← Daftar isi Kejadian (5) · bab 7/16

MEMPUNYAI KELEMAHAN ALAMIAH SAMA SEPERTI ABRAHAM DAN HIDUP DI DALAM HAYAT ALAMIAH

SAMA SEPERTI YAKUB

Pada dua berita yang lalu mengenai Ishak, kita telah melihat Ishak sebagai ahli waris anugerah, dan sepanjang hidupnya hanya mengaso dan menikmati saja. Sekarang kita perlu melihat bahwa orang yang menikmati anugerah ini masih mempunyai kelemahan alamiah dan hayat alamiah. Kita sulit memahami hal ini. Menurut konsepsi agama alamiah kita, kita selalu mengira bahwa jika kita bersifat alamiah, kita tidak bisa menikmati anugerah. Menurut konsepsi agama kita, menikmati anugerah adalah berdasarkan standar rohani kita. Terutama dalam pengajaran dan nasihat kita terhadap sanak famili dan anak-anak kita, kita sering mengatakan bahwa kita harus dalam keadaan baik baru dapat menikmati anugerah Allah; jika kita tidak dalam keadaan baik, kita tidak akan berbagian dalam anugerah Allah. Mungkin tidak seorang pun dari antara kita yang pernah berpikir bahwa berbagian dalam anugerah Allah tidak berdasarkan apakah kita ini rohani atau tidak. Sebaliknya, kita semua malah mengira bahwa kita harus rohani agar dapat menikmati anugerah Allah.

Ishak adalah model atau pola dari orang yang menikmati anugerah Allah. Dalam seluruh Alkitab hampir tidak ada orang lain yang sedemikian menikmati anugerah seperti Ishak. Sepanjang hidupnya, Ishak tidak mengerjakan yang lain kecuali menikmati anugerah Allah. Hidupnya adalah menikmati anugerah. Akan tetapi pada diri Ishak kita melihat kelemahan alamiah yang persis sama dengan yang terdapat pada diri Abraham. Tidak hanya demikian, pada diri Ishak, kita juga melihat hayat alamiah Yakub. Ishak sama seperti Yakub, hidup di dalam alamiahnya. Yakub mengasihi anak-nya, Yusuf, menurut selera alamiahnya (Kej. 37:3-4); dan inilah yang menjadi penyebab timbulnya kesulitan di dalam keluarganya. Saudara-saudara Yusuf membenci Yusuf karena Yakub lebih mengasihi dia. Begitu juga Ishak lebih mengasihi Esau, disebabkan Esau pandai berburu dan bisa memperoleh daging buruan kesukaan ayahnya (Kej. 25:27-28). Karena itulah, Esau menjadi anak kesayangan ayahnya. Di sini kita nampak bahwa di dalam hayat alamiah, Ishak sama seperti Yakub.

Jika Anda mengatakan bahwa Ishak tidak pernah membohongi seorang pun, maka saya ingin menunjukkan bahwa Ribka, istrinya, membantunya berbohong. Ditinjau dari satu segi, Ishak berlainan dengan Yakub dalam hal memegang, namun kekurangan ini ditambal oleh Ribka. Setiap istri meru-pakan bagian dari suaminya, ia adalah pelengkap dan peng-genap suaminya. Tanpa Ribka, Ishak mungkin tidak sampai menjadi seorang ahli bohong. Tetapi dengan adanya Ribka, dia benar-benar berubah menjadi sama seperti Yakub. Dari ibunya yang pandai memegang, Yakub telah belajar bagaimana memegang; dan ibunya yang pandai memegang ini merupakan penyempurna ayahnya untuk memegang. Di sinilah kita melihat hayat alamiah Yakub pada diri Ishak.

