PENTINGNYA PEREMUKAN
Cepat atau lambat, setiap orang yang melayani Tuhan akan menemukan bahwa penghalang pekerjaannya tidak lain justru dirinya sendiri. Cepat atau lambat, setiap orang yang melayani Tuhan akan mendapati bahwa insan (manusia) lahiriahnya tidak selaras dengan insan (manusia) batiniahnya. Insan batiniahnya cenderung ke arah sini, sedang insan lahiriahnya cenderung ke arah sana. Cepat atau lambat, setiap orang yang melayani Tuhan akan merasakan bahwa insan lahiriahnya tidak mau mematuhi pengaturan roh, dan tidak mau bertindak seturut perintah agung Allah. Cepat atau lambat, setiap orang yang melayani Tuhan akan sadar bahwa kesulitan terbesar itu timbul dari insan lahiriah ini. Insan lahiriah inilah yang menghalangi dia mempergunakan roh. Setiap orang yang melayani Tuhan seharusnya mampu mempergunakan rohnya, mampu dengan roh beserta Tuhan, dengan roh mengenal firman Allah, dengan roh menjamah keadaan seseorang, dengan roh menyalurkan firman Allah, juga mampu dengan roh menjamah dan menerima wahyu Allah. Tetapi dengan adanya pengacauan insan lahiriah ini, dia tak dapat mempergunakan rohnya. Banyak orang yang melayani Tuhan tidak dapat melaksanakan pekerjaan asasi, sebab insan lahiriah mereka belum mendapat penanggulangan asasi. Bila penanggulangan asasi ini tidak dia alami, maka dia mutlak tidak dapat melakukan pekerjaan asasi. Kebangunan apa saja, kegairahan apa saja dan doa apa saja akan menjadi sia-sia tanpa penanggulangan asasi ini. Hanya dengan penanggulangan asasi inilah baru kita mampu menjadi orang yang berguna di hadapan Allah.
INSAN BATINIAH DAN INSAN LAHIRIAH
Dalam Roma 7:22 dikatakan, “Sebab menurut insan batiniahku, aku suka akan hukum Allah” (Tl.). Insan batiniah kita suka akan hukum Allah. Dalam Efesus 3:16 juga dikatakan, “. . . dikuatkan dengan kekuatan oleh Roh-Nya di dalam insan batiniahmu” (Tl.). Di tempat lain Paulus juga menampakkan kepada kita, “. . . meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami diperbarui dari hari ke hari” (2 Kor. 4:16).
Oleh Alkitab, manusia kita ini dibagi menjadi insan batiniah dan insan lahiriah. Tempat yang Allah diami ialah insan batiniah, sedang tempat di luar kediaman Allah ialah insan lahiriah. Dengan kata lain, roh kita ialah insan batiniah, sedang bagian dari insan yang dapat kita rasakan ialah insan lahiriah. Insan batiniah kita telah mengenakan insan lahiriah, seperti kita mengenakan pakaian. Allah telah menaruh diri-Nya sendiri di dalam kita, Allah telah menaruh Roh-Nya di dalam kita, Allah juga telah menaruh hayat-Nya dan kekuatan-Nya di dalam kita, yakni di dalam insan batiniah kita. Di luar insan batiniah ini ada pikiran kita, ada emosi kita, dan ada tekad kita; sedang yang berada paling luar ialah tubuh kita, seluruh tubuh jasmani kita.
Ketahuilah, kita mampu bekerja bagi Allah, kalau insan batiniah kita mampu keluar. Kesulitan asasi pada orang yang melayani Allah ialah tidak mampunya insan batiniahnya menerobos insan lahiriahnya. Kalau insan batiniah ingin keluar, harus mampu menerobos insan lahiriah. Di hadapan Allah kita harus tahu jelas dan tepat bahwa kesulitan utama dalam pekerjaan kita bukan terletak pada diri orang lain, tetapi justru terletak pada diri kita sendiri. Insan batiniah kita telah tertawan, seakan-akan tertawan di dalam penjara. Roh kita terbelenggu sehingga tidak mudah keluar. Kalau kita tidak belajar bagaimana membiarkan roh kita bebas keluar, kita takkan mampu bekerja. Tidak ada sesuatu yang lain yang mampu menghalangi kita sehebat insan lahiriah kita. Berhasil atau tidaknya pekerjaan kita, tergantung pada diremukkannya insan lahiriah kita oleh Tuhan atau tidak. Setelah insan lahiriah kita remuk, barulah insan batiniah kita bisa keluar. Inilah masalah asasi itu. Tuhan ingin membongkar insan lahiriah kita, agar insan batiniah kita mendapatkan jalan keluar. Begitu insan batiniah kita keluar, banyak orang dosa akan menerima berkat dan banyak orang Kristen akan dirahmati.
