← Daftar isi Kejadian (5) · bab 2/16

HIDUP DALAM PERSEKUTUAN DENGAN ALLAH PERNIKAHAN ISHAK

KEHIDUPAN YANG RIIL

DALAM KEESAAN DENGAN TUHAN

Alkitab mewahyukan bahwa tujuan kekal Allah ialah mengekspresikan diri-Nya melalui Tubuh yang korporat, dan tujuan ini akan tercapai berdasarkan hayat Allah. Jika kita ingin memasuki kedalaman Kitab Kejadian, kita harus melihat kedua hal ini. Dalam Kejadian 1:26 kita mengetahui bahwa manusia diciptakan menurut gambar Allah. Manusia di sini bukan yang individual, melainkan yang korporat. Boleh kita katakan bahwa umat manusia, yaitu Tubuh yang korporat, yang dapat mengekspresikan gambar Allah. Dalam Kejadian 2 kita nampak bahwa untuk menggenapkan tujuan Allah ini, kita harus mempunyai hayat Allah yang dilambangkan oleh pohon hayat. Dalam kedua pasal ini kita mempunyai dua buah kata yang penting sekali — gambar dan hayat. Gambar memperlihatkan tujuan kekal Allah, dan hayat menyingkapkan cara Allah mencapai tujuan-Nya. Janganlah menganggap Kejadian sekadar cantuman atas penciptaan Allah dan kisah dari beberapa nenek moyang. Pandangan ini terlalu dangkal. Jika kita mendalami buku ini, kita akan nampak bahwa ini bukan sekadar ulasan tentang penciptaan dan sejarah saja, lebih-lebih mewahyukan tujuan kekal Allah dan cara-Nya untuk mencapai ini.

(10) Pernikahan Ishak

Setelah mengenal kedua butir ini, kita sekarang melihat Kejadian 24. Setiap orang yang membaca Kitab Kejadian akan mengira pasal ini sebagai rekaman perihal pernikahan. Akan tetapi, hal yang penting di sini bukanlah pernikahan, melainkan apa yang ditunjukkan, disiratkan, dan dilambangkan oleh pernikahan. Ketika kita membaca Kejadian 1 dan 2, kita tahu bahwa pasal ini bukan hanya catatan mengenai penciptaan Allah, tetapi juga catatan mengenai hayat. Segala sesuatu yang ditemukan dalam pasal-pasal ini berkaitan dengan hayat. Setiap sesuatu yang tidak bersangkutan dengan hayat tidaklah termasuk di dalamnya. Asal kita membaca pasal-pasal tersebut dengan cermat, kita akan mendapatkan bahwa banyak aspek penciptaan Allah tidak dimasukkan, berhubung semua itu tidak ada kaitannya dengan hayat. Pada prinsip yang sama, hanya aspek-aspek sejarah Abraham yang berkaitan dengan hayat yang tercatat dalam pasal 21-24.

Seluruh Kitab Kejadian terdiri dari 50 pasal saja, mencakup 2300 tahun, yaitu 23 abad yang pertama dari sejarah manusia. Bila Kejadian merupakan catatan sejarah, tentunya ia akan memerlukan ratusan pasal untuk mengungkapkan waktu yang sepanjang ini. Fakta bahwa periode waktu yang demikian panjang hanya dicakup dalam 50 pasal membuktikan bahwa Kitab Kejadian bukanlah catatan sejarah. Sekali lagi, meskipun Kitab Kejadian nampaknya merupakan catatan sejarah, namun sebenarnya adalah catatan yang menunjukkan tujuan kekal Allah dan cara penggenapannya berdasarkan hayat. Segala sesuatu yang tidak ada sangkut-pautnya dengan kehendak Allah dan pencapaiannya berdasarkan hayat, tidaklah dicatat dalam buku ini.

