← Daftar isi Kejadian (5) · bab 1/16

HIDUP DALAM PERSEKUTUAN DENGAN ALLAH KEMATIAN DAN PENGUBURAN SARA

(9) Kematian dan Penguburan Sara

Dalam berita ini kita memasuki Kejadian 23, pasal yang mengisahkan tentang kematian dan penguburan Sara. Semasih muda, saya tidak mengerti mengapa pasal ini dicatat dalam Kitab Kejadian. Seumur hidupnya, Abraham tentu telah mengerjakan banyak perkara besar; saya tidak mengerti mengapa tidak mencatat perkara-perkara itu, sebaliknya dua puluh ayat telah dipakai oleh Alkitab untuk menggambarkan bagaimana Abraham mengeluarkan waktu, tenaga, harta, bahkan beberapa kali bersujud untuk memperoleh tanah kuburan. Alkitab tidak pernah memboroskan kalimat sedikit pun. Setiap perkataan dalam Alkitab merupakan hembusan Allah, maka Kejadian 23 pun sangat bermakna. Kalau kita menganggap Kejadian 1 dan 2 sebagai sesuatu yang penting, kita harus pula menganggap penting Kejadian 23. Setiap orang Kristen menghargai Kejadian 1 karena ia memberikan catatan tentang penciptaan Allah. Kita menghargai Kejadian 1 bukan sekadar sebagai catatan mengenai penciptaan, tetapi juga sebagai catatan hayat. Di dalamnya membicarakan tentang gambar Allah dan kedaulatan Allah yang berhubungan dengan manusia yang diciptakan oleh Allah. Kita pun menghargai Kejadian 2 karena ia memberi tahu kita tentang pohon hayat. Sedikit di antara kita yang menghargai kuburan. Namun Kejadian 23 justru berfokus pada perkara kuburan, bahkan menyodorkan rincian atas pembelian tanah kuburan. Pengisahan ini ternyata lebih rinci daripada pengisahan lain yang terdapat dalam Kitab Kejadian. Catatan lainnya hanya merupakan catatan singkat, namun yang satu ini memberikan catatan yang lengkap dan jelas di mana lokasi kuburan itu, siapa pemiliknya, bagaimana membelinya, dan berapa jumlah yang harus dibayar Abraham. Kuburan ini diungkapkan secara bermakna sekali. Kita tahu bahwa nantinya bukan hanya Sara seorang yang dikubur di situ, melainkan juga Abraham, Ishak, Ribka, Yakub, dan Lea dikubur di situ. Ini memang bermakna, karena nama-nama Abraham, Ishak dan Yakub merupakan komponen-komponen nama ilahi Allah, yang menyatakan Allah kebangkitan (Mat. 22:32).

Kejadian 24 merupakan sebuah jendela dan melalui jendela ini kita dapat melihat Yerusalem Baru. Yerusalem Baru tidak ditemukan dalam pasal ini, tetapi melalui pasal ini kita dapat melihatnya. Pasal ini seolah sebuah teleskop; melaluinya kita dapat nampak tabernakel kekal yang jauh di dalam alam abadi.

Kejadian 21 memberikan catatan tentang kelahiran Ishak. Hal ini sungguh berharga untuk dibahas. Selanjutnya, pada pasal yang sama memberi tahu tentang Abraham menebus sebuah sumur, menanam pohon Tamariska, dan menyeru nama Yehova, El Olam. Seperti yang telah kita lihat bahwa dalam pasal 22 kita mempunyai perihal mempersembahkan Ishak. Kemudian dalam pasal 23 kita mempunyai catatan tentang kematian dan penguburan Sara. Ketiga pasal ini meliputi waktu sekurang-kurangnya 37 tahun. Sekalipun banyak perkara besar yang telah terjadi atas diri Abraham selama 37 tahun ini, namun hanya disebutkan empat perkara: kelahiran Ishak, tinggal di Bersyeba, mempersembahkan Ishak, dan kematian serta penguburan Sara. Ketiga pasal ini telah mengabaikan banyak perkara yang oleh konsepsi insani kita dianggap penting, sebaliknya secara mendetail mengisahkan kematian dan penguburan Sara. Karena itu, kita harus memperhatikan baik-baik Kejadian 23.