Ishak adalah orang yang menikmati anugerah. Menurut konsepsi alamiah kita, orang yang mempunyai kelemahan alamiah dan yang hidup di dalam hayat alamiah mustahil menikmati anugerah Allah. Ini adalah konsepsi kita; ini bukan firman Allah. Dalam Alkitab, tidak terdapat Ishak sebagai orang yang sangat rohani. Ia merupakan orang yang masih mempunyai kelemahan alamiah dan masih hidup di dalam hayat alamiah. Lalu, mengapa dia sedemikian menikmati anugerah Allah? Tidak lain karena Allah telah menakdirkan demikian. Kita, orang-orang Kristen, mempunyai aspek takdir Allah. Seperti apa yang telah kita tunjukkan bahwa menik-mati anugerah Allah adalah takdir kita. Takdir ini telah ditentukan sebelum dunia dijadikan. Jangan mengira kalau Anda rohani, Anda akan mempunyai hak utama untuk menikmati anugerah Allah dan kalau Anda tidak rohani, Anda tidak dapat menikmati anugerah-Nya. Itu konsepsi agama, Alkitab tidak mengajarkan demikian. Mendengar bahwa menikmati anugerah bukan tergantung pada kerohanian, mungkin ada orang akan berkata, “Jika menikmati anugerah Allah tidak memerlukan kita rohani, maka marilah kita tidak rohani saja!” Janganlah berkata demikian. Rohani atau tidak rohani memang tidak membantu kita menikmati anugerah Allah. Ini sama sekali masalah takdir Allah, dan ini pun tidak tergantung pada apa adanya kita dan apa yang dapat kita perbuat. Kita mempunyai aspek Ishak. Kita telah ditakdirkan oleh Allah untuk menikmati anugerah. Jika kita rohani, kita tidak akan lebih menikmati anugerah; jika kita tidak rohani, kita pun tidak akan kehilangan anugerah Allah. Tetapi kita tidak boleh berkata, “Mari kita berbuat jahat dan kebajikan itu akan datang.” Jangan coba-coba membuang waktu untuk menjadi rohani atau tidak rohani. Katakan saja dengan singkat, “Ya Tuhan, aku menyembah-Mu atas takdir-Mu. Engkau telah menakdirkan aku untuk menikmati anugerah.” Paling tidak, kita semua adalah bagian dari Ishak. Di dalam diri kita ada aspek yang telah ditakdirkan oleh Allah untuk menikmati anugerah.

Kapan Anda menikmati anugerah lebih banyak? Ketika Anda merasa diri Anda rohani dan baik di pandangan Allah atau ketika Anda tenggelam dan merasa Anda sama sekali tidak patut? Justru sewaktu saya jatuh, saat itulah saya menik-mati anugerah paling banyak. Namun kita jangan berkata, “Baiklah kita tenggelam, agar kita dapat lebih banyak menikmati anugerah.” Kapan Anda mencoba berbuat demikian, Anda pasti tidak akan berhasil. Sekali lagi, saya tegaskan bahwa ini tidak tergantung pada kita, melainkan tergantung pada takdir Allah. Saya harap kata-kata saya ini tidak mendorong Anda menjadi rohani atau tidak rohani. Sebaliknya, saya harap ini bisa mendorong Anda menjadi bukan apa-apa. Tetapi tetap jangan mencoba menjadi bukan apa-apa, karena usaha Anda itu masih berarti berbuat sesuatu. Jika Anda dapat ber-kata, “Aku mau pulang ke rumah dan melupakan segala-galanya,” itu sangat baik.

Dari catatan seumur hidup Ishak, kita menemukan satu orang yang menikmati anugerah Allah di setiap aspek. Percayakah Anda bahwa orang yang menikmati anugerah Allah seperti ini masih juga mempunyai kelemahan alamiah, yaitu terang-terangan berbohong? Ia berdusta sehingga mengorbankan istrinya. Mungkin kita akan berkata, “Jika aku seperti itu, tentu aku tidak akan berdusta seperti itu.” Jangan berkata demikian. Kita mungkin menikmati anugerah lebih banyak dan kemudian berdusta lebih gamblang daripada apa yang Ishak lakukan.

