MEWARISI ANUGERAH
Dalam berita sebelumnya kita telah menunjukkan bahwa menurut pengalaman hayat, Abraham, Ishak dan Yakub adalah tiga bagian dari satu orang yang sempurna dan kita tidak boleh memandang mereka sebagai tiga individu yang terpisah. Kalau kita mengenal hayat dalam Kitab Kejadian ini, pasti akan nampak bahwa dalam pandangan Allah, ketiga orang ini merupakan satu unit yang sempurna dalam pengalaman hayat.
3. Aspek Kedua - Pengalaman Ishak
a. Mewarisi Anugerah
Dalam berita ini kita akan membicarakan aspek kedua dari pengalaman orang terpanggil, yakni pengalaman Ishak (21:1—28:9, 35:28-29). Orang-orang Kristen tidak mudah memahami pengalaman Ishak. Mereka mudah sekali mengerti ketiga aspek utama dari pengalaman Abraham: terpanggil oleh Allah, hidup bersandarkan iman dalam Allah, dan hidup dalam persekutuan dengan Allah. Tetapi apakah yang kita lihat atas diri Ishak? Aspeknya apa yang kita nampak dalam pengalaman hayat, ketika kita membaca catatan kehidupan Ishak dalam pasal 21—28? Kita tidak nampak bahwa Dia terpanggil, hidup bersandar iman dalam Allah, dan hidup da-lam persekutuan dengan Allah. Menurut Kitab Kejadian, kita telah nampak bagaimana Ishak dilahirkan, menikah, dan memperoleh dua putra. Namun, kita sulit menemukan pengalaman hayat apa yang terdapat dalam pencatatan kisah Ishak.
Catatan riwayat Ishak menyiratkan pengalaman anuge-rah. Pengalaman Ishak adalah mewarisi anugerah Allah. Dalam Perjanjian Lama anugerah Allah tidak diwahyukan sepenuhnya seperti dalam Perjanjian Baru; karena sesungguhnya anugerah datangnya dari Yesus Kristus (Yoh. 1:17). Setelah Kristus datang, barulah ada wahyu anugerah yang penuh dan menyeluruh. Dalam Perjanjian Baru berulang kali digunakan kata anugerah. Bahkan Perjanjian Baru diakhiri dengan menyebutkan anugerah: “Anugerah Tuhan Yesus menyertai kamu sekalian! Amin” (Why. 22:21). Alkitab dimulai dari Perjanjian Lama dengan kata-kata “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi”, dan diakhiri oleh Perjanjian Baru dengan kata-kata “Anugerah Tuhan Yesus menyertai kamu sekalian”. Meskipun pengisahan Ishak dalam Kejadian tidak menyebutkan istilah anugerah, tetapi perkara ini tersirat di sana. Inilah sebabnya banyak orang sulit memahami Alkitab. Dalam Alkitab, mungkin saja memuat suatu fakta, hanya tidak diterangkan dengan istilah yang jelas. Pengalaman Ishak memang tercantum dalam Kejadian, akan tetapi sulit untuk menunjukkan bahwa pengalamannya merupakan pengalaman anugerah.
Menurut wahyu Perjanjian Baru dan dari segi pengalaman hayat, Abraham, Ishak, dan Yakub tidak boleh dipandang sebagai tiga individu yang terpisah, melainkan harus dipandang sebagai aspek-aspek pengalaman hayat satu orang yang sempurna. Abraham mengalami aspek terpanggil, hidup bersandarkan iman kepada Allah, dan hidup dalam persekutuan dengan Allah. Ishak mewakili aspek mewarisi anugerah dan menikmati warisan anugerah itu. Yakub mewakili aspek terpilih, ditanggulangi oleh Allah, dan diubah menjadi pangeran Allah. Dalam pengalaman hayat terdapat aspek menikmati anugerah. Banyak di antara kita pernah mendengar berita yang mengatakan bahwa kehidupan orang Kristen haruslah menderita, memikul salib, dan berdoa dalam keluh kesah. Tidakkah Anda pernah mendengar berita yang memberi tahu Anda bahwa hari ini bukan masa untuk menikmati, melainkan masa untuk menderita dan memikul salib, dan kenikmatan kita baru terwujud pada kelak waktu Tuhan datang kembali? Saya tidak mengatakan bahwa ini salah, tetapi saya benar-benar mengatakan bahwa ini hanya merupakan salah satu aspek dalam kehidupan orang Kristen. Masih ada aspek lain, yaitu aspek menikmati.
