← Daftar isi Kejadian (5) · bab 8/16

ORANG YANG DIPILIH

Dalam berita ini kita akan melihat salah seorang tokoh dalam Kitab Kejadian yang paling menarik — Yakub. Kitab Kejadian memberikan catatan kepada kita tentang sembilan tokoh. Lima yang pertama — Adam, Habel, Enos, Henokh, dan Nuh — dipandang sebagai lima orang yang terpisah. Walaupun ada sedikit hubungan rohani di antara mereka, namun tegasnya dapat dikatakan bahwa Adam, Habel, Enos, Henokh, dan Nuh tidak ada kaitannya satu sama lain. Tetapi empat orang yang belakangan — Abraham, Ishak, Yakub, dan Yusuf — kita melihat bahwa sejauh menyangkut pengalaman hayat, mereka tidak boleh dipandang sebagai empat individu yang saling terpisah. Seperti yang telah kita tunjukkan, atas diri Abraham tidak ada perkara pemilihan. Hal pertama dalam catatan mengenai diri Abraham adalah panggilan. Tetapi menurut wahyu Perjanjian Baru, pengalaman terhadap diri Allah bukan dimulai dari panggilan Allah, melainkan dimulai dari pemilihan Allah. Pertama-tama Allah memilih kita; kedua, Ia menentukan kita; dan ketiga, Ia memanggil kita. Setelah ada panggilan Allah, ada pengampunan, penebusan, pembe-naran, kelahiran kembali, dan karunia keselamatan Allah yang sempurna. Dari sini kita dapat melihat, atas diri Abraham tidak kita jumpai awal pengalaman terhadap Allah. Permulaan ini terdapat pada Yakub, karena atas dirinya kita melihat adanya pemilihan Allah. Dalam catatan mengenai Yakub tidak kita temukan panggilan Allah. Karenanya, sekali lagi kita tegaskan bahwa Abraham, Ishak, Yakub ditambah Yusuf bukanlah empat orang yang saling terpisah; mereka merupakan empat aspek dari satu pengalaman hayat yang lengkap. Abraham, Ishak, Yakub, dan Yusuf masing-masing menyatakan salah satu aspek pengalaman hayat. Nanti akan kita lihat bahwa Yakub mewakili hayat yang telah diubah dan Yusuf mewakili aspek penguasaan, aspek kerajaan dari hayat yang telah diubah ini.

Menurut wahyu Perjanjian Baru, kaum beriman pertama-tama dipilih Allah dalam kekekalan yang azali sebelum dunia dijadikan (Ef. 1:4). Kedua, kaum beriman ini ditentukan menurut pemilihan Allah. Hal ini juga terjadi pada masa kekekalan yang azali. Kemudian dalam waktu, Allah memanggil kita. Dalam panggilan Allah, setelah penentuan-Nya, kita menerima pengampunan, penebusan, pembenaran, kelahiran kembali, dan keselamatan yang sempurna. Di samping semuanya ini, kita juga harus diubah. Hari demi hari kita menempuh proses pengubahan Allah, bukan hanya agar kita dibawa ke dalam keputraan sepenuhnya, bahkan ke dalam jabatan raja (kingship). Kita dilahirkan sebagai putra-putra Allah, putra-putra raja, dan kita mengalami proses pengubahan Allah, agar di masa yang akan datang, kita boleh menjadi raja-raja.

Kita tidak melihat hal menjadi raja ini baik pada Abraham maupun pada Ishak. Hal menjadi raja ini terdapat pada Yusuf, yang merupakan sebagian dari Yakub. Ketika Yakub disambut di Mesir, kelihatannya Firaun yang sebagai raja di bumi ini, tetapi sebetulnya si penguasa sejati adalah Yusuf, bukan Firaun. Namun Yusuf bukan mewakili dirinya, ia mewakili ayahnya. Jadi, pada saat itu, dunia dikuasai oleh Yakub melalui Yusuf.

