DITANGGULANGI (3)
Kejadian 28:10-22 adalah kata-kata sangat penting dalam wahyu Allah. Bila kita mengetahui Alkitab, kita akan nampak bahwa di sini terdapat suatu belokan yang besar, permulaan yang baru dalam wahyu ilahi. Dalam 27 pasal pertama dari Kitab Kejadian, istilah rumah Allah (Betel) tidak pernah digunakan. Namun dalam pasal ini, perihal rumah Allah diwahyukan. Rumah Allah bukan sekadar suatu tempat, melainkan suatu komposisi hidup yang terdiri dari umat yang hidup. Di mana umat ini berada, di sana terdapat rumah Allah. Jadi, bukan tergantung tempatnya, melainkan umatnya. Bila umat itu pindah, maka tempat itu bukan lagi merupakan rumah Allah. Bagaimanakah suatu tempat dapat disebut rumah Allah? Hanya karena di sana terdapat rumah Allah yang riil dan hidup, suatu komposisi hidup yang terdiri dari umat yang hidup.
Kejadian 1:26 mengatakan bahwa manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah sendiri. Alangkah ajaibnya. Manusia itu manusia, bukannya Allah, tetapi ia mempunyai rupa Allah. Dengan kata lain, manusia mirip Allah. Mengatakan demikian itu benar. Bila seseorang mempunyai rupa Anda, orang itu pasti serupa dengan Anda. Allah menciptakan manusia menurut gambar dan rupa-Nya sendiri, ini sangatlah bermakna.
Dalam Kejadian 2:7 kita nampak bahwa manusia yang diciptakan menurut rupa Allah itu terbuat dari debu tanah. Apakah Anda sadar bahwa Anda dibuat dari debu tanah? Tidak satu pun yang terkecuali. Kita bukan dibuat dari emas, berlian, atau besi baja. Kita semua dibuat dari debu tanah. Berhargakah debu tanah itu? Maukah Anda menyimpan segenggam tanah dalam saku Anda? Tidak seorang pun mau. Bagaimanapun, kita ini dibuat dari debu tanah. Roma 9:21 mewahyukan bahwa kita adalah bejana tanah liat. Debu tanah dan tanah liat hampir sama. Bila air ditambahkan dulu pada tanah, debu tanah akan menjadi tanah liat. Menurut susunan materi kita, kita ini tidak bernilai.
Dalam pasal 28, debu tanah itu berubah menjadi batu. Batu dalam pasal ini menjadi perhentian bagi manusia yang diciptakan dari debu tanah (ayat 11), karena batu ini kini menopang debu tanah. Yakub, seorang yang terbuat dari debu tanah, berbaring di atas batu. Ini sangat berarti. Lihatlah lukisan dalam pasal 28. Di sini kita menjumpai seorang yang lelah, sendirian, putus asa, orang yang dibuat dari debu tanah, orang yang tidak tahu pasti masa depannya. Menjelang matahari terbenam, ia memerlukan istirahat, “ia sampai di suatu tempat, dan bermalam di situ, karena matahari telah terbenam. Ia mengambil sebuah batu yang terletak di tempat itu dan dipakainya sebagai alas kepala, lalu membaringkan dirinya di tempat itu” (ayat 11). Cara memahami Alkitab hendaklah berdasarkan Alkitab. Jika kita hanya membaca Kejadian 28, kita tidak akan tahu apa maksudnya. Namun, jika kita menyusuri seluruh Alkitab melalui terang surgawi, kita akan tahu arti batu dalam pasal ini. Ketika Petrus pertama kali datang kepada Tuhan, Tuhan mengubah namanya sambil berkata, “Engkau Simon, anak Yohanes, engkau akan dinamakan Kefas (artinya: Petrus)” (Yoh. 1:42). Kurang lebih tiga tahun setelah pertama kali berjumpa dengan Tuhan, Petrus menjawab sebuah pertanyaan Tuhan, katanya, “Engkaulah Mesias, Anak Allah yang hidup!” (Mat. 16:16). Kemudian Tuhan Yesus menjawabnya, “Dan Aku pun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku (gereja-Ku)” (Mat. 16:18). Seolah-olah Tuhan berkata, “Petrus, ingatkah engkau bahwa pada hari pertama engkau datang kepada-Ku, Aku menamaimu Batu? Ini bukan hanya sekadar nama, harus menjadi fakta. Petrus, engkau adalah batu. Di atas batu karang inilah Aku akan mendirikan gereja-Ku.” Jadi, Matius 16:18 mewahyukan bahwa batu itu digunakan untuk membangun gereja.
