← Daftar isi Kejadian (5) · bab 4/16

BELUM MATANG DALAM HAYAT

Alkitab adalah satu kitab wahyu yang sempurna, dan isi dari wahyu ini ialah tujuan kekal Allah. Sebagaimana sering kali kita tunjukkan bahwa tujuan kekal Allah ialah menggarapkan diri-Nya ke dalam manusia yang korporat, sehingga Ia dapat mempunyai ekspresi korporat di alam semesta ini. Jika kita ingin memahami bagian Alkitab yang mana pun secara tepat, kita harus mencamkan hal ini.

Dalam berita ini kita akan melihat Kejadian 25. Bertahuntahun yang lalu saya tidak menyukai bagian pertama pasal ini. Tetapi karena dalam Alkitab tidak terdapat kata-kata yang sia-sia, maka bagian Kejadian 25 ini pun pasti sangat bermakna. Jika kita tidak membentangkan tujuan dari Wahyu Alkitab, mustahillah kita nampak makna bagian ini pada Kejadian 25. Bersandarkan belas kasihan-Nya, Tuhan telah menampakkan kepada kita rahasia pada bagian firman ini.

Baik Kejadian maupun Roma dengan jelas memberi tahu kita bahwa Abraham memperoleh Ishak pada usianya yang sangat tua. Roma 4:19 mengatakan bahwa Abraham memandang tubuhnya bagaikan mati (Tl.). Namun empat puluh tahun setelah kelahiran Ishak, Abraham mengambil pula seorang istri (Kej. 25:1), dan ketika umurnya 140 tahun masih melahirkan enam anak laki-laki (Kej. 25:2). Bagaimana kita menjelaskan hal ini? Jika ketika ia berumur 100 tahun sudah dipandang tua bagaikan orang mati, tentunya ia lebih dari seorang mati ketika ia memperistri lagi pada usia 140. Dalam pasal 23, Sara meninggal dan dikuburkan; dalam pasal 24, Abraham mendapatkan seorang istri bagi Ishak; dan dalam pasal 25, ia sendiri kawin lagi. Apa artinya ini?

Kejadian 25 mencakup pula kelahiran Yakub dan Esau. Mengapa Alkitab mencantumkan catatan yang indah ini dalam pasal yang sama dengan nama-nama enam anak laki-laki gundik Abraham? Keenam anak laki-laki Abraham itu merupakan cantuman yang negatif, sedangkan kelahiran Yakub dan Esau merupakan cantuman yang positif. Andaikata Anda yang mencantumkan pasal ini, maukah Anda menuliskan dua catatan ini bersama-sama? Tidak ada seorang pun yang mau menulis pasal yang sedemikian. Namun, menurut inspirasi Roh Kudus, hal ini tentunya sangat bermakna.

e. Belum Matang dalam Hayat

Kalau kita merenungkan semua ini, di dalam roh kita akan memahami maksud Roh Kudus dalam pasal ini adalah menunjukkan bahwa Abraham bukanlah seorang yang matang dalam hayat. Walaupun ia sudah tua dalam hayat fisiknya, namun ia belum matang dalam hayat rohaninya.

Sebagaimana telah kita nampak, tujuan Allah ialah menggarapkan diri-Nya ke dalam manusia yang korporat sehingga Ia bisa mendapatkan ekspresi yang korporat. Untuk mencapai tujuan ini, Allah menciptakan langit, bumi, dan manusia dengan roh sebagai organ penerima (Za. 12:1). Manusia diciptakan menurut gambar Allah, untuk mengekspresikan Dia, dan memiliki kuasa untuk mewakili Dia di dalam kekuasaan-Nya. Dalam Kejadian 3 kita nampak bahwa Iblis telah menginjek-sikan dirinya ke dalam manusia sehingga manusia jatuh. Dalam pasal 3—11, manusia sedikitnya jatuh empat kali. Setelah kejatuhan kali keempat, Allah datang memanggil Abraham keluar dari kaum yang jatuh dan menjadikan dia sebagai bapa kaum terpanggil. Maksud Allah menjadikan Abraham bapa kaum terpanggil ialah supaya menggarapkan diri-Nya ke dalam kaum itu demi mencapai tujuan-Nya. Meskipun Allah tidak mendapatkan kesempatan menggarapkan diri-Nya ke dalam kaum tercipta, yaitu kaum Adam, namun Ia kini mendapatkan kesempatan menggarapkan diri-Nya ke dalam kaum terpanggil, yaitu kaum Abraham. Catatan bagian akhir pasal 11 sampai bagian pertama pasal 25 menunjukkan berapa banyaknya Allah bekerja atas orang ini. Tetapi, apakah pada akhir catatan kehidupan Abraham, kita nampak seorang yang matang dalam hayat dan mengekspresikan Allah dalam segala sesuatu? Tidak, Abraham belumlah sebagai orang yang demikian.