Seluruh orang beriman berada di bawah proses pengubahan agar menjadi raja-raja. Jadi pengalaman yang layak, memadai, dan sempurna terhadap Allah berlangsung dari pemilihan Allah menuju ke kerajaan. Pemilihan telah rampung pada masa kekekalan yang azali (lampau), sedangkan jabatan raja (kingship) diperuntukkan pada masa kekekalan yang abadi (akan datang). Menjadi raja itulah nasib kita. Dalam masa kekekalan yang lampau, Allah telah memilih dan menentukan kita untuk menjadi raja-raja pada masa abadi nanti. Atas diri Abraham kita tidak menemukan adanya pemilihan pada masa azali, ataupun kerajaan pada masa abadi. Dengan kata lain, catatan mengenai Abraham tidak ada awal maupun akhir pengalaman terhadap Allah, keduanya terdapat pada Yakub. Dalam catatan mengenai Yakub terdapat permulaan yang sangat baik, juga akhir yang sangat memadai. Yakub, si pemegang tumit, si perebut, diubah menjadi pangeran Allah. Akhirnya, ia menjadi Israel dan bukan lagi Yakub. Jika kita membaca Perjanjian Baru dengan teliti, kita akan nampak bahwa akhirnya nama Israel muncul dalam Yerusalem Baru (Why. 21:12). Sungguhpun Israel ada dalam Yerusalem Baru, namun nama Abraham, Ishak, dan Yakub tidak ditemukan di sana.

4. Aspek Ketiga — Pengalaman Yakub

Abraham, Ishak, dan Yakub serta Yusuf merupakan satu unit yang lengkap dalam pengalaman hayat. Kita jangan memandang mereka sebagai empat individu yang terpisah, melainkan empat aspek yang berbeda dari pengalaman satu orang yang lengkap. Kini tibalah kita pada aspek ketiga — aspek Yakub. Atas Abraham kita menjumpai panggilan Allah, dibenarkan oleh iman, hidup berdasarkan iman kepada Allah, dan hidup di dalam persekutuan dengan Allah. Atas Ishak kita mempunyai warisan anugerah, perhentian, dan kenikmatan. Atas Ishak, tidak terlihat hal dibenarkan oleh iman, karena hal itu dinyatakan dalam pengalaman Abraham. Namun atas Ishak kita nampak hal mewarisi dan menikmati anugerah, yang tidak kita temukan dalam catatan mengenai Abraham. Dari sini terlihat perbedaan antara aspek-aspek pengalaman hayat. Atas Yakub, kita nampak pemilihan Allah dan penanggulangan Allah. Kita semua suka mewarisi dan menikmati anugerah, tidak suka penanggulangan. Pada diri Yakub tidak terlihat aspek kenikmatan, malahan nampak aspek penanggulangan Allah. Karena Yakub terlalu banyak merebut, maka tangan Allah selalu menimpa atasnya. Perebutan Yakub mendatangkan penanggulangan Allah. Boleh jadi Allah berkata, “Yakub, kamu pandai merebut, tetapi Aku mampu menanggulangimu. Dalam setiap langkah perebutanmu, ada penanggulangan-Ku.” Ini bukan hukuman Allah, melainkan penanggulangan Allah yang bertujuan mengubah Yakub.

