DITANGGULANGI (4)
Ketika kita membaca kisah Yakub dalam Kitab Kejadian, kita perlu ingat bahwa seluruh Alkitab adalah firman hayat. Alkitab mencakup pengajaran-pengajaran, cerita-cerita, nubuat-nubuat, dan lambang-lambang. Sebagian besar di antaranya secara luaran kelihatannya tidak ada hubungannya dengan hayat. Tetapi berhubung seluruh Alkitab adalah firman hayat Allah, maka kita tidak boleh menganggap cerita-cerita dalam Alkitab sekadar cerita melulu. Kita harus menengadah kepada Tuhan agar Ia menunjukkan kepada kita hayat yang terkandung di dalam setiap cerita itu. Banyak orang Kristen menganggap cerita-cerita dalam Kitab Kejadian hanya sebagai cerita belaka, mereka melalaikan hayat yang terdapat di dalamnya. Banyak orang ketika masih muda suka mendengarkan cerita-cerita dalam Alkitab. Tidak diragukan, cerita-cerita dalam Alkitab adalah yang paling baik. Semoga Tuhan memberi kita jalan untuk menyerap gizi hayat dalam semua cerita Alkitab.
Kita telah menunjukkan bahwa menurut segi pengalaman hayat, Abraham, Ishak, Yakub dan Yusuf tidak seharusnya dipandang sebagai empat individu yang terpisah. Dalam pengalaman hayat, keempat orang ini merupakan satu satuan yang sempurna. Pada Abraham kita nampak panggilan Allah, dibenarkan oleh iman, hidup bersandarkan iman dalam Allah dan hidup dalam persekutuan dengan Allah. Namun mengalami Allah bukan hanya ada panggilan Allah, pembenaran, iman, dan persekutuan, kita pun telah dipilih dan ditentukan. Pada Abraham, Ishak, dan Yakub kita nampak berbagai macam aspek pengalaman hayat. Kecuali ketiga orang ini ditambahkan jadi satu dan ditambah pula Yusuf, barulah kita nampak peng-alaman hayat yang sempurna. Kita telah nampak bahwa Yakub memerlukan Yusuf guna menyempurnakannya. Perjanjian Baru jelas mewahyukan bahwa kita telah ditentukan menjadi anak-anak Allah (Ef. 1:5), bahkan anak-anak Allah yang rajani. Semua anak-anak Allah akan menjadi raja. Kitab Wahyu memberi tahu kita bahwa orang-orang kudus akan memerintah sebagai raja bersama-sama dengan Kristus selama seribu tahun (Why. 2:26-27; 20:4, 6). Pada Abraham dan Ishak kita tidak menjumpai perihal menjadi raja. Bahkan pada Yakub pun kita tidak melihat hal ini, melainkan dengan jelas diwahyukan pada Yusuf. Dalam pasal-pasal terakhir Kitab Kejadian, seluruh dunia berada di bawah kekuasaan Firaun. Tetapi Firaun hanya sebagai raja boneka, penguasa atas bumi saat itu sebetulnya adalah Yusuf. Karena Yusuf mewakili Yakub, maka penguasa seluruh bumi sesungguhnya adalah Yakub. Yakub berkuasa melalui Yusuf, anaknya, yang merupakan aspek kekuasaan dari hayat Yakub. Jadi, pengalaman Abraham, Ishak, Yakub dan Yusuf menyusun satu pengalaman hayat yang sempurna. Pengalaman terhadap Allah semacam ini dimulai dengan pemilihan dan diakhiri dengan menjadi raja.
Kejadian 1:26 mewahyukan bahwa sasaran Allah dalam menciptakan manusia ialah agar manusia mengekspresikan Allah menurut gambar-Nya dan memiliki kekuasaan-Nya untuk mewakili-Nya. Walaupun pada Abraham tertampak barang-barang milik Allah, namun kita tidak banyak nampak gambar Allah. Lagi pula, pada Abraham maupun Ishak kita tidak nampak kuasa pengaturan Allah. Kuasa pengaturan Allah ini ada pada Yusuf. Yakub ditambah Yusuf barulah jelas ternyata gambar dan kuasa pengaturan Allah. Akhirnya, Yakub disebut Israel, pangeran Allah. Namanya mencakup nama Allah. Dalam nama Yakub yang telah diubah terdapat nama Allah. Karena Yakub benar-benar telah diubah sesuai dengan gambar Allah, maka pada diri orang ini terdapat ekspresi Allah. Pada Yakub terdapat ekspresi, sedang pada Yusuf terdapat kuasa pengaturan. Sebagai satu satuan yang sempurna, mereka mengekspresikan Allah dan mewakili Allah. Jika kita ingin melihat ini, kita harus memiliki penerangan rohani. Kita perlu berdoa, “Tuhan, bukalah mata kami. Kami tidak hanya ingin membaca cerita-cerita dalam Alkitab dan mendapat pengetahuan saja, kami lebih-lebih mau nampak terang hayat dalam cerita-cerita ini dan mendapatkan perawatan hayat yang terkandung di dalamnya.”