Pasal 21-24, mencakup waktu 40 tahun (Kej. 25:20), menyebutkan lima perkara pokok: kelahiran Ishak, bertumbuh besarnya Ishak, mempersembahkan Ishak, kematian dan penguburan Sara, serta pernikahan Ishak. Sekalipun catatannya sangat singkat, namun sangat bermakna. Di sini kita nampak kelahiran yang tepat dan pertumbuhan yang tepat. Kelahiran dan pertumbuhan menghasilkan kurban persembahan bagi kepuasan Allah. Setelah kelahiran dan pertumbuhan yang terdapat dalam pasal 21, selanjutnya pasal 22 terdapat kurban bakaran. Kemudian, seperti yang telah kita lihat, dalam pasal 23 kematian Sara dan penguburannya dicatat secara rinci. Dan setelah itu, pasal 24 memperlihatkan sebuah pernikahan yang menakjubkan. Namun, pasal ini bukan sekadar pengisahan sebuah pernikahan; melainkan sebuah kisah yang mempunyai makna dan pengertian yang dalam di dalam hayat.

(a) Kehidupan yang Riil dalam Keesaan dengan Tuhan

Menurut pemahaman kebanyakan orang Kristen, butir utama pasal ini ialah Ishak yang melambangkan Kristus sebagai pengantin laki-laki dan Ribka yang melambangkan gereja sebagai pengantin perempuan. Tetapi ini bukan butir yang utama. Butir utamanya ialah kehidupan yang riil dalam keesaan dengan Tuhan bagi pencapaian tujuan Allah. Janganlah kita memahami Alkitab menurut pengetahuan umum kita ataupun tradisi, melainkan kembalikan kepada firman yang murni. Setiap kali kita membaca bagian-bagian Alkitab, kita harus melupakan semua apa yang telah kita ketahui pada waktu-waktu yang lampau seraya menengadah kepada Tuhan agar memperoleh sesuatu yang baru. Lima puluh tahun yang lalu saya pernah membaca Kejadian 24 dengan teliti, sebisanya berusaha mengingat setiap butirnya. Akan tetapi, bila sekarang saya membacanya kembali, saya tidak mau mempedulikan apa-apa yang telah saya peroleh pada waktu yang lampau itu. Saya lebih suka membaca bagian firman ini, seolah-olah saya membacanya untuk pertama kali. Saya bisa bersaksi bahwa belakangan inilah saya baru mengetahui sesuatu yang baru dalam pasal ini.

Pernahkah Anda menemukan bahwa dalam Kejadian 24 kita dapat melihat suatu kehidupan yang riil dalam keesaan dengan Tuhan? Seperti yang telah kita ketahui bahwa Allah mempunyai tujuan, dan cara penggenapannya adalah berdasarkan hayat. Ini adalah dua butir pengendali dalam pemahaman kita terhadap Alkitab. Jika kita ingin memahami Kejadian 24, kita harus menerapkan kedua butir ini. Mengapa Kejadian 24 memberi kita catatan mengenai pernikahan Ishak seperti ini? Kalau kita hanya membaca pasal 24 saja, kita tidak dapat melihat tujuan dari catatan ini. Untuk menjawab pertanyaan ini, kita harus membaca tiga pasal sebelumnya. Kejadian 21:12 mengatakan, “Sebab yang akan disebut keturunanmu ialah yang berasal dari Ishak.” Allah memanggil Abraham dengan satu tujuan. Dan untuk menggenapkan tujuan ini, Allah berjanji akan memberi Abraham tanah permai dan keturunan yang akan mewarisi tanah itu. Tujuan kekal Allah ialah mengekspresikan diri-Nya melalui Tubuh yang korporat. Agar memiliki ekspresi yang korporat ini, Allah harus mempunyai sekelompok orang. Orang-orang ini adalah keturunan Abraham. Selanjutnya, untuk memiliki orang-orang yang mengekspresikan Allah secara korporat, perlu ada tanah. Lalu apakah maksud pernikahan dalam Kejadian 24? Apakah sekadar membahagiakan seorang bujangan dengan hidup yang menyenangkan? Bukan, jika Anda memeriksa Alkitab secara keseluruhan, Anda akan nampak bahwa pernikahan Ishak mutlak adalah untuk menggenapkan tujuan kekal Allah. Tanpa pernikahan, mana mungkin Ishak melahirkan keturun-an? Jika bujangan ini mau mempunyai keturunan untuk menggenapkan tujuan kekal Allah, ia harus menikah. Setelah Abraham diuji, yaitu dalam pasal 22, Allah berkata, “Maka Aku akan memberkati engkau berlimpah-limpah dan membuat keturunanmu sangat banyak seperti bintang di langit dan seperti pasir di tepi laut, dan keturunanmu itu akan menduduki kota-kota musuhnya. Oleh keturunanmulah semua bangsa di bumi akan mendapat berkat” (Kej. 22:17-18). Di sini kita juga mempunyai keturunan bagi pencapaian tujuan Allah. Jadi pernikahan Ishak bukanlah perkara yang biasa atau hanya untuk menjalani kehidupan manusia, melainkan untuk menggenapkan tujuan kekal Allah.