Sewaktu saya memikirkan berita ini di hadapan Tuhan, saya merasa lucu ketika melihat bahwa Yakub sebelum dilahirkan sudah mulai bergumul, berebut. Ribka hamil dan “anak-anaknya bertolak-tolakan di dalam rahimnya” (Kej. 25:22). Perebutan ini mungkin dimulai oleh Yakub, bukan oleh Esau. Pergumulan Esau hanya sebagai pembelaan. Mungkin Yakub berkata, “Esau, kamu tidak boleh lahir duluan. Akulah yang harus keluar duluan.” Dan Esau mungkin menjawab, “Tidak, aku yang di depan. Aku harus keluar duluan.” Kedua anak ini berebut, sehingga ibunya tidak tahan lagi, maka ia pergi bertanya kepada Tuhan mengenai hal ini (Kej. 25:22). Di bawah kedaulatan Allah, Esau yang pertama keluar, tetapi Yakub tidak berhenti berjuang. Setelah keluar, ia memegang tumit Esau (Kej. 25:26). Karena inilah ia diberi nama Yakub, yang berarti pemegang tumit. Karena Yakub adalah pemegang tumit, maka Allah harus menanggulangi dia. Dan hasil penanggulangan Allah adalah transformasi. Pada masa matangnya, Yakub tidak lagi sebagai Yakub — ia telah menjadi Israel, pangeran Allah. Akhirnya, Allah meletakkan seluruh bumi, termasuk Firaun, ke bawahnya.

Sekali lagi saya ulangi bahwa keempat orang ini membentuk satu unit pengalaman yang lengkap terhadap Allah. Kita semua adalah Abraham, Ishak, dan Yakub serta Yusuf. Saat ini, kita masih berada di dalam proses pengubahan Allah. Tetapi suatu hari, kita semua pasti menjadi Israel, pangeran Allah, yang memerintah seluruh bumi dengan “Yusuf” kita.

a. Dipilih

Atas Yakub kita melihat pemilihan Allah, yaitu perkara terpilihnya Yakub (Kej. 25:21-26; 1 Ptr. 2:9). Percayakah Anda bahwa Anda telah dipilih? Dari manakah Anda mengetahuinya? Sekalipun kita bisa berdiri demi firman Allah sambil berkata, “Aku tahu bahwa aku telah dipilih, karena Alkitab memberi tahu demikian.” Tetapi saya masih akan bertanya, “Bagaimana kita tahu dari pengalaman bahwa kita telah dipilih oleh Allah?” Kita mengetahuinya berdasarkan fakta bahwa kita tidak dapat melarikan diri dari Dia. Selama kehidupan kekristenan saya lima puluh tahunan yang lampau, telah berkali-kali saya mencoba melarikan diri dari Tuhan. Bahkan saya pernah berkata kepada-Nya, “Tuhan, aku sudah bosan dengan kehidupan kekristenanku. Aku ingin melarikan diri saja.” Saya mencoba melarikan diri, namun saya tidak dapat melakukannya. Ada pekerja Kristen yang khawatir kalau-kalau Anda melarikan diri dari Tuhan, tetapi saya justru berani membesarkan hati Anda untuk menjauhi Tuhan. Cobalah dengan sekuat tenaga untuk melakukan ini, katakanlah kepada-Nya, “Tuhan, aku tidak menyukai Engkau lagi. Aku ingin berhenti menjadi orang Kristen.” An-da boleh berkata demikian kepada Tuhan, Tuhan pasti akan menjawab, “Kamu ingin putus hubungan dengan Aku? Itu tidak tergantung padamu. Kamu boleh saja mengundurkan diri, tetapi Aku tidak. Ke mana kamu ingin pergi, ke Mesir? Jika kamu pergi ke sana, Aku akan menunggumu di sana. Ketika kamu tiba di sana, kamu akan menemukan bahwa Aku sudah ada di sana.” Kita semua sudah terperangkap, sehingga tidak ada jalan untuk meloloskan diri. Inilah bukti yang kuat bahwa kita telah dipilih oleh Allah.

(1) Sebelum Kelahirannya

Yakub sudah dipilih sebelum kelahirannya, bahkan sebelum dunia dijadikan (Kej. 25:22-23; Rm. 9:11; Ef. 1:4). Sama seperti Yakub, kita juga telah dipilih sebelum kita dilahirkan. Dalam kekekalan azali (yang lampau), sebelum Allah mulai menciptakan apa-apa, Ia telah memilih kita. Mungkin kita menganggap kita ini sangat kecil, tetapi kita ini sudah cukup besar untuk menarik perhatian Allah terhadap kita. Sampai-sampai sebelum dunia dijadikan, Allah telah menaruh perhatian kepada kita melalui pemilihan-Nya terhadap kita dalam kekekalan azali.

