PERHENTIAN DAN KENIKMATAN
Puji syukur kepada Tuhan bahwa dalam Perjanjian Lama Ia telah memberi kita suatu gambaran yang indah dan jelas tentang pengalaman hayat. Dalam Perjanjian Baru terdapat wahyu pengalaman hayat, tetapi tidak ada gambaran yang begitu jelas seperti dalam Perjanjian Lama. Kita semua tahu tentang pepatah yang mengatakan bahwa sebuah lukisan lebih baik daripada seribu kata-kata.
Meskipun telah bertahun-tahun kita meneliti pengalaman hayat yang diwahyukan di dalam Perjanjian Baru, namun kalau hanya dengan kata-kata dalam Perjanjian Baru saja, kita tidak dapat memastikannya. Kita perlu gambar-gambar Perjanjian Lama. Bersandarkan belas kasihan Tuhan, setelah sekian tahun berselang, kita nampak bahwa semua cerita dalam Perjanjian Lama melukiskan bermacam-macam aspek pengalaman hayat. Di dalam saya sungguh merasakan bahwa Tuhan menunjukkan kepada kita gambaran yang penuh agar kita memahami arti riilnya.
Sebagaimana telah kita tunjukkan bahwa ada tiga aspek pengalaman hayat orang Kristen, yaitu aspek Abraham, aspek Ishak, dan aspek Yakub. Tanpa mempunyai visi yang sejelas ini, kita akan mudah menganggap bahwa Abraham, Ishak, dan Yakub merupakan tiga individu yang terpisah. Namun, ketika kita mendapatkan wahyu dan memahaminya di dalam terang Perjanjian Baru, kita baru tahu bahwa ke-tiga orang ini bukan tiga individu yang terpisah, melainkan tiga aspek pengalaman hayat satu orang yang sempurna. Ada orang sulit sekali percaya bahwa Abraham, Ishak, dan Yakub adalah mewakili tiga aspek dari satu orang yang sempurna, mereka mungkin berkata, “Bagaimana Anda dapat mengatakan Abraham bukan satu orang yang sempurna? Abraham ya Abraham, Ishak ya Ishak, begitu pula Yakub.” Bila Anda tidak percaya bahwa ketiga orang ini adalah tiga aspek pengalaman satu orang yang sempurna, maka saya ingin bertanya kepada Anda, “Dapatkah Anda melihat pilihan Allah pada Abraham? Hal pertama dalam pengalaman kita terhadap Allah adalah pilihan-Nya yang telah ditentukan sebelum dunia dijadikan. Hal ini jelas tertampak dalam Perjanjian Baru (Ef. 1:4), tetapi tidak kita temui dalam pengalaman Abraham. Jadi, mengenai pilihan Allah, Abraham membutuhkan orang lain guna melengkapinya. Pilihan yang kita jumpai dalam riwayat Abraham terwahyu dalam riwayat Yakub. Selain dipilih, kita, orang Kristen juga dipanggil. Pada Ishak tidak terlihat hal dipilih atau dipanggil. Diri Ishak belumlah sempurna, panggilan Ishak terletak pada Abraham seperti halnya terpilihnya Abraham terletak pada Yakub. Dengan dua contoh ini kita semua boleh yakin bahwa Abraham, Ishak, dan Yakub melukiskan tiga aspek pengalaman hayat dari satu orang yang sempurna. Dikatakan dari satu pihak, kita semua adalah Abraham, karena kita telah dipanggil dalam persekutuan dengan Allah; Karena kita juga ditaruh di dalam posisi anugerah, maka kita juga Ishak; dalam berita selanjutnya kita akan nampak bahwa kita ini pun Yakub.