1) Abraham

Kehidupan Abraham merupakan kehidupan yang riil dalam keesaan dengan Tuhan. Abraham bukannya tiba-tiba memiliki visi yang dikatakan Allah kepadanya bahwa Ia mempunyai tujuan yang tinggi yang harus terlaksana di bumi, dan Ia memerlukan dia; juga Ishak harus menikah agar tujuan Allah bisa tercapai. Dalam pasal 24 tidak ada visi semacam ini. Bahkan catatan dalam Kejadian ini biasa dan manusiawi. Menurut catatan ini, ada seseorang yang mempunyai seorang putra pada masa tuanya. Ketika putranya mencapai usia 37 tahun, istrinya, yaitu sang ibu meninggal, dan sang ayah menguburnya dengan cara yang sangat bermakna sekali. Sang ayah dan sang putra kedua-duanya sekarang menjadi orang yang tidak menikah, hidup sendirian, selama tiga tahun hidup bersama-sama dalam keadaan yang menyedihkan. Boleh jadi putranya bertanya, “Ayah, di manakah ibuku?” dan mungkin ayahnya menjawab, “Anakku, di manakah istrimu?” Sang ayah mempunyai beban untuk merawat putranya. Mungkin ia berkata, “Aku telah kehilangan istriku, dan sekarang putraku telah berusia 40 tahun. Inilah saat yang tepat baginya untuk menikah. Tetapi kami hidup dikelilingi orang-orang Kanaan, dan tidak satu pun di antara mereka yang diperkenan Allah.” Tidak ada catatan bahwa Allah berkata, “Abraham, Aku menyuruhmu untuk mengambil seorang istri bagi Ishak dari negerimu sendiri. Aku tidak mengizinkan kamu mengambil seorang perempuan Kanaan sebagai menantumu.” Tidak ada catatan bahwa Allah berkata demikian, namun Abraham mengerti hal ini. Dari mana Abraham mengerti hal ini? Tidak lain dari kehidupan sehari-harinya yang menurut kon-sepsi Allah.

Abraham adalah seorang yang hidup dalam kesatuan bersama dengan Allah. Andaikata saya hidup bersama dengan saudara tertentu dari hari ke hari, maka tidak perlu baginya memberi tahu saya banyak. Dengan sendirinya saya akan mengerti apa yang disukainya dan apa yang tidak disukainya, apa yang menyenangkannya dan apa yang menjengkelkannya. Jika saya mengasihi dia, dan hidup bersama dengannya, niscaya apa yang saya katakan dan saya perbuat selalu akan selaras dengan seleranya. Dengan menyesal saya katakan bah-wa banyak orang Kristen yang tidak hidup dalam keesaan bersama dengan Allah. Ketika suatu perkara penting terjadi, mereka baru berlutut dan berdoa, “Oh Tuhan, apa kehendak-Mu?” Tetapi akhirnya mereka tetap tidak menurut kehendak Allah, malahan menurut konsepsi mereka sendiri. Untuk memahami kehendak Allah bukanlah melalui doa yang demikian. Agar kita mengenal kehendak Allah, kita harus hidup dalam kesatuan bersama dengan-Nya. Jika kita hidup dalam kesatuan bersama dengan Dia, maka Ia tidak perlu mengatakan apa keinginan-Nya, sebab melalui hidup dalam kesatuan bersama ini, kita sudah mengetahui apa keinginan-Nya.