Pada awal ministri saya, saya sangat disusahkan oleh kenyataan bahwa banyak teman saya yang hampir menjadi orang Kristen akhirnya tidak diselamatkan. Sebaliknya, banyak yang berjauhan dengan Tuhan, yang menurut saya tidak bisa beroleh selamat, malahan diselamatkan. Beberapa di antara mereka beroleh selamat setelah mengikuti sekali sidang penginjilan. Nampaknya mereka beroleh selamat tanpa alasan apa pun. Padahal mereka beroleh selamat justru karena Allah telah memilih mereka. Yakub, orang yang nakal, pemegang tumit, perebut, telah dipilih oleh Allah. Inilah yang menentukan hari depannya. Pemilihan Allah adalah asal mula dan permulaan seumur hidup Yakub. Jangan mengira bahwa Anda diselamatkan secara kebetulan. Tidak, keselamatan kita adalah penggenapan dari pemilihan Allah.

(2) Menurut Pengenalan Dini Allah

Kita dipilih oleh Allah berdasarkan pengenalan dini Allah (1 Ptr. 1:2; Rm. 8:29). Saya menyukai perkataan “pengenalan dini” ini. Sebelum kita dilahirkan, Allah sudah lebih dulu mengenal kita. Dalam kekekalan azali, Allah telah memilih kita dan menakdirkan kita seturut pengenalan dini-Nya.

(3) Bukan dari Pergumulan Diri

Yakub dipilih oleh Allah bukan karena pergumulannya sendiri (Kej. 25:22-23, 26). Sama halnya kita dipilih bukan karena perontaan kita. Yakub agak bodoh. Sudah tentu dia tidak mempunyai pengenalan seperti kita. Jika ia mengetahui bahwa ia telah dipilih, ia pasti tidak perlu meronta-ronta, bahkan akan berkata kepada Esau, “Esau, engkau boleh keluar duluan. Tidak peduli siapa yang keluar duluan, aku telah dipilih. Tidak peduli berapa cepatnya engkau dan berapa lambatnya aku. Hak kesulungan itu adalah milikku, sebab aku telah dipilih.” Namun, Yakub tidak mempunyai wahyu ini, sehingga ia meronta-ronta berjuang.

(4) Bukan karena Perbuatannya Sendiri

Roma 9:11 yang mengenai Yakub dan Esau mengatakan, “Sebab waktu anak-anak itu belum dilahirkan dan belum melakukan yang baik atau yang jahat, — supaya rencana Allah tentang pemilihan-Nya diteguhkan, bukan berdasarkan perbuatan, tetapi berdasarkan panggilan-Nya.” Dalam ayat ini kita nampak bahwa terpilihnya Yakub bukan dikarenakan perbuatannya sendiri. Sebelum anak-anak itu melakukan sesuatu yang baik atau yang jahat, Allah telah berkata kepada Ribka, ibunya bahwa “anak yang tua akan menjadi hamba anak yang muda” (Rm. 9:12). Ini membuktikan bahwa pemilihan Allah bukan tergantung pada perbuatan kita. Baik ataupun jahat kita, tidaklah terhitung.

