← Daftar isi Kejadian (5) · bab 14/16

DITANGGULANGI (6)

(11) Batu yang Dituangi Minyak dan Rumah Allah

Mimpi Yakub merupakan butir yang paling menentukan dalam seluruh Kitab Kejadian (Kej. 28:10-22). Bahkan Kejadian 1:26 pun tidaklah sepenting mimpi Yakub dalam pasal 28. Salah satu aspek yang paling mencolok dalam mimpi ini ialah batu. Setelah menempuh perjalanan yang panjang, Yakub merasa lelah dan sendirian, dia mengambil sebuah batu dan digunakannya sebagai bantal, serta berbaring di udara terbuka. Mungkin inilah yang pertama kali dalam sejarah manusia, orang menggunakan batu sebagai bantal. Pernahkah Anda meletakkan kepala Anda di atas batu di waktu Anda beristirahat? Saya tidak pernah ber-buat demikian. Pertama-tama, Yakub menggunakan batu itu sebagai bantal; kedua, ia mendirikan batu itu sebagai tiang (28:18). Bantal untuk beristirahat, sedangkan tiang untuk bangunan. Sadarkah Anda bahwa pada suatu hari bantal Anda akan menjadi tiang? Nanti kita akan melihat apakah bantal itu. Dalam Kejadian 28:22 Yakub mengatakan, “Batu yang kudirikan sebagai tugu (tiang) ini akan menjadi rumah (bait) Allah.” Selain batu, tiang, dan rumah, ada pula minyak yang dituangkan ke atas batu tersebut (28:18). Bagaimana mungkin, Yakub, seorang pengembara dan sendirian, bisa mempunyai minyak? Saya tidak tahu. Bagai-manapun juga, pada keesokan paginya, ia menuangkan minyak ke atas batu itu. Jadi dalam mimpi itu ada empat unsur dasar: batu, tiang, rumah (bait), dan minyak. Keempat unsur ini merupakan faktor dasar yang menyusun Alkitab.

Seperti yang telah kita sebut berkali-kali, tujuan Allah adalah menjadikan manusia sebagai ekspresi-Nya yang korporat. Dalam Kitab Kejadian kita tidak nampak bahwa Allah telah memperoleh ekspresi semacam ini. Kejadian 1:26 mengumumkan tujuan Allah menciptakan manusia, memberi tahu kita bahwa manusia diciptakan menurut gambar Allah. Tetapi di sana kita tidak nampak Allah telah memperoleh ekspresi-Nya. Allah tidak memperoleh ekspresi-Nya melalui Adam, Habel, Enos, Henokh, Nuh, Abraham, maupun Ishak. Ketika kita tiba pada Yakub, kita melihat bahwa ia adalah seorang perebut, pemegang tumit, seorang pemuda yang sangat licik. Di bawah terang seluruh Alkitab, kita mengetahui bahwa perebut muda ini telah dipilih Allah dan ditentukan untuk memiliki hak kesulungan. Sebelum dunia dijadikan, dalam kekekalan yang azali, Allah telah menentukan dia untuk memperoleh hak kesulungan ini. Seperti yang telah kita tunjukkan, hak kesulungan meliputi tiga hal: mengekspresikan Allah sebagai imam-imam, mewakili Dia sebagai raja-raja, dan mewarisi warisan Allah sebagai ahli waris. Hak kesulungan ini mutlak untuk mengekspresikan Allah secara korporat di bumi. Peristiwa dalam Kejadian 28 terjadi kira-kira 2.200 tahun setelah manusia diciptakan, dan Allah memanggil Abraham kira-kira 2000 tahun se-telah Adam diciptakan; periode antara Abraham sampai pada Yakub kira-kira 200 tahun. Selama jangka waktu yang panjang ini, Allah tidak mendapatkan apa yang diinginkan-Nya.

