BAGAIMANA MENGENAL ORANG
Mengenal orang merupakan satu perkara penting bagi para pekerja. Ketika seseorang datang ke hadapan kita, haruslah kita mengenal keadaan rohaninya, haruslah kita tahu dia sebenarnya orang macam apa, sekarang dia sudah mencapai taraf apa. Kita harus tahu apa yang dia katakan dan apa pula kata-kata yang terkandung dalam hatinya. Di manakah sebenarnya perbedaan antara kata-kata dalam mulut dan kata-kata dalam hatinya? Apa yang dia tutupi di hadapan kita? Kita pun harus tahu apa keistimewaannya, apakah dia orang yang keras atau tidak, apakah dia orang yang rendah hati, kerendahan hatinya itu sejati atau pura-pura. Berhasil atau tidaknya pekerjaan kita sangat bersangkut paut dengan bisa atau tidaknya kita mengenal keadaan rohani seseorang. Bila roh Allah melalui roh kita menampakkan kepada kita bagaimana keadaan sebenarnya orang yang datang ke hadapan kita, dapatlah kita menyampaikan kata-kata yang sesuai dan tepat.
Dari kitab Injil kita nampak, setiap kali orang datang ke hadapan Tuhan, Tuhan selalu mengucapkan kata-kata yang tepat. Ini adalah hal yang ajaib. Tuhan tidak menyampaikan berita kelahiran kembali kepada perempuan Samaria; Tuhan juga tidak berkata kepada Nikodemus tentang air hidup (hayat). Berita kelahiran kembali dikatakan kepada Nikodemus, sedang berita air hayat dikatakan kepada perempuan Samaria. Betapa tepatnya! Kepada orang-orang yang belum mengikuti Dia, Tuhan memanggil mereka; kepada orang-orang yang ingin mengikuti Dia, Tuhan menyuruh mereka memikul salib. Kepada orang-orang yang datang untuk petualangan, Tuhan mengingatkan harga yang harus mereka bayar, kepada orang-orang yang datang kepada-Nya dengan berlambat-lambat dan ragu-ragu, Tuhan berkata, “Biarlah yang mati menguburkan orang yang mati.” Firman Tuhan selalu tepat untuk setiap orang, karena Tuhan mengenal setiap orang. Orang-orang datang ke hadapan Tuhan, tak peduli ingin mendapatkan Tuhan dengan rasa damba, ataukah hanya ingin mengamati, Tuhan pasti mengenali mereka, karena itu firman Tuhan senantiasa berguna dan tepat bagi mereka. Dalam menghadapi urusan, Tuhan jauh di depan kita, sedang kita dari jauh mengikuti Dia. Walaupun jauh, kita harus mengikuti-Nya dan tujuan kita harus sama. Semoga Allah membelaskasihi kita, agar kita bisa belajar mengenal orang sebagaimana Dia.
Seorang saudara yang tidak mampu mengenal orang, tidak akan tahu bagaimana seharusnya menanggulangi jiwa yang dihadapkan kepadanya. Saudara ini hanya mampu berbicara seturut pandangan subyektifnya. Perasaan apa yang terkandung di dalam dirinya pada hari itu, akan selalu dinyatakannya kepada siapa saja. Kalau dia mempunyai judul pembicaraan yang dia senangi, tak peduli menghadapi siapa saja, dia pasti berbicara dengan judul itu. Bisakah pekerjaan sedemikian mendatangkan manfaat? Tidak ada seorang dokter pun yang hanya menggunakan satu macam resep untuk mengobati semua pasien. Sayang, banyak pelayan Tuhan yang hanya mempunyai satu macam resep. Dia tidak mengenal penyakit orang, tetapi dia ingin mengobati orang. Dia tidak tahu di mana kesulitan orang, tidak tahu keruwetan orang dan belum belajar sampai bisa mengenal keadaan rohani orang, tetapi seakan-akan sudah siap dengan lengkap untuk menghadapi orang. Ini sungguh bodoh sekali. Kita tidak dapat menyembuhkan segala macam penyakit rohani dengan satu macam resep rohani. Sama sekali tidak mungkin.
Jangan mengira orang yang tumpul perasaannya tidak dapat membedakan orang, dan orang yang peka perasaannya pasti dapat. Orang yang tumpul perasaannya maupun orang yang peka perasaannya sama-sama tidak mempunyai bagian di dalam hal membedakan orang. Kita tidak mampu membedakan orang berdasarkan pikiran dan perasaan kita. Bagaimanapun pekanya pikiran kita, tidak akan dapat mengungkapkan dan menjamah keadaan batiniah orang.