(5) Dari Allah yang Memanggil

Roma 9:13 mengatakan, “Aku mengasihi Yakub, tetapi membenci Esau.” Ketika masih muda, saya membaca perkataan mengenai Yakub dan Esau ini, saya merasa sangat simpati kepada Esau dan berkata, “Esau lebih baik daripada Yakub, mengapa Allah mengatakan bahwa Dia membenci Esau dan mengasihi Yakub?” Janganlah kalian mengatakan Allah itu tidak adil. Dia itu Allah. Dia itu Penyelenggara, Dia itu Pencipta. Pemilihan-Nya tidak tergantung pada kita, melainkan secara mutlak tergantung kepada-Nya. Bukan pada perontaan atau perbuatan kita, melainkan dari Dia yang memanggil. Kita ini bukan Pencipta — Dialah Sang Pencipta. Dalam Roma 9, Paulus menjawab para penentangnya, seolah-olah berkata, “Tidakkah kalian tahu bahwa kalian hanyalah segumpal tanah liat, dan Allah itulah Sang Penjunan? Bukankah Sang Penjunan memiliki hak untuk membuat sesuatu benda yang diinginkan dari gumpalan tanah liat ini?” Dari sini kita tahu bahwa terpilihnya kita adalah mutlak dari Allah yang memanggil.

(6) Tergantung pada Belas Kasihan Allah

Pemilihan Allah juga tergantung pada belas kasihan Allah (Rm. 9:14-16). Allah berfirman kepada Musa, “Aku akan menaruh belas kasihan kepada siapa Aku mau menaruh belas kasihan dan Aku akan bermurah hati kepada siapa Aku mau bermurah hati” (Rm. 9:15). Kita semua adalah sasaran belas kasihan Allah. Betapa kita berterima kasih kepada-Nya, karena Ia telah membelaskasihani kita! Jadi, itu bukan tergantung pada siapa yang menghendaki atau siapa yang berlari, melainkan pada Allah yang berbelas kasihan. (Rm. 9:16).

(7) Berdasarkan Anugerah Allah

Pemilihan Allah juga berdasarkan anugerah-Nya (Rm. 11:5). Memang agak sukar untuk memahami hubungan antara belas kasihan dan anugerah dengan pemilihan Allah. Sekalipun kita telah dipilih dan dikenal secara dini oleh Allah dalam kekekalan azali, namun ketika Allah datang memanggil kita, kita berada dalam situasi yang menyedihkan, keadaan yang membutuhkan belas kasihan Allah. Musuh, si Iblis, boleh jadi berkata kepada Allah, “Lihatlah orang yang Kaupilih ini. Alangkah kasihannya!” Lalu Allah mungkin menjawab Iblis, “Iblis, tidakkah engkau tahu, justru keadaan seperti inilah kesempatan yang baik bagi-Ku untuk menunjukkan belas kasihan-Ku? Tanpa orang yang demikian kasihan, bagaimana Aku bisa menunjukkan belas kasihan-Ku? Jika setiap orang sempurna dan memenuhi standarmu, Aku akan kehilangan orang yang atasnya boleh menunjukkan belas kasihan-Ku. Iblis, orang pilihan-Ku ini justru orang yang tepat untuk menjadi sasaran belas kasihan-Ku.” Apakah anugerah itu? Seperti yang telah kita lihat, anugerah adalah sesuatu yang Allah garapkan ke dalam diri kita. Meskipun kita kasihan, namun Allah tidak menolak kita. Malahan Ia menaruh belas kasihan-Nya ke atas kita tanpa menghiraukan dakwaan Iblis. Boleh jadi Allah berkata kepada Iblis, “Iblis, Aku bukan hanya akan menunjukkan belas kasihan-Ku kepada orang-orang pilihan-Ku, bahkan Aku juga akan menggarapkan diri-Ku ke dalam mereka.” Begitu Allah tergarap ke dalam kita, itulah anugerah. Kita bukan hanya menjadi sasaran belas kasihan Allah, tetapi juga menjadi sasaran anugerah-Nya. Kita berada di bawah belas kasihan Allah, dan anugerah-Nya ada di dalam batin kita.

