← Daftar isi Remuknya Insan dan Keluarnya Roh · bab 3/9

URUSAN DI TANGAN

Mari kita bahas judul ini. Misalnya saja, seorang ayah menugaskan anaknya melakukan suatu urusan. Ini merupakan pesan si ayah kepada anaknya. Anaknya menjawab, “Masih ada urusan di tanganku, nanti setelah urusan di tanganku selesai kukerjakan, baru aku melakukan pesan ayah.” Inilah yang disebut “urusan di tangan”. Sebelum sang ayah berpesan kepada anaknya, sang anak itu sudah mempunyai urusan sendiri, inilah “urusan di tangan”. Kita masing-masing pasti mempunyai urusan di tangan. Ketika kita berjalan pada jalan Allah, sering kali urusan-urusan di tangan kita itulah yang menghalangi kita. Kalau kita sibuk mengerjakan urusan-urusan di tangan, dengan sendirinya pesan yang Allah berikan kepada kita menjadi terbengkalai. Sulit kita dapati orang yang tidak mempunyai urusan di tangan. Selalu saja, sebelum Allah berbicara, di tangannya sudah ada urusan. Sebelum insan lahiriah diremukkan, menumpuklah urusan di tangan. Insan lahiriah kita mempunyai urusan-urusan, insan lahiriah kita mempunyai bendabenda, insan lahiriah kita memiliki jerih payah, dan mempunyai kegiatannya sendiri. Karena itu, ketika Allah bekerja di dalam roh kita, insan lahiriah kita tidak mampu memenuhi permintaan Allah. Urusan di tangan inilah yang menyebabkan kita tidak bisa menjadi orang yang sungguh-sungguh mempunyai kegunaan rohani.

KEKUATAN INSAN LAHIRIAH TERBATAS

Kekuatan insan lahiriah kita terbatas. Misalnya, seorang saudara yang kekuatannya tidak begitu besar, mungkin mampu mengangkat benda seberat 50 kg. Kalau ia sudah mengangkat benda seberat 50 kg, ia tidak mungkin diberi beban lagi, walaupun hanya beberapa kilogram. Dia telah memikul beban 50 kg, itulah urusan di tangannya. Kekuatan kita terbatas, tidak mungkin mengangkat barang yang tak terbatas beratnya. Inilah contoh terhadap kekuatan tubuh. Sebagaimana kekuatan tubuh kita sangat terbatas, demikian juga kekuatan insan lahiriah kita.

Banyak orang yang paham akan terbatasnya kekuatan tubuh mereka, namun jarang yang nampak bahwa kekuatan insan lahiriah mereka juga terbatas. Karena itu, mereka menghambur-hamburkan kekuatan insan lahiriah mereka. Misalnya saja, seseorang yang telah mencurahkan segenap cinta kasihnya kepada orang tuanya, sudah tentu tidak mungkin mengasihi saudara-saudara, lebih-lebih tidak mungkin mengasihi orang banyak. Karena kekuatan insan lahiriahnya hanya sebesar itu, maka ia tidak mungkin mempergunakan kekuatannya untuk tujuan lain.

Demikian juga kekuatan pikiran kita. Tidak ada seorang pun yang mampu berpikir tanpa batas. Bila seseorang telah mencurahkan perhatiannya kepada suatu urusan, sudah tentu ia tidak mampu mencurahkan pikirannya kepada urusanurusan lain. Roma 8:2 memberi tahu kita, “Sebab hukum Roh hayat telah memerdekakan kamu dalam Kristus dari hukum dosa dan hukum maut” (Tl.). Tetapi mengapa hukum Roh hayat ini pada diri orang-orang tertentu tidak mendatangkan suatu hasil? Alkitab juga mengatakan bahwa kebenaran hukum Taurat digenapi di dalam diri orang yang menurut Roh. Dengan kata lain, “hukum Roh hayat” hanya mampu mendatangkan hasil pada diri orang rohani. Siapa orang yang rohani? Yaitu orang yang memikirkan perkaraperkara rohani. Lalu siapakah orang yang memikirkan perkara-perkara rohani? Yaitu orang yang tidak memikirkan tubuh daging. Orang yang tidak memikirkan perkara-perkara tubuh daging, barulah mampu memikirkan perkara-perkara rohani. Kata “memikirkan” boleh diterjemahkan “memperhatikan”.