Ketika seorang pekerja menjumpai seseorang, hal pertama yang sangat asasi ialah menemukan apa keperluan sebenarnya orang itu di hadapan Allah. Sering kali bahkan kata-kata jawabannya pun tidak dapat kita percayai. Dia mengatakan, “Kepala pusing”, benarkah di dalam kepalanya ada penyakit? Mungkin pusingnya itu hanya merupakan gejala penyakit dari bagian lain, sedang kepalanya sendiri tidak sakit. Dia mengatakan kepada Anda bahwa badannya panas, tetapi belum tentu suhunya tinggi. Bermacam-macam yang dia katakan kepada Anda, tetapi Anda bisa menemukan bahwa segala yang dia utarakan belum tentu bisa dipercayai. Jarang orang sakit yang tahu persis penyakitnya. Dia tidak mengerti dia sendiri dihinggapi penyakit apa, perlu Anda yang menentukan diagnosisnya, kemudian menentukan apa pula yang dia perlukan. Kalau Anda menyuruh dia sendiri yang mengutarakan keperluannya, belum tentu apa yang dia katakan itu tepat. Ini memerlukan seseorang yang paham akan penyakit, yang sudah belajar mengenal kesulitan rohani, untuk mengatakan kepadanya kebutuhannya yang sebenarnya.
Ketika Anda mengucapkan kata-kata untuk membantu seseorang, Anda harus tahu pasti, bukannya dengan sembarangan Anda mengatakan penyakitnya. Orang yang subyektif memaksa orang lain mengakui penyakit yang orang lain derita itu seturut dugaannya. Orang yang subyektif akan kukuh mengatakan penyakit yang diderita orang lain itu apa. Orang sakit, orang yang mempunyai kesulitan, tidak mampu mengutarakan keadaannya, tetapi Anda tidak boleh dengan paksa mengatakan penyakit apa yang dideritanya.
Mampu tidaknya kita membantu saudara saudari, dilihat dari mampu tidaknya kita menjamah kesulitan saudara saudari dan memberikan pengobatan yang tepat. Kalau diagnosis kita tepat, barulah ada jalan untuk mengobati mereka. Atau bila Anda telah menemukan, bahwa kesulitan ini bukan Anda yang mampu menyelesaikannya, maka sudahlah jelas persoalannya. Anda harus tahu, ada masalah rohani seseorang yang mampu Anda selesaikan; Anda juga harus tahu, ada orang yang melampaui kekuatan daya bantuan Anda. Janganlah Anda tumpul sedemikian rupa sehingga mengira bahwa segala macam urusan mampu Anda tangani, segala macam orang mampu Anda bantu. Bila Anda merasa mampu membantu seseorang, bantulah dengan segala kemampuan yang ada pada Anda. Kalau Anda menemukan orang yang tidak mampu Anda bantu, katakan saja kepada Tuhan, “Ini melampaui kekuatanku. Aku tidak mampu menyembuhkan penyakit ini. Untuk ini aku belum pernah belajar. Aku tidak dapat menanggulangi kesulitan ini. Tuhan! Belaskasihanilah aku.” Atau karena Anda nampak fungsi anggota Tubuh, Anda tahu bahwa saudara anu mampu menanggulangi perkara itu. Saudari anu mampu mengerjakan perkara itu. Bila Anda tahu, serahkanlah masalah-masalah yang Anda hadapi itu kepada mereka untuk mereka selesaikan. Anda tahu diri sendiri terbatas. Anda tahu bahwa Anda hanya mampu berbuat sekian. Janganlah berpendapat bahwa semua urusan rohani mampu kita lakukan. Janganlah berpendapat bahwa semua urusan rohani dapat kita monopoli. Kita harus nampak daya maksimum diri sendiri seraya nampak adanya suplai dari anggota lain, dan mampu mencari seorang saudara, berkata, “Ini di luar jangkauan kekuatanku, ini urusan Anda.” Dengan ini kita nampak prinsip sekerja dan prinsip Tubuh, sehingga kita tidak berani bertindak sendirian.
Setiap orang yang mengerjakan pekerjaan Tuhan, yang melayani, harus belajar di hadapan Tuhan untuk dapat mengenal orang. Tanpa mengenal keadaan rohani orang, ia tidak akan mampu bekerja. Sungguh sayang, kerohanian banyak orang malah menjadi tidak karuan setelah ditangani oleh orang-orang yang tidak pernah belajar mengenal orang lain. Orang-orang sedemikian tidak mampu membantu orang lain, paling banyak mereka hanya mampu memberikan saran-saran subyektif, tanpa dapat memuaskan keperluan obyektif. Inilah kesulitan yang paling besar. Orang lain tidak seharusnya karena kita berpikir demikian, lalu ia menderita penyakit demikian. Tidak karena kita mengira keadaan rohaninya demikian, pasti demikian. Tugas kita justru berusaha menemukan keadaan rohaninya. Karena itu kalau diri kita sendiri tidak baik-baik dibenahi, kita tidak akan mampu membantu anak-anak Allah lainnya.