Menurut Alkitab dan pengalaman, anugerah berarti me-nikmati. Anugerah adalah kenikmatan dalam kehidupan kristiani kita. Kehidupan kristiani kita memiliki tiga aspek: aspek Abraham, aspek Ishak, dan aspek Yakub. Pada aspek Abraham tidak terlihat banyak kenikmatan. Meskipun Abraham telah diberkati dan diperbesar, tetapi ia tidak memiliki banyak kenikmatan. Ia kehilangan ayahnya, Lot membuatnya bersedih, Eliezer yang diandalkannya ditolak, dan Ismael, anak yang diperoleh atas usahanya sendiri bersama gundiknya, diusir. Setelah Ishak dilahirkan, Allah menghendaki Abraham supaya mempersembahkannya sebagai kurban bakaran. Tidak lama setelah Ishak didapatkan kembali, Abraham kehilangan istri terkasihnya. Seluruh hidupnya menampakkan aspek kehilangan. Alkitab tidak mencatat bahwa Abraham banyak menderita, tetapi ia hampir kehilangan semuanya. Apakah ini merupakan keseluruhan kehidupan orang Kristen? Kalau ya, pastilah kehidupan orang Kristen hanya merupakan kehidupan yang kehilangan. Perihal kehilangan hanya merupakan salah satu aspek dalam kehidupan orang Kristen. Roma 5:2 tidak berbunyi, “Kita beroleh jalan masuk kepada kehilangan.” Tidak, ayat itu menegaskan bahwa “Melalui Dia kita juga beroleh jalan masuk oleh iman ke dalam anugerah ini.” Allah tidak bermaksud agar kita kehilangan terus. Maksudnya ialah membawa kita ke dalam anugerah, ke dalam kenikmatan.
Allah hendak membawa kita ke dalam kenikmatan anugerah, namun ada sesuatu yang menghalang-halangi, yaitu ego (diri) kita. Diri kita sendiri itulah penghalangnya. Meskipun Kristus telah datang dan anugerah datang bersama-Nya, dan meskipun kita telah dibawa ke dalam anugerah ini, tetapi penghalang anugerah yang terbesar adalah Anda dan saya. Jadi, sebelum kita mempunyai pengalaman Ishak, kita perlu Abraham yang mewakili aspek pertama pengalaman hayat. Kehidupan Abraham menjelaskan bahwa jika kita mau menikmati anugerah Allah dan sepenuhnya menikmati kelimpahan Allah, kita harus ditanggulangi, disunat, dan disingkirkan. Jika Abraham tidak disunat, Ishak tidak akan dilahirkan. Ishak datang setelah Abraham disunat. Dalam Kejadian 17, setelah Abraham disunat, Allah memberi tahu dia bahwa Ishak akan dilahirkan (17:19). Akhirnya Ishak dilahirkan dalam pasal 21. Ishak dilahirkan oleh kunjungan Allah. Kunjungan Allah sama dengan kelahiran Ishak. Allah mengunjungi Sara dan kunjungan itu mendatangkan kelahiran Ishak. Inilah anugerah.
Allah telah menjadi kenikmatan kaum terpanggil-Nya. Namun jika kita ingin memiliki kenikmatan ini, ego kita haruslah disingkirkan. Begitu ego kita disingkirkan, Ishak pun datang. Ini berarti kedatangan anugerah. Kehilangan ego tidaklah mudah. Mau ego kita disingkirkan, haruslah menderita kerugian. Maukah Anda kehilangan ego Anda? Saya kurang yakin kalau setiap orang mau kehilangan egonya sendiri. Bagaimanapun, kita harus mengesampingkan ego kita sebelum anugerah datang. Kehilangan ego ialah kehilangan muka kita. Kapan kita mempertahankan muka kita, kita akan kehilangan anugerah. Jika kita ingin menerima anugerah, kita harus kehilangan muka. Saudara-saudara, ketika Anda menempuh hidup sehari-hari bersama istri Anda, Anda harus siap sedia kehilangan ego Anda. Dengan demikian, anugerah akan datang. Setelah Abraham disunat, Ishak pun datang. Inilah prinsipnya. Bagi kita, ego harus disingkirkan, barulah anugerah datang. Mula-mula kita harus menjadi Abraham dan kemudian Ishak.
