← Daftar isi Kejadian (5) · bab 15/16

DITANGGULANGI (7)

Seluruh Alkitab merupakan hembusan Allah (2 Tim. 3:16 Tl.), dan seluruh Alkitab merupakan satu kitab hayat. Percayakah Anda bahwa Kejadian 31, pasal yang hendak kita lihat dalam berita ini, sesungguhnya merupakan hembusan Allah? Semasa muda, saya menganggap setiap kata dan setiap kalimat dalam Kitab Efesus diinspirasikan oleh Allah, namun saya tidak menghargai Kejadian 31 sebanyak yang saya berikan kepada Kitab Efesus. Percayakah Anda bahwa catatan yang terkandung dalam pasal ini merupakan perkataan hayat? Tidak disinggung tentang hayat dalam pasal ini; sebaliknya malahan mengisahkan pencurian terafim rumah tangga dan pembicaraan diplomatik. Apakah ini perkataan hayat? Jika kita ingin melihat bahwa Kejadian 31 merupakan perkataan hayat, kita perlu melihat pasal ini bersama seluruh isi Alkitab.

Dalam Kejadian 28, Yakub bermimpi ketika ia sedang dalam perjalanan menuju rumah Laban. Arti mimpi itu mewahyukan betapa Allah menginginkan sebuah rumah di atas bumi, dan Ia bermaksud agar orang-orang yang dipanggil-Nya dijadikan batu, yaitu bahan bangunan-Nya. Apakah Yakub yang terwahyukan dalam Kejadian 31 itu adalah bahan bangunan yang layak bagi rumah Allah? Tidak, ketika ia nampak mimpi itu, ia bukan seorang ksatria, melainkan seorang yang licik. Percayakah Anda kalau orang yang selicik Yakub dapat dijadikan bahan yang berharga bagi pembangunan rumah Allah di atas bumi? Kalau Anda menjawab, “Ya”, ini karena Anda tahu bahwa Anda sama dengan Yakub. Kita semua adalah Yakub. Tetapi Yakub yang licik ini telah ditentukan akan menjadi bahan bangunan rumah Allah. Pasal 31 mewahyukan bahwa melalui penanggulangan Allah, orang yang licik seperti itu bisa menjadi bahan bangunan tempat kediaman Allah. Pasal ini meneruskan catatan penanggulangan Allah terhadap orang pilihan-Nya. Berhubung pasal ini memperlihatkan penanggulangan Allah terhadap Yakub, maka dengan sendirinya merupakan perkataan hayat.

Yakub tinggal bersama Laban selama dua puluh tahun. Dalam Kejadian 31:7, Yakub mengatakan bahwa Laban telah mengubah upahnya sebanyak sepuluh kali. Angka sepuluh menyatakan kesempurnaan penanggulangan tertentu. Yakub seolah berkata, “Laban bukan hanya mengubah upahku sembilan kali, bahkan sebanyak sepuluh kali. Ia telah sepenuhnya menanggulangi aku.” Angka dua puluh, adalah dua kali angka kesempurnaan, yakni terdiri dari dua kali sepuluh. Allah menaruh Yakub di bawah tangan Laban selama dua puluh tahun, agar Yakub benar-benar memperoleh penanggulangan. Namun setelah masa dua puluh tahun itu berlalu, kita nampak dalam Kejadian 31, Yakub masih belum terubah dengan sempurna. Mungkin kita merasa kecewa dan berkata, “Jika proses pengubahan ini tidak tercapai dalam jangka waktu dua puluh tahun, lalu berapa lamakah waktu yang diperlukan? Boleh jadi sebelum pengubahan itu rampung, Tuhan sudah kembali.” Tetapi jika Anda membandingkan Yakub dalam pasal ini dengan Yakub dalam pasal-pasal sebelumnya, niscaya kelihatan bahwa ia sesung-guhnya telah mengalami suatu pengubahan. Suatu pengubah-an yang besar telah terjadi atas diri Yakub setelah tinggal dua puluh tahun dengan Laban. Pada permulaan dua puluh tahun itu, ia benar-benar seorang perebut, tetapi pada akhir tahun-tahun itu, sekurang-kurangnya ia telah agak berubah. Membaca pasal 31, kita mengetahui bahwa Yakub yang licik itu telah mengalami suatu perubahan yang berarti. Walaupun ia telah agak berubah, namun dalam pasal ini ia masih sangat alamiah.