SARANA UNTUK MENGENAL ORANG
Ketika seorang dokter berpraktek, ia menggunakan banyak sarana (perlengkapan). Tetapi kita tidak memiliki sarana apa-apa; kita tidak memiliki pengukur suhu badan, kita tidak memiliki alat rontgen, kita tidak memiliki sarana macam apa pun untuk mengetahui keadaan rohani orang. Lalu, dengan sarana apa kita menentukan ada tidaknya penyakit rohani pada diri seseorang? Garapan Allah pada diri kita justru untuk ini, yaitu menjadikan kita pengukur standar. Allah menggarap diri kita sedemikian rupa sehingga kita sanggup mengetahui ada tidaknya penyakit pada diri seseorang dan tahu pula penyakit apa yang dia derita. Demikianlah Tuhan hendak memakai kita. Pekerjaan ini jauh lebih sulit daripada pekerjaan seorang dokter. Karena itu, patutlah kita sadari betapa beratnya tanggung jawab kita.
Seandainya dalam dunia ini tidak pernah ada termometer, dengan sendirinya tangan-tangan dokter sanggup mengetahui suhu badan si pasien. Tangan-tangan dokter itulah yang menjadi termometer. Dengan demikian tangantangan dokter akan menjadi sangat peka, tidak hanya peka, bahkan boleh diandalkan ketepatannya. Demikian juga dengan pekerjaan rohani. Kita ini termometer jenis tertentu. Kita ini sarana kedokteran macam tertentu. Untuk ini kita perlu menerima latihan dan penanggulangan yang serius. Segala sesuatu yang kita biarkan tertinggal pada diri kita, kelak tertinggal juga pada diri orang lain. Kita tidak mungkin membantu orang lain yang menghadapi masalah yang asing bagi kita. Jadi, masalah utamanya ialah sudahkah kita belajar di hadapan Allah. Makin sempurna dan makin tuntas pelajaran yang kita peroleh, makin besar pula kegunaan kita dalam pekerjaan Allah. Sebaliknya, makin sedikit pelajaran yang kita peroleh, atau dengan kata lain, makin sedikit harga yang kita bayar, makin banyak diri sendiri yang kita kukuhi. Kita menyelamatkan kecongkakan kita, menyelamatkan kepicikan kita, menyelamatkan opini kita, menyelamatkan kesenangan kita; demikian, jadilah kita orang yang tidak banyak gunanya. Bila hal-hal ini kita selamatkan, sehingga tidak tersingkirkan dari diri kita, dengan sendirinya, kita tidak mampu menanggulangi orang yang menyisakan hal-hal ini pada dirinya. Orang yang congkak takkan sanggup menanggulangi orang lain yang congkak, orang yang picik takkan mampu menanggulangi orang lain yang licik, orang yang munafik takkan berdaya menanggulangi orang lain yang munafik, orang yang ceroboh takkan bisa menanggulangi orang lain yang ceroboh. Diri-Nya sendiri demikian, tidak membereskan penyakit itu, dengan sendirinya ia tidak mungkin menentukan orang lain tergolong macam apa dan berpenyakit apa. Seorang dokter mungkin mampu menyembuhkan orang lain, tetapi tidak mampu menyembuhkan diri sendiri, tetapi dalam soal rohani tidak bisa demikian. Sebagai pekerja Tuhan, bila rohani sendiri sakit, haruslah disembuhkan terlebih dulu, baru mampu menyembuhkan orang lain. Bila diri sendiri belum melihat, tidak mungkin memimpin orang lain untuk melihat; bila diri sendiri belum mengalami, tidak mungkin memimpin orang lain untuk mengalami; bila diri sendiri belum pernah mempelajari, tidak mungkin memimpin orang lain untuk mempelajari.
