← Daftar isi Remuknya Insan dan Keluarnya Roh · bab 9/9

KELEMBUTAN SETELAH DIBONGKAR PEREMUKAN TEKAD DAN KELEMBUTAN

Cara Allah membongkar insan lahiriah kita masing-masing tidak sama, karena itu bagian-bagian yang dipukul oleh pengaturan Roh Kudus pun tidak sama. Ada orang yang Allah tanggulangi pada sayang dirinya. Sekali, sepuluh kali dengan suasana keliling, Allah menanggulangi sayang dirinya. Ada orang yang Allah tanggulangi pada kecongkakannya. Sekali, sepuluh kali dengan suasana keliling Allah menanggulangi kecongkakannya. Ada orang yang Allah bongkar hikmatnya. Ada orang yang Allah bongkar penyandaran pada dirinya yang pandai, dengan kegagalan demi kegagalan dalam mengerjakan segala macam urusan, Allah membuatnya belajar tidak berani mengandalkan kepandaian diri sendiri, sedemikian rupa sehingga ia bisa berkata, “Aku hidup tidak bersandar pada hikmat manusia, tetapi bersandar pada belas kasihan Allah.” Ada orang yang mendapat pengaturan Roh Kudus macam lain. Dengan suasana keliling, yang dipukul Roh Kudus ialah subyektifitasnya. Ada orang yang sarat akan pendapat, sarat akan ide, sarat akan cara. Dalam Alkitab ada tertulis, “Adakah sesuatu yang mustahil bagi Allah?”, lalu ada saudara yang merasa bahwa baginya juga tidak ada perkara yang mustahil, sehingga ketika ia menghadapi bermacam-macam urusan, tidak ada satu pun yang dia katakan dengan rendah hati, “Aku tidak tahu, aku tidak mampu melakukannya.” Terhadap orang yang demikian, Allah menanggulanginya dengan cara membuat dia senantiasa gagal dalam melakukan bermacam-macam urusan. Sekali demi sekali Allah tanggulangi sehingga akhirnya ia bisa berkata, “Aku bisa bekerja, tetapi tidak ada satu pun yang jadi.” Apa yang dianggapnya mudah, tidak ada satu pun yang tidak dibuatnya berantakan, tidak pernah ia tidak gagal. Dari jalan inilah Roh Kudus memukul Dia. Jelas, terhadap tiap-tiap orang, Roh Kudus memukul pada bagian-bagian yang berlainan.

Frekuensi pemukulan Roh Kudus pada diri tiap-tiap orang pun tidak sama. Ada orang yang dipukul beruntun tanpa jeda. Ada orang yang pada suatu waktu Allah pukul, tetapi pada waktu lain tidak Allah tanggulangi. Namun, orang yang Allah kasihi tidak ada yang tidak dipukul. Pada diri anakanak Allah kita akan menemukan bekas-bekas luka pukulan Roh Kudus. Walaupun bagian-bagian yang terpukul itu tidak sama, tetapi setiap kali sama hasilnya. Tidak peduli yang dipukul di bagian luar itu apa, yang terluka di bagian dalam ialah diri insan kita. Baik yang Allah tanggulangi itu sayang diri, kesombongan, kecakapan, subyektifitas, maupun bagian mana saja, setiap kali penanggulangan pasti menyebabkan kita menjadi lemah. Sekali demi sekali, pada suatu kali diri kita ini pasti terluka, sehingga diri kita akan terkulai. Ada orang yang khusus Allah tanggulangi pada emosinya, ada pula yang Allah tanggulangi pada pikirannya. Tidak peduli di bagian mana ditanggulangi, hasil terakhir ialah remuknya tekadnya. Mungkin pukulan yang dia terima itu menimpa bagian ini atau bagian itu, namun yang remuk adalah dirinya sendiri, tekadnya. Kita masing-masing adalah orang yang degil, tekad kita degil. Yang menunjang kedegilan tekad kita ialah pikiran kita, pendapat kita, sayang diri kita, emosi kita, dan kepintaran kita. Walaupun yang menunjang tekad itu berbeda-beda, namun kedegilan tekad kita sama saja di hadapan Allah. Yang Roh Kudus pukul, yang Roh Kudus tanggulangi, yang Roh Kudus bongkar pada diri kita masing-masing tidak sama, namun penanggulangan yang terdalam itu semuanya sama, semuanya bertujuan hendak menanggulangi diri kita sendiri, hendak memukul tekad kita.