Apakah gereja? 1 Timotius 3:15 mengatakan bahwa gereja adalah rumah Allah yang hidup. Pada akhirnya, dalam alam kekekalan, rumah Allah yang hidup akan menjadi Yerusalem Baru. Dalam Wahyu 21 kita melihat bahwa Yerusalem Baru bukan dibangun dari tanah liat atau debu tanah, melainkan dari batu-batu permata. Mengenai Yerusalem Baru, Wahyu 21:11 mengatakan, “Cahayanya sama seperti permata yang paling indah, bagaikan permata yaspis, jernih seperti kristal.” Ini bukan kiasan saya, melainkan wahyu ilahi.
Kita perlu memeriksa Alkitab dengan pandangan yang menyeluruh. Dalam Kejadian 1 dan 2 kita nampak, meskipun manusia diciptakan menurut rupa Allah, namun ia terdiri dari debu tanah. Rupa Allah adalah untuk mengekspresikan Allah, debu tanah tentu saja tidak sesuai untuk mengekspresikan Allah. Jadi, perlu ada pengubahan (transformasi). Pengubahan bukan hanya mengenai bentuk, tetapi juga mengenai sifat. Kata pengubahan di sini menunjukkan suatu pengubahan metabolis. Kita perlu ada pengubahan dalam sifat kita agar sifat dan penampilan kita tidak lagi milik debu tanah. Dalam Kejadian 2, manusia adalah debu tanah, namun dalam Wahyu 21, ia adalah batu permata. Dalam kekekalan, tidak memerlukan pembersihan lagi. Di atas bumi yang penuh debu tanah ini, kita memerlukan pembersihan setiap hari. Karena dalam Yerusalem Baru tidak ada debu tanah, maka tidak perlu ada pembersihan. Semua debu tanah akan diubah menjadi batu-batu permata.
Dalam Kejadian 2 terdapat manusia tanah liat dan dalam Kejadian 28, tertampak seorang manusia tanah liat yang berbaring di atas batu. Alkitab benar-benar dituliskan oleh Allah. Kita tidak dapat menemukan bagian seperti Kejadian 28:10-22 di dalam buku lain yang mana pun. Ayat ini pendek, namun penting, dalam, bermakna, dan ruang lingkupnya meliputi seluruh Alkitab. Dalam ayat 11 kita nampak batu yang digunakan Yakub sebagai alas kepala. Sebagaimana setiap orang tahu bahwa bantal adalah sesuatu yang di atasnya kita beristirahat. Dalam ayat 18, batu alas kepala ini menjadi tugu (tiang, sokoguru. Tl.). Bantal itu untuk beristirahat, sedangkan tiang digunakan untuk menyangga sebuah bangunan. Di dalam Bait Suci yang dibangun oleh Salomo, terdapat dua tiang yang utama (1 Raj. 7:21). Galatia 2:9 berbunyi bahwa Yakobus, Petrus, dan Yohanes adalah tiang utama dalam gereja. Lagi pula, Wahyu 3:12 mengutarakan para pemenang akan menjadi tiang di dalam Bait Suci Allah. Dalam Kejadian 28 terdapat batu, bantal, dan tiang. Tidak hanya demikian, akhirnya tiang ini menjadi Betel, rumah Allah. Dalam ayat firman yang pendek ini kita juga nampak sebuah tangga yang didirikan di atas bumi, yang ujungnya mencapai langit (ayat 12). Siapa pun mustahil mampu menghasilkan catatan semacam ini. Mengapa Yakub bisa bermimpi sedemikian? Menurut sejarah manusia, tidak ada orang yang pernah bermimpi sedemikian. Tetapi Yakub justru melihat tangga di mana malaikat-malaikat Allah naik turun. Ini menunjukkan bahwa malaikat-malaikat telah ada di sana, sedang menunggu untuk naik ke atas. Ketika Yakub melihat tangga dalam mimpinya, malaikat-malaikat boleh jadi segera naik ke langit sambil mewartakan bahwa Yakub telah datang dan nampak tangga itu. Setelah Yakub bangun dari tidurnya, ia menyadari bahwa tempat ini bukan saja rumah Allah, bahkan juga pintu gerbang surga (ayat 17).