Mungkin Anda ingin tahu bagaimana pasal ini menyingkapkan kealamiahan Yakub. Yakub merasa takut kepada Laban, karena ia menyadari bahwa dirinya tidak dapat mengalahkan dia. Yakub mengakui bahwa dirinya tidak berdaya. Inilah sebabnya ia melarikan diri dari Laban dan pergi dengan diam-diam. Jika ia memiliki keberanian, jika ia yakin bahwa dirinya mampu mengalahkan Laban, ia pasti tidak akan melarikan diri. Sebaliknya, ia akan berkata, “Laban, engkau terlampau menyiksa aku. Sekarang aku mau pergi. Selamat tinggal!” Yakub tidak mempunyai keberanian untuk melakukan hal ini. Sebaliknya, ia dengan diam-diam melarikan diri. Laban mengejar Yakub yang melarikan diri. Pada malam hari sebelum Laban mendapati Yakub, Allah berbicara kepada Laban dalam mimpi, kata-Nya, “Jagalah baik-baik, supaya engkau jangan mengatai Yakub dengan s-patah kata pun” (ayat 24). Laban lebih licik daripada Yakub, namun saat itu Allah memaksanya bersikap jujur, sehingga Laban malahan memberi tahu Yakub apa yang telah Allah katakan kepadanya, katanya, “Aku ini berkuasa untuk berbuat jahat kepadamu, tetapi Allah ayahmu telah berfirman kepadaku tadi malam: Jagalah baik-baik, jangan engkau mengatai Yakub dengan sepatah kata pun” (ayat 29). Andaikata saya adalah Laban, saya tidak akan mau mengatakan hal ini. Namun Laban ternyata cukup bodoh sehingga membongkar hal ini. Karena itu setelah mencela Laban karena meng-geledah barang-barang miliknya, Yakub lalu berkata, “Ke-sengsaraanku dan jerih payahku telah diperhatikan Allah dan Ia telah menjatuhkan putusan tadi malam” (ayat 42). Yakub sepertinya mengatakan, “Laban, engkau memang memiliki kekuatan dalam tanganmu, tetapi aku memiliki Allah yang menyertai aku. Kekuatanmu tidak dapat mengalahkan Allahku.” Dikarenakan perkataan Laban itu, maka Yakub kemudian berubah menjadi berani menghadapinya. Inilah reaksi alamiah Yakub. Jika Yakub benar-benar rohani, ketika Laban menceritakan mimpinya, ia hanya akan berkata, “Puji Tuhan, ya Tuhan, terima kasih pada-Mu.” Yakub boleh berkata, “Laban, Allah ayahku telah berbicara kepadamu, maka aku tidak perlu berbicara apa-apa lagi. Terpujilah Tuhan!” Meskipun ia hanya berbicara sebanyak ini, ekor alamiah Yakub masih tetap terlihat. Jika ekor alamiahnya tidak lagi tersisa, ia tidak akan berkata apa-apa kecuali, “Pujilah Tuhan, Laban pamanku.” Kemudian ia akan berpaling kepada Tuhan dan berkata, “Ya, Tuhan, aku memuji-Mu. Aku sungguh bersyukur kepada-Mu karena aku ada di dalam tangan-Mu.” Setelah mendengar bahwa Allah berbicara kepada Laban dengan melarangnya untuk berbuat sesuatu kepada dirinya, Yakub segera menjadi berani dan dengan tanpa takut mencela Laban, menunjukkan bagaimana Laban menggeledah barang-barangnya, memaksanya untuk mengembalikan domba-domba yang hilang kecurian, bahkan mengubah upahnya sebanyak sepuluh kali (ayat 36-41). Seakan-akan Yakub berkata, “Lihatlah apa yang kauperbuat! Aku telah melayanimu selama dua puluh tahun dan engkau mengubah-ubah upahku sampai sepuluh kali. Sekarang engkau menggeledah semua barangku dan tidak menemukan apa pun. Apakah makna semuanya ini?” Kelihatannya ini berterus terang, namun ini berasal dari manusia alamiahnya. Yakub di sini bukannya buruk atau licik, tetapi alamiah. Ini membuktikan bahwa Yakub belum diubah dengan sempurna.