Karena itu, setiap orang yang telah rebah karena wahyu, atau rebah karena pengaturan Roh Kudus, pasti memiliki sebuah kekhususan yang mendasar, yaitu menjadi orang yang lembut. Menjadi lembut ialah ciri khas orang yang telah remuk. Semua orang yang telah Allah remukkan, pasti menjadi orang yang lembut di hadapan Allah. Kita ini degil, ada tempurung keras yang menyelubungi kita, tidak lain disebabkan banyaknya benda yang menunjang kedegilan kita. Tekad kita itu seolah sebuah rumah yang memiliki banyak tiang penunjang sehingga tidak roboh. Bila Allah telah merobohkan tiang-tiang itu satu per satu hingga habis, pastilah rumah itu roboh. Begitu benda-benda penunjang yang di luar kita dilucuti, diri dalam kita pasti roboh dengan sendirinya. Jangan mengira bahwa orang yang lirih suaranya itu tidak degil tekadnya. Jangan mengira orang yang tidak banyak bicara di hadapan orang, itu lembut tekadnya. Banyak orang yang lirih suaranya ternyata adalah orang yang sangat degil. Degil itu masalah karakter, bukan masalah suara. Ada orang yang pada lahirnya kalau dibandingkan dengan orang yang temperamennya tergesa-gesa dan keras suaranya memang lebih lembut, tetapi sebenarnya di hadapan Allah sama-sama degilnya, sama-sama kerasnya, sama-sama egoisnya, sama-sama terlalu percaya diri sendiri. Tiang penunjang di dalam kita masing-masing walaupun tidak sama, tetapi bangunannya mutlak sama. Diri kita dan tekad kita sama kerasnya.

Tuhan ingin mencopot dan meremukkan satu per satu penunjang benda keras di dalam kita. Karena itu, sekali, tiga kali, sepuluh kali, Dia menanggulangi kita; dan mungkin saja demi anugerah Allah, akan ada sesuatu yang terhilang dari diri kita. Karena penanggulangan yang kita terima itu demikian hebatnya, maka lain kali bila kita ingin berbuat hal yang sama, dalam hati merasa agak takut. Kita tahu, bila kita melakukannya lagi, Tuhan akan memukul kita lagi. Bila kita membicarakannya lagi, Tuhan akan memukul kita lagi; kita tidak berani lagi sembrono seperti dulu. Walaupun yang Allah tanggulangi itu kelihatannya sedikit bagian lahiriah kita, tetapi kenyataannya manusia kita ini sudah menjadi lemah dan bagian kita yang ditanggulangi itu tidak dapat bangun kembali. Anda merasa Anda tidak berani menyanggah Tuhan dan tidak berani mengukuhi pendapat Anda pada bagian itu. Karena takut akan pemukulan Tuhan, Anda tidak berani berkutik. Dengan takut akan Allah, jadilah Anda lembut pada bagian yang telah Allah tanggulangi. Ketika penanggulangan Allah bertambah, bertambah pulalah kelembutan Anda. Bila pembongkaran dan peremukan Allah pada diri Anda itu makin banyak dan makin luas, maka makin lembut pulalah Anda. Jadi kelembutan adalah tanda peremukan.

Ada orang, ketika Anda berkontak dengannya, ada kesan bahwa orang itu mempunyai karunia, tetapi di samping itu, Anda pun dapat merasakan bahwa dia belum diremukkan. Banyak orang yang mempunyai keadaan seperti ini; berkarunia, tetapi belum diremukkan. Yang tidak diremukkan akan nyata sekali. Begitu orang lain berkontak dengan dia, orang akan menyentuh bagiannya yang keras. Orang yang sudah diremukkan pasti lembut; orang yang belum diremukkan pasti keras. Pada aspek mana kita dipukul Allah, pada aspek itulah kita tidak berani membual, tidak berani sombong, tidak berani ceroboh, tidak berani seenaknya sendiri, dan pada aspek itu pula kita takwa kepada Allah dan menjadi orang lembut.

Dalam Alkitab, banyak disinggung tentang Roh Kudus, Roh Kudus dikatakan seperti api, seperti air. Api ditujukan kepada kekuatannya, sedang air ditujukan kepada kebersihannya. Ketika Alkitab menyinggung tentang karakter Roh Kudus, dikatakan Roh Kudus itu seperti burung merpati. Dengan kata lain karakter Roh Kudus seperti karakter burung merpati, lembut, tenang dan tidak degil. Ketika Allah membangun karakter-Nya setahap demi setahap di dalam diri kita, makin banyaklah karakter burung merpati yang kita miliki. Kelembutan yang dihasilkan oleh ketakwaan kita kepada Allah merupakan tanda teremuknya kita oleh Roh Kudus.

KEADAAN YANG LEMBUT

Begitu diremukkan oleh Roh Kudus, dengan sendirinya orang memiliki kelembutan yang dihasilkan oleh ketakwaannya kepada Allah. Ketika orang berkontak dengan dia, tidak lagi terasa keras, tidak bengis, tidak angkuh, tidak hebat. Pula, Tuhan akan memimpin sampai ke suatu taraf sehingga suaranya menjadi lembut dan sikapnya pun lembut. Dari dalam dia takwa kepada Allah, sehingga dengan sendirinya di dalam sikap dan tutur katanya akan tersalur ketakwaan yang di dalamnya itu, seraya menjadi orang yang lembut.