Meskipun Abraham sangat memperhatikan pernikahan putranya, namun ia tidak mau mengambil orang Kanaan sebagai istri Ishak. Kalau kita yang menjadi Abraham, mungkin kita akan memilih jalan gampangnya dengan berkata, “Di sini, di tanah Kanaan ini banyak perempuan. Apa salahnya aku memilih salah satu di antaranya sebagai istri anakku? Boleh jadi di dekat sekali sudah ada.” Abraham tidak berpikir secara itu, melainkan mengirim seorang hambanya yang tua ke tempat yang jauh, ke negerinya sendiri, untuk mengambil seorang istri bagi Ishak. Allah tidak pernah berkata kepada Abraham untuk melakukan hal ini, tetapi Abraham telah melakukannya sesuai dengan konsepsi dan kehendak yang ada dalam diri Allah. Seperti yang telah kita ketahui, Abraham mengerti kehendak dan pikiran Allah dikarenakan ia hidup dalam keesaan yang riil dengan Allah.

Abraham bukan satu-satunya orang yang mempunyai kehidupan seperti itu. Semua orang yang disebut dalam pasal ini hidup dalam suasana bersatu dengan Allah. Abraham, hamba yang tertua, Ribka, Laban, Betuel, dan Ishak; semuanya hidup dalam kesatuan bersama dengan Allah. Saya harap setiap orang dalam gereja akan nampak bahwa hari ini kita perlu kehidupan yang seperti ini agar tujuan Allah tercapai. Yang kita perlukan bukanlah berdoa mencari kehendak Allah; yang kita perlukan adalah hidup dalam kesatuan bersama dengan Allah. Ketika kita hidup dalam keesaan dengan-Nya, kita akan ada di dalam konsepsi-Nya, dan apa pun yang kita pikirkan dan kita lakukan akan seturut perasaan-Nya. Allah tidak perlu mengatakan apa-apa, sebab kita akan merasakan apa yang dirasakannya, mengetahui perasaan hati-Nya karena kita hidup dalam keesaan dengan-Nya.

a) Bergerak Menurut Ekonomi Allah

Abraham bergerak menurut ekonomi Allah (Kej. 24:3-8). Apa yang diperbuatnya untuk memperoleh seorang istri bagi Ishak adalah demi penggenapan tujuan kekal Allah. Kita mendambakan kiranya semua pernikahan dalam gereja-gereja adalah bagi penggenapan tujuan Allah. Pernikahan semacam ini setiap hari menuntut kehidupan yang bersatu dengan Allah. Saudara-saudara muda, jika segala yang kalian perbuat itu menurut ekonomi Allah, maka pernikahan kalian akan menggenapkan ekonomi Allah. Kalian perlu berkata, “Tuhan, apa saja yang aku perbuat hari ini kiranya menurut ekonomi-Mu. Aku masih sendirian, namun suatu hari aku akan menikah. Biarlah pernikahanku adalah untuk ekonomi-Mu.” Inilah wahya utama dalam Kejadian 24. Perkara utama dalam pasal ini bukannya Ishak sebagai lambang Kristus, Sang pengantin pria, sedangkan Ribka melambangkan gereja sebagai pengantin wanita. Sekali lagi, hal utama yang diwahyukan dalam pasal ini adalah kehidupan yang riil menurut ekonomi Allah agar melaksanakan tujuan kekal-Nya. Kita perlu kehidupan yang serupa dengan Abraham. Motivasi, tindakan, dan segala sesuatu yang diperbuatnya sesuai dengan ekonomi Allah.

