SEBELUM DAN SESUDAH PEREMUKAN
Remuknya insan lahiriah merupakan pengalaman asasi setiap orang yang melayani Allah. Allah perlu terlebih dulu meremukkan insan lahiriah kita, barulah kita mampu melakukan suatu pekerjaan yang berguna bagi Dia.
Ketika seorang yang melayani Allah sedang bekerja, ada dua kemungkinan yang akan timbul. Pertama, karena insan lahiriahnya belum diremukkan, maka rohnya tidak bergerak, tidak bebas, rohnya tidak menampilkan kuat kuasa, sebaliknya pikiran dan emosinya yang bekerja. Dia seorang yang pandai, pikirannyalah yang bekerja; dia seorang yang bergairah, emosinyalah yang bekerja. Pekerjaan sedemikian takkan menyebabkan orang berjumpa dengan Allah. Kedua, karena insan lahiriahnya tidak terpisah, maka ketika rohnya keluar, masih tercampur pikiran atau tercampur emosi, inilah campur baur, tidak bersih. Pekerjaan sedemikian bisa menyebabkan orang mendapatkan pengalaman yang campur aduk dan tidak bersih. Kedua macam keadaan ini menyebabkan kita tidak dapat melayani Allah dengan sebaik-baiknya.
ROHLAH YANG MEMBERI HIDUP
Bila kita ingin bekerja secara efektif, ada suatu pengakuan asasi yang harus pernah kita kukuhi, yaitu “Rohlah yang memberi hidup”. Masalah ini bila tidak kita selesaikan tahun ini, tahun depan harus kita selesaikan; bila tidak kita selesaikan pada hari pertama kita dibaptis, sepuluh tahun kemudian harus kita selesaikan. Lambat atau cepat kita harus mengakui fakta ini. Banyak orang perlu dibawa ke tempat yang kering kerontang di atas gunung, perlu memetik hasil kesia-siaan dalam pekerjaannya, baru sadar bahwa pikirannya tidak berguna dan emosinya pun sia-sia. Tidak peduli pikirannya mampu memperoleh berapa banyak orang, tidak peduli emosinya mampu memperoleh berapa banyak orang, hasilnya sia-sia belaka. Lambat atau cepat kita harus mengakui, “Rohlah yang memberi hidup”. Hanya Rohlah yang mampu memberi hidup kepada kita. Pikiran Anda yang terbaik tidak mungkin memberi hidup kepada orang, bahkan emosi Anda yang terunggul pun tidak mungkin memberi hidup kepada orang. Kita bisa hidup hanya karena Roh. Apa yang Tuhan katakan selalu merupakan fakta. Rohlah yang memberi hidup. Setelah melewati banyak kesengsaraan dan kegagalan, banyak pekerja Tuhan baru dengan sungguhsungguh nampak fakta ini. Terbebaskannya roh mengakibatkan orang dosa dilahirkan kembali dan umat saleh terbangun. Ketika hayat tersalur melalui roh, maka orang yang menerimanya akan dilahirkan kembali dan ketika hayat tersuplai kepada kaum beriman, mereka akan terbangun. Tanpa Roh tidak akan ada kelahiran kembali maupun pembangunan.
Ada satu hal yang sangat ajaib, yaitu Allah tidak pernah bermaksud memisahkan Roh-Nya dengan roh kita. Ada beberapa tempat dalam Alkitab yang mencantumkan kata “roh” yang tidak dapat kita bedakan dengan jelas termasuk roh siapa, roh manusia atau Roh Allah. Bahkan ahli-ahli bahasa Gerika pun tidak mampu membedakan. Para penerjemah Alkitab, mulai dari Martin Luther orang Jerman itu, sampai pada para penerjemah Alkitab berbahasa Inggris turun-temurun, tidak berdaya menetapkan bahwa di antara kata-kata “roh” yang begitu banyak tersebar dalam Alkitab itu, yang mana terbilang roh manusia dan yang mana terbilang Roh Allah.
Dalam Roma 8, paling banyak kita temui kata “Roh” dengan huruf “R” besar. Tetapi siapa yang tahu bahwa di antara kata-kata Roh itu berapa banyaknya yang ditujukan kepada roh manusia dan berapa banyaknya yang ditujukan kepada Roh Allah? Para penerjemah Alkitab, ketika menerjemahkan sampai pada Roma 8 ini, terpaksa hanya membiarkan para pembaca menafsirkan sendiri mana yang terbilang roh manusia dan mana yang terbilang Roh Allah. Kata “roh” atau “pneuma” ini dalam Alkitab berbahasa Inggris diterjemahkan dengan kata “spirit”. Kata “spirit” ini kadangkadang ada yang ditulis dengan huruf S besar, kadang-kadang ada yang dengan huruf s kecil. Penerjemah yang satu berbeda dengan penerjemah yang lain, pendapat mereka masing-masing berlainan.
