DITANGGULANGI (5)
Perihal Yakub yang tercatat dalam Kejadian 30 dan 31 sangatlah menarik. Berdasarkan dua prinsip bahwa Alkitab tidak memuat kata-kata yang sia-sia dan segala yang terkandung dalam Alkitab merupakan firman hayat, kita harus menengadah kepada Tuhan supaya kita bisa nampak hayat di dalam catatan ini. Saya telah menggunakan banyak sekali waktu pada bagian firman ini. Banyak tahun sebelumnya, catatan ini saya anggap sebuah cerita belaka. Namun setelah menyadari bahwa semua yang terdapat dalam Alkitab merupakan firman hayat, mulailah saya mencari hayat di dalam bagian firman ini. Setelah saya diterangi, saya sadar bahwa catatan ini penuh dengan hayat.
Semua pokok utama dalam Kejadian 30:25-43 dan 31:1-16, 38-42, boleh digolongkan ke dalam tiga topik: pemerasan Laban, muslihat Yakub, dan berkat Allah. Tiga pihak utama dalam catatan ini adalah Laban, Yakub, dan Allah. Dua pihak di antaranya kelihatan, sedangkan yang satunya tidak kelihatan. Laban, pihak pertama, memeras Yakub, dan Yakub, pihak kedua, menipu Laban. Di antara keduanya tidak seorang pun yang dapat mengambil keputusan terakhir. Hal ini dilakukan oleh pihak ketiga, pihak yang tidak kelihatan, yaitu Allah sendiri. Bagaimanapun Laban memeras Yakub, Laban tetap mustahil terhindar dari kehilangan/kerugian, dan tipuan apa saja yang Yakub permainkan terhadap Laban, tetap bukan muslihat Yakub yang membuatnya kaya. Perkataan keputusan yang terakhir bukan dikatakan oleh Laban maupun Yakub, melainkan oleh Allah, Tuhan atas segala sesuatu. Jika kita ingin melihat hayat dalam firman bagian ini dan menerima suplai hayat yang terkandung di dalamnya, kita harus memperhatikan ketiga pihak ini. Jika kita nampak mereka, kita tentu akan menghargai firman bagian ini.
Seperti yang telah kita terangkan bahwa Abraham mewakili hayat yang dibenarkan oleh Allah, dan hidup di dalam persekutuan dengan Allah. Ishak mewakili hidup yang menikmati anugerah Allah. Pada Yakub kita nampak aspek ketiga dari hayat rohani — pengubahan (transformasi). Yakub, orang yang di bawah tangan pengubahan Allah, mewakili hidup pengubahan. Pemerasan Laban terhadap Yakub berada di bawah kedaulatan Allah. Yakub memerlukan tangan pemerasan Laban, dan Allah memakainya untuk pengubahan Yakub.
Ketika Anda membaca riwayat Yakub, janganlah membaca untuk orang lain. Bacalah untuk Anda sendiri, karena Anda justru Yakub yang unik itu. Bahkan para saudari pun adalah para Yakub. Banyak saudari mempunyai suami-suami Laban; mereka, istri-istri yang penuh muslihat, adalah Yakub-Yakub. Karena mereka penuh tipu muslihat, Allah menyediakan mereka suami-suami seperti Laban untuk memeras mereka. Tetapi kita juga boleh berkata bahwa banyak suami Yakub yang menikah dengan istri-istri Laban. Hampir setiap suami penuh tipu daya. Meskipun saudara tertentu telah menikah dan kelihatannya sebagai ksatria, namun sebenarnya adalah Yakub yang banyak tipu muslihatnya. Setiap suami menerapkan tipuannya terhadap istrinya. Bagaimanapun permainan taktik kita, Allah tetap berdaulat. Kisah Yakub adalah biografi dan otobiografi kita. Catatan dalam Alkitab merupakan biografi kita, dan catatan hidup kita sehari-hari merupakan otobiografi kita. Setiap hari kita menulis otobiografi kita. Dalam hal menghadapi orang lain, ada saja akal kita; dalam menderita permainan orang lain, kita ini diperas.