Mudah Ditanggulangi

Bagaimanakah keadaan orang yang lembut? Orang yang lembut itu orang yang mudah ditanggulangi. Orang yang lembut itu mudah mengutarakan isi hatinya dan mudah mengajukan permintaan. Begitu seseorang diremukkan di depan Allah, ia mudah mengaku salah, mudah mencucurkan air mata. Ada orang yang sulit sekali disuruh mencucurkan air mata. Ini tidak berarti bahwa mencucurkan air mata adalah sesuatu yang istimewa, ini hanya berarti bahwa karakter lahiriah seseorang yang telah Allah tanggulangi, telah digiling lembut oleh Allah; pikirannya, emosinya, dan tekadnya telah Allah giling. Mudah sekali dia nampak kesalahannya sendiri sehingga mudah sekali mengaku salah, bukan lagi orang yang sulit berbicara. Begitu tempurung dirinya diremukkan, emosinya, pikirannya, mudah sekali menerima pendapat orang lain; mudah sekali membiarkan orang menganjuri dia, mudah sekali menuruti nasihat orang lain. Sejak hari itu Allah akan membawa dia ke suatu posisi. Di sana dia mudah terbangun.

Mudah Merasakan

Orang yang lembut itu orang yang peka, mudah merasakan. Karena insan lahiriahnya telah diremukkan, rohnya mudah keluar, ia mudah menjamah roh saudara saudari. Sedikit saja ada gerakan roh, ia segera tahu. Perasaannya menjadi peka sekali. Sebentar saja ia tahu benar tidaknya suatu urusan. Roh orang lain berkutik sedikit saja, langsung dia bereaksi. Dia tidak mungkin melakukan sesuatu yang konyol, dan tidak mungkin melakukan sesuatu yang menyalahi orang lain. Sering orang lain merasa bahwa suatu urusan salah, tetapi kita masih saja melakukannya. Itu dikarenakan insan lahiriah kita belum diremukkan. Roh orang lain sudah merasakannya, tetapi roh kita belum. Sering seorang saudara atau saudari berdoa dalam suatu sidang, orang lain sudah merasa jemu mendengar doanya, dan merasa seharusnya dia behenti berdoa, tetapi dia tetap meneruskan doanya. Roh orang lain sudah keluar mengatakan jangan diteruskan doa itu, tetapi dia sama sekali tidak merasakan. Apa yang dirasakan orang lain, tidak ditanggapi oleh dirinya. Itu disebabkan insan lahiriahnya belum diremukkan. Bila seseorang telah diremukkan, rohnya mudah sekali menjamah roh orang lain, dan mudah sekali menjamah perasaan orang lain. Dia tidak akan seperti orang yang tidak tahu apa-apa dan tidak merasakan apa-apa. Dia tidak lagi menjadi orang yang tidak tahu apa-apa, sedangkan orang lain sudah mengetahuinya.

Orang yang insan lahiriahnya sudah diremukkan, barulah tahu apa yang disebut Tubuh Kristus, barulah dia mampu menjamah roh Tubuh, mampu menjamah perasaan anggotaanggota lain. Tidak akan terjadi, Anda melakukan pekerjaan Anda, namun dia memiliki perasaannya sendiri. Orang yang tidak mempunyai perasaan, walaupun menempel pada tubuh, ia tidak ada bedanya dengan anggota tubuh palsu, kaki atau tangan palsu yang terbuat dari plastik atau kayu. Walaupun seluruh tubuh sudah merasakan sesuatu, tetapi anggota yang satu itu tidak merasakan apa-apa. Bila insan lahiriah Anda telah ditanggulangi, Anda akan mampu menjamah hati nurani gereja dan perasaan gereja. Roh Anda terbuka, Anda mau membiarkan gereja menjamah roh Anda, dan apa yang gereja rasakan akan dipersekutukan dengan roh Anda. Itulah yang sangat kita mustikakan. Dengan demikian, setiap kali kita melakukan kesalahan, kita tahu bahwa diri sendiri telah salah. Remuknya insan lahiriah bukan membuat kita tidak berbuat salah lagi sejak saat ini dan seterusnya, melainkan seolah-olah menaruh sebuah organ semacam alarm di dalam kita, sehingga bila kita berbuat salah sedikit saja, kita segera tahu. Ketika saudara saudari tahu kesalahan Anda, sebelum mereka membuka mulut untuk mengutarakannya kepada Anda, begitu Anda bersentuhan dengan mereka, Anda segera sadar akan kesalahan Anda. Asalkan Anda menyentuh roh mereka, Anda segera mengerti, mereka menentang atau bersimpati terhadap perkara yang Anda lakukan. Inilah keperluan asasi kehidupan Tubuh. Tanpa ini, tidak mungkin ada kehidupan Tubuh. Di dalam Tubuh Kristus, semua anggota mengerti duduk persoalannya tanpa berunding lebih dulu. Ini seperti yang terjadi di dalam tubuh jasmani kita, tanpa berunding lebih dulu, setiap anggota tubuh jasmani kita sudah dengan sendirinya langsung bisa merasakan bersama-sama. Perasaan itu berarti maksud Tubuh, juga maksud Kepala. Maksud Kepala tersalur lewat maksud Tubuh. Setelah insan lahiriah kita diremukkan, mudah sekali kita dikoreksi dan mudah sekali kita memiliki perasaan Tubuh.