Di samping hal-hal yang ajaib ini, masih ada lagi yang penting dalam pasal ini — masalah nafkah kita. Ketika kita memberitakan Injil, sering ada teman yang bertanya, “Jika aku percaya Yesus, bisakah Ia menjamin nafkahku?” Sejumlah orang saleh juga ada yang menanyakan hal yang sama, “Jika aku cinta Tuhan, hidup bagi Tuhan, bagaimanakah nanti kehidupanku? Bukankah aku harus memperhatikannya?” Kita semua mempunyai masalah nafkah. Tetapi, dalam catatan yang pendek ini, kita nampak bahwa Allah memelihara kehidupan kita. Kita akan nampak bahwa masalah nafkah merupakan hal yang sekunder (yang kedua). Dalam ayat 15, Tuhan berkata kepada Yakub, “Sesungguhnya Aku menyertai engkau dan Aku akan melindungi engkau, ke mana pun engkau pergi.” Di sini Tuhan seakan-akan berkata, “Yakub, Aku pasti menyertaimu dan Aku pasti menjamin kehidupanmu. Aku akan memberimu makanan untuk dimakan dan pakaian untuk dipakai.” Ini sesuai dengan firman Tuhan dalam Matius 6:33, “Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu” (Tl.). Jika kita mencari kerajaan-Nya, Allah pasti memelihara kehidupan kita.
Meskipun Allah telah berjanji menyertai Yakub dan melindunginya, namun Yakub masih saja tawar-menawar dengan Allah, katanya, “Jika Allah akan menyertai dan akan melindungi aku di jalan yang kutempuh ini, memberikan kepadaku roti untuk dimakan dan pakaian untuk dipakai, sehingga aku selamat kembali ke rumah ayahku, maka TUHAN akan menjadi Allahku” (ayat 20-21). Perhatikanlah kata “maka” dalam ayat 21. Jika Allah melakukan perkara sebanyak itu bagi Yakub, maka Yakub akan menjadikan Dia sebagai Allahnya. Sebaliknya jika Allah tidak melakukan perkara-perkara tersebut baginya, maka tidak ada pertukaran tersebut. Seolah-olah Yakub berkata, “Jika Engkau memberi aku makanan, pakaian, memelihara kehidupanku, maka Engkau akan kujadikan Allahku, ini akan menjadi rumah-Mu, dan aku akan mempersembahkan kepada-Mu sepersepuluh dari apa yang Kauberikan kepadaku.” Inilah perdagangan yang sangat menguntungkan. Yakub berkata, “Tuhan, Engkau harus memberi aku dahulu, kemudian aku akan memberi kepada-Mu. Kalau Kau memberi aku satu dollar, aku akan mempersembahkan 10 sen kepada-Mu.” Allah berkata bahwa jika kita mencari kerajaan-Nya, Ia pasti memberi kita makanan. Tetapi kita mengatakan bahwa Allah harus memberi kita makanan dahulu, barulah kita mencari kerajaan-Nya. Anda tidak perlu demikian tawar-menawar dengan Tuhan. Jadilah segumpal tanah liat yang membiarkan Tuhan bekerja atas Anda, Ia pasti menambahkan segala sesuatu yang Anda butuhkan. Kata “ditambahkan” dalam Matius 6:33 menunjukkan bahwa selain diberi yang pokok, ditambahkan pula yang lain kepada kita. Kita akan tampak bahwa Allah akan memberi kita tanah (negeri), keturunan, dan berkat. Disamping semua ini, Ia tambahkan makanan, pakaian, dan lain-lain kebutuhan kehidupan kita.
Saya menyukai bagian firman ini, karena ruang lingkup bagian ini sangat luas, mencakup seluruh Alkitab, dari Kejadian 1 sampai Wahyu 22. Inilah sebabnya saya mengatakan bahwa ini merupakan bagian yang sangat penting. Ini meliputi dari debu ke batu, dari penciptaan ke pembangunan rumah Allah. Ini juga meliputi perkara makanan, pakaian, rumah Allah, tangga, dan perkara-perkara surgawi.