Bagi Abraham, kehilangan ego tidaklah mudah. Dikatakan dari aspek yang baik, Allah memaksa dia untuk kehilangan egonya. Sewaktu Allah memanggil Abraham, Allah tidak berkata, “Abraham, kamu harus menyingkirkan egomu, kemudian barulah Aku datang menjadi anugerah dan kenikmatanmu.” Tidak, ketika Allah memanggil dia, Ia berjanji memberkatinya. Berkat dalam Perjanjian Lama pada aspek tertentu sama dengan anugerah dalam Perjanjian Baru. Apa beda berkat dan anugerah itu? Allah memberi kita sesuatu dengan cuma-cuma, itulah berkat. Ketika berkat ini tergarap ke dalam kita, itulah anugerah. Allah berjanji kepada Abraham bahwa Ia akan memberkatinya. Ketika berkat itu tergarap ke dalam Abraham, itu menjadi anugerah. Ego dan orang alamiah Abraham adalah penghalang yang paling kuat terhadap berkat Allah; karena itu Allah mau tidak mau harus menanggulanginya.
Demikian juga dengan pengalaman kita, kita semua telah dipanggil dan Allah telah memberi kita segala berkat di dalam Kristus (Ef. 1:3). Namun, setelah dipanggil, kita tetap berada di dalam ego kita dan menggunakan usaha kita sendiri untuk memperoleh berkat Allah. Semasih muda, saya menyadari bahwa daging saya tidak baik. Orang memberi tahu saya bahwa tubuh daging telah disalibkan di atas salib. Saya sangat gembira; lalu saya mulai menggunakan usaha saya sendiri untuk meletakkan daging di atas salib. Namun ketika saya menggunakan usaha saya sendiri, saya telah menghalanghalangi anugerah Allah. Penyaliban tubuh daging telah genap, tidak perlu ada usaha saya. Namun ego, yakni si aku ini, berusaha meletakkan daging saya ke atas salib. Ego justru penghalang terbesar terhadap anugerah Allah, yang memisahkan saya dari anugerah. Menengok pengalaman kita yang lampau, kita nampak bahwa sering setelah mendengar suatu berita yang baik, segera kita berusaha mencoba dengan daya upaya sendiri untuk memperoleh apa yang kita dengar dalam berita yang baik itu. Usaha ego kita telah menjadi penghalang bagi anugerah Allah. Sebab itu, Allah terpaksa menanggulangi kita.
Dipanggil Allah, hidup beriman kepada Allah, dan hidup dalam persekutuan dengan Allah, semuanya untuk menikmati Allah. Kita telah dipanggil untuk menikmati Allah. Kita harus belajar hidup berdasarkan iman kepada Allah, agar kita boleh menikmati Allah. Kita pun perlu hidup dalam persekutuan dengan Allah agar kita mempunyai bagian dalam kelimpahan-Nya. Semuanya ini tidak lain untuk satu hal, yaitu menikmati Allah. Kita tidak nampak kenikmatan ini pada Abraham, melainkan pada Ishak. Kita semua sedikitnya sudah mempunyai pengalaman dipanggil Allah, hidup berdasarkan iman kepada Allah, hidup dalam persekutuan dengan Allah dan menderita kerugian. Kita betul-betul adalah Abraham hari ini. Tetapi di samping itu kita juga dapat memberi kesaksian bahwa heran sekali, justru di dalam kerugian terkandung kenikmatan. Ketika kita menderita suatu kerugian, tanpa kita sadari kita pun menikmati sesuatu. Setiap kali kita mengalami penang-gulangan Allah, saat itu pula kita mengalami kenikmatan. Kapan kala kita berperan sebagai Abraham yang menderita, kita pun sekaligus berperan sebagai Ishak yang menikmati. Inilah sebabnya catatan mengenai Ishak tidak segera mengikuti catatan mengenai Abraham, melainkan berbaur dengan catatan riwayat Abraham. Sewaktu Abraham masih di sana, Ishak datang; mereka bukan dua individu yang terpisah dalam pengalaman hayat, melainkan dua aspek dari pengalaman satu orang yang sempurna. Kita membutuhkan kedua-duanya, yakni pengalaman Abraham dan pengalaman Ishak. Bahkan hari ini mungkin Anda sedang menempuh suatu pengalaman serta berkata, “Aku tidak tahu mengapa hal ini terjadi pada-ku.” Tetapi dalam lubuk batin Anda mengetahui bahwa di tengah-tengah kerugian Anda, Anda pun mendapatkan dan menikmati Kristus. Inilah pengalaman Ishak.