Misalnya, ada seorang ibu hendak bepergian, ia lalu menitipkan anaknya kepada seorang teman wanitanya, katanya, “Tolong perhatikan anak saya sebentar.” Apa maksud kata “perhatikan” di sini? Artinya “mengawasi”. Manusia hanya mampu mengawasi satu macam urusan. Tidak mungkin mengawasi anak di dalam rumah sambil mengawasi kambing di gunung. Ketika Anda mengawasi anak yang dipercayakan kepada Anda, Anda tidak mungkin mengawasi hal-hal lain. Orang yang tidak mengawasi perkara-perkara tubuh daging barulah mampu mengawasi perkara-perkara rohani. Orang yang mengawasi perkara-perkara rohani baru bisa mendapatkan hasil dari hukum Roh hayat. Pikiran kita sangat terbatas, kalau pikiran sudah habis kita pergunakan pada perkara-perkara tubuh daging, sudah tentu pikiran kita tidak akan dapat menjangkau perkara-perkara rohani. Kalau kita sudah mengawasi perkara-perkara tubuh daging, sudah tentu tenaga kita tidak cukup untuk mengawasi perkara-perkara rohani. Kita harus tahu dengan tepat sebagaimana kekuatan pangkal lengan kita ini sangat terbatas, demikian juga kekuatan insan lahiriah kita. Karena itu bila Anda sudah ada urusan di tangan, Anda tidak mampu lagi melakukan urusan Allah. Berapa banyak urusan di tangan Anda, sebanyak itu pula kurangnya kekuatan pelayanan Anda kepada Allah. Urusan di tangan sungguh merupakan suatu penghalang yang amat besar.

Umpamanya, ada seorang yang urusan di tangannya berkenaan dengan emosi. Dia mempunyai keinginan yang campur-aduk, harapan yang malang melintang. Ini mau, itu juga mau. Ini dia rasakan, itu dia juga rasakan. Urusan di tangannya demikian banyak, dengan sendirinya ketika Allah meminta sesuatu dari dia, dia tidak mampu lagi mempergunakan emosinya, karena dia sudah menghabiskan emosinya. Paling sedikit dia telah menghabiskan emosinya selama dua hari, tunggu dua hari lagi baru ia mempunyai perasaan itu lagi, baru dia mampu berbicara. Emosi kita sangat terbatas, kita tidak dapat mempergunakannya secara tidak terbatas.

Ada orang yang tekadnya terlampau kuat, sehingga pembawaannya keras dan kasar. Kita mengira orang yang demikian ini pasti mempunyai kekuatan tekad yang mampu dia pergunakan tanpa batas. Tetapi ketika orang-orang yang keras itu disuruh menentukan sesuatu di hadapan Allah, ternyata tekadnya tidak menentu, ini mau itu pun mau. Gayanya memang seperti orang yang teguh, tetapi ketika urusan Allah tiba, ketika saat-saat harus mempergunakan tekad itu datang, dia sama sekali tidak mampu mempergunakan tekadnya.

Ada orang yang pandai mengajukan usul-usul, banyak perkara yang dia prakarsai. Sebentar begini sebentar begitu, sungguh banyak variasinya. Tetapi ketika dari dia diminta menentukan mana yang Allah kehendaki, dia ragu-ragu, tangannya tak berkutik dan tidak tahu harus bagaimana berbuat. Mengapa demikian? Sebab insan lahiriahnya sarat akan urusan di tangan. Dalam tangan orang ini, dalam pandangan mata orang ini, terlalu banyak benda, terlalu banyak urusan, sehingga seluruh dirinya telah terkuras, kekuatan insan lahiriahnya telah habis terpakai.