Di hadapan Allah kita harus nampak bahwa kita merupakan sarana yang Allah persiapkan untuk mengenal orang. Karena itu, manusia kita harus bisa diandalkan, perasaan kita harus bisa diandalkan, diagnosis kita harus bisa diandalkan. Agar perasaan kita bisa diandalkan, kita harus berdoa, “Ya Tuhan, janganlah kiranya Tuhan kendur terhadap aku.” Agar perasaan kita bisa diandalkan, kita rela menerima garapan Allah yang selamanya belum pernah kita impikan, tergarap sedemikian rupa sehingga kita menjadi orang yang dapat Allah pakai. Seandainya ada termometer yang tidak mampu menunjukkan angka-angka yang tepat, tentu dokter tidak akan memakainya. Termometer harus tepat, harus dapat diandalkan. Menjamah kesulitan rohani orang jauh lebih serius daripada menjamah penyakit orang. Entah berapa kali lipat seriusnya. Namun, kita sendiri masih memiliki pikiran, emosi, opini, dan cara-cara sendiri. Sebentar berlaku begini, sebentar berlaku begitu. Kita tidak bisa diandalkan. Kita tidak dapat dipakai. Kita harus melewati penanggulangan Allah, baru bisa berguna.
Sudahkah kita sadari betapa berat tanggung jawab kita? Roh Allah tidak mau secara langsung bekerja pada diri manusia, bagaimanapun, Dia tetap bekerja melalui manusia. Ketika seseorang mempunyai suatu keperluan, walaupun di satu pihak ada pengaturan Roh yang mengaturnya, tetapi di pihak lain Allah bekerja melalui firman, melalui ministri firman. Tanpa suplai ministri firman, kesulitan rohani saudara saudari tidak mungkin terselesaikan. Sekarang kewajiban ini justru ditanggungkan di atas diri kita. Ini suatu hal yang amat serius — Kita adalah orang yang bisa dipakai atau tidak, akan berpengaruh terhadap bisa atau tidaknya gereja mendapatkan suplai.
Misalnya, ada semacam penyakit yang meningkatkan suhu badan sampai suatu derajat tertentu, katakanlah 1030 F. Anda tidak boleh hanya dengan tangan meraba lalu menyatakan kira-kira 1030 F. Harus tepat 1030 F, baru Anda menentukan penyakit macam apa. Allah menggunakan kita untuk mendiagnosis penyakit apa yang diderita oleh orang lain, adalah memakai manusia kita sebagai sarananya. Jika perasaan kita salah, jika pikiran kita salah, jika opini kita salah, jika pengenalan rohani kita salah, jika tuntutan belajar kita di hadapan Allah tidak cukup, lalu kita mendiagnosis penyakit rohani orang lain, itu sangat berbahaya. Jika di hadapan Allah, kita adalah orang yang tepat, orang yang boleh diandalkan, orang yang bisa Allah percayai, maka Roh Allah dapat tersalur keluar dari diri kita.
Titik tolak pekerjaan rohani tergantung pada terkoreksinya kita berulang-ulang di hadapan Allah. Sebuah termometer dibuat berdasarkan pada termometer standar dan dibuat dengan teliti sekali, sehingga ketika kita memakainya, itu boleh diandalkan ketepatannya. Kita ini serupa dengan termometer. Kalau tidak tepat, kita akan mendatangkan banyak kesalahan. Kita harus tepat. Untuk itu kita harus pernah Dia tangulangi secara ketat. Kita ini dokter, juga sarana yang dipergunakan dokter. Karena itu, kita harus belajar sebaik-baiknya.
CARA MENGENAL ORANG — DI PIHAK PASIEN
Bagaimana kita mampu mengenal keadaan seorang pasien? Problem ini harus kita lihat dari dua pihak. Pertama, dari pihak si pasien sendiri, kedua, dari pihak diri kita sendiri.
Dari pihak pasien, bagaimana kita mampu mengetahui penyakitnya? Bila Anda ingin mengetahui di mana penyakitnya, haruslah Anda memahami gejala-gejala penyakitnya. Gejala-gejala penyakit paling mudah kita lihat, tidak mungkin disembunyikan. Orang yang sombong menunjukkan gejala yang sombong. Sekalipun dia berusaha merendahkan hati, di dalam kerendahan hatinya masih tertampak kesombongannya, tidak bisa diselubungi. Orang yang berdukacita, tertawanya pun menunjukkan dukacita. Orang yang bagaimana akan menampilkan gejala yang bagaimana. Orang macam apa akan memberi kesan macam apa kepada Anda. Ini sudah pasti.