(a) Di Hebron — Tempat Persekutuan dengan Allah

Pada akhir pasal 22, Abraham, Sara, dan Ishak tinggal di Bersyeba, dan tidak perlu disangsikan lagi bahwa mereka hidup dekat sumur perjanjian dan pohon Tamariska. Ini adalah bentuk miniatur hidup gereja. Hidup gereja selalu berdampingan dengan sumur air hidup dan pohon Tamariska. Tiba-tiba, pada awal pasal 23 kita diberi tahu perihal kematian Sara. Meskipun Abraham, Sara, dan Ishak tinggal di Bersyeba, namun ketika Sara mati, ia dikuburkan di Hebron, tempat persekutuan dengan Allah. Sara dari Bersyeba menuju ke Hebron. Demikian juga, kalau Tuhan menunda kedatangan-Nya, saya pun rela tinggal dalam hidup gereja serta mati dalam persekutuan dengan Allah.

Menurut peta, Hebron terletak di antara Bersyeba dan Yerusalem. Bersyeba di Selatan dan Yerusalem di Utaranya. Jadi Yerusalem terletak di atas jalan antara Bersyeba dan Moria. Jika Tuhan menunda kedatangan-Nya, saya ingin dikubur di tempat yang terletak di jalan menuju Yerusalem Baru. Di manakah hari ini Anda tinggal? Kita semua harus menjawab, kita tinggal di Bersyeba, di dalam gereja yang berdekatan dengan sumur air hidup dan pohon Tamariska. Hidup gereja kita itulah Bersyeba hari ini. Sebelum Tuhan kembali, boleh jadi beberapa saudara yang tua akan meninggalkan Bersyeba, meninggalkan hidup gereja, dan mati di Hebron, pula di sana menunggu Yerusalem Baru. Hebron merupakan tempat persekutuan dengan Allah, tetapi juga jalan menuju ke Yerusalem. Gua Makhpela di Hebron merupakan pintu gerbang ke Yerusalem Baru. Mungkin suatu waktu kita akan mendengar Sara bersaksi, “Ketika aku masuk ke dalam gua Makhpela, aku masuk ke pintu gerbang yang menuju ke Yerusalem Baru.” Sara bukan hanya dikuburkan di gua Makhpela; sekarang ia tidur di sana, menantikan hari ia ba-ngun dan mendapatkan dirinya di Yerusalem Baru.

(b) Sara Mati Muda

Sara mati pada usia 127 tahun (Kej. 23:1-2). Untuk hari ini, umur ini sudah sangat tua, namun di masa itu, masih terlalu muda untuk mati. Abraham hidup 175 tahun (Kej. 25:7), ia masih hidup 38 tahun lagi setelah Sara mati. Sara tidak semestinya mati pada usia yang semuda itu. Mati 37 tahun setelah kelahiran Ishak (Kej. 17:1, 17; 21:5), tidaklah normal.

(c) Penderitaan Abraham

Abraham dan Sara merupakan pasangan suami istri yang terbaik di dalam alam semesta ini. Mereka benar-benar saling mengasihi satu terhadap yang lain, tidak pernah mempertimbangkan untuk bercerai atau berpisah. Ketika istri Abraham meninggal dunia, ini merupakan suatu kehilangan yang besar bagi Abraham maupun Ishak. Ishak merupakan putra kesayangan ibunya, maka tidak dapat diragukan lagi kalau ibunya amat mengasihinya. Pada umur 37 tahun, ia masih belum menikah dan tinggal bersama ibunya. Ketika ia menikah pada usia 40 tahun (Kej. 25:20), Alkitab memberi tahu kita bahwa Ishak menikah di dalam kemah ibunya (Kej. 24:67). Tiba-tiba kasih antara Abraham dengan Sara dan antara Sara dengan Ishak terputus oleh karena Sara yang menjadi istri dan ibu, direnggut oleh kematian yang abnormal. Abraham sangat menderita.