Karena itu, kita harus nampak bahwa kekuatan insan lahiriah kita sangat terbatas. Begitu ada urusan di tangan, maka terbataslah insan lahiriah kita.

ROH AKAN MEMAKAI INSAN LAHIRIAH YANG SUDAH DIREMUKKAN

Jika insan lahiriah kita dibatasi, maka roh kita pun terbatasi, karena roh tidak dapat melangkahi insan lahiriah manusia untuk bekerja pada diri manusia. Allah tidak memakai Roh-Nya sendiri dengan melangkahi roh manusia untuk melakukan pekerjaan atas diri manusia. Allah juga tidak memakai roh manusia dengan melangkahi insan lahiriah manusia untuk bekerja pada diri manusia. Inilah satu prinsip yang amat penting yang harus kita ketahui dengan jelas. Roh Kudus tidak melangkahi kita dalam melakukan garapannya atas diri orang lain. Roh kita perlu melalui insan lahiriah kita baru mampu bekerja di atas diri orang lain. Kalau ada urusan di tangan sehingga kekuatan habis terpakai, maka pekerjaan Allah yang seharusnya dikerjakan roh manusia tidak mempunyai jalan, Roh Kudus pun tidak mendapatkan jalan. Insan lahiriah menentang insan batiniah, insan lahiriah menghalang-halangi insan batiniah, sehingga insan batiniah tidak mempunyai jalan keluar. Karena itu berulang kali saya tekankan, insan lahiriah ini harus diremukkan.

Bila insan lahiriah sudah memiliki urusan di tangan, insan batiniah tidak mempunyai jalan keluar, dan pekerjaan Allah akan terhalang. Sebelum kita mengerjakan pekerjaan Allah, urusan di tangan itu sudah ada. Dengan kata lain, urusan di tangan itu bukan urusan Allah. Tanpa perintah Allah, tanpa kekuatan Allah, dan tanpa ketetapan Allah, urusan di tangan sudah aktif lebih dulu. Urusan di tangan bukan merupakan urusan yang tunduk di bawah tangan Allah. Urusan di tangan bertindak sendirian.

Terlebih dulu insan lahiriah Anda perlu diremukkan, barulah insan lahiriah bisa Allah pakai. Allah perlu meremukkan kasih Anda, barulah Dia bisa memakai kasih Anda untuk mengasihi semua saudara. Bila insan lahiriah Anda belum diremukkan, Anda melakukan pekerjaan Anda sendiri, Anda berjalan pada jalan Anda sendiri, dan Anda pun mengasihi orang Anda sendiri. Allah harus menghancurkan insan lahiriah Anda, barulah Allah mampu memakai kasih yang telah Dia hancurkan itu untuk mengasihi semua saudara. Kasih serupa ini barulah dapat diperluas. Begitu insan lahiriah diremukkan, barulah insan batiniah keluar. Insan batiniah perlu mengasihi, tetapi haruslah mengasihinya dengan memakai insan lahiriah. Bila insan lahiriah sudah memiliki urusan di tangan, insan batiniah tidak dapat menemukan sarana yang bisa dipakai.

Tekad kita juga kuat, tidak saja kuat, bahkan keras, terlampau keras. Ketika insan batiniah kita hendak memakainya, tekad kita tidak dapat ditemukan, karena tekad kita sudah bertindak sendiri, tekad kita sudah memiliki urusan di tangan. Allah harus menggunakan pukulan berat untuk menghancurkan tekad kita, sehingga kita terjerembab di dalam debu seraya berkata, “Tuhan, aku tidak berani berpikir, aku tidak berani memohon, aku tidak berani menentukan, di dalam segala hal aku perlu Engkau.” Terpukul sedemikian rupa sehingga kita tidak mempunyai tindakan individual dan insan batiniah kita dapat memakai tekad kita.