Tidak ada satu macam pendapat pun yang bisa kita ambil sebagai patokan, karena Roh Kudus dan roh manusia tidak dapat kita pisahkan. Ketika kita beroleh roh baru, itu berarti kita telah memperoleh Roh Allah. Ketika roh manusia dibangkitkan dari kematian, itulah saatnya kita beroleh Roh Kudus. Kita mengatakan, “Roh Kudus tinggal di dalam roh kita”, tetapi sangat sukar bagi kita untuk memisahkan yang mana roh kita dan yang mana Roh Allah. Roh Kudus dengan roh kita memang ada bedanya, tetapi tidak mudah kita pisahkan. Karena itu, keluarnya roh, tidak saja merupakan keluarnya roh manusia, juga keluarnya Roh Kudus melalui roh manusia. Karena Roh Kudus dengan roh manusia sudah manunggal, maka pada faktanya kita tidak bisa memisahkan, walaupun dalam istilah kata nama bendanya bisa kita bedakan cara penulisannya. Keluarnya Roh Allah adalah juga keluarnya roh manusia. Ketika orang-orang menjamah roh Anda, juga berarti menjamah Roh Kudus. Kalau Anda mampu menyebabkan orang menjamah roh Anda, sungguh puji syukur kepada Tuhan, karena itu berarti juga Roh Allah yang sudah dijamah orang; roh Anda telah membawa Roh Allah ke tengah-tengah manusia.
Ketika Roh Allah bekerja, perlu roh manusia yang mengantarkan. Ini mirip dengan cara kerja arus listrik yang berbeda dengan kilat. Arus listrik memerlukan kabel listrik sebagai pengantarnya. Bila kita ingin mendapatkan arus listrik, kita memerlukan kabel listrik untuk mengantarkan arus listrik kepada kita. Demikian juga Roh Allah memerlukan roh manusia sebagai pengantar-Nya, dan melalui pengantar ini Dia terbawa kepada manusia.
Setiap orang yang beroleh rahmat, Roh Kudus pasti berdiam di dalam rohnya. Karena itu, bisa tidaknya seseorang dipakai Allah bukan tergantung pada rohnya, melainkan tergantung pada insan lahiriahnya. Adanya kesulitan pada seseorang, karena insan lahiriahnya belum diremukkan dan pada dirinya tidak ada jalan yang berbekas darah, tidak ada luka, tidak ada bekas luka, karena itu Roh Allah terbelenggu di dalam roh manusia sehingga tidak berdaya keluar. Kadang-kadang insan lahiriah bergerak, namun insan batiniah diam saja; bahkan hanya insan lahiriah yang keluar, bukan insan batiniahnya.
BEBERAPA PERSOALAN RIIL
Mari kita tinjau hal ini dari beberapa persoalan riil. Misalnya, berkhotbah. Sering kali ketika kita berkhotbah, bergairah sekali, sesungguhnya khotbah kita sangat baik, sangat lancar. Tetapi ada satu kesulitan, di dalam kita dingin membeku, berharap dapat mengharukan orang lain, tetapi diri sendiri tidak terharu. Insan lahiriah kita bergerak, tetapi insan batiniah tidak ambil bagian. Insan lahiriah dengan insan batiniah tidak selaras, insan lahiriah tidak harmonis dengan insan batiniah, insan lahiriah panas tetapi insan batiniah dingin seperti es. Kita bisa mengatakan betapa besar kasih Tuhan, namun kita sendiri sedikit pun tidak merasakannya. Kita bisa mengatakan betapa kejamnya kesengsaraan salib, tetapi ketika kita kembali ke kamar, kita bisa tertawa. Apa yang mampu kita perbuat menghadapi keadaan demikian? Semua ini tidak lain karena insan batiniah kita dengan insan lahiriah kita tidak harmonis; insan lahiriah aktif, tetapi insan batiniah pasif. Yang bekerja ialah pikiran kita, bukan roh; yang aktif ialah emosi kita, bukan roh. Insan lahiriah yang bergerak, bukan insan batiniah. Seolaholah insan lahiriah berdemonstrasi dan insan batiniah hanya menonton. Insan lahiriah dan insan batiniah tidak seia-sekata.