Pada diri Abraham kita tidak banyak nampak penanggulangan Allah. Pada diri Ishak kita pun tidak nampak, sebab Allah tidak pernah menanggulanginya. Ishak hanya gemar makan. Menurut opini kita, tidak ada yang menyetujui tindakan Allah ini. Kita akan berkata, “Ya Allah, mengapa Engkau terus menanggulangi aku? Mengapa Engkau tidak menanggulangi Ishak? Ishak bahkan menjual pemberkatan-Mu dengan makanan kegemarannya.” Dalam Kejadian 27:3-4 Ishak berkata kepada Esau “Pergilah ke padang dan burulah bagiku seekor binatang; olahlah bagiku makanan yang enak, seperti yang kugemari, sesudah itu bawalah kepadaku, supaya kumakan, agar aku memberkati engkau, sebelum aku mati.” Seandainya hari ini ada seorang saudara berbuat demikian, kita akan berkata, “Saudara, engkau tidak boleh berbuat demikian. Ini terlalu karnal (milik daging) dan duniawi.” Namun Ishak tidak dicela karena berbuat demikian. Faktanya, meskipun Ishak memberkati secara buta dan keliru, Allah tetap menghargai pemberkatannya. Ini menunjukkan dengan jelas bahwa Ishak tidak mewakili hayat yang ditanggulangi oleh Allah. Seumur hidup Yakub barulah mewakili hayat yang ditanggulangi oleh Allah. Sekali demi sekali, Allah tidak membiarkan Yakub, tangan Allah tidak pernah meninggalkan dia.
Dalam Kejadian 29, setibanya Yakub di rumah Laban, segera ia dimasukkan ke dalam ruang pengubahan. Sebagaimana telah kita lihat, Ishak, Ribka, dan Esau bekerja sama untuk memaksa Yakub lari meninggalkan rumah bapanya. Ishak itu sederhana, bersifat iya saja, dan tidak pandai membedakan; itulah sifat dan karakter Ishak. Namun Ribka itu cerdik, cekatan, dan pandai memanipulasi. Sebagai seorang istri dan ibu yang berwatak kuat, mengatur seluruh rumah tangganya. Esau, sang kakak, tidak begitu pintar, namun tubuhnya kuat dan seolah-olah berkata, “Yakub, aku tidak sepandai kamu bermain akal, namun aku tahu cara menggunakan tinjuku. Kamu pintar, tetapi pada suatu hari aku akan membunuhmu.” Ketiga orang ini bekerja sama untuk menghalau Yakub pergi, mendesaknya meninggalkan ibunya yang terkasih dan rumah ayahnya. Kita tahu betapa menderitanya Yakub sepanjang perjalanannya melalui fakta bahwa ia “menangis dengan suara yang keras”, ketika berjumpa dengan Rahel, saudara sepupunya (Kej. 29:11). Yakub sangat kesepian. Semua kejadian sebelum ia pergi ke rumah Laban, hanyalah membawa ia masuk ke dalam ruang pengubahan. Dalam Kejadian 29, Yakub telah memasuki ruang pengubahan ini.