Kalau tidak ada insan lahiriah yang bisa dipakai, insan batiniah tidak mampu bekerja. Tanpa tubuh, kita tidak dapat mempergunakan firman Allah untuk berkhotbah. Tanpa mulut mana mungkin kita berkhotbah? Memang, berkhotbah harus dengan roh, tetapi berkhotbah pun harus dengan mulut. Mempunyai roh tetapi tidak mempunyai mulut, apa dayanya? Pada hari Pentakosta ada pekerjaan Roh Kudus, hari Pentakosta pun mengaruniakan petah lidah. Tanpa petah lidah, tidak ada kata-kata untuk menyampaikan firman Allah secara tuntas. Ketika kita tidak memiliki kata-kata yang keluar dari mulut kita, firman Allah pun takkan terdengar. Ada kata-kata manusia baru, ada firman Allah.

Misalnya, ada seorang saudara yang ingin memberitakan firman Allah. Di dalam rohnya ada kata-kata, dalam rohnya ada beban, bahkan beban yang cukup berat. Bila ia tidak menemukan pengutaraan yang cocok, bebannya tidak akan dapat dibebaskan. Akhirnya, beban itu akan sirna. Kita tidak meremehkan beban, katakanlah roh kita sarat akan beban, tetapi kalau pikiran kita tidak menyalurkannya keluar, beban itu akan tertahan sehingga tidak mampu tertampil keluar. Kita tidak mungkin hanya dengan beban yang di dalam roh menyelamatkan orang. Beban di dalam roh kita harus tersalur keluar melalui pikiran kita. Setelah di dalam kita berbeban, di luar kita perlu ada lidah dan mulut, perlu ada suara, perlu ada bantuan dari tubuh jasmani. Kesulitan kita sekarang ialah, Allah mampu memakai insan batiniah kita, Allah pun mampu memberikan beban kepadanya, tetapi kalau insan lahiriah kita dari pagi sampai malam terlampau sibuk, terlampau kacau; sehari suntuk menampilkan banyak corak ragamnya, sebentar bercorak ragam begini, sebentar lagi begitu; sudah tentu dalam situasi demikian roh kita tidak akan menemukan jalan keluar.

Hari ini Roh Allah harus keluar melalui diri manusia. Ada kasih manusia, baru ada kasih Allah. Harus ada pikiran manusia, baru ada pikiran Allah. Harus ada ketetapan manusia, baru ada kehendak Allah. Tetapi kesulitannya hari ini justru insan lahiriah ini sudah melakukan urusannya sendiri, mempunyai pandangan sendiri, mempunyai pikiran sendiri, sibuk dengan urusan sendiri, sehingga insan batiniah tidak mempunyai jalan keluar. Yang sedemikian ini perlu Allah remukkan. Bukan meremukkan si tekad, sehingga si tekad itu lenyap, melainkan memukul lenyap urusan-urusan di tangan si tekad, sehingga si tekad tidak bertindak semaunya sendiri. Bukannya tidak mempunyai pikiran, melainkan tidak berpikir sendiri, tidak mengeluarkan corak ragam sendiri, juga tidak berpikir mengikuti pikiran yang mengembara ke mana-mana. Bukannya tidak mempunyai emosi, melainkan emosi itu terbatas, sehingga mampu dikendalikan oleh insan batiniah. Dengan demikian, insan batiniah mampu menemukan tekad, pikiran, dan emosi yang bisa dipakai.

Roh memerlukan emosi, memerlukan pikiran, juga memerlukan tekad untuk berekspresi. Roh memerlukan insan lahiriah yang hidup. Roh tidak memerlukan insan lahiriah yang mati. Roh memerlukan insan lahiriah yang terpukul, yang mempunyai bekas luka, dan yang telah diremukkan, Roh tidak memerlukan insan lahiriah yang utuh mulus. Penghalang terbesar keluarnya roh kita ialah diri kita. Roh Allah yang tinggal di dalam roh kita tidak dapat menemukan jalan keluar, karena insan lahiriah kita sudah sarat dengan urusan di tangan. Semoga Allah membelaskasihani kita, agar insan lahiriah kita diremukkan, sehingga insan batiniah kita bebas dan mampu keluar.