Ada lagi satu macam keadaan, insan batiniah bergairah, yang di dalam ingin berteriak, namun seakan-akan tersumbat, berkata-kata setengah harian tetapi hanya berputarputar terus. Di dalam gelisah, yang di luar tenang-tenang saja; ingin terus berbicara, namun tidak bisa mengutarakannya. Nampak orang dosa, di dalam terasa ingin menangis, tetapi air mata tidak mengalir. Yang di dalam bergairah, tetapi ketika sudah di atas mimbar dan ingin berseru, yang di luar tidak tahu sudah melantur ke mana. Keadaan ini menyebabkan kita menderita. Ini juga disebabkan karena insan lahiriah kita belum diremukkan, sehingga insan batiniah kita tidak dapat keluar. Tempurung kita masih melekat kuat pada diri kita, sehingga insan lahiriah kita tidak patuh pada pengaturan insan batiniah. Yang di dalam menangis, yang di luar tidak menangis; yang di dalam menderita, yang di luar tidak merasakan apa-apa; yang di dalam penuh maksud, yang di luar tidak mau berbelok. Yang di dalam penuh perasan, namun tidak dapat menerobos keluar, roh yang di dalam tidak berdaya menerobos tempurung yang di luar.
Gejala-gejala semacam ini timbul bila insan lahiriah kita tidak diremukkan. Mungkin roh tidak bergerak, tetapi insan lahiriah bergerak; atau roh bergerak, tetapi insan lahiriah menghalang-halangi gerakan roh. Karena itu, remuknya insan lahiriah merupakan pelajaran pertama yang harus ditempuh oleh setiap orang yang belajar melayani Allah. Pelajaran asasi yang harus ditempuh oleh setiap orang yang melayani Allah ialah bagaimana membiarkan insan batiniah mampu menerobos keluar melalui insan lahiriah. Orang yang sungguh-sungguh dipakai oleh Allah ialah orang yang pikiran dan emosi insan lahiriahnya tidak bekerja secara individual, melainkan ketika yang di dalam hendak keluar, maka yang di luar membiarkannya lewat dengan leluasa, sehingga roh mampu menerobos yang di luar menuju kepada orang lain. Bila dalam hal ini kita tidak belajar sampai bisa, sangat terbataslah hasil pekerjaan kita. Semoga kita terbawa pada suatu tingkat di mana insan lahiriah kita diremukkan. Semoga Allah menunjukkan sebuah jalan kepada kita agar kita mengerti bagaimana bisa menjadi orang yang diremukkan.
Begitu seseorang telah Tuhan remukkan, dengan sendirinya pada dirinya tidak ada lagi sesuatu yang dilakukan secara bersandiwara saja. Yang di luar bergairah, yang di dalam diam-diam saja, yang sedemikian sudah tidak ada lagi padanya. Yang di dalam berperasaan dan ada kata-kata, yang di luar segera melaksanakannya. Tidak ada lagi hal yang di dalam ingin menangis, yang di luar tidak menangis. Juga tidak ada lagi kejadian yang di dalam bermaksud, yang di luar hanya berputar-putar terus, sehingga sepatah kata pun tak terutarakan. Pikirannya tidak lagi miskin, sehingga bila ingin mengucapkan dua buah kalimat berbobot, tidak perlu dengan dua puluh kalimat. Pikirannya bahkan mampu membantu roh. Pikirannya tidak menghalang-halangi roh. Emosi kita ini juga merupakan tempurung yang keras sekali. Banyak orang yang ketika ingin bergembira, tidak mampu bergembira; ingin menangis, tidak dapat menangis; insan lahiriahnya tidak patuh kepada insan batiniahnya. Bila dengan pengaturan dan penyorotan Roh Kudus, Tuhan memukul kita dengan keras, maka ketika perasaan kita bersukacita, kita pun mampu bersukacita; dan ketika kita berdukacita, kita pun mampu meluapkan rasa dukacita itu. Roh kita yang ada di dalam dengan bebas sekali bisa terluap keluar, sedikit pun tidak terhambat.
Remuknya insan lahiriah kita menyebabkan roh kita bebas keluar. Terbebasnya roh, tidak saja menyebabkan pekerjaan kita akan berfaedah, tetapi juga berfaedah di dalam kehidupan pribadi kita. Jika roh bisa bebas keluar, kita bisa secara berkesinambungan beserta dengan Allah. Jika roh bisa bebas keluar, dengan sendirinya mudah sekali kita menjamah Roh wahyu dalam Alkitab. Jika roh bisa keluar, dengan sendirinya kita mampu mempergunakan roh untuk menerima wahyu. Jika roh bisa keluar, saat kita bersaksi, saat kita menyampaikan firman Allah, saat kita dengan firman Allah melayani sesama kita, atau saat kita melakukan pelayanan firman, kita akan memiliki kekuatan memakai roh kita untuk menyampaikan firman-Nya. Tidak hanya demikian, jika roh bebas keluar, dengan sendirinya kita mampu memakai roh kita untuk menjamah roh orang lain. Ketika seseorang datang ke hadapan kita dan berbincang-bincang dengan kita, roh kita mampu mengukurnya, sehingga kita tahu Dia itu sebenarnya orang yang bagaimana, pembawaannya macam apa, termasuk orang Kristen macam apa, dan apa keperluannya? Roh kita mampu menjamah rohnya. Kalau roh kita sudah bebas, dan leluasa, dengan sendirinya orang lain juga mudah menjamah roh kita.