Lihatlah pengalaman Anda sendiri. Walaupun Anda tidak pernah berbohong sehingga mengorbankan istri Anda, namun jelas-jelas Anda telah berdusta kepada istri Anda. Dalam tahun-tahun yang silam, saya sangat terpengaruh oleh konsepsi agama, percaya bahwa orang-orang Kristen, khususnya orang-orang Kristen yang disebut rohani, mustahil berdusta. Akhirnya, saya justru menemukan bahwa orang-orang Kristen (termasuk orang-orang yang disebut rohani) juga berdusta. Bukan hanya orang-orang dunia yang berdusta, orang-orang Kristen dan rohaniwan-rohaniwan pun berdusta. Inilah kondisi ma-nusia yang jatuh. Lalu apa yang harus kita perbuat? Kita harus tidak berbuat apa-apa. Allah telah memilih kita keluar dari bangsa yang jatuh, dan telah menentukan kita dengan takdir-Nya. Ini tidak berarti jika kita di pandangan Allah berbuat baik atau menjadi rohani, kita akan menerima anugerah lebih banyak. Ishak tidak pernah berusaha berbuat baik atau menjadi rohani, namun ia terus-menerus menikmati anugerah. Saya tidak menyuruh Anda menjadi agamawan atau bukan agamawan, saya juga tidak menganjuri Anda menjadi apa-apa, karena menikmati anugerah Allah tidak tergantung pada kerohanian kita.

Ishak hendak memberkati anaknya, Esau. Tetapi ia mencampuradukkan antara berkat dan selera alamiahnya. Kejadian 27:3-4, Ishak berkata kepada Esau, “Maka sekarang, ambillah senjatamu, tabung panah dan busurmu, pergilah ke padang dan burulah bagiku seekor binatang; olahlah bagiku makanan yang enak, seperti yang kugemari, sesudah itu bawalah kepadaku, supaya kumakan, agar aku memberkati engkau, sebelum aku mati.” Ishak seakan-akan berkata, “Esau, sebelum aku mati, aku ingin makan daging buruan itu sekali lagi. Bila kau membuatkan aku makanan dari daging buruan, maka kau akan kuberkati.” Di sini kita melihat bahwa Ishak mencampuradukkan berkat Allah dengan selera alamiahnya. Kita merasa heran, bagaimana mungkin orang yang sedemikian bisa memberkati orang lain. Nyatanya, Ishak telah memberkati orang lain.

Ishak tidak begitu agamawi seperti kita. Ia tidak merasa bahwa tidaklah rohani jika berbuat begitu. Misalkan, Anda adalah seorang ayah yang ingin memberkati salah seorang anak Anda. Saya yakin Anda pasti akan sangat hati-hati dan waspada, berdoa, berpuasa, tidak berani secara sembrono memberkati di dalam tubuh daging atau menurut selera alamiah Anda. Jika Anda ini saudara berbangsa China, Anda pasti tidak akan berkata kepada anak yang akan Anda berkati, “Hai, Ananda, pergilah ke Chinatown dan belilah makanan China bagiku, nanti aku akan memberkatimu.” Tentunya tidak ada saudara berbangsa China yang berani melakukan hal tersebut, karena secara agamawi kita merasa perlu rohani. Kita semua akan berkata, “Karena aku hendak memberkati anakku, maka aku harus beserta dengan Tuhan dan menyingkirkan selera alamiahku.” Namun Ishak dengan berani sekali memberi tahu Esau, “Olahlah bagiku makanan yang enak, seperti yang kugemari, sesudah itu bawalah kepadaku, supaya kumakan, agar aku (jiwaku) memberkati engkau, sebelum aku mati.” Ishak berkata dengan jujur, “Agar aku (jiwaku) memberkati engkau” (27:4). Betapa campur aduknya, Ishak, seorang yang terus-menerus menikmati anugerah Allah, memberkati dengan membabi buta! Tetapi Ishak memberkati di dalam iman, dan pemberkatannya dihormati oleh Allah (Ibr. 11:20).