Berkali-kali Alkitab mengetengahkan keadaan rohani orang: ada orang yang mempunyai roh yang terumbar, ada orang yang mempunyai roh yang degil, roh yang remuk, dan lain-lain. Memang pada faktanya kita bisa mengiaskan keadaan rohani orang-orang dengan berbagai istilah. Kita bisa mengatakan bahwa orang itu mempunyai roh yang mengambang, orang itu mempunyai roh yang lembam, dan sebagainya. Semua keadaan rohani ini berasal dari mana? Misalnya, roh yang degil; kedegilan ini berasal dari mana? Roh yang sombong, kesombongan ini berasal dari mana? Roh yang terumbar, terumbar ini berasal dari mana? Roh yang normal sebenarnya tidak mempunyai corak ragam, kecuali menampilkan Roh Allah. Roh sebenarnya tidak mempunyai corak ragam. Tetapi mengapa ada roh yang degil, roh yang sombong, roh yang terumbar, roh yang tidak mau mengampuni, roh yang dengki, dan sebagainya? Ini disebabkan karena insan lahiriahnya dengan insan batiniahnya tidak terpisah. Keadaan insan lahiriahnya menjadi keadaan insan batiniahnya.
Anda nampak adanya roh yang degil, ini dikarenakan insan batiniahnya telah mengenakan insan lahiriahnya yang degil. Roh yang sombong, karena insan batiniahnya telah mengenakan insan lahiriahnya yang sombong. Roh yang membenci, karena insan lahiriahnya yang penuh kebencian telah menutupi insan batiniahnya. Inilah yang dimaksud dengan tidak terpisahnya insan lahiriah dengan insan batiniah. Roh sebenarnya tidak mempunyai corak ragam, corak ragam insan lahiriahlah yang menjadi corak ragam roh. Bila insan lahiriah tidak diremukkan, maka roh itu terkena corak ragam dari insan lahiriah.
Roh berasal dari Allah. Sebenarnya roh itu tidak bercorak ragam, hanya karena kesalahan insan lahiriah kita, barulah roh terpengaruh. Roh seseorang bisa sombong, bisa degil, disebabkan insan lahiriahnya tidak diremukkan, keadaan insan lahiriahnya mempengaruhi rohnya. Dengan demikian, ketika rohnya tersalur keluar, keadaan insan lahiriahnya menempel pada rohnya dan keluar bersama-sama. Orang yang sombong menempelkan kesombongannya di atas rohnya dan keluar bersama-sama dengan rohnya. Orang yang degil menempelkan kedegilannya di atas rohnya dan keluar bersama-sama dengan rohnya. Demikian juga orang yang dengki menempelkan kedengkiannya ke atas rohnya dan keluar bersama-sama dengan rohnya. Demikianlah dalam pengalaman kita akan menjumpai roh yang sombong, roh yang degil, atau roh yang dengki. Ini semua bukan corak ragam roh sendiri, melainkan corak ragam insan lahiriah. Karena itu, bila kita ingin menjadikan roh seseorang bersih, tidak usah kita menanggulangi rohnya, kita hanya perlu menanggulangi insan lahiriahnya. Kesulitannya tidak terletak pada roh, tetapi pada insan lahiriah. Dari corak ragam apa yang terbawa keluar oleh roh seseorang, tahulah kita bahwa orang ini pada masalah apa belum tertanggulangi. Begitu Anda menjamah macam apa roh seseorang, itu berarti dalam insan lahiriahnya begitu juga, dan ini menunjukkan bahwa dalam masalah itu insan lahiriahnya belum tertanggulangi. Karena semua benda itu telah ia berikan kepada rohnya, dikenakan pada rohnya, digantungkan pada rohnya, maka rohnya tidaklah bebas, rohnya tersalut oleh semua keadaan insan lahiriahnya.
Kalau kita mampu menjamah roh seseorang, kita akan tahu keperluan seseorang. Rahasia mengenal orang tidak lain adalah dengan menjamah rohnya. Kita seharusnya mampu menjamah sesuatu yang ada di dalam roh seseorang. Bukan roh itu sendiri yang mengandung sesuatu, melainkan roh tertempel oleh sesuatu. Keadaan roh seseorang menunjukkan keadaan insan lahiriah orang itu. Bagaimana rupa roh, demikian juga rupa insan lahiriahnya. Corak ragam roh itu juga corak ragam insan lahiriahnya. Seorang saudara dalam suatu hal menunjukkan suatu gejala dan dalam hal itu yang paling menonjol kekuatannya, seakan-akan ada sesuatu yang selalu membentur Anda, maka ketika Anda menjamahnya, Anda segera merasakan adanya sesuatu itu, dan Anda akan tahu bahwa di dalam sesuatu itulah insan lahiriahnya belum tertanggulangi. Begitu Anda menjamah rohnya, tahulah Anda bagaimana keadaannya, dan Anda pun tahu apa yang ditampilkan atau apa yang selalu hendak ia sembunyikan. Kita mengenal orang berdasarkan pengalaman kita terhadap rohnya.