Ada orang yang hanya bisa kita jamah pikirannya, hanya bisa kita jamah emosinya, atau hanya bisa kita jamah tekadnya, tetapi tidak dapat kita jamah rohnya. Ada orang yang walaupun sudah berbicara dengan kita tiga jam lamanya, tetapi kita sebagai orang Kristen dan dia juga orang Kristen, belum juga terjamah rohnya. Tempurung luarnya sangat keras dan tebal sehingga orang lain tidak mudah menjamah keadaan di dalamnya. Remuknya insan lahiriah menyebabkan roh keluar dan menyebabkan keterbukaan. Kalau roh kita terbuka, mudah terjamah oleh orang lain.
PERGI KELUAR DAN KEMBALI
Bila insan lahiriah sudah diremukkan, dengan sendirinya roh manusia bisa berada di hadapan Allah secara berkesinambungan. Ada seorang saudara setelah dua tahun percaya Tuhan, pada suatu hari ia membaca buku berjudul “The Practice of the Presence of God” (Hidup Beserta Allah) tulisan Saudara Lawrence, hatinya merasa gelisah, karena Saudara Lawrence mampu menikmati penyertaan Allah secara berkesinambungan, tetapi ia sendiri tidak mampu. Kemudian ia bersama-sama dengan seorang saudara lainnya bertekad untuk berdoa setiap satu jam. Mengapa mereka berdua berbuat demikian? Sebab dalam Alkitab dikatakan, “Tetaplah berdoa”. Kata-kata ini mereka ganti dengan “berdoalah tiap jam”. Setiap jam mereka berdoa sebentar, setiap kali lonceng jam berbunyi, segera mereka berdoa sebentar. Karena mereka merasa tidak dapat mempertahankan penyertaan Allah, maka dengan sekuat tenaga mereka berusaha datang kembali ke hadapan Allah. Ini seperti orang yang pergi bekerja, setelah pulang ke rumah perlu segera kembali ke hadapan Allah; atau seperti orang yang bersekolah, setelah pulang dari sekolah, segera kembali ke hadapan Allah. Kalau tidak pulang, berarti sehari suntuk tidak kembali ke hadapan Allah. Mereka sering berdoa, hari Minggu seharian berdoa; hari Sabtu, setengah hari berdoa. Dengan cara demikian mereka berdua bertahan sampai tiga tahun. Namun kesulitan mereka ialah, ketika mereka kembali ke hadapan Allah, mereka merasakan penyertaan Allah; kalau mereka pergi keluar, penyertaan Allah juga menyingkir. Ini bukan hanya merupakan kesulitan bagi mereka, juga merupakan suatu penderitaan besar bagi banyak orang Kristen. Ini adalah cara mempertahankan penyertaan Allah dengan bersandar pada daya ingat manusia. Sewaktu ingat, ada penyertaan; sewaktu tidak ingat, penyertaan-Nya hilang. Mempertahankan penyertaan Allah dengan bersandar pada daya ingat adalah suatu kebodohan, karena penyertaan Allah ada di dalam roh, bukan di dalam ingatan.
Bila kita ingin menyelesaikan masalah besertanya Allah dengan kita, terlebih dulu masalah remuknya insan lahiriah kita harus diselesaikan. Emosi kita tidak sama sifat hakikinya dengan Allah, dan tidak mungkin kita sangkut-pautkan menjadi satu; demikian juga pikiran kita. Injil Yohanes 4 menampakkan kepada kita apa sebenarnya sifat hakiki Allah. Allah itu Roh! Hanya roh kitalah yang mempunyai sifat hakiki yang sama dengan Allah. Hanya roh kitalah yang mampu harmonis dengan Allah hingga kekal. Karena itu, bila kita berusaha mendapatkan penyertaan Allah dengan pikiran kita, begitu pikiran kita istirahat, penyertaan-Nya pun tiada. Bila kita beroleh penyertaan Allah dengan emosi kita, begitu emosi kita berhenti, penyertaan-Nya pun hilang. Sering kali ketika kita bersukacita, kita mengira Allah sedang menyertai kita. Tetapi sukacita toh bisa berhenti. Begitu sukacita berhenti, penyertaan-Nya pun berhenti. Atau kita mengira bila kita berdukacita dan mencucurkan air mata, kita akan merasakan penyertaan Allah; tetapi kita tidak mungkin mencucurkan air mata seumur hidup, air mata juga akan kering. Ketika tidak menangis, tidak merasakan penyertaan Allah. Pikiran maupun emosi hanya merupakan sebagian dari inisiatif perbuatan kita. Tidak ada satu macam perbuatan apa pun yang tidak pernah berakhir. Kalau dengan perbuatan mempertahankan penyertaan Allah, begitu perbuatan berhenti, penyertaan-Nya pun berhenti.