Mudah Dibina

Bantuan terbesar dari peremukan bukan terkoreksinya kesalahan kita, melainkan terbebasnya dan tertampilnya roh kita, bersamaan dengan itu kita pun mampu mendapatkan suplai dari roh semua saudara saudari. Tidak saja roh kita mampu keluar, bahkan menyebabkan kita mampu beroleh bantuan rohani di mana saja dan ke mana pun kita pergi. Bila insan lahiriah kita tidak diremukkan, sukar sekali kita beroleh bantuan dari orang lain.

Misalnya, ada seorang saudara yang belum diremukkan, karena pikirannya luar biasa kuat. Ketika saudara ini bersidang, sulit sekali dia beroleh pembinaan. Seorang yang kuat pikirannya, kecuali diberi pikiran yang lebih kuat daripada yang dia miliki, tidak mungkin beroleh bantuan. Ketika orang lain berbicara, dia merasa pikiran ini tidak tepat, pikiran itu juga tidak tepat. Pikirnya, ini tidak berarti, itu juga tidak berarti; yang ini tidak bisa membantu dia, yang itu juga tidak bisa membantu dia. Satu bulan, dua bulan, satu tahun, dua tahun, mungkin ia belum pernah beroleh bantuan sekali pun. Dia memiliki tempurung pikiran, karenanya dia hanya bisa beroleh bantuan dari pikiran dan tidak bisa beroleh pembinaan rohani. Tetapi begitu Tuhan masuk, sekali, sepuluh kali, satu tahun, dua tahun, beberapa tahun di dalam dirinya Tuhan mencurahkan tenaga mengupas tempurungnya untuk menampakkan kepadanya betapa tidak bergunanya pikiran otaknya; akibatnya, jadilah dia seperti seorang bayi yang mudah menurut dan tidak berani lagi meremehkan orang lain. Pada saat demikian, ketika dia mendengarkan seorang saudara berkhotbah, dia tidak memperhatikan lafal pembicaraan saudara itu bagaimana, juga tidak memperhatikan benar tidaknya kebenaran yang dikhotbahkan, dia tidak peduli apa maknanya, tetapi dengan rohnya sendiri dia telah bersentuhan dengan roh saudara yang berkhotbah itu. Pada diri si pengkhotbah itu ada sedikit garapan Tuhan, sehingga sedikit saja rohnya keluar, sedikit saja roh di dalamnya bergerak, maka roh orang yang mendengarkannya pun disegarkan dan beroleh pembinaan.

Bagi orang yang insan lahiriahnya sudah remuk, setiap kali ada seorang yang rohnya keluar, segera dia beroleh pembinaan, bukan pembinaan doktrinal. Pembinaan doktrinal itu masalah lain. Makin banyak roh kita Allah tanggulangi, makin tuntas remuknya insan lahiriah kita, kemampuan kita beroleh bantuan pun makin banyak. Pada diri saudara atau saudari siapa saja, asalkan Roh Allah sedikit saja bergerak, pastilah saudara atau saudari itu beroleh bantuan. Setelah beroleh bantuan, saudara saudari itu tidak berani lagi mengkritik orang dengan doktrin, tidak lagi mengukur orang dengan kata-kata, tidak lagi memperhatikan baik tidaknya arti pembicaraan saudara anu, saudara anu fasih berkhotbah atau tidak, atau pembahasan Alkitabiahnya baik atau tidak. Sikapnya akan berubah sama sekali. Karena itu, berapa besarnya bantuan yang kita peroleh tergantung pada keadaan roh kita. Sering ada orang lewat tangan kita, tetapi karena tempurung kita ini terlalu kuat, kita tidak bisa menjamah rohnya, sehingga kita tidak beroleh bantuan.

Apa yang dimaksud dengan beroleh pembinaan? Pembinaan bukan penambahan pikiran, pembinaan bukan penambahan makna, pembinaan juga bukan penambahan doktrin; pembinaan ialah penambahan persentuhan roh kita dengan Roh Allah. Tidak peduli keluarnya Roh Allah itu melalui siapa saja, baik di dalam sidang, ataupun di dalam persekutuan sehari-hari, bagitu Roh Allah bergerak sedikit saja pada diri seseorang, orang itu akan dikenyangkan dan beroleh kesegaran. Roh kita seperti sebuah cermin, setiap kali kita beroleh pembinaan, seolah-olah ada orang yang menyeka roh kita sehingga menjadi mengkilap lagi. Pembinaan tidak mempunyai arti selain terjamahnya roh kita oleh roh orang lain, terjamahnya roh kita oleh Roh Kudus. Begitu Roh Kudus dengan perantaraan roh orang lain menjamah roh kita, segera kita beroleh pembinaan. Apa saja yang keluar dari roh begitu tersentuh pasti akan memancarkan terang, tidak bedanya dengan sebuah lampu listrik yang belum putus, tidak peduli warna bola lampu itu merah atau hijau, tidak peduli kabelnya putih atau hitam, begitu arus listrik sampai, pasti akan menyala terang. Bola lampu itu bagaimana tidak peduli, yang kita perhatikan ialah tersalur keluarnya arus listrik. Begitu Anda tersentuh oleh keluarnya roh orang lain, Anda akan menyala terang. Anda boleh melupakan segala ajaran teologia yang pernah Anda dapat, asalkan Anda tahu bahwa di sini ada roh yang keluar, segera Anda beroleh kesegaran dan dikenyangkan di hadapan Allah. Syukur kepada Allah! Dengan demikian, jadilah Anda seorang yang mudah beroleh bantuan. Ada sebagian orang yang sulit sekali beroleh bantuan orang lain. Kalau Anda ingin membantunya, entah berapa banyak kekuatan yang harus Anda curahkan, entah berapa banyak doa yang harus Anda panjatkan baru bisa berhasil. Orang yang tegar sangat sulit dibantu. Orang yang lembut mudah sekali dibantu.