Saya dapat bersaksi bahwa saya berada di bawah belas kasihan Allah dan di dalam saya ada anugerah Allah. Semua ini dikarenakan pemilihan Allah. Bukankah ini juga adalah pengalaman Anda? Kita semua dapat bersaksi, walaupun keadaan kita sangat menyedihkan dan mengenaskan, namun Allah datang dan mengaruniakan belas kasihan-Nya kepada kita, sehingga kita bertobat. Pada saat itu, sesuatu yang ilahi — anugerah Allah — tergarap ke dalam kita. Sekarang kita bukan sekadar di bawah belas kasihan Allah, kita pun mempunyai anugerah-Nya, yaitu persona Kristus yang hidup, yakni Roh, ada di dalam kita. Inilah pemilihan Allah. Dalam catatan riwayat Yakub kita nampak sesuatu yang dapat disebut belas kasihan dan sesuatu yang dapat disebut anugerah.

(8) Selanjutnya Adalah Penentuan Allah

Pemilihan Allah dalam kekekalan azali diikuti oleh penentuan-Nya (Rm. 8:29; Ef. 1:5). Sulit untuk menerangkan makna kata penentuan ini. Menurut bahasa Yunani, kata ini berarti dibubuhi tanda lebih dulu. Sebelumnya Allah telah menandai kita. Sebelum kita dilahirkan, Allah telah nampak dan mengenal kita duluan. Bukan saja kita telah dipilih Allah dalam kekekalan azali, kita pun telah ditandai sebelumnya; dan kini tanda-Nya ada di atas diri kita, bahkan malaikat-malaikat pun mengetahui bahwa kita telah ditandai sebelumnya. Jadi, penentuan berarti Allah sebelumnya telah menandai kita untuk takdir tertentu — menjadi putra-putra-Nya. Ia telah memilih dan menentukan kita ke dalam keputraan (Ef. 1:4-5).

(9) Selanjutnya Adalah Panggilan Allah

Pemilihan Allah juga diikuti oleh panggilan-Nya (Rm. 8:28). Allah telah memilih kita dalam kekekalan azali dan memanggil kita pada waktunya. Kita tidak dapat mengalami pemilihan atau penentuan Allah, namun kita semua telah mengalami panggilan-Nya. Kita semua telah “dikait”. Saya dapat bersaksi dengan tegas bahwa pada suatu hari, sebagai seorang mahasiswa muda yang sangat ambisius, saya tahu-tahu dikait oleh Allah. Saya pernah mencoba sekuatnya untuk meloloskan diri dari kaitan ini, tetapi tidak pernah berhasil. Setiap orang Kristen pasti mempunyai pengalaman yang serupa. Kita semua menempuh jalan kita masing-masing, tahu-tahu pada suatu hari Tuhan “mengait” kita. Apa daya kita? Tidak ada pilihan lain, semakin kita mencoba melarikan diri dari kaitan ini, kaitan ini akan semakin kuat dan besar. Kaitan ini adalah sebesar alam semesta. Ke mana pun kita pergi, pengait ini ada di sana. Ke kasino di Las Vegas Anda melarikan diri, di sana Anda akan menemukan pengait ini. Inilah makna dipanggil. Banyak orang tua yang memarahi putra-putri mereka yang dikait Allah, katanya, “Mengapa demikian tolol? Mengapa harus pergi mengunjungi sidang setiap malam? Tidakkah kamu tahu bahwa kamu memiliki masa depan?” Kita mengikuti sidang karena kita telah terkait pada kait ilahi. Siapa yang dapat menolak kaitan ini? Tidak seorang pun. Begitu kait ilahi ini mendatangi kita, lenyaplah segala perlawanan. Inilah panggilan Tuhan, kunjungan anugerah-Nya.