Banyak orang Kristen terlalu menghargai Abraham. Meskipun saya sendiri juga menghargai Abraham, saya tidak merendahkan dia, tetapi saya harus menunjukkan apa yang dibentangkan oleh catatan Kejadian, yaitu ia belum matang dalam hayat ilahi. Pasal 24 sungguh indah, bukan karena hayat Abraham, melainkan karena aktivitasnya. Abraham telah melakukan satu hal yang indah sekali, yakni memilih-kan anaknya seorang istri yang tepat, namun segera setelah itu ia sendiri menikah lagi. Kejadian 25 tidak mengatakan, “Setelah Abraham menemukan seorang istri yang baik bagi Ishak, ia tinggal beserta mereka dalam hadapan Tuhan lebih dari tiga puluh tahun. Suatu hari, ia memanggil Ishak dan Ribka menghadap kepadanya, menumpangkan tangannya atas mereka, memberkati mereka, dan kemudian pergi kepada Tuhan.” Bila catatan itu demikian, kita semua akan menghargainya dan berkata, “Inilah orang saleh yang telah ma-tang dalam hayat.” Apa bukti dari matang dalam hayat? Yaitu memberkati orang lain. Ketika muda, kita menerima berkat dari orang lain. Tetapi ketika kita matang, kita memberkati yang lain. Abraham memang sudah tua, tetapi ia tidak memberkati seorang pun. Ini membuktikan bahwa ia belum matang dalam hayat.

(1). Memperistri Ketura Setelah Sara Meninggal

Pencatatan Kejadian 25 bukan mengenai pemberkatan, malahan mengenai memperistri lagi. Abraham memperistri Ketura setelah Sara meninggal. Apakah memperistri juga pertanda matang dalam hayat? Tentunya bukan.

(2) Melahirkan Enam Putra Setelah Ishak

Seumur hidup Abraham dapat dibagi menjadi tiga bagian: bagian dengan Ismael, bagian dengan Ishak, dan bagian dengan enam putranya. Ismael dilahirkan berdasarkan daging Abraham; Ishak dilahirkan berdasarkan anugerah Allah. Bagaimana dengan keenam anak laki-laki itu? Lebih-lebih dilahirkan berdasarkan daging. Setelah kelahiran Ismael, daging Abraham telah ditanggulangi, dan anugerah datang menggantikannya. Tetapi setelah kelahiran dan pertumbuhan Ishak, daging Abraham kembali menjadi aktif. Dalam bagian pertama, yaitu bagian dengan Ismael, daging Abraham hanya satu kali lipat saja, tetapi dalam bagian yang ketiga, yaitu bagian dengan enam anak laki-lakinya, dagingnya menjadi enam kali lipat, yakni diperhebat enam kali. Daging muda hanya melahirkan satu Ismael, daging tua melahirkan enam anak laki-laki.