Saya sangsi, kalau Abraham mengerti dengan jelas akan ekonomi Allah seperti halnya kita hari ini. Tetapi, bagaimanapun, ia memberi tahu hambanya yang tua bahwa Allah telah memanggilnya dan berjanji memberikan tanah ini kepada keturunannya. Ia berkata kepada hambanya bahwa ia “harus pergi ke negeri Abraham dan sanak saudaranya untuk mengambil seorang istri bagi Ishak.” Dalam terang seluruh Alkitab, kita dapat melihat bahwa hal ini melaksanakan ekonomi Allah. Hari ini kita sungguh perlu mempunyai kehidupan yang sedemikian ini! Motivasi kita, tindakan, dan segala yang kita perbuat haruslah menggenapkan ekonomi Allah. Hal ini bukan sekadar menuntut kita mengerti kehendak Allah dan kemudian mengerjakan perkara-perkara tertentu. Bukan, kita perlu satu kehidupan sehari-hari yang bersatu dengan Allah. Kita harus menjadi orang yang semacam ini. Jika kita adalah orang yang demikian, apa yang kita katakan pasti merupakan ekspresi Allah; apa yang kita perbuat pasti merupakan penggenapan kehendak-Nya. Inilah kehidupan yang kita perlukan hari ini dalam hidup gereja. Janganlah berkata, “Oh, aku tidak tahu apa kehendak Tuhan atas pernikahanku atau atas sekolahku. Aku harus berpuasa dan berdoa tiga hari tiga malam.” Izinkan saya dengan jujur memberi tahu Anda, bertahun-tahun saya telah mencoba hal ini, namun tidak pernah ada hasil yang baik.

Perhatikan kisah Abraham, orang pertama yang dipanggil Allah. Karena ia merupakan orang pertama yang dipanggil, dalam perkaranya kita nampak prinsip penyebutan pertama. Abraham tidak bergerak menurut cara hari ini yang tradisionil dan agamawi, berpuasa dan berdoa sambil mencari kehendak Allah. Bukannya tiba-tiba ia bermimpi melihat Ribka di tanah Ur-Kasdim menantikan hamba Abraham. Ayat 40 menunjukkan bahwa Abraham hidup di hadapan Allah. Sebagai seorang yang hidup di hadapan Allah, ia tidak perlu berpuasa ataupun berdoa untuk mengetahui kehendak Allah. Berhubung ia hidup di hadapan Allah, maka apa pun yang diperbuatnya merupakan kehendak Allah dan seturut ekonomi Allah.

b) Mengamanati Hambanya Berdasarkan Tuhan

Abraham tidak mengamanati hambanya supaya setia, jujur, atau melakukan suatu pekerjaan yang baik; melainkan mengamanatinya dengan dan berdasarkan Tuhan (Kej. 24:2-3, 9, 40-41). Dari sini kita bisa melihat bahwa atmosfer di mana Abraham hidup adalah diri Tuhan sendiri. Dengan mengamanati hambanya berdasarkan Tuhan, ia membawanya lebih dalam kepada Tuhan. Demikian juga, jangan kita mengamanati orang lain dengan hikmat kita atau bahkan kasih kita, melainkan dengan Tuhan.