Ketika Yakub, si perebut muda yang terbentur pada kesusahan akibat perebutannya, tengah menempuh per-jalanan yang sendirian, ia bermimpi. Apa yang dilihat Yakub adalah sebuah mimpi, bukan kenyataan, karena Yakub masih merupakan seorang perebut. Dalam lubuk batinnya, mungkin ia masih tetap memegang tumit Esau. Bagaimana mungkin seorang perebut seperti ini bisa menjadi rumah Allah? Mustahil. Karena itulah mimpi Yakub pada saat itu hanya-lah sebuah mimpi belaka. Sebagai contoh, meskipun kita tidak mungkin mendarat di bulan sekarang ini, namun kita sudah boleh memimpikan kita ini telah mendarat di bulan. Ini mimpi, bukan kenyataan. Kita perlu mempunyai mimpi-mimpi dalam hayat rohani kita. Saya telah banyak ber-mimpi di masa silam, dan saya ingin memimpikan yang lainnya pada dewasa ini. Jika Anda tidak pernah bermimpi sejak Anda diselamatkan, keadaan Anda sungguh amat kasihan. Berapakah mimpi yang Anda alami sejak Anda beroleh selamat? Setiap visi rohani itulah mimpi.

Apakah makna suatu mimpi? Prinsip mimpi adalah se-suatu yang mustahil telah terjadi dalam mimpi pada diri kita. Kita diselamatkan adalah sebuah mimpi, yakni mimpi pertama dalam hayat rohani kita. Walaupun beroleh selamat merupakan suatu hal yang tidak mungkin, tetapi kita telah beroleh selamat. Memasuki hidup gereja juga sebuah mimpi rohani. Setiap penempuh hidup gereja mempunyai sebuah mimpi, di mana sesuatu yang tidak mungkin telah terjadi. Saya menyukai mimpi-mimpi surgawi ini.

Seperti yang telah kita lihat, dalam mimpi surgawi Yakub terdapat empat hal yang diwahyukan: batu, tiang, rumah, dan minyak. Keempat hal ini tidaklah terdapat sebelum Kejadian 28. Misalnya, tidak pernah batu disebut-sebut dalam dua puluh tujuh setengah pasal sebelumnya. Namun, kita menemukan sebutan batu bata yang dipakai untuk membangun Babel, kota Iblis dan menara setani (11:3). Sewaktu mempelajari pasal 11, telah kita tunjukkan bahwa batu bata melambangkan pekerjaan manusia, hasil usaha manusia dengan tanah liat. Batu-batu bata ini mewakili semua agama, karena setiap agama merupakan hasil usaha manusia dengan tanah liat. Semua manusia merupakan tanah liat, dan agama bekerja di atas diri manusia untuk menghasilkan batu-batu bata. Sebelum Kejadian 28, juga tidak pernah disinggung tentang tiang. Ketika Alkitab membicarakan kota dan menara Babel, tidak pernah menyebut tiang. Jangan mengira bahwa Alkitab adalah buku biasa saja. Bukannya biasa; melainkan unik. Dalam Bait Suci yang dibangun Salomo terdapat dua tiang besar (1 Raj. 7:21). Galatia 2:9 memberi tahu kita bahwa Petrus, Yakobus, dan Yohanes merupakan soko guru (tiang utama) gereja. Selanjut-nya dalam Wahyu 3:12 kita diberi tahu bahwa para pemenang akan dijadikan soko guru (tiang) Bait Suci Allah. Seperti halnya tiang, sebelum pasal 28, tidak pernah disebut tentang rumah ataupun minyak. Abraham, Ishak, dan Yakub semuanya tinggal di dalam kemah. Tetapi setelah mimpinya di Betel, Yakub tidak mengatakan kemah, melainkan rumah (bait) Allah. Karena itu, keempat hal ini adalah pertama kali disebut dalam Kejadian 28.