Sifat hakikinya harus sama, seperti udara dengan udara atau air dengan air, barulah tidak mudah dipisahkan. Dengan sifat hakiki yang sama baru bisa berbaur, baru bisa menimbulkan penyertaan. Insan batiniah kita ini sama sifat hakikinya dengan Allah, sehingga melalui Roh Allah tertampillah penyertaan-Nya. Karena insan lahiriah kita hidupnya di dalam perbuatan, maka insan lahiriah ini sangat mengganggu insan batiniah. Insan lahiriah tidak saja tidak membantu, bahkan menghalang-halangi. Ketika insan lahiriah sudah diremukkan, insan batiniah tidak akan terganggu lagi.
Roh Allah ditaruh di dalam kita adalah untuk bereaksi dengan Dia. Sedang insan lahiriah berfungsi untuk mengadakan reaksi dengan perkara-perkara luaran. Seseorang kehilangan penyertaan Allah dan tidak bisa menikmati penyertaan Allah, karena insan lahiriahnya selalu meresonansi perkara-perkara luaran. Memang kita tidak berdaya mengenyahkan perkara-perkara luaran, tetapi kita mampu menghancurkan insan lahiriah kita. Kita tidak berdaya menghentikan perkara-perkara luaran, berjuta-juta perkara di dunia akan berlangsung terus. Kalau insan lahiriah kita tidak diremukkan, begitu di luar timbul peristiwa sepele saja, di dalam kita sudah beresonansi. Kita tidak mampu dengan tenang dan terus-menerus menikmati penyertaan Allah karena resonansi insan lahiriah kita. Jadi, beserta dengan Allah adalah berdasarkan pada remuknya insan lahiriah.
Jika Allah membelaskasihani kita dengan menghancurkan insan lahiriah kita, kita akan memiliki keadaan sebagai berikut: Dulu, kita selalu ingin tahu, sekarang tidak ada sesuatu yang dapat menimbulkan rasa ingin tahu kita. Dulu kita mempunyai emosi yang sangat kuat, peristiwa sepele saja sudah mengusik kita; mengusik perasaan kita yang paling halus yaitu cinta kasih, atau mengusik perasaan kita yang paling kasar yaitu temperamen kita; sedikit timbul perkara, di dalam kita sudah beresonansi sehingga kita terjerumus hidup di dalamnya dan kehilangan penyertaan Allah. Tetapi setelah Allah membelaskasihani kita dengan meremukkan insan lahiriah kita, diremukkan sedemikian rupa sehingga di dalam kita tidak tergoyahkan, penyertaan Allah juga senantiasa ada di dalam kita sehingga insan batiniah kita merasa tenteram.
Kita harus nampak jelas, menikmati penyertaan Allah adalah berdasarkan remuknya insan lahiriah kita. Seseorang mampu dengan berkesinambungan menikmati penyertaan Allah, hanya berdasarkan remuknya insan lahiriahnya. Seperti saudara Lawrence, ketika ia bekerja di dapur, banyak orang minta ini itu dari dia, suara ramai sekali, suasana gaduh, suara benturan mangkuk, piring, panci, sendok garpu, bising sekali, tetapi di dalam sama sekali tidak terpengaruh. Ketika berdoa, ia merasakan penyertaan Allah; ketika sibuk bekerja, juga merasakan penyertaan Allah. Mengapa dalam kesibukannya ia tetap dapat menikmati kehadiran Allah? Sebab suara di luar tidak dapat mempengaruhi yang di dalamnya. Mengapa ada orang bisa kehilangan penyertaan Allah? Sebab, begitu di luar ada suara sedikit saja, sudah mempengaruhi yang di dalamnya.
Ada orang yang tidak mengenal Allah, berpikir hendak mempertahankan penyertaan Allah. Apa yang mereka lakukan? Mereka mencari suasana yang jauh dari kebisingan. Mereka mengira, semakin jauh meninggalkan orang-orang, semakin jauh meninggalkan urusan-urusan, akan semakin merasakan penyertaan Allah. Mereka salah paham, mengira kesulitan mereka terletak pada suara bising di luar atau pengusikan oleh orang-orang sekitar. Tidak! Kesulitan mereka justru terletak pada diri mereka sendiri. Allah tidak menyelamatkan kita terlepas dari kebisingan, Dia menyelamatkan kita dari timbulnya resonansi di dalam kita. Tak peduli betapa hiruk-pikuknya di luar, di dalam kita bisa tidak beresonansi, tak peduli bagaimana tingkah di luar, di dalam kita juga bisa tidak beresonansi. Begitu insan lahiriah kita diremukkan, di dalam kita takkan ada resonansi, di dalam kita bahkan seolah-olah tidak mendengar. Syukur kepada Allah, boleh saja kita mempunyai telinga yang sangat peka, tetapi melalui kasih karunia-Nya yang menimpa diri kita, melalui perbuatan Tuhan atas diri kita, dan melalui remuknya insan lahiriah kita, ketika bermacam-macam perkara menimpa diri kita, itu tidak akan mempengaruhi yang di dalam kita. Di dalam suasana yang sangat gaduh pun kita mampu berdoa dengan khusuk di hadapan Allah, sama seperti ketika kita berdoa seorang diri di dalam kamar yang sepi.