Aspek Ishak mengungkapkan masalah anugerah. Kita bukan sekadar dipanggil dan belajar hidup berdasarkan iman dalam Allah, serta bersekutu dengan-Nya, kita pun menikmati hal-hal milik Allah dari hari ke hari. Jika kita tidak memiliki suatu kenikmatan dalam kehidupan kristiani kita, kita tidak dapat menempuh kehidupan orang Kristen kita. Sebaliknya, kita bahkan sangat kasihan. Puji Tuhan, kita tidak saja memiliki aspek Abraham, tetapi juga aspek Ishak, yaitu aspek anugerah. Anugerah berarti menikmati Allah, yakni Allah sendiri menjadi kenikmatan kita di dalam roh. Sering kita terbentur pada kesulitan yang mengganggu pikiran dan emosi. Namun justru pada saat kita menderita dalam pikiran dan emosi, di dalam roh kita terasa manis. Seolah-olah tanpa penderitaan ini kita tidak akan memiliki kenikmatan. Penderitaan orang Kristen mendatangkan kenikmatan Kristen. Sejak kita menyeru nama Tuhan Yesus dan menerimanya sebagai Juruselamat kita, kita mulai memiliki kedua aspek ini dalam pengalaman kita. Mungkin malam itu setelah Anda menerima Tuhan Yesus, istri Anda sudah mulai menyusahkan Anda. Ia tidak setuju Anda menjadi orang Kristen dan menyeru-nyeru nama Tuhan seperti orang tolol. Ia mulai menganiaya Anda, sehingga Anda menderita dalam pikiran, emosi, dan perasaan. Tetapi, ketika Anda menderita demikian, di dalam Anda terasa sesuatu yang manis, sehingga membuat Anda gembira. Jadi, bahkan pada permulaan kehidupan kristiani Anda, Anda sudah mempunyai aspek penderitaan, yaitu aspek Abraham dan aspek kenikmatan, yaitu aspek Ishak.
b. Perhentian dan Kenikmatan
Dalam berita yang lalu kita melihat Ishak mewarisi anugerah. Bagi Ishak, segala sesuatu adalah masalah anugerah. Ia dilahirkan dalam anugerah, dibesarkan dalam anugerah, dan menjadi ahli waris anugerah. Dalam berita ini kita perlu melihat bahwa pada Ishak juga terdapat masalah kenikmatan. Seumur hidupnya adalah kehidupan perhentian dan kenikmatan. Kisah riwayat Ishak tidak menunjukkan bahwa ia banyak menderita, sebaliknya menunjukkan ia selalu berada dalam perhentian. Ini dapat dibuktikan dengan ia merenung (LAI: berjalan-jalan) di padang (Kej. 24:63). Jika tidak tenang dan memiliki perhentian dapatkah ia merenung-renung? Tidak. Untuk merenung kita memerlukan perhentian. Setiap kali kita terganggu, kita tidak dapat memiliki perhentian. Ishak selalu memiliki perhentian. Dalam Kejadian 24, ia telah kehilangan ibunya, istri belum ada dan hambanya pun meninggalkan dia. Tetapi ia tidak terganggu. Ia pergi ke padang merenung di sana, bukan menangis atau menjerit-jerit ke-pada Tuhan. Ia tidak mengatakan, “Oh Tuhan, apa yang harus kuperbuat? Aku telah kehilangan ibu, aku belum punya istri, bahkan pelayanku telah pergi. Tuhan, kasihanilah aku!” Ishak tidak menangis demikian. Sebaliknya ia merenung-renung.
Meskipun kita tidak menjumpai kata “perhentian” dalam catatan kehidupan Ishak, namun ada faktanya. Sekalipun menghadapi kesulitan berebutan sumur dengan orang-orang Filistin, ia tetap memiliki perhentian. Menjumpai kesulitan, tetapi tidak terganggu. Ketika orang-orang Filistin berebutan sumur dengannya, ia tetap tinggal dalam perhentian. Ishak seolah-olah berkata, “Jika kalian tidak menghendaki aku tinggal di dekat sumur ini, aku akan pergi ke tempat lain. Kalau kalian datang mengganggu aku di sana, aku akan pergi ke tempat yang lain lagi.” Dengan ini kita nampak bahwa Ishak benar-benar orang yang penuh perhentian. Apakah Anda selalu memiliki perhentian? Tengoklah, pengalaman Anda selama dua puluh empat jam yang lampau. Adakah sesuatu yang mengganggu dan menyebabkan Anda kehilangan perhentian? Banyak di antara kita mengakui bahwa kita memang terganggu. Ini membuktikan bahwa walaupun kita ini Ishak, tetapi tidak selalu memiliki perhentian. Belakangan ini saya sedang bekerja keras dan sangat berat menyiapkan berita hayat Kitab Wahyu. Namun saya memuji Tuhan bahwa ketika saya bekerja, saya penuh perhentian. Saya dapat mengatakan, “Aku tidak mempunyai apa-apa dan tidak dapat berbuat apa-apa. Aku tidak perlu melakukan apa-apa, karena Tuhan telah melakukan semuanya itu.” Kita semua perlu menjadi orang yang memiliki perhentian.