Alkitab itu jujur, memberi tahu kita bahwa Abraham memperistri Ketura dan melahirkan enam anak laki-laki darinya. Namun Abraham mengetahui kehendak Allah. Ayat 5 mengatakan, “Abraham memberikan segala harta miliknya kepada Ishak.” Ishak adalah keturunan satu-satunya yang dipilih, ditunjuk, dan ditetapkan oleh Allah. Tidak satu pun anak yang lain terhitung sebagai keturunan (ayat 6), karena mereka semua adalah anak-anak gundik dan ditolak Allah sama seperti Ismael. Abraham mempunyai dua gundik. Yang pertama melahirkan Ismael dan yang kedua melahirkan enam anak laki-laki. Allah tidak menghendaki satu pun dari mereka itu. Baik sebelum dan setelah kelahiran Ishak, Abraham melakukan sesuatu yang tidak diingini oleh Allah. Bagaimana kita dapat mengatakan bahwa hayat semacam itu telah ma-tang?

(3) Mati Tanpa Matang dalam Hayat

Maksud Kejadian 25 ialah memperlihatkan bahwa Abraham belum matang dalam hayat. Ia telah mati sebelum matang, seperti yang telah kita nampak bahwa ia meninggal tanpa memberkati seorang pun. Abraham itu baik, tetapi ia belum matang dalam hayat ilahi. Kita memang patut menghargainya, tetapi kita harus tahu bahwa ia mempunyai kekurangan yang besar. Ia telah dipanggil, beriman, dan hidup dalam persekutuan dengan Allah, namun dalam istilah Perjanjian Baru, Ia belum secara memadai mengalami transformasi (pengubahan).

Apakah transformasi itu? Sekali lagi saya mau meng-gunakan perumpamaan kayu batu. Ketika aliran air meng-aliri kayu, ada unsur kayu yang terbawa hanyut, dan sebagai gantinya unsur mineral ditambahkan. Begitu unsur mineral teresap ke dalam kayu, kayu itu pun berubah menjadi batu. Inilah peristiwa pembatuan. Kita adalah kayu dan aliran air hidup harus membawa pergi unsur alamiah kita dan memasukkan ke dalam kita semua unsur yang ilahi, surgawi, kudus, serta rohani. Demikianlah cara kita di-transformasi.

Jika Anda membaca kembali pasal 23—25, Anda akan nampak bahwa Abraham bukanlah orang yang mengalami transformasi penuh. Ia adalah orang yang hidup dalam persekutuan dengan Allah dan bertindak menurut pimpinan-Nya, tetapi belum ditransformasi sepenuhnya. Sebaliknya, ia menikah lagi dan menggunakan kembali daging yang telah ditanggulangi oleh Allah, sehingga melahirkan enam “Ismael” lagi. Meskipun kita seharusnya seperti Abraham, tetapi kita perlu mengetahui bahwa ia bukanlah teladan yang sempurna.

(4) Dikubur Bersama Sara di Gua Makhpela

Sudah tentu Abraham meninggal di dalam iman. Kedua putranya Ishak dan Ismael menguburnya di dalam gua Makhpela (Kej. 25:9-10), yang ia sediakan bagi Sara (Kej. 23). Tentunya putra-putranya menguburkan dia seturut kemauannya.

f. Memerlukan Yakub dan Ishak bagi Penyempurnaannya

Meskipun Abraham itu baik, tetapi ia belum lengkap. Ia harus dilengkapi dan disempurnakan oleh kehidupan Yakub dan Ishak. Menurut yang tersirat dalam catatan ilahi, Abraham, Ishak, dan Yakub bukanlah tiga individu yang terpisah. Demikian pula Allah mereka, Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub bukanlah tiga Allah, melainkan satu Allah yang tritunggal. Atas Abraham tertampaklah Allah Bapa, atas Ishak tertampaklah Allah Putra, dan atas Yakub tertampaklah Allah Roh. Bapa, Putra, dan Roh, tiga namun satu ini, adalah Allah Tritunggal yang unik. Dalam prinsip yang sama, Abraham, Ishak, dan Yakub adalah orang yang tritunggal. Tiga namun satu inilah membentuk satu orang yang lengkap di dalam pengalaman hayat.