Jadi, di sini ada dua cara yang sama sekali berbeda. Yang satu bersifat lahiriah, dengan jalan memasukkan pikiran, doktrin atau pembahasan Alkitab; ada yang mengatakan dengan cara ini dia beroleh bantuan. Cara yang satunya lagi yang sama sekali berbeda, yaitu penyentuhan roh dengan roh, begitu kedua roh itu saling bersentuhan, terjadilah bantuan rohaniah. Bila Anda telah menjamah yang terakhir, barulah Anda menjamah kekristenan yang sejati, dan inilah yang baru boleh disebut pembinaan yang sejati. Kalau Anda hanya tahu mendengarkan khotbah, hari ini Anda mendengar sebuah berita, minggu depan ketika Anda bersidang, lagi-lagi Anda mendengar berita yang sama dengan berita yang dikhotbahkan minggu ini, dan yang berkhotbah itu pun orangnya sama. Anda lalu merasa jemu dan ingin meninggalkan sidang. Anda merasa satu berita khotbah didengar satu kali saja sudah cukup. Anda menganggap kekristenan itu hanya doktrin, dan Anda menyimpan doktrin itu di dalam otak Anda. Namun ketahuilah, pembinaan bukan masalah doktrin, melainkan masalah roh. Kalau roh saudara yang berkhotbah itu keluar, menjamah dan menyentuh seluruh diri Anda, Anda mengalami seolah-olah dibasuh olehnya, sehingga Anda beroleh kesegaran. Minggu depan ketika Anda bersidang lagi dan menjumpai saudara ini yang berkhotbah, lagi-lagi rohnya juga keluar, maka sekali lagi Anda beroleh bantuan. Walaupun judul beritanya judul lama, doktrinnya doktrin lama, asalkan rohnya keluar sebentar saja, sekali lagi Anda dibasuh bersih, seakan-akan Anda dimandikan dengan air. Ingatlah selalu! Pembinaan ialah penyentuhan roh dengan roh, bukan penambahan doktrin luaran. Pembinaan itu urusan roh dengan roh, bukan berapa banyak doktrin, anjuran-anjuran, atau nasihat yang Anda terima. Tanpa persentuhan roh dengan roh, segala nasihat dan segala doktrin itu boleh dikata mati.

Setelah insan lahiriah Anda diremukkan, jadilah Anda seorang yang mudah beroleh pembinaan, dan pembinaan yang Anda peroleh itu banyak sekali. Anda dapat beroleh pembinaan dari orang yang bertanya kepada Anda. Anda pun dapat beroleh pembinaan dari seorang dosa yang ingin mencari Tuhan dan Anda ajak berdoa bersama. Bila ada seorang saudara berbuat kesalahan besar, lalu Tuhan menyuruh Anda untuk mengatakan kata-kata yang berat dan menegurnya dengan keras, Anda menjamah rohnya hingga keluar. Melalui hal itu Anda pun beroleh pembinaan. Anda mampu beroleh pembinaan dari berbagai pihak, Anda pun bisa beroleh suplai dari berbagai pihak, sehingga Anda merasa seluruh Tubuh semuanya menyuplai anggota Tubuh yang satu ini, yaitu Anda. Tidak peduli anggota Tubuh yang mana saja, semua bisa menyuplai Anda, dan tidak peduli bagaimana hal Anda, Anda selalu bisa memperolehnya. Jika Anda telah menjadi seorang yang bisa menerima, segenap Tubuh merupakan suplai bagi Anda. Begitu kayanya, sehingga Anda dengan sungguh-sungguh bisa berkata bahwa kekayaan Kepala juga kekayaan Tubuh, dan kekayaan Tubuh juga kekayaan Anda. Ini berbeda sekali dengan penambahan pikiran dan doktrin.