Yakub telah dipilih menjadi ekspresi Allah. Bagaimana mungkin seorang perebut seperti itu bisa menjadi ekspresi Allah? Bukan melalui koreksi lahiriah, hanya melalui proses pengubahan. Bagaimanakah pengubahan dapat dirampungkan? Hanya melalui pengaturan kedaulatan Allah yang meletakkan kita ke dalam lingkungan tertentu, dan di bawah tangan orang-orang tertentu. Allah berdaulat atas pengaturan suasana sekeliling kita. Kepada saudara-saudara dan saudari-saudari yang segera menikah, saya ingin mengatakan ini: Saudara, Anda jangan membayangkan bahwa Anda akan menikah dengan saudari yang baik. Tidak, Anda akan menikah dengan Laban pemeras. Saudari, siap-siaplah. Anda tidak akan menikah dengan raksasa rohani, melainkan dengan Yakub tukang tipu. Atas hal ini, Allah juga yang berdaulat.
Meskipun Allah telah memilih kita, kita ini adalah perebut, pemegang tumit; kita harus diubah, entah kita menyukainya atau tidak. Saya mendengar banyak di antara kita yang berkata, “Tuhan Yesus, aku mengasihi Engkau.” Tahukah Anda, apakah makna mengucapkan perkataan itu kepada Tuhan? Itu berarti bahwa Anda setuju dengan penanggulangan-Nya. Saat Anda mengatakan, “Tuhan Yesus, aku cinta pada-Mu”, itu berarti Anda benar-benar mengatakan, “Tuhan Yesus, aku satu dengan-Mu dan aku bersedia untuk Engkau tanggulangi.” Mungkin Anda tidak menyadari apa yang terkandung dalam perkataan, “Tuhan Yesus, aku cinta pada-Mu.” Misalkan, seorang wanita berkata kepada seorang pria bahwa ia mencintainya, perkataan ini meliputi banyak aspek dan tidak seharusnya diucapkan dengan sembarangan. Melalui kata-kata yang sederhana ini, ia telah “menjual” dirinya kepadanya. Demikian juga ketika kita mengatakan, “Oh, Tuhan Yesus, aku cinta kepada-Mu.” Kita segera ditangkap oleh-Nya dan terlibat ke dalam proses pengubahan. Banyak di antara kita dapat bersaksi bahwa kita tidak mempunyai kesulitan sebelum kita mulai mengasihi Tuhan Yesus. Tetapi ketika kita mulai mengatakan, “Tuhan Yesus, aku cinta pada-Mu,” kita mulai berturut-turut menghadapi kesulitan. Tetapi kesulitan ini tidak akan membunuh kita. Ada kalanya kita diganggu oleh kesulitan yang bertubi-tubi sehingga kita ingin mati saja. Tetapi, pada saat itulah Tuhan akan berkata, “Engkau ingin mati, Aku tak mau membiarkan engkau mati. Aku akan memelihara engkau tetap hidup agar engkau bisa diubah. Aku tidak menentukan engkau untuk mati. Aku menentukan engkau diubah menjadi serupa dengan gambar Putra Sulung Allah.” Jika kita menjamah firman bagian ini di dalam terang ini, kita akan melihat betapa hidupnya ayat-ayat ini.