c) Percaya kepada Tuhan yang Berdaulat

Abraham percaya kepada Tuhan yang berdaulat, memberi tahu hambanya bahwa Tuhan akan mengutus malaikat-Nya dan membuat perjalanannya berhasil (Kej. 24:40). Seakan-akan Abraham berkata, “Allah pasti akan mengutus malaikat-Nya menyertaimu. Walaupun aku menugaskanmu untuk mengerjakan pekerjaan ini, namun aku percaya kepada Allah. Dari satu aspek, aku tidak yakin kamu sanggup menyelesaikan tugas ini, namun aku percaya kepada Allah yang hidup. Kamu tidak perlu bingung ataupun khawatir. Pergilah dan lakukanlah hal ini, karena Allahku akan mengu-tus malaikat-Nya melaksanakan perkara ini bagimu.” Betapa menakjubkan kehidupan yang ditempuh Abraham! Jika kita ini Abraham, mungkin kita akan berkata, “Hambaku, kamu harus tahu bahwa aku telah berpengalaman banyak. Baiklah sekarang kuberi sebuah peta dan penjelasan tentang orang-orangnya serta adat kebiasaan mereka.” Abraham tidak berbuat ini. Ia hanya berpesan kepada hambanya untuk melayani berdasarkan Tuhan, ia menjamin bahwa Allah akan mengirim malaikat-Nya dan membuat perjalanannya berhasil. Di sini kita nampak iman Abraham yang hidup.

2) Hamba yang Paling Tua

a) Setia dalam Tanggung Jawab

Hamba Abraham yang paling tua itu setia dalam tanggung jawab (Kej. 24:5, 9, 33, 54, 56). Ia dengan setia mengikuti jejak Abraham. Saya percaya bahwa ia terinfus oleh dan dengan hidup Abraham, melihat betapa Abraham melakukan segala sesuatu demi bersandar kepada Tuhan. Akibatnya, hamba ini pun bersandar kepada Allah.

b) Bersandar kepada Tuhan bagi Tanggung Jawabnya

Hamba Abraham bersandar kepada Tuhan atas tanggung jawabnya (Kej. 24:12, 21, 42). Dengan jelas, rendah hati, dan dengan cara yang sederhana sekali ia berdoa kepada Tuhan. Setiap orang yang benar-benar percaya kepada Allah adalah orang yang sederhana. Ketika ia tiba di sumur dekat kota Nahor, ia berdoa, katanya, “TUHAN, Allah tuanku Abraham, buatlah kiranya tercapai tujuanku pada hari ini, tunjukkanlah kasih setia-Mu kepada tuanku Abraham. Di sini aku berdiri di dekat mata air, dan anak-anak perempuan penduduk kota ini datang keluar untuk menimba air. Kiranya terjadilah begini: anak gadis, kepada siapa aku berkata: Tolong miringkan buyungmu itu, supaya aku minum, dan yang menjawab: Minumlah, dan unta-untamu juga akan kuberi minum — dialah kiranya yang Kautentukan bagi hamba-Mu, Ishak; maka dengan begitu akan kuketahui bahwa Engkau telah menunjukkan kasih setia-Mu kepada tuanku itu” (Kej. 24:12-24). Doanya terjawab segera. Bahkan sebelum ia selesai berbicara, Ribka telah datang dengan membawa buyung di atas bahunya. Dan ketika ia minta minum darinya, ia tidak saja memberi minum kepadanya, bahkan menimbakan air bagi semua unta-untanya. Setelah Ribka melakukan semuanya ini, hamba itu menjadi jelas bahwa Ribka itulah orang yang dicarinya, karena itu, ia memberi Ribka anting-anting emas dan sepasang gelang emas.

c) Mencari Pimpinan Tuhan dalam Suasana Sekeliling

Hamba itu mencari pimpinan Tuhan dalam suasana sekeliling, melalui ini ia mengetahui kehendak Tuhan (Kej. 24:13-21, 26-17, 48-49). Kita juga dapat nampak kedaulatan Allah melalui situasi sekeliling kita. Tidak seorang pun memberi tahu hamba itu agar pergi ke kota Nahor, kota tempat tinggal saudara Abraham. Ia hanya menuju ke sana dan di tepi sebuah sumur ia berjumpa dengan Ribka, yakni cucu perempuan Nahor. Tidak ada satu pun perkara yang kebetulan; setiap perkara telah ditentukan sebelum dunia dijadikan dan digenapkan melalui hamba Abraham, orang yang bersandar kepada Allah.