Ketika masih muda, saya membaca bagian ayat-ayat Alkitab ini, saya tidak mengerti mengapa bisa terjadi campur aduk yang sedemikian. Saya berkata, “Ishak, apa yang sedang kaulakukan? Jika kau ingin makan daging buruan, janganlah membicarakan tentang berkat. Tidak seharusnya engkau mencampuradukkan selera alamiahmu dengan berkat Allah. Bagaimana Allah dapat menghargai berkat yang dicampuradukkan dengan selera alamiahmu itu?” Ketika dengan jujur Ishak memberi tahu Esau bahwa ia akan memberkati Esau asal disediakan makanan daging buruan, ia tidak memikirkan tentang menjadi orang yang agamawi. Ia sama sekali berada di luar agama. Tidak ada agama dalam konsepsinya. Kalau kita ada di sana, kita akan berkata, “Ishak, jangan berkata demikian. Jika engkau mengingini selera alamiahmu, jangan berbicara tentang berkat Allah. Allah tidak akan menghormati berkatmu. Ishak, kau sama sekali salah.” Tetapi mungkin Ishak akan menjawab, “Apa yang engkau bicarakan? Aku belum pernah mendengar perkataan agamawi semacam ini. Aku tidak mempunyai konsepsi ini. Aku sedikit pun tidak mempunyai perasaan agamawi. Aku hanya tahu dua perkara: aku ingin memuaskan seleraku dan aku ingin memberkati anakku. Setelah aku makan daging, aku akan memberkati anakku. Aku tidak tahu apa yang disebut rohani atau agama. Aku hanya tahu bahwa aku adalah seorang ayah, dan ia adalah anakku; yang besar selalu memberkati yang kecil.” Ketika masih muda, saya sangat dipersulit oleh hal ini. Tidak mengerti mengapa Ishak yang begitu banyak menikmati anugerah Allah, masih bisa memiliki kelemahan alamiah sama seperti Abraham dan hayat alamiah sama seperti Yakub.

Kita perlu sangat jelas terhadap dua hal ini. Pertama, anugerah tidak berdasarkan kepada apa adanya kita. Baik atau jahat, rohani atau tidak rohani, semuanya tidak terhitung. Karena Allah telah menakdirkan kita sebagai sasaran anugerah-Nya, maka anugerah itu datang kepada kita, dan kita tidak dapat menolaknya. Kedua, seperti yang telah kita sebutkan beberapa kali, Abraham, Ishak, dan Yakub bukannya tiga orang yang terpisah dalam pengalaman hidup, melainkan mewakili tiga aspek pengalaman dari satu orang yang sempurna. Inilah sebabnya Abraham dan Yakub, kedua-duanya tertampak pada diri Ishak. Ishak mempunyai kelemahan alamiah Abraham dan hayat alamiah Yakub.

c. Memiliki Kelemahan Alamiah Sama seperti Abraham

Seperti yang telah kita lihat bahwa Ishak memiliki kelemahan alamiah sama seperti Abraham (lihat 20:1-2, 11-13). Apakah Anda tidak mempunyai kelemahan alamiah? Orang yang sangat peka perasaan rohaninya pun masih memiliki kelemahan alamiah. Kelemahan macam apakah yang Anda miliki? Kita semua mempunyai kelemahan alamiah, tetapi tidak seorang pun dapat menunjukkannya. Kita mengetahui bahwa kita mempunyai kelemahan seperti ini, namun kita tidak paham apa itu. Jika Anda yakin bahwa sesuatu itu kelemahan Anda, itu masih bukan kelemahan Anda. Sebelum Ishak tersingkapkan dalam pasal 26, mungkin ia tidak menyadari bahwa kelemahan alamiahnya itu sama seperti kelemahan alamiah Abraham. Mungkin ia mengira kelemahannya adalah salah satu di antara hal-hal lainnya. Pada suatu hari, ia menuju ke selatan, tersingkaplah kelemahan alamiahnya.