Jika kita hanya mempunyai Abraham tanpa Ishak, kita akan sangat kecewa oleh catatan mengenai Abraham. Kita akan mengatakan, “Apa faedahnya menjadi bapa iman jika hanya menderita kerugian?” Namun begitu kita melihat pengalaman Ishak, kita akan mengatakan, “Sekarang aku paham mengapa Abraham menderita kerugian sebanyak itu. Semua pengalaman yang negatif dari Abraham adalah untuk kenikmatan yang positif dari Ishak.” Abraham adalah untuk Ishak. Abraham telah banyak mendapat, diberkati, dan diperbesar, tetapi ia memberikan semuanya ini kepada Ishak (Kej. 24:36, 25:5). Abraham menderita demi keuntungan Ishak. Bertambah menderitanya Abraham berarti bertambah untungnya Ishak. Saya seakan-akan ingin berkata, “Abraham yang kasihan, kamu sungguh seorang yang malang. Semua yang kamu peroleh melalui penderitaanmu bukan untuk dirimu, melainkan untuk Ishak.” Kita semua harus menyadari bahwa hari ini kita bukan saja Abraham, tetapi juga Ishak. Kalau Anda bertanya kepada saya, “Saudara, Anda adalah Abraham yang kasihan yang selalu menderita saja.” Saya pasti menjawab, “Tidakkah Anda tahu bahwa aku ini juga Ishak? Aku menderita kerugian supaya memperoleh keuntungan. Aku menderita kehilangan seperti Abraham, namun aku pun banyak memperoleh seperti Ishak. Aku bukan hanya Abraham. Namaku Abraham-Ishak. Di pihak yang merugikan, aku adalah Abraham, tetapi di pihak yang menguntungkan, aku adalah Ishak.”
Kita semua adalah Abraham juga Ishak. Sebagai Abraham, kita telah dipanggil Allah, belajar hidup berdasarkan iman kepada Allah dan belajar hidup dalam persekutuan dengan Allah. Pada saat yang sama, kita pun sebagai Ishak, tidak perlu berbuat apa-apa kecuali menikmati semua yang kita peroleh dari pengalaman Abraham. Yang manakah paling Anda sukai? Pengalaman Abraham ataukah Ishak? Tanpa pengalaman Abraham mustahil kita memiliki pengalaman Ishak. Allah menanggulangi kita seperti Ia menanggulangi Abraham, supaya kita mempunyai pengalaman Ishak.
Perihal anugerah Allah telah bertahun-tahun tersembunyi, tertutup dan terbungkus. Apakah anugerah? Anugerah ialah sesuatu dari Allah tergarap ke dalam diri kita, bekerja di dalam kita, dan bekerja bagi kita. Itu bukan sesuatu yang lahiriah, melainkan Allah di dalam Kristus tergarap ke dalam diri kita, hidup, bekerja, dan bertindak bagi kita. Dalam 1 Korintus 15:10 Paulus berkata, “Tetapi karena anugerah Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan anugerah yang diberikan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras daripada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan anugerah Allah yang menyertai aku.” Perkataan ini sangat dalam. Paulus tidak berkata, “Karena anugerah Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang. Karena anugerah Allah, aku memiliki mobil yang bagus, pekerjaan yang baik dan istri yang baik.” Ia juga tidak mengatakan, “Karena anugerah Allah aku telah mengerjakan semua yang kukerjakan.” Ini bukan soal mengerjakan apa, mendapatkan apa, atau melakukan apa, melainkan seluruhnya merupakan apa adanya. Maka Paulus berkata, “Karena anugerah Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang.” Artinya, anugerah Allah telah tergarap ke dalam dirinya sehingga membentuk dia sebagai orang yang macam itu. Dalam Galatia 2:20 Paulus berkata, “Bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.” Jika kita menjajarkan ayat ini dengan 1 Korintus 15:10, pastilah nampak bahwa anugerah adalah Kristus yang hidup di dalam kita. “Bukan lagi aku, tetapi anugerah Allah”, “bukan lagi aku, tetapi Kristus”. Anugerah bukan di luar kita atau di samping kita, melainkan persona ilahi, yaitu Allah sendiri di dalam Kristus, tergarap ke dalam kita, menjadi unsur penyusun kita. Karena kekurangan wahyu, banyak orang Kristen menyalahpahami dan menyalahtafsirkan anugerah, mereka mengira anugerah adalah sesuatu yang di luar mereka. Padahal anugerah itu justru adalah Allah Tritunggal yang tergarap ke dalam kita agar kita menjadi sebagaimana adanya kita ini. Dia hidup, bekerja, bertindak untuk kita, dan bekerja di dalam kita. Demikian kita dapat mengatakan, “Karena anugerah Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang; bukan lagi aku, melainkan anu-gerah Allah.”