Sebelum pasal 32, tidak ada catatan tentang Yakub berdoa. Dalam Kejadian 32:3-4, Yakub menyuruh utusannya untuk menemui Esau, diperintahkannya mereka untuk memanggil Esau sebagai tuannya. Kemudian para utusan itu kembali dengan membawa laporan kepada Yakub, “Kami telah sampai kepada kakakmu, kepada Esau, dan ia pun sedang di jalan menemui engkau, diiringi oleh empat ratus orang” (32:6). Mendengar hal ini, Yakub ketakutan dan berdoa kepada Tuhan untuk hal ini. Karena takut kalau-kalau Esau berencana membunuhnya beserta keluarganya, maka Yakub terpaksa berdoa. Menurut catatan Kitab Kejadian, ini merupakan doa Yakub yang pertama kali. Sebelum ini, Yakub tidak pernah berdoa, karena dia selalu memiliki akalnya sendiri. Di saat ia melarikan diri dari Laban, ia pun menggunakan siasatnya, membujuk istri-istrinya dengan nada yang meyakinkan untuk berdiri di pihaknya dalam hal melawan ayah mereka. Yakub bukan ahli berperang seperti Esau, namun dia benar-benar seorang yang pandai berbicara.

Kejadian 31 telah menyingkapkan keadaan kita, mem-beri gambaran seutuhnya tentang apa adanya kita. Dan ini sudah tentu merupakan perkataan hayat. Meskipun istilah hayat tidak disinggung dalam pasal ini, tetapi hayat yang terkandung dalam Injil Yohanes, injil hayat itu, ditemukan dalam pasal ini. Dalam Yohanes 10:10 Tuhan Yesus berkata, “Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup (hayat), dan mempunyainya dengan berlimpah-limpah.” Jalan mencapai hayat yang berlimpah-limpah terdapat di dalam Kejadian 31, bukan Yohanes 10. Kejadian 31 adalah wahyu atas diri kita ini.

Sepanjang pelayanan saya, saya banyak menjumpai urusan yang menyangkut hubungan antara suami istri, dan sering pula saya diminta menengahi urusan antara suami dan istri. Setiap istri yang minta saya menengahi antara dia dan suaminya selalu mempunyai perkiraan bahwa setelah saya berdoa bagi mereka, suaminya akan berubah menjadi malaikat. Banyak di antara kita yang masih berpegang kepada konsepsi ini. Beberapa saudari mungkin berkata kepada diri mereka, “Suamiku sangat kasihan. Kalau ada penatua dan saudari-saudari terkemuka mendoakan dia, tentu Tuhan akan mengubahnya menjadi malaikat. Kalau suamiku tidak dapat menjadi penatua di dalam gereja, sedikitnya ia bisa menjadi diaken.” Tuhan tentu akan menjawab doa kita, namun Ia tidak akan melaksanakan menurut cara kita, melainkan menurut cara-Nya. Cara Tuhan bukan seperti sulap. Jangan sekali-kali mengharapkan suami Anda berubah menjadi malaikat dalam waktu satu hari, sehingga Anda bisa bersaksi pada pertemuan berikutnya.