Bersandar diri sendiri, kita mustahil bisa mengetahui kelemahan alamiah kita sendiri; kelemahan alamiah perlu disingkapkan. Tidak ada orang yang dapat memahami kelemahannya sendiri. Anda sendiri mungkin tidak mengetahui kelemahan alamiah diri sendiri, tetapi orang lain jelas, karena ini telah tersingkapkan kepada mereka. Siapa saja yang tinggal bersama Anda untuk sejangka waktu akan mene-mukan kelemahan alamiah Anda. Menurut konsepsi agama Anda, bila Anda mempunyai kelemahan alamiah, Anda akan tidak berbagian dengan anugerah. Namun, anugerah itu tetap bersama dengan Anda. Dulu saya juga mempunyai pikiran yang sama. Kemudian saya mengetahui bahwa anugerah tidak tergantung pada apa adanya kita. Setiap sasaran anugerah ilahi mempunyai kelemahannya masing-masing. Jangan mengira Rasul Paulus tidak mempunyai kelemahan. Petrus, Yohanes dan Paulus masing-masing mempunyai kelemahan-kelemahannya sendiri, tetapi kelemahan-kelemahan mereka tidak menghalangi mereka dari menikmati anugerah Allah. Kita semuanya mempunyai kelemahan alamiah. Di dalam sejarah hanya seorang saja yang tidak mempunyai kelemahan alamiah, yaitu Yesus Kristus.

Saya tidak mendorong Anda menjadi rohani atau tidak rohani, saya menganjuri Anda supaya dengan berani menikmati anugerah. Jangan mau dihalangi dari menikmati anugerah oleh konsepsi agama Anda. Buanglah konsepsi Anda dan pujilah Tuhan karena Anda adalah sasaran anugerah Allah. Meskipun kita tidak dapat menunjukkan kelemahan alamiah kita, namun kita mengetahui bahwa kita mempunyai kelemahan. Orang lain, misalnya, istri, suami, teman sekamar kita, mengetahui apa kelemahan kita. Orang lain mengetahui, namun kita sendiri sulit mengetahuinya. Sebagian dari kita mungkin baru mengetahui kelemahan alamiahnya setelah bertemu dengan Tuhan secara langsung. Puji Tuhan atas kebutaan kita terhadap kelemahan alamiah kita. Seandainya kita nampak kelemahan kita, kita pasti akan terhalang dari menikmati anugerah. Saya bukan menyuruh Anda memelihara kelemahan alamiah Anda, melainkan saya mengatakan bahwa baik sekali bagi kita untuk tidak menyadarinya. Kapan kita menyadari adanya kelemahan, konsepsi rohani kita lalu menghalangi kita dari menikmati anugerah. Sebaliknya, apabila kita tidak mengetahui kelemahan kita, kita kemudian hanya tahu menikmati anugerah Tuhan. Dalam Kejadian pasal 26, kelemahan alamiah Ishak tiba-tiba muncul. Namun itu tidak merintanginya dari menikmati anugerah Allah. Dengan kata lain, munculnya kelemahan alamiah Ishak tidak mengganggu dia menaruh iman kepada Allah.

Ishak meninggalkan Bersyeba, berjalan menurun ke selatan, tidak menuju ke Mesir, melainkan menuju ke tempat yang berdekatan dengan Mesir (Kej. 26:1-2). Kehendak hati Allah ialah agar umat pilihan-Nya tinggal di tanah permai. Kapan saja kelemahan alamiah umat-Nya terwujud, mereka selalu berjalan menurun. Kita tidak menemukan sebuah contoh, di mana umat Allah berjalan menanjak ke sebelah utara ketika mereka lemah. Hal yang paling celaka adalah turun ke Mesir. Inilah yang dilakukan oleh Abraham (Kej. 12:10). Kedua kalinya Abraham menuju ke selatan, ia hanya pergi sejauh tanah Filistin (Kej. 20:1). Ishak mengulangi cerita Abraham berjalan menurun, di tengah ia menuju ke selatan, Allah datang mencegah dan memperingatinya, kata-Nya, “Janganlah pergi ke Mesir, diamlah di negeri yang akan Kukata-kan kepadamu” (Kej. 26:2). Ishak mungkin bermaksud turun menuju ke Mesir, tetapi Allah memerintahkan agar dia tinggal di tempat di mana Allah akan memberitahukan kepadanya. Meskipun Ishak tidak tinggal di tempat yang tepat, tetapi ia masih dengan sentosanya menikmati anugerah Allah. Ia sama sekali tidak memiliki perasaan agamis. Alangkah baiknya tanpa memiliki perasaan agamawi! Namun, sekali saja musuh menginjeksikan sesuatu ke dalam pikiran kita, itu sangat sulit ditarik kembali. Dalam berita ini, beban saya ialah memberi tahu Anda bahwa menikmati anugerah Allah tidak tergantung pada agamawi kita. Atas diri Ishak, kita melihat satu orang yang sama sekali bukan agamawi, tetapi ia senantiasa dapat menikmati anugerah Allah.