Allah tidak ingin memusnahkan insan lahiriah kita, tetapi Allah juga tidak mengingini insan lahiriah kita yang tidak pernah diremukkan, yang masih utuh mulus. Allah hendak lewat melalui insan lahiriah kita. Allah ingin meluapkan kasih-Nya melalui insan lahiriah kita, Allah ingin berpikir melalui insan lahiriah kita, Allah juga ingin mengambil keputusan melalui insan lahiriah. Pekerjaan Allah terlaksana hanya melalui insan lahiriah kita yang sudah diremukkan. Bila kita ingin melayani Allah di hadapan Allah, kita harus mendapat penanggulangan asasi ini. Bila insan lahiriah kita tidak diremukkan, pada diri kita Tuhan tidak menemukan jalan keluar. Tuhan harus keluar melalui insan lahiriah kita untuk mencapai orang lain.

Sebelum diremukkan, insan lahiriah kita berlawanan dengan insan batiniah kita. Insan lahiriah sesosok insan, insan batiniah pun sesosok insan. Insan lahiriah adalah sesosok insan lahiriah yang utuh, sesosok insan lahiriah yang merdeka. Akibatnya, insan lahiriah bebas, insan yang penuh dengan perasaan; sedang insan batiniah terbelenggu. Setelah insan lahiriah sungguh-sungguh diremukkan, insan lahiriah tidak dapat bertindak sendiri. Jadi bukan dibasmi, melainkan sekarang sudah tidak lagi berlawanan dengan insan batiniah, malahan dikendalikan dan diatur oleh insan batiniah. Dengan demikian sekarang pada diri kita hanya tinggal sesosok insan saja yang utuh, sedang insan lahiriah kita sudah hancur berkeping-keping, sehingga ia dapat dengan mudah dipakai oleh insan batiniah.

Orang yang insan lahiriahnya sudah diremukkan adalah orang yang “manunggal”. Insan lahiriahnya terkendali oleh insan batiniahnya. Sedang orang yang belum beroleh selamat, juga merupakan orang yang “manunggal”, cuma saja yang mengepalai adalah yang lain. Insan batiniahnya terkendali oleh insan lahiriahnya. Walaupun orang yang belum beroleh selamat juga memiliki roh, tetapi karena insan lahiriahnya begitu kuat, maka insan batiniahnya kalah. Di dalam insan batiniahnya hanya tersisa sedikit protes hati nuraninya. Insan batiniah orang yang belum beroleh selamat boleh dikatakan sudah dipukul roboh, patuh mutlak kepada insan lahiriahnya. Orang yang sudah beroleh selamat seharusnya ganti kepala, seharusnya meremukkan insan lahiriahnya agar dia patuh mutlak kepada insan batiniahnya. Orang yang belum beroleh selamat diatur dan dikuasai oleh insan lahiriahnya. Tetapi kita yang sudah beroleh selamat, seharusnya dikomando oleh insan batiniah kita, sehingga ia dapat menguasai dan mengatur insan lahiriah kita.

Misalnya, bersepeda. Dalam hal bersepeda ada dua macam keadaan. Keadaan yang pertama, roda sepeda menggelinding di jalan; keadaan yang kedua, jalan yang menggelindingkan roda sepeda. Di atas jalan datar, begitu pedal sepeda kita injak, roda segera menggelinding, — roda menggelindingi jalan. Tetapi pada jalan menurun, pedal tidak usah kita injak, roda masih tetap menggelinding — jalan menggelindingkan roda. Ketika insan batiniah kita kuat dan insan lahiriah kita telah diremukkan, ini seperti roda menggelindingi jalan; menggelinding atau tidak, kita yang menentukan, kita mau cepat boleh kita percepat, kita mau lambat boleh kita perlambat. Tetapi, bila insan lahiriah kita keras dan belum diremukkan, kita seolah mengendarai sepeda di atas jalan yang menurun. Jalan yang menurun itu mampu menggelindingkan roda sepeda tanpa dapat kita hentikan. Ini berarti insan lahiriah mengendalikan insan batiniah.