(5) Kedaulatan Allah Mempertemukan Yakub dengan Rahel dan Laban
Dengan kedaulatan-Nya, Allah mempertemukan Yakub dengan Rahel dan Laban (Kej. 29:1-14). Setelah menempuh perjalanan yang jauh, Yakub tiba di suatu tempat di mana ia menduga Laban, pamannya, tinggal di sana. Alkitab tidak mengisahkan Yakub mencari pamannya dari satu tempat ke tempat lain. Tidak, Alkitab mengatakan ia hanya datang ke suatu tempat dan menemukan bahwa itulah tempat di mana Laban tinggal. Setelah bercakap sejenak dengan beberapa orang di sumur, Yakub bertemu dengan Rahel, putri Laban, pamannya. Rahel, bukan Lea, yang datang, ini juga menurut kedaulat-an Allah. Kita tahu ini adalah pengaturan Allah yang berdaulat, karena dalam Kejadian 28:15 Allah berjanji kepada Yakub, firman-Nya, “Sesungguhnya Aku menyertai engkau dan Aku akan melindungi engkau, ke mana pun engkau pergi, dan Aku akan membawa engkau kembali ke negeri ini, sebab Aku tidak akan meninggalkan engkau, melainkan tetap melakukan apa yang Kujanjikan kepadamu.” Allah itu setia janji. Ia mengatur langkah-langkah Yakub dan membawanya ke tempat kediaman Laban. Kemudian Allah membawa Rahel berjumpa dengan Yakub di sumur. Dalam Kejadian 24:13-32, Ribka dan Laban dipertemukan dengan hamba Ishak. Di sini Rahel dan Laban dijumpai oleh Yakub sendiri. Dalam hal ini kita nampak kedaulatan Allah.
Kita semua adalah umat pilihan Allah. Jika Anda percaya bahwa Anda ini dipilih oleh Allah, maka Anda harus percaya bahwa apa saja yang menimpa Anda adalah berasal dari Allah. Apa yang terjadi pada kita di masa lampau atau sekarang, semuanya dari Allah. Janganlah menggerutu terhadap keadaan sekeliling Anda. Sebagai seorang pilihan Allah, nasib Anda terletak di tangan Allah dan masa depan Anda berada di bawah bimbingan Allah. Anda masuk ke dalam hidup gereja bukanlah kebetulan, melainkan digiring oleh tangan Allah yang memilih Anda. Bukan saja di bawah jari Allah; kita pun di dalam tangan-Nya. Kapan kala Anda ingin menanggulangi sesuatu, tentunya Anda memegang erat hal itu di dalam tangan Anda. Janganlah takut berada di bawah jari Allah, karena ini menandakan bahwa Anda berada di dalam tangan-Nya. Anda perlu berkata, “Puji Tuhan! Aku berada di bawah jari-Nya dan di dalam tangan-Nya.” Sebagai Yakub hari ini, kita semua berada di dalam tangan Allah.
(6) Laban Menipu Yakub
dengan Menikahkan Kedua Putrinya kepadanya
Begitu Yakub menceritakan kepada Rahel bahwa ia sanak saudara ayahnya dan anak Ribka, maka berlarilah Rahel menceritakannya kepada ayahnya (Kej. 29:12). Dalam Kejadian 29:13-14, Laban “berlari menyongsong dia, lalu mendekap dan mencium dia, kemudian membawanya ke rumahnya.” Laban berkata kepada Yakub, “Sesungguhnya engkau sedarah sedaging dengan aku” (29:14). Laban itu seorang politikus. Setelah Yakub tinggal bersama dia selama satu bulan, Laban berpendapat bahwa Yakub berguna baginya, katanya, “Masakan karena engkau adalah sanak saudaraku, engkau bekerja padaku dengan cuma-cuma? Katakanlah kepadaku apa yang patut menjadi upahmu” (29:15). Laban sedang mencari akal untuk menangkap, menahan, dan meng-gunakan Yakub. Dalam Kitab Kejadian tidak ada orang yang lebih cerdik daripada Laban. Bahkan Yakub pun bukan tandingannya. Yakub memang cerdik, namun Allah lebih cerdik dan seolah berkata, “Yakub, engkau ini cerdik. Aku akan mengatur seorang yang lebih cerdik.” Laban bukan dilahirkan secara kebetulan, ia dilahirkan menurut persediaan Allah demi kepentingan mengubah Yakub. Sebelum operasi dilakukan dalam kamar bedah, telah disediakan banyak peralatan. Demikian pula, Laban yang bagaikan pisau pengukir, disiapkan bagi Yakub.