Ishak tidak hanya tidak tinggal di tempat yang tepat; ia pun berdusta, sampai-sampai mengorbankan istrinya (Kej. 26:6-7), sama seperti apa yang dilakukan oleh Abraham. Bagaimanapun, ia beserta istrinya dilindungi oleh kuasa penjagaan Allah (Kej. 26:8-11). Anugerah Allah yang melindungi dia dari mengorbankan istrinya.

d. Hidup di Dalam Hayat Alamiah Sama seperti Yakub

Atas diri Ishak bukan hanya ada kelemahan alamiah saja, tetapi juga ada hayat alamiah. Ia masih tetap hidup di dalam hayat alamiahnya. Ia tidak selalu menempuh hidup yang disebut kehidupan yang rohani. Setelah Ishak berdoa, Allah memberinya dua anak, Esau dan Yakub. Ishak mengasihi Esau karena ia pandai berburu dan kebetulan Ishak “suka makan daging buruan” (Kej. 25:27-28). Kasih sayang Ishak terhadap anak sulungnya sama sekali di dalam hayat alamiahnya dan menuruti selera alamiahnya, sama halnya kasih Yakub terhadap Yusuf (Kej. 37:3-4). Dikarenakan suami telah memelopori pilih kasih, maka sang istri pun mengikuti. Esau, seorang “pemburu yang ulung” adalah anak kesayangan ayahnya, dan Yakub, seorang “yang tenang” yang tinggal di kemah, adalah anak kesayangan ibunya. Setiap ibu menyayangi anaknya yang tenang tinggal di dekatnya. Tidak ada ibu yang menyayangi anaknya yang berkeliaran sepanjang hari bermain olah raga. Dalam keluarga Ishak, sang ayah lebih menyukai Esau, sedangkan sang ibu lebih menyukai Yakub. Kehidupan macam apakah ini? Apakah ini kehidupan yang rohani, atau kehidupan kebangkitan? Tidak, meskipun ini bukan kehidupan dosa, tetapi ini kehidupan alamiah. Jangan mengira kita berbeda karena setiap orang tua mempunyai pilih kasih. Jika Anda mempunyai beberapa orang anak, dengan sendirinya Anda akan lebih menyukai salah satu di antara mereka seturut selera Anda, dan semua anak Anda akan mengetahui siapa sasaran pilih kasih Anda itu. Pilih kasih sedemikian ini bukan berasal dari roh kita, melainkan berasal dari selera alamiah kita. Kita lebih menyukai salah seorang anak disebabkan dia cocok dengan selera alamiah kita. Inilah hayat alamiah.