Bisa atau tidaknya seseorang berguna di hadapan Allah dapat dilihat dari bisa atau tidaknya roh orang itu keluar dengan leluasa. Ketika insan batiniah kita tidak bisa keluar, maka segala sesuatu dilakukan oleh insan lahiriah, insan lahiriah kita yang bertindak sendirian, — jalan yang menggelindingkan roda. Bila Tuhan membelaskasihani kita dengan meratakan semua jalan yang menurun untuk insan lahiriah kita, meremukkan insan lahiriah kita, maka insan lahiriah kita tidak lagi berinisiatif dan tidak lagi menentukan, barulah insan batiniah kita mampu keluar dengan bebas tanpa dihalang-halangi oleh insan lahiriah. Bila Tuhan mau memberi sedikit karunia dengan jalan meremukkan insan lahiriah kita, kita akan menjadi orang yang mampu memakai roh; kapan saja kita menginginkan roh keluar, saat itu juga keluar.

MANUSIANYA, BUKAN DOKTRIN

Bukannya setelah kita belajar lalu mampu bekerja, masalah asasinya justru terletak pada manusia kita. Yang bekerja adalah manusia kita. Masalahnya sekarang, apakah manusia kita pernah atau tidak ditanggulangi di hadapan Allah. Memberikan suatu doktrin yang benar kepada orang yang salah, bisakah membuat orang itu mempunyai sesuatu untuk disuplaikan kepada gereja? Karena itu pelajaran asasi kita ialah menjadikan orang itu sebuah bejana yang berguna. Bila ingin menjadikan orang itu bejana yang berguna, haruslah insan lahiriahnya diremukkan.

Allah senantiasa menggarap diri kita. Walaupun kita sendiri tidak tahu jelas, Allah setiap hari meremukkan kita. Kesengsaraan bertahun-tahun, kesulitan bertahun-tahun; berapa kali Allah telah menghalang-halangi Anda, Anda mau begini, Allah menghalang-halangi; Anda mau begitu, Allah melarang. Kalau di dalam segala peristiwa yang Anda temui, Anda belum tahu apa sebenarnya yang hendak Allah kerjakan di atas diri Anda, patutlah Anda berdoa mohon kepada Allah demikian, “Ya Allah, celikkanlah mataku, agar aku nampak tangan-Mu.” Kadang-kadang mata keledai lebih tajam daripada mata orang yang menganggap diri sendiri sebagai nabi. Mata keledai sudah nampak malaikat utusan Allah, tetapi orang yang menganggap dirinya nabi tidak nampak. Keledai tahu rintangan Allah, tetapi orang yang menganggap dirinya nabi belum tahu juga. Ketahuilah, peremukan itu adalah jalan Allah pada diri kita. Bertahun-tahun, setindak demi setindak, Allah meremukkan insan lahiriah kita dengan tujuan meremukkan manusia kita, agar kita tidak menjadi orang yang utuh mulus. Sayang, banyak orang mengira bahwa yang kurang pada kita ialah pengajaran. Mereka mengira dengan bisa mendengar lebih banyak pengajaran, bisa mendapat bahan khotbah dan bisa mengerti beberapa tafsiran Alkitab, sudahlah bagus. Ini salah sama sekali. Tangan Allah pada diri Anda harus berbuat sesuatu untuk meremukkan Anda. Tidak bisa seturut mau Anda, tetapi seturut kehendak Allah; tidak bisa seturut pikiran Anda, tetapi seturut pikiran Allah; tidak bisa seturut ketetapan Anda, tetapi seturut ketetapan Allah. Allah berkehendak agar Anda diremukkan sama sekali. Tetapi kesulitan kita ialah, ketika sekali demi sekali Allah menghalang-halangi kita, kita bahkan mencela ini, mencela itu; seperti nabi yang dirinya sendiri tidak nampak tangan Allah, bahkan mencela keledai tidak mau berlari.