CARA MENGENAL ORANG — DI PIHAK KITA
Di pihak kita, bagaimana cara mengenal keadaan roh seseorang? Ini merupakan suatu hal yang perlu kita perhatikan dengan seksama. Pengaturan Roh Kudus pada diri kita merupakan pelajaran yang Allah berikan kepada kita. Roh Kudus mengatur kita sekali, kita diremukkan sekali. Roh Kudus mengatur kita sedikit, maka di dalam hal yang sedikit itulah kita diremukkan. Atas suatu hal kita mendapat pengaturan Roh Kudus, atas hal itulah kita diremukkan. Bukannya sekali pengaturan atau sekali peremukan sudah cukup. Pada diri kita terdapat banyak masalah yang perlu melewati banyak pengaturan dan banyak peremukan, barulah kita bisa mencapai suatu kondisi yang berguna. Kita mampu menggunakan roh yang menjamah saudara, tidak berarti kita mampu menggunakan roh menjamah semua saudara, juga tidak berarti kita mampu menggunakan roh menjamah segala macam keadaan rohani saudara saudari. Ini hanya berarti bila di dalam suatu hal kita telah mendapat mengaturan Roh Kudus, di dalam suatu hal kita telah Tuhan remukkan, maka di dalam hal itulah kita mampu menjamah saudara. Bila di dalam hal itu kita belum diremukkan oleh Tuhan, roh kita tidak berperasaan terhadap hal itu, roh kita sendiri tidak bisa dipergunakan. Maka, dengan sendirinya dalam hal itu kita tidak mampu menyuplai keperluan saudara saudari. Dengan kata lain, berapa banyak pengaturan Roh Kudus yang kita terima, sebanyak itu pula perasaan roh yang kita miliki. Berapa banyak peremukan yang kita peroleh, sebanyak itu pula tersalur keluarnya roh kita. Dalam masalah apa kita diremukkan, dalam masalah itu roh kita bisa tersalur bebas. Inilah fakta rohani yang tidak dapat dipaksa, bila memiliki, ya memiliki, bila tidak memiliki, ya tidak memiliki. Karena itu, kita harus menerima pengaturan Roh Kudus, harus menerima peremukan Roh Kudus. Hanya orang yang telah melewati banyak pengalaman, barulah pelayanannya bisa banyak; hanya orang yang banyak diremukkan, baru perasaannya kaya; hanya orang yang banyak merugi, baru banyak memberi. Kalau kita ingin menyelamatkan diri sendiri dalam suatu hal, maka kita tidak akan berguna dalam hal itu. Bila dalam suatu hal kita menyisakan bagi diri sendiri, memaafkan diri sendiri, maka dalam hal itu kita tidak memiliki perasaan rohani, juga tidak memiliki suplai rohani. Ini merupakan prinsip yang asasi.
Hanya orang yang pernah belajar baru bisa melayani. Orang bisa mempelajari pelajaran 10 tahun dalam satu tahun, tetapi juga bisa pelajaran satu tahun diulurkan sampai 20 atau 30 tahun. Orang yang menunda pelajaran yang seharusnya ia terima, ia akan menunda pelayanannya. Jika Allah memberi kita minat untuk melayani, kita harus nampak jalannya dengan tepat. Jalan melayani Allah tidak lain ialah jalan peremukan, jalan pengaturan Roh Kudus. Orang yang tidak mendapat pengaturan Roh Kudus, orang yang tidak diremukkan, tidak mungkin mempunyai pelayanan. Berapa banyak pengaturan Roh Kudus dan peremukan yang diterima seseorang, sebanyak itu pula pelayanannya. Hal ini tidak bisa dipaksakan, ada ya ada, tidak ada ya tidak ada. Dalam hal ini, emosi tidak ada gunanya, kepandaian pun tidak berfaedah. Berapa besar garapan Allah pada diri Anda, sebesar itu pula pelayanan Anda. Makin sering ditanggulangi, makin mampu mengenal orang. Makin sering melewati pengaturan Roh Kudus, makin mampu menggunakan rohnya untuk menjamah orang lain.