Banyak di antara kalian yang telah menempuh hidup gereja bertahun-tahun. Mungkin Anda selalu berdoa bagi diri Anda sendiri, mohon Tuhan mengubah Anda. Sudahkah Anda berubah? Anda harus mengakui bahwa Anda sedikit banyak masih alamiah. Dalam sidang (pertemuan) gereja, kita semua nampaknya telah diubah, tetapi bagaimanakah penampilan Anda sewaktu di meja makan dengan istri Anda? Banyak di antara kita yang harus mengakui bahwa keadaan kita sama seperti Yakub dalam Kejadian 31. Saya bersyukur kepada Tuhan bahwa bertahun-tahun ini telah terjadi perubahan yang mencolok di atas diri banyak orang saleh. Namun, di manakah Anda berada hari ini? Dalam Kejadian 48 atau Kejadian 31? Anda harus mengakui bahwa Anda paling jauh berada dalam Kejadian 31. Kita tidak dapat memiliki kematangan hayat, perubahan hayat dalam semalam saja, bahkan untuk beberapa tahun pun belum tentu cukup. Ini adalah perkara seumur hidup. Berlainan dengan pertumbuhan jamur.

Jika Anda mempelajari biografi Yakub, Anda akan melihat bahwa bahkan ia di dalam rahim ibunya, Allah sudah mulai menanggulanginya. Hayat alamiah Yakub mengetahui bahwa di dalam kandungan ibunya ada dua orang. Ia sudah mencoba dengan sekuat tenaga untuk dilahirkan duluan, namun Allah mengizinkan abangnya yang dilahirkan duluan. Sejak itu, pasal demi pasal, kita melihat Yakub berjuang keras. Sampai akhir Kitab Kejadian, perjuangan Yakub telah lewat. Ketika Yakub menyembah Allah, tangan-tangan perebut itu kini bersandar pada ujung tongkatnya, pertanda hidup musafirnya di atas bumi (Ibr. 11:21). Pada akhir Kitab Kejadian, Yakub telah diubah sepenuhnya. Hanya pada penutupan usianya itulah perubahannya rampung dengan sempurna. Pengubahan memerlukan seluruh umur kita. Jangan sekali-kali mengharapkan hal ini disempurnakan dalam beberapa tahun saja. Saya percaya bahwa setiap hari bahkan setiap jam ada sesuatu yang bekerja untuk mengubah kita. Walaupun demikian, ini tetap memerlukan waktu yang panjang. Antara 50 pasal Kitab Kejadian ini, muatan tentang Yakub menduduki separuh lebih. Ini merupakan catatan yang panjang yang menyangkut pengubahan hayat. Tuhan Yesus dapat saja menyelamatkan kita dalam sekejap mata, kita pun dapat segera mempersembahkan diri kita, dan secara cepat menempuh hidup gereja. Tetapi untuk peng-ubahan memerlukan waktu yang panjang. Kita perlu banyak kali naik dan turun. Kadang-kadang dalam satu hari naik turun tiga kali. Inilah keadaan alamiah kita, hayat alamiah kita.

Dalam hal pemilihan dan pengubahan oleh Allah, Yakub merupakan model dalam Alkitab. Roma 9 memberi tahu kita perihal ini. Namun dari abad ke abad tidak banyak orang Kristen yang nampak hal ini, mereka menganggap pasal-pasal mengenai sejarah penanggulangan atas Yakub sekadar cerita yang menarik. Hanya sedikit orang Kristen yang nampak pasal-pasal ini sebagai catatan model pengubahan hayat.