Orang yang insan lahiriahnya sudah diremukkan, tidak perlu kembali ke hadapan Allah, karena ia sebenarnya memang sudah berada di hadapan Allah. Orang yang belum diremukkan, setiap kali ia melakukan suatu urusan, perlu sekali lagi kembali ke hadapan Allah, karena sebelumnya ia sudah pergi keluar. Orang yang sudah diremukkan, selamanya tidak pernah pergi keluar, karena itu ia tak perlu kembali. Banyak orang yang karena insan lahiriahnya belum diremukkan, mereka senantiasa pergi keluar, sampai-sampai dalam melakukan pekerjaan Tuhan pun, ia sudah pergi keluar meninggalkan penyertaan Allah. Orang yang demikian sebaiknya jangan bergerak, karena kalau ia bergerak sedikit saja, ia sudah pergi keluar. Tetapi orang yang sungguh-sungguh mengenal Allah, tidak pernah pergi keluar meninggalkan penyertaan Allah, karena itu ia tidak perlu kembali. Hari ini mereka seharian tekun berdoa di hadapan Allah, mereka sedang menikmati penyertaan Allah; esok harinya mereka sehari suntuk sibuk membersihkan lantai, namun mereka masih tetap menikmati penyertaan-Nya. Begitu insan lahiriah kita diremukkan, kita mampu hidup di hadapan Allah, tidak usah kembali, tidak ada perasaan kembali, juga tidak ada rasa perlunya kembali.
Kebiasaan kita ialah sewaktu kita datang ke hadapan Allah baru merasakan penyertaan-Nya. Tak peduli kita melakukan urusan yang betapa kecil pun, selalu merasa diri sendiri sudah sedikit pergi keluar. Pengalaman perorangan kita mungkin demikian, betapapun kita telah menjaga diri kita dengan ketat, tetapi begitu kita mengerjakan urusan agak banyak, kita tetap bisa saja pergi keluar. Banyak saudara saudari selalu merasakan perlunya meletakkan apa-apa yang tergenggam di tangan mereka, baru mampu berdoa. Mereka merasa bahwa keadaan mereka sewaktu datang ke hadapan Allah tetap ada sedikit perbedaan dengan keadaan mereka sewaktu bekerja. Umpamanya saja, di sini kita sedang membantu seseorang atau memberitakan Injil kepadanya atau membina orang itu, sejenak kemudian kita merasa perlu berlutut berdoa. Ketika hendak berdoa, selalu saja kita merasa perlu kembali ke hadapan Allah, selalu saja kita merasa bahwa ketika kita sedang berbicara kita sudah sedikit meninggalkan Allah, karena itu lalu berdoa agar bisa lebih dekat kepada-Nya. Tadi seolah kita telah pergi keluar meninggalkan Allah, karena itu berdoa agar bisa lebih dekat kepada-Nya. Tadi seolah kita telah pergi keluar meninggalkan penyertaan-Nya, sekarang kembali ke hadapan-Nya. Tadi telah kehilangan penyertaan Allah, sekarang perlu didapat kembali. Atau ketika mengerjakan urusan rumah tangga, seperti mengepel lantai, mengerjakan kerajinan tangan, setelah selesai mengerjakan itu semua, lalu ingin berdoa. Saat itu selalu merasa perlu kembali sebentar, karena terasa seakan-akan ada sepenggal jalan yang perlu kita tempuh untuk kembali. Perasaan untuk kembali macam apa saja, berarti sebelumnya sudah pergi keluar. Bila insan lahiriah sudah diremukkan kita tidak perlu kembali. Ketika kita sedang berbincangbincang dengan seseorang, seharusnya tidak beda dengan ketika kita sedang berlutut berdoa mengucapkan syukur kepada Allah atas penyertaan-Nya. Ketika kita sedang mengepel atau mengerjakan kerajinan tangan, seharusnya tidak beda seperti ketika kita berdoa di dalam penyertaan-Nya. Segala sesuatu tidak mampu menyebabkan kita pergi keluar meninggalkan hadirat Allah, karena itu kita tidak perlu kembali.