MATI DAN BERBUAH
Tuhan Yesus berkata, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Jika biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah” (Yoh. 12:24). Hayat gandum berada di dalam biji gandum, terbungkus oleh kulit yang kuat di luarnya. Selama kulit itu tidak terbelah, gandum takkan bertumbuh. “Jika biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati,” apa yang dimaksud “mati” di sini? Tak lain ialah terbelahnya kulit biji gandum yang disebabkan oleh suhu tertentu pada tanah, terbasahi oleh air, dan reaksi-reaksi lain. Begitu kulitnya terbelah, tumbuhlah gandum itu. Jadi, masalahnya tidak hanya pada ada tidaknya hayat di dalam, tetapi juga pada terbelah atau tidak kulitnya. Selanjutnya Tuhan masih berkata, “Siapa saja yang mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi siapa saja yang membenci nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal” (Yoh. 12:25). Di sini Tuhan memperlihatkan kepada kita bahwa kulit ini ialah nyawa kita sendiri, sedang hayat (kehidupan) yang di dalam ialah hayat kekal yang Dia berikan kepada kita. Bila kita ingin hayat yang di dalam kita tersalur keluar, nyawa luar kita harus merugi. Kalau yang di luar tidak diremukkan, maka yang di dalam takkan mampu keluar.
Dalam dunia ini ada sekelompok orang yang telah memiliki hayat (kehidupan) Tuhan. Dalam sekelompok orang yang telah memiliki hayat Tuhan ini ada dua macam keadaan yang berbeda. Yang satu hayatnya terkekang, hayatnya tertawan, hayatnya terkungkung, sehingga tidak mampu keluar; yang satu lagi, padanya Tuhan telah membukakan satu jalan, sehingga hayatnya bebas dan tersalur keluar. Masalahnya hari ini bukanlah bagaimana usaha kita supaya kita beroleh hayat, melainkan bagaimana hayat kita itu bebas dan tersalur keluar dari diri kita. Kita katakan, perlu Tuhan remukkan kita; ini bukan teori belaka, juga bukan pengajaran, melainkan diri kita ini perlu Tuhan remukkan. Bukannya hayat Tuhan tidak mampu tersebar memenuhi permukaan bumi, melainkan hayat Tuhan telah kita kunci erat-erat. Bukannya Tuhan tidak mampu memberkati gereja, melainkan hayat Tuhan terkunci di dalam kita, tertawan di dalam kita, sehingga tidak menemukan jalan keluar. Bila insan lahiriah kita tidak diremukkan, selamanya kita takkan mampu menjadi berkat bagi gereja, dan orang kafir pun takkan mendapatkan karunia Allah melalui kita.
BULI-BULI PUALAM HARUS DIPECAH
Dalam Alkitab ada disebut “minyak narwastu murni”, Alkitab khusus mencantumkan kata “murni” — minyak narwastu murni, benar-benar rohani. Tetapi bila buli-buli pualamnya tidak dipecah, minyak narwastu murni itu tidak mampu keluar. Aneh! Banyak orang masih menyenangi bulibuli pualamnya. Mereka mengira buli-buli pualam lebih berharga daripada minyak narwastu murni. Banyak orang masih mengira bahwa insan lahiriah mereka lebih mustika daripada insan batiniah mereka. Inilah justru kesulitan yang ada di dalam gereja. Anda memustikakan kepandaian Anda, mengira diri Anda adalah orang yang hebat; dia memustikakan emosinya, mengira dirinya adalah orang yang hebat; banyak orang memustikakan diri mereka masing-masing, merasa diri sendiri jauh lebih baik daripada orang lain, lebih berpetah lidah daripada yang lain, lebih cekatan daripada yang lain, dan keputusannya pun lebih tepat daripada yang lain, . . . Tetapi kita bukanlah kolektor benda-benda antik, juga bukan penggemar buli-buli pualam; kita adalah orang-orang yang mendambakan bau-bauan yang harum semerbak. Yang di luar tidak dipecah, yang di dalam tidak akan keluar. Kalau demikian, tidak saja kita tidak mempunyai jalan keluar, gereja pun akan berhenti. Karena itu, janganlah kita memustikakan diri sendiri.