Hayat alamiah selalu menyebabkan kesulitan. Pilih kasih di dalam keluarga Ishak mendatangkan “perebutan”. Ribka menghendaki anak kesayangannya menerima berkat. Dalam pasal 27 kita melihat betapa dia pandai merebut (Kej. 27:5-7). Dia mengajari Yakub cara untuk merebut. Pasal 30, Yakub main curang terhadap pamannya, Laban, dalam hal ternak (Kej. 30:31-43). Prinsipnya sama dengan pasal 27. Ribka menyiapkan makanan yang lezat sambil membalutkan kulit anak kambing pada kedua tangan dan leher Yakub. Ketika Ishak merabanya, ia berkata dengan ragu-ragu, “Kalau suara, suara Yakub; kalau tangan, tangan Esau” (Kej. 27:22). Di sini kita nampak bahwa kelicikan Yakub “merebut” ini adalah pelajaran yang diperolehnya dari ibunya, dan ibunya merupakan bagian dari ayahnya. Dalam pengertian ini, ibu mendustai ayah, berarti bagian yang kedua dari seseorang mendustai bagian yang pertama dari orang itu sendiri. Semua dusta dalam keluarga ini tidak lain mendustai diri sendiri. Akhirnya, setiap anggota dari keluarga ini sendiri yang tertipu. Ketika saya membaca pasal ini, saya berkata, “Ribka, kamu mengira dirimu sangat pandai. Sebenarnya kamu ini bodoh. Tidakkah kamu tahu bahwa Allah telah menakdirkan Yakub sebagai yang pertama? Tidak perlu bantuanmu.” Ribka yang berusaha membantu anaknya, akhirnya justru kehilangan anaknya. Kitab Kejadian tidak menjelaskan berapa lama Ribka hidup. Kemungkinan sudah meninggal sebelum Yakub kembali dari rumah Laban. Ini berarti Ribka kehilangan anaknya karena dustanya. Mungkin juga, Ribka tidak melihat lagi Yakub, anaknya selama hidupnya. Dia menganggap membantu anaknya; padahal perebutannya mengakibatkan kehilangan anaknya.

Sungguh sukar sekali mempercayai bahwa seseorang seperti Ishak ini masih mempunyai kelemahan alamiah dan masih hidup di dalam hayat alamiahnya. Ishak menderita karena hayat alamiahnya (Kej. 26:34-35; 27:41-46; 28:6-9). Meskipun Ishak selalu menikmati anugerah, tetapi dalam kehidupannya ada aspek penderitaan. Ishak dan Ribka, keduanya menderita karena hidup di dalam alamiahnya; dan kedua istri Esau menimbulkan kesedihan bagi roh mereka (Kej. 26:34-35 Tl.).

Karena pilih kasih di dalam keluarga ini, Esau membenci Yakub serta hendak membunuhnya. Mendengar hal ini, Ribka segera memberi tahu Yakub supaya melarikan diri ke rumah pamannya, Laban, dan tinggal bersamanya untuk sejangka waktu, sampai kemarahan dan kegeraman Esau surut. Tetapi Ribka melaporkan cerita yang lain kepada Ishak (Kej. 27:46). Dia seolah-olah berkata, “Istri-istri Esau telah banyak menimbulkan kepedihan terhadap roh kita, Jika Yakub mengambil istri yang seperti ini, aku tidak akan tahan hidup lagi. Kita harus mengirim dia pergi meminang seorang istri.” Ribka menceritakan hal yang sama dalam dua cara yang berbeda. Setiap istri yang pandai akan berbuat demikian, yaitu menceritakan satu hal dalam dua cara. Sama halnya istri-istri hari ini, Ribka mendustai Ishak dengan cerita yang benar. Dia berniat menyuruh Yakub pergi untuk melindungi Yakub dari Esau. Tetapi dia tidak mengatakan demikian kepada Ishak. Sebaliknya, dia mengatakan bahwa dia telah jemu dengan menantu-menantu kafirnya dan dia tidak menginginkan Yakub mengambil istri yang seperti itu. Ia menyarankan Ishak agar menyuruh Yakub pergi mencari seorang istri dari suku bangsa mereka sendiri. Menurut minatnya, ini merupakan suatu dusta; menurut perkataannya, ini memang hal yang benar. Justru inilah yang mendatangkan penderitaan.

Di satu pihak Ishak sedang menikmati anugerah, di pihak lain ia pun menderita karena hidup di dalam hayat alamiahnya. Hayat alamiah tidak bisa menghalangi anugerah, tetapi bisa membuat kita menderita. Hayat alamiah tidak bisa mengurangi banyaknya anugerah, tetapi bisa menambah banyaknya penderitaan kita. Asal Anda memiliki aspek hayat alamiah, ini bisa mengakibatkan Anda menderita. Kalau Anda tidak mau menderita, janganlah sekali-kali mau hidup di dalam hayat alamiah. Jangan sok pintar, memakai hikmat Anda untuk membantu Allah, atau melakukan menurut hayat alamiah Anda. Ini hanya menambah penderitaan Anda. Lebih baik kita jangan hidup di dalam hayat alamiah kita.