Mari kita ambil satu contoh. Marah merupakan perasaan yang paling kasar di dalam diri manusia. Alkitab tidak melarang kita marah, karena ada semacam amarah yang tidak bersangkut-paut dengan dosa. Alkitab mengatakan, “Marah, tetapi jangan berdosa”, ini berarti marah itu bisa saja tidak berdosa. Tetapi marah itu sangat kasar. Marah itu dekat sekali dengan dosa. Dalam firman Allah tidak dikatakan “kasih, tetapi jangan berdosa”, karena kasih itu berjauhan sekali dengan dosa. Dalam firman Allah juga tidak dikatakan “lemah-lembut, tetapi jangan berdosa”, karena lemah-lembut juga berjauhan sekali dengan dosa. Namun firman Allah mengatakan, “Marah, tetapi jangan berdosa”, ini berarti marah itu dekat sekali dengan dosa.
Kadangkala, ada seorang saudara bersalah besar, perlu mendapat teguran keras, tetapi ini merupakan satu perkara yang sangat tidak mudah. Perasaan kasih sayang mudah kita pergunakan, tetapi perasaan marah tidak mudah kita pergunakan, karena sedikit saja tidak berhati-hati, akan terjerumus ke tempat lain. Karena itu marah yang seturut kehendak Allah sangatlah tidak mudah. Kalau ada saudara atau saudari yang sudah mengenal apa yang disebut remuknya insan lahiriah dan mampu menikmati penyertaan di hadapan Allah — karena rohnya tidak terusik oleh insan lahiriahnya sehingga ia mampu senantiasa beserta dengan Allah — setelah ia dengan keras sekali menegur seorang saudara, ia masih tetap dapat menikmati penyertaan Allah seperti keadaan ketika ia berdoa. Dengan kata lain, setelah dengan keras sekali ia menegur seorang saudara, ia dapat datang ke hadapan Allah untuk berdoa tanpa mempunyai perasaan untuk kembali ke hadapan Allah. Perasaan untuk kembali ke hadapan Allah yang bagaimanapun selalu berarti bahwa ia sudah pergi keluar meninggalkan Allah. Kita mengakui ini memang merupakan satu perkara yang amat sulit. Tetapi kalau insan lahiriah kita sudah diremukkan, kita dapat menegur seorang saudara tanpa perlu kembali ke hadapan Allah, dan penyertaan Allah masih tetap bisa kita nikmati terus menerus seperti sedia kala.
TERPISAHNYA INSAN BATINIAH DENGAN INSAN LAHIRIAH
Remuknya insan lahiriah menyebabkan segala urusan luaran hanya mampu mencapai lahiriah Anda, sedang insan batiniah Anda masih tetap hidup di hadapan Allah. Kesulitan pada kebanyakan orang timbul karena bersatunya insan batiniah dengan insan lahiriah mereka, sehingga kalau suatu urusan mempengaruhi insan lahiriah mereka, dengan sendirinya juga mempengaruhi insan batiniah mereka. Seharusnya urusan luaran hanya mampu mempengaruhi insan lahiriah, tanpa mempengaruhi insan batiniah. Pada diri orang yang insan lahiriahnya belum diremukkan, insan lahiriahnya itu bisa mempengaruhi insan batiniahnya. Sebaliknya pada diri orang yang insan lahiriahnya sudah diremukkan, insan lahiriahnya tidak mampu mempengaruhi insan batiniahnya. Bila Allah membelaskasihani kita dengan meremukkan insan lahiriah kita sehingga insan lahiriah kita terpisah dari insan batiniah kita, maka urusan-urusan luaran hanya mampu mempengaruhi insan lahiriah kita, dan insan lahiriah kita tidak mampu mempengaruhi insan batiniah. Karena insan lahiriah telah terpisah dengan insan batiniah, maka segala macam kegaduhan dan kekacauan luaran hanya berhenti sampai di situ saja, tidak dapat menerobos ke dalam.
Anda mampu dengan insan lahiriah Anda berbincang-bincang dengan orang lain sambil bersekutu dengan Allah dengan insan batiniah Anda. Insan lahiriah Anda boleh diganggu oleh kebisingan di luar, tetapi insan batiniah Anda masih saja hidup di hadapan Allah. Anda mampu mempergunakan insan lahiriah Anda untuk mengerjakan banyak urusan luaran, berjerih payah, dan bersentuhan dengan aneka ragam hal di dalam dunia; tetapi semuanya hanya berhenti sampai pada insan lahiriah Anda saja, sedang insan batiniah Anda sama sekali tidak terpengaruh dan masih tetap hidup di hadapan Allah. Karena Anda tidak pernah pergi keluar, maka Anda juga tidak perlu kembali.