Laban seolah-olah berkata kepada Yakub, “Jangan engkau bekerja padaku dengan cuma-cuma. Katakanlah kepadaku upah apa yang kau inginkan.” Yakub yang mencintai Rahel, lalu berterus terang kepada Laban dan berkata, “Aku mau bekerja padamu tujuh tahun lamanya untuk mendapat Rahel, anakmu yang lebih muda itu” (29:18). Cinta selalu membuat orang buta dan tolol. Ketika saya membaca kisah Yakub, saya berkata, “Yakub, engkau tolol. Janganlah kau katakan mau bekerja tujuh tahun untuk mendapatkan Rahel. Seharusnya kau berkata mau bekerja selama tujuh bulan.” Orang yang “selicik” Yakub, mengapa menjadi setolol itu? Karena ia mencintai Rahel, maka ia ingin memperolehnya dengan pengorbanan apa pun. Namun Yakub juga sangat pandai, ia tahu bahwa bila ia mengusulkan ikatan kerja jangka waktu pendek, tentunya Laban tidak akan menyetujui tawar menawar ini. Jadi, karena Yakub khawatir kehilangan Rahel, maka ia menawarkan bekerja tujuh tahun bagi Laban agar ia dapat memperistri Rahel. Bekerja jangka waktu yang sepanjang itu bukanlah perkara yang sepele. Kalau saya ini Yakub, saya akan mengajukan dulu bekerja selama tujuh bulan, kemudian barulah mengadakan tawar menawar dengan Laban mengenai jangka waktunya.
Laban itu serakah, ia memeras kemenakannya selama tujuh tahun. Alkitab tidak mengatakan bahwa setelah genap tujuh tahun, Laban memanggil Yakub dan memberi tahu dia bahwa telah tiba waktunya untuk memperistri Rahel. Tidak, Yakublah yang mengajukan kepada Laban, “Berikanlah kepadaku bakal istriku itu, sebab jangka waktuku telah genap, supaya aku akan kawin dengan dia” (29:21). Yakub seakan-akan berkata, “Laban, tujuh tahunku telah genap. Di mana istriku? Aku telah bekerja untukmu. Sekarang, berilah upahku.” Laban memang penuh akal. Ia mengundang semua orang di tempat itu dan mengadakan perjamuan, kemudian pada waktu malam diambilnya Lea, putrinya, lalu dibawanya kepada Yakub, “maka Yakub pun menghampiri dia” (29:22-23). Perjamuan diselenggarakan di siang hari, namun pernikahannya diselenggarakan di malam hari. Pada malam itu Laban menipu Yakub, memberikan Lea, anak perempuannya yang sulung sebagai pengganti Rahel. Keesokan harinya Yakub mengetahui bahwa Laban telah menipu dirinya, kemudian katanya, “Apakah yang kau perbuat terhadapku ini? Bukankah untuk mendapat Rahel aku bekerja padamu? Mengapa engkau menipu aku?” (29:25). Yakub tidak menyukai Lea, karena matanya tidak berseri; ia cinta kepada Rahel yang elok sikapnya dan cantiknya parasnya (29:17). Setelah Yakub menggerutu, Laban lalu berkata, “Tidak biasa orang berbuat demikian di tempat kami ini, mengawinkan adiknya lebih dahulu daripada kakaknya. Genapilah dahulu tujuh hari perkawinanmu dengan anakku ini. Kemudian anakku yang lain pun akan diberikan kepadamu sebagai upah, asal engkau bekerja pula padaku tujuh tahun lagi” (29:26-27). Laban benar-benar pisau pengukir. Tetapi Yakub menyetujui peng-aturan ini. Demi Rahel, kesayangannya, ia telah ditipu oleh Laban sehingga bekerja selama empat belas tahun.
Dalam perkara ini ada tangan kedaulatan Allah. Yakub cinta kepada Rahel, namun kedaulatan Allah telah memisahkan dia dari Yakub. Yakub tidak sehari pun bekerja bagi Lea, namun Lea diberikan kepadanya sebagai hadiah cuma-cuma, sebagai suatu tambahan. Dalam hal ini kita nampak bahwa Allah bisa membiarkan Anda memperoleh kesayangan Anda, namun Anda harus membayar harga un-tuk itu. Kesayangan Anda selalu membuat Anda mengeluarkan harga yang amat besar. Karena selain mengaruniakan kesayangan Anda, Allah akan memberi Anda suatu tambahan. Allah seolah-olah berkata, “Yakub, engkau mencintai Rahel? Aku bisa memberinya kepadamu, namun engkau harus membayar harganya. Setelah engkau membayar harga yang tinggi ini, Aku akan memberimu suatu tambahan. Tambahan ini adalah menurut kehendak-Ku.”