Makin banyak dan makin luas bantuan yang diperoleh seseorang, makin membuktikan bahwa dia memang seorang yang telah diremukkan. Seseorang yang sulit beroleh bantuan, bukan menunjukkan bahwa dia lebih pandai daripada yang lain, melainkan membuktikan bahwa tempurung insan lahiriahnya lebih keras daripada yang lain, sehingga apa saja tidak bisa menarik dia. Jika Tuhan membelaskasihani orang ini, meremukkan insan lahiriahnya, meremukkan dengan hebat sekali, meremukkan berbagai aspeknya, sampai pada suatu hari, dia bisa beroleh suplai dari seluruh Tubuh. Marilah kita bertanya kepada diri sendiri, bisakah kita menerima suplai orang lain? Jika Anda adalah seorang yang memiliki tempurung yang keras, maka ketika Roh Kudus keluar dari diri seorang saudara, Anda tidak bisa bertemu dengan roh. Jika Anda telah dipukul remuk oleh Allah, asalkan roh orang lain bergerak, segera Anda beroleh bantuan, walaupun bantuan itu halus sekali. Soalnya bukan halus tidaknya, melainkan bisa tidaknya roh kita bertemu dengan roh. Pertemuan roh Anda dengan roh saudara atau saudari lain inilah yang menyebabkan Anda beroleh kesegaran dan pembinaan. Karena itu, saudara saudari, patutlah kita nampak bahwa remuknya insan lahiriah kita merupakan syarat utama berolehnya bantuan dan pembinaan.

Persekutuan di dalam Roh

Persekutuan ini bukan persekutuan antara pikiran dengan pikiran, juga bukan persekutuan antara opini dengan opini, melainkan persekutuan antara roh dengan roh. Karena itu hanya pada waktu Allah membelaskasihani dengan jalan meremukkan tempurung insan lahiriah kita dan membongkar insan lahiriah kita, barulah roh kita bisa keluar, barulah bisa bersekutu dan menjamah roh saudara saudari. Sejak hari itu, barulah kita mulai mengerti persekutuan kaum beriman, barulah kita mulai mengerti apa yang di dalam Alkitab dikatakan mengenai persekutuan di dalam roh, dan barulah kita mulai mengerti bahwa persekutuan ini ialah persekutuan antara roh dengan roh, bukan persekutuan antar pendapat. Ada persekutuan di dalam roh baru bisa berdoa dengan sehati. Betapa banyak doa yang kita panjatkan itu yang sebenarnya berasal dari otak kita, sehingga sulit sekali kita mencari orang yang sehati dengan kita. Karena jika ingin mencari orang yang otaknya sama dengan otak kita, mungkin sampai ke ujung bumi pun tidak bisa kita dapatkan. Sesungguhnya persekutuan ini adalah persekutuan di dalam roh. Semua orang yang telah dilahirkan kembali dan memiliki Roh Kudus di dalamnya, pasti bisa bersekutu dengan kita. Jika Allah menyingkirkan rintangan-rintangan dengan jalan mengenyahkan insan lahiriah kita, maka roh kita akan terbuka bagi semua orang. Roh kita akan terbuka untuk menyambut roh saudara saudari mana pun, roh kita pun bisa terjamah oleh roh saudara saudari mana pun. Kita bisa menjamah Tubuh Kristus, kita adalah Tubuh Kristus dan roh kita pun Tubuh Kristus.

Dalam Mazmur 42:8 dikatakan, “Tubir berseru kepada tubir . . .” (Tl.). Memang benar, tubir (kedalaman) di dalam Anda berseru dengan maksud menjamah tubir di dalam saya, dan tubir di dalam saya pun berseru dengan harapan dapat menjamah tubir segenap gereja. Ini merupakan persekutuan antara yang batini dengan batini, yang batini dengan batini beresonansi. Jika insan lahiriah kita dibongkar, insan batiniah kita bisa keluar, kita pun bisa menjamah roh gereja, dan di hadapan Tuhan bisa menjadi orang yang sedikit berguna.

TIDAK DAPAT DITIRU

Pembongkaran insan lahiriah yang telah kita bahas bersama, hanya Roh Kudus yang sanggup melakukannya, manusia tidak dapat menirukannya, peniruan tidak ada gunanya. Kita katakan bahwa orang harus menjadi orang yang lemah lembut, tetapi bukannya kita menganjurkan Anda mulai besok pagi menjadi orang yang lembut. Jika Anda berbuat demikian, suatu hari Anda sendiri akan nampak bahwa kelembutan buatan manusia tidak berguna, kelembutan buatan Anda itu harus dibongkar. Kelembutan buatan manusia tidak berguna, kelembutan hasil pekerjaan Roh Kudus baru bermanfaat. Segala keberhasilan pada diri kita bukan berdasarkan diri kita sendiri, melainkan berdasarkan Roh Kudus. Hanya Roh Kudus yang tahu kebutuhan kita, Dia mengatur peristiwa-peristiwa di dalam suasana sekeliling bagi kita, dan Dialah yang membongkar bagi kita.

