseorang terjamah, tak dapat tidak ia akan rebah di hadapan Allah. Bila roh kita mampu bebas leluasa, maka orang-orang tak dapat tidak rebah di hadapan Allah.
Pada tahun-tahun belakangan ini, Allah berjalan pada jalan pemulihan. Allah tidak rela jika orang-orang yang telah beroleh selamat, beberapa tahun kemudian baru mau menanggulangi dosa, beberapa tahun kemudian baru mendengar panggilan Tuhan untuk mengikuti Dia. Tuhan sedang berjalan pada jalan pemulihan. Injil harus dipulihkan. Buahbuah Injil pun harus dipulihkan. Begitu seseorang percaya, ia seharusnya segera keluar dari kedosaan, begitu percaya segera mempersembahkan diri dengan mutlak, begitu percaya segera mematahkan kekuatan Mamon, seperti yang tercatat dalam Kisah Para Rasul tentang bagaimana Tuhan menyelamatkan orang. Bila Injil berjalan pada jalan pemulihan, haruslah kita sebagai penyebar Injil mau menyediakan jalan yang selebar-lebarnya pada diri kita bagi Tuhan.
Kita percaya, ketika Tuhan berjalan pada jalan pemulihan, Injil kasih karunia dan Injil Kerajaan akan manunggal. Dalam kitab Injil, Injil Kerajaan dan Injil kasih karunia tidak terpisah. Tetapi kemudian seakan-akan ada orang yang telah mendengarkan Injil kasih karunia, tetapi belum pernah mendengarkan Injil Kerajaan; seolah-olah Injil kasih karunia dan Injil Kerajaan itu dua. Namun pada suatu hari, Injil kasih karunia dan Injil Kerajaan itu manunggal, orang yang telah menerima Tuhan, juga adalah orang yang telah meninggalkan segala-galanya; orang yang telah menerima Tuhan, juga adalah orang yang telah mempersembahkan diri dengan mutlak. Dengan demikian keselamatan orang bukan suatu keselamatan yang miskin dan dangkal, melainkan keselamatan yang hebat dan tuntas.
Bila ingin demikian, haruslah kita menundukkan kepala di hadapan Tuhan sambil berkata: Injil ingin dipulihkan, maka pemberita Injil harus dipulihkan lebih dulu. Injil bisa masuk ke tengah-tengah manusia, bila Allah bisa tersalur keluar dari diri kita. Pemberitaan Injil yang makin penuh kuat kuasa memerlukan pengeluaran harga yang makin banyak. Bila kita berharap Injil dipulihkan, bila kita berharap pemberita Injil juga dipulihkan, seharusnya kita menyerahkan segala-galanya sambil berkata kepada Tuhan, “Tuhan, segala-galaku telah kuserahkan, semoga Tuhan mempunyai jalan atas diriku. Semoga gereja juga mempunyai jalan atas diriku. Semoga aku tidak menjadi penghalang bagi-Mu. Semoga aku pun tidak menjadi penghalang bagi gereja.”
Tuhan Yesus selamanya tidak pernah menjadi penghalang bagi Allah. Dia selamanya tidak pernah membatasi Allah. Hampir selama dua ribu tahun, Allah terus-menerus bekerja di dalam gereja, dan akan terus bekerja sedemikian rupa sehingga gereja juga tidak merupakan pembatas Allah. Sebagaimana Kristus dengan sepenuhnya mengekspresikan Allah dan tidak menjadi penghalang Allah, demikian juga gereja seharusnya dapat mengekspresikan Allah dan tidak menjadi penghalang bagi Allah. Sedikit demi sedikit Allah mengajar kita, selangkah demi selangkah Allah menanggulangi kita, sekali demi sekali Allah mengupas anak-anak-Nya, sekali demi sekali Allah memukul dan menghajar anak-anak-Nya, beginilah Allah menanggulangi gereja. Allah terusmenerus berbuat demikian sampai pada suatu hari, gereja tidak lagi merupakan penghalang bagi Allah, sebaliknya merupakan ekspresi Allah.
Hari ini kita harus menundukkan kepala dan berkata, “Ya Tuhan! Kami merasa menyesal. Ya Tuhan! kami telah menelantarkan pekerjaan-Mu. Kami telah menghalang-halangi hayat-Mu, kami telah merintangi Injil-Mu, kami telah menghambat kuat kuasa-Mu.” Kita masing-masing harus berkata kepada Allah, “Ya Allah! Aku telah menyerahkan segala-galaku, semoga Allah mempunyai jalan atas diriku!” Bila kita berharap Injil mempunyai pemulihan yang tuntas, haruslah kita mempunyai persembahan yang tuntas. Kita bodoh bila mengira bahwa kuat kuasa Injil sekarang ini tidak sebesar kuat kuasa yang ada pada gereja semula. Kita lupa bahwa persembahan gereja semula itu berbeda jauh dengan persembahan kita sekarang. Kalau Injil mau terpulihkan, persembahan harus terpulihkan, keduanya harus tuntas. Semoga atas diri kita Allah mempunyai jalan keluar.