Ishak tidak hanya memiliki perhentian, tetapi juga menikmati. Seluruh kehidupannya merupakan kehidupan yang menikmati. Ketika ia lanjut usia, ia tetap berselera akan daging lezat dan menyuruh Esau pergi berburu ke padang untuk mencarikan seekor binatang dan diolah menjadi makanan enak yang ia gemari (Kej. 27:1-4). Setelah Ribka mendengar ini, ia kemudian memanggil Yakub, serta mengambil dua ekor anak kambing dan mengolah daging buat Ishak (Kej. 27:5-10). Akhirnya Yakub dan Esau datang membawa daging kepada ayah mereka, dan Ishak menikmati dua porsi. Esau, Ribka, dan Yakub menyibukkan diri, sedangkan Ishak hanya duduk menikmati daging itu. Dari sini kita melihat betapa Ishak adalah orang yang menikmati, ia selalu menikmati bagian anugerah. Kenikmatan inilah takdirnya.
Kenikmatan juga takdir kita. Saudara-saudara muda, janganlah khawatir akan mencari seorang istri. Bila Anda tetap dalam perhentian dan penuh kenikmatan, istri yang terbaik akan datang ke hadapan Anda. Kehidupan kristiani kita terdapat aspek kenikmatan. Saya telah bergumul sejak berumur 12 tahun. Kini hampir mencapai usia 60 tahun, saya dapat bersaksi bahwa sering kali pergumulan saya justru menghalang-halangi datangnya kenikmatan. Kalau saya tidak meronta-ronta, kenikmatan pasti datang lebih awal dan lebih berlimpah. Mengapa bergumul itu justru menghalang-halangi datangnya kenikmatan? Sebab kenikmatan sudah takdir kita, kita semua telah ditakdirkan untuk menikmati. Saudara-saudara muda, lupakanlah pergumulan Anda. Pulang saja, berdoa, memuji lalu tidur. Pagi berikutnya bangun, bermunajad pagi sebaik-baiknya dan menyantap sarapan pagi de-ngan lahap. Jangan bingung mencari istri. Ribka akan datang kepada Anda. Inilah kenikmatan, yaitu takdir kita. Bukankah kita anak-anak Allah, mungkinkah anak-anak Allah terlantar kasihan? Kita harus mengumumkan, “Puji Tuhan, aku ini anak Allah! Allah yang Mahakuasa dan Mahacukup itulah Bapaku!” Kata bapa menunjukkan persediaan yang kaya raya. Asalkan kita mempunyai ayah yang kaya, kita pasti mempunyai persediaan dan tidak perlu khawatir. Kita terus saja menikmati persediaan yang berlimpah itu. Inilah takdir kita.
(1) Hidup Dekat Beer-Lahai-Roi
Meskipun menikmati memang takdir kita, namun kita harus juga memperhatikan tempat di mana kita memperoleh kenikmatan itu. Mari kita melihat nama-nama tempat di mana Ishak memperoleh kenikmatan itu. Pertama-tama kita nampak Beer-Lahai-Roi, yang berarti “Sumur Sang hidup kokoh yang memelihara aku” atau “Sang yang mewahyukan diri-Nya” (Kej. 24:62; 25:11). Di Beer-Lahai-Roi, Allah mengunjungi kita dan mewahyukan diri-Nya kepada kita. Kedua, Ishak memperoleh kenikmatan pada sumur yang dinamai Esek, yang berarti pertengkaran. Esek adalah tempat pertengkaran dan perselisihan. Tempat ketiga ialah Sitna (Kej. 26:21). Sitna berarti perseteruan, dengki, atau perlawanan. Tempat yang keempat dinamai Rehobot. Rehobot mempunyai arti positif yaitu “tempat-tempat lebar” atau “jalan-jalan lebar”. Tempat yang terakhir dinamai Syeba yang berarti sumpah (Kej. 26:22-33). Jadi, Bersyeba berarti sumur sumpah. Ishak menikmati anugerah pada masing-masing lima tempat ini. Sebelum kita melihat makna tempat-tempat ini, kita harus melihat dulu di mana Ishak dibesarkan. Ia dibesarkan di Bersyeba dekat sumur dan pohon Tamariska. Sebelum ia menikah, ia meninggalkan Bersyeba dan pergi ke Tanah Selatan (Kej. 24:62 Tl.). Sebagaimana kita nampak dalam Alkitab, ia pergi ke arah selatan berarti