(1) Terpilihnya Yakub

Dalam catatan mengenai Abraham, kita nampak masalah panggilan. Menurut wahyu ilahi, panggilan bukan merupakan perkara yang pertama. Pemilihan Allah mendahului panggilan Allah. Ketika Abraham masih menyembah berhala di Ur-Kasdim, itulah saat panggilan Allah, bukan saat pemilihan-Nya. Saat pemilihan Allah terjadi sebelum bumi diciptakan. Pada masa azali, yakni kekekalan yang lampau, Abraham sudah terpilih dan di Ur-Kasdim dia terpanggil. Tetapi di manakah catatan Abraham terpilih? Di dalam Kejadian 25, yaitu catatan mengenai Yakub terpilih. Dia sendiri tidak ter-pilih; terpilihnya dia adalah di dalam terpilihnya Yakub. Hidup Abraham bukan merupakan permulaan yang lengkap ataupun penyelesaian yang sempurna. Ia tidak mengalami pemilihan atau kematangan dalam hayat. Kedua-duanya itu terjadi pada diri Yakub. Dengan kata lain, dalam pandangan Allah dari segi pengalaman hayat, Abraham bukanlah orang yang sempurna. Ia memerlukan Yakub dan Ishak. Ketiga orang ini, Abraham, Ishak, dan Yakub, mewakili pengalaman rohani seorang yang sempurna. Dalam pencatatan seumur hidup Yakub tidak disebutkan masalah panggilan. Di mana dan kapan Yakub terpanggil? Ia terpanggil bersama Abraham dalam Kejadian 11, sama seperti Abraham terpilih di dalam Yakub. Pada diri Abraham kita jelas sekali nampak panggilan Allah, namun tidak nampak pemilihan ataupun kema-tangan dalam hayat.

Dalam Kejadian 25 terdapat tiga silsilah: silsilah anak-anak Ketura (ayat 2-4), silsilah anak-anak Ismael (ayat 13-16), dan silsilah Ishak (ayat 19-26). Dalam kedua silsilah yang di depan tidak ada seorang pun yang dipilih Allah. Tidak ada satu pun anak-anak Ketura atau anak-anak Ismael yang dipilih oleh Allah. Bahkan Esau, anak yang lahir dari Ishak pun tidak terpilih. Dari semua anak-anak pada pasal ini, hanya satu yang terpilih, itulah Yakub. Ketiga silsilah ini sengaja ditaruh dalam pasal yang sama demi tujuan yang pasti, yakni menunjukkan orang yang bagaimana ditolak oleh Allah dan orang yang bagaimana dipilih oleh Allah. Allah memilih orang yang paling nakal, yaitu Yakub, yang namanya berarti perebut, pemegang tumit. Andaikata kita ini Allah, pasti tidak akan pernah memilih orang yang nakal dan perebut. Tetapi, Yakub justru pilihan Allah. Dalam pasal ini kita melihat apa yang dilahirkan Abraham bukanlah yang dikehendaki Allah, tidak ada satu di antara keenam putranya menjadi pilihan Allah. Dalam melahirkan mereka, semua yang ia lakukan sia-sia belaka. Demikian pula, tidak satu pun keturunan Ismael dipilih oleh Allah. Setelah Ishak menikah dua puluh tahun lamanya, ”berdoalah Ishak kepada TUHAN untuk istrinya, sebab istrinya itu mandul; TUHAN mengabulkan doanya, sehingga Ribka, istrinya itu, mengandung” (Kej. 25:21). Ribka melahirkan anak kembar, dan anak kedua itulah pilihan Allah. Lebih dari dua puluh kelahiran yang tercatat dalam pasal ini semuanya sia-sia kecuali satu. Dalam pasal ini Allah seolah-olah berfirman kepada Abraham, “Berdasarkan dagingmu kamu telah melahirkan banyak anak, tetapi semuanya itu sia-sia saja. Tidak satu pun yang dihasilkan dari dagingmu itu pilihan-Ku.”