Kita semua pernah diajar untuk berbuat baik dan mengasihi satu sama lain. Akibatnya, kita berusaha berbuat baik dan mencoba mengasihi orang. Tetapi tidak peduli kita bisa atau tidak bisa mengasihi orang lain, Allah tetap tidak akan mengakui kasih kita. Abraham berhasil melahirkan Ismael, namun Allah menolaknya. Allah seolah menjawab, “Tidak Abraham, itu bukan yang Aku kehendaki. Aku menginginkan sesuatu yang telah digarap ke dalammu dan kemudian keluar lagi darimu. Kamu melahirkan Ismael tanpa kunjungan-Ku. Aku di langit, engkau malahan melahirkan Ismael di bumi. Karena itu tidak ada hubungannya dengan Aku dan kunjungan-Ku, maka Aku tidak mau mengakuinya. Pada suatu hari, Aku akan mengunjungi Sara dan kunjungan-Ku itu akan melahirkan Ishak. Baru Aku akan mengakuinya.” Jika kita mengasihi yang lain dalam diri kita, Allah tidak akan mau mengakui kasih itu, karena bukan berasal dari kunjungan-Nya. Allah ingin mengunjungi kita, masuk ke dalam kita, hidup bagi kita, bahkan mengasihi yang lain bagi kita. Ia hanya mengakui kasih yang semacam ini. Kasih Anda sendiri adalah Ismael, kasih oleh kunjungan Allah barulah Ishak. Tidak peduli Anda rendah hati atau sombong, bengkok atau lurus, tidak berarti apa-apa. Allah tidak mengakui sesuatu yang berasal dari diri Anda yang di luar kunjungan-Nya. Apa saja yang bukan anugerah tidak dihitung oleh Allah. Kita semua harus berkata, “Oh Tuhan, aku tidak mau melakukan sesuatu tanpa kunjungan-Mu. Tuhan, kecuali Engkau mengunjungi aku dan bekerja melalui aku, kemudian keluar lagi dari aku, aku tidak akan berbuat apa-apa. Aku tidak akan membenci atau mengasihi, bangga atau rendah hati. Aku ingin menjadi selembar kertas putih. Tuhan, tanpa kunjungan-Mu aku tidak berarti apa-apa.” Kunjungan Allah itulah anugerah yang riil. Ketika kita mengasihi orang lain dan rendah hati bersandarkan kunjungan Allah, bukan bersandarkan usaha kita sendiri, itulah menikmati anugerah.
Sebagaimana telah kita nampak, maksud hati Allah ialah menggarapkan diri-Nya ke dalam satu manusia yang korporat, agar Ia dapat mempunyai ekspresi yang korporat. Inilah konsepsi dasar wahyu ilahi dalam Alkitab, dan inilah maksud tujuan kekal Allah. Allah memanggil Abraham dengan tujuan menggarapkan diri-Nya ke dalam dia, tetapi Abraham masih mempunyai ego yang kuat. Ego alamiah justru penghalang yang paling besar terhadap kehendak Allah. Demikian juga kita hari ini. Tujuan Allah ialah menggenapkan diri-Nya ke dalam kita agar menjadi hayat kita bahkan menjadi kehidupan kita. Akan tetapi ego alamiah menghalang-halangi tujuan ini. Jadi mau tidak mau, Allah harus mengerat kita, menanggulangi kita agar Ia dapat masuk ke dalam kita, menjadi segala-gala kita. Allah tidak memerlukan kita mengasihi orang atau rendah hati, sehingga dengan demikian masyarakat menjadi lebih baik. Andaikata Allah memang menghendaki masyarakat lebih baik, Ia cukup memerintahkan saja: “Masyarakat harus lebih baik,” pasti akan terjadi demikian. Ia adalah Allah yang menjadikan apa yang tidak ada menjadi ada (Rm. 4:17). Ia tidak membutuhkan bantuan kita. Allah mau menggarapkan diri-Nya ke dalam kita, menjadi rendah hati dan segala kita. Ia menghendaki kita ber-kata, “Tuhan, aku bukan apa-apa dan tidak akan berbuat apa-apa. Aku hanya membuka diri kepada-Mu, mempersilakan Engkau masuk, bersemayam di dalamku, hidup di dalamku, melakukan segala sesuatu bagiku. Tuhan, Engkau hidup, aku mau menikmati hidup-Mu ini. Kapan saja Engkau melakukan sesuatu di dalamku, aku selalu berkata, ‘Terpujilah Engkau ya Tuhan, ini benar-benar baik! Aku bukan orang yang bekerja, aku adalah orang yang menikmati, aku mengapresiasi semua yang Engkau lakukan bagiku.’”