jalan menurun. Saya tidak yakin ketika Ishak meninggalkan Bersyeba atau Hebron, Abraham mengikutinya; Abraham tetap tinggal di Bersyeba atau di Hebron. Setelah ibunya meninggal dan hambanya pergi, Ishak pergi menurun ke Tanah Selatan. Kemudian ia kembali lagi. Pasal 24:62 mencatat, “Adapun Ishak telah datang dari arah sumur Lahai-Roi; ia tinggal di Tanah Negeb (Tanah Selatan).” Ketika ia datang kembali dari Lahai-Roi, ia beroleh seorang istri. Andaikata ia tetap tinggal di Lahai-Roi, tidak kembali ke Bersyeba atau Hebron, tentunya tidak akan berjumpa dengan Ribka. Begitu ia kembali dari Lahai-Roi, Ribka datang. Hamba Abraham tidak memberi tahu bahwa Ishak meninggalkan tempat di mana Abraham tinggal. Ishak kembali dari jalan yang menurun, itu adalah pimpinan Tuhan. Ia kembali dikarenakan ia telah ditakdirkan untuk menikmati.
Kita semua mempunyai pengalaman yang sama. Setelah jalan menurun, kita kemudian berkata, “Oh, aku harus kembali.” Tepat pada saat kita kembali itulah Ribka datang. Sering kali saya mengalami hal ini. Saya berjalan menurun, kemudian tiba-tiba saya berkata kepada diri sendiri, “Aku harus kembali.” Begitu saya kembali, kenikmatan itu tiba.
Segera setelah Ishak kembali dari Tanah Selatan, datanglah kenikmatan itu. Begitu dia kembali kepada kedudukan yang tepat, ia memperoleh seorang istri. Tetapi setelah menikah, ia dan istrinya menuju lagi ke selatan. Kejadian 25:11 mencatat bahwa setelah Abraham meninggal, Ishak tinggal di dekat sumur Lahai-Roi. Akibat jalan menurun itu, ia bertengkar dengan orang-orang Filistin.
Kita perlu mempunyai gambaran yang jelas tentang riwayat hidup Ishak. Ia tidak menurun sejauh Mesir, ia hanya pergi ke selatan, ke Filistia, yaitu negeri orang-orang Filistin. Menurut catatan Kejadian, umat Allah selalu terbentur pada kesulitan begitu mereka menuju ke selatan. Abraham sendiri mengalami kesulitan di Mesir dan di negeri orang Filistin. Ishak, anaknya tidak luput juga menemui kesulitan ketika ia pergi ke Filistea. Ia bertengkar dan bermusuhan dengan orang-orang Filistin. Ia menikmati jalan lebar di Rehobot, tetapi Allah tidak menampakkan diri kepadanya di sana. Di Lahai-Roi, Esek, Sitna, dan Rehobot tidak ada penampakan Allah. Allah tidak menampakkan diri kepada Ishak sampai ia pulang ke Bersyeba. Malam itu juga, ketika Ishak dari Rehobot balik ke Bersyeba, Allah menampakkan diri kepadanya (Kej. 26:23-24).
Di sini kita harus nampak satu titik yang menentukan, titik yang bagi banyak orang Kristen tidak jelas. Sebagai orang Kristen, kita ditakdirkan untuk menikmati. Di mana saja kita berada, betul atau salah, kita telah ditakdirkan untuk menikmati. Bahkan ketika Ishak pergi menurun ke Lahai-Roi, ia tetap menikmati sebuah sumur, yaitu sumur Sang hidup kekal itu memelihara kita dan mewahyukan diri-Nya kepada kita. Ada orang mungkin berkata, “Baik sekali, asalkan aku mempunyai Sang hidup kekal itu dan Ia memelihara aku serta mewahyukan diri-Nya kepadaku, itu sudahlah cukup.” Namun dalam membaca Alkitab, kita harus memegang prinsip yang disebutkan pertama kali. Lahai-Roi yang pertama disebutkan dalam 16:14 adalah tempat di mana Hagar melarikan diri dari Sara. Sara mewakili anugerah, maka Hagar lari meninggalkan Sara berarti ia telah meninggalkan kedudukan anugerah. Di padang belantara, tempat penderitaan, Allah mengunjunginya. Jadi, Lahai-Roi adalah tempat di mana seseorang meninggalkan kedudukan anugerah dan masih dapat menikmati sedikit kunjungan Allah.