Semua peristiwa yang menimpa diri kita itu bermakna; semua peristiwa ada pengaturan Allah. Tidak ada satu pun yang menimpa orang Kristen secara kebetulan, tanpa pengaturan Allah. Kita harus patuh di bawah pengaturan Allah. Seharusnya kita mohon Allah mencelikkan mata kita, agar kita nampak adanya pengaturan Allah atas diri kita, nampak adanya tujuan Allah atas diri kita, nampak adanya pemukulan Allah atas segala urusan atau suasana kita. Bila pada suatu ketika Allah merahmati kita, sehingga kita mampu menerima pengaturan suasana oleh Allah, roh kita akan mampu keluar dan kita pun mampu memakai roh kita.

SETURUT HUKUM, BUKAN SETURUT DOA

Allah menanggulangi kita dan meremukkan kita agar roh mampu keluar, sehingga kita dapat mempergunakan roh; ini seturut hukum Allah bukan seturut doa kita. Apa artinya? Artinya, keluarnya insan batiniah kita melalui insan lahiriah kita yang telah diremukkan sudah merupakan hukum. Kita tidak mungkin menjadikannya begini atau begitu dengan doa.

Sebuah hukum tidak bisa berubah karena doa. Sambil berdoa, Anda meletakkan tangan Anda di dalam api, tangan Anda pasti sakit dan terbakar. (Di sini saya membicarakan hukum Allah, yang alami atau natural, bukan mujizat). Doa Anda tidak dapat mengubah hukum itu. Karena itu patutlah kita belajar menjadi orang yang patuh kepada hukum Allah. Jangan mengira asal kita berdoa, pasti berguna. Kalau tangan tidak ingin kena luka bakar, jangan masukkan ke dalam api. Jangan sambil berdoa, Anda memasukkan tangan ke dalam api. Allah menanggulangi kita seturut hukum-Nya. Insan batiniah harus keluar melalui insan lahiriah, ini sebuah hukum. Bila insan lahiriah Anda tidak diremukkan sampai luluh, insan batiniah Anda takkan mampu keluar. Bagaimanapun, inilah jalan Tuhan; Tuhan harus meremukkan manusia Anda ini, barulah Tuhan menemukan jalan keluar. Jangan sekali-kali kita tidak patuh akan hukum ini, seraya berdoa mohon berkat ini, mohon berkat itu. Doa sedemikian tidak berguna. Doa Anda takkan dapat mengubah hukum Allah.

Jalan pekerjaan rohani menghendaki agar Allah mampu keluar dari diri kita. Inilah satu-satunya jalan yang dipakai Allah. Pada diri orang yang tidak diremukkan, Injil tidak ada jalan, Allah pun tidak ada jalan, dan dia sendiri, bagaimanapun juga tidak ada jalan. Harus tunduk, benar-benar harus tunduk. Patuh akan hukum lebih baik daripada banyak berdoa. Mohon berkat tanpa pengertian, mohon Allah mengerjakan ini bagi kita, takkan dapat menandingi pengertian tentang jalan Allah dalam satu menit saja. Segala doa macam ini tidaklah berguna, sebaiknya kita hentikan saja doa demikian ini sambil berkata kepada Allah, “Ya Allah, aku bersujud di depan-Mu”. Sering kali doa mohon berkat malah merupakan suatu rintangan. Sering kali kita mendambakan berkat, tanpa nampak belas kasih-Nya. Kita perlu mohon sorotan-Nya, mau belajar patuh di bawah tangan-Nya dan tunduk kepada hukum-Nya. Kepatuhan ini sudah merupakan berkat.