3) Ribka

a) Murni, Baik Budi, dan Rajin

Kejadian 24:16 memberi tahu kita bahwa Ribka “sangat cantik parasnya, seorang perawan”. Ribka murni dan suci. Ia pun baik budi dan rajin (Kej. 24:18-20). Ketika hamba Abraham minta minum kepadanya, segera ia memberikan kepadanya. Juga menimbakan air untuk unta-untanya. Menimba air dari sumur dan menuangkannya ke dalam palungan untuk diminum sepuluh ekor unta merupakan suatu pekerjaan yang berat bagi seorang perempuan muda, namun ia telah melakukannya. Saudari-saudari muda yang ingin berada di bawah kedaulatan Allah, teristimewa dalam hal pernikahan, mereka perlu menjadi orang yang baik budi dan rajin. Perempuan muda yang tidak ramah dan teledor seharusnya tetap bujangan. Ketika orang lain meminta Anda mengerjakan sesuatu, Anda harus mengerjakan dua perkara bagi mereka; perkara yang kedua harus melebihi perkara yang pertama. Jangan Anda hanya memberi minum kepada satu orang saja, melainkan juga timbakan air bagi sepuluh untanya. Jika Anda melakukan ini, Anda sudah memenuhi syarat untuk memperoleh suami Anda, yaitu Ishak Anda. Ini-lah sedikit nasihat bagi semua saudari muda.

b) Mutlak

Ribka itu bersikap mutlak (Kej. 24:57-58, 61). Meskipun Ribka tidak pernah bertemu dengan Ishak, namun ia rela pergi kepadanya tanpa ragu-ragu. Ia tidak berkata kepada ibunya, “Ibu, aku tidak pernah bertemu dengan Ishak. Mungkin aku harus mengadakan surat-menyurat dulu, kemudian meminta dia berkunjung. Setelah itu, barulah aku bisa memutuskan apakah aku menikah dengannya ataukah tidak.” Ribka tidak berkata demikian. Malahan saudara dan ibunya yang ragu-ragu, dan mengingini dia untuk tinggal lagi sekurang-kurangnya sepuluh hari. Namun ia berkata, “Aku pergi.” Sungguh mutlak sikapnya.

Selama 40 tahun yang silam ini, saya menjumpai sejumlah saudari muda yang mengalami problem mental sebagai akibat terlalu berlebihan mempertimbangkan masalah pernikahan. Ada yang berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun untuk mempertimbangkan apakah saudara tertentu itu adalah orang yang disediakan Allah baginya. Kapan kala saudari-saudari semacam ini datang kepada saya, dengan nada yang menegur saya berkata, “Bila Anda merasa bahwa dia adalah saudara itu, menikahlah dengannya dan tutuplah mata. Akan tetapi kalau bukan dia orangnya, lupakanlah dia dan jangan lagi membicarakannya. Semakin Anda mempertimbangkannya, berarti semakin menyusahkan Allah, diri Anda dan saya. Bagaimana mungkin saya dapat mengatakan ya atau jangan? Andaikata saya bilang ya, kelak Anda akan katakan bahwa saya tidak begitu mengenalnya. Andaikata saya bilang jangan, Anda pasti akan kebingungan karena Anda telah jatuh cinta kepada-nya. Jangan mempertimbangkan itu lebih lama lagi. Menikah dengannya atau lupakan dia, itu saja.” Saya sungguh serius memberi tahu mereka demikian. Saudari-saudari muda, jika kalian ingin menikah, belajarlah menjadi orang yang ramah, rajin, dan mutlak.

c) Patuh

Ribka juga bersikap patuh (Kej. 24:64-65). Begitu dia melihat Ishak dan mengetahui siapa dia, “Ribka mengambil telekungnya dan bertelekunglah ia.” Saudari-saudari, janganlah sekali-kali menaruh sepotong kain di atas kepala Anda hanya sebagai perhiasan belaka, melainkan hendaklah menjadi tanda ketaatan Anda. Begitu Anda menikah, Anda bukan lagi menjadi kepala atas diri Anda. Suami itulah kepala Anda, dan kepala Anda sendiri haruslah ditudungi. Inilah makna sejati pernikahan.