Rahel adalah istri menurut pilihan dan kesenangan Yakub sendiri, sedangkan Lea adalah istri menurut konsepsi dan kehendak Allah. Ini terbukti dalam Kejadian 49:31, di sana kita diberi tahu bahwa Yakub menguburkan Lea dalam gua Makhpela, gua luar biasa di mana Abraham beserta Sara, Ishak beserta Ribka dikuburkan. Perhatikan, yang dikubur di sana adalah Lea, bukan Rahel. Allah selamanya selaras. Dalam pandangan-Nya, seorang suami hanya mempunyai seorang istri. Allah tidak mengakui Rahel sebagai istri Yakub, karena ia adalah kesukaan Yakub. Lea itulah istri Yakub yang sejati. Selain memberi Yakub kesukaannya, Allah juga mengajar dia banyak pelajaran. Demikian pula, Anda, seorang pekerja Allah, mungkin condong pada saudara tertentu sebagai sekerja Anda. Namun sekerja itu Anda pilih menurut kesukaan Anda, bukan oleh Allah menurut kesukaan kehendak-Nya. Allah kita agung adanya. Bila Anda menghendaki kesukaan Anda, Allah akan berkata, “Aku akan membiarkan kau memperoleh pilihanmu. Namun ini kesempatan yang baik bagi-Ku untuk menanggulangi, mengubah, dan memberimu pelajaran. Akhirnya, Aku akan mengaruniakan kau sekerja yang sejati yang Kupilih dan yang tidak kau sukai.”
Allah menghadiahkan Lea kepada Yakub. Apakah Yakub mengasihinya? Mungkin tidak. Dalam Kejadian 29:31 kita tahu bahwa “Lea tidak dicintai”. Mula-mula, ia “dibenci” oleh Rahel dan kemudian ia “dibenci” oleh Yakub yang sudah pasti dipengaruhi oleh Rahel. Ada orang mengatakan bahwa Allah selamanya tidak membiarkan kita memperoleh pilihan kita sendiri. Ajaran ini tidak benar. Allah bisa mengizinkan Anda memperoleh pilihan Anda, namun mengiringi pilihan Anda, Anda akan menerima sejumlah penanggulangan dan pengubahan (transformasi).
(7) Persaingan, Iri Hati, dan Pergulatan di Antara Istriistri Yakub dalam Hal Melahirkan Anak
Kedua istri bersaing dalam hal melahirkan anak. Persaingan ini menaruh Yakub ke dalam tungku api, membuatnya laksana semut di atas pan yang panas. Empat perempuan, dua anak perempuan Laban dan kedua budak perempuan mereka, membuat susah hidup Yakub. Seandainya ia tidak mempunyai kesukaannya sendiri, tentunya ia hanya memiliki seorang istri saja. Berhubung ia mempunyai kesukaannya sendiri, akhirnya ia diberi empat istri. Sebagaimana telah kita lihat bahwa Rahel, istri pilihannya, sesungguhnya bukanlah istrinya yang sejati. Istrinya yang sejati adalah Lea, yang tidak dicintainya. Karena perseteruan antara Rahel dan Lea, maka kedua dayang mereka, Bilha dan Zilpa, diberikan kepada Yakub sebagai istrinya (Kej. 30:4, 9). Keempat perempuan ini merupakan satu regu yang bermain melawan Yakub. Dalam perbandingan antara Yakub dengan Ishak, kita nampak bahwa Ishak sangat sederhana. Ia tidak mempunyai kesukaannya sendiri, kecuali menerima orang dan apa saja yang menimpa ke atasnya. Demikianlah, istri yang terbaik, yakni Ribka, dijodohkan kepadanya. Atas Ishak, tidak ada kerumitan. Namun, atas Yakub terjadi banyak kerumitan akibat adanya pilihannya sendiri. Bahkan Yakub memiliki kesukaannya sendiri ini pun berada di bawah pemerintahan Allah. Jangan meremehkan diri sendiri dan berkata, “Aku membenci diriku, mengapa tidak dilahirkan sederhana.” Lebih baik Anda bersyukur kepada Allah atas ketidaksederhanaan Anda. Katakanlah, “Terima kasih, ya Tuhan, atas diriku yang tercipta sebagai orang yang tidak sederhana ini. Syukur, ya Tuhan, atas diriku yang demikian rumitnya.” Pernahkah Anda berterima kasih dan memuji Allah sedemikian ini? Janganlah berkata, “Oh, aku sedih atas kesalahan-kesalahan yang kulakukan di masa lalu.” Bahkan kesalahan Anda itu berada di bawah kedaulatan Allah. Jika kita tidak pernah berbuat kesalahan sedikit pun, hari ini mungkin kita tidak berada di dalam hidup gereja. Puji Tuhan, kesalahan kita telah membawa kita ke dalam hidup gereja. Pujilah Tuhan atas kedaulatan-Nya!