Seperti yang telah kita ketahui bahwa sebutan yang pertama kali disebut dalam Alkitab selalu merupakan prinsip untuk selanjutnya. Pada saat pertama kali Petrus datang kepada Tuhan, Tuhan mengubah namanya Simon menjadi Kefas (Yoh. 1:42), kata-Nya, “Engkau Simon, anak Yohanes, engkau akan dinamakan Kefas (artinya: Petrus).” Kurang lebih tiga tahun kemudian, Tuhan bertanya kepada murid-murid-Nya, “Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?” (Mat. 16:13). Maka setelah Petrus berkata, “Engkaulah Mesias, Anak Allah yang hidup!”, Tuhan Yesus segera berkata kepadanya, “Aku pun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku” (Mat. 16:16, 18). Dalam mengutarakan hal ini, Tuhan Yesus sengaja mengingatkan Petrus akan apa yang telah diperbuat-Nya tiga tahun yang lalu, yaitu ketika mengubah nama Simon men-jadi Kefas. Kemudian dalam suratnya yang pertama, Petrus menulis: “Biarlah kamu juga dipergunakan sebagai batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani” (1 Ptr. 2:5). Dalam ayat ini Petrus sekaligus menyebut batu dan rumah. Dalam 1 Korintus 3, Paulus mempunyai konsepsi yang sama, yaitu memberi tahu kaum beriman di Korintus bahwa mereka adalah bangunan Allah (1 Kor. 3:9). Dalam 1 Korintus 3:10, Paulus menganjuri kita agar berhati-hati bagaimana kita membangun. Kita harus berhati-hati, bagai-mana dan dengan apa kita membangun, karena pekerjaan kita akan diuji oleh api. Kalau kita membangun dengan emas, perak, dan batu-batu permata, pekerjaan kita akan tetap utuh. Jadi kita tahu bahwa dalam 1 Korintus 3, Paulus juga membicarakan batu bagi bangunan Allah. Sampai di Kitab Wahyu, bagian terakhir Alkitab, kita melihat sebuah kota yang terbangun dengan batu-batu permata. Menurut prinsip Alkitab, kota merupakan perluasan rumah. Ketika sebuah rumah diperluas, ia akan menjadi sebuah kota. Kota yang merupakan perluasan rumah ini dibangun de-ngan batu-batu permata, Alangkah selarasnya Alkitab! Melalui semua perkataan firman ini, kita nampak bahwa batu merupakan bahan bangunan rumah Allah.

Apakah rumah Allah? Rumah Allah adalah kepuasan, perhentian, dan ekspresi Allah. Corak rumah di mana Anda tinggal menyatakan corak apa pribadi Anda. Jika Anda ini jorok, Anda akan memiliki rumah yang jorok, dan bila Anda ini bersih, Anda akan memiliki rumah yang bersih pula. Sepuluh tahun yang lalu, saya dibawa ke suatu tempat yang dinamakan “bagian hippie” di San Fransisco. Saya tidak bisa percaya bahwa orang-orang itu dapat tinggal dalam lingkungan yang sekotor itu. Meskipun saat itu saya tidak melihat seorang hippie pun, tetapi melalui pondok-pondok mereka saya dapat menduga betapa jorok dan malas mereka itu. Rumah kita mengekspresikan diri kita. Kalau Anda me-ngunjungi sebuah rumah di mana tinggal keluarga Jepang, cukup berjalan melewatinya saja, Anda akan tahu bahwa rumah itu didiami orang Jepang. Sama pula tempat ke-diaman orang-orang Skotlandia. Demikian juga, rumah Allah merupakan ekspresi-Nya. Akhirnya, rumah-Nya akan di-perluas sehingga menjadi sebuah kota, dan kota itu akan mempunyai penampilan yang serupa Allah. Menurut Wahyu 4:2-3, Allah mempunyai rupa seperti permata yaspis; menurut Wahyu 21:11, seluruh kota Yerusalem Baru juga akan mempunyai penampilan seperti permata yaspis. Ini berarti kota itu akan mempunyai rupa dan ekspresi Allah. Bahkan kita boleh mengatakan bahwa kota ini adalah perluasan Allah.

Meskipun batu dan rumah sangatlah penting, tetapi masih memerlukan minyak. Dalam perlambangan, minyak melambangkan Allah mendatangi manusia. Allah itu tri-tunggal. Bapa adalah sumber, Putra adalah sungai, dan Roh adalah aliran yang mencapai kita. Penuangan minyak oleh Yakub ke atas batu melambangkan Allah Tritunggal mengalir kepada manusia. Allah ada di surga, tetapi Ia telah dituangkan ke atas manusia. Ketika Allah Tritunggal men-datangi manusia, Ia menjadikan manusia itu sebagai rumah Allah. Sebelum minyak dituang ke atas batu, batu itu hanyalah sekadar batu. Namun, setelah minyak dituang ke atasnya, batu itu menjadi rumah Allah.