Maksud hati Allah hari ini ialah menanggulangi Abraham agar Ishak bisa datang. Maksud hati-Nya ialah menanggulangi manusia alamiah kita supaya kita dengan sepenuhnya mengalami Dia sendiri di dalam Kristus tergarap ke dalam diri kita, menjadi kenikmatan kita. Saya telah melewati kehidupan pernikahan hampir lima puluh tahun, saya mengalami banyak kenikmatan, juga banyak kesusahan. Sebelum saya menikah, saya sungguh mengasihi Tuhan dan sering kali berkata kepada-Nya betapa saya mengasihi Dia. Setelah saya menikah, saya datang ke hadapan Tuhan dan berkata kepada Tuhan dengan berjanji, “Tuhan, karena aku mengasihi Engkau, aku ingin menjadi suami yang terbaik.” Namun ternyata saya gagal. Saya lalu datang kepada Tuhan dan mengakui semua kegagalan saya. Setelah mengalami pengurapan minyak, hati terasa girang, lalu menetapkan lagi untuk berusaha menjadi suami yang terbaik. Tetapi sekali lagi saya gagal. Pengalaman naik turun ini berulang kali terjadi. Kemudian dalam menyampaikan suatu berita saya bahkan berkata, “Kehidupan orang Kristen banyak siang malamnya. Janganlah putus asa atas kegagalan Anda. Asal menunggu beberapa jam lagi, Anda akan berada di siang hari.” Bertahun-tahun saya menempuh siang dan malam, malam dan siang. Pada suatu hari, saya mendapat wahyu kemudian berkata, “Orang tolol, siapa yang menyuruh demikian? Kristus di sini justru menunggu untuk menjadi anugerahmu. Kamu seharusnya berkata, “Tuhan, aku bukan apa-apa, aku tidak bisa apa-apa. Sekalipun aku dapat melakukan apa-apa, Engkau tidak akan mengakuinya. Ya Tuhan, marilah dan lakukan pekerjaan-Mu, jadilah suami yang paling baik bagiku. Ini perkara-Mu, bukan perkaraku. Engkau memberi amanat kepadaku, aku mengembalikan amanat ini kepada-Mu, mohon Engkau menggenapinya. Tuhan, Engkaulah suami yang paling baik dan karenanya aku memuji-Mu.” Setiap kali saya berdoa demikian, Tuhan pasti melakukan yang terbaik. Inilah anugerah.
Anugerah ialah Allah menggarapkan diri-Nya sendiri ke dalam kita, menjadi kenikmatan kita. Allah hari ini bukan hanya Allah Bapa, tetapi juga Allah Putra dan Allah Roh. Tidak hanya demikian, Allah Roh juga adalah Roh anugerah (Ibr. 10:29), dan anugerah ini adalah anugerah hayat (1 Ptr. 3:7), juga “berbagai anugerah” (1 Ptr. 4:10), “segala anugerah” (1 Ptr. 5:10) dan “anugerah yang cukup” (2 Kor. 12:9). Allah Tritunggal adalah anugerah yang demikian, dan anugerah ini kini beserta dengan Roh kita (Gal. 6:18). Anugerah ini ialah persona ilahi Allah Tritunggal menjadi Roh itu yang tinggal di dalam roh kita. Roh anugerah yang tinggal dalam roh kita inilah menjadi kenikmatan kita, sehingga kita dapat menikmati Allah sebagai hayat kita dan segala sesuatu kita, bah-kan sebagai kehidupan kita. Begitulah setiap Surat Rasul Paulus berakhir dengan kata-kata, “Anugerah menyertai kamu.” Seperti 2 Korintus 13:13 berbunyi, “Anugerah Tuhan Yesus Kristus, dan kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian.” Anugerah ini bukan di lahir kita, tetapi di batin kita. Kita menyebutnya apa saja, Roh anugerah atau hayat anugerah, pendek kata, itu adalah sesuatu yang hidup dan yang ilahi di dalam roh kita. Kita sungguh mempunyai realitas ilahi semacam ini. Allah Tritunggal sendiri berada di dalam roh kita sebagai anugerah dan kenikmatan kita. Ketika Ia mengasihi orang lain melalui kita, kasih ini adalah kenikmatan kita. Ketika Ia memperhidupkan diri-Nya sendiri melalui kita, hidup ini juga merupakan kenikmatan kita. Siang dan malam kita dapat menikmati Dia hidup melalui kita.