Jika Anda membaca kisah Abraham, Anda akan melihat bahwa Allah selalu merampas sesuatu dari dirinya. Lot dipisahkan darinya, Eliezer ditolak, Ismael diusir, dan Ishak dipersembahkan kepada Allah di atas mezbah. Kemudian istrinya yang tercinta meninggal dunia. Alangkah beratnya ujian dan penderitaan yang harus dialami Abraham! Menurut konsepsi alamiah kita, Abraham, orang yang demikian baik terhadap Allah, tidak seharusnya merasakan penderitaan seperti ini. Dalam pasal 22 Ishak dipersembahkan kepada Allah dan kembali kepada Abraham di dalam kebangkitan. Di tengah Abraham menikmati hidup bahagia dengan Sara istrinya, dan Ishak putranya, tahu-tahu Sara, faktor kebahagiaannya, diambil. Kebahagiaan dalam keluarga ini tergantung pada Sara, sang istri dan sang ibu. Karena kematian Sara, suasana hidup dan kebahagiaan keluarga ini terambil; bahkan keluarga ini pun sirna. Sungguh berat penderitaan Abraham!

Sebagai orang yang dipanggil Allah, kita tidak sewajarnya mengharapkan hidup yang bahagia di bumi ini. Kita harus mengikuti jejak Abraham, mengharapkan negeri yang lebih baik, kota yang berpondasi (Ibr. 11:10, 16). Hidup kita yang sementara di bumi ini merupakan hidup seorang pelancong atau perantau. Hal ini membuat Abraham sedikit sekali memperhatikan perihal tempat tinggalnya, paling-paling hanya memasang kemah. Ia seorang musafir, orang asing, yang mengharapkan tempat tinggal yang permanen.

Abraham menempuh hidup selama 38 tahun tanpa pertolongan Sara (Kej. 25:7-8). Dalam Alkitab, angka 38 menunjukkan angka penderitaan, pencobaan, dan ujian. Bani Israel mengalami pencobaan dan ujian di padang gurun selama 38 tahun. Seperti yang telah kita ketahui, Ishak menikah pada usia 40 tahun. Dalam Alkitab, angka 40 juga berarti penderitaan, pencobaan, dan ujian. Pada pasal ini kita menjumpai angka lainnya, 400, yaitu 10 kali 40. Pertama kali Alkitab memakai angka 400, yaitu di Kejadian 15:13, di mana Abraham diberi tahu bahwa keturunannya akan menderita sengsara selama 400 tahun. Dalam Kejadian 23:16, kita membaca Abraham membeli kuburan dengan harga 400 syikal perak. Ini menyatakan bahwa itu sebagai ujian, pencobaan, dan penderitaan. Di waktu yang lalu, ketika Anda membaca pasal ini, mungkin Anda tidak pernah merasakan betapa Abraham menderita. Tetapi perhatikan dua kata dalam ayat 2 “meratapi” dan “menangisi”. Abraham meratapi dan menangisi Sara karena ia telah kehilangan kebahagiaannya dan kehidupan keluarganya. Dalam bahasa Ibrani kata-kata “meratapi” dan “menangisi” menyatakan lebih susah daripada tangisan yang di luar saja. Abraham menderita akibat kehilangan istrinya pada masa tuanya; ia merasa sangat terluka. Penderitaan yang amat sangat itu dinyatakan dengan angka-angka 38, 40, dan 400.