Pasal ini menunjukkan bahwa hayat yang tidak matang selalu bekerja dengan sia-sia. Jika hayat kita tidak matang, boleh saja kita sangat aktif atas banyak perkara, namun semua usaha kita akan sia-sia belaka. Tidak satu pun sesuai dengan pilihan Allah. Abraham adalah orang saleh yang terkasih yang mempunyai hidup yang baik, tetapi hayatnya belum matang, sehingga dia melakukan banyak hal dengan sia-sia. Tidak ada satu pun yang berasal dari dagingnya yang menjadi pilihan Allah. Maukah Anda memiliki hidup semacam ini? Melalui catatan seumur hidup Abraham, kita nampak bahwa dia tidak sempurna. Dia memerlukan Yakub dan Ishak untuk menyempurnakan dirinya. Seperti yang diwahyukan dalam pasal ini, bagi perlengkapan dan penyempurnaannya, dia memerlukan Yakub yang terpilih itu.

(2) Kematangan Yakub dalam Hayat

Abraham juga memerlukan kematangan Yakub dalam hayat. Menurut Kitab Kejadian, orang pertama yang memberkati orang lain adalah Melkisedek (Kej. 14:18-19). Kitab Ibrani mewahyukan bahwa Melkisedek merupakan lambang Kristus. Abraham mencapai usia yang sangat tua, jauh lebih tua daripada Yakub, namun ia tidak pernah memberkati orang lain. Setelah Melkisedek, orang berikutnya yang memberkati orang lain adalah Ishak. Tetapi Ishak memberkati secara buta; ia tertipu, tidak memberkati secara jelas. Ia secara salah memberkati, hak anak sulung ia berikan kepada Yakub, bukan kepada Esau (Kej. 27). Tetapi menurut yang diwahyukan dalam catatan pada akhir Kejadian, meskipun Yakub tidak jelas penglihatannya, namun ia telah memberkati dengan jelas sekali. Setelah Yakub menjadi matang, ia memberkati siapa saja yang dijumpainya. Ke mana ia pergi, tidak ada yang dilakukan kecuali memberkati orang lain. Ketika Yakub dibawa ke hadapan Firaun, hal pertama yang ia lakukan ialah memberkatinya (Kej. 47:7). Setelah berbincang-bincang sejenak dengan Firaun, Yakub memberkati lagi (Kej. 47:10). Yakub bukan sekadar orang yang diberkati, ia pun orang yang memberkati.

Menerima berkat itu mudah, memberkati orang lain tidaklah mudah. Cucu mustahil memberkati kakeknya, karena cucu kurang matang dalam hayat. Berhubung Yakub telah matang, maka ia memberkati setiap orang yang ia jumpai, termasuk Firaun, seorang raja kafir. Yakub tidak merasa bahwa ia harus melakukan sesuatu bagi orang lain. Bebannya adalah memberkati orang lain.

Lihatlah perihal Yakub memberkati kedua anak Yusuf (Kej. 48:8-20). Ketika Yakub menumpangkan tangan kanannya pada Efraim bukan Manasye, anak sulung itu, Yusuf tidak senang dan berusaha memindahkan tangan kanan ayahnya ke atas kepala Manasye, berkata, “Janganlah demikian, ayahku, sebab inilah yang sulung, letakkanlah tangan kananmu ke atas kepalanya” (Kej. 48:18). Tetapi Yakub menolak dan menjawab, “Aku tahu, anakku, aku tahu” (Kej. 48:19). Yakub seolah-olah berkata, “Boleh jadi mata jasmaniku telah rabun, tetapi rohku sangat jelas. Kamu tidak tahu apa yang sedang kulakukan, tetapi aku tahu.” Di sini kita melihat Yakub memberkati kedua anak Yusuf dengan berkat yang jelas, penuh, dan berlimpah.

Yakub juga memberkati kedua belas anaknya dengan sangat jelas, berkat-berkat ini adalah fondasi dari nubuat yang mendasar di dalam Alkitab. Jika kita ingin mengenal nubuat-nubuat dalam Alkitab, kita harus kembali kepada fondasi, unsur-unsur dasar ini, yakni seperti yang terdapat dalam berkat-berkat yang disampaikan Yakub kepada kedua belas anaknya. Yakub mampu memberkati anak-anaknya dengan penuh wahyu ilahi disebabkan ia telah matang sepenuhnya dalam hayat ilahi. Ia dilahirkan sebagai Yakub, tetapi ia telah diubah menjadi Israel. Ia dilahirkan sebagai perebut, pemegang tumit, namun ia telah diubah menjadi pangeran Allah. Ia telah menjadi begitu terang dan penuh hayat. Ketika kita terang dan penuh dengan hayat, kita pasti tidak dapat berbuat yang lain kecuali memberkati. Inilah tanda kematangan.