Di waktu-waktu yang lalu, mungkin kita pernah bertanya dengan ragu-ragu, apakah tepat kedudukan kita ini. Kita agaknya merasa sedikit meninggalkan kedudukan anugerah. Meskipun di dalam kita ada keraguan ini, tetapi kita masih ada sedikit kenikmatan, sehingga menghibur diri kita dan berkata, “Kalau aku salah, aku tentunya tidak akan memiliki kenikmatan ini. Tetapi di sini aku mempunyai sumur Sang hidup kekal yang memelihara aku. Karena aku memiliki kenikmatan ini, maka tempat ini pasti tepat.” Sesungguhnya tidaklah demikian. Di satu pihak kita ditakdirkan untuk menikmati, dan di mana saja kita berada kita akan mempunyai beberapa kenikmatan. Tetapi di lain pihak, kita mungkin mempunyai juga kenikmatan ini atas kedudukan yang salah. Mung-kin kita tidak di tempat di mana Abraham menanam pohon Tamariska, melainkan di tempat di mana Hagar melarikan diri dari anugerah. Lahai-Roi itulah tempat di mana seseorang yang melarikan diri dari anugerah masih bisa menikmati kunjungan Allah. Kita semua hampir mempunyai pengalaman ini. Kita meragukan posisi kita, namun masih mengalami sedikit kenikmatan, sehingga dapat menghibur diri kita. Jangan sekali-kali menentukan kenikmatan ini sebagai suatu pembenaran. Kenikmatan memang benar takdir kita, akan tetapi mungkin kita mengalaminya di atas kedudukan yang tidak tepat, di sumur Lahai-Roi, bukan di Bersyeba.
Sumur menunjukkan kenikmatan dan kepuasan. Sepanjang hidupnya, Ishak tidak pernah menderita dahaga. Ke mana saja ia pergi, salah atau benar, selalu ada sumur. Hidupnya ditandai oleh sumur. Mungkin ada yang membantah, “Anda berkata bahwa kedudukanku salah, lalu mengapa aku mem-punyai sebuah sumur di sini?” Kenikmatan akan sumur Anda tidak dapat membenarkan kedudukan Anda. Karena kenikatan itu takdir Anda. Di masa silam kita banyak memegang konsepsi agama yang menganggap bila kita salah, Allah pasti meninggalkan kita dan kita tidak akan mempunyai ke-nikmatan. Tetapi bagaimanapun kita salah, kita tetap adalah anak-anak Bapa, dan Ia tidak akan membuang kita. Mungkin saya anak yang paling nakal, tetapi setiap hari saya masih bisa terus menikmati suplai ayah saya. Kenikmatan ini adalah takdir kita, bagian kita.
Ada orang setelah mendengar bahwa ke mana saja Ishak pergi selalu mempunyai sebuah sumur, mereka lalu beranggapan bahwa kalau kenikmatan ini memang takdir mereka, mereka pasti boleh pergi ke mana saja mereka suka. Janganlah berpikir demikian. Anda dapat memiliki sumur untuk kenikmatan Anda, tetapi Anda akan kehilangan penampakan Allah dan tidak mungkin menggenapkan tujuan kekal Allah. Nanti kita akan melihat bahwa tujuan Allah tidak dapat digenapkan di Lahai-Roi, Esek, Sitna, atau bahkan di Rehobot. Hanya dapat tercapai di Bersyeba. Kita harus tinggal di sana. Demikianlah kita akan mengalami penampakan Allah dan mempunyai kedudukan untuk mewarisi janji-janji sehingga mencapai tujuan kekal Allah. Bisa saja di lain tempat kita memiliki sumur, bahkan kenikmatan “sumur air hayat” (Kej. 26:19), tetapi itu tidak dapat menggenapkan tujuan kekal Allah. Tujuan Allah hanya dapat digenapkan di sumur dekat pohon Tamariska di Bersyeba.