Dalam ayat-ayat bagian ini, Yakub mula-mula menemukan perhentian, dan akhirnya ia menerima janji bahwa tidak perlu khawatir akan makanan dan pakaian. Setiap orang mencari perhentian. Perhentian selalu mencakup kepuasan. Jika kita tidak puas, kita tidak akan bisa menikmati perhentian. Setiap kali kita datang kepada Tuhan, hal pertama yang kita peroleh adalah perhentian. Sebagai orang-orang yang sendirian, putus asa, tidak tahu ke mana harus pergi, kita memerlukan perhentian. Sebagai orang yang tidak berpengharapan, tidak memiliki masa depan, dan telah kehilangan segala-galanya, kita merindukan perhentian. Puji Tuhan atas perhentian-Nya! Perhentian ini di atas batu dan batu ini ada di tempat di mana rumah Allah berada. Inilah tempat perhentian kita.
(d) Dijumpai Allah untuk Kali Pertama
Dalam ayat 13 tertampak di sini Yakub dijumpai Allah untuk kali pertama. Kita semua perlu dijumpai Allah. Ini yang mendasar. Yakub dilahirkan dalam keluarga yang ibadah. Abraham, Ishak, Sara, dan Ribka semua adalah orang-orang yang ibadah. Memang baik dilahirkan dalam keluarga yang ibadah, namun kita masih harus berjumpa secara langsung, pribadi dengan Allah. Setiap sanak keluarga di rumah Anda boleh saja makan, tetapi Anda sendiri juga harus makan. Jangan mengatakan, “Oh, kakekku Abraham, nenekku Sara, dan orang tuaku Ishak dan Ribka.” Bagaimanakah Anda? Boleh saja setiap orang dalam keluarga Anda adalah orang yang makan, tetapi apakah diri Anda sendiri makan? Mengenai Allah, Yakub telah memperoleh banyak pengetahuan, tetapi ia belum makan apa-apa. Ia dilahirkan dalam keluarga yang ibadah, namun sebelum bermimpi di Betel, ia sendiri belum langsung berjumpa dengan Allah. Satu hal yang paling mencengangkannya ialah di Betel ini, Allah menjumpainya untuk kali pertama. Yakub tidak bermaksud menjumpai Allah, Allah yang menunggu dia di sana. Allah telah turun dari surga dan berada di bumi.
Pengalaman perempuan Samaria dalam Injil Yohanes 4 sama dengan pengalaman Yakub dalam Kejadian 28. Tuhan Yesus yang telah turun dari surga, sengaja pergi ke sumur untuk menjumpainya. Terhadap perempuan Samaria itu, sumur Yakub adalah Betel dan Yesus di sana adalah tangga surgawi. Seandainya ia betul-betul bermimpi seperti Yakub, niscaya ia akan nampak malaikat-malaikat naik ke surga membawa laporan baik mengenai ia telah berjumpa dengan Tuhan. Mungkin malaikat mewartakan, “Perempuan Samaria yang berdosa, yang telah bersuami banyak, dan sekarang ini sedang hidup bersama dengan laki-laki yang bukan suaminya, telah datang kepada Yesus!” Keadaannya sama dengan situasi ketika Anda datang kepada Tuhan Yesus, tangga surgawi sedang menunggu Anda. Pada hari Anda diselamatkan, Anda mempunyai mimpi yang pertama dan dijumpai oleh Allah untuk kali pertama. Alangkah ajaibnya ini! Jika Anda memeriksa pengalaman Anda, Anda akan berkata, “Puji Tuhan! Sekarang aku paham apa yang terjadi padaku pada hari itu. Sebelum aku diselamatkan, tangga surgawi telah didirikan di bumi dan Allah telah menunggu untuk menjumpai aku di sana.”