Kita telah nampak bahwa Abraham, Ishak, dan Yakub membentuk satu orang yang sempurna dalam pengalaman hayat. Abraham tidak memberkati karena ia belum matang dalam hayat. Ishak meskipun sudah sedikit matang, namun kurang kelimpahan kematangan hayat, sehingga memberkati secara buta. Yakub yang telah matang dalam hayat memberkati secara penuh dan terang. Apa saja yang ia katakan merupakan perkataan Allah, dan apa yang ia berkatkan merupakan nubuat yang menyangkut ekonomi Allah atas anak-anak-Nya. Akhirnya, Yakub menjadi Israel, yaitu ekspresi Allah.

Jika kita memiliki terang yang menyeluruh dari Alkitab, kita akan nampak bahwa Kitab Kejadian merupakan miniatur wahyu lengkap atas seluruh Alkitab. Pada bagian akhir Kitab Kejadian, kita menemukan seseorang bernama Israel, orang yang telah diubah menjadi begitu bening, terang, dan penuh hayat. Israel yang telah diubah itu merupakan sebutir benih, sebuah miniatur Yerusalem Baru. Pada permulaan Kitab Kejadian terdapat manusia yang diciptakan menurut gambar Allah. Tetapi pada akhir Kitab Kejadian terdapat seorang yang telah diubah, bukan sekadar lahirnya sesuai gambar Allah, bahkan orang yang ke dalamnya Allah telah menggarapkan diri-Nya, serta menjadikan dia suatu ekspresi bagi diri-Nya. Banyak orang Kristen menghargai Abraham, namun kehidupannya belum cukup tinggi. Hayat Israel jauh lebih tinggi.

(3) Kenikmatan Ishak atas Harta Warisan

Bagi penyempurnaannya, Abraham memerlukan pula kenikmatan Ishak atas harta warisan (Kej. 24:36; 25:5). Sejak hari Abraham dipanggil Allah, Allah mulai “merampas” dia dari segala yang ada padanya. Mula-mula Allah mengambil saudara laki-lakinya dan kemudian ayahnya. Lalu Allah menolak Eliezer, memerintahkan Abraham mengusir Ismael, dan memberi tahu dia agar mempersembahkan Ishak di atas mezbah. Setelah Ishak dikembalikan, Sara meninggal. Seumur hidup Abraham bukanlah seumur hidup yang menikmati, melainkan seumur hidup yang terampas. Sebaliknya, seumur hidup Ishak adalah seumur hidup yang penuh kenikmatan. Ishak tidak melakukan apa-apa, kecuali mewarisi semua milik ayahnya.

Dalam kehidupan kristiani kita terdapat pengalaman Abraham maupun Ishak. Di satu pihak kita selalu “terampas”. Allah menolak apa saja yang ada pada kita. Ia seakan-akan berkata, “Kamu menyukainya, tetapi Aku tidak. Kamu ingin memberikannya kepada-Ku, tetapi Aku tidak mau menerimanya. Kamu ingin mempertahankan itu, tetapi Aku menolak itu.” Dipandang dari segi kebaikan, Allah selalu bertindak berlawanan dengan harapan dan maksud kita. Abraham ingin membawa serta ayahnya, namun ayahnya diambil. Ia mau Lot, namun Lot dipisahkan darinya. Ia menghendaki Eliezer menjadi ahli warisnya, namun Eliezer ditolak. Ia menghendaki Ismael dipelihara, tetapi Allah memerintahkannya untuk mengusir anak budak perempuan itu. Abraham mengasihi Ishak, anaknya, namun Allah menuntut supaya ia dipersembahkan kepada-Nya di atas mezbah. Sesaat kemudian, Sara istri kesayangan Abraham diambil Allah. Saya sangsi kalau Abraham mempunyai waktu banyak untuk kenikmatan.