(12) Perubahan Suasana Sekitar Yakub

Dalam pasal 31, tiba-tiba suasana sekitar Yakub berubah. Saudara-saudara sepupunya merasa iri terhadap dia (ayat 1), dan roman muka pamannya tidak lagi seperti yang sudah-sudah kepadanya (ayat 2). Perubahan ini justru untuk kebaikan Yakub. Dalam pasal ini Yakub berada di dalam proses pengubahan. Dengan kedaulatannya Allah menyediakan segala sesuatu untuk mengubah kita. Kita harus percaya ini. Tidak ada satu perkara pun dalam Kejadian 31 yang merupakan perkara kebetulan; segala sesuatu telah direncanakan sebelumnya. Di bawah kedaulatan Allah, Laban memiliki banyak putra. Di waktu lampau saya berpendapat, alangkah baiknya jika Laban tidak memiliki putra-putra kecuali hanya mempunyai dua orang putri itu saja. Sayang, Laban mempunyai beberapa putra. Dua puluh tahun lamanya Yakub tinggal bersama Laban. Laban dan putra-putranya memandang Yakub sebagai pembawa keberuntungannya. Laban mengakui bahwa perihal tinggalnya Yakub bersama mereka merupakan keuntungan (Kej. 30:27). Tetapi Kejadian 31:1 mengatakan bahwa Yakub mendengar putra-putra Laban berkata, “Yakub telah mengambil segala harta milik ayah kita dan dari harta itulah ia membangun segala kekaya-annya.” Ini adalah suatu fakta. Menurut catatan tentang Yakub, Allah mewahyukan dalam mimpi bahwa Ia mengambil ternak Laban dan memberikannya kepada Yakub (Kej. 31:11-12). Tahun-tahun itu, putra-putra Laban menyaksikan ternak ayah mereka semakin berkurang, sedang milik Yakub terus-menerus bertambah. Iri hati mereka terhadap Yakub sudah mencapai tingkat tidak dapat membiarkan hal ini berlangsung lebih lama lagi. Ini bukanlah suatu hal yang kebetulan. Bersamaan dengan itu, “kelihatan kepada Yakub dari muka Laban, bahwa Laban tidak lagi seperti yang sudah-sudah kepadanya” (Kej. 31:2). Sepanjang dua puluh tahun yang lampau, wajah Laban mungkin selalu tersenyum kepada Yakub, karena Yakub menyebabkan dia beruntung. Tetapi setelah Laban merasa bahwa Yakub tidak lagi menjadi penyebab keberuntungannya, berubahlah air mukanya terhadap Yakub. Siapa saja kalau mengetahui bahwa Anda adalah penyebab keuntungannya berkurang, air muka orang itu pasti akan berubah terhadap Anda. Jangan mudah percaya bahwa seseorang itu sungguh-sungguh baik terhadap Anda. Setelah empat belas tahun tinggal bersama Laban, Yakub memberi tahu Laban bahwa ia akan pergi (Kej. 30:25-26). Namun sebenarnya ia tidak berniat pergi. Ini suatu permainan politiknya agar memperoleh sesuatu dari Laban. Laban jelas mengetahui bahwa berkat Allah beserta dengan Yakub, maka ia tidak mengizinkan Yakub pergi. Karena itu kemudian mereka berembuk kembali dan membuat suatu persetujuan, supaya Yakub tetap tinggal pada Laban untuk beberapa waktu. Tetapi setelah berselang beberapa tahun, Laban menyadari bahwa peningkatan jumlah selalu terjadi pada pihak Yakub, maka berubahlah air mukanya. Keadaan ini juga sebelumnya telah direncanakan Allah. Berhubung telah tiba saatnya bagi Yakub untuk pulang, maka Allah mengatur saudara sepupunya untuk menunjukkan sikap mereka, dan juga mengatur Laban untuk berubah sikap terhadapnya.

Yakub harus mempertimbangkan betul-betul apakah ia akan tetap tinggal atau pergi. Dalam keadaan seperti itu, Allah turun tangan dan berkata kepada Yakub, “Pulanglah ke negeri nenek moyangmu dan kepada kaummu, dan Aku akan menyertai engkau” (Kej. 31:3). Jika Yakub sudah terubah tuntas, ia pasti segera memuji Tuhan dan menyatakan bahwa ia mau percaya atas pimpinan Allah yang tegas itu. Tetapi Yakub tidak berdoa. Sebaliknya ia menyuruh orang memanggil kedua istrinya datang ke kumpulan ternaknya; ia tidak berani berbicara di hadapan pamannya. Setelah ia menceritakan kepada mereka perihal adanya perubahanperubahan situasi, mereka lantas menyetujui untuk meninggalkan ayah mereka (Kej. 31:4-16). Semua perubahan keadaan dan situasi di sekeliling Yakub itu sebelumnya juga telah diatur oleh Allah.