Saat kali pertama Allah menjumpai Yakub, Ia berkata, “Akulah TUHAN, Allah Abraham, nenekmu, dan Allah Ishak” (Kej. 28:13). Ini menandakan bahwa Allah akan menjadi Allah Yakub. Kita semua telah mengalami Allah Abraham dan Allah Ishak. Allah Abraham ialah Allah pembenaran dan Allah Ishak ialah Allah anugerah. Ini berarti kita telah mengalami Allah pembenaran dan Allah anugerah. Meskipun kita telah mengalami Allah yang sedemikian ini, kita masih perlu menjumpai dan mengalami Allah Yakub. Ini berarti bahwa Allah terhadap kita akan menjadi Allah transformasi (pengubahan) dan Allah penanggulangan. Mengenal Allah Abraham berarti kita dibenarkan; mengenal Allah Ishak berarti kita menikmati anugerah Allah. Namun kita harus pula mempunyai mimpi, dan dalam mimpi itu Allah Yakub berfirman, “Aku akan menjadi Allahmu. Aku akan menjadi Allah dari pemegang tumit, Allah dari perebut. Semakin kamu merebut, Aku semakin dapat menanggulangimu. Semakin kamu memegang tumit orang lain, semakin pula Aku memasukkan kamu ke dalam tungku. Terhadapmu Aku akan menjadi Allah Yakub!” Akhirnya Alkitab mengatakan bahwa Allah adalah Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub; dan Allah ini bukan Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup (Mat. 22:32). Allah saya bukan hanya Allah Abraham dan Allah Ishak, Ia juga Allah Yakub, Allah penanggulangan yang sepanjang hari menanggulangi saya. Jika kita hanya menetap pada Allah Abraham dan Allah Ishak, tidak pernah mengalami Allah sebagai Allah Yakub, kita tidak akan mempunyai pengubahan yang dibutuhkan. Allah siapakah yang Anda sukai — Allah Abraham, Allah Ishak, ataukah Allah Yakub? Kita semua menyukai kenikmatan, tidak seorang pun menyukai penanggulangan. Allah itu tritunggal, Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub. Siap-siaplah, pada suatu hari Anda akan menjumpai-Nya sebagai Allah Yakub.
Saudara saudari suka menyanyikan hidup gereja yang mulia. Tetapi, semakin kita tinggal dalam hidup gereja yang mulia, kita semakin ditanggulangi. Hampir semua kita dapat bersaksi bahwa sejak masuk ke dalam hidup gereja, Allah terus-menerus menanggulangi kita. Sebelum kita masuk ke dalam gereja, kita tidak banyak menemui masalah. Tetapi setelah masuk ke dalam gereja dan mulai menyanyikan hidup gereja yang mulia, masalah mulai menimpa bertubi-tubi dan berturut-turut. Boleh jadi Anda berkata, “Apakah ini? Mungkin aku bersalah.” Tidak, Anda tidak bersalah; Anda benar. Karena Anda berada di jalan yang benar, jalan pengubahan, maka semua masalah ini terjadi pada Anda.
Allah menakar situasi sekeliling kita dan setiap peristiwa yang menimpa pada kita. Contohnya, Ia membiarkan Anda terhinggap suatu penyakit, namun penyakit itu telah ditakar oleh-Nya sehingga tidak sampai mematikan Anda. Ini sama seperti yang diperbuat Allah pada Ayub sewaktu Ia melarang Iblis melampaui batas tertentu (Ayb. 2:6). Inilah penanggulangan Allah. Dalam Kejadian pasal berikutnya, kita tidak melihat Yakub banyak menikmati. Sebaliknya, ke mana saja ia pergi, di sana juga Allah menanggulanginya. Sepertinya Allah berkata, “Aku adalah Allah Yakub. Akhirnya, Aku akan menjadi Allah Israel. Ketika pengubahanmu sudah sempurna, Aku tidak lagi menanggulangimu.”
(e) Kali Pertama Diberi Janji oleh Allah
Tidak satu pun penanggulangan Allah yang tidak disertai janji. Setiap kali kita menderita penanggulangan, pasti disertai janji. Semakin banyak kita menerima penanggulangan, semakin banyak pula kita memperoleh janji. Dalam Kejadian 28:13-15 kita melihat janji Allah kepada Yakub. Menurut pengalaman Yakub, janji Allah tidak akan datang sebelum penanggulangan-Nya. Janji itu bukan terlebih dulu memberi kita sandang dan pangan, melainkan terlebih dulu memberi kita tanah (negeri) dan keturunan, dan kita akan menjadi berkat bagi seluruh bangsa di bumi. Di sini memperlihatkan tiga hal — tanah, keturunan, dan berkat. Menurut wahyu Alkitab yang tidak berubah, tanah (negeri) adalah untuk kerajaan. Dalam ciptaan-Nya, Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya dan memberinya kuasa menaklukkan bumi, menaklukkan tanah (negeri). Jadi, bumi atau tanah adalah untuk kekuasaan dan kerajaan. Keturunan adalah untuk ekspresi, untuk perluasan gambar. Dalam Kejadian 28:13-14 terdapat dua hal yang sama dengan Kejadian 1:26 — gambar dan kuasa. Setelah ini, kita menjadi berkat. Berkat kita adalah Kristus; Kristus menjadi berkat kita terhadap orang lain.