(10) Bagi Tujuan Allah

Kita telah dipilih dan dipanggil bagi tujuan Allah (Rm. 9:11). Tidak banyak orang Kristen yang mengetahui apa sebenarnya tujuan ini. Ketika masih muda, saya telah mendengar berita demi berita dan membaca buku demi buku tentang kisah Abraham. Berita-berita dan buku-buku itu semuanya membicarakan tentang dibenarkan demi iman dan tentang Abraham sebagai bapa iman, namun tidak satu pun yang mengatakan bahwa Allah memanggil Abraham dengan satu tujuan. Di atas diri Abraham tujuan ini tidak terlihat, karena ia belum matang dalam hayat. Kita tidak nampak awal pengalaman terhadap Allah pada Abraham, juga tidak nampak suatu penutupan yang memuaskan dari hayat yang tepat pada pengalamannya. Ketika Abraham tinggal di Ur-Kasdim, tiba-tiba Allah menyinarinya, dan ia “terkait”. Allah memanggil Abraham, dan Abraham tertangkap. Tetapi permulaan yang sejati bukanlah dimulai di Ur-Kasdim, melainkan dimulai dengan pemilihan Allah sebelum dunia dijadikan. Permulaan ini terdapat pada Yakub, bukan pada Abraham. Kita telah melihat bahwa hidup Abraham diakhiri oleh pernikahannya yang kedua. Setelah ia sedemikian tua, ia menikah lagi dan melahirkan enam orang putra. Dengan sendirinya, ini bukanlah kematangan dalam hayat. Kita tidak melihat bahwa Abraham terubah menjadi pangeran Allah. Jika kita ingin melihat awal dan akhir pengalaman terhadap Allah, kita harus melihat Yakub. Pengalaman Yakub terhadap Allah berawal pada kekekalan azali dan akan berakhir pada kekekalan abadi (yang akan datang).

Apakah tujuan panggilan Allah? Yaitu mengubah orang-orang yang dipanggilnya menjadi raja-raja. Kita dapat melihat tujuan ini pada Yakub, bukan pada Abraham atau Ishak. Ishak hanya tahu makan “daging yang lezat”. Jika Anda bertanya kepada Ishak perihal tujuan hidupnya, mungkin ia menjawab, “Tujuan hidupku adalah menikmati.” Ishak tidak mau tahu lainnya. Sama dengan hari ini, kebanyakan orang Kristen tidak tahu apa tujuan hidup mereka. Mereka mungkin berkata, “Kita telah diselamatkan untuk menempuh kehidupan yang bahagia, damai, dan penuh kesenangan hari ini, dan kelak menuju ke surga.” Namun, dengan jelas Perjanjian Baru mewahyukan kepada kita bahwa tujuan pemilihan, penentuan, dan panggilan Allah adalah keputraan (sonship) (Ef. 1:4-5). Kita telah ditentukan untuk keputraan. Kita bukan putra-putra biasa, kita adalah putra-putra raja, putra-putra dari keluarga yang ditakdirkan menjadi raja-raja. Roma 8:29 mengatakan, “Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya.” Inilah tujuan Allah. Tujuan Allah dalam memilih, menentukan dan memanggil kita adalah untuk mengubah orang-orang dosa yang kasihan menjadi para pangeran, dan begitu proses pengubahan telah sempurna, kita boleh memegang pemerintahan sebagai raja-raja.

Kejadian 1:26 mewahyukan bahwa tujuan Allah menciptakan manusia adalah agar manusia memiliki gambar-Nya untuk mengekspresikan Dia, dan memiliki kuasa pemerintahan-Nya untuk mewakili Dia. Perjanjian Baru juga mengatakan, bahwa kita telah dijadikan imam-imam dan raja-raja (Why. 1:6; 20:6). Sebagai imam-imam kita memiliki gambar Allah untuk mengekspresikan Dia, dan sebagai raja-raja kita memiliki kuasa pemerintahan Allah untuk mewakili Dia. Dalam Kerajaan Seribu Tahun, sebagai imam-imam-Nya, kita mengekspresikan Dia dalam rupa gambar-Nya; dan sebagai raja-raja, kita akan melaksanakan pemerintahan-Nya atas seluruh bumi demi kekuasaan-Nya. Kini, hari ke hari kita mengalami proses pengubahan sehingga kita bisa memiliki gambar dan rupa Allah sepenuhnya serta menjalankan kekuasaan-Nya.