(13) Yakub Lari Meninggalkan Laban

Semua perubahan suasana di sekeliling Yakub itu me-nunjukkan bahwa ia harus pulang. Yakub memang berangkat pulang, namun bukan terang-terangan. Apakah Anda mengira Yakub meninggalkan Laban secara ksatria? Tidak, ia pergi secara diam-diam. Apa yang akan terjadi bila ia tidak me-larikan diri dengan cara itu? Laban mungkin akan meng-gunakan kekuasaannya untuk menahan anak-anak perempuan-nya, pelayan-pelayan, dan semua anak mereka. Ia bahkan mungkin berkata kepada Yakub, “Yakub, kalau kamu ingin pergi, pergilah sendiri, tetapi tinggalkan setiap orang dan setiap barang ini.” Karena Yakub takut akan hal ini, maka ia melarikan diri dengan diam-diam.

Meskipun cara Yakub meninggalkan Laban itu tidak benar, namun Allah mengizinkan hal itu terjadi. Karena dia belum cukup matang, maka Yakub masih mempunyai kelemahan. Mengapa Yakub tidak percaya dan bersandar kepada Allah? Allah itu Mahakuasa, tidak ada yang mustahil bagi-Nya; Yakub seharusnya percaya bahwa Allah bisa melindungi istri-istrinya dan anak-anaknya. Memang mudah mengatakan percaya kepada Allah, tetapi tidak mudah mempraktekkannya. Percaya kepada Allah bukanlah doktrin. Jika Anda adalah Yakub, beranikah Anda menghadapi Laban dan berkata, “Paman Laban, aku mau pergi.” Tidaklah mudah untuk melakukan hal ini. Ini memerlukan kematangan hayat dan kapasitas iman. Untuk memiliki kapasitas iman yang cukup ini, kita perlu bertumbuh dalam hayat. Yakub tidak memiliki ini. Saya tidak menyalahkan Yakub, malahan sangat bersimpati kepadanya. Sering kali kita juga berada dalam situasi seperti ini, kita tidak punya pilihan lain, kecuali melarikan diri, pergi secara diam-diam. Mencela Yakub pergi secara diam-diam memang gampang, tetapi jika kita memeriksa diri kita, kita menemukan bahwa kita pun tidak jarang melakukan hal-hal tanpa sepengetahuan suami atau istri kita.

Pasal ini memberi tahu kita bahwa Yakub “mencuri” hati Laban (Kej. 31:20 Tl.). Di dalam, Yakub mencuri hati Laban; di luar, Rahel mencuri terafim berhala ayahnya (Kej. 31:19). Di antara orang-orang yang takwa kepada Allah masih mungkin terdapat berhala. Ini bukannya berhala yang di kuil, melainkan berhala rumah tangga, berhala yang mereka puja di dalam rumah mereka. Mereka menganggap penting berhala-berhala itu, karena itu Rahel mencuri berhala itu. Demikianlah Laban kemudian menggeledah untuk menemukan kembali berhala itu. Jangan mengira karena Yakub adalah orang saleh yang dipanggil Allah, maka keluarganya pasti tulus dan lurus. Secara luaran beberapa orang di antara kita mempunyai keluarga yang sangat normal, namun Allah tahu bahwa kita masih mempunyai berhala-berhala rumah tangga. Tanpa Alkitab menyebutkan berhala ini, tidak seorang pun yang akan percaya bahwa Laban atau Yakub masih memiliki berhala dalam keluarganya. Namun sekalipun Yakub mempunyai kelemahan, mencuri hati Laban, ini pun seizin Allah.