Roh Kudus tidak pernah berhenti bekerja. Roh Kudus tidak pernah menghentikan pekerjaannya atas diri kita. Satu peristiwa demi satu peristiwa lewat, urusan datang silih berganti; inilah pengaturan Roh Kudus yang bertujuan hendak memecahkan insan lahiriah kita, membongkar insan lahiriah kita, agar insan batiniah kita bisa menerobos keluar. Tetapi kesulitan kita ialah: sedikit saja terusik sudah merasa tidak aman; sedikit saja ditolak, sudah menggerutu. Tuhan memang mempersiapkan jalan untuk memakai kita, tetapi begitu tangan Tuhan menjamah diri kita sedikit saja, kita sudah merasa tidak senang, bahkan sering bersengketa dengan Allah, menjadi negatif. Sejak kita beroleh selamat hingga sekarang, Tuhan selalu dan dengan bermacam cara menggarap di dalam diri kita, hendak membongkar insan lahiriah kita. Tak peduli kita tahu atau tidak, tujuan Tuhan ialah hendak membongkar insan lahiriah kita.
Mustika (harta) ada di dalam bejana tanah liat, tetapi siapakah yang memerlukan bejana tanah liat Anda? Yang kurang di dalam gereja ialah mustika, bukan bejana tanah liat. Yang kurang di antara orang dunia ialah mustika, bukan bejana tanah liat. Kalau bejana tanah liatnya tidak dipecahkan, siapa yang bisa melihat mustika yang di dalam? Untuk apa sebenarnya pekerjaan Tuhan atas diri kita? Tidak lain ialah untuk memecahkan bejana tanah liat kita, memecahkan buli-buli pualam kita, agar tempurung kita pecah. Tuhan mengharapkan agar pada diri orang-orang milik-Nya terbentuk suatu jalan berkat yang mampu menembus ke dunia. Inilah jalan berkat, jalan yang ada jejak darah, benarbenar jalan yang berdarah dan yang ada bekas luka. Betapa perlu insan lahiriah kita diremukkan, kalau tidak demikian, sudah pasti tidak ada pekerjaan. Kita sudah mempersembahkan diri kepada Tuhan untuk melayani Tuhan, karena itu sudah sepatutnyalah kita bersedia untuk diremukkan. Kita tidak boleh kendur, tidak boleh mengukuhi diri sendiri, biarkan Tuhan meremukkan insan lahiriah kita secara tuntas, sehingga pekerjaan Tuhan mempunyai jalan keluar.
Kita masing-masing seharusnya dapat menemukan, sebenarnya apa maksud Tuhan pada diri kita. Satu hal yang patut kita prihatinkan ialah, banyak orang yang tidak mengetahui apa maksud pekerjaan Tuhan yang menimpa diri mereka. Semoga kita masing-masing paham apa sebenarnya maksud Tuhan atas diri kita. Ketika Tuhan mencelikkan mata hati kita, kita akan nampak bahwa segala sesuatu yang kita alami seumur hidup kita ada maknanya. Tuhan tidak pernah melakukan suatu perkara dengan sia-sia. Ketika kita mengerti bahwa tujuan Tuhan ialah hendak meremukkan insan lahiriah kita, maka dengan jelas kita akan nampak bahwa setiap peristiwa yang menimpa diri kita pasti bermakna; semuanya bertujuan hendak mencapai satu sasaran tunggal, yaitu membongkar insan lahiriah kita, meremukkan insan lahiriah kita.
Akan tetapi, banyak orang sudah merasa tidak senang sebelum tangan Tuhan bergerak. Kita perlu tahu, pengalamanpengalaman yang telah Tuhan berikan kepada kita, kesulitan-kesulitan yang telah Tuhan berikan kepada kita, peristiwa-peristiwa yang telah Tuhan timpakan kepada kita, semuanya demi faedah yang terunggul bagi kita. Tak mungkin kita berharap agar Tuhan memberikan yang lebih baik, karena yang telah kita terima adalah yang paling baik. Bila ada orang yang datang ke hadapan Tuhan dan berdoa, “Tuhan, biarkan aku memilih yang terbaik,” saya percaya Tuhan akan berkata kepadanya, “Apa yang Kuberikan kepadamu adalah yang terbaik. Yang kamu temui setiap hari itulah faedah terunggul bagimu!” Tuhan mengatur segala sesuatu untuk kita, bertujuan hendak membongkar insan lahiriah kita. Bila insan lahiriah kita telah dibongkar, saat itulah roh kita mampu keluar, dan barulah ada kemungkinan bagi kita untuk mempergunakan roh.