(a) Keadaan Tunawisma, Tidak Ada Perhentian

Dalam Kejadian 28, Yakub mengalami keadaan tuna-wisma, tidak ada perhentian (ayat 10). Ketika manusia dalam keadaan tunawisma, Allah pun dalam keadaan tuna-wisma (Yes. 66:1). Jadi, dalam Kejadian 28, Yakub maupun Allah keduanya tanpa rumah. Demikian juga, kalau manusia haus, Allah haus juga; ketika manusia tidak puas, Allah pun tidak puas. Sewaktu Tuhan Yesus datang ke sumur Sikhar (Yoh. 4), Ia merasa haus, dan seorang perempuan yang sedang haus datang kepada-Nya. Baik perempuan Samaria maupun Tuhan Yesus, keduanya sedang haus. Saat manusia tunawisma dan tidak ada perhentian, Allah pun tunawisma dan tidak ada perhentian. Kejadian 28 merupakan sebuah gambar yang menyatakan bahwa Allah dan manusia sama-sama tunawisma. Apakah rumah manusia yang sejati? Dari sudut kekekalan, rumah manusia adalah Allah. Jika Anda tidak memiliki Allah, Anda tidak akan memiliki rumah. Orang yang belum beroleh selamat tidak akan pernah merasa berada di rumah, karena rumah manusia yang sejati adalah Allah. Apakah rumah Allah? Manusia. Rumah manusia adalah Allah, dan rumah Allah adalah manusia. Kapan kala manusia terpisah dari Allah, Allah maupun manusia tidak akan memiliki rumah. Sebagaimana akibat perceraian, selalu menimpa atas suami dan istri. Kita mustahil mengatakan bahwa istri yang bercerai, bukan suami. Jadi ketunawismaan manusia juga membuat Allah menjadi tunawisma. Tetapi bila kita di rumah, Allah pun mempunyai rumah. Ketika kita memiliki Allah sebagai rumah kita, kita pun menjadi rumah Allah. Pada malam hari dalam Kejadian 28 itu, Yakub terpisah dari Allah, maka ia dan Allah sama-sama menjadi tunawisma. Dan karena tunawisma, Yakub tidak memiliki perhentian. Seorang tunawisma adalah seorang yang tidak memiliki perhentian. Rumah terasa nyaman karena di dalam rumah ada perhentian. Sering kali, setelah menempuh perjalanan yang jauh, dan kembali ke rumah, saya berkata, “Puji Tuhan, aku di rumah!” Ini berarti saya boleh memiliki perhentian. Namun malam itu, Yakub dan Allah tidak memiliki rumah, juga tidak memiliki perhentian.

(b) Batu

Kita telah melihat bahwa Yakub mengambil batu dan dijadikan bantalnya. Bertahun-tahun saya tidak paham maknanya. Meskipun kita tidak bisa memahaminya menurut kata-kata harfiah luaran, tetapi kita bisa memahaminya menurut pengalaman dalam batin. Sebelum kita beroleh selamat, kita tidak memiliki perhentian. Selalu merasa me-layang di udara atau tenggelam di dasar laut; tidak ada sesuatu yang kokoh yang boleh dipegang atau yang mampu menunjang atau meneguhkan kita. Meskipun mungkin Anda adalah jutawan, namun harta Anda tidak mampu me-nopang Anda. Sebaliknya, harta itu merenggut rasa damai dan perhentian Anda. Entah kita tua atau muda, laki-laki atau perempuan, asal kita belum beroleh selamat, kita belum mempunyai penopang yang kukuh. Pada suatu hari, kita beroleh selamat, dan terjadilah sesuatu di lubuk batin kita. Apa yang kita alami di lubuk batin kita itu menghasilkan sesuatu yang menjadi penopang kita yang kukuh. Setelah beroleh selamat, mungkin kita masih menemui kesulitan-kesulitan. Tetapi, dalam batin kita, kita mempunyai keyakinan bahwa ada batu karang yang kokoh yang atasnya kita boleh memiliki perhentian. Batu karang yang kokoh ini justru sifat dan unsur Kristus, yang tergarap ke dalam diri kita.