(d) Kesaksian Abraham

Abraham yang menderita kehilangan istrinya yang terkasih, mempunyai kesaksian yang sangat kuat. Bani Het menyebutnya sebagai tuan dan memanggilnya “raja agung” (Kej. 23:6). “Raja agung” dalam bahasa Ibraninya boleh di-terjemahkan juga “pangeran Allah”. Dalam bahasa Ibrani, kata “agung” adalah kata yang dipakai untuk Allah. Abraham mengekspresikan Allah sebagai pangeran Allah dan cukup dihormati sebagai seorang pangeran yang agung. Dalam pandangannya sendiri, ia seorang musafir, tetapi dalam pandangan orang banyak, ia itu raja agung dan pangeran Allah. Ia benar-benar berbobot.

Kita semua perlu berbobot dan memiliki kesaksian yang sama seperti Abraham. Dalam lingkungan, pekerjaan, dan sekolah, tidak sepatutnya kita tidak berbobot dan dipandang rendah. Kita harus berbobot dan bernilai tinggi dalam pandangan orang lain. Meskipun kita tidak menilai tinggi diri kita, namun kita harus mempunyai nilai yang tinggi terhadap orang lain. Saya mengharapkan guru-guru di SMP bisa mengatakan bahwa saudara-saudara muda dari gereja, yang sebagai murid-murid di kelas, adalah raja-raja agung. Saudara-saudara muda jangan hanya berani berdoa di tempat sidang saja. Di sekolah kalian harus juga berbobot. Hanya memiliki kelakuan baik saja masih tidak cukup. Kita harus berbobot. Emas dan berlian itu berbobot, tetapi jagung bembam (marning) dan kembang gula itu ringan adanya. Jika Anda adalah emas dan berlian, Anda akan mantap dan berharga. Sebagai orang yang dipanggil Allah, kita orang-orang Kristen harus berbobot, agar orang banyak menjadi heran dan berkata, “Mengapa orang muda ini sangat berbobot? Ia tidak umum, juga tidak abnormal. Meskipun ia seorang pemuda yang normal, namun tidak boleh dipandang enteng. Ia layak menjadi pangeran.”

Kita berbobot karena memiliki Allah di dalam kita. Ka-um yang terpanggil perlu menyeru nama Yehova, El Olam. Semakin Abraham menyeru nama ilahi ini, semakin ia berbobot. Allah itulah emas. Bila kita menyeru Dia, kita akan menjadi emas. Semakin kita menyeru Allah emas itu, unsur emas-Nya akan semakin diinfuskan ke dalam kita. Perhatikan perbedaan antara kayu dan kayu yang membatu. Kayu itu ringan, tetapi kayu yang membatu itu berat. Kayu yang membatu malahan lebih berat daripada batu, karena mineral-mineral yang berat bobotnya telah tergarap ke dalamnya. Ketika kita dilahirkan di dunia, kita ringan, tetapi kita yang telah dilahirkan kembali, menjadilah berbobot. Di samping kelahiran kembali, kita memiliki proses transformasi. Cara supaya kayu menjadi kayu yang membatu ialah melalui dilewati aliran air secara terus-menerus. Aliran air ini mengangkut unsur-unsur kayu dan menambahkan bermacam-macam unsur mineral ke dalamnya, mengubah kayu itu menjadi berat, menjadi batu yang berharga.

Masih belum cukup bagi kita sekadar menjadi tetangga yang baik. Kita harus menjadi anak-anak Allah yang berbobot. Sebagai orang yang dipanggil Allah, kita sekarang ada di bawah infusi-Nya. Kita harus kuat dan berbobot, hingga orang-orang akan berkata bahwa kita inilah raja agung, pangeran Allah.