Aku selalu tertawa lucu setiap kali membaca tentang penipuan Laban terhadap Yakub. Dalam seluruh sejarah manusia, mungkin ini adalah peristiwa tunggal, yaitu seorang mertua bermain muslihat semacam ini terhadap menantu laki-lakinya sendiri. Hanya dalam Alkitab kita bisa membaca perkara sedemikian. Pada malam itu, Yakub membayangkan dirinya telah beroleh idamannya. Tetapi pada pagi hari, ia sadar bahwa dirinya telah memperoleh seseorang yang tidak ia cintai. Di sini kita nampak kedaulatan Allah. Kemudian, sebagai tambahan selain Lea dan Rahel, dua istri lain diberikan kepada Yakub. Yakub tentunya tidak berpikir untuk mempunyai empat orang istri. Sebagaimana semua saudara yang telah menikah bisa bersaksi bahwa satu istri sudahlah cukup. Tetapi Yakub tidak memiliki pilihan lagi. Empat istri telah diberikan kepadanya. Dalam hal ini ia tidak berdaya apa-apa. Ia dikepung oleh mereka, sampai-sampai kehilangan kebebasan untuk melakukan niatnya sendiri.
Pada suatu hari, anak sulung Yakub, Ruben menemukan buah dudaim di ladang, lalu dibawanya kepada Lea, ibunya (30:14). Menurut Kidung Agung 7:13, buah dudaim melambangkan buah kasih. Ketika Rahel menghendaki buah dudaim, Lea berkata, “Apakah belum cukup bagimu mengambil suamiku? Sekarang pula mau mengambil lagi buah dudaim anakku?” (30:15). Untuk ini Rahel berkata bahwa Lea boleh tidur dengan Yakub malam itu sebagai ganti buah dudaim Ruben. Ketika Yakub pulang dari ladang petang hari itu, Lea menjumpainya dan berkata, “Engkau harus singgah kepadaku malam ini, sebab memang engkau telah kusewa dengan buah dudaim anakku” (30:16). Yakub telah kehilangan kebebasannya. Ia bagaikan bola voli yang dilempar dari seorang ke seorang. Yakub telah terjerat oleh keadaan yang begitu menyulitkan karena istri-istrinya saling bersaing dalam hal melahirkan anak.
Pada saat kita membaca kisah Yakub, kita harus menyembah Allah yang berdaulat, adil, dan penuh rencana. Yakub mencintai Rahel, tidak mencintai Lea. Namun Lea yang tidak ia cintai itu melahirkan baginya empat anak laki-laki (29:31-35), dan Rahel yang dicintainya malah mandul (30:1-2). Kejadian 29:31 mengatakan, “Ketika TUHAN melihat, bahwa Lea tidak dicintai, dibuka-Nyalah kandungannya, tetapi Rahel mandul.” Lea tidak dicintai, namun mendapat anugerah dalam pandangan Allah. Ketika melahirkan Ruben, putra sulungnya, yang namanya berarti “melihat seorang anak”, ia berkata, “Sesungguhnya TUHAN telah memperhatikan kesengsaraanku” (29:32). Anak Lea yang kedua diberi nama Simeon, yang berarti “mendengar”. Setelah melahir-kan Simeon, ia berkata, “Sesungguhnya, TUHAN telah mendengar bahwa aku tidak dicintai, lalu diberikan-Nya pula anak ini kepadaku” (29:33). Anak Lea yang ketiga diberi nama Lewi yang berarti “berhubung erat”. Setelah Lewi dilahirkan, Lea menyatakan, “Sekali ini suamiku akan lebih erat kepadaku, karena aku telah melahirkan tiga anak laki-laki baginya” (29:34). Dalam 29:35 kita tahu bahwa Lea mengandung pula dan melahirkan seorang anak laki-laki, ia berkata, “Sekali ini aku akan bersyukur kepada TUHAN.” Itulah sebabnya ia menamai anak itu Yehuda. Sesudah itu ia tidak melahirkan lagi. Nama Yehuda berarti “memuji”. Setelah melahirkan empat anak ini, Lea tidak berbuat lain kecuali memuji-muji TUHAN.