Kita semua bisa berbuat salah, tetapi Allah tidak pernah salah. Pelarian Yakub memang tidak baik, tetapi hal ini pun terjadi seizin Allah. Jangan menyesali kesalahan - kesalahan Anda, karena kesalahan - kesalahan Anda itu justru bermanfaat bagi pengubahan Anda. Tidak seorang pun di antara kita yang benar-benar jujur, luhur, setia, atau lurus. Hanya Tuhan Yesus yang seperti itu. Kita semua mempunyai kekurangan, kelemahan alamiah. Yakub melarikan diri disebabkan lemah imannya, dan kurang kemampuan berkorban. Semestinya Yakub berkata, “Apa saja kerugianku, bahkan kehilangan nyawa sekalipun, aku harus setia kepada Allah.” Memang sangat mudah mengatakan demikian, tetapi coba saja praktekkan. Ketika saatnya tiba, Anda juga akan melarikan diri dan mencuri hati orang lain. Semua kesalahan kita, bahkan pelanggaran kita, berada di bawah kedaulatan Allah. Ia menggunakan semuanya ini untuk mengubah kita. Saya tidak mendorong Anda untuk berbuat kesalahan. Saya mengharapkan Anda tidak lagi berbuat kesalahan. Empat puluh tahun yang lalu, saya berpesan kepada orang-orang agar jangan berbuat kesalahan. Kini saya tidak lagi berbuat demikian. Saya sadar bahwa berbuat demikian ini tolol. Bagaimanapun kuatnya saya menganjuri Anda jangan berbuat salah, Anda tetap akan melakukannya. Tidak seorang pun ingin berbuat kesalahan. Saya dapat bersaksi, hari demi hari dan tahun demi tahun, saya selalu berdoa kepada Tuhan agar Tuhan menjaga saya dari berbuat salah. Walau saya membenci kesalahan-kesalahan dan enggan berbuat salah, namun masih saja membuat beberapa kesalahan besar. Apa gunanya saya menuntut orang lain supaya tidak berbuat salah? Jika saya guru etika, saya tentu akan menyuruh Anda untuk tidak melakukan kesalahan-kesalahan. Tetapi saya bukan pengajar etika. Saya adalah orang yang menolong Anda untuk diubah.

Untuk mengubah kita, Allah bisa menggunakan kesalahan-kesalahan kita. Saya boleh bersaksi bahwa tanpa saya berbuat kesalahan-kesalahan tertentu, saya tidak akan berubah seperti hari ini. Pengubahan yang paling besar dalam hayat saya berasal dari kesalahan-kesalahan saya. Tidak ada suatu perkara yang lebih menyusahkan saya daripada kesalahan saya. Kapan kala saya menyangka diri saya benar, Tuhan lalu membiarkan saya melakukan kesalahan. Tidak ada se-suatu yang lebih menolong kita diubah daripada kesalahan-kesalahan kita. Ini tidak berarti kita harus melakukan kejahatan supaya yang baik itu datang. Tidak, kalau kita sengaja berbuat kesalahan, maka kesalahan itu tidak akan bisa menolong kita berubah. Malah sebaliknya, kesalahan itu akan menenggelamkan dan mempersalahkan kita. Tetapi ketika kita berusaha sekuatnya menghindari segala perbuatan yang salah, kita berdoa, “Oh, Tuhan, jagalah aku di hadapan-Mu dan janganlah biarkan aku berbuat salah. Tuhan, aku takut dan gentar di hadirat-Mu.” Meskipun kita bisa berdoa seperti ini, namun sejangka waktu kemudian, kita tetap melakukan kesalahan. Dengan kedaulatan-Nya Tuhan bisa memakai kesalahan-kesalahan itu untuk mengubah kita.

(14) Laban Mengejar Yakub

Telah kita ketahui bahwa Laban mengejar Yakub dan mendapatkannya (Kej. 31:22-55). Laban memiliki kekuatan untuk mencelakai Yakub, tetapi Allah memperingatinya dalam mimpi, jangan berbuat apa-apa terhadapnya (ayat 24). Meski Laban tidak dapat berbuat sesuatu, tetapi ia melakukan apa yang dapat dilakukan oleh semua manusia — bersungut-sungut dan mengomel. Ia bersungut-sungut melalui omelannya terhadap pelarian Yakub (ayat 26-29). Mengomel merupakan jalan yang terbaik untuk melontarkan kemarahan Anda. Selanjutnya, Laban menuduh Yakub mencuri berhalanya (ayat 30-35), dan setelah berhala itu tidak diketemukan, Yakub balas memarahi Laban atas penganiayaannya (ayat 36-42). Setelah itu Laban tertaklukkan dan mengubah sikapnya dengan liciknya serta mengadakan ikatan janji perdamaian dengan Yakub. Inilah contoh yang baik dari diplomasi manusia.