Sebagai raja agung, Abraham sangat dihormati (Kej. 23:6). Ia menghormati orang lain dan ia pun sangat dihormati mereka. Dia juga berhikmat (Kej. 23:3-13). Dalam pasal ini kita melihat bahwa dengan cara yang berhikmat Abraham berkomunikasi dengan orang-orang, berbicara kepada mereka dengan penuh wibawa dan sikap yang bijaksana. Tambahan lagi, Abraham jujur dan tidak mengambil keuntungan dari orang lain (Kej. 23:14-16). Tujuannya ialah membeli tanah kuburan. Ketika dengan sopan tanah itu hendak diberikan kepadanya sebagai pemberian, namun setelah Abraham mengetahui bahwa tanah itu bernilai 400 syikal perak, ia segera menyetujui untuk membayar penuh jumlah tersebut. Ia tidak mau menunggangi kesempatan agar meraih keuntungan dari orang lain, ia pun tidak mau tawar-menawar harganya. Ia membayar menurut harga yang diminta Efron, dan memberinya jumlah uang yang penuh. Demikian juga, jangan kita memberi kesan kepada orang lain bahwa kita ini berhati sempit; kita harus menunjukkan kekayaan kita. Inilah kesaksian kita. Saya merasa tingkatan moralitas dalam kekristenan hari ini mengecewakan orang. Rendah sekali standard tingkah laku yang ada di sana. Kita harus mengekspresikan Allah, menunjukkan bahwa kita ini anak-anak Allah, berbobot, terhormat dan jujur. Kita rela menderita kerugian, tanpa mengambil keuntungan dari orang lain. Entah kita kehilangan, entah kita beruntung, semuanya itu tidak berarti. Kita kehilangan, tetap masih hidup; kita beroleh sesuatu, itu pun tidak dapat membuat kita hidup lebih lama. Bagaimanapun, kita harus belajar menjadi jujur, terhormat, mengekspresikan Allah dengan sikap yang mantap.

(e) Makam Pilihan

Kejadian 23:6 menuliskan makam “pilihan”, menunjukkan makam yang terbaik. Ketika Tuhan Yesus di bumi, Ia tidak mempunyai tempat tinggal yang bagus. Tetapi ketika Ia mati, Ia ditaruh di dalam makam yang baik (Mat. 27:57-60). Ia hidup dalam rumah yang miskin, tetapi dikubur dalam kuburan yang baik. Dalam Alkitab, ini merupakan satu prinsip. Janganlah kita hidup dalam rumah yang bagus, tetapi harus menyediakan makam yang terbaik. Abraham lebih memperhatikan kuburan daripada kemah. Kitab Kejadian tidak memberi tahu bagaimana Abraham membangun kemahnya, berapa uang yang dikeluarkannya, atau di mana tepatnya ia membangun. Ia memasang kemahnya seperti orang-orang yang pergi berkemah di gunung hanya untuk beberapa hari saja. Abraham adalah pengkemah sejati, yang berkemah sepanjang hidupnya. Meskipun ia tidak banyak memperhatikan tentang kemah, tetapi ia sangat memperhatikan tentang kuburan. Dalam pasal ini kita menemukan gambaran lengkap dan rinci mengenai gua Makhpela di ladang Efron. Kota Yerusalem di Perjanjian Lama pun tidak digambarkan serinci ini.

Mari sekarang kita melihat maknanya. Dalam terang Perjanjian Baru, kita dapat nampak bahwa Abraham dipanggil Allah dan menyadari dirinya adalah orang asing, pengembara, pencari kota yang permanen dan negeri yang lebih baik (Ibr. 11:9-10, 16). Ketika ia mencari negeri yang lebih baik, istri tercintanya tiba-tiba meninggal. Abraham tidak kehilangan imannya. Tidak pernah ia berkata kepada Ishak, “Ishak, aku dan ibumu mencari kota yang berpondasi dan negeri yang lebih baik yang telah Allah janjikan kepada kita. Kita selalu mengharapharapkan hal ini. Sekarang ibumu sudah tiada. Bagaimana ia memasuki kota itu? Boleh jadi Allah kita tidak bisa dipercayai lagi, maka kita tidak usah percaya lagi kepada-Nya.” Abraham tidak berkata demikian. Kalau kita memeriksa tulisan dalam Kitab Ibrani, kita akan nampak bahwa Abraham tidak kecewa, juga tidak kehilangan imannya. Sebaliknya ia malahan menaruh iman yang kukuh terhadap Allah Sang kebangkitan, serta yakin bahwa istrinya yang tercinta akan berada dalam kota dan negeri yang lebih baik itu. Percaya ini menyiratkan kebangkitan.