Lalu mengapa kita masih menderita? Itu karena diri kita, yakni ego, atau manusia alamiah kita masih ada di dalam kita dan ini memerlukan penanggulangan. Terpujilah Dia, tidak ada penanggulangan yang sia-sia. Setiap penanggulangan dari Allah adalah untuk meremukkan manusia alamiah kita agar kita dapat lebih banyak menikmati-Nya sebagai anugerah kita. Itulah sebabnya kita memiliki Abraham juga Ishak; memiliki penderitaan kerugian, juga memiliki kenikmatan keuntungan. Keuntungan ini bukan keuntungan benda-benda materi yang di luar, melainkan memperoleh Persona yang berhuni di dalam kita, yaitu Roh anugerah dan anugerah hayat. Sekali lagi saya katakan, apa saja yang Allah berikan kepada kita sebagai karunia luaran, paling-paling merupakan suatu berkat belaka. Ketika karunia ini tergarap ke dalam kita, itu menjadi elemen hayat di dalam kita, itulah baru anugerah. Berkat haruslah menjadi anugerah. Dalam Perjanjian Lama, Allah memberikan banyak benda sebagai berkat kepada umat-Nya, semua itu hanyalah sebagai berkat luaran. Sebelum Kristus dilahirkan, tidak ada satu pun berkat yang tergarap ke dalam umat Allah. Kedatangan Kristus bukan hanya untuk mati di salib bagi kita, lebih-lebih setelah mati, menjadi Roh pemberi-hayat yang masuk ke dalam kita. Dalam Perjanjian Baru kita menemukan istilah-istilah “dalam Kristus” dan “Kristus di dalammu”. Kini Ia di dalam kita dan kita di dalam Dia. Apa pun yang Allah karuniakan kepada kita di dalam Kristus telah tergarap ke dalam diri kita dan menjadi anugerah, kenikmatan kita. Sekarang kita tidak saja di bawah berkat-Nya, kita pun di dalam anugerah-Nya dan anugerah-Nya di dalam kita. Apa yang Anda nikmati hari ini — berkat ataukah anugerah? Perjanjian Baru tidak pernah mengatakan, “Berkat menyertai kamu,” melainkan berulang-ulang mengatakan “Anugerah menyertai kamu”.
(1) Dilahirkan oleh Anugerah
Setelah kekuatan alamiah dan usaha diri Abraham ditanggulangi oleh Allah, maka Ishak terlahir (Kej. 17:15-19; 18:10-14; 21:1-7). Ini menunjukkan bahwa Ishak dilahirkan oleh anugerah yang diwakili oleh Sara (Gal. 4:24-28, 31). Catatan Kejadian mengatakan bahwa hal ini terjadi pada “waktu hayat” (18:10, 14). Ketika usaha hayat alamiah tamat, itulah waktu hayat. Pada waktu hayat terdapat sesuatu yang dilahirkan oleh anugerah. Anugerah berhubungan dengan hayat dan hayat selalu bersama-sama dengan anugerah. Karena itu, anugerah disebut “anugerah hayat” (1 Ptr. 3:7).
(2) Dibesarkan dalam Anugerah
Ishak dibesarkan dalam anugerah (Kej. 21:8). Dari sejarahnya kita nampak bahwa ia tidak melakukan apa-apa. Ia dilahirkan dan dibesarkan. Saya bukan mengatakan bahwa ia bertumbuh besar, melainkan ia dibesarkan. Sebagaimana seorang petani yang merawat pohon apelnya di kebun, Allah menumbuhkan Ishak seperti sebatang pohon dalam kebun-Nya. Ishak dibesarkan oleh Allah di dalam anugerah.
2 Petrus 3:18 mengatakan “Bertumbuhlah dalam anugerah.” Ini menunjukkan bahwa pertumbuhan itu berdasarkan diberi makan dan minum seperti yang diwahyukan oleh Petrus dalam 1 Petrus 2:2 dan oleh Paulus dalam 1 Korintus 3:2 dan 6. Bertumbuh dalam anugerah ialah bertumbuh dalam menikmati Kristus sebagai segala kita, sebagai makanan rohani dan air hayat kita. Semua kekayaan yang ada pada Kristus bagi kita, tidak lain untuk menumbuhkan kita dalam hayat. Semakin kita menikmati kekayaan Kristus (Ef. 3:8), semakin kita bertumbuh dalam hayat (Ef. 4:14).