(8) Pemerasan Laban
Sekarang mari melihat pemerasan Laban (Kej. 30:25-43; 31:1-16, 38-42). Dalam pasal 29 Laban menyambut Yakub dengan ramah tamah (29:14). Berselang sejangka waktu, Laban menemukan bahwa Yakub sangat cerdas dan tentunya akan sangat menguntungkannya. Lalu ia pura-pura baik hati, berkata kepada Yakub, “Masakan karena engkau adalah sanak saudaraku, engkau bekerja padaku dengan cuma-cuma? Katakanlah kepadaku apa yang patut menjadi upahmu” (29:15). Laban seolah-olah berkata, “Yakub, tidaklah adil jika engkau tinggal bersamaku tanpa upah. Katakanlah kepadaku upah apakah yang kau inginkan.” Laban mungkin tahu berdasarkan pengamatannya bahwa Yakub telah jatuh cinta kepada Rahel, anak perempuannya; mungkin ia berkata dalam batinnya, “Yakub, aku tak akan membiarkan engkau memiliki putriku dengan murah. Engkau mencintainya, baik, aku akan memberikannya kepadamu, tetapi engkau harus membayar harga.” Laban cerdik dan tak mengutarakan hal ini kepada Yakub, tetapi ia memahami isi hati Yakub. Begitu Laban menanyakan tentang upah kepadanya, Yakub menjawab, “Aku mau bekerja padamu tujuh tahun lamanya untuk mendapat Rahel, anakmu yang lebih muda itu” (29:18). Seperti yang telah kita tunjukkan, cinta membuat orang buta dan membuat orang tolol. Karena cintanya kepada Rahel, Yakub menjadi tolol. Yakub menjual dirinya untuk bekerja selama tujuh tahun untuk memperoleh Rahel. Kalau saya adalah Yakub, saya tidak akan bekerja lebih daripada dua belas bulan. Laban merasa puas dengan tawaran Yakub. Namun, ketika tujuh tahun itu telah berakhir, Laban tidak mengawinkan Yakub dengan Rahel. Ini membuktikan bahwa ia tidak berminat. Jadi, terpaksa Yakub berkata, “Berikanlah kepadaku bakal istriku itu, sebab jangka waktuku telah genap, supaya aku akan kawin dengan dia” (29:21). Laban menyerahkan Lea sebagai pengganti Rahel. Setelah Yakub menyadari hal ini, Laban malah membenarkan dirinya dengan kata-kata bahwa ini bukanlah kebiasaan di negeri mereka untuk mengawinkan adiknya lebih dulu daripada kakaknya (29:26). Mengenai Rahel, Laban berkata, “Genapilah dahulu tujuh hari perkawinanmu dengan anakku ini; kemudian anakku yang lain pun akan diberikan kepadamu sebagai upah, asal engkau bekerja pula padaku tujuh tahun lagi” (29:27). Di sini kita nampak pemerasan yang dilakukan oleh Laban. Jika Anda menoleh pada masa lampau Anda, Anda akan melihat bahwa Anda pun telah diperas, mungkin oleh suami atau istri Anda.
Laban itu licin dan berbelit-belit, Yakub tidak mampu mengalahkannya. Dua kali Yakub mengatakan bahwa Laban telah mengubah upahnya sepuluh kali (31:7, 41). Yakub me-ngeluh kepada Laban, katanya, “Selama dua puluh tahun ini aku di rumahmu; aku telah bekerja padamu empat belas tahun lamanya untuk mendapat kedua anakmu dan enam tahun untuk mendapat ternakmu, dan engkau telah sepuluh kali mengubah upahku” (31:41). Selanjutnya Yakub berkata kepadanya, “Seandainya Allah ayahku, Allah Abraham dan Yang Disegani oleh Ishak tidak menyertai aku, tentulah engkau sekarang membiarkan aku pergi dengan tangan hampa” (31:42). Seakan-akan Yakub berkata, “Laban, tidak saja aku telah bekerja empat belas tahun untuk anak-anak perempuanmu dan enam tahun untuk ternakmu, engkau bahkan tak rela aku memiliki istri-istri, anak-anak, dan kawanan ternakku. Engkau mencoba menahan semuanya.” Alangkah banyaknya penderitaan yang Yakub alami di bawah tangan pemerasan Laban!