Sebagai manusia, kita terbuat dari debu tanah (Kej. 2:7). Roma 9 mengatakan bahwa kita adalah bejana tanah liat, bukannya batu. Kalau saya adalah Yakub, saya akan membuat onggokan tanah liat serta beristirahat di atasnya. Tetapi, dalam pandangan Allah, tanah liat tidak pernah dapat men-jadi perhentian kita. Hayat insani kita, sifat alamiah kita, serta apa adanya kita tidak dapat menjadi perhentian kita. Tidak peduli berapa tinggi pendidikan kita atau kedudukan kita, selama kita tidak memiliki sifat ilahi di dalam kita, kita hanyalah gumpalan tanah liat. Tanah liat ini mustahil menjadi penopang kita yang kokoh. Tidak seorang pun dari kita yang memperoleh perhentian, sampai hari kita diselamat-kan. Hari itu, sesuatu yang bersifat ilahi, sesuatu dari Kristus, tergarap ke dalam kita, menjadi penopang yang kukuh di dalam kita. Inilah perhentian kita, yaitu bantal kita. Bantal kita adalah unsur ilahi, diri Kristus, yang tergarap ke dalam diri kita. Sewaktu kita menempuh perjalanan kehidupan insani kita, tiba-tiba kita bermimpi, dalam mimpi itu Kristus sendiri tergarap ke dalam kita. Sifat Kristus sebagai batu ka-rang tergarap ke dalam sifat tanah liat kita. Kini kita memiliki batu karang yang di atasnya kita boleh meletakkan kepala kita.

Sering kali orang-orang yang tidak percaya berkata kepada orang-orang Kristen, “Aku telah menyaksikan bahwa pada saat kalian terbentur kesulitan, kalian memiliki kedamaian dalam batin. Mengapa aku tidak memiliki itu?” Orang-orang yang tidak percaya tidak memiliki rasa damai dikarenakan mereka tidak memiliki unsur ilahi di dalam mereka. Mereka hanya memiliki tanah liat yang mengandung unsur insani yang telah jatuh. Kalau Anda ingin mengetahui betapa kasihannya tanah liat, tuang saja air ke atasnya. Dalam waktu singkat, tanah liat itu akan menjadi lumpur. Sebaliknya, semakin banyak Anda menuang air ke atas batu, niscaya semakin bersih dan mengkilat batu itu. Biarkan saja kesulitan-kesulitan datang, itu justru adalah air pembasuh. Setiap kesulitan yang menimpa orang Kristen bagaikan air pembasuh. Saya berterima kasih kepada Allah, sebab saya telah berulang-ulang dibersihkan oleh kesukaran-kesukaran yang menimpa saya. Bersedialah untuk dibersihkan. Sejak hari kita beroleh selamat, kita memiliki batu yang di atasnya kita bisa menaruh kepala kita. Tidak peduli betapa larut dan betapa gelap di malam hari, kita boleh menyandarkan kepala kita di atas batu ini. Sekali lagi saya katakan, batu dalam Kejadian 28 melambangkan unsur ilahi yang sudah tergarap ke dalam kita sehingga menjadi bantal kehidupan insani kita. Orang-orang yang tidak percaya tidak memiliki bantal ini. Bantal mereka adalah tanah liat insani yang kasihan. Tetapi bantal kita adalah batu, unsur ilahi, diri Kristus, yang tergarap ke dalam kita. Semakin banyak kita menemui kesulitan, semakin kita memerlukan bantal ini. Kelihatannya kita tidak bisa memiliki perhentian di atas batu; tetapi menurut pengalaman kita, batu ini memberi kita perhentian yang kukuh. Batu ini bukanlah Kristus yang obyektif, Kristus yang jauh dari kita; melainkan Kristus yang tergarap ke dalam kita, Kristus yang subyektif yang pada-Nya kita boleh menyandarkan kepala kita. Inilah Kristus yang menjadi pengalaman kita, yang unsur ilahi-Nya telah digarapkan ke dalam kita. Kristus inilah bantal dalam kehidupan insani kita. Puji Tuhan atas bantal ini.

Setelah terbangun dari tidur, Yakub lalu mendirikan batu itu sebagai tiang (28:18). Batu yang di atasnya kita meletakkan kepala kita haruslah menjadi bahan bangunan. Sebelum masuk ke dalam hidup gereja, kita tidak memahami hal ini. Tetapi sekarang setelah masuk ke dalam hidup gereja, kita menyadari bahwa batu yang kita pakai untuk meletakkan kepala kita itu haruslah menjadi tiang. Artinya, batu itu harus menjadi bahan pembangunan Allah. Puji Tuhan karena kita telah diselamatkan dan berada di dalam perhentian. Tetapi apakah Allah memiliki perhentian? Ia tidak mungkin memiliki perhentian sebelum batu yang kita pakai untuk beristirahat itu didirikan menjadi tiang bagi bangunan-Nya. Allah sendiri tidak akan mendirikan tiang ini, kitalah yang harus melakukannya. Bantal kita harus didirikan sebagai tiang. Dengan kata lain, pengalaman kita terhadap Kristus haruslah menjadi tiang.