Jika kita memeriksa pengalaman kita, kita akan nampak bahwa setiap kali kita menderita atau menerima penanggu-langan dari Allah, kita segera beroleh tanah dan merasa berada dalam kerajaan. Lagi pula, kita merasa bahwa sesuatu dari Allah terekspresi melalui kita dan tersebar luas melalui kita. Inilah keturunan. Selain itu semua, kita menjadi berkat bagi orang lain, tetangga kita, teman kerja, handai taulan, dan orang-orang sekitar kita. Janji Allah bukan sekadar diberikan kepada Yakub, secara prinsip, juga diberikan kepada kita. Ketika kita di bawah penanggulangan Allah, kita pun mengambil bagian di dalam tanah, keturunan, dan berkat itu. Kita ikut menikmati tanah dan ekspresi Allah serta menjadi berkat bagi orang lain.
Allah tahu kebutuhan kita. Dalam ayat 15 Ia berkata kepada Yakub, “Sesungguhnya Aku menyertai engkau dan Aku akan melindungi engkau, ke mana pun engkau pergi, dan Aku akan membawa engkau kembali ke negeri ini, sebab Aku tidak akan meninggalkan engkau, melainkan tetap melakukan apa yang Kujanjikan kepadamu.” Di sini Allah berjanji memberi Yakub sandang, pangan, dan membawanya kembali ke negeri ayahnya dengan aman. Orang-orang dalam agama tidak tahu tentang tanah, keturunan, dan berkat. Sering kali sewaktu mereka memberi kesaksian, kata-kata mereka seperti ini, “Puji Tuhan, Ia selalu menyertai aku. Baru-baru ini, aku bertamasya ke Chicago, Allah yang mendampingi aku. Tahun demi tahun Ia mencukupi pakaian, makanan, dan semua kebutuhanku.” Saya hampir tidak pernah mendengar kesaksian seseorang yang berkata, “Syukur kepada Tuhan! Setelah Allah menanggulangi aku, wilayah tanahku diperlebar. Allah betul-betul telah mengubah aku. Ia memperluas ekspresi-Nya melalui aku. Betapa berkat yang menyusul ini!”
(f) Reaksinya
1) Menyebut Tempat Itu Rumah (Bait) Allah
Sekarang kita melihat reaksi Yakub. Setelah bangun dari tidurnya, pertama, ia menyebut tempat itu rumah (bait) Allah (Kej. 28:17). Dari mana Yakub mendapat konsepsi rumah Allah? Abraham tidak mengetahui hal ini. Sebagaimana telah kita tunjukkan bahwa sebelum Kejadian 28 kita tidak menjumpai istilah ini. Abraham, Ishak, dan Yakub semua tinggal dalam kemah. Tetapi mengapa Yakub tidak mengatakan kemah Allah, melainkan rumah Allah? Tentu ini bukan sekadar mimpi, melainkan suatu wahyu. Meskipun Yakub belum secara riil nampak rumah Allah, namun ia telah menyebut apa yang ia lihat itu rumah Allah, katanya, “Ini tidak lain dari rumah Allah.” Sudah tentu ini berasal dari wahyu ilahi.
Allah mewahyukan ekonomi-Nya bukan hanya dalam kata-kata yang jelas, tetapi juga dalam kehidupan manusia. Yakub, orang yang sama sekali hidup pada taraf manusia, telah bermimpi. Dalam mimpinya itu, ia nampak sesuatu dan setelah bangun ia berkata, “Ini tidak lain dari rumah Allah.” Tidak perlu disangsikan bahwa konsepsi rumah Allah ini berasal dari Allah sendiri.