Meskipun Ishak hidup dalam hayat alamiahnya, Allah tetap berdaulat atas segala sesuatu. Dengan pengertian lain, hayat alamiah justru “membantu” kedaulatan pengaturan Allah. Allah telah menentukan Yakub untuk memperoleh hak kesulungan, dan berbagian dalam berkat anak sulung. Perebutan Ribka menyebabkan dia sendiri menderita, namun ini dipakai oleh Allah untuk menggenapkan tujuan-Nya. Segala sesuatu berada di bawah kuasa kedaulatan Allah untuk menggenapkan tujuan-Nya. Karena itu, kita semua bisa berkata, “Puji Tuhan, tidak peduli aku ini baik atau jahat, rohani atau tidak, tujuan Allah pasti tercapai. Apa saja yang akan terjadi, aku selalu di bawah anugerah dan di dalam kenikmatan atas anugerah.” Tidak ada sesuatu pun yang dapat menghalangi kita menikmati anugerah. Namun, untuk menghindari penderitaan, janganlah hidup di dalam hayat alamiah.

e. Tidak Terlalu Matang dalam Hayat

Ishak sudah ada sedikit kematangan dalam hayat, namun tidak terlalu banyak. Ia sudah memberkati, tetapi ia memberkati secara buta (Kej. 27:21-29). Pemberkatannya itu menurut selera alamiahnya (Kej. 27:1-4). Ia memberkati secara buta, baik jasmaninya maupun rohaninya, karena ia telah dibutakan oleh selera alamiahnya. Namun, ia tetap memberi berkat demi iman (Ibr. 11:20). Ia mengatakan bahwa jiwanya akan memberkati, akhirnya bukan jiwanya yang memberkati, melainkan rohnya yang memberkati, dan pemberkatannya menjadi sebuah nubuat. Tidak seorang pun bisa bernubuat di dalam jiwa. Jika kita ingin bernubuat, kita harus di dalam roh. Demikianlah Ishak memberi berkat di dalam roh demi iman.

Iman tidak berdasar pada apa adanya kita, melainkan berdasar pada apa yang kita lihat. Kapan saja Anda hendak memakai iman, Anda tidak boleh memandang pada diri Anda, apa adanya Anda, atau suasana sekitar Anda. Anda harus memandang apa adanya Allah dan apa yang difirmankan oleh-Nya. Barulah Anda dapat memakai iman Anda di dalam Allah dan di dalam firman-Nya. Ishak telah memberkati demi iman secara demikian. Menurut keadaan Ishak, ia tidak cukup syarat untuk mempunyai iman. Namun, ia tidak mempedulikan apa adanya dia; ia menatap kepada Allah dan janji Allah, seraya memberkati anaknya demi iman dan di dalam roh. Jika kita ingin memiliki iman, kita harus tidak memandang diri kita, karena jika kita memandang diri kita, pastilah iman akan sirna. Pandanglah Allah dan lihatlah apa yang difirmankan-Nya. Kemudian katakan saja apa yang telah Allah katakan. Inilah iman. Demikianlah Ishak memberkati anaknya.

f. Mati dalam Iman Ketika Suntuk Umur

Sekalipun Alkitab tidak menunjukkan bahwa Ishak amat rohani, tetapi matinya tidak dalam keadaan yang kasihan. Suntuk umur ia mati dalam iman (Kej. 35:28-29). Ini dapat dibuktikan dari kenyataan Ishak beserta istrinya, Ribka, dikuburkan oleh anak-anaknya dalam gua di ladang Makhpela (Kej. 49:30-32). Sebelum Ishak meninggal, dia pasti telah berpesan kepada anak-anaknya agar menguburkan dia dalam gua di ladang Makhpela, tempat di mana Abraham dan Sara dikuburkan. Ini membuktikan pula bahwa Ishak mempunyai iman Abraham.