Kewajiban kita hanyalah mohon kepada Allah untuk memberikan secercah terang kepada kita, agar kita tahu dan mau mengakui tangan Roh Kudus seraya menjadi orang yang mau tunduk di bawah tangan Allah yang penuh kuat kuasa, dan mengakui bahwa segala sesuatu yang Allah kerjakan benar semuanya. Janganlah kita menjadi keledai bebal! Semoga kita rela menyerahkan diri kita kepada Tuhan untuk Tuhan bongkar dan rela menerima penggarapan-Nya. Ketika Anda menyerahkan diri ke dalam tangan Tuhan yang penuh kuat kuasa, nampaklah Anda bahwa pekerjaan ini mungkin lima atau sepuluh tahun yang lalu sebenarnya sudah dimulai, tetapi dalam lima tahun, sepuluh tahun ini tidak nampak buahnya. Hari ini Anda menyerahkan diri sendiri ke dalam tangan Tuhan dengan berkata, “Tuhan, dulu aku seolah-olah buta, dari mana Tuhan memimpin aku, aku tidak tahu; ke mana Tuhan memimpin aku, aku pun tidak tahu. Hari ini aku tahu, Tuhan ingin membongkar aku. Hari ini kuserahkan diriku kepada-Mu.” Dengan cara begini, mungkin yang tidak berbuah selama lima tahun, sepuluh tahun, hari ini akan berbuah. Tuhan mampu menanggalkan banyak benda yang ada pada diri Anda yang dulu-dulunya tidak Anda sadari. Setelah ada pembongkaran-pembongkaran ini, Anda tidak sombong lagi, tidak lagi mencintai diri sendiri dan tidak mengangungkan diri sendiri. Pembongkaran ini menyebabkan roh Anda bebas, sehingga roh Anda mampu keluar dan Anda menjadi seorang yang berguna. Jika sudah demikian, barulah Anda bisa mempergunakan roh.

Sekarang timbul dua problem sampingan. Problem pertama: Sebagaimana kita tahu, peremukan insan lahiriah itu adalah mutlak pekerjaan Roh Kudus. Sama sekali tidak bisa ditiru, kalau begitu, andaikan saya jelas-jelas tahu ada suatu inisiatif yang berasal dari tubuh daging, apakah saya sendiri yang berkewajiban mencegah inisiatif itu, ataukah saya harus menunggu Roh Kudus yang meremukkannya, atau menunggu datangnya penyorotan hebat, dan saya sendiri diam-diam saja?

Mengenai ini, kita harus memandangnya demikian: segala gerakan tubuh daging harus kita cegah. Ini berlainan dengan berpura-pura. Contohnya: Hari ini kesombongan ini muncul dari diri saya, lalu saya tindas kesombongan saya itu, tetapi saya tidak lalu berpura-pura merendah. Hari ini temperamen saya naik sehingga ingin memaki orang, saya tindas temperamen saya, tetapi saya tidak berpura-pura lembut hati. Kita menindas dan mencegah yang negatif, tetapi tidak berpura-pura yang positif. Kalau yang negatif hendak bangun, harus kita tindas, jangan diberi kelonggaran, tetapi kita sekali-kali jangan berpura-pura melakukan yang positif. Sombong itu negatif, harus kita tanggulangi; rendah hati itu positif, kita tidak boleh berpura-pura melakukannya. Misalnya saja, Anda adalah orang yang sangat keras, suara Anda kaku, sikap Anda alot. Bila hari ini Anda ditanggulangi dan kekerasan Anda juga tertindas, Anda bukannya lalu pura-pura bersikap lembut. Karena itu segala inisiatif dan tindak tanduk tubuh daging harus kita cegah, tetapi keelokan yang positif tidak usah kita tiru. Cukuplah kalau Anda menyerahkan diri kepada Tuhan seraya berkata, “Aku tidak mau mengerahkan tenaga untuk meniru, aku hanya menengadah akan garapan-Mu pada diriku.” Dengan demikian Anda akan nampak jika Allah yang membongkar, tentu Allah juga yang membangun.

Peniruan lahiriah bukan Allah yang mengerjakan, melainkan diri kita sendiri. Karena itu, orang yang mempunyai tuntutan, belajarlah dari dalam, jangan meniru yang luaran. Biarkan Allah merampungkan dari dalam, kemudian tertampil pada lahiriah Anda. Apa yang lahiriah kita lakukan, semuanya palsu; apa yang manusia ciptakan, semuanya pasti Allah bongkar. Orang yang memiliki kepalsuan, tidak hanya orang lain tertipu, bahkan diri sendiri bisa tertipu. Bila peniruannya banyak, reka-rekaannya juga banyak, akibatnya dia lalu percaya bahwa dirinya sendiri memang orang yang demikian. Pada suatu hari, sekalipun Anda telah menunjukkan kepadanya bahwa sikapnya itu tidak benar dan harus dienyahkan, dia sendiri masih tidak mengerti palsu dan tidaknya itu. Karena itu, jangan sekali-kali melakukan peniruan lahiriah, perilaku seharusnya wajar-wajar saja, agar Allah membangun pada diri kita. Dengan sederhana saja kita hidup sebagai manusia wajar, tidak usah meniru-niru yang lahiriah, melainkan setiap hari menengadah kepada Tuhan agar Tuhan mau menambah budi pekerti luhur kepada kita.