WAKTU-WAKTU PEREMUKAN
Tuhan meremukkan insan lahiriah kita dengan dua macam tindakan yang berbeda. Tindakan secara berangsur-angsur dan tindakan secara tiba-tiba. Atas diri seseorang mungkin Tuhan membongkarnya secara tiba-tiba, kemudian baru secara berangsur-angsur. Secara tiba-tiba lebih dulu, baru menyusul yang secara berangsur-angsur. Ada juga orang yang setiap hari, ada saja urusan sulit yang harus dia hadapi sampai pada suatu hari, tiba-tiba Tuhan membongkar dia secara hebat. Yang ini secara berangsur-angsur terlebih dulu, baru kemudian menyusul yang secara tiba-tiba. Pembongkaran pada diri sebagian orang prinsipnya sama, kalau tidak secara tiba-tiba lebih dulu tentu secara berangsur-angsur lebih dulu. Bahkan pada diri orang yang lurus jalannya, Tuhan pun banyak menggunakan waktu, baru mampu menyelesaikan pekerjaan pembongkaran pada diri orang itu.
Waktu-waktu peremukan dan pembongkaran ini tak mungkin kita persingkat, sebaliknya bisa diperpanjang. Pada diri seseorang Tuhan hanya memerlukan beberapa tahun sudah dapat menyelesaikan pekerjaan-Nya. Sebaliknya pada diri orang lain Tuhan memerlukan waktu yang jauh lebih lama, mungkin sepuluh tahun bahkan dua puluh tahun untuk dapat menyelesaikan pekerjaan peremukan itu. Ini perkara yang sangat serius! Tidak ada hal lain yang lebih kasihan daripada memboroskan waktu Allah. Sering kali, gereja tidak mendapat berkat justru karena ulah kita! Pikiran kita mampu berkhotbah, emosi kita mampu mengharukan orang lain untuk memberitakan jalan Tuhan, tetapi kita tidak mampu mempergunakan roh, sehingga Allah tidak dapat melalui kita menjamah orang lain dengan Roh-Nya. Demikian kita mengulur waktu terlampau panjang, sehingga mendatangkan kerugian yang sangat besar.
Karena itu, kalau pada waktu yang lalu kita belum pernah mempersembahkan diri secara tuntas. sekarang juga saya harap kita mau mempersembahkan diri secara tuntas kepada Tuhan seraya berkata, “Tuhan, demi hari depan Injil, demi jalan-Mu, dan demi hayat pribadiku, aku mempersembahkan diri kepada-Mu tanpa syarat dan tanpa menyisakan sedikit pun bagi diri sendiri. Tuhan, dengan rela dan senang hati, kuserahkan diriku ke dalam tangan-Mu. Aku rela Dikau mendapatkan satu jalan menerobos diriku.”
MAKNA SALIB
Kita sering mendengar tentang salib, salib, salib. Sampaisampai terlalu biasa. Namun, sebenarnya apakah salib itu? Menerima salib adalah teremuknya insan lahiriah. Salib itu mematikan insan lahiriah. Salib itu memecahkan tempurung insan kita. Salib akan membongkar segala sesuatu milik insan lahiriah kita. Opini Anda, akal Anda, kepandaian Anda, rasa sayang diri Anda, dan segala-gala Anda akan diobrakabrik oleh salib. Begitu insan lahiriah Anda diremukkan, insan batiniah Anda baru bisa keluar, sehingga roh Anda pun bisa difungsikan. Jalan ini jelas, sangat jelas!
Begitu insan lahiriah kita terbongkar, roh kita mudah keluar. Ada seorang saudara, orang-orang yang mengenal saudara ini pasti mengakui bahwa dia adalah seorang yang pikirannya cerdas, tekadnya kuat, emosinya peka dan dalam. Akan tetapi setiap orang yang bertemu dengannya, selalu merasakan bertemu dengan rohnya, bahkan bertemu dengan tekadnya yang kuat, pikirannya yang cerdas, emosi yang peka dan dalam. Setiap kali orang bersekutu dengan dia, selalu bertemu dengan sebuah roh, sebuah roh yang bersih. Mengapa? Sebab orang ini pernah diremukkan. Ada lagi seorang saudari, orang-orang yang mengenal dia semua tahu bahwa dia adalah seorang yang cekatan, pikirannya lincah, bicaranya cepat, gampang mengaku dosa, cepat menulis surat, cepat pula merobek-robek suratnya. Namun orang-orang yang menjumpai dia tidak menjumpai kecekatannya, melainkan menjumpai rohnya. Saudari ini pernah terbongkar. Insan lahiriah terbongkar merupakan hal yang asasi. Janganlah kita selalu mengukuhi kekurangan-kekurangan kita, jangan sampai Tuhan sudah menanggulangi kita selama lima tahun, sepuluh tahun, kita masih tetap tanpa sedikit perubahan. Bagaimanapun juga, kita harus membiarkan Tuhan mendapatkan sebuah jalan atas diri kita. Inilah permintaan asasi Tuhan terhadap kita.