(3) Menjadi Ahli Waris dalam Anugerah
Ishak juga menjadi ahli waris dalam anugerah (Kej. 21:9, 12). Semua milik bapanya jadi miliknya, karena Abraham memberikan semua kekayaannya kepada pewarisnya yang tunggal itu. Demikian juga, kita tidak seharusnya mempunyai kenikmatan dalam diri kita sendiri. Semua kenikmatan terhadap warisan haruslah di dalam anugerah.
(4) Taat dalam Anugerah
Ishak juga taat dalam anugerah (Kej. 22:5-10). Pada masa lampau ketika saya membaca Kitab Kejadian, saya tidak mengerti mengapa Ishak yang muda ini begitu taat. Akhirnya saya nampak bahwa ketaatannya itu dikarenakan ia terjenuhi dalam anugerah. Ia sama sekali berada dalam anugerah dan ketaatannya pun di dalam anugerah. Ketaatan ini mendatangkan persediaan Allah. Demikian pula kita hari ini. Kapan kita taat dalam anugerah, kita akan nampak persediaan Allah.
Anugerah Allah mengandung kekuatan yang memungkinkan kita menanggung segala sesuatu. Paulus memberi tahu Timotius, “Jadilah kuat oleh anugerah dalam Kristus Yesus” (2 Tim. 2:1). Anugerah bahkan dapat menguasai segala sesuatu (Rm. 5:21). Kita tidak seharusnya lepas dari anugerah (Gal. 5:4), sebaliknya harus diteguhkan dengan anugerah (Ibr. 13:9). Semakin kita bertahan dalam anugerah, semakin kita nampak anugerah dan memiliki bagian di dalamnya.
(5) Mewarisi Segala Sesuatu dari Bapa
Ishak mewarisi segala sesuatu dari bapanya (Kej. 24:36; 25:5). Berdasarkan anugerah, bukan usahanya sendiri, Ishak menjadi pewaris kekayaan bapanya. Ia tidak diminta melakukan apa pun supaya dapat mewarisi kekayaan bapanya, ia sendiri tidak melakukan apa-apa untuk memperoleh warisan itu. Ini mutlak anugerah tanpa syarat.
Dalam Perjanjian Baru, semua orang terpanggil secara mutlak tanpa syarat mewarisi anugerah Allah. Allah telah memanggil kita dan memberkati kita dengan semua berkat rohani di dalam Kristus (Ef. 1:13). Dalam Kristus Ia telah menaruh kita ke dalam anugerah, mewarisi semua kekayaan kepenuhan ilahi sebagai kenikmatan kita. Kehidupan kristiani kita harus seperti kehidupan Ishak, tidak berbuat apa-apa berdasarkan dirinya, tetapi mewarisi dan menikmati semua milik Bapa. Dalam mewarisi anugerah, kita harus berhenti dari usaha hayat alamiah kita, sehingga kita dapat membuka diri kita dan siap sedia menikmati anugerah.
(6) Mewarisi Janji Allah kepada Ayahnya
Ishak tidak hanya mewarisi semua milik ayahnya, tetapi juga mewarisi janji Allah kepada ayahnya mengenai tanah permai dan satu-satunya keturunan, yaitu Kristus, yang melalui-Nya semua bangsa di bumi akan mendapat berkat (Kej. 26:3-5). Janji ini sebenarnya adalah untuk pencapaian tujuan Allah, agar Allah mendapatkan satu kerajaan di bumi yang mengekspresikan diri-Nya melalui manusia korporat. Baik tanah permai maupun keturunan adalah untuk mendirikan Kerajaan Allah di bumi. Dalam Kerajaan ini Allah bisa di dalam keturunan diekspresikan sepenuhnya. Ke dalam sekelompok keturunan ini Allah akan menggarapkan diri-Nya, supaya mereka diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya. Inilah janji Allah kepada Abraham dan yang diwarisi oleh Ishak. Hari ini, janji ini akan digenapi atas diri kita. Dan hari ini kita menikmati Allah Tritunggal sebagai anugerah kita. Melalui kita menikmati anugerah, Kerajaan Allah akan diwujudkan dan Allah dalam Kristus akan mendapatkan ekspresi yang penuh, sampai selama-lamanya.