Laban memeras Yakub dengan aneka cara. Ia menjebak Yakub bekerja baginya selama empat belas tahun untuk memperoleh kedua anak perempuannya dan kemudian menuntut pula enam tahun untuk memperoleh ternaknya (31:41). Seperti yang telah kita ketahui, ia mengubah upah Yakub sebanyak sepuluh kali, boleh jadi setiap kali mengubahnya, setiap kali pula dipotongnya. Semakin banyak tuntutan Laban terhadap Yakub, semakin sedikit ia membayar padanya. Laban juga menyuruh Yakub menanggung kerugian atas ternak yang hilang diterkam binatang buas ataupun dicuri orang (31:39). Betapa tak adilnya hal ini! Tetapi menurut Laban, hal itu mutlak adil; ia seolah berkata, “Peliharalah baik-baik ternakku. Engkau harus mengganti yang diterkam binatang buas ataupun yang dicuri orang.” Dapatkah kalian bekerja dengan sabar di bawah tekanan semacam itu? Yakub telah menyabarkan dirinya dan bertahan menderita tekanan Laban selama dua puluh tahun. Kadang kala Laban mungkin mengancam Yakub dengan perkataan, “Jika engkau tidak mau bekerja untukku sesuai permintaanku, engkau boleh pergi. Aku akan menahan dan memelihara anak-anakku, cucu-cucuku, dan ternakku.” Yakub merasa takut terhadap kemungkinan ini. Meskipun ia telah berkembang pesat, namun masih takut kepada Laban. Ketika ia melarikan diri, ia tidak memberi tahu Laban perihal kepergiannya, khawatir kalau-kalau Laban akan merampas istri-istri, anak-anak, dan kawanan ternaknya. Laban adalah penduduk asli, sedangkan Yakub seorang pendatang. Selamanya lebih mudah bagi penduduk asli menghadapi seorang perantau. Laban pasti pernah menggertak Yakub bahwa ia akan kehilangan segala sesuatu. Yakub terpaksa harus menahan semuanya itu. Selain itu, Laban masih menyebabkan Yakub dimakan panas hari pada waktu siang dan kedinginan pada waktu malam (31:40). Karena Laban memperlakukannya demikian, maka Yakub berkata, “Mataku jauh dari pada tertidur” (31:40). Ketika Yakub menggembalakan ternak Laban, ia berada di udara terbuka, tidak ada tempat untuk tidur. Tidak ada tempat untuk bernaung dari terik matahari di siang hari dan tidak ada tempat untuk berlindung dari embun beku di malam hari. Di daerah itu suhu sangat tinggi di siang hari dan dingin di malam hari. Di bawah tekanan Laban, Yakub menderita panas dan dingin, dia kurang tidur. Akhirnya seperti yang telah kita tunjukkan, Laban bermaksud menahan istri, anak, dan kawanan ternak Yakub (30:26; 31:14-15, 42). Tak seorang pun di antara kita yang sudi bekerja kepada seseorang seperti Laban, namun Yakub telah bekerja pada Laban selama dua puluh tahun. Selama itu, ia berada di bawah tangan pemerasan Laban.
Jika kita membaca catatan ini di dalam terang yang demikian, kita akan berkata, “Tuhan, aku sungguh menyembah pada-Mu. Sejak hari aku mulai mengasihi Engkau, banyak hal telah terjadi atas diriku dengan cara dan prinsip yang sama.” Ingatlah kembali tahun-tahun Anda dalam hidup gereja dan saat-saat Anda diperas atau ditekan. Sebagaimana Yakub yang alamiah memerlukan Laban sebagai pemerasnya, demikian juga sifat alamiah kita memerlukan pemerasan. Tangan pemerasan Laban bukanlah hal yang kebetulan, melainkan sebelumnya sudahlah diatur oleh Allah Sang berdaulat. Ishak, Ribka, dan Esau dipakai oleh Allah untuk meletakkan Yakub ke dalam tungku pengubahan. Laban merupakan api pembakar pada tungku ini. Semua orang ini dipakai Allah untuk mengubah Yakub. Jangan mengeluh pada situasi sekeliling Anda. Kadang-kadang, sewaktu saya mengeluh, tiba-tiba saya nampak terang dan sepertinya Allah berbicara, “Mengapa engkau mengeluh? Tidakkah engkau tahu bahwa ini adalah penentuan-Ku? Istrimu, anak-anakmu, dan semua saudaramu dalam gereja telah Kuatur sebelumnya. Sungguh bodoh engkau mengeluh.” Istri, suami, dan anak-anak Anda justru adalah apa yang dibutuhkan oleh sifat Anda. Kita boleh keliru, tetapi Allah tidak pernah berbuat salah. Segala sesuatu ada di tangan Tuhan, tidak perlu kita mengeluh. Sebagai gantinya, dengan sederhana kita harus berkata, “Terima kasih, ya Tuhan, untuk Laban yang baik ini.”