Saya tidak yakin bahwa selain kita ada orang Kristen yang tahu bahwa pengalaman mereka terhadap Kristus harus didirikan sebagai tiang. Sebelum kita menempuh hidup gereja, kita tidak pernah mendirikan tiang. Tetapi setelah menempuh hidup gereja, hari demi hari kita mendirikan pengalaman kita terhadap Kristus sebagai tiang. Bukan lagi bantal, melainkan tiang. Bukan sekadar perkara perhentian kita, melainkan perkara bangunan Allah bagi perhentian-Nya. Kristus yang Anda alami itu hanya menjadi perhentian Anda saja atau juga sebagai bahan bangunan rumah Allah? Jawaban ini dapat dibuktikan melalui pengalaman kita. Terlebih dulu, kita meletakkan kepala kita ke atas Kristus dan beroleh perhentian. Akhirnya, kita menjadikan pengalaman kita terhadap Kristus sebagai tiang, yaitu bahan untuk pembangunan Allah. Apa pun pengalaman kita terhadap Kristus, harus menjadi bahan untuk membangun rumah Allah. Dengan kata lain, apa yang telah menjadi bantal kita harus menjadi tiang. Apa yang Anda miliki hari ini — bantal atau tiang?

Tidak ada pembangunan di antara kebanyakan orang Kristen, dikarenakan paling jauh mereka hanya memiliki bantal, bukan tiang. Sebelum kita memasuki hidup gereja, kita pun hanya mempunyai bantal untuk perhentian kita. Namun, tidak berapa lama setelah menempuh hidup gereja, kita mendirikan pengalaman kita terhadap Kristus sebagai tiang dan menjadikannya bahan yang berharga bagi rumah Allah. Empat puluh lima tahun yang lalu, bantal saya telah saya dirikan menjadi tiang; bukan lagi hanya sebagai bantal di bawah kepala saya; melainkan sebagai tiang yang digunakan untuk membangun rumah Allah. Bantal sangat sesuai bagi perhentian kita, namun Allah memerlukan rumah untuk perhentian-Nya. Bagaimanakah rumah ini dapat dibangun? Hanya melalui bantal kita menjadi tiang. Pertama-tama kita memiliki batu, kemudian kita mempunyai bangunan.

(c) Minyak yang Dituang ke Atas Batu

Yakub tidak hanya mendirikan batu sebagai tiang, ia juga menuangkan minyak ke atasnya (28:18). Banyak orang Kristen membicarakan baptisan Roh Kudus. Sesungguhnya tidak perlu membicarakan hal ini terlampau banyak. Asalkan Anda mendirikan bantal Anda menjadi tiang, minyak itu pasti akan dituangkan ke atasnya. Oh, alangkah pengalaman terhadap minyak yang kita alami sejak kita menempuh hidup gereja dan mendirikan bantal kita sebagai tiang! Alang-kah pengalaman terhadap Roh Kudus! Saya bisa bersaksi, ketika saya berkata, “Hai bantal, berdirilah!” Segera saya mengalami pencurahan Roh Kudus. Berulang kali saya me-ngalami baptisan Roh Kudus. Ketika bantal Anda didirikan, minyak itu akan dituangkan. Saya tidak mengatakan hal ini dengan kosong. Hal ini bisa dibuktikan melalui pengalaman kita. Ketika kita mengatakan, “Tuhan Yesus, aku cinta pada-Mu,” kita mungkin sedikit bergembira. Tetapi ketika kita maju selangkah berkata, “Tuhan Yesus, aku mencintai gereja-Mu,” kita akan sangat gembira sehingga tidak dapat menahan diri. Beberapa orang Kristen menyalahkan kita dengan mengatakan bahwa kita seolah memandang gereja lebih penting daripada Kristus. Mengapa kita membicarakan gereja sebegitu banyak? Sebab semakin banyak kita membicarakan gereja, kita se-makin bergembira. Semua orang Amerika menyukai makanan ringan seperti es krim, pastel, dan kue. Hidup gereja ibarat kue-kue itu. Jika Anda hanya memiliki Kristus tanpa gereja, maka makanan resmi Anda mungkin seperti beberapa potong roti orang-orang Yahudi. Roti itu memang padat, namun bukan makanan ringan. Hidup gereja merupakan makanan ringan yang paling baik, bahkan melebihi makanan resmi. Inilah sebabnya mengapa orang-orang gereja suka mengatakan, “Amin, Tuhan. Aku mencintai-Mu juga mencintai gereja. Aku bagi Kristus dan gereja. Aku mengabdikan diriku bagi Kristus dan gereja.” Kapan kala bantal didirikan menjadi tiang, pastilah terbaptis seluruhnya. Inilah baptisan Roh Kudus yang sejati. Dalam Yohanes 1 kita juga mempunyai baptisan, batu, dan mimpi Yakub (Yoh. 1:33, 42, 51).