DUA PENYEBAB TIDAK DAPAT TERBONGKARNYA INSAN LAHIRIAH
Mengapa ada orang yang telah mengalami penanggulangan selama bertahun-tahun, tetapi masih tetap seperti semula? Ada orang yang kuat tekadnya, Tuhan mampu mematahkannya; ada orang yang kuat emosinya, Tuhan mampu meluluhkannya; ada orang yang kukuh angan-angannya, Tuhan pun mampu menaklukkannya. Tetapi, mengapa pada sebagian orang yang walaupun sudah bertahun-tahun ditanggulangi, belum juga terpatahkan? Saya percaya, ada dua penyebabnya.
Pertama
Karena mereka berada di dalam kegelapan, sehingga tidak nampak tangan Allah. Ketika Allah sedang bekerja, ketika Allah sedang membongkar, mereka tidak tahu itu adalah perbuatan Allah. Mereka kekurangan terang. Mereka tidak hidup di dalam terang. Mereka hanya nampak orang-orang yang menentang mereka. Mereka hanya melihat suasana, mereka mengira suasananya yang terlalu rusak, sehingga selalu menyalahkan suasana. Semoga Allah memberi wahyu kepada kita agar kita nampak tangan Allah, seraya bersujud dan berkata, “Inilah Engkau, inilah Engkau, aku menerima.” Paling sedikit kita harus mengenal tangan yang menanggulangi kita itu tangan siapa. Paling sedikit kita harus mengenal tangan yang menanggulangi kita itu bukan tangan orang-orang dunia, bukan tangan anggota keluarga kita, juga bukan tangan saudara saudari dalam gereja, melainkan tangan Allah. Allahlah yang menanggulangi kita. Kita harus belajar seperti Madame Guyon yang berlutut menciumi tangan itu dan memustikakan tangan itu. Terang ini harus kita miliki. Kita harus nampak segala sesuatu yang Tuhan lakukan, kita menerima itu dan kita percaya, karena apa yang Tuhan lakukan tidak pernah salah.
Kedua
Karena mereka terlalu sayang diri. Sayang diri merupakan penghalang terbesar terhadap pembongkaran. Seharusnya kita mohon kepada Tuhan untuk menyingkirkan hati yang sayang diri yang ada di dalam kita. Ketika Allah hendak menyingkirkan hati kita yang sayang diri itu, sepatutnya kita bersujud sambil berkata, “Ya Tuhan, bila ini adalah tangan-Mu, semoga aku menerimanya dari dalam hatiku.” Ingatlah, segala kesalahpahaman, segala ketidakdamaian, dan segala ketidakpuasan, hanya ada satu penyebabnya, yaitu ada rasa sayang diri yang tersembunyi di dalam kita, sehingga kita selalu berupaya menolong diri sendiri. Inilah kesulitan yang paling besar. Timbulnya masalah sering kali disebabkan karena kita selalu berupaya menyelamatkan diri sendiri.
Naik ke atas salib tanpa minum cuka campur empedu, barulah merupakan orang yang benar-benar mengenal Tuhan. Banyak orang yang memaksa diri naik ke atas salib, tetapi masih ingin minum cuka campur empedu demi mengurangi rasa sakitnya. Orang yang berkata, “Cawan yang Bapa berikan, masakan aku boleh tidak meminumnya?”, adalah orang yang tidak minum cuka campur empedu; yang hanya minum satu cawan, tidak dua cawan. Orang yang demikian adalah orang yang sama sekali tidak sayang diri. Sayang diri itulah kesulitan asasi. Semoga Tuhan berbicara di dalam kita, dan kita pun mampu berdoa, “Ya Allah, aku tahu semua itu berasal dari Dikau. Lima tahun yang lalu, sepuluh tahun yang lalu, dua puluh tahun yang lalu, segala jalan yang kutempuh berasal dari Dikau. Dikau berbuat demikian atas diriku, tak lain bertujuan agar hayat-Mu tersalur keluar dari diriku. Tetapi aku bodoh, aku tidak nampak. Karena rasa sayangku pada diri sendiri, aku telah berbuat banyak hal untuk menolong diri sendiri, sehingga aku banyak menyianyiakan waktu-Mu. Hari ini aku nampak tangan-Mu. Aku rela mempersembahkan diriku kepada-Mu. Sekali lagi kuserahkan diriku ke dalam tangan-Mu!”