Ketika Rahel melihat bahwa ia tidak melahirkan seorang anak pun bagi Yakub, cemburulah ia kepada kakaknya dan berkata kepada Yakub, “Berikanlah kepadaku anak; kalau tidak, aku akan mati” (30:1). Ketika Yakub mendengar ini, bangkitlah amarahnya dan berkata, “Akukah pengganti Allah, yang telah menghalangi engkau mengandung?” (30:2). Apakah Anda mengira Yakub mengalami banyak kenikmatan dalam situasi yang demikian? Tidak, ia justru terganggu terus-menerus. Kemudian Rahel memberikan Bilha, budaknya itu, kepada Yakub untuk dijadikan istrinya (30:3-4). Allah juga berdaulat dalam hal ini. Bilha melahirkan dua putra; Dan yang berarti “mengadili” dan Naftali yang berarti “pergulatanku” (30:5-8). Pada saat kelahiran Dan, Rahel mengatakan, “Allah telah memberikan keadilan kepadaku, juga telah didengarkan-Nya permohonanku dan diberikan-Nya kepadaku seorang anak laki-laki” (30:6). Apakah Allah sudah membela Rahel atau tidak, hanya Allah sendiri yang tahu. Namun menurut pengertian Rahel, Allah telah membelanya. Pada saat Bilha melahirkan Naftali, Rahel berkata, “Aku telah sangat hebat bergulat dengan kakakku, dan aku pun menang” (30:8). Dalam bahasa Ibrani, kata-kata “sangat hebat” dalam ayat ini adalah kata-kata untuk Allah. Jadi, kata-kata ini dapat diterjemahkan “pergulatan Allah”. Ini bukan berarti bahwa Rahel bergulat dengan Lea, melainkan bahwa ia berkali-kali datang kepada Allah, berkata, “Ya Allah, Engkau harus mengadili dan membela aku. Engkau telah memberi empat anak kepada Lea, kakakku, tetapi Engkau tidak memberi satu pun kepadaku.” Demikianlah dengan “pergulatan Allah” ia bergulat di hadapan Allah dan setelah Naftali terlahir, ia menganggap dirinya telah menang, yaitu sudah menang dalam pengaduan (kasus) ini. Namun, Dan dan Naftali bukan dilahirkan olehnya, melainkan oleh budaknya.
Melihat budak Rahel melahirkan dua putra, Lea seolah berkata, “Bila Rahel dapat memberikan budaknya kepada Yakub, mengapa aku tidak bisa? Biarlah aku begitu juga!” Lea lalu memberikan Zilpa, budaknya kepada Yakub untuk menjadi istrinya dan ia pun melahirkan dua putra — Gad dan Asyer (30:9-13). Gad berarti “mujur”, dan Asyer berarti “bahagia”. Sewaktu Gad dilahirkan, Lea berkata, “Mujur telah datang!” (30:11), dan sewaktu Asyer dilahirkan, ia berkata, “Aku ini berbahagia! Tentulah perempuan-perempuan akan menyebutkan aku berbahagia” (30:13). Dikatakan dari pihak yang baik, Lea berbahagia karena ia telah melahirkan empat anak bagi Yakub ditambahkan dua lagi dari budaknya. Ia menganggap dirinya berbahagia dan semua perempuan akan memuji dia. Dalam bahasa Ibrani, kata bahagia dan memuji adalah satu akar kata. Maka orang yang bahagia adalah orang yang terpuji dan orang yang terpuji adalah orang yang bahagia. Inilah pendapat Lea. Allah memberi Lea dua anak lagi: Isakhar dan Zebulon (30:17-20). Nama Isakhar berarti “upah”. Ketika ia dilahirkan, Lea berkata, “Allah telah memberi upahku, karena aku telah memberi budakku perempuan kepada suamiku” (30:18). Dalam batin Lea pasti mengira bahwa Isakhar dilahirkan karena ia telah menyewa Yakub dengan memberikan buah dudaim Ruben kepada Rahel. Inilah tanda lebih lanjut dari persaing-an antara kedua perempuan ini. Di saat Zebulon dilahirkan, Lea berkata, “Allah telah memberikan hadiah yang indah kepadaku; sekali ini suamiku akan tinggal bersama-sama dengan aku, karena aku telah melahirkan enam orang anak laki-laki baginya” (30:20). Seakan-akan Lea berkata, “Aku tidak menghendaki Yakub meninggalkan aku. Aku mau ia tinggal bersama aku.” Dalam catatan ini kita nampak jelas persaingan antara istri-istri Yakub.