(9) Muslihat Yakub
Meskipun Yakub ditekan dan diancam oleh Laban, ia masih dapat melakukan muslihatnya terhadap Laban (30:31-43). Suatu hari Yakub memberi tahu Laban bahwa ia ingin kembali ke negerinya dan Laban harus menyerahkan para istri dan anaknya, yang bagi mereka ia telah melayaninya sebanyak tahun itu (30:25-26). Tetapi jawab Laban, “Sekiranya aku mendapat kasihmu! Telah nyata kepadaku bahwa TUHAN memberkati aku karena engkau” (30:27). Laban berpura-pura kelihatan manis, padahal licik. Orang yang licik selalu kelihatan manis. Siapa yang manis kepada Anda, itulah yang licik; dan siapa berani terhadap Anda, itulah yang jujur. Laban sangat licik terhadap Yakub, dan ia berkata bahwa dirinya telah tahu, karena Yakub tinggal bersamanya, maka ia beroleh berkat Tuhan. Ketika Laban berkata kepada Yakub, “Tentukanlah upahmu yang harus kubayar, maka aku akan memberikannya.” Jawab Yakub, “Engkau sendiri tahu, bagaimana aku bekerja padamu, dan bagaimana keadaan ternakmu dalam penjagaanku, sebab harta milikmu tidak begitu banyak sebelum aku datang, tetapi sekarang telah berkembang dengan sangat, dan TUHAN telah memberkati engkau sejak aku berada di sini; jadi, bilakah dapat aku bekerja untuk rumah tanggaku sendiri?” (30:28-30). Yakub seolah-olah berkata, “Aku telah bertahun-tahun bekerja di sini, tetapi aku masih belum dapat mendirikan rumah tanggaku sendiri. Kapankah aku bisa mendirikan keluargaku sendiri?” Laban sadar bahwa jika Yakub meninggalkan dia, berkat Allah akan ikut berpisah dengannya, maka ia seakan-akan berkata, “Tinggallah denganku. Aku tidak keberatan berapa banyak harus kubayar padamu. Katakanlah kepadaku apa yang kau inginkan. Asal kita ada di bawah berkat Allah, segala sesuatu akan menjadi baik.”
Sekarang kita melihat Yakub, yang menderita tekanan Laban, mempunyai caranya “mencuri” harta benda Laban sehingga membuat dirinya kaya. Ketika Laban bertanya kepadanya apa yang harus diberikan sebagai upahnya, Yakub menjawab, “Tidak usah kauberikan apa-apa kepadaku; aku mau lagi menggembalakan kambing dombamu dan menjaganya, asal engkau mengizinkan hal ini kepadaku: Hari ini aku akan lewat dari tengah-tengah segala kambing dombamu dan akan mengasingkan dari situ setiap binatang yang berbintik-bintik dan berbelang-belang; segala domba yang hitam dan segala kambing yang berbelang-belang dan berbintik-bintik, itulah upahku. Dan kejujuranku akan terbukti di kemudian hari, apabila engkau datang memeriksa upahku: Segala yang tidak berbintik-bintik atau berbelang-belang di antara kambing-kambing dan yang tidak hitam di antara domba-domba, anggaplah itu tercuri olehku” (30:31-33). Yakub seakan-akan berkata, “Pamanku Laban, berjanjilah kepadaku, dan aku akan tetap tinggal di sini. Ambillah dari ternakmu semua yang berbintik-bintik dan berbelang-belang serta domba yang jantan, kemudian tinggalkan semua yang putih bersamaku. Mulai sekarang, ternak yang berbelang-belang, berbintik-bintik, dan yang hitam akan menjadi milikku.” Laban berpikir bahwa ini adalah usul yang baik sekali, karena ia mengetahui bahwa ternak yang putih hanya dapat menghasilkan ternak yang putih juga, dan hanya sedikit melahirkan ternak yang berbintik-bintik, berbelang-belang, ataupun yang berwarna hitam. Karena itu kemudian Laban menyingkirkan dari ternaknya semua kawanan binatang yang tidak berwarna putih bersih dan memberi-kannya ke tangan anak-anaknya (30:34-35). Sedang ternak yang berwarna putih bersih tinggal bersama Yakub. Mungkin Laban mengira bahwa Yakub sekali lagi jatuh ke dalam perangkapnya, maka Laban “menentukan jarak tiga hari perjalanan jauhnya antara dia dan Yakub, maka tetaplah Yakub menggembalakan kambing domba yang tinggal itu” (30:36). Akan kita lihat, justru ini memberi kesempatan kepada Yakub untuk melakukan muslihatnya terhadap Laban.