Kejadian 23 bukanlah pasal mengenai kebangkitan, melainkan pasal mengenai pintu gerbang memasuki kebangkitan. Dalam Kejadian 23 Sara tidak masuk ke dalam kebangkitan, melainkan masuk ke dalam pintu gerbang itu. Menurut pengertian Abraham, kematian Sara adalah masuk ke dalam pintu gerbang kebangkitan. Abraham tidak memandang ringan perkara ini. Walaupun ia tidak begitu memperhatikan kemahnya, namun ia tidak memandang remeh atas tempat penguburan istrinya. Maksud Abraham membeli gua Makhpela bukan hanya untuk mengubur Sara, juga untuk mengubur dirinya. Kata “makhpela” dalam bahasa Ibrani mengandung arti “pasangan” atau “ganda”. Orang yang dikubur dalam gua ini merupakan pasangan: Abraham dengan Sara, Ishak dengan Ribka, Yakub dengan Lea (ayat 19; 25:9; 49:29-32; 50:13). Dalam batinnya, Abraham dipenuhi dengan pengharapan bahwa pada suatu hari istrinya akan berada di dalam kota yang berpondasi. Ini menyiratkan kebangkitan. Menjelang kema-tiannya, Yakub memberi tahu anak-anaknya supaya menguburkan dirinya di gua Makhpela. Di zaman kuno, membawa Yakub dari Mesir ke Kanaan dan menguburkannya di sana bukanlah perkara yang mudah. Namun, putra-putra Yakub melakukannya menurut pesan ayahnya (Kej. 50:13). Dari sini kita tahu bahwa menjelang ajalnya, Yakub tidak menganggap kematian sebagai pengakhiran atau penghabisan, melainkan sebagai stasiun, sebagai pintu gerbang memasuki negeri yang lebih baik.

Abraham dipenuhi pengharapan akan kebangkitan. Boleh jadi ia lebih menyayangi tubuh istrinya yang telah mati itu daripada sewaktu Sara masih hidup. Kalau saja Sara bisa berbicara kepada Abraham, mungkin ia akan berkata, “Abraham, mengapa engkau begitu baik setelah aku mati? Semasa hi-dupku, engkau tidak pernah menyediakan kemah yang baik bagiku. Sekarang, setelah aku mati, engkau mengeluarkan uang yang banyak untuk membeli gua bagi penguburanku. Mengapa engkau membeli gua dengan ladang dan segala pohon-pohonnya? Apa yang sedang kaulakukan?” Boleh jadi Abraham akan berkata, “Sara, engkau harus tahu bahwa engkau bukan dikubur di sini. Engkau hanya mengaso. Aku telah menyediakan sebuah kamar tidur yang terbaik bagimu, di mana engkau bisa beristirahat dan menantikan hari itu. Apabila hari itu masih jauh, aku akan datang dan bersatu denganmu dan kita akan beristirahat bersama-sama. Inilah sebabnya mengapa aku membeli gua berikut ladangnya. Perhatikan hayat yang ada di ladang, di sini bukan tempat kematian, melainkan tempat hayat.”