Jika kita memandang diri sendiri, kita akan berkata, “Semakin aku memandang diriku, semakin tidak mirip Putra Allah, semakin tidak mirip seorang raja. Sungguh menyedihkan aku ini! Meskipun telah bertahun-tahun aku diselamatkan, namun masih demikian kasihan.” Puji Tuhan, kita menyadari alangkah kasihan kita ini. Jangan kecewa dan jangan kecil hati. Inilah sebabnya kita berada di bawah proses pengubahan Allah.

Antara lima puluh pasal Kitab Kejadian, dua puluh lima setengah pasal diduduki oleh catatan atas Yakub dan Yusuf. Dalam pasal-pasal tersebut kita nampak bahwa Yakub berada di bawah penanggulangan dan pendisiplinan Allah. Setiap orang yang terlibat atau bersangkutan dengan Yakub menjadilah alat-alat Allah untuk menanggulangi Yakub. Allah telah memakai ayah, ibu, saudara, paman, istri-istri, dan anak-anaknya. Tetapi ketika Yakub keluar dari “tungku api”, ia menjadi seorang pangeran Allah.

Apa tujuan pengalaman Yakub? Apakah untuk memperoleh kehidupan yang damai, riang, dan bahagia? Jika kita mengatakan demikian, Yakub pasti menjawab, “Aku tidak sependapat denganmu. Sepanjang hidupku aku tidak banyak merasakan damai, bahkan sejak aku dalam kandungan ibuku. Allah tidak menempatkanku sebagai yang pertama; aku harus berebut untuk itu. Dan ketika aku menderita kekalahan dalam perebutan itu, aku tidak mendapat damai. Aku menipu kakakku dan ia hendak membunuh aku. Lalu ibuku menolong aku melarikan diri ke rumah pamanku, Laban. Laban jauh lebih mahir daripada aku dalam tipu daya. Janganlah berbincang tentang damai kepadaku. Aku tidak banyak mengecap damai atau riang, malahan banyak mengalami penanggulangan.” Tujuan Allah terhadap Yakub bukanlah mengaruniai dia damai, sukacita, dan hidup bahagia, dan kemudian membawanya ke surga. Tujuan Allah adalah menanggulangi si perampas yang kasihan ini sampai ia terubah menjadi pangeran Allah yang mengemban gambar-Nya untuk mengekspresikan Dia dan melaksanakan pemerintahan-Nya selaku perwakilan-Nya. Inilah tujuan Allah. Nanti kalau kita sampai pada akhir Kitab Kejadian, kita akan melihat bahwa Israel benar-benar merupakan orang yang semacam ini. Sewaktu ia berjumpa dengan Firaun, ia tidak berkata apa-apa, ia hanya mengulurkan tangan dan memberkatinya (Kej. 47:7, 10). Yakub mempunyai gambar Allah dan mengekspresikan-Nya dengan sepenuhnya. Selanjutnya, melalui Yusuf, ia menjadi orang yang memegang pemerintahan atas seluruh bumi, mewakili Allah di bumi. Pada akhir Kitab Kejadian, kita nampak sasaran Allah, yaitu sasaran pemilihan-Nya. Hari ini, kita berada di atas jalan Yakub. Kita semua telah dipanggil, dibenarkan, dan menikmati anugerah Allah. Pada saat yang sama, kita pun berada di bawah penanggulangan Allah. Bukan hanya jari kelingking Allah menimpa ke atas kita, tetapi juga ibu jari-Nya. Inilah penanggulangan Allah dan pengubahan Allah. Ini tidak saja membuat kita menjadi putra-putra Allah, tetapi juga Israel, pangeran Allah.