2) Menyebut Tempat Itu Pintu Gerbang Surga
Yakub juga menyebut tempat ia berjumpa dengan Allah sebagai pintu gerbang surga (ayat 17). Apa yang dilihatnya di sana menunjukkan ke surga. Tempatnya memang di bumi, namun berhubungan dengan surga. Maka ia menyebutnya pintu gerbang surga. Setiap kali kita mempunyai visi rohani, kita akan merasa bahwa kita berada di pintu gerbang surga. Kita ada di bumi, namun kita nampak dan mengalami perkara surga.
3) Mendirikan Batu Alas Kepala sebagai Tugu (Tiang) dan Menuang Minyak ke Atasnya
Ayat 18 mengatakan, “Keesokan harinya pagi-pagi Yakub mengambil batu yang dipakainya sebagai alas kepala dan mendirikan itu menjadi tugu (tiang) dan menuang minyak ke atasnya.” Alangkah aneh, Yakub mendirikan batu itu untuk dijadikan tugu (tiang). Seandainya saya Yakub, saya tidak akan mendirikan batu sebagai tiang. Apa artinya ini? Tentunya ini berhubungan dengan seluruh wahyu Alkitab. Hal yang paling mencolok di sini ialah mengurapi batu dengan minyak. Adalah atas kedaulatan Tuhan bahwa minyak itu tersedia di sana. Dari mana Yakub memperolehnya? Apakah ia yang seorang pelarian, membawanya di saat ia lari dari rumah? Saya tidak tahu. Menurut saya, menuang minyak ke atas batu akan membuatnya belepotan. Tetapi, menurut Alkitab, tindakan ini sangat bermakna. Dalam Alkitab, sudah tegas bahwa batu berarti orang yang telah diubah, yakni segumpal tanah liat yang telah diubah menjadi batu. Dalam perlambangan, minyak menunjukkan persona ketiga Allah mendatangi manusia. Ketika Allah mendatangi Anda, Ia adalah Roh. Jadi, batu yang didirikan sebagai tugu (tiang) dan diurapi dengan minyak adalah melambangkan orang yang telah diubah bersatu dengan Allah Tritunggal. Sekarang Allah Tritunggal bukan hanya berada di surga, tetapi juga pada diri orang yang telah diubah, bahkan bersatu dengannya. Orang ini adalah ekspresi Allah di bumi. Ketika Anda melihat batu itu, Anda melihat minyak. Ketika Anda memandang orang yang telah diubah itu berdiri di bumi, Anda nampak ekspresi Allah. Bagaimana Yakub tahu perlu menuang minyak ke atas batu? Sebelum pasal 28, tidak ada catatan jenis tindakan ini. Tetapi, setelah terjaga dari mimpinya, Yakub melakukan perkara ini.
4) Menamai Tempat Itu “Betel”
Setelah menuang minyak ke atas tugu (tiang) itu, Yakub “menamai tempat itu Betel” (ayat 19). Mengapa Yakub menamai tempat itu Betel, rumah (bait) Allah? Sewaktu meminyaki tiang itu, ia sendiri di bawah pengurapan Roh. Tiang itu mewakili dirinya sendiri, Yakub yang diubah. Saya tidak yakin kalau saat itu Yakub mengerti apa yang ia lakukan itu. Ia tidak sejelas kita hari ini.
Dalam Yohanes 1:51 Tuhan Yesus berkata kepada Natanael, “Aku berkata kepadamu, engkau akan melihat langit terbuka dan malaikat-malaikat Allah naik turun kepada Anak Manusia.” Sebutan “Anak Manusia” menandakan bahwa Allah tidak lagi hanya Allah, Ia juga telah menjadi manusia. Ini memperlihatkan bahwa Allah tidak lagi hanya di surga, melainkan juga telah menjadi manusia yang tinggal di bumi. Tangga itu telah didirikan di bumi, karena Allah telah menjadi manusia. Sebelum Ia berinkarnasi, Ia tidak bisa disebut Anak Manusia. Ketika Tuhan Yesus memberi tahu Natanael bahwa ia akan melihat para malaikat naik turun kepada Anak Manusia, Natanael tentu segera memahami bahwa inilah penggenapan mimpi Yakub.