Dalam menjalankan muslihatnya, Yakub mengambil dahan hijau dari pohon hawar, pohon badam, dan pohon berangan, “dikupasnyalah dahan-dahan itu sehingga berbelang-belang, sampai yang putihnya kelihatan” (30:37). Kemudian Yakub meletakkan dahan-dahan yang dikupasnya itu ke dalam palungan, dalam tempat minum, tepat di depan kambing domba itu, “adapun kambing domba itu suka berkelamin pada waktu datang minum” (30:38). Dalam Kejadian 30:39 kita diberi tahu bahwa “jika kambing domba itu berkelamin dekat dahan-dahan itu, maka anaknya bercoreng-coreng, berbintik-bintik dan berbelang-belang.” Kemudian Yakub memisahkan ternaknya dari ternak Laban. Kemudian, setiap kali kambing domba yang kuat lagi berkelamin, “Yakub meletakkan dahan-dahan itu ke dalam palungan di depan mata kambing domba itu, supaya berkelamin dekat dahan-dahan itu. Tetapi apabila datang kambing domba yang lemah, ia tidak meletakkan dahan-dahan itu ke dalamnya. Jadi hewan yang lemah untuk Laban dan yang kuat untuk Yakub” (30:41-42). Kambing domba yang bercoreng-coreng, berbintik-bintik, dan berbelang-belang adalah yang kuat, sedang kambing domba yang putih lebih lemah. Saya tidak percaya bahwa rencana Yakub benar-benar manjur; itu tak lain suatu penemuan atau hasil daya pikir Yakub yang cerdik. Entah itu manjur atau tidak, nyatanya memang demikian. Dan Yakub sendiri menganggap siasatnya berhasil.
Ketika Yakub melihat bahwa muka Laban terhadapnya tidak seperti yang sudah-sudah, maka Tuhan berkata kepadanya, “Pulanglah ke negeri nenek moyangmu dan ke-pada kaummu, dan Aku akan menyertai engkau” (31:2-3). Kemudian, menurut 31:4-5 “Yakub menyuruh memanggil Rahel dan Lea untuk datang ke padang, ke tempat kambing dombanya,” lalu ia memberi tahu mereka bahwa muka ayah mereka telah berubah kepadanya. Kemudian ia menceritakan mimpi yang dilihatnya pada masa kambing domba itu suka berkelamin. Dalam mimpinya ia melihat bahwa “jantan-jantan yang menjantani kambing domba itu bercoreng-coreng, berbintik-bintik dan berbelang-belang.” Dia juga mendengar Malaikat Allah berkata, “Angkatlah mukamu dan lihatlah bahwa segala jantan yang menjantani kambing domba itu bercoreng-coreng, berbintik-bintik, dan berbelang-belang, sebab telah Kulihat semua yang dilakukan oleh Laban itu kepadamu” (31:10-12). Sewaktu saya membaca mimpi ini pada waktu yang lampau, saya meragukan kebenarannya. Saya mengira bahwa Yakub berdusta karena ia tak ingin membongkar rahasia muslihatnya kepada istri-istrinya. Namun akhirnya saya menemukan bahwa mimpi itu bukannya bohong, sebab di dalam pernyataannya, Yakub mengatakan bahwa Malaikat Allah berkata, “Akulah Allah yang di Betel itu, di mana engkau mengurapi tugu, dan di mana engkau bernazar kepada-Ku” (31:13). Karena perkataan ini tidak mungkin bohong, maka mimpi itu tentunya benar juga. Sementara Yakub tengah memerankan tipu dayanya terhadap Laban dengan cabang-cabang pohonnya yang berbelang-belang, Allah memberitahunya dalam mimpi, agar ia melihat semua jantan-jantannya yang menjantani kambing domba itu adalah bercoreng-coreng, berbintik-bintik, dan berbelang-belang. Melalui ini Allah mengisyaratkan kepada Yakub bahwa ia memperoleh kambing domba itu bukannya oleh karena tipu dayanya, melainkan