Sampai saat itu, Rahel sendiri tetap belum melahirkan anak. Mari kita melihat kronologinya. Yakub tiba di rumah Laban kira-kira pada tahun 1760 SM., dan ia menikah kira-kira pada tahun 1753 SM. Delapan tahun kemudian, Yusuf dilahirkan. Di bawah tangan kedaulatan Allah, Rahel mandul, tidak melahirkan anak sampai berselang delapan tahun. Kemudian Allah memberinya seorang anak laki-laki yang dinamai Yusuf, katanya, “Mudah-mudahan TUHAN menambah seorang anak laki-laki bagiku” (30:24). Arti nama Yusuf ialah “menambahkan”, menunjukkan bahwa Rahel ingin Allah menambahkan seorang anak laki-laki lagi baginya. Hasrat tercapai enam tahun kemudian oleh terlahirnya Benyamin (35:16-20). Baginya, melahirkan Benyamin merupakan suatu kepayahan berat yang meminta pengorbanan nyawanya. Menjelang meninggalnya, Rahel memberinya nama Ben-oni kepada anak itu, tetapi ayahnya menamainya “Benyamin” (35:18). Ben-oni berarti “anak sengsara”, namun amatlah berarti bahwa Yakub mengganti nama anak itu dengan Benyamin yang artinya “anak di sebelah kanan”. Dalam Alkitab, Benyamin melambangkan Kristus. Mula-mula Kristus sebagai Ben-oni, anak sengsara (Yes. 53:3), namun akhirnya Ia menjadi Benyamin, Anak di sebelah kanan Allah (Mat. 26:64).
Rahel melahirkan dua anak laki-laki, namun ketika melahirkan anak yang kedua, ia meninggal dunia. Ini berarti bahwa Yakub memperoleh putranya yang terakhir dengan dibayar oleh nyawa istrinya yang terkasih. Pengalaman-pengalaman ini seperti pisau yang mengiris Yakub sampai berkeping-keping. Yakub mencintai Rahel, tetapi ia mandul. Setelah melahirkan Yusuf, ia mengharapkan anak yang kedua. Hasrat ini dipenuhi dengan harga sebesar nyawanya. Yakub mengasihi Yusuf dan Benyamin. Di antara kedua belas anaknya, mereka berdua inilah mata hatinya. Yakub telah mendapat dua anaknya ini, namun Allah tidak membolehkan dia sekaligus memiliki Rahel, istrinya yang terkasih bersama kedua anak kesayangannya. Dalam pasal selanjutnya kita akan melihat betapa Yakub banyak menderita karena Yusuf dan Benyamin. Dalam semua ini, Yakub terus berada di bawah pekerjaan tangan Allah yang berdaulat dan yang mengubah.
Betapa bermaknanya membaca pasal-pasal ini, dan betapa bantuannya melihat hayat yang terkandung di dalamnya. Pasal-pasal ini nampaknya amat panjang, namun mengandung banyak rawatan hayat bagi kita. Semakin kita memikirkan catatan mengenai Yakub, semakin kita menyadari bahwa kisah kita pun tepat seperti dia. Dalam pandangan Allah, kisah Yakub itulah kisah kita semua. Kita adalah Yakub-Yakub hari ini yang berada di bawah tangan Allah, karena Allah sekarang ini sedang merampungkan pekerjaan pengubahan-Nya atas diri kita. Syukur karena tangan-Nya dan syukur karena pekerjaan pengubahan-Nya. Entah apa situasi kita, sekeliling kita, dan keadaan kita, kita selalu berada di bawah tangan pengubahan-Nya.