Meskipun di tiap tempat Ishak selalu mempunyai kenikmatan dan sebuah sumur, namun Allah tidak puas. Melalui keadaan sekeliling Allah memaksa Ishak kembali ke Bersyeba. Allah seolah-olah berkata, “Ishak, kamu telah menetap dengan nyaman, tetapi kamu tidak menetap di tempat yang benar, Aku akan membangkitkan perselisihan agar memaksamu kembali ke Bersyeba. Ishak telah menuju ke bawah, tetapi Allah memakai situasi sekeliling memaksa dia kembali naik dari sumur Lahai-Roi ke Bersyeba. Ishak tidak berniat kembali, Allah yang memaksa dia kembali ke tempat Allah.
Ada guru-guru Kristen yang mendorong kaum beriman meniru Ishak, tidak bertengkar dengan orang lain. Menurut ajaran ini, bila kita menggali sumur dan ada orang lain merebutnya, kita harus mengalah dan memberikannya kepada mereka. Kalau kita pergi ke lain tempat dan menggali sumur yang lain, dan ada orang lain lagi yang merebutnya, kita tetap jangan bertengkar, melainkan pergi lagi ke lain tempat. Akhirnya kita sampai di tempat yang ketiga, tempat yang lebar dan luas. Namun dalam ajaran ini tidak terlihat tujuan Allah, tujuan Allah ialah akan membawa Ishak kembali ke Bersyeba, tempat di mana Allah menampakkan diri kepadanya. Di Bersyeba, setelah Allah menampakkan diri, Ishak lalu mendirikan sebuah mezbah dan memanggil nama Tuhan, memasang kemah di situ (Kej. 26:24-25). Ishak tidak mendirikan mezbah di tempat yang lain. Penampakan Allah serta janji dan kesaksian-Nya semuanya di Bersyeba. Hanya di tempat inilah Ishak menerima janji penggenapan tujuan kekal Allah. Ia tidak menerimanya di sumur Lahai-Roi, tempat Sang hidup kekal yang memelihara dan mewahyukan diri-Nya; atau di Esek, sumur pertengkaran; atau di Sitna sumur perseteruan; atau bahkan di Rehobot, sumur tempat yang lebar. Walaupun Ishak mempunyai kenikmatan di mana-mana, namun ia hanya mengalami penampakan Allah (yang berbeda dengan sekadar kunjungan Allah) di Bersyeba. Hanya di Bersyeba, satu-satunya tempat, ia dapat mewarisi janji dan mempunyai suatu kehidupan kesaksian guna menggenapkan tujuan Allah. Hanya di Bersyeba, sumur sumpah, kita dapat mengalami penampakan Allah, mewarisi janji, mendirikan mezbah, menyeru nama Tuhan, dan membangun kemah di sana sebagai suatu kesaksian. Di sini, dan hanya di sini, kita dapat menggenapkan tujuan kekal Allah.
Kenikmatan yang kita peroleh di setiap tempat itu disebabkan oleh takdir kita, itu tidak dapat dipakai sebagai pembenaran akan kedudukan kita. Tepat tidaknya kedudukan kita hanya dapat ditentukan oleh penampakan Allah, bukan hanya oleh kenikmatan. Di banyak tempat kita mempunyai kenikmatan, tetapi di sana kita mempunyai perasaan yang mendalam bahwa kita kehilangan penampakan Allah. Lagi pula di tempat-tempat itu kita tidak memiliki sebuah mezbah atau kemah dan kita pun tidak menyeru nama Tuhan dari kedalaman roh kita. Mungkin kita mempunyai sedikit kenikmatan di mana-mana, tetapi hanya di Bersyeba kita dapat menggenapkan tujuan Allah.