Mimpi Yakub adalah wahyu Kristus, karena Kristus, tangga ini adalah inti, fokus mimpi ini. Melalui tangga surgawi ini, kita memiliki langit yang terbuka, orang yang telah diubah, pengurapan atas orang ini, dan pembangunan rumah Allah demi orang ini. Hidup gereja hari ini adalah penggenapan sepenuhnya dari mimpi Yakub, karena hidup gereja adalah pintu gerbang surga, tempat tiang dan tangga itu berada, juga tempat para malaikat naik ke surga membawa kabar baik dan turun ke bumi membawa sesuatu yang surgawi. Betel justru di sini, di dalam hidup gereja. Kita adalah Betel hari ini. Dalam Kejadian 28, tempat dan batu disebut Betel. Batu tidak saja disebut Betel, lebih-lebih dibangun menjadi Betel. Mengapa tempat itu disebut Betel? Karena batu Betel ada di sana. Demikianlah hidup gereja. Kita semua perlu nampak mimpi yang menakjubkan ini.
5) Bernazar
Kalau Allah telah berjanji, kita tidak perlu bernazar. Jika saya adalah Yakub, saya hanya akan berkata, “Tuhan, terima kasih.” Tetapi Yakub tidak berterima kasih, juga tidak memuji Tuhan, Yakub malah bernazar bahwa jika Allah menyertainya, melindunginya, memberi sandang pangan, dan membawanya kembali ke rumah ayahnya dengan selamat, maka ia akan menjadikan TUHAN sebagai Allahnya, batu yang ia dirikan sebagai tiang akan menjadi rumah Allah, dan ia akan mempersembahkan sepersepuluh dari semua yang Allah berikan kepadanya (ayat 20-22). Nazar Yakub ini bersyarat. Kita menempuh hidup gereja juga bersyarat. Meskipun kita semua gembira dalam hidup gereja, tetapi dalam lubuk batin kita mengajukan syarat berkata, “Aku akan tetap dalam hidup gereja dan menjadi bagian dari hidup gereja asalkan Allah memberi aku makanan.” Mungkin kita tidak mengutarakannya dalam kata-kata, namun dalam lubuk batin kita memang demikian. Misalnya, Anda kehilangan pekerjaan dan berbulan-bulan menganggur. Di samping itu, Anda terjangkit penyakit parah. Apakah Anda masih bisa menyanyikan hidup gereja yang mulia? Jangankan hidup gereja, bahkan tiang pun mungkin tidak ada. Cinta Anda terhadap Tuhan dan gereja selalu disertai syarat. Ketika Yakub berjanji mempersembahkan sepersepuluh kepada Allah, itu berarti jika Allah tidak memberinya, ia pun tidak akan memberi apa-apa kepada Allah. Seolah-olah Yakub berkata, “Mari kita tawar-menawar. Kalau Engkau menghen-daki sesuatu dariku, Engkau harus memberiku dahulu. Jika Engkau tidak memberiku apa-apa, apa yang dapat kuberikan kepada-Mu?”
Apakah Yakub percaya kepada Allah? Ya. Jika ia tidak percaya, ia tentunya tidak mengatakan tentang Allah menyertai dia. Ia percaya kepada Allah, namun mengapa ia masih mengajukan syarat ini dalam nazarnya? Karena ia adalah manusia, sama halnya kita hari ini. Di satu pihak, kita percaya kepada Allah; namun di pihak lain, kita menaruh syarat. Jarang sekali orang mengasihi Tuhan tanpa syarat. Saya telah mendengar banyak saudara saudari menyatakan bahwa mereka mutlak menyerahkan diri kepada Tuhan. Setiap kali saya mendengar kesaksian yang demikian, saya akan bertanya, “Betulkah Anda mutlak kepada Tuhan?” Jika Roh Kudus menulis kisah pengalaman Anda, kemungkinan akan sama seperti kisah pengalaman Yakub. Catatan pengalaman saya pasti sama dengan Yakub. Tetapi kita tidak perlu merasa khawatir terhadap kehidupan kita. Allah akan mengaruniai kita tanah, keturunan, dan berkat; selain itu, Ia masih akan memperhatikan kehidupan kita, menyediakan sandang pangan dan segala keperluan kita. Jika kita mencari dahulu Kerajaan Allah, Bapa akan mengaruniakan segala keperluan hidup kita. Inilah mimpi Yakub.