BERHARAP NAMPAK LUKA
Tidak ada orang lain seelok orang yang telah diremukkan. Setelah orang yang tegar tengkuk, orang yang sayang diri diremukkan, tertampaklah keelokannya. Kita lihat Yakub dalam Perjanjian Lama; dalam rahim ibunya ia sudah bergumul dengan kakaknya, dia licik, banyak tipu muslihatnya, dan licin seperti ular, tetapi seumur hidupnya dia menderita. Sejak muda ia harus lari mengungsi ke tempat jauh. Dua puluh tahun lamanya ia diperdayai oleh Laban. Rahel, istri yang dikasihinya, mati di tengah perjalanan. Yusuf, anak kesayangannya, terjual beberapa tahun kemudian. Benyamin ditahan di Mesir. Berulang-ulang Yakub ditanggulangi Allah dengan bermacam-macam perkara yang rumit dan tidak lancar. Sekali, dua kali, tiga kali, bertubi-tubi Allah memukulnya, boleh dikata sejarah Yakub merupakan sejarah terpukulnya dia oleh Allah. Melalui penanggulangan yang berulang-ulang, orang ini telah berubah. Tahun-tahun menjelang akhir hidupnya, Yakub menjadi seorang yang sangat cemerlang. Betapa berwibawanya dia ketika menjawab kata-kata Firaun. Ketika ia hendak menghembuskan nafasnya yang terakhir dengan berpegang pada tongkat, ia menyembah kepada Allah. Betapa eloknya! Dengan jelas sekali ia memberkati anak-anak dan cucu-cucunya. Ketika kita membaca sejarah hidupnya pada bagian yang akhir, tak dapat tidak kita bersujud menyembah kepada Allah, karena di sini ada orang yang benar-benar sudah matang; di sini ada orang yang benar-benar mengenal akan Allah. Berpuluh-puluh tahun lamanya Yakub ditanggulangi, insan lahiriahnya sudah dibongkar, sehingga pada usia tuanya kita nampak sebuah gambar yang elok.
Pada diri kita masing-masing sedikit banyak pasti ada sifat-sifat Yakub; atau mungkin tidak sedikit, bahkan banyak. Kita tentu berharap semoga pada diri kita Tuhan membuat sebuah jalan dengan membongkar insan lahiriah kita sedemikian rupa sehingga insan batiniah kita keluar dan tertampak. Inilah perkara yang patut kita mustikakan. Inilah jalan bagi pelayan-pelayan Tuhan. Demikianlah baru kita bisa membimbing orang mengenal Allah. Jalan lain tidak banyak manfaatnya, teori tidak banyak gunanya, bahkan teologia pun tidak banyak faedahnya. Hanya memiliki pengetahuan Alkitab apa gunanya? Orang yang mampu menyalurkan Allah dari dirinya barulah berguna.
Setelah insan lahiriah kita terpukul, tertanggulangi, melewati bermacam-macam peristiwa, ada bilur, ada luka yang membekas pada diri kita, barulah roh yang ada di dalam bisa bebas dan tersalur keluar dari diri kita. Kita paling takut kalau bertemu dengan seorang saudara atau saudari yang masih utuh dan mulus, yang selamanya belum pernah ditanggulangi, selamanya tidak pernah berubah.
Semoga Allah membelaskasihani kita, agar Dia membentangkan dengan jelas jalan ini di hadapan kita, supaya kita tahu, inilah jalan satu-satunya, tidak ada duanya. Semoga Dia menampakkan kepada kita bahwa pada masa sepuluh tahun ini, atau dua puluh tahun ini, semua penanggulangan di atas diri kita adalah untuk hal ini, tujuannya juga untuk hal ini. Tidak ada seorang pun yang layak meremehkan pekerjaan yang Tuhan garapkan pada diri kita. Semoga Tuhan dengan jelas menampakkan kepada kita makna terbongkarnya insan lahiriah. Tanpa terbongkarnya insan lahiriah, segalanya ada di dalam otak, segalanya ada di dalam pengetahuan. Semoga Allah menanggulangi kita dengan tuntas.