4) Laban dan Betuel

Laban dan Betuel takut akan Allah (Kej. 24:29-31). Mereka juga rela menerima (menyambut) orang (Kej. 24:31-33). Menyambut orang sering mendatangkan berkat yang paling besar. Bagi Ribka, putri Betuel, adik perempuan Laban, menjadi istri Ishak merupakan suatu berkat yang sangat besar. Berkat ini diperoleh dari kerelaan penyambutan mereka. Jika mereka tidak mau menyambut atau malahan menolak hamba Abraham, tentu pernikahan yang menakjubkan itu tidak akan terjadi. Tidak hanya demikian, mereka juga menerima kedaulatan Tuhan, katanya, “Semuanya ini datangnya dari TUHAN; kami tidak dapat mengatakan kepadamu baiknya atau buruknya” (Kej. 24:50-51, 55-60). Laban dan Betuel mengenal bahwa inilah perbuatan Tuhan, karena itu mereka tidak berhak mengatakan apa-apa tentang ini. Dari sini kita dapat melihat suasana hidup mereka, yakni hidup yang bersatu dengan Allah.

5) Ishak

Ishak bukanlah seorang yang aktif, karena ia tidak pernah mengerjakan apa-apa. Ia hanya tinggal di tepi sumur, tempat air hidup. Kejadian 24:63 mengatakan, “Menjelang senja Ishak sedang keluar untuk berjalan-jalan di padang.” Penerjemah Alkitab merasa sulit untuk menerjemahkan ayat ini dari bahasa Ibrani. Ada terjemahan yang mengatakan bahwa Ishak pergi ke padang untuk berdoa, sedang lainnya mengatakan ia pergi untuk menyembah. Kemungkinan sekali Ishak sedang merenung-renung di hadapan Allah, mungkin memikirkan pernikahannya. Ia telah kehilangan ibunya, belum beristri, dan hambanya yang paling bisa dipercaya kini sedang dalam perjalanan. Ishak tidak tahu apakah hambanya itu akan kembali. Keluarga itu tidak ada keamanan atau jaminan perlindungan; hal ini membuat dia berada dalam suasana yang tidak nyaman. Karena itulah ia pergi menuju ke padang, mencari Tuhan dan merenung-renung di hadapan Allah. Ketika ia sedang merenung, Ribka datang. Setelah hamba itu menjelaskan semuanya kepada Ishak, Ishak pun menerima apa yang telah diatur oleh ayahnya dan meni-kah dengan Ribka (Kej. 24:66-67). Pernikahannya merupakan sesuatu yang ia terima, bukan sesuatu yang ia perjuangkan (usahakan). Ia tidak mengusahakan seorang istri; ia sekadar menerima apa yang telah diatur oleh ayahnya baginya. Ia tidak berbuat sesuatu untuk memperoleh seorang istri. Ia hanya menerima apa yang diatur oleh ayahnya baginya. Bertindak demikian, ia bersatu dengan Tuhan sehingga tujuan Allah bisa digenapkan di dalam dirinya. Ia tidak mengadakan upacara atau liturgi pernikahan, namun memiliki satu pernikahan yang solid dan kokoh.

6) Menggenapkan Tujuan Allah

Akhirnya pernikahan Ishak menggenapkan tujuan Allah (Kej. 21:12b; 22:17-18). Kehidupan orang-orang dalam Kejadian 24 bukan hanya untuk kehidupan insani mereka sendiri, melainkan suatu kehidupan yang menghasilkan perampungan tujuan kekal Allah, kehidupan yang melahirkan Kristus dan menghasilkan Kerajaan Allah bagi ekonomi Allah.