(d) Rumah Allah

Setelah minyak dituang ke atas tiang, tiang itu menjadi rumah Allah. Kita berkata, “Tuhan Yesus, aku cinta pada-Mu, aku juga mencintai gereja,” hasilnya ialah rumah. Sebelum kita memasuki hidup gereja, kita adalah individualistis. Tetapi sejak kita masuk ke dalam hidup gereja dan memberi kesaksian betapa kita mengasihi gereja, kita menemukan bahwa kapan kala kita bersifat individualistis, kita segera kehilangan makanan ringan itu. Dan sebagai gantinya, kita beroleh obat yang pahit. Kapan kala Anda menikmati hidup gereja yang ajaib ini, Anda pun akan mempunyai makanan ringan setiap hari. Namun kapan kala Anda sedikit individualistis, Anda segera mulai mengecap obat yang pahit. Bahkan tidak perlu hingga menjadi individualistis, asal Anda sekadar mengatakan bahwa Anda tidak suka kepada saudara tertentu, Anda segera merasakan kecapan yang pahit. Jika Anda berkata, “Hidup gereja sungguh ajaib, tetapi aku tidak suka saudari itu,” Anda segera kehilangan makanan ringan itu. Ada kalanya kita mendapat obat yang berlapis gula. Tetapi setelah beberapa saat, begitu gula pelapis obat itu lumer, kita pun mengecap kepahitan.

Pengalaman yang sejati terhadap Kristus menjadi bahan bangunan, dan bahan bangunan ini berakhir pada pembangunan rumah Allah. Di sini Allah mempunyai perhentian dan kepuasan, di sini kita juga mempunyai perhentian dan kepuasan. Mimpi Yakub pertama kali tergenap pada waktu bani Israel mendirikan Kemah Pertemuan setelah mereka diselamatkan keluar dari Mesir. Itulah rumah Allah yang pertama di antara manusia, yang merupakan perwujudan yang pertama dari mimpi Yakub. Tabernakel menunjukkan bahwa Allah dan manusia telah mendapatkan perhentian, menunjukkan bahwa tempat kediaman Allah di bumi merupakan kepuasan serta perhentian Allah dan manusia. Setelah bani Israel membangun Bait Suci di tanah permai, Allah memiliki rumah yang lebih kukuh di atas bumi. Kemudian dalam Perjanjian Baru, kita memiliki gereja sebagai rumah Allah (1 Tim. 3:15). Akhirnya, dalam langit baru dan bumi baru, kita akan mendapatkan Yerusalem Baru sebagai tempat tinggal Allah yang kekal (Why. 22:1-3). Di sana kita dan Allah akan menikmati perhentian yang kekal serta menikmati kepuasan sampai abadi. Hari ini kita semua di dalam penggenapan mimpi Yakub. Kita tidak hanya mempunyai batu dan tiang, kita juga mempunyai rumah. Dan faktanya, kita inilah rumah ini (Ibr. 3:6). Rumah ini tersusun dari insani dan ilahi, tersusun dari Allah Tritunggal dan umat manusia. Di sinilah kita memiliki rumah yang merupakan tempat perhentian Allah dan manusia. Kini kita bukan hanya dalam mimpi ini, tetapi juga dalam penggenapan mimpi ini. Puji syukur kepada Tuhan bagi batu, tiang, rumah, dan minyak. Dalam hidup gereja, kita mengalami keempat perkara ini.