Ada satu hal yang membuat kita sangat prihatin, yaitu banyak saudara saudari yang tidak memiliki daya pembeda dalam hal-hal rohani. Mereka tidak sadar akan hal-hal yang berasal dari Tuhan, tidak tahu pula yang berasal dari alamiah. Mereka tidak merasakan jika seseorang sedang bekerja dengan otaknya, juga tidak paham jika seseorang bekerja hanya memakai emosinya. Mereka tidak dapat membeda-bedakan, karena pelajaran yang mereka pelajari terlampau sedikit. Roh Allah hanya sekali Allah berikan kepada kita, tetapi roh kita harus belajar sepanjang usia kita. Belajar lebih banyak satu kali, nampak lebih banyak satu kali. Dalam hal apa Tuhan pernah menanggulangi kita dengan keras, maka begitu timbul sedikit saja gejala hal itu pada seorang saudara atau saudari, segeralah kita tahu tanpa menunggu gejala itu keluar lebih banyak. Berapa banyak garapan Tuhan pada diri kita, sebanyak itu pula pengertian yang kita peroleh. Perasaan rohani kita peroleh satu demi satu dan sekali demi sekali. Berapa kali seseorang ditanggulangi, sebanyak itu juga perasaan rohaninya.
Misalnya, ada orang yang dalam otaknya sudah menetapkan bahwa sombong itu dosa, dia pun mampu mengkhotbahkannya, tetapi rohnya tidak merasakan bahwa sombong itu tidak benar. Maka, ketika orang lain menampilkan kesombongannya, rohnya tidak merasa jemu, sebaliknya di dalamnya seakan-akan bersimpati. Sampai suatu hari, ketika Roh Allah bekerja pada dirinya, menampakkan apa makna sombong itu dan dia pun Allah tanggulangi, maka kesombongan pada dirinya akan terbakar habis. Hasilnya, jika kembali ia memberitakan bahwa kesombongan itu dosa, walaupun khotbahnya tiada beda dengan yang sudah-sudah, tetapi ada suatu perbedaan asasi, yaitu setiap kali ada roh sombong yang keluar dari diri seorang saudara, segera dia merasa tidak benar. Tidak saja merasa tidak benar, bahkan merasa jemu sekali. Apa yang dia pelajari dari Allah dan apa yang dia nampak, menyebabkan batiniahnya mempunyai perasaan sehingga timbul rasa jemu. Istilah jemu ini sangat sesuai untuk mengungkapkan perasaan yang sedemikian. Sejak saat itu, dia mampu melayani saudara saudari karena dia telah mengenal penyakit itu. Penyakit itu pernah dia derita, dan dia telah mendapatkan kesembuhan. Walaupun dia tidak berani berkata bahwa dia telah disembuhkan dengan tuntas, tetapi paling tidak dia berani berkata bahwa dia sudah agak sembuh. Inilah sumber pengetahuan rohani.
Allah mengaruniakan Roh Kudus kepada kita sekali saja, tetapi perasaan rohani yang kita peroleh itu berulang-ulang. Berapa kali kita belajar, sebanyak itu juga macamnya perasaan yang kita peroleh. Kurang satu kali belajar, kurang satu macam perasaan. Karena itu, apa gunanya kita menyelamatkan diri sendiri dan melindungi diri sendiri. “Siapa saja yang menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya”. Di dalam masalah apa kita melindungi diri sendiri agar tidak menderita, di dalam masalah itu kita kehilangan sesuatu yang Tuhan inginkan kita peroleh. Karena itu, mohonlah kepada Tuhan untuk tidak menghentikan gerakan tangan-Nya pada diri kita. Semoga Tuhan bekerja pada diri kita. Semoga Dia bekerja sekali demi sekali. Yang paling kita sayangkan ialah, sekali Tuhan bekerja di atas diri kita tanpa hasil, dua kali juga tanpa hasil. Sekali demi sekali tangan Tuhan bekerja, kita tidak peduli apa yang Tuhan kerjakan, bahkan sering kita tentang. Mengapa orang tidak memiliki “kiat” rohani dan tidak memiliki daya tamyiz (daya membedakan)? Disebabkan kekurangan belajar pelajaran rohani. Karena itu sangat kita harapkan agar di hadapan Allah kita semua tahu bahwa makin banyak penanggulangan yang kita terima, makin banyak pengenalan kita terhadap orang-orang lain; makin banyak masalah yang kita pahami, maka orang yang tersuplai pun makin banyak. Bila kita ingin memperluas wilayah pelayanan kita, haruslah kita mau memperluas wilayah penanggulangan pada diri kita. Bila kita ingin memperluas wilayah pelayanan kita tanpa memperluas wilayah penanggulangan pada diri kita, sekali-kali tidak mungkin.
CARA MEMPRAKTEKKANNYA
Setelah kita menerima semua penanggulangan ini, dan telah memiliki pelajaran asasi ini, maka roh kita akan terbebaskan dan kita akan mampu menjamah saudara lain dan mengenal keadaan orang lain. Kini marilah kita belajar mempraktekkan bagaimana mengenal orang.