(2) Beroleh Mempelai Perempuan Pilihan
Kita telah melihat bahwa Ishak telah menikmati semua sumur. Ke mana saja ia pergi, selalu ada sebuah sumur untuk kenikmatannya. Ini menandakan apakah tepat atau tidak tepat kedudukan kita, selalu ada sebuah sumur sebagai kenikmatan kita. Di samping menikmati sumur-sumur itu, Ishak pun memperoleh seorang mempelai perempuan yang ideal (Kej. 24:61-67). Ia memperolehnya tanpa melakukan apa-apa. Sesaat ia sedang merenung-renung di padang, Ribka datang kepadanya. Ishak bukan seorang pelaku apa-apa, ia hanya seorang penikmat. Ayah dan hambanya telah melakukan semua demi mendapatkan seorang mempelai bagi dia. Ishak bahkan tidak pergi kepada Ribka, melainkan Ribka yang datang kepadanya. Dalam sejarah yang mana pun, saya belum pernah mendengar perkara mempelai perempuan mendatangi mempelai laki-laki. Semua aktivitas alamiah orang Kristen tidak lain merebut melulu dan memegang tumit belaka. Janganlah merebut dan menangkap tumit orang lain, Ribka justru bagian Anda, ia pasti datang. Sebelum dunia diciptakan, sudah ditakdirkan kalau Ribka akan menjadi milik Anda. Percayakah Anda? Beranikah Anda mengumumkan? Ishak menerima Ribka hanya dengan merenung-renung saja di padang, tanpa berbuat apa-apa, inilah kenikmatan.
(3) Beroleh Anak Kembar
Setelah dua puluh tahun tidak mempunyai anak, Ishak kemudian beroleh dua putra kembar (Kej. 25:20-21, 26b). Bukankah Allah berkata dalam janji-Nya bahwa Ishak satu-satunya keturunan Abraham, akan mendatangkan berkat bagi seluruh bangsa di bumi? Andaikata Ishak tidak mempunyai anak, bagaimanakah janji ini dapat digenapkan? Dan jika janji ini tidak digenapkan, bagaimana mungkin tujuan Allah tercapai? Jadi, bukan hanya Ishak yang perlu melahirkan anak, tetapi Allah juga membutuhkan seorang keturunan dari Ishak. Karena Ishak tidak nampak ini, sehingga dua puluh tahun lamanya Allah tidak berbuat apa-apa. Allah menghadapi satu kebutuhan dan ingin melakukan sesuatu untuk ini, tetapi Ia memerlukan kerja sama dari manusia. Selama dua puluh tahun Ishak hanya tahu menikmati tanpa mempedulikan perlunya seorang anak. Baru setelah 20 tahun, ia menyadari bahwa ia mempunyai kebutuhan ini, dan kebutuhannya ini menyangkut kebutuhan Allah. Begitu ia menyadari ini, ia pun berdoa dan Allah mengabulkan doanya.
Demikian pula kita hari ini. Ketika kita menyadari bahwa kebutuhan kita bersesuaian dengan kebutuhan Allah, kemudian kita berdoa, Allah pasti menjawab doa kita. Sesungguhnya jawaban atas doa kita adalah untuk menggenapkan tujuan-Nya. Kebutuhan kita harus merupakan kebutuhan Allah dan doa bagi kebutuhan kita haruslah juga merupakan doa bagi kebutuhan Allah. Ketika kebutuhan kita bersesuaian dengan kebutuhan Allah, dan demikian kita mendoakan kebutuhan kita, pasti kebutuhan Allah akan tercapai. Ketika Ishak berdoa mohon seorang anak, keperluan siapakah yang lebih besar, Ishak ataukah Allah? Tentu saja kebutuhan Allah lebih besar. Tetapi kebutuhan Allah yang lebih besar itu hanya dapat digenapkan melalui kebutuhan Ishak yang lebih kecil itu. Kecuali manusia menyadari dan memahami kebutuhannya serta berdoa untuk kebutuhannya, barulah Allah memiliki jalan masuk untuk menggenapkan kebutuhan-Nya. Allah mempunyai tujuan, kita mempunyai suatu kebutuhan, dan kebutuhan ini bersesuaian dengan tujuan Allah. Allah tidak akan dapat berbuat apa-apa kecuali kita menyadari kebutuhan kita dan mendoakan kebutuhan tersebut. Setelah kita berdoa, Allah lalu menjawab doa kita, memenuhi kebu-tuhan kita, dan dengan demikian tujuan-Nya tercapai. Akhirnya Ishak beroleh seorang anak, yaitu Yakub, yang tidak hanya menggenapkan kebutuhan Ishak, tetapi juga menggenapkan tujuan kekal Allah. Dari Yakub, Kristus terlahir, dan Kristus mendatangkan gereja, kerajaan, serta Yerusalem Baru. Semua perkara kekal ini datang melalui terpenuhinya kebutuhan Ishak, kebutuhan yang bersesuaian dengan kebutuhan Allah.