Pasal ini mengungkapkan bahwa tidak ada seorang pun yang boleh dipercayai. Dalam pasal 27, Ribka, ibu Yakub mengira bahwa Laban akan menjadi pelindung dan penolong putra kesayangannya, sehingga ia menyuruh Yakub pergi ke tempat saudaranya. Perhatikanlah apa yang diperbuat Laban terhadap Yakub. Tidak ada seorang pun yang boleh dipercayai, sekalipun dia adalah sanak famili kita yang paling dekat. Janganlah menaruh kepercayaan kepada siapa pun. Bila kita menyadari bahwa kita adalah orang-orang yang dipanggil Allah dan sekarang ini tengah menempuh proses pengubahan-Nya, kita harus sadar bahwa segala perkara adalah tangan Allah, bukan masalah dapatnya seseorang dipercayai. Kita tidak seharusnya mempercayai siapa pun, tetapi kita harus berterima kasih kepada Tuhan karena setiap orang di sekeliling kita berada di bawah kedaulatan tangan Allah demi kebaikan kita. Anda mungkin mengira bahwa Anda mempunyai paman yang setia dan dapat dipercaya. Tetapi paman seperti itu tidak seberapa menolong terhadap pengubahan Anda. Sekali dan sekali lagi saya membaca pasal ini, saya menemukan bahwa kita tidak seharusnya menaruh kepercayaan kita kepada siapa pun, juga kita tidak seharusnya menyalahkan siapa pun. Entah paman kita itu jujur atau tidak, kita tetap harus berkata, “Puji Tuhan, Allah itu Sang berdaulat, aku bukannya di dalam tangan pamanku, melainkan dalam tangan kedaulatan Allah. Bahkan pamanku yang tidak dapat dipercayai itu sendiri berada dalam tangan Allah untuk kepentingan pengubahanku.” Kita semua perlu nampak hal ini dan mengetahui bahwa tidak ada satu pun dalam lingkungan kita yang dapat kita percayai. Jangan percaya kepada siapa pun atau apa pun. Setiap hal dan setiap orang di sekeliling kita merupakan alat yang dipakai oleh kedaulatan Allah untuk mengubah kita. Jika pengubahan Anda memerlukan seorang yang jujur, Allah akan memberi Anda orang yang demikian. Tetapi kebanyakan kita memerlukan Laban dan saudara-saudara sepupu kita yang seperti putra-putra Laban. Janganlah mengomel dan bersungut-sungut, sebaliknya ber-syukurlah kepada Allah atas orang-orang itu, dan katakanlah, “Tuhan, aku berterima kasih kepada-Mu atas semua saudara sepupuku. Aku berterima kasih kepada-Mu atas pamanku, bahkan atas kelemahanku.” Puji Tuhan, bahkan kelemahan kita pun merupakan alat yang dipakai Allah untuk mengubah kita.

Dalam gambar yang dilukiskan oleh pasal-pasal ini, tokoh kuncinya adalah Allah yang tidak kelihatan dengan tangan-Nya yang tidak kelihatan. Pasal ini bukan sekadar cerita hidup manusia, lebih-lebih mewahyukan pengubahan Allah dengan tangan pengubahan-Nya. Kita semua harus nampak Allah yang diwahyukan dalam pasal ini. Pemeran utama bukanlah Laban atau Yakub, melainkan Allah yang tersembunyi, yang dengan berdaulat menyediakan lingkungan kita bagi pengubahan kita. Dalam pasal ini Allah merupakan Allah yang tersembunyi, namun Dia senantiasa siap siaga, mengetahui saat yang tepat untuk campur tangan dan berbicara kepada Yakub atau Laban. Dia melakukan apa yang ingin Dia lakukan. Jadi, tokoh utama di sini adalah Allah yang berdaulat, yang mengubah manusia. Jika kita nampak gambar ini, kita akan memiliki perhentian di dalam Dia serta percaya bahwa entah apa kita dan di mana kita berada, semua itu baik, sebab semuanya itu berada di bawah tangan kedaulatan Allah yang mengubah manusia.