Dalam kehidupan kristiani kita terdapat aspek yang lain lagi, yaitu sewaktu kita mengalami perampasan, kita juga menikmati warisan kita. Inilah sebabnya pencatatan Abraham dan Ishak bertumpukan, sedangkan pencatatan orang-orang yang mendahului mereka, misalnya, Habel, Enos, dan Nuh tidak. Pencatatan Ishak bercampur dengan pencatatan Abraham. Ketika Abraham menderita, Ishak menikmati. Ketika Abraham menangis, Ishak bersukaria. Ini menunjukkan bahwa kehidupan kristiani kita adalah malam dan siang. Malam di kiri kita dan siang di kanan kita. Dalam kehidupan kristiani, malam dan siang selalu bersama-sama. Sering kali saya tidak dapat memastikan apakah saya berada di malam hari atau di siang hari. Sewaktu saya berada di pagi hari, saya juga berada di malam hari, dan sewaktu saya berada di malam hari, saya juga berada di pagi hari. Di satu pihak, saya sebagai Abraham yang terampas segala-galanya dan di pihak lain saya adalah Ishak yang menikmati warisan itu.

Kita semua telah terpilih bersama Yakub, terpanggil dan percaya bersama Abraham. Karena kita telah terampas bersama Abraham dan menikmati bersama Ishak, pasti pada suatu hari kita juga akan matang bersama Yakub. Kita tidak seharusnya mengatakan seorang saudara itu Yakub atau Abraham atau Ishak. Kita harus menyebutnya seorang Yakub-Abraham-Ishak. Ia adalah Yakub pada permulaan dan penutupan, dan ia adalah Abraham serta Ishak di tengah-tengah; mereka bertiga adalah satu orang yang sempurna, seperti yang telah kita nampak bahwa kematangan hayat bukan pada Abraham atau Ishak, melainkan pada Yakub.

Tanda kematangan hayat ialah memberkati. Saya telah bertemu dengan puluhan ribu orang Kristen, hampir setiap orang selalu pernah merampas atau mengeluh. Ada orang saleh yang menggerutu terhadap penatua, menggerutu terhadap saudara, menggerutu terhadap gereja-gereja. Sepertinya satu-satunya gereja yang mereka sukai hanyalah Yerusalem Baru. Menggerutu itulah tanda belum matang. Ketika Anda matang, Anda tidak akan menggerutu; Anda akan memberkati, sambil berkata, “Ya Allah, berkatilah semua saudara dan semua gereja.” Karena bagi orang yang telah matang dalam hayat, tangan perampasnya telah menjadi tangan pemberkat. Semakin matang Anda, Anda akan semakin memberkati orang lain. Anda akan tidak hanya memberkati orang yang baik, tetapi juga yang buruk, bahkan yang paling buruk.

Seumur hidup Abraham sangat menakjubkan dan telah dihargai oleh orang Kristen berabad-abad. Tetapi seperti yang telah kita nampak bahwa ia belum matang dalam hayat ilahi. Allah kita bukan hanya Allah Bapa, Ia pun Allah Putra dan Allah Roh. Ia bukan hanya Allah Abraham, tetapi juga Allah Ishak dan Allah Yakub. Kiranya kita semua nampak bahwa kita perlu ketiga aspek ini, yaitu seumur hidup Abraham ditambah seumur hidup Ishak dan Yakub. Allah Tritunggal, Bapa, Putra, dan Roh, bekerja di dalam kita, menjadikan kita ekspresi diri-Nya yang penuh. Dia adalah Allah Tritunggal dan kita harus mempunyai pengalaman-pengalaman rohani yang tiga aspek terhadap hayat ilahi. Kita perlu diubah seluruhnya. Ketika kita sudah diubah sepenuhnya, tujuan Allah pasti tercapai.