Misalnya, seorang saudara sedang bekerja membuat sebuah jalan, kalau insan lahiriahnya sudah terpisah dengan insan batiniahnya, maka urusan-urusan luaran tak mampu mengganggu insan batiniahnya. Dengan insan lahiriahnya dia mampu bekerja, tetapi insan batiniahnya senantiasa tertuju kepada Allah. Atau orang-orang yang menjadi orang tua, insan lahiriahnya membawa anak-anaknya bermain atau bersenda-gurau, kalau mendadak timbul urusan rohani, ia segera dapat menyalurkan insan batiniahnya, karena insan batiniahnya tidak pernah meninggalkan Allah. Terpisahnya insan lahiriah kita dengan insan batiniah kita sangat besar sangkut pautnya dengan pekerjaan dan hayat kita. Hanya dengan demikianlah baru kita bisa melanjutkan pekerjaan terus-menerus, tanpa perlu kembali ke hadapan Allah.
Ada orang yang insannya satu, ada juga yang insannya dua. Ada orang yang insan batiniah dan insan lahiriahnya merupakan satu insan. Ada juga orang yang insan batiniahnya dengan insan lahiriahnya sudah terpisah. Bagaimanakah keadaan orang yang insannya hanya satu? Ketika ia mengerjakan suatu urusan, sekujur dirinya tercurah pada urusan itu, sehingga dia sudah pergi keluar meninggalkan Allah; kemudian ketika ia ingin berdoa, ia harus membuang urusan-urusan tadi supaya sekujur dirinya dapat tercurah dalam doa di hadapan Allah. Orang yang demikian, sering kali harus pergi keluar, sering kali harus kembali lagi. Orang yang demikian adalah orang yang insan lahiriahnya belum diremukkan. Ada lagi orang yang insan lahiriahnya telah Tuhan remukkan, sehingga insan lahiriah tidak lagi mempengaruhi insan batiniahnya. Orang demikian mampu mempergunakan insan lahiriahnya untuk mengurus urusan-urusan luaran, bersamaan dengan itu dapat pula dengan insan batiniahnya secara berkesinambungan menikmati penyertaan Allah di hadirat-Nya. Kapan saja dirasa perlu menampilkan insan batiniahnya di hadapan orang, waktu itu juga terlaksana. Kesertaannya dengan Allah tidak pernah putus. Karena itu, masalahnya terletak pada insan orang itu satu atau dua; orang itu insan lahiriahnya terpisah dengan insan batiniahnya atau tidak. Kedua macam keadaan di atas sangatlah berbeda.
Bila Anda mendapatkan belas kasihan Allah sehingga Anda mempunyai pengalaman terpisahnya insan Anda, maka ketika Anda mengerjakan suatu urusan luaran, walaupun insan lahiriah Anda bergerak, tetapi Anda tahu bahwa di dalam Anda masih ada seorang insan yang sama sekali tidak ikut bergerak. Yang satu pergi keluar, yang satu berada di hadapan Allah. Insan lahiriah saja yang mengurusi urusanurusan luaran; urusan-urusan luaran paling jauh hanya dapat mencapai insan lahiriah saja, tidak dapat menerobos ke dalam insan batiniah. Orang yang mengenal penyertaan Allah, insan lahiriahnya menanggulangi urusan-urusan luaran, sedang insan batiniahnya senantiasa berada di hadapan Allah, tak putus-putusnya menikmati penyertaan Allah. Dengan demikian di dalam melakukan pekerjaan, ia mampu menghemat banyak waktu. Banyak orang yang karena insan lahiriahnya belum terpisah dengan insan batiniah, maka sewaktu-waktu mereka perlu mencurahkan seluruh diri untuk pergi keluar, kemudian juga perlu sewaktu-waktu seluruh diri kembali. Banyak orang menemui kesulitan di dalam urusan-urusan luar, karena insan batiniah mereka ikut pergi keluar bersama insan lahiriah mereka. Kalau insan batiniah Anda sudah terpisah dengan insan lahiriah, Anda hanya dengan insan lahiriah mengerjakan urusan-urusan luaran, sedang insan batiniah tidak bergerak, maka urusanurusan itu mampu diselesaikan tanpa kesalahan. Keadaan semacam ini mampu melindungi kita sehingga tidak sampai terjerumus ke dalam tubuh nafsani ketika menghadapi urusan-urusan luaran, dan insan batiniah kita sedikit pun tidak terjamah.
Jadi, roh kita bisa terpakai atau tidak, itu tergantung pada dua macam garapan Allah atas diri kita. Pertama, ialah meremukkan insan lahiriah kita; kedua, ialah memisahkan roh dan jiwa kita atau memisahkan insan batiniah kita dengan insan lahiriah kita. Hanya setelah Allah melakukan dua macam garapan ini atas diri kita, barulah kita mampu mempergunakan roh kita. Remuknya insan lahiriah kita melalui pengaturan Roh Kudus, sedang terpisahnya insan batiniah dengan insan lahiriah adalah melalui wahyu Roh Kudus.