Dalam Alkitab, ladang menandakan pertumbuhan hayat, yaitu kebangkitan. Bahkan hari ini juga demikian. Jika Anda tidak percaya akan kebangkitan, saya akan meminta Anda memperhatikan ladang gandum. Tidak lama setelah butir-butir gandum ditanam, mereka akan bertumbuh. Tahun 1936, saya menginjil kepada sekelompok mahasiswa di Universitas Ching Hua di China. Suatu malam, setelah saya memberitakan Injil, seorang mahasiswa muda datang kepada saya dan mohon saya menjelaskan tentang kebangkitan, katanya, “Aku tidak ada masalah terhadap kekristenan, tetapi aku tidak bisa menerima tentang kebangkitan. Mana mungkin, dalam zaman modern, zaman kemajuan ilmiah, kita bisa mempercayai perkara yang takhayul seperti kebangkitan? Mana mungkin orang-orang yang sudah mati dibangkitkan? Apalagi perkara yang satu ini merupakan pengajaran yang utama dalam Alkitab?” Saya menjawabnya, hal ini mudah diterangkan. Melalui jendela ruangan di mana kami duduk, kami dapat memandang ladang-ladang gandum. Saya berkata, “Perhatikan ladang-ladang gandum itu. Apakah engkau melihat gandum-gandum yang tumbuh di sana? Bukankah engkau telah melihat kebangkitan di ladang-ladang itu. Benih itu ditabur ke dalam tanah, mati dan akhirnya bermunculan tanaman-tanaman gandum. Inilah justru kebangkitan.” Gambar yang sederhana ini telah meyakinkan dia, sehingga ia pun beroleh selamat.

Ladang yang sedang bertumbuh menandakan kebangkitan, tetapi kayu yang terapung menandakan kematian. Abraham tidak meletakkan Sara di tempat kematian, melainkan di tempat yang penuh hayat, penuh kebangkitan. Gua tempat ia dikuburkan terletak di ujung ladang (ayat 9), dan di dekatnya banyak tumbuh pepohonan (ayat 17). Andaikata gua Makhpela dikelilingi oleh tumpukan kayu-kayu yang terapung, tentu orang-orang yang melihat hal ini akan mempunyai perasaan bahwa itu tempat kematian, tempat pengakhiran. Lain dengan gua Makhpela, bukanlah tempat pengakhiran, melainkan tempat yang penuh dengan harapan kebangkitan. Gua itu pada jalan menuju kebangkitan. Di tem-pat ini, Sara dapat tidur dan beristirahat dengan tenang sementara ia menantikan hari itu. Jika ia dapat bicara, ia akan berkata, “Aku bukan menanti di tempat kematian. Aku berada di tempat yang hidup. Pandanglah ladang-ladang dan pepohonan. Suatu hari, aku akan di dalam kebangkitan.” Abraham sedang mengharapkan satu negeri yang lebih baik dan kota yang berpondasi, karena itu kematian Sara tidak membuatnya putus asa. Sebaliknya, keadaan tersebut makin mengobarkan pengharapannya terhadap hari yang akan da-tang. Karena itu, ia makin banyak mencurahkan perhatiannya dan mengeluarkan uang yang banyak guna membeli kuburan bagi Sara, dirinya, dan keturunannya. Jika kita mempunyai terang Perjanjian Baru, kita akan mengenal bahwa ini menyatakan pengharapan akan kebangkitan. Sekali lagi saya katakan, kuburan di sini merupakan jalan pengantar dan pintu gerbang yang menuju kota yang diharapkan, yakni Yerusalem Baru. Haleluya, gua Makhpela berada pada jalan menuju Yerusalem!

Kita tahu bahwa Kejadian 23 menunjukkan pengharapan akan kebangkitan, sebab Tuhan Yesus berkata bahwa Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub bukanlah Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup (Mat. 22:31-32). Dalam mata kita, Abraham, Ishak, dan Yakub telah mati, tetapi dalam mata Allah, mereka itu hidup.

Nenek moyang kita, Abraham, orang yang dipanggil Allah, tidak banyak memperhatikan masa kini, tetapi ia benar-benar memperhatikan masa yang akan datang. Kuburan pilihan adalah untuk kelak hari. Secara prinsip, kita pun tidak seharusnya menyediakan rumah yang mewah bagi hari ini, melainkan sebuah pintu masuk bagi kelak hari. Kita di sini bukan untuk hari ini, melainkan untuk besok. Jika Tuhan menunda kedatangan-Nya, kita semua akan memasuki pintu gerbang ini. Kita jangan terlampau banyak mencurahkan perhatian bagi hari ini, tetapi lebih banyak bagi waktu yang akan datang. Kita patut tinggal di dalam kemah sambil mencari kota yang berpondasi.