Kenikmatan adalah takdir kita, ke mana saja kita pergi, di sana terdapat sebuah sumur. Tetapi dalam menikmati anugerah Allah, di aspek kita, kita harus berkoordinasi dengan-Nya sehingga Ia bisa menggenapkan tujuan-Nya yang kekal melalui kita. Ini menyatakan bahwa kenikmatan kita terha-dap anugerah tidaklah sia-sia, karena di pihak kita menikmati anugerah, akhirnya menjadi pihak penggenapan tujuan Allah.
(4) Beroleh Hasil Seratus Kali Lipat dan Menjadi Kaya
Ishak menabur dan mendapat hasil seratus kali lipat sehingga ia menjadi kaya (Kej. 26:12-14). Ishak menjadi kaya, bahkan makin lama makin kaya, sampai-sampai ia menjadi kaya luar biasa. Ia menjadi kaya berdasarkan menunaikan tugas menabur dan melalui pemberian berkat Allah. Ini juga merupakan masalah kenikmatan, namun kenikmatan ini tidak pada kedudukan yang tepat. Mungkin Ishak berkata kepada dirinya, “Kedudukanku pasti betul. Kalau salah, mana mungkin Tuhan memberkati aku dengan semua kekayaan ini?” Namun, Allah berkata, “Ishak, kamu telah menetap di sini dan beroleh banyak kekayaan, tetapi Aku tidak setuju dengan kedudukanmu. Aku akan membangkitkan suasana sekeliling yang memaksamu meninggalkan tempat ini.” Semoga Roh Kudus menunjukkan kepada kita gambar yang sangat jelas di sini. Di satu pihak, ada kenikmatan yang benar, di pihak lain tidak ada kedudukan yang tepat. Sampai-sampai tidak mempunyai kedudukan yang tepat, kita masih bisa terus mempunyai kenikmatan. Tetapi janganlah sekali-kali berpikir bahwa kenikmatan ini membenarkan kedudukan kita. Asal ada kenikmatan, kebutuhan kita tentu terpenuhi. Tetapi untuk menggenapkan tujuan kekal Allah, kita memerlukan kedudukan yang tepat. Walaupun kita tidak pada kedudukan yang tepat, Allah tetap mau memberi kita suplai-Nya yang kaya raya. Ini sangat ajaib. Allah itu alangkah ajaib! Suplaian-Nya pun alangkah ajaib! Kita telah ditakdirkan untuk kenikmatan. Bahkan ketika kita salah kedudukan, kita masih mempunyai kenikmatan yang berlimpah. Namun Allah tidak membiarkan kita. Ia akan memakai situasi sekeliling untuk menggiring kita kembali kepada kedudukan yang tepat, agar tujuan-Nya dapat tercapai.
(5) Menemukan “Sumur Air Hayat”
Sebelum Ishak kembali ke Bersyeba, ia menikmati dan menikmati, anugerah demi anugerah. Setelah memperoleh hasil seratus kali lipat, ia menemukan pula “sumur air hayat” dan tiba di “tempat lebar”, “jalan lebar” (Rehobot, Kej. 26:15-22). Meskipun ia mempunyai kenikmatan yang begitu berlimpah, namun kedudukannya masih tidak tepat, karena itu ia dipaksa untuk meninggalkan jalan yang lebar dan kembali ke Bersyeba.
(6) Kembali ke Bersyeba
Ketika Ishak kembali ke Bersyeba (Kej. 26:23-33), Tuhan segera menampakkan diri dan berfirman kepadanya, sambil meneguhkan janji-Nya, kata-Nya, “Akulah Allah ayahmu Abraham; janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau; Aku akan memberkati engkau dan membuat banyak keturunanmu karena Abraham, hamba-Ku itu” (Kej. 26:24).
Kemudian di Bersyeba Ishak mulai mempunyai kesaksian yang tepat. Ia mendirikan mezbah, menyeru nama Tuhan, dan membangun kemahnya (Kej. 26:25). Di sini di Bersyeba ia menempuh hidup menggenapkan tujuan kekal Allah. Akhir-nya, di Bersyeba ini musuh-musuh ditaklukkan (Kej. 26:26-31). Bersyeba inilah tempat yang tepat, tempat di mana kita dapat mempunyai kedudukan yang tepat dan kedudukan yang tepat ini sangat penting bagi Allah maupun bagi kita.