oleh kedaulatan Allah. Prinsip di sini sama dengan Yakub memperoleh kedudukan sebagai putra sulung. Yakub berusaha sekuat tenaga untuk memperolehnya, padahal itu sebetulnya telah dikaruniakan kepadanya. Kelihatannya Yakub memperoleh hak sulung itu melalui daya muslihatnya, padahal hak itu telah dikaruniakan kepadanya melalui kedaulatan Allah. Demikian juga seolah-olah Yakub memperoleh kambing domba yang banyak itu melalui siasat muslihatnya, namun sebenarnya kekayaannya itu datangnya oleh kedaulatan Allah.
Dalam firman bagian ini terdapat suatu hal yang sulit. Pasal 30 memberi tahu kita bahwa hanya kambing domba putih yang berkelamin dekat dahan-dahan itu, tetapi dalam mimpi tersebut dikatakan kambing domba jantan yang bercoreng-coreng, berbintik-bintik, dan berbelang-belang, bukan kambing domba putih yang menjantani kambing domba lainnya. Bagaimanakah kita dapat menyelaraskan keduanya ini? Ada dua jalan. Jalan pertama, yaitu menyatakan mimpi itu bohong. Tetapi saya tidak dapat menerima ini. Jalan kedua, yaitu menyatakan hal ini adalah kedaulatan Allah. Berdasarkan jalan ini, Allah mengubah kambing domba putih menjadi bercoreng-coreng, berbintik-bintik, dan berbelang-belang dengan cara yang sama seperti Ia mengubah kutukan Bileam menjadi berkat (Bil. 23:1-12; 24:10). Tak peduli dengan jalan bagaimana kita menerangkan peristiwa ini, saya tidak percaya kalau kambing domba itu berkelamin karena siasat muslihat Yakub; saya percaya ini adalah karena kedaulatan Allah. Mimpi Yakub dalam pasal 31 mewahyukan bahwa kedaulatan Allahlah yang sebetulnya menimbulkan hasil itu. Bandingkan sekali lagi, keadaan ini dengan kasus Yakub dalam memperoleh hak sulung. Jika bukan Allah yang berdaulat dalam situasi itu dan tidak mau mengaruniai Yakub hak kesulungan, Yakub pasti tidak akan memperolehnya melalui muslihatnya. Prinsipnya sama dengan yang di sini. Yakub bukannya menjadi kaya karena tipu muslihatnya, melainkan karena kedaulatan Allah.
Yakub telah dipilih Allah dan berada di bawah berkat Allah. Ia tidak perlu memainkan tipu daya untuk menjadi kaya. Berhubung Yakub berada di bawah berkat Allah, maka Allah mengaruniakannya berkat. Secara luaran kelihatannya, Yakub memperoleh kekayaannya karena keberhasilan siasat tipu dayanya; namun sesungguhnya semuanya itu diberikan kepadanya melalui tangan kedaulatan dan berkat Allah. Dalam prinsipnya, hal ini sama dengan keadaan kita hari ini. Kita juga adalah orang-orang yang telah dipilih Allah dan berada di bawah berkat-Nya. Kita tidak perlu bekerja keras ataupun memainkan tipu daya untuk memperoleh berkat Allah. Allah sudah pasti mengaruniai kita berkat yang kita perlukan. Meskipun demikian, setelah kita beroleh selamat, kita semua pernah meronta-ronta dan bermain tipu daya untuk mendapatkan berkat. Dalam banyak hal, berkat itu datangnya seolah-olah melalui perontaan dan tipu daya kita. Namun sebenarnya berkat berasal dari kedaulatan Allah. Demikian juga dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan kita. Jangan mengira bahwa semua berkat datang melalui kesuksesan usaha keras kita. Sebaliknya, kita harus nampak bahwa setiap berkat, baik yang rohani maupun yang materi, semuanya datang melalui kedaulatan Allah.
(10) Berkat Allah
Sekarang kita harus melihat berkat Allah. Allah memberkati Laban karena Yakub (30:27, 30). Melalui berkatnya, Allah melindungi Yakub dari pemerasan Laban (31:7-12, 16, 42). Kita harus menundukkan kepala dan menyembah kepada Allah, serta belajar untuk tidak menghiraukan berapa banyak orang lain memeras kita. Sebagai kaum pilihan Allah, kita justru di bawah berkat-Nya. Meski orang lain memeras kita, kita tidak perlu membalas dengan permainan tipu daya terhadapnya. Karena semakin kita bermain tipu daya, kita akan semakin menderita pemerasan. Entah kita memerankan tipu daya atau tidak, berkat itu pasti milik kita, karena kita justru ditakdirkan untuk itu.
Yakub sudah mulai memakai muslihatnya sejak di dalam kandungan ibunya dan tak pernah berhenti hingga ia diubah. Hanya ketika kita sampai pada pasal-pasal yang terakhir pada Kitab Kejadian, barulah kita melihat bahwa Yakub telah berhenti dari permainan tipu dayanya. Setelah Yakub diubah menjadi pangeran Allah, barulah ia tidak lagi memerankan tipu daya. Demikian juga, kecuali setelah kita ditanggulangi dengan sempurna dan diubah, barulah kita berhenti dari permainan tipu muslihat.
Sebagaimana telah kita tunjukkan, bahwa catatan ini terdapat tiga pihak utama: pihak pemeras, pihak pemain muslihat, dan pihak pemberi berkat. Boleh jadi Allah berkata kepada Laban, “Laban, Aku akan memakai engkau sebagai pemeras dengan maksud mengubah Yakub, orang pilihan-Ku. Engkau tidak dapat merampasnya dari berkat-Ku. Semakin engkau memeras dia, semakin pula Aku akan memberkati dia.” Selain itu, mungkin juga Allah berkata kepada Yakub, “Yakub, engkau tidak akan menjadi kaya oleh permainan tipu dayamu, melainkan oleh pemberkatan kedaulatan-Ku. Engkau menaruh kambing domba yang putih di depan cabang-cabang pohon yang berbelang-belang itu, tetapi oleh mimpi itu dinyatakan bahwa hasilmu itu bukan datang dari permainan tipu dayamu. Dalam pandangan-Ku, kambing domba putih itu sebenarnya bercoreng-coreng, berbintik-bintik, dan berbelang-belang. Pemberkatan kedaulatan-Ku, bukan per-mainan tipu muslihatmu yang telah membuatmu kaya.” Kita semua harus belajar untuk tidak takut terhadap suasana lingkungan atau pun pemerasan dan tidak bermain tipu muslihat. Meskipun Anda bisa memainkan politik penipuan terhadap yang lain, suatu hari alamiah Anda yang penuh tipu muslihat itu akan ditanggulangi.
Meskipun Yakub banyak muslihat, Allah tetap memberkatinya. Dalam mimpi, Allah tidak mencelanya, malahan menghiburnya serta kata-Nya, “Telah Kulihat semua yang dilakukan oleh Laban itu kepadamu” (31:12). Allah melihat penderitaan Yakub dan kesengsaraannya di bawah tangan Laban, dan seolah-olah berkata, “Akulah Allah yang di Betel, Allah ayahmu. Aku akan menjaga engkau.” Membaca catatan ini, kita melihat bahwa Allah acuh tak acuh terhadap apa yang diperbuat Yakub; Ia hanya tahu memperhatikan tujuan-Nya. Semua yang Allah perbuat adalah untuk pembangunan dan pengubahan Yakub.