Problem kedua: Memang ada orang yang memiliki sedikit keluhuran budi pekerti alamiah. Misalkan saja mengenai kelembutan, ada orang yang bawaan alamiahnya memang sudah lembut. Kalau begitu, apa bedanya kelembutan alamiah dengan kelembutan hasil pengaturan Roh Kudus?

Mengenai problem ini, ada dua butir yang boleh diketengahkan. Pertama: Yang alamiah semuanya berdiri sendiri, tidak perlu berpautan dengan roh. Yang datangnya dari pengaturan Roh Kudus semua diatur oleh roh, roh bergerak baru bergerak, roh tidak bergerak ia juga tidak bergerak. Kelembutan alamiah juga bisa menjadi rintangan terhadap roh, sedangkan semua yang merintangi roh pada hakekatnya ialah kedegilan. Dengan kata lain, semua kelembutan alamiah kita bisa berubah menjadi keras. Seseorang yang alamiahnya lembut, kelembutan itu berdiri sendiri, yaitu kelembutan diri sendiri. Seandainya saja, Tuhan merasa perlu agar dia berdiri untuk berbicara sepatah dua patah, ternyatalah kelembutan alamiahnya menjadi penghalang. Dia berkata, “Ah, yang ini tidak mampu aku melakukannya. Seumur hidupku belum pernah aku mengatakan kata-kata seperti ini. Sebaiknya silakan orang lain saja yang mengatakan. Aku tidak bisa!” Coba lihat, kelembutan alamiahnya tidak mampu dikendalikan oleh Roh Kudus. Segala sesuatu yang berasal dari alamiah memiliki tekad tersendiri, semuanya kaku keras, mau berbuat asal seturut maunya, sehingga roh tidak berdaya memakai dia. Ini berlainan sekali dengan kelembutan yang berasal dari pengaturan Roh Kudus. Kelembutan yang bagaimana yang bisa roh pergunakan? Yaitu kelembutan yang tidak menentang, tidak melawan, tidak mempunyai opini dan mutlak patuh akan pengendalian roh.

Kedua: Orang lembut secara alamiah, kalau Anda menuruti kemauannya, dia akan bersikap lembut; tetapi kalau Anda menyuruh dia melakukan sesuatu yang tidak dia senangi, atau Anda menjamah urusan yang tidak dia senangi, dia tidak lembut lagi. Karena itu keluhuran budi pekerti alamiah tidak akan dapat kita suruh menyangkal diri sendiri. Segala keluhuran budi pekerti manusia hanya dipergunakan untuk membangun diri sendiri. Ini sudah pasti. Semua keluhuran budi pekerti, tidak hanya kelembutan, masingmasing dipergunakan si pemilik untuk membangun diri sendiri. Karena itu, kapankala dirinya tersinggung, lenyaplah semua budi pekertinya. Kapankala tersinggung hal-hal yang tidak dia senangi, kerendahan hatinya lenyap, kelembutannya pun sirna, semuanya melayang entah ke mana. Budi pekerti yang luhur yang berasal dari pengaturan Roh Kudus sama sekali berbeda. Budi pekerti luhur ini ada setelah diri Anda dibongkar. Pada waktu Allah sedang membongkar diri Anda, muncullah budi pekerti luhur ini. Semakin Anda dilukai, makin lembutlah Anda. Jadi keluhuran budi pekerti alamiah mempunyai perbedaan asasi dengan buah-buah Roh Kudus.

HARUS KUAT

Insan lahiriah kita harus dibongkar. Dalam hal ini kita tidak bisa berpura-pura, juga tidak ada benda lain yang mampu menggantikannya. Kita harus tunduk di bawah kuat kuasa tangan Allah untuk menerima penanggulangan-Nya. Begitu insan lahiriah kita dibongkar, insan batiniah kita segera menjadi kuat. Memang ada sebagian kecil orang yang insan lahiriahnya telah dibongkar, tetapi insan batiniahnya tidak cukup kuat. Insan batiniah itu seharusnya kuat. Bila insan lahiriah Anda sudah diremukkan, tetapi insan batiniah Anda masih tidak kuat, janganlah Anda berdoa untuk minta dikuatkan, melainkan berserulah “Aku mau kuat”. Alkitab memerintahkan kita “harus kuat”. Satu hal yang sangat mengherankan ialah, begitu insan lahiriah Anda diremukkan, begitu Anda berkata kuat, segera menjadi kuat. Anda ingin kuat, segera kuat, Anda memastikan kuat, segera kuat. Anda boleh coba, Anda berkata mau begini, segera menjadi begini. Begitu problem insan lahiriah kita beres, problem kuat pun beres. Mau kuat, segera kuat, dan pasti kuat. Sejak hari ini, siapa saja tidak ada yang bisa menghalanghalangi Anda. Tuhan berkata, “Jadilah kuat”. Anda berkata, “Bersandar Tuhan aku kuat” segera Anda benar-benar menjadi kuat.

Insan lahiriah kita harus dibongkar, barulah insan batiniah kita bebas. Inilah jalan asasi untuk belajar melayani Allah.