Bila kita ingin menjamah roh orang, tak dapat tidak kita harus mendengarkan pembicaraannya. Memang patut kita akui, ada orang yang sudah dapat menjamah orang tanpa orang itu berbicara lebih dulu. Tetapi orang yang sudah mencapai taraf ini sangatlah sedikit. Umumnya kita harus menunggu sampai orang itu berbicara. Allah berfirman bahwa apa yang terkandung di dalam hati akan terucapkan di mulut. Tidak peduli maksudnya bagaimana, tidak peduli siasatnya bagaimana, tentulah apa yang keluar dari mulutnya itulah yang memenuhi hatinya. begitu mulutnya berbicara, dengan sendirinya rohnya keluar. Kalau dia itu takabur, roh yang takabur itu keluar. Kalau dia itu fasik, roh yang fasik itu keluar. Kalau dia itu penuh kebencian, pastilah roh kebencian itu keluar. Anda mendengar pembicaraannya, mampulah Anda menjamah rohnya. Bila ada seorang berbicara dengan Anda, janganlah Anda hanya memperhatikan apa yang dia bicarakan, tetapi Anda harus memperhatikan macam apa rohnya. Kita mengenal orang bukan melalui pembicaraannya, melainkan melalui rohnya.
Pada suatu kali ketika Tuhan Yesus pergi ke Yerusalem, dan orang-orang Samaria tidak mau menyambut-Nya, dua orang murid-Nya berkata kepada Tuhan, “Tuhan, apakah Engkau mau, supaya kami menyuruh api turun dari langit untuk membinasakan mereka?” Akan tetapi Tuhan berpaling dan menegur mereka, “Kamu tidak mengerti bagaimana rohmu” (Tl.). Melalui ayat ini Tuhan memperlihatkan kepada kita bahwa mendengarkan pembicaraan orang haruslah mengerti keadaan rohnya. Begitu pembicaraan keluar, roh serentak mengikutinya. Yang memenuhi hati akan terluap dari mulut. Bagaimana keadaan hati seseorang, demikian juga yang akan terluap dari mulutnya.
Masih ada lagi, ketika Anda mendengarkan orang berbicara, jangan memperhatikan urusannya, namun perhatikan roh orang itu. Misalkan, hari ini ada dua orang saudara A dan B bersengketa. Saudara A mengatakan, saudara B salah; sebaliknya saudara B mengatakan, saudara A salah. Bila perkara ini dihadapkan kepada kita, bagaimana cara kita menanggulanginya? Ketika perkara itu terjadi, hanya mereka sendiri yang hadir, kita tak berdaya mengetahuinya. Tetapi begitu kedua saudara itu membuka mulut, ada satu hal yang dapat kita ketahui yaitu bagaimana roh mereka. Di kalangan orang Kristen, tidak saja perkaranya salah itu baru salah, bahkan rohnya salah itu pun sudah salah. Bila seorang saudara berbicara, kita boleh mengatakan urusannya bagaimana kita tidak paham, tetapi roh yang salah bisa kita ketahui. Anda mengatakan dia memaki Anda, tetapi roh Anda salah. Segala problem tergantung pada roh. Seseorang yang salah rohnya, tidak saja urusannya salah, bahkan orangnya juga salah. Di hadapan Allah, baik dan buruk, benar dan salah itu ditentukan rohnya, bukan hanya ditentukan dari urusannya. Karena itu, ketika Anda mendengarkan pembicaraan orang, jamahlah rohnya. Di dalam gereja, banyak problem yang diakibatkan oleh salahnya roh, bukan hanya perkaranya yang salah. Bila semua hanya ditentukan dari urusannya, itu berarti kita telah mengalihkan gereja ke wilayah lain. Kita ini berada di dalam wilayah roh, bukan berada di dalam wilayah urusan-urusan. Janganlah kita sampai terdorong ke dalam wilayah urusan-urusan.
Bila roh kita terlepas bebas, mampulah kita menjamah beraneka ragam keadaan roh. Kadang-kadang terjamah oleh kita semacam keadaan roh yang tertutup dari orang yang berbicara dengan kita, rohnya tidak keluar. Bila demikian, haruslah kita mampu memakai roh kita untuk menentukan urusannya dan mengenalnya. Semoga kita semua sejak kini mampu berkata seperti Paulus, “. . . kami tidak lagi menilai seorang pun juga menurut ukuran manusia” (2 Kor. 5:16). Kita tidak menilai orang menurut ukuran manusia. Bila kita telah mendalami pelajaran asasi ini, barulah